TERBITAN BERKALA ILMIAH ONLINE FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS HALU OLEO
Not a member yet
1538 research outputs found
Sort by
Makna Filosofis Motif Batik sebagai Identitas Budaya Masyarakat Lebak
Lebak Batik is a cultural heritage with high philosophical value and is closely related to the life of the Baduy people in Lebak Regency, Banten. This study aims to describe the stages of making Lebak Batik and examine the philosophical meaning of its motifs. The research method used is a qualitative descriptive approach with data collection techniques through direct observation, interviews with craftsmen and cultural figures, and literature studies. The study results show that the making of Lebak Batik still maintains traditional techniques with the main stages, including pattern making, waxing, natural coloring, wax removal, and fabric refinement. The motifs in Lebak Batik have strong philosophical meanings, such as Leuit Baduy, which symbolizes food security; Kaso Rancak, which reflects mutual cooperation; and Seren Taun, which symbolizes gratitude for the harvest
Pembentukan Identitas Tokoh Utama dalam Novel Qu\u27 Allah Benisse La France
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses pembentukan identitas tokoh utama dalam novel Qu\u27Allah Benisse la France karya Abd al Malik. Penelitian ini menggunakan pendekatan psikososial dengan metode delapan tahap pembentukan identitas dari Erik H. Erikson. Penelitian ini berjenis kualitatif dengan teknik pengumpulan data menggunakan teknik membaca, mencatat, mengidentifikasi dan mengelompokkan data-data yang sudah diidentifikasi. Adapun teknik analisis data dilakukan dengan mendeskripsikan data, menginterpretasi data, menganalisis data, kemudian menyimpulkan data yang telah dianalisis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembentukan identitas Abd al Malik dalam novel Qu\u27Allah Benisse la France berawal dari berpindahnya mereka ke Prancis pada tahap 1) initiative vs guilt 3-6 tahun. Lebih lanjut, masuk pada tahap kedua ketika perceraian orang tuanya dan awal mula kenakalannya pada tahap 2) industry vs inferiority 6-12 tahun. Kemudian masuk pada tahap 3) identity vs role confusion 12-20 tahun, fase ketika Malik masuk Islam dan menjadi seorang Muslim. Malik pun membentuk identitasnya dan menemukan Islam yang dicarinya yaitu Islam yang universal dan menghargai karya-karya manusia pada tahap 4) intimacy vs isolation 20-30 tahun
Pencarian Kebahagiaan Tokoh Utama pada Roman Madame Bovary Karya Gustave Flaubert
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses pencarian kebahagiaan tokoh utama dalam roman Madame Bovary karya Gustave Flaubert dengan menggunakan pendekatan psikologi sastra pada konsep kebahagiaan. Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif kualitatif sehingga penyajian data dalam bentuk deskripsi. Adapun data dalam penlitian ini adalah berupa teks roman Madame Bovary yang muncul dalam kata-kata dan kalimat-kalimat yang menggambarkan proses pencarian kebahagiaan tokoh utama pada roman tersebut. Teknik pengumpulan data diperoleh dengan cara membaca, mencatat dan mengidentifikasi dan mengklasifikasi. Analisis data dilakukan dengan menggunakan pendekatan psikologi sastra dengan mendeskripsikan pencarian kebahagiaan tokoh utama dalam roman Madame Bovary karya Gustave Flaubert. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses pencarian kebahagiaan melalui tahap derita, seperti adanya peristiwa tragis yang dialami tokoh utama untuk penghayatan tanpa makna terhadap kehidupannya. Kedua tahap penerimaan diri, adanya pemahaman diri dari tokoh utama dan perubahan sikapnya. Ketiga tahap penemuan makna hidup, yaitu tokoh utama menemukan makna dan tujuan-tujuan hidup. Keempat tahap realisasi makna, yaitu bentuk keikatan diri dengan lingkungan atau masyarakat dengan melakukan kegiatan yang terarah untuk pemenuhan makna hidup. Kelima tahap kehidupan bermakna dengan perubahan sikap tokoh utama untuk memperoleh kebahagiaan dan menghayati kehidupannya dengan bermakna
IDEOLOGI TOKOH UTAMA DALAM NOVEL HOME SWEET LOAN KARYA ALMIRA BASTARI (KAJIAN KRITIK SASTRA FEMINIS)
Tujuan penelitian ini adalah (1) mendeskripsikan ideologi tokoh utama dalam novel Home Sweet Loan karya Almira Bastari dan, (2) mendeskripsikan hubungan tokoh laki-laki terhadap tokoh utama. Konsep ideologi Althusser dan kritik sastra feminis digunakan untuk melihat proses terbentuknya ideologi tokoh utama. Metode penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tokoh Kaluna memiliki beberapa ideologi, di antaranya yaitu ideologi feminis, ideologi idealis, dan ideologi familis. Ideologi feminis Kaluna tampak dari usahanya memperjuangkan haknya sebagai perempuan, menjadi subjek melalui eksistensinya, melalui sikap dan tingkah lakunya yang kuat, mandiri, berani, pekerja keras, dan tegas. Kemudian cara pandang yang berbeda dalam melihat posisi dirinya sebagai perempuan dan memiliki pendirian tidak ingin didiskriminasi oleh pihak berkuasa. Ideologi idealis ditampilkan Kaluna melalui sikap teguh, gigih, kuat dan berani mengambil keputusan sehingga mampu mewujudkan kebebasan dirinya sebagai seorang perempuan. Sedangkan ideologi familis ditampilkan Kaluna dengan sikap penuh kasih sayang dengan selalu mengutamakan kepentingan keluarga daripada dirinya sendiri
PSIKOEDUKASI TENTANG STOP BULLYING DI SDN POASAA, UNAAHAKABUPATEN KONAWE
Maraknya kasus bullying di sekolah dasar merupakan masalah yang perlu mendapat perhatian serius dari berbagai pihak. Anak-anak usia Sekolah Dasar (6-12 tahun) sedang berada pada tahap perkembangan yang rentan terhadap perilaku bullying. Program Pengabdian Kepada Masyarakat dengan judul: Psikoedukasi tentang stop bullying di SDN POASAA, Unaaha Kab. Konawe dilakukan bersama mahasiswa Prodi Psikologi FKIP Universitas Halu Oleo dengan tujuan meningkatkan kesadaran siswa-siswi dengan memberikan informasi dan pemahaman yang jelas tentang apa itu bullying, bentuk-bentuknya, serta dampak negatifnya bagi korban, pelaku, dan lingkungan sekitar. Kemudian dijelaskan pencegahan dengan memberikan strategi dan keterampilan untuk mencegah terjadinya bullying yang dapat mencakup edukasi mengenai komunikasi yang baik, resolusi konflik, dan pembentukan lingkungan yang lebih aman dan suportif. Selain itu intervensi dini dilakukan dengan mengajarkan tanda-tanda awal bullying dan cara-cara menanganinya secara efektif. Hal ini memungkinkan penanganan yang tepat sasaran dan mencegah eskalasi situasi
SOSIALISASI PEMBERDAYAAN BAHASA JAWA DALAM BIDANG PERSAWAHANPADA MASYARAKAT TRANSMIGRAN JAWA DI DESA POMBULAA JAYAKECAMATAN KONDA KABUPATEN KONAWE SELATAN
Pengabdian ini dilaksanakan di Desa Pombulaa Jaya, Kecamatan Konda, Kabupaten Konawe Selatan. Mayoritas penduduk Desa Pombulaa Jaya adalah transmigran Jawa dan memiliki mata pencaharian sebagai petani. Hadirnya para transmigran Jawa tersebut menambah kekhasan bahasa-bahasa daerah di Sulawesi Tenggara. Kebertahanan bahasa berkaitan dengan apakah bahasa tersebut masih bertahan atau tidak. Jika masih bertahan apakah tetap digunakan dalam kehidupan sehari-hari sebagai alat komunikasi antarmasyarakat. Pemberdayaan bahasa secara langsung dapat dilakukan melalui dua proses yaitu proses pemertahanan bahasa (maintance) dan proses pergeseran bahasa. Pengabdian tentang “Sosialisasi pemberdayaan bahasa Jawa di bidang persawahan” penting dilakukan karena saat ini terjadi pergeseran pemakaian bahasa Jawa di Desa Pombulaa Jaya. Generasi muda saat ini lebih memilih bahasa Indonesia dalam komunikasi keseharian mereka. Mereka tidak lagi mengetahui makna leksikon bahasa Jawa pada bidang persawahan. Pengabdian ini diharapkan mampu memberikan kesadaran kepada masyarakat setempat akan pentingnya mempertahankan bahasa daerah khususnya bahasa Jawa dalam bidang persawahan
Pemanfaatan dan Pelestarian Hutan Mangrove di Desa Koepisino Kecamatan Bonegunu Kabupaten Buton Utara
This research aims to find out and describe the benefits of mangrove forests in Koepisino Village, Bonegunu District, North Buton Regency and the efforts of the community and government in preserving mangrove forests in Koepisino Village, Bonegunu District, North Buton Regency. This research method uses a qualitative descriptive research method. The data collection techniques used in this research are observation, interviews and documentation methods. The theory used is Cultural Ecology Theory by Julian H Steward. The results of this research show that mangrove wood is very useful for the people of Koepisino village, one of which is as a tool for building houses, such as house frames, rafters and boards, apart from being useful for building houses, it is also used as firewood, slanted poles and para-para for drying jelly. . The Koepisino Village community also conserves mangrove forests together with the local government, the community looks for mangrove wood seeds, plants and controls the growth of the mangrove plants that have been planted, while the government only provides a budget for preservation and supervises the community who carry out the planting
The Idea of Postcolonial Literary Criticism in Tasting the Sky Novel : A Palestinian Childhood by Ibtisam Barakat
This research aims to find out the influence of postcolonialism on the character and cultural identity maintained by the Palestinian people, as well as to find out the impact that occurs in Palestine which has been colonized by Israel for many years. In addition, this novel also mentions the impact that occurred in Palestine due to cultural domination and also how Palestinians maintain the identity crisis in the novel "Tasting the Sky" by Ibtisaam Barakat. This research uses a descriptive qualitative approach where this research mostly describes postcolonialism in the novel "Tasting the Sky" by Ibtisaam Barakat. Researchers collected data analyzed from content analysis, which means analyzing literary works in the form of novels. Researchers used Ibtisaam Barakaat\u27s novel "Tasting the Sky: A Palestinian Childhood which was analyzed in terms of postcolonial between israel and palestine." Researchers found 2 points in the novel, namely 1) that the main character in this novel felt fear of Israeli treatment and the main character could not resist because of the message from his parents, 2) how the resistance of other Palestinian communities faced Israel
PROSESI ADAT PEPORAE DALAM UPACARA PERKAWINANMASYARAKAT SUKU KAMARU
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui langkah-langkah prosesi peporae dalam upacaraperkawinan adat masyarakat suku Kamaru. Peporae adalah proses peminangan pada sebuahperkawinan. Sebelum melaksanakan perkawinan pihak laki-laki terlebih dahulu mengutus salahseorang atau bisa lebih yang dituakan untuk datang melamar secara resmi terhadap pihak keluargaperempuan. Pertunangan akan terjadi apabila pihak perempuan menyetujui.Teknik pengumpulan datayang digunakan adalah metode observasi, wawancara dan dokumentasi. Narasumber dalampenelitian ini adalah bonto (kepala adat) Kamaru, tokoh adat sebanyak 2 orang, tokoh agama 1 orang,petugas PPN (Petugas Pencatatan Nikah), tokoh masyarakat sebanyak 5 orang dan orang yang pahamtentang perkawinan pinang menurut adat Kamaru. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prosesipeporae adalah rangkaian adat yang berkesinambungan dari kapepentu/kabombongi (menanyakanstatus perempuan gadis/janda), kapeolo (diterima atau tidak), pertunangan (bawa’ana kupa/peporae),bawa’ana komba/saraogena/taoraka (penentuan besarnya adat atau mahar yang akan dikenakansekaligus penentuan tanggal perkawinan), kajoli (tertutupnya pintu bagi laki-laki yang akanmelakukan akad nikah), kawia (perkawinan/akad nikah), pebongkasia (menginap di rumah pengantinpria/laki-laki), kapebolosi (pemberian oleh-oleh dari pihak laki-laki ke pihak perempuan).Perkawinan melalui peminangan peporae ini merupakan perkawinan yang dianggap paling baik olehmasyarakat suku Kamaru
Modal Sosial Nelayan Remaja dalam Mengelola Sumber Daya Pesisir dan Arah Pengembangan Pendidikan Berkelanjutan
This study aims to examine the role of social capital among adolescent fishermen in managing natural resources as a survival strategy in the Pongok Islands District, South Bangka Regency. This study uses descriptive qualitative methods through interviews, participant observation, and documentation. This study found that the Pongok Islands District has great potential in the coastal sector, both from marine products and marine tourism. The lives of adolescent fishermen from the Malay and Bugis ethnic groups demonstrate strong social capital in the community, which is reflected in social ties that strengthen internal solidarity and cross-ethnic togetherness in fishing activities; social bridges that bridge fishermen with external parties in marketing catches and economic networks; and social links that connect the community with government institutions to gain access to assistance, training, and production facilities