TERBITAN BERKALA ILMIAH ONLINE FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS HALU OLEO
Not a member yet
    1538 research outputs found

    Peran Rumah Budaya Indonesia ( RBI ) di Korea Selatan dalam Mempromosikan Soft Power Indonesia di Tengah Dominasi Hallyu

    No full text
    This study examines the strategic role of the Indonesian Cultural Center (Rumah Budaya Indonesia/RBI) in South Korea in advancing Indonesia’s soft power amid the prevailing dominance of Hallyu. Although bilateral relations between the two countries have been strengthened through a Strategic Partnership since 2006, the imbalance in cultural influence necessitates a planned and sustainable institutional diplomacy mechanism. RBI, initiated by the Ministry of Education and Culture and formally established as the Indonesia Centre at Busan University of Foreign Studies in June 2022, is intended to serve as an official instrument for the implementation of Indonesia’s soft power. This research employs a qualitative single instrumental case study approach, guided by Soft Power and Cultural Diplomacy frameworks. RBI applies two key strategies, namely Direct Diplomacy through physical engagement such as gamelan classes and batik workshops; and Indirect Diplomacy, which leverages online BIPA (Indonesian Language for Foreign Speakers) programs and innovative digital platforms including the AI-based iwearbatik initiative. Findings highlight the effectiveness of RBI in generating heightened public interest in Korea, reflected in the substantial growth of online BIPA learners. This progress contributes significantly to reinforcing Indonesia’s positive image and cultural visibility in the global arena.

    Desain Model Kulturaviva sebagai Upaya Penyelamatan Bahasa Terancam Punah

    No full text
    The phenomenon of language extinction has become a global cultural issue that threatens the sustainability of the identity, traditional knowledge, and social cohesion of the communities that speak them. This study developed and tested a cultural education model, Kulturaviva, to revitalize endangered languages through a culture- and community-based approach. This model integrates linguistic aspects, cultural values, and local traditions in a contextually grounded, participatory learning process. The research design used a User Acceptance Testing (UAT) approach to assess the effectiveness, functionality, and user acceptance of the model, implemented across several communities speaking local languages. The trial results showed a high success rate for the participatory and collaborative approach (82%) and the effectiveness of native speakers in language learning (89%). Cultural activity-based learning showed a moderate success rate (64%), with 36% of participants not achieving the expected targets. 18% of activities required revalidation due to differences in social context and field dynamics. The participant satisfaction rate reached 80%, indicating that the community well received the model. However, improvements are needed in integrating educational technology, accommodating variations in learning methods, and adapting to the local characteristics of each community. Overall, Kulturaviva has proven effective as a cultural education model for saving endangered languages. This approach not only contributes to linguistic preservation but also strengthens cultural identity, fosters language pride, and builds cultural resilience amidst globalization

    Highlighting Verbal Abuse of Tourists through Pragmatic Analysis: A Case Study of a South Korean YouTuber in Bunaken, Indonesia

    No full text
    This study aims to analyze the phenomenon of verbal harassment against female tourists using a pragmatic analysis approach. The focus of this study is the interaction between a South Korean YouTuber, Jiah, and two local men in Bunaken, North Sulawesi. This study uses speech theory (Austin & Searle), speech implicature (Grice), and politeness in language (Brown & Levinson) to examine how everyday speech can encode the implicit meaning of harassment. The research method used is qualitative descriptive with pragmatic discourse analysis techniques. Data was obtained from Jiah\u27s video transcript entitled "Become a Friend with the Om | To Bunaken from Manado". The results showed that male speakers used directive and interrogative forms of speech to control conversations and suppress opponents. Violation of the maxim of relevance and manner of giving rise to harassing implications, accompanied by violation of the principle of linguistic politeness. This phenomenon reveals power imbalances and gender bias in cross-cultural interactions. This study confirms that language serves a social function as a tool of symbolic domination, and opens up a new discussion space regarding the ethics of public communication in the tourism sector

    Wujud Kesantunan Tindak Tutur Direktif Pada Kalangan Remaja

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk dan strategi kesantunan dalam tindak tutur imperatif yang digunakan oleh masyarakat Kendari. Tindak tutur imperatif merupakan jenis tuturan yang berfungsi untuk memerintah, meminta, melarang, mengajak, atau mengarahkan mitra tutur agar melakukan suatu tindakan, serta memiliki potensi tinggi mengancam muka mitra tutur. Oleh karena itu, penerapan strategi kesantunan menjadi aspek penting dalam menjaga keharmonisan interaksi sosial. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data simak bebas libat cakap. Data berupa tuturan imperatif yang digunakan dalam interaksi sehari-hari masyarakat Kendari, yang selanjutnya dianalisis berdasarkan bentuk dan strategi kesantunannya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat Kendari merealisasikan kesantunan imperatif melalui berbagai tipe kalimat, yaitu imperatif langsung, imperatif halus, imperatif permintaan, imperatif larangan, imperatif ajakan atau anjuran, kalimat interogatif bernada perintah, serta kalimat deklaratif bernada perintah. Pemilihan tipe kalimat tersebut dipengaruhi oleh faktor sosial seperti usia, status sosial, hubungan kekerabatan, kedekatan sosial, serta konteks situasi tutur. Temuan ini menunjukkan bahwa kesantunan imperatif dalam masyarakat Kendari tidak hanya berfungsi sebagai strategi linguistik, tetapi juga sebagai cerminan nilai budaya, norma sosial, dan struktur sosial yang berlaku. Penelitian ini diharapkan dapat memperkaya kajian pragmatik, khususnya dalam bidang kesantunan berbahasa, serta memberikan kontribusi empiris terhadap pemahaman praktik berbahasa masyarakat Kendari.Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk dan strategi kesantunan dalam tindak tutur direktif yang digunakan oleh kalangan remaja di Kendari. Tindak tutur direktif merupakan jenis tuturan yang berfungsi untuk memerintah, meminta, melarang, mengajak, atau mengarahkan mitra tutur agar melakukan suatu tindakan, serta memiliki potensi tinggi mengancam muka mitra tutur. Oleh karena itu, penerapan strategi kesantunan menjadi aspek penting dalam menjaga keharmonisan interaksi sosial. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data simak bebas libat cakap. Data berupa tuturan direktif yang digunakan dalam interaksi sehari-hari kalangan remaja Kendari, yang selanjutnya dianalisis berdasarkan bentuk dan strategi kesantunannya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kalangan remaja Kendari merealisasikan kesantunan direktif melalui berbagai tipe kalimat, yaitu direktif langsung, direktif halus, direktif permintaan, direktif larangan, direktif ajakan atau anjuran, kalimat interogatif bernada perintah, serta kalimat deklaratif bernada perintah. Pemilihan tipe kalimat tersebut dipengaruhi oleh faktor sosial seperti usia, status sosial, hubungan kekerabatan, kedekatan sosial, serta konteks situasi tutur. Temuan ini menunjukkan bahwa kesantunan direktif dalam kalangan remaja Kendari tidak hanya berfungsi sebagai strategi linguistik, tetapi juga sebagai cerminan nilai budaya, norma sosial, dan struktur sosial yang berlaku. Penelitian ini diharapkan dapat memperkaya kajian pragmatik, khususnya dalam bidang kesantunan berbahasa, serta memberikan kontribusi empiris terhadap pemahaman praktik berbahasa kalangan remaja Kendari

    Makna Mantra Tradisi Pesondo pada Masyarakat Buton Utara Kecamatan Kulisusu: Pendekatan Etnolinguistik

    No full text
    Penelitian ini berjudul “Makna Mantra Tradisi Pesondo pada Masyarakat Buton Utara Kecamatan Kulisusu: Pendekatan Etnoliguistik”. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah apa saja makna yang terkandung dalam mantra tradisi Pesondo pada masyarakat Buton Utara. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan makna yang terkandung dalam mantra tradisi Pesondo pada masyarakat Buton Utara. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik wawancara, teknik rekam, dan teknik catat. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa mantra tradisi Pesondo terdapat 36 data yang terdiri atas dua mantra yakni, mantra osio (sembilan), dan mantra hoalu. Pertama, mantra osio mengandung makna suatu upaya pengobatan penyakit turunan pada anak sulung seperti kudis menahun, dan gatal-gatal, serta diharapkan anak akan lebih sehat, tambah pintar, dan menjadi anak yang berbakti kepada kedua orang tuanya. Kedua, mantra hoalu (delapan) mengandung makna suatu pengharapan ketika anak sembuh dan terhindar dari penyakit turunan, si anak akan berumur panjang, rezekinya banyak, hidup bahagia, mempunyai banyak keturunan, senantiasa diberi kesehatan, dan tidak lagi merasakan gangguan dari arwah para leluhur. Makna yang terkandung dalam mantra tradisi Pesondo ada 4 yakni, makna numeralia 2 data, makna leksikal 7 data, makna gramatikal 18 data, dan makna referensial 2 data.Penelitian ini berjudul “Makna Mantra Tradisi Pesondo pada Masyarakat Buton Utara Kecamatan Kulisusu: Pendekatan Etnoliguistik”. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah apa saja makna yang terkandung dalam mantra tradisi Pesondo pada masyarakat Buton Utara. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan makna yang terkandung dalam mantra tradisi Pesondo pada masyarakat Buton Utara. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik wawancara, teknik rekam, dan teknik catat. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa mantra tradisi Pesondo terdapat 36 data yang terdiri atas dua mantra yakni, mantra osio (sembilan), dan mantra hoalu. Pertama, mantra osio mengandung makna suatu upaya pengobatan penyakit turunan pada anak sulung seperti kudis menahun, dan gatal-gatal, serta diharapkan anak akan lebih sehat, tambah pintar, dan menjadi anak yang berbakti kepada kedua orang tuanya. Kedua, mantra hoalu (delapan) mengandung makna suatu pengharapan ketika anak sembuh dan terhindar dari penyakit turunan, si anak akan berumur panjang, rezekinya banyak, hidup bahagia, mempunyai banyak keturunan, senantiasa diberi kesehatan, dan tidak lagi merasakan gangguan dari arwah para leluhur. Makna yang terkandung dalam mantra tradisi Pesondo ada 4 yakni, makna numeralia 2 data, makna leksikal 7 data, makna gramatikal 18 data, dan makna referensial 2 data

    DARI KAMPUNG MENJADI KECAMATAN: PERUBAHAN DAN PERALIHAN SISTEM PEMERINTAHAN DI SALABANGKA, 1864-1965

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan latar belakang kampung Salabangka, proses perubahan dan peralihan sistem pemerintahan Salabangka 1864-1965, dan perkembangan sistem pemerintahan Salabangka, 1864-1965. Penelitian ini menggunakan metode sejarah dengan terdapat lima tahapan yaitu pemilihan topik, heuristik, kritik, interpertasi, dan historiografi. Data primer dalam penelitian ini adalah arsip yang didapatkan dari arsip nasional dan sumber sekundernya terdapat dalam buku Sejarah Kerajaan Bungku dan beberapa buku lainnya serta koleksi pribadi. Pendekatan digunakan adalah pendekatan multidimensional.  Pola pemukiman di Salabangka adalah mengelompok dan menyebar pemukiman pertama dilakukan oleh rombongan suku Badjo, tempat pertama kali ditempati adalah kampung Boenginkela dan menyebar sampai ke kampung Kaleroang. Pemukiman utama Salabangka berada di kampung Kaleroang. Pada peralihan dan perubahan sisem pemerintahan di Salabangka, dari kampung ke distrik sistem pemerintahan Salabangka masih sistem pemerintahannya masih tradisional dan kepala kampungnya disebut Punggawa. Kemudian beralih menjadi distrik setelah datangnya bangsa Belanda pada awal abad ke-20. Setelah datngnya bangsa Jepang, perlakuan Jepang sangat memaksa penduduk pribumi untuk melakukan kegiatan demi kepentingan Jepang. sebelum kemerdekaan melalui gerakan politik. Setelah lepasnya dari penjajahan Jepang maka tahun 1951, para kepala distrik melakukan usulan untuk diberikan hak otonom,  dalam perkembangan sistem pemerintahan Salabangka

    Pengetahuan Tradisional Suku Muna dalam Pengobatan Rempe di Desa Ondoke Kecamatan Sawerigadi Kabupaten Muna Barat

    No full text
    Penyakit Rempe merupakan penyakit yang disebabkan oleh pergantian musim atau kondisi cuaca yang buruk, dengan gejala utama berupamunculnya ruam kemerahan pada seluruh bagian tubuh penderita. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan pengetahuan tradisional masyarakat mengenai pengobatan penyakit Rempe, serta menguraikan proses pelaksanaan pengobatan tersebut di Desa Ondoke, Kecamatan Sawerigadi, Kabupaten Muna Barat. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan datamelalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengobatan tradisional penyakit Rempe terdiri atas tiga tahapan, yaitu tahap awal, tahap pelaksanaan, dan tahap akhir. Pada tahap awal, pihak keluarga pasien terlebih dahulu memberitahukan kepada dukun waktu yang dianggap baik untuk melakukan pengobatan. Selanjutnya, keluarga menyiapkan air mineral (air aqua) yang kemudian dibacakan mantra oleh dukun. Setelah itu, air tersebut langsung diberikan kepada penderita dengan tujuan untuk mengeluarkan penyakit dari dalam tubuh. Tahap pelaksanaan dilakukan dengan menggunakan ramuan tradisional yang berasal dari beberapa jenis tumbuhan, seperti daun tomat (roo ntamate), daun jawa (kambadhawa), dan biji labu kuning (ghonuno labu). Adapun padatahap akhir, pengobatan dilakukan dengan menggunakan santan kelapa yang digunakan untuk memandikan penderita. Tujuan dari tahapanini adalah untuk menghaluskan kulit dan membersihkan bekas bintik-bintik yang terdapat pada tubuh penderita

    Praktik Pengobatan Tradisional Monggeha Sinalaki (Membuang Kesalahan) Pada Suku Tolaki di Desa Bungguosu Kecamatan Lembo Kabupaten Konawe Utara

    No full text
    Monggeha Sinalaki adalah pengobatan tradisional yang dilakukan oleh masyarakat Tolaki dengan bantuan supranatural yang disebut Mbu’owai (dukun) yang menggunakan air sebagai media pelaksanaan prosesi pengobatan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan bagaimana praktik dan bentuk pewarisan pengobatan tradisional Monggeha Sinalaki. Dalam penelitian ini menggunakan teori/konsep pengobatan tradisional dan pewarisan tradisional dengan jenis penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi/pengamatan, wawancara dan dokumentasi kemudian dianalisis dengan cara reduksi data, penyajian data dan verifikasi data. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa proses pengobatan Monggeha Sinalaki terdiri dari tiga tahapan yaitu tahapan persiapan, sebelum pengobatan Monggeha Sinalaki dilakukan, pihak keluarga pasien terlebih dahulu mengunjungi rumah dukun (Mbu’owai) untuk membicarakan atau memberitahu perihal penyakit yang di derita oleh pasien dan mereka mulai menanyakan apakah harus dibawa di rumah dukun atau di rumah pasien saja untuk pengobatan Monggeha Sinalaki, pelaksanaan yakni dimana terlebih dahulu dukun (Mbu’owai) menyentuh dada dan perut si pasien dengan menggunakan piring yang telah berisikan air dan uang logam, dan tahapan ketiga yaitu tahap akhir yaitu dukun (Mbu’owai) menyentuh ke dua telapak kaki sipasien sambil membacakan mantra dan si pasien meminum air yang sudah dibacakan mantra oleh dukun. Pola pewarisan dalampengobatan Monggeha Sinalaki yaitu dengan cara nonformal, yakni melalui keturunan dan dengan cara berguru

    Ritual Maduai Lepa  Pada Suku Bajo di Desa Tondasi Kecamatan Tiworo Utara Kabupaten Muna Barat

    No full text
    Ritual maduai lepa adalah sebuah ritual yang dilakukan oleh masyarakat suku Bajo untuk memohon keselamatan dan keberkahan kapal yang akan di turunkan. Penelitian ini bertujuan untuk Mendeskripsikan prosesi Ritual maduai lepa dan menganalisis fungsi  Ritual maduai lepa  Pada Suku Bajo di Desa Tondasi Kecamatan Tiworo Utara Kabupaten Muna Barat. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ritual maduai lepa memiliki beberapa tahapan yaitu: Proses Ritual Maduai Lepa, Penentuan Waktu dan Tempat (keluarga bermusyawarah, Persiapan Kehadiran Pelaku Ritual (Sando), Persiapan Alat dan Bahan, Tahap Pelaksanaan Ritual Maduai Lepa, Penataan Bahan-Bahan Ritual Oleh Pelaku Ritual (Sando), Pembacaan Doa dan Mantra Khusus Oleh Pelaku Ritual (Sando), Mendorong Kapal Kelaut Pemilik Kapal dan Masyarakat Mendorong Kapal Yang Diarahkan Ke Laut Secara Bersama-sama, Adapun fungsi dari ritual maduai lepa ini terlihat pada fungsi yang ada pada materi atau benda-benda ritual seperti Fungsi Telur Mentah ( antillo), Fungsi Air (boe), Fungsi Rokok, Fungsi Daun Sirih (luppi), Fungsi Daun lebar (daong bagal/muware), Fungsi Tali (ingka) ,dan Fungsi Kayu (pilara). Dari benda-benda tersebut memiliki fungsi masing-masing sesuai dengan kepercayaan dan keyakinan masyarakat suku Baj

    Bangunan Rumah Pesanggrahan di Kelurahan Kandai Kecamatan Kendari Kota Kendari: (Kajian Karakteristik dan Bentuk Arsitektur)

    No full text
    This research explains the characteristics applied to pesanggrahan buildings and their architectural forms in design and construction. The conceptual framework used includes architecture, form, characteristics, and the concept of a pesanggrahan house. This is a qualitative research, utilizing inductive reasoning and supported by architectural and morphological analysis. The findings conclude that the characteristics of pesanggrahan buildings are influenced by colonial architecture, evident in the use of large building components. Meanwhile, the architectural form of pesanggrahan buildings is influenced by tropical architecture and transitional architecture.Penelitian ini menjelaskan karakteristik yang diterapkan pada bangunan pesanggrahan serta bentuk arsitektur dalam perancangan dan pembangunannya. Landasan konseptual yang digunakan meliputi arsitektur, bentuk, karakteristik, dan konsep rumah pesanggrahan. Penelitian ini adalah kualitatif, menggunakan penalaran induktif dan didukung oleh analisis arsitektural serta morfologi. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa karakteristik bangunan pesanggrahan dipengaruhi oleh arsitektur kolonial, yang terlihat dari penggunaan komponen bangunan berukuran besar. Sementara itu, bentuk arsitektur bangunan pesanggrahan dipengaruhi oleh arsitektur tropis dan arsitektur transisi

    40

    full texts

    1,538

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    TERBITAN BERKALA ILMIAH ONLINE FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS HALU OLEO
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇