TERBITAN BERKALA ILMIAH ONLINE FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS HALU OLEO
Not a member yet
1538 research outputs found
Sort by
ARSITEKTUR UMA LENGGE DALAM BUDAYA ORANG BIMA DI DESA MARIA KECAMATAN WAWO NUSA TENGGARA BARAT
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui eksistensi dan fungsi rumah adat Bima (Uma lengge). Teknik pengumpulan data yang digunakan pada penelitian ini adalah teknik pengamatan terlibat (observation partisipan) dan wawancara mendalam (indepth Interview) penelitian lapangan menggunakan metode etnografi. Teknik analisis data yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rumah adat Bima uma lengge adalah bangunan tradisional orang Maria Kecamatan Wawo yang masih ada dan terawat hingga saat ini. Uma lengge masih dipertahankan karena merupakan warisan leluhur yang mesti dijaga agar nilai-nilai budaya masyarakat Desa Maria tetap dilestarikan. Simbol pada bagian atap rumah bagi orang Maria suku Bima menunjukkan kerangka hubungan antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesamanya, serta manusia dengan alam. Simbol tersebut dilambangkan dengan lambang tanduk kerbau yang terdapat pada tanduk rumah. Bagian badan rumah terdiri atas beberapa struktur yakni lante woha adalah lantai kedua/lantai tengah, papan penyangga yang diikatkan pada tiang rumah untuk mencegah hewan pengerat seperti tikus memanjat bangunan dengan tujuan agar hasil panen yang disimpan di atas lantai ketiga (taja) tidak dimakan oleh tikus. Simbol struktur rumah pada bagian bawah atau kaki (kolong) terdiri dari struktur tiang, pasung dan siku rumah. Simbol tersebut menunjukkan makna satu kesatuan yang ada pada tubuh manusia agar tetap kuat, kedua, terdapat cakar yang diwakili oleh sepasang laki-laki dan perempuan. Hal tersebut menegaskan manusia tidak bisa berdiri sendiri tanpa berpasangan
SEJARAH TARI LUMINDA PADA MASYARAKAT BUNGKU DI KABUPATEN MOROWALI: 1925-2020
Artikel ini bertujuan untuk menjelaskan (1) sejarah tari Luminda pada masyarakat Bungku di Kabupaten Morowali, (2) proses pelaksanaan tari Luminda pada masyarakat Bungku di Kabupaten Morowali, (3) perubahan-perubahan tari Luminda, dan (4) nilai-nilai yang terkandung dalam tari Luminda pada masyarakat Bungku di Kabupaten Morowali. Penelitian ini menggunakan metode sejarah yang terdiri dari lima tahapan kerja sebagai berikut: pertama, pemilihan topik, kedua, pengumpulan sumber, ketiga, kritik sumber, keempat, interpretasi sumber, kelima, historiografi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Luminda merupakan tari tradisi masyarakat Bungku yang selalu ditarikan pada pesta rakyat atau kegiatan hiburan di lingkungan istana. Tari Luminda awalnya dibawa oleh Waode Mpety, seorang putri keturunan bangsawan Buton. Waode Mpety datang ke Bungku menggunakan perahu layar yang penuh dengan ukiran dan hiasan sehingga perahu layar tersebut diberi gelar oleh adat “Sopeno Bangka Binooti”. Waode Mpety membawa beberapa pengikutnya yang dikenal dengan istilah Puak Suku. Puak Suku inilah yang membawa sebuah tarian yang disebut Linda. Tarian tersebut kemudian mengalami akulturasi dengan budaya Bungku sehingga lahirlah tari Mohasili. Tari ini lebih dikenal dengan nama Tumadeako Samba sebagai tarian kaum bangsawan dan kemudian menjadi tari Luminda yang kita kenal sekarang ini.Proses pelaksanaan tari Luminda pada masyarakat Bungku di Kabupaten Morowali ditampilkan pada acara resmi pemerintahan, acara pesta adat dan perayaan ulang tahun Kabupaten Morowali. Perubahan-perubahan tari Luminda pada masyarakat Bungku terjadi dari tahun 1925-2020. Tahun 1925 terjadi perubahan model pakaian, alat musik dan bentuk gerakan tari Luminda. Sedangkan tahun 2020 terjadi perubahan bentuk pakaiannya dan alat musik atau alat pengiring. Nilai-nilai yang terkandung dalam tari Luminda pada masyarakat Bungku di Kabupaten Morowali yaitu; 1). Nilai religius, 2). Nilai seni, 3). Nilai sosial dan 4). Nilai budaya
PERKEMBANGAN EKONOMI “PEDAGANG PAKAIAN” ORANG GU-LAKUDO DI KOTA BAUBAU: 1960-2022
Artikel ini bertujuan untuk menjelaskan (1) awal mula orang Gu-Lakudo menjadi pedagang pakaian di Kota Baubau tahun 1960-2022, (2) perkembangan usaha pedagang pakaian orang Gu-Lakudo di Kota Baubau tahun 1960-2022, serta (3) kehidupan sosial ekonomi orang Gu-Lakudo sebagai pedagang pakaian orang Gu-Lakudo di Kota Baubau pada tahun 1960-2022. Penelitian ini menggunakan metode sejarah yang terdiri dari lima tahapan kerja sebagai berikut: pertama, pemilihan topik, kedua, pengumpulan sumber, ketiga, kritik sumber, keempat, interpretasi sumber, kelima, historiografi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa orang Gu-Lakudo menjadi pedagang pakaian di Kota Baubau karena kurangnya lapangan pekerjaan di daerah asal. Dukungan aktivitas perekonomian dan perdagangan menarik penduduk untuk berpindah ke Kota Baubau meskipun awalnya tidak memiliki pengalaman dalam perdagangan antarpulau. Mereka kemudian berkembang menjadi komunitas pedagang yang mapan dan beragam. Perpindahan pedagang pakaian orang Gu-Lakudo di Kota Baubau dilakukan secara langsung dan bertahap. Wilayah aktivitas pedagang pakaian orang Gu-Lakudo di Kota Baubau meliputi Pasar Sentral Kota Baubau, Pertokoan La Elangi, Pasar Karya Nugraha, Pasar Wameo, Mall Plaza Umna Rijoli, dan Pelataran Pantai Kamali. Kehidupan sosial ekonomi pedagang pakaian orang Gu-Lakudo di Kota Baubau mengalami perkembangan ekonomi seperti tingkat ekonomi yang lebih baik, kondisi perumahan terlihat baik, dan perubahan ekonomi menjadi pedagang
DARI DUSUN MENJADI DESA: KAJIAN SEJARAH DAN PERKEMBANGAN DESA WAPALO KABUPATEN GORONTALO UTARA, 1981-2011
Artikel ini bertujuan untuk membahas tentang sejarah dan perkembangan di Desa Wapalo yang sebelumnya berstatus sebagai Dusun Sapawea kemudian beralih menjadi desa yang diakui secara definitif. Jenis penelitian ini adalah penelitian sejarah desa menggunakan metode sejarah yang dikemukakan oleh Gottschalk (1975:18-32) antara lain; heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi (penulisan sejarah). Penelitian ini juga dilengkapi dengan studi lapangan, yakni wawancara dan observasi langsung di lokasi penelitian. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pada tahun 1981, Wapalo masih berstatus sebagai dusun yakni Dusun Sapawea. Pada tahun 2010, Dusun Sapawea naik status menjadi desa persiapan dan tetap berada di bawah kontrol Desa Imana dan pemerintah daerah Kabupaten Gorontalo Utara. Jarak Sapawea dengan pemerintahan desa Imana adalah kurang lebih 5 km, ditempuh dengan jalan kaki dan juga motor. Medan jalan yang begitu curam dan sempit juga jarak dari Sapawea ke pusat pemerintahan Desa Imana membuat masyarakat setempat mengeluh. Faktor inilah yang membuat tokoh-tokoh adat dan masyarakat lokal Sapawea saat itu, seperti Bapak Masa Gobel, Niko Pasilia, Sukardi Balango, Kasim Daud, Naga Balango, Kasim Bai, Agus Van Solang dan Kasim Bai berjuang melakukan permohanan kepada pemerintahan daerah Gorontalo Utara agar Sapawea menjadi desa yang mandiri. Hingga tahun 2011, desa persiapan Sapawea resmi menjadi desa definitif dan berganti nama menjadi desa Wapalo. Bapak Agus Van Solang terpilih sebagai kepala desa pertama Wapalo melalui pemilihan langsung oleh rakyat setempat. Sejak menjadi desa yang mandiri terdapat berbagai fasilitas yang dibangun dan maju, mulai dari pembangunan jalan, penerangan, penyediaan air bersih, pengadaan sekolah, kantor desa, mesjid dan fasilitas lainnya
ORANG MASSENREMPULU DI DESA RAODA KECAMATAN LAMBAI KABUPATEN KOLAKA UTARA: 1979-2022
Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan: (1) Awal mula masuknya orang Massenrempulu di Desa Raoda Kecamatan Lambai Kabupaten Kolaka Utara tahun 1979-2022. (2) Perkembangan kehidupan sosial dan ekonomi orang Massenrempulu di Desa Raoda Kecamatan Lambai Kabupaten Kolaka Utara tahun 1979-2022. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian sejarah menurut Kuntowijoyo yang terdiri dari lima tahapan yaitu (1), Pemilihan Topik, (2), Heuristik Sumber, (3), Kritik Sumber, (4), Interpretasi Sumber, (5), Historiografi. Konsep yang digunakan yaitu konsep perkembangan, konsep sosial ekonomi, dan konsep masyarakat. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) orang Massenrempulu di Desa Raoda awalnya merupakan segerombolan pasukan tentara Kahar Muzakkar. Kahar Muzakkar melakukan pemberontakan karena tidak dapat menerima perlakuan pemerintah pusat yang menolak menerima pasukan Brigade Hasanuddin sebagai anggota pasukan pemerintah. Pemerintahan TNI tidak tinggal diam mengutus beberapa tentara untuk mencari Kahar Muzakkar beserta pasukannya. Pasukan Kahar Muzakkar kemudian bersembunyi di hutan belantara Tamborasi. Setelah pengejaran tentara TNI berhenti, mereka (eks pasukan Kahar Muzakkar) keluar hutan dan membentuk perkampungan yang kelak diberi nama Desa Raoda. Jumlah orang Massenrepulu di Raoda kemudian bertambah dengan kedatangan orang-orang Massenrepulu dari Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan. Kedatangan mereka terdiri dari tiga tahap yaitu, pada tahun 1979, tahun 1981, dan 1984. (2) Kehidupan sosial dan ekonomi orang Massenrempulu di Desa Raoda yaitu mayoritas sebagai petani. Mata pencaharian ini memungkinkan masyarakat memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Masyarakat umumnya menanam cengkeh, coklat, merica, dan sayuran
KAJIAN SASTRA ANAK TERHADAP NILAI EDUKASI DALAM DONGENG PERANG KARYA ARIS HARTANTI
Penelitian berjudul "Kajian Sastra Anak terhadap Nilai Edukasi dalam Dongeng Perang Karya Aris Hartanti di Let’s Read Asia” bertujuan untuk mendeskripsikan nilai-nilai edukasi yang terkandung dalam dongeng pada situs web Let’s Read Asia. Jenis penelitian ini adalah penelitian kepustakaan dengan pendekatan deskriptif kualitatif yang menggunakan pendekatan struktural. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah kutipan kata, kalimat, dan paragraf dari kumpulan buku dongeng yang terdapat di situs web Let’s Read Asia, yang diterbitkan pada tahun 2024 dan dianggap mengandung nilai edukasi bagi anak. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori sastra anak yang dikemukakan oleh Burhan Nurgiyantoro. Hasil penelitian menunjukkan bahwa beberapa dongeng yang terdapat di situs web Let’s Read Asia dapat memberikan nilai edukasi yang positif bagi anak-anak. Salah satu dongeng yang dianalisis, yaitu Dongeng Perang karya Aris Hartanti, memberikan edukasi personal yang mencakup nilai perkembangan emosional, intelektual, imajinasi, serta rasa etis dan religius. Namun, pada bagian nilai pendidikan, hanya ditemukan nilai eksplorasi dan penemuan. Penelitian ini memberikan kontribusi terhadap pemahaman tentang pentingnya media digital dalam menyampaikan nilai edukasi kepada anak-anak melalui sastra
PENYULUHAN TENTANG POLA MAKAN BERBASIS PANGAN LOKAL UNTUK BALITASEHAT DAN GENERASI CERDAS DI DESA MEKAR KECAMATAN SOROPIAKABUPATEN KONAWE
Desa Mekar di Kecamatan Soropia, Kabupaten Konawe, menghadapi tantangan dalam memenuhi kebutuhan gizi balita untuk mendukung pertumbuhan generasi cerdas melalui pola makan yang sehat. Penyuluhan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pola makan berbasis pangan lokal yang seimbang dan bergizi, khususnya bagi balita. Penyuluhan melibatkan berbagai kegiatan, seperti: edukasi gizi berbasis pangan lokal, pemanfaatan pangan lokal untuk diolah menjadi variasi makanan pendamping ASI. Metode yang digunakan dalam penyuluhan ini mencakup ceramah dan diskusi interaktif. Sasaran utama adalah ibu-ibu rumah tangga, termasuk kader, dan pengurus desa yang berperan dalam mengatur pola makan balita. Hasil pengabdian menunjukkan adanya peningkatan kesadaran masyarakat, terutama di kalangan ibu-ibu yang memiliki anak balita, mengenai pentingnya gizi seimbang dan pemanfaatan pangan lokal. Penyuluhan yang dilakukan tidak hanya meningkatkan pengetahuan tentang manfaat pangan lokal, tetapi juga mendorong perubahan sikap dan perilaku dalam penyediaan makanan yang lebih sehat. Selain itu, kegiatan ini berhasil meningkatkan keterampilan ibu-ibu dalam mengolah pangan lokal menjadi menu yang menarik dan bergizi bagi balita. Dengan demikian, program ini diharapkan dapat berkontribusi pada upaya penurunan angka stunting di wilayah tersebut melalui edukasi gizi dan perubahan pola pikir masyarakat
PEMANFAATAN TEKNOLOGI INFORMASI UNTUK MENINGKATKAN AKSES INFORMASI DAN PELAYANAN PUBLIK DI DESA CIALAM JAYA KABUPATEN KONAWE SELATAN
Pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas aparatur dan warga Desa Cialam Jaya dalam memanfaatkan teknologi informasi sebagai sarana peningkatan akses informasi dan pelayanan publik. Di era digital, tata kelola pemerintahan desa menuntut kecepatan, transparansi, dan partisipasi aktif masyarakat. Namun, keterbatasan pemahaman dan penggunaan teknologi menjadi hambatan utama. Melalui kegiatan ini, tim pengabdian memberikan pelatihan dan pendampingan dalam penggunaan sistem informasi desa, pengelolaan media sosial desa, serta aplikasi pelayanan publik sederhana. Metode yang digunakan meliputi pelatihan partisipatif, pendampingan teknis, dan evaluasi berbasis kebutuhan lokal. Hasil dari kegiatan ini menunjukkan adanya peningkatan literasi digital aparat desa, terbentuknya media informasi resmi desa, serta meningkatnya keterlibatan masyarakat dalam mengakses dan memberikan umpan balik terhadap pelayanan publik. Kegiatan ini diharapkan menjadi langkah awal menuju transformasi digital desa yang lebih inklusif dan berkelanjutan
WORKSHOP MANAJEMEN PERTUNJUKAN TEATER SEBAGAI BENTUK PENDAMPINGAN TERHADAP KOMUNITAS LITERASI MAHASISWA FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS HALU OLEO
Kemampuan memanegerial pertunjukan teater merupakan salah satu skill menarik dan istimewa yang idealnya dimiliki mahasiswa. Kemampuan managerial pertunjukan teater ini membutuhkan proses berlatih yang tepat dan fokus. Oleh karena itu, mahasiswa mesti dilatih untuk mengasah bakat managerialnya dengan baik melalui motivasi maupun latihan berkesimnambungan. Terkait dengan hal tersebut, tim pengabdian dari Universitas Halu Oleo berupaya berkonstribusi untuk memberikan pendampingan managerial pertunjukan terhadap sejumlah mahasiswa dari Komunitas Literasi FIB UHO. Kegiatan ini dilakukan dengan cara memberikan Pelatihan dan Diskusi Kelompok kepada sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Komunitas Literasi FIB. Pertama, peserta diberikan pengetahuan mengenai pentingnya memiliki kemampuan menyusun rancangan pertunjukan. Kedua, peserta diberikan pengetahuan tentang kiat-kiat mengasah dan mengembangkan kemampuan melaksanakan pertunjukan teater. Ketiga, dilakukan proses latihan managerial serta diskusi kelompok mengenai topik pengabdian. Dari hasil pengamatan kegiatan di lapangan, diperoleh informasi bahwa sebagian peserta yang tergabung dalam komunitas literasi memiliki minat untuk mengembangkan kemampuan manageralnya, khususnya untuk pertunjukan teater. Setelah mengikuti workshop managemen pertunjukan, para peserta semakin termotivasi untuk meningkatkan kemampuan dalam melaksanakan sebuah pertunjukan teater
Kajian Sosiolinguistik terhadap Persepsi Kekasaran dalam Gaya Berbicara Masyarakat Makassar
This research examines the perception of roughness in the speaking style of the Makassar community through a sociolinguistic approach. The distinctive speaking style of the Makassar community, characterized by high intonation, assertive tone, and the use of address terms such as "ji" and "ko," is often perceived differently by people from outside the region. Using a qualitative method with an online survey of 15 respondents from various regions in Indonesia, this research reveals that perceptions of roughness are more influenced by intonation and tone of voice rather than word choice. The findings indicate that cultural background, interaction experience, and communication context play significant roles in shaping one\u27s perception of the Makassar community\u27s speaking style. Respondents from regions with similar linguistic characteristics or those who have long interacted with the Makassar community tend not to view this speaking style as a form of roughness, but rather as an expression of cultural identity. The research results also reveal generational variations, where younger generations are perceived as using a "rougher" speaking style compared to older generations. The Makassar community itself views their speaking style as part of their cultural identity, not a form of roughness, and shows resistance to negative stereotypes. This research contributes to the development of sociolinguistic theory concerning the relationship between language, identity, and linguistic stereotypes, as well as provides practical implications for language education and intercultural communication in Indonesia\u27s multicultural context. These findings emphasize the importance of a cultural relativism approach in understanding language variation, where the assessment of a linguistic practice must consider the norms and values prevailing in the community