TERBITAN BERKALA ILMIAH ONLINE FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS HALU OLEO
Not a member yet
1538 research outputs found
Sort by
Makanan Tradisonal Sokko Pada Suku Bugis di Kelurahan Punggaluku Kecamatan Laeya Kabupaten Konawe Selatan
Sokko adalah makanan tradisional khas Sulawesi Selatan, khususnya masyarakat Bugis, yang terbuat dari beras ketan.. Tujuan penelitian ini yaitu untuk menjelaskan proses pembuatan makanan tradisional Sokko dan untuk menganalisis makna simbolik makanan tradisional Sokko pada pernikahan Suku Bugis di Kelurahan Punggaluku Kecamatan Laeya Kabupaten Konawe Selatan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualiatif, pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi, wawancara dan dokumentasi. Untuk penentuan informan menggunakan teknik purposive sampling. Data dianalisis dengan cara reduksi data, penyajian data, dan verifikasi data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa makanan tradisional dibuat dengan proses sebagai berikut: proses perendaman, proses pemerasan santan kelapa, proses membuat bumbu dari bahan alami, proses pengukusan dan proses penyajian makanan tradisional sokko pada pernikahan. Makanan tradisional sokko juga bukan hanya sebagai proses teknis, tetapi juga memiliki makna sebagai simbol pembersihan diri dan niat sebelum menjalani kehidupan berumah tangga. Selain itu, makaan ini juga sebagai simbol kebersamaan dan rasa syukur yang dapat mempererat hubungan kekeluargaan menjaga nilai-nilai sosial dan budaya dalam masyarakat
GAMBAR CADAS DI CERUK KAGHOFI-GOFINE DI DESA LIANGKABORI KECAMATAN LOHIA KABUPATEN MUNA
Kaghofi-Gofine Niche in Liangkabori Village, Muna, Southeast Sulawesi, is an archaeological site that has not been extensively studied. This research aims to identify and elaborate on the quantity and motifs of rock art found in this niche. A qualitative method with inductive reasoning was employed, involving literature review, direct observation, interviews, data analysis, and interpretation. Rock art data were processed using Image Software with the D\u27Strecht Plugin for classification based on attributes and motifs (figurative and non-figurative). Morphological and technological analyses were applied to understand their forms, placements, colors, and creation techniques. The findings indicate that Kaghofi-Gofine Niche contains a total of 355 rock art images distributed across 108 panels. Identified motifs include human figures (160 images), animals (7 images), human and animal combinations (5 images), geometric patterns (76 images), kites (1 image), boats (1 image), hand stencils (3 images), and abstract forms (98 images). The predominant colors used in these rock paintings are black (53 images), brown (100 images), and red (99 images). These findings highlight the rich prehistoric rock art heritage in the region.Ceruk Kaghofi-Gofine di Desa Liangkabori, Muna, Sulawesi Tenggara, merupakan salah satu situs arkeologi yang belum banyak diteliti secara mendalam. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menjelaskan kuantitas serta motif gambar cadas yang ditemukan di ceruk tersebut. Metode kualitatif dengan penalaran induktif digunakan, melibatkan studi pustaka, observasi langsung, wawancara, analisis, dan interpretasi data. Data gambar cadas diolah menggunakan Software Image dengan Plugin D\u27Strecht untuk klasifikasi berdasarkan atribut dan motif (figuratif dan non-figuratif). Analisis morfologi dan teknologi diterapkan untuk memahami bentuk, penempatan, warna, dan teknik pembuatannya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Ceruk Kaghofi-Gofine memiliki total 355 gambar cadas yang tersebar di 108 panel. Motif yang teridentifikasi meliputi manusia (160 gambar), hewan (7 gambar), manusia dan hewan (5 gambar), geometris (76 gambar), layang-layang (1 gambar), perahu (1 gambar), cap tangan (3 gambar), dan abstrak (98 gambar). Gambar cadas ini dominan menggunakan pigmen warna hitam (53 gambar), cokelat (100 gambar), dan merah (99 gambar). Temuan ini memberikan gambaran tentang kekayaan seni cadas prasejarah di wilayah tersebut
Nilai Penting dan Strategi Pengelolaan Situs Benteng Wawoangi di Desa Wawoangi Kecamatan Sampolawa Kabupaten Buton Selatan
Benteng Wawoangi terletak di dataran tinggi, yaitu di atas bukit. Yang tidak jauh dari permukiman masyarakat sehingga besar kemungkinan akan terjadi kerusakan tidak dilakukannya upaya pengelolaan. Adapun beberapa permasalahan dalam penelitian ini adalah: (1) Bagaimana nilai penting pada Benteng Wawoangi di Desa Wawoangi Kecamatan Sampolawa Kabupaten Buton Selatan (2) Bagaimana strategi pengelolaan yang dapat di terapkan pada Benteng Wawoangi di Desa Wawoangi Kecamatan Sampolawa Kabupaten Buton Selatan. Penelitian ini memfokuskan pada konsep nilai penting dan strategi pengelolaan. Jenis penelitian yang digunakan adalah jenis kualitatif dengan model penalaran deskriptif. Pengumpulan data dalam penelitian ini diperoleh dengan melalui studi pustaka, observasi, dokumentasi, dan wawancara. Selanjutnya data tersebut dianalisis dengan menggunakan analisis unsur stakeholder, serta analisis nilai penting, dan analisis SWOT. Dari hasil penelitian yang dilakukan Benteng Wawoangi diketahui memiliki unsur nilai penting, yaitu nilai penting sejarah, nilai penting ilmu pengetahuan, nilai penting kebudayaan, dan nilai penting ekonomi. Sementara untuk strategi pengelolaan yang dapat diterapkan yakni strategi berbasis partisipatif masyarakat dan berbagi tanggung jawab.This research was conducted at the Benteng Mata Oleo site in Wasalabose Village, Kulisusu District, North Buton Regency. The purpose of this study was to identify and describe the form of damage to the Benteng Mata Oleo Site and explain the handling efforts. The research method used was descriptive analysis which is a type of qualitative research. In solving the problem, this research used a conceptual basis, namely the concept of fort, the concept of damage, vandalism and efforts to handle the damage, namely morphological analysis, damage analysis, and interpretation. Based on the results of the study, there were four damages that occurred at the Benteng Mata Oleo site, namely mechanical damage, namely marked by the collapse of the wall due to tree root vegetation, (2) physical weathering marked by the presence of rock cavities in the wall, (3) biological weathering occurs due to the presence of tree plants that invite microorganisms, (4) vandalism replaces the fort wall by building an animal enclosure fence. Efforts to handle the damage include cleaning, restoration or repair, cleaning, providing physical protection, providing protection and strengthening the legal umbrella
Archaeological Study of the Cidaresi Petroglyph Site in Baturanjang Cipeucang Pandeglang Banten
The Cidaresi Engraved Stone Site, located in Baturanjang Village, Cipeucang, Pandeglang, Banten, has potential as a heritage site of the Stone Age, namely an engraved stone that holds very high cultural value but has been studied only to a limited extent. The purpose of this research is to describe the form and typology of the engravings on the stone, to understand the implied cultural meaning, and to study the function of the site within the scope of the local community’s social life. Methodologically, this research uses a qualitative method with an inductive approach. The data collection techniques include field observation, interviews with the site caretaker, photo documentation, and literature study. The research results show that the main stone at this site has a hollow triangular motif with downward engravings, categorized as a geometric motif in Nusantara rock art. The site complex also consists of a perforated stone, a standing stone, and a stone chair that indicate collective ritual functions. Based on the oral tradition of the local community, this stone is known as Batu Tumbung, interpreted as a symbol of fertility and purity, and associated with local agricultural activities. Comparative analysis with previous studies shows a continuity of megalithic traditions in Indonesia that emphasize ancestor veneration and fertility symbols. This study concludes that the Cidaresi Site is a ritual center with significant agrarian-religious meaning. Suggestions for future research include interdisciplinary studies and preservation involving the community to maintain the site’s historical and cultural value.Situs Batu Bergores Cidaresi yang terletak di Desa Baturanjang, Cipeucang, Pandeglang, Banten, memiliki potensi sebagai salah satu warisan masa batu yang bernilai budaya tinggi, namun kajiannya masih sangat terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk dan tipologi goresan pada batu, memahami makna budaya yang tersirat, serta menelaah fungsi situs dalam lingkup kehidupan sosial masyarakat lokal. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan kerangka induktif. Teknik pengumpulan data meliputi observasi lapangan, wawancara dengan pemelihara situs, dokumentasi foto, serta studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa batu utama di situs ini memiliki motif segitiga berlubang dengan arah goresan ke bawah yang dapat dikategorikan sebagai motif geometris dalam seni cadas Nusantara. Kompleks situs juga terdiri atas batu berlubang, batu tegak, dan kursi batu yang memperlihatkan fungsi ritual kolektif. Berdasarkan tradisi lisan masyarakat setempat, batu ini dikenal sebagai Batu Tumbung yang dimaknai sebagai simbol kesuburan dan kesucian serta dikaitkan dengan aktivitas pertanian. Analisis komparatif dengan penelitian sebelumnya mengindikasikan adanya kontinuitas tradisi megalitik di Indonesia yang menekankan penghormatan kepada leluhur dan simbol kesuburan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Situs Cidaresi berfungsi sebagai pusat ritual dengan makna agraris-religius yang penting. Saran untuk penelitian berikutnya meliputi studi interdisipliner serta pelibatan masyarakat dalam upaya pelestarian agar nilai historis dan kultural situs tetap terjaga
PERKEMBANGAN KERAJINAN KUNINGAN DI KELURAHAN LAMANGGA KECAMATAN MURHUM KOTA BAUBAU: 1990-2022
Penelitian ini bertujuan untuk (1) menjelaskan awal munculnya kerajinan kuningan di Kelurahan Lamangga Kecamatan Murhum Kota Baubau, (2) menjelaskan perkembangan produk kerajinan kuningan di Kelurahan Lamangga Kecamatan Murhum di Kota Baubau 1990-2022. Jenis penelitian ini merupakan sejarah kebudayaan dengan menggunakan pendekatan multidimensional. Data primer yang digunakan pada penelitian ini bersumber dari arsip, dokumen asli, dan informasi dari para informan terkait penelitian ini, sementara sumber sekunder diperoleh dari skripsi, tesis, jurnal penelitian, dan artikel. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode sejarah menurut Kuntowijoyo yang terdiri dari lima tahap penelitian yaitu Pemilihan Topik, Heuristik, Verifikasi Sumber, Interpretasi, dan Historiografi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kerajinan kuningan di Kelurahan Lamangga telah ada sejak zaman Kerajaan Buton. Kerajinan Kuningan masuk di Pulau Buton dibawa oleh orang Jawa. Orang Jawa tersebut masuk dan menikah dengan orang Lamangga lalu kemudian membuka usaha kuningan. Perkembangan produk kerjinan kuningan di Kelurahan Lamangga terdiri dari perkembangan produk dari tahun 1990-2000. Perkembangan produk hanya terdiri dari beberapa produk kerajinan yaitu belanga, gong, talang, tempat siri, cerek atau teko, keris dan setrika. Kemudaian pada tahun 2001-2022 para pengrajin menciptakan inovasi baru kerajinan kuningan berupa vas bunga, tudung saji, dan ornamen masjid
SEJARAH DESA LABASA KECAMATAN TONGKUNO SELATAN:1996-2022
Artikel ini bertujuan untuk menjelaskan latar belakang terbentuknya Desa Labasa Kecamatan Tongkuno Selatan dan perkembangan Desa Labasa Kecamatan Tongkuno Selatan 1996-2022. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode penelitian sejarah menurut Kuntowijoyo dengan tata kerja metode sebagai berikut: (1) Pemilihan Topik, (2) Heuristik, (3) Kritik Sumber, (4) Interpretasi Sumber dan (5) Historiografi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) Desa Labasa merupakan wilayah yang terbentuk sejak tahun 1996 melalui hasil musyawarah masyarakat. Dahulu orang menyebutnya kampung Katumpu yang bermakna tempat berhenti atau pertemuan pembesar-pembesar atau utusan raja-raja dari Muna dan Buton. Pada Tahun 1966 berdasarkan kesepakatan para tokoh-tokoh kampung Katumpu disepakati dengan nama baru yaitu Desa Labasa. Dalam perjalanannya Desa Labasa telah dipimpin oleh beberapa orang Kepala Desa antara lain Bapak La Saata, Oskar Taate, Ahmad Jamaluddin dan La Ode Abdul Kadir Guru (2) Perkembangan Desa Labasa dapat dilihat dari segi pemerintahan yang berjalan sesuai dengan yang seharusnya, kemudian dari segi sarana pemerintahan, pendidikan dan sarana penunjang masyarakat lainya. Sarana Pemerintahan yang ada di Desa Labasa terdiri dari Kantor Desa, kantor BPD, Kantor LKM, Kantor PKK dan Balai Pertemuan. Adapun sarana pendidikan di Desa Labasa sudah lengkap yang dimulai dari TK sampai dengan tingkat menengah atas dan dari segi sarana penunjang lainya sudah terdapat total 7 sumur gali, 7 unit jamban keluarga, 1 unit pasar dan 2 unit infastruktur jalan tani. Perkembangan dari segi ekonomi juga dapat dilihat dengan semakin bertambahnya jenis usaha masyarakat yang awalnya hanya sekedar bertani saja
Refleksi Kehidupan dalam Film La Promesse De L`Aube
Penelitian ini bertujuan untuk memaparkan refleksi kehidupan yang terdapat dalam film La Promesse de L’Aube karya Eric Barbier. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Data dalam penelitian ini yaitu berupa teks dan kutipan (screenshotan film, dialog, monolog, dan tindakan) yang berkaitan dengan refleksi dalam film La Promesse de L’Aube. Hasil penelitian menunjukan bahwa film La Promesse de L’Aube karya Eric Barbier termasuk ganre drama sejarah bersifat drama satir sosial yang lebih mengandalkan adegan kesungguhan tokoh utama. Film ini memiliki data yang dapat menjadikannya menarik. Film ini menyajikan berbagai pandangan guna menampilkan refleksi kehidupan, seperti latar tempat yang berbeda-beda kota maupun negara, cinta dan harapan ibu kepada anak, kekecewaan pada individu hingga lembaga, kesedihan anak akan kematian ibunya, latar waktu di musim dingin dan perang dunia II, hingga latar kehidupan imigran dan keturuanan Yahudi. Refleksi kehidupan pada film ini terbagi menjadi beberapa bagian yaitu: 1) Perjalanan Hidup Tokoh Utama, 2) Sosok ibu sebagai landasan karya, 3) Bangkrutnya Usaha dan Harapan Romain Gary, 4) Latar tempat roman, dan 5) Kehidupan Tokoh Utama
Dinamika Sosial Budaya Tukang Cukur Madura di Ternate
The social approach of Madura barbers in Ternate in carrying out their work colors the social dynamics of the community. This research aims to examine the socio-cultural dynamics of the Madura barber community in Ternate by using historical research methods consisting of heuristics, criticism, interpretation, and historiography. The social history approach is used to extract information from informants. The results showed that the Madura barbers brought not only their technical skills, but also cultural values such as peer-to-peer solidarity and a close social relationship system. This dynamic also involves an acculturation process with Ternate\u27s local culture, although it still maintains Madura identity and traditions. The social transformation that occurs among Madura barbers reflects that migrant groups can maintain their culture while interacting with the dominant culture in their new environment. In addition, it provides insight into socio-cultural diversity and the role of migrant communities in shaping cultural identity in overseas areas
Pilihan Rasional Strategi Usaha Penjual Makanan Tradisional Dumbleg Khas Nganjuk
Traditional dumbleg food is increasingly threatened with extinction due to the regeneration of business actors and changes in public consumption patterns due to globalization. This study aims to analyze the business strategies applied by traditional dumbleg food sellers in maintaining their existence amid the growing culinary competition. This study uses a qualitative approach with a narrative research design. This research uses James S. Coleman\u27s Rational Choice Theory and the methods used are observation, interviews and documentation. The main subjects in this study were 3 traditional dumbleg food sellers, 4 community members and 3 young people who were selected using purposive sampling technique. The results showed that there are two strategies used by traditional dumbleg food sellers in maintaining their business, namely conventional strategies and modern strategies. Conventional strategies such as offline marketing at Gondang Market, Rejoso Market and Nganjuk Square and marketing through bazaars at certain events. Meanwhile, modern strategies are carried out by marketing through digital platforms such as WhatsApp and Facebook as well as flavor innovations in products in order to reach a wider market and attract public interest. The combination of the two strategies can help increase the competitiveness of dumbleg food in the face of current culinary competition. The implication of this research is the importance of innovation in business strategies to be able to maintain the existence of traditional food
Pandangan Masyarakat Terhadap Posyandudi Desa Wakorumba Kecamatan Wakorumba Selatan Kabupaten Muna
This research is entitled Community Views of Posyandu in Wakorumba Village, South Wakorumba District, Muna Regency. The aim of this research is to find out and describe mothers\u27 views on children\u27s posyandu and the reasons why mothers go to posyandu and not go to posyandu in Wakorumba Village, South Wakorumba District, Muna Regency. Data collection in this research was observation and in-depth interviews. The informants in this research were twenty-one people, namely pregnant women and mothers with toddlers, who were residents of Wakorumba village. Data collection in this research was direct research in the field using observation methods, in-depth interviews, ethnography and thick and in-depth descriptions. The results of this research show that mothers\u27 views on posyandu consist of monitoring children\u27s health; as a close health service; as health education. ; The reasons why mothers go to the posyandu are to maintain the child\u27s growth and development; check the health of pregnant women; carry out immunizations; monitor nutritional status by providing additional food; family planning programs and not going to the posyandu, namely lots of activities; sudden changes in schedules; the child\u27s age has reached five years