TERBITAN BERKALA ILMIAH ONLINE FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS HALU OLEO
Not a member yet
1538 research outputs found
Sort by
SOSIALISASI PELESTARIAN SUMBER SEJARAH DI DESA ULU MOWEWE KECAMATAN MOWEWE KABUPATEN KOLAKA TIMUR SULAWESI TENGGARA
Sosialisasi terhadap masyarakat di Desa Ulu Mowewe Kecamatan Mowewe Kabupaten Kolaka Timur dianggap berperan penting untuk meningkatkan kesadaran kolektif, serta pengetahuan masyarakat tentang pentingnya melestarikan situs sejarah di Kecamatan Mowewe. Sosialisasi kelompok masyarakat di Kecamatan Mowewe diharapkan mampu mengubah sikap dan perilaku masyarakat yang terlibat langsung dalam mendukung pembangunan utamanya pada sektor pendidikan. Kegiatan sosialisasi ini dilakukan untuk mengetahui pemahaman dan peranan masyarakat dalam upaya peningkatan partisipasi masyarakat dalam melestarikan situs sejarah yang ada di Kecamatan Mowewe Kabupaten Kolaka Timur. Pemahaman kelompok masyarakat utamanya di sekitar wilayah situs sejarah di Desa Ulu Mowewe Kecamatan Mowewe Kabupaten Kolaka Timur menjadi sasaran penting dalam pelaksanaan sosialisasi ini. Kegiatan tersebut akan memberikan materi sosialisasi tentang identifikasi situs-situs sejarah di Kecamatan Mowewe Kabupaten Kolaka Timur. Kegiatan sosialisasi ini juga akan memperkenalkan cara melestarikan situs sejarah kepada masyarakat. Dari hasil pengamatan kegiatan di lapangan, diperoleh data dan informasi bahwa pengetahuan dan pemahaman kelompok masyarakat di sekitar wilayah situs sejarah Kecamatan Mowewe Kabupaten Kolaka Timur masih rendah dan terbatas sehingga diperlukan perhatian dari pemerintah, masyarakat pemerhati maupun lembaga non pemerintah untuk selalu memberikan edukasi terkait dengan upaya peningkatan partisipasi masyarakat dalam pembangunan budaya sejarah
Gender Equality in Ben Mazué\u27s La Femme Idéale
This study examines Ben Mazué\u27s album La femme idéal with a feminist approach. The song, dedicated to his wife to celebrate their tenth wedding anniversary, discusses gender equality in romance. The lyrics of the songs on this album voice support for women. These songs show that the presence of men has a positive impact on the feminist movement in helping women fight for their rights. The results of this study indicate that Ben Mazué\u27s album La femme idéale displays gender equality in romance. This gender equality is contained through positive feminist narratives of masculinity, which are shown through the recognition of gender equality in romance in the form of recognizing the existence of women, men realizing their mistakes, and men involving women in romantic relationships
Idiom Bahasa Prancis Berunsur Kata Bilangan Pada Website Expressio
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis makna idiom-idiom bahasa Prancis yang berunsurkan kata bilangan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Sumber data berupa kamus daring Expressio, sebuah situs yang menyediakan banyak idiom-idiom, makna idiomatisnya, asal-usul dan definisi idiom, serta contoh penggunaan idiomnya. Sedangkan data adalah semua ungkapan idiomatik yang ada. Dalam analisis data digunakan analisis komponen secara semantis. Hasil menunjukkan terdapat 73 idiom bahasa Prancis yang berunsur kata bilangan dalam website Expressio. Dari jumlah dapat disimpulkan bahwa jenis idom dengan unsur bilangan yang paling banyak adalah dalam bentuk locution verbale, dan paling sedikit adalah dalam locution nominale dan adjectivale. Hasil analisis komponen makna menunjukkan bahwa makna idiom tersebut jauh berbeda dengan makna harfiah kata-kata penyusunnya. Faktor historis dan budaya juga melatarbelakangi makna dari idiom-idiom tersebut. Idiom dengan numeralia tersebut juga dapat melambangkan banyak hal.
Gender Representation in Indonesian Folktales: A Feminist Analysis of The Origin of Mount Saba Mpolulu and Princess Tandampalik
This study explores gender representation in Indonesian folktales through a feminist perspective. The research focuses on two folktales, The Origin of Mount Saba Mpolulu from Southeast Sulawesi and Princess Tandampalik from South Sulawesi, both of which portray complex gender roles and relations. Using a qualitative approach and content analysis method, the study identifies and interprets explicit and implicit elements of gender construction in the narratives. Feminist theory and gender studies are applied as analytical frameworks to examine issues such as subordination, stereotypes, violence, inferiority–superiority, and gender awareness. The findings reveal that folktales reflect not only cultural values but also gender ideologies embedded within society. In The Origin of Mount Saba Mpolulu, the female character demonstrates strength and independence, challenging patriarchal dominance, while also experiencing subordination and stereotyping. In Princess Tandampalik, gender relations are depicted more equally, with both male and female characters exercising autonomy in decision-making despite cultural restrictions. However, traces of gender injustice—such as forced marriage, negative stereotypes, and unequal domestic-public roles—remain evident
Mahasiswa dalam Belenggu AI: Praktik Konsumsi ChatGPT dan DeepSeek
The rapid advancement of technology has brought significant changes to everyday life. Various activities that previously required human skills can now be gradually replaced by artificial intelligence (AI), such as text generation, language translation, and answering complex questions, which can now be done by platforms such as ChatGPT and DeepSeek. This study seeks to examine in greater depth the forms of acceptance and consumption patterns of ChatGPT and DeepSeek among university students. As an academic group, students have their own interpretations of the presence of these two technologies. This study uses a reception analysis method involving ten informants who belong to Generation Z, and refers to the decision-making theory proposed by George R. Terry and Brinckloe. The results of the study show that the audience has diverse interpretations of ChatGPT and DeepSeek consumption, which are influenced by their respective backgrounds and levels of knowledge. Most informants are in a position of negotiation, while others are in a dominant position that supports the use of AI in the field of higher education
Digital Archiving and the Preservation of Rickshaw Painting as Intangible Cultural Heritage in Bangladesh
Rickshaw painting in Bangladesh is a distinct type of folk art that turns cycle rickshaws into colorful mobile canvases. The paintings represent themes from rural life, cinema, religion and national history, but are also a symbol of cultural identity and intangible heritage. In the past few decades this tradition has undergone serious decline due to modernization. This situation presents a research gap in the potential contribution of digital archiving towards the preservation & revitalization of rickshaw painting. The purpose of this research is to study the possibility of digital archives as a safeguarding tool for the artistic, cultural and social dimensions of this endangered tradition. The research is qualitative, relying on archival research, field observation of workshops, and oral history interviews with rickshaw painters and rickshaw pullers. It also examines how tools such as high-resolution photography, video documentation, oral history recordings, and virtual exhibitions can capture not only the artworks but also the techniques, stories, and apprenticeship systems behind them. Findings have suggested that digital archives can not only preserve the visual motif, but also the oral tradition, and can establish global access to the art, as well as new markets for artisans. However, challenges exist, especially in terms of authenticity, over commercialization and the rights of artists. The paper concludes by stating that community-centered and ethically designed digital archives can offer a sustainable model for rickshaw painting\u27s living heritage preservation while amplifying its cultural value at the local and global levels
Mata Yang Enak Di Pandang, Sebuah Refleksi Terhadap Problematika Kelompok Marjinal: Analisis Realisme Sosialis
This study examines socialist realism in the short story collection Mata Yang Enak Dipandang by Ahmad Tohari. The focus of this study is to describe the principles of socialist realism that are the background of the creation of Ahmad Tohari\u27s works. The study was conducted using a literature study approach with reading and note-taking data collection techniques. The content analysis technique was carried out by identifying the principles of socialist realism in Mata Yang Enak Dipandang. The results of the study show that the principles of socialist realism, characterized by class awareness of the negative impacts of capitalism and prioritizing humanity, are present in this short story collection by Ahmad Tohari. This study contributes to literary studies by showing how socialist realism becomes the basis of a literary work. In addition, this study also paves the way for further exploration of socialist realism in literary works. Penelitian ini mengkaji realisme sosialis dalam kumpulan cerita pendek Mata Yang Enak Dipandang karya Ahmad Tohari. Fokus penelitian ini adalah mendeskripsikan prinsip realisme sosialis yang menjadi latar belakang penciptaan karya Ahmad Tohari. Penelitian dilakukan dengan pendekatan studi pustaka dengan teknik pengumpulan data baca catat. Teknik analisis isi dilakukan dengan mengidentifikasi prinsip realisme sosialis dalam Mata Yang Enak Dipandang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prinsip realisme sosialis yang bercirikan kesadaran suatu kelas mengenai dampak negatif yang ditimbulkan kapitalisme dan mengutamakan kemanusiaan hadir dalam kumpulan cerita pendek karya Ahmad Tohari ini. Penelitian ini memberikan kontribusi bagi kajian sastra dengan menunjukkan bagaimana realisme sosialis menjadi pendasaran sebuah karya sastra. Selain itu, penelitian ini juga membuka jalan bagi eksplorasi lebih lanjut tentang realisme sosialis dalam karya sastra.
Kata kunci: realitas sosial, realisme sosialis, sastra, Ahmad Tohar
THE INDEXICALITY JAJA UPAKARA OF BALINESE ETHNIC SOCIETY CEREMONIES IN WEST LOMBOK
Penelitian ini mengkaji praktik budaya pangan dalam upakara masyarakat etnis Bali di wilayah diaspora Lombok Barat, dengan fokus pada fungsi indeksikalitas jaja upakara sebagai penanda identitas budaya. Etnis Bali Lombok di Lombok Barat (EB-LB) merupakan komunitas imigran yang telah lama bermukim dan membangun interaksi multikultural dengan etnis Sasak sebagai penduduk lokal. Dalam proses adaptasi dan akulturasi budaya, masyarakat EB-LB tetap mempertahankan nilai-nilai leluhur melalui praktik upacara keagamaan, salah satunya penggunaan jaja upakara di banten atau sesajen. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode etnografi dan fenomenologi, serta menerapkan teori indeksikalitas dan rekonstruksi budaya untuk menelaah simbolisme dan transformasi makna jaja upakara dalam praktik ritual kuliner. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jaja upakara tidak hanya berfungsi sebagai ritual pangan, tetapi juga sebagai sistem tanda budaya yang merepresentasikan identitas, nilai sosial, serta spiritualitas komunitas EB-LB. Proses rekonstruksi terhadap bentuk dan makna jaja upakara mencerminkan dinamika pewarisan budaya dalam konteks lingkungan multikultural, sekaligus menjadi strategi eksistensial dalam mempertahankan identitas etnis di perantauan.This study examines food culture practices in the rituals of the Balinese ethnic community in the West Lombok diaspora, focusing on the indexical function of jaja upakara as markers of cultural identity. The Balinese ethnic group in West Lombok (EB-LB) is an immigrant community that has long settled and built multicultural interactions with the Sasak ethnic group as the local population. In the process of cultural adaptation and acculturation, the EB-LB community has maintained ancestral values through religious ceremony practices, one of which is the use of jaja upakara in banten or offerings. This study uses a qualitative approach with ethnographic and phenomenological methods, as well as applying the theories of indexicality and cultural reconstruction to examine the symbolism and transformation of meaning jaja upakara in culinary ritual practices. The results of the study show that jaja upakara not only functions as a food ritual, but also as a cultural sign system that represents the identity, social values, and spirituality of the EB-LB community. The process of reconstructing the form and meaning of jaja upakara reflects the dynamics of cultural inheritance in a multicultural context, while also becoming a strategic existential in maintaining ethnic identity in a foreign land
SULTAN ABDUL QAHIR DAN PELETAKAN DASAR SOSIAL POLITIK ISLAM AWAL DI BIMA TAHUN 1601-1640
Penelitian ini membahas tentang peranan Sultan Abdul Qahir dalam mengembangkan Islamdi Bima Tahun 1630-1635 M. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan: (1) latar belakangkehidupan Sultan Abdul Qahir. (2) kontribusi Sultan Abdul Qahir dari segi dakwah, politik, sosial,dan ekonomi. Penelitian ini menggunakan metode sejarah di antaranya: Pemilihan topik, heuristik,verifikasi, interpretasi, dan historiografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (I) Kerajaan Bimatelah berdiri dan berkembang sebelum masa yang diliputi BO (Buku Catatan Raja-raja Bima), dansempat mengembangkan sebuah politik dan budaya yang baik melalui perniagaan. (2) Pada masaKesultanan Abdul Qahir, Bima menjadi pusat perdagangan sehingga masyarakat memanfaatkan haltersebut untuk menyebarkan Islam. (3) kesuksesan Sultan Abdul Qahir dalam bidang dakwah dankebudayaan dilihat dari beberapa aspek; di bidang dakwah, Sultan Abdul Qahir berhasil membangunmasjid pertama yaitu Masjid Kamina yang dijadikan sebagai sarana dakwah dan pendidikan. Dibidang kebudayaan, tercipta pakaian yang sesuai syari’at Islam yaitu busana Rimpu untuk menutupitubuh wanita muslimah. Perbedaan peneliti sebelumnya dengan penelitian ini yakni, Nurwahidah(2019) menuliskan bahwa Sultan Abdul Qahir masuk Islam di Desa Sape saat melakukan pelariandari kejaran Salisih (paman Abdul Qahir), sedangkan dalam naskah BO (Buku catatan Raja-rajaBima) tercatat bahwa Sultan Abdul Qahir masuk Islam di Makassar ketika dalam pengejaran Salisih.Peneliti berupaya mendalami dan melengkapi temuan para peneliti sebelumnya yaitu permasalahanperjalanan Sultan Abdul Qahir mulai dari masuk Islam serta kehidupan sebelumnya
Kata Kunci: Sejarah Peranan Sultan Abdul Qahir, Kontribusi Sultan Abdul Qahi
KADIANO GHUSE: RITUAL PENGALIHAN HUJAN PADA MASYARAKAT MUNA
AbstrakRitual Kadiano Ghuse merupakan praktik ritual masyarakat Muna yang digunakan untuk menahan atau mengalihkan hujan pada pelaksanaan hajatan dan kegiatan sosial di ruang terbuka. Penelitian ini bertujuan mengungkap tahapan pelaksanaan ritual, memaknai simbol-simbol ritual yang digunakan, serta menjelaskan alasan keberlanjutan praktik Kadiano Ghuse dalam kehidupan masyarakat Desa Sidamangura, Kecamatan Kusambi, Kabupaten Muna Barat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode etnografi. Data diperoleh melalui pengamatan terlibat, wawancara mendalam dengan pawang hujan (Bhisa), tokoh masyarakat, dan warga pengguna jasa ritual, serta dokumentasi lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ritual Kadiano Ghuse dilaksanakan melalui tahap persiapan dan tahap pelaksanaan yang melibatkan tindakan simbolik seperti menunjuk awan, pembacaan mantra dan doa, penanaman bahan ritual, serta pemeliharaan pantangan oleh Bhisa. Perlengkapan ritual seperti rokok, cermin, garam, jahe, cabai, tembakau, dan daun karubu-rubu dimaknai sebagai simbol proteksi, penolak hujan, dan media komunikasi kosmologis. Ritual ini berfungsi sebagai mekanisme budaya untuk mengelola ketidakpastian cuaca, menenangkan psikologis masyarakat, serta memperkuat legitimasi sosial pawang hujan. Keberlanjutan Kadiano Ghuse ditopang oleh fungsinya sebagai penjamin simbolik keberhasilan hajatan dan stabilitas sosial masyarakat.Kata kunci: Kadiano Ghuse; ritual pemindahan hujan; masyarakat Muna; simbol ritual; etnograf