Online Journal :: Agricultural State Polytechnic of Payakumbuh
Not a member yet
265 research outputs found
Sort by
PEMBERIAN KOMPOS JERAMI PADI UNTUK MENINGKATKAN PRODUKSI DAN PENDAPATAN USAHA TANI JAGUNG MANIS (Zea mays Saccharata Sturt.)
Abstrak
Tanaman jagung manis (Zea mays saccharata Sturt) merupakan salah satu jenis jagung yang banyak dikonsumsi karena memiliki rasa yang lebih manis dibandingkan jagung biasa, selain itu jagung manis juga dapat diolah menjadi berbagi olahan makanan seperti mie, tepung, pergedel dan lainnya. Rata-rata produksi jagung manis di Kabupaten Limapuluh Kota pada tahun 2019 adalah sebesar 6,81 ton/ha, poduksi ini masih tergolong rendah dan belum mampu memenuhi kebutuhan permintaan pasar jagung manis. Produksi yang masih rendah ini dikarenakan lahan sudah terdegradasi. Ketersedian unsur hara yang ada dalam tanah sangat dipengaruhi oleh adanya bahan organik di dalam tanah, salah satu bentuk masukan bahan organik yang umum digunakan adalah kompos jerami padi. Budi daya jagung manis ini dilaksanakan di lahan praktek Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh pada bulan Maret hingga Mei 2021, yang dilaksanakan pada lahan seluas 250 m2 dimana 125 m2 menggunakan perlakuan kompos jerami padi dan 125 m2 sebagai kontrol atau tanpa perlakuan. Data hasil pengamatan dianalisis dengan uji t 5% dan 1%. Berdasarkan hasil pengamatan dan uji t perlakuan kompos jerami padi memberikan pengaruh berbeda sangat nyata (hight significant/hs) terhadap tinggi tanaman, panjang daun, diameter tongkol, berat tongkol berkelobot, berat tongkol tanpa kelobot, dan panjang tongkol. Berbeda tidak nyata (non significant/s) terhadap lebar daun, dan jumlah daun. Hasil yang diperoleh dari budi daya jagung perlakuan kompos jerami padi dan tanpa perlakuan sebanyak 163 kg dan 105 kg masing-masingnya, artinya terdapat peningkatan hasil sebesar 55,23%. Biaya total perlakuan kompos jerami padi dan tanpa perlakuan sebesar Rp. 466.466 dan Rp. 322.565, sementara pendapatan sebesar Rp. 815.000 dan Rp. 525.000 masing-masingnya. Berdasarkan hasil, biaya dan pendapatan maka diperoleh keuntungan pada perlakuan kompos jerami padi sebesar Rp. 348.540, R/C 1,7, profitabilitas 75%, BEP (Break Event Point/titik keseimbangan) harga 2.861/kg, BEP hasil 93 kg, dan BEP lahan 72 m2. Sementara tanpa perlakuan memperoleh keuntungan sebesar Rp. 202.440, R/C 1,6, profitabilitas 62%, BEP harga 3.072/kg, BEP hasil 65 kg, dan BEP lahan 76 m2. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa budi daya jagung menggunakan kompos jerami padi layak untuk diusahakan karena memiliki R/C yang lebih tinggi dibandingkan tanpa perlakuan.
Kata Kunci : jagung manis, jerami padi, kompos
Abstract
Sweet corn (Zea mays saccharata Sturt) is a popular type of corn because it has a sweeter flavor than regular corn. It may also be processed into a variety of processed meals such as noodles, flour, pergedel, and other items. In 2019, the average sweet corn output in Limapuluh Kota Regency was 6.81 tons per hectare, which is still low and unable to meet the sweet corn market demand. The land has been degraded, resulting in limited output. The presence of organic matter in the soil has a significant impact on the availability of nutrients in the soil, rice straw compost is a frequent form of organic matter input. This sweet corn cultivation was conducted out on an area of 250 m2 in the Payakumbuh State Agricultural Polytechnic practice area from March to May 2021, with 125 m2 receiving rice straw compost treatment and 125 m2 receiving no treatment. T-tests of 5% and 1% were used to assess observational data. The treatment of rice straw compost had a highly significant influence (hight significant/hs) on plant height, leaf length, ear diameter, the weight of cob with cob, the weight of cob without cob, and length of cob, according to observations and t-tests. Leaf width and number of leaves are not substantially different (non-significant/s). The yields achieved from maize cultivation with and without rice straw compost treatment were 163 kg and 105 kg, respectively, indicating a 55.23 percent increase in yield. Meanwhile, without treatment, a profit of Rp. 202,440, R/C 1,6, the profitability of 62%, BEP price 3,072/kg, BEP yield 65 kg, and BEP land 76 m2 were achieved. Because rice straw compost has a greater R/C than untreated rice, it can be assumed that maize production using it is viable.
Keywords : sweet corn, rice straw, compos
Analisis Modal Sosial Masyarakat Dalam Pencegahan Kebakaran Lahan Gambut Di Desa Kundur Kecamatan Tebing Tinggi Barat Kabupaten Kepulauan Meranti
Peatland fire is a condition where peatland is hit by fire, causing damage that causes economic and environmental losses. One of the efforts to prevent peatland fires is through social capital. The purpose of this study was to find out the programs carried out by the government with the Fire Care Community (MPA) in peatland management and to analyze the social capital of the community in efforts to prevent peatland fires. This research was conducted in Kundur Village, Tebing Tinggi Barat District, Meranti Islands Regency. The number of respondents in this study was 60 people obtained using the purposive sampling method. The data that has been obtained is then analyzed using qualitative methods with descriptive analysis and quantitative analysis with average analysis. The results of the study show that the programs carried out by the government and the community are establishing a Fire Care Community (MPA), processing peat water to obtain clean drinking water through the Pamsimas program, the government also socializing fire prevention which is one of the efforts to prevent land fires. peat in Kundur Village, and the Sago-Based Pilot Project program. The analysis of social capital shows that MPA members are still not optimal in implementing ancestral values in Kundur Village, for example, it can be seen that in terms of interests there are still some MPA members who prioritize personal interests, compared to common interests in efforts to overcome land fires in the village. Kundur, for example, when the meeting schedule was held, some MPA members were not present and preferred to work taking care of their agricultural land. Furthermore, there are still MPA members who feel they have been treated unfairly in giving their opinions, and finally the lack of proactive action by MPA members in carrying out programs related to efforts to overcome land fires in Kundur Village
EKSPLORASI PLASMA NUTFAH KARAMUNTING DARI TIGA KENAGARIAN DI KABUPATEN LIMA PULUH KOTA
Karamunting (Rhodomyrtus tomentosa) adalah salah satu tumbuhan obat yang sering digunakan oleh masyarakat. Tumbuhan ini termasuk ke dalam famili Myrtaceae dan mempunyai nama internasional Rosemyrle. Secara tradisional, daun tumbuhan ini digunakan untuk mengobati luka, kudis, sakit perut, diare, sakit kepala, mencegah infeksi. Tumbuhan ini juga memiliki nilai tambah yang belum banyak diketahui oleh masyarakat lokal yaitu buahnya mengandung antioksidan yang baik untuk tubuh serta bisa diolah menjadi makanan olahan. Penelitian eksplorasi plasma nutfah tanaman karamunting dilakukan untuk menemukan keberadaannya di lapangan serta mengetahui karakter morfologi serta tingkat kemiripan aksesi yang ditemukan. Penelitian telah dilakukan dari bulan Juni-September 2021 dengan menggunakan metode purposive sampling. Dari hasil penelitian ditemukan sebanyak 30 aksesi tanaman karamunting, ditemukan keragaman karakter morfologi yang diukur dengan parameter tinggi tanaman, lebar daun, panjang daun, diamater batang, warna daun, warna batang, bunga dan buah. Analisi menggunakan NTSYS menunjukan 30 aksesi mengelompok menjadi 2 kelompok besar pada koefisien 0,25 dan ada 2 aksesi dengan tingkat kemiripan 100% yaitu ST5 dan ST
PENGGUNAAN PUPUK ORGANIK CAIR (POC) URIN KAMBING UNTUK MENINGKATKAN HASIL DAN PENDAPATAN USAHA TANI JAGUNG (Zea mays L.)
Abstrak
Tanaman jagung (Zea mays L.) merupakan tanaman pangan utama kedua setelah tanaman padi (Oryza sativa L.) yang dikonsumsi sebagai bahan pangan dan pakan ternak.Kabupaten Limapuluh Kota yang merupakan sentra produksi ayam ras mengakibatkan kebutuhan jagung untuk pakan ternak sangat tinggi.Total kebutuhan jagung untuk pakan ayam petelur dan pedaging pada tahun 2020 adalah 169.694,34 ton dan 23.383,815 ton (total 193.078,155 ton), namun Kabupaten Limapuluh Kota hanya mampu memproduksi jagung sebanyak 45.511,98 ton (Badan Pusat Statistik Kabupaten Limapuluh Kota, 2021). Berdasarkan data tersebut budidaya jagung di Kabupaten Limapuluh Kota memiliki peluang pasar yang cukup besar untuk dikembangkan.Peluang pasar ini dapat dipenuhi melalui upaya peningkatan produksi salah satunya dengan pemupukan menggunakan Pupuk Oganik Cair (POC) urin kambing.Budi daya jagung ini dilaksanakan di lahan praktek Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh pada bulan Maret hingga Juni 2021, yang dilaksanakan pada lahan seluas 250 m2 dimana 125 m2 menggunakan perlakuan POC urin kambing dan 125 m2 sebagai kontrol atau tanpa perlakuan. Data hasil pengamatan dianalisis dengan uji t 5% dan 1%, berdasarkan hasil pengamatan dan uji t perlakuan POC urin kambing memberikan pengaruh berbeda sangat nyata (hight significant/hs) terhadap tinggi tanaman, panjang daun, lebar daun, berat 100 biji, dan hasil per tanaman. Hasil yangdiperoleh pada lahan perlakuan mencapai 119 kg/125m2 (9,52 ton/ha), sementarahasil pada lahan tanpaperlakuanhanya 99kg/125m2(7,92ton/ha).
Kata kunci: jagung, pupuk organik cair, urin kambing
Abstract
Corn (Zea mays L.) is the second main food crop after rice (Oryza sativa L.) which is consumed as food and animal feed. Limapuluh Kota Regency is the center of broiler chicken production, which has resulted in a very high demand for corn for animal feed. The total demand for corn for laying hens and broilers in 2020 is 169.694,34 tons and 23.383,815 tons (a total of 193.078,155 tons). However, Limapuluh Kota Regency is only able to produce 45.511,98 tons of corn (Central Bureau of Statistics of Limapuluh Regency, 2021). Based on these data, maize cultivation in Limapuluh Kota Regency has a large enough market opportunity to be developed. This market opportunity can be met through efforts to increase production, one of which is fertilization using liquid organic fertilizer from goat urine. This corn cultivation was carried out in the Payakumbuh State Agricultural Polytechnic practice area from March to June 2021, which was carried out on an area of 250 m² where 125 m² used liquid organic fertilizer from goat urine treatment and 125 m² as control or no treatment. Observational data were analyzed by t-test 5% and 1%, based on the results of observations and t-test treatment of liquid organic fertilizer from goat urine gave high significant/hs on plant height, leaf length, leaf width, the weight of 100 seeds, and a production. The production obtained on the treated land reached 119 kg/125 m² (9.52 tons/ha), while the production on the untreated land was only 99 kg/125 m² (7.92 tons/ha).
Keywords: corn, liquid organic fertilizer, goat urin
PENGARUH PENERAPAN DOSIS PUPUK ORGANIK ANORGANIK DIINKUBASI PADA ZONA AKAR TANAMAN KEDELAI (Glycine max L. Merrill) TERHADAP KOMPONEN HASIL DAN PRODUKSI BIJI
Aplikasi dosis pupuk organik anorganik dengan proses inkubasi ke zona akar tanaman kedelai adalah penerapan bentuk pupuk yang berasal dari penggabungan kompos dan pupuk sumber N, P dan K dipasaran. Metode ini sudah terbukti dalam praktek penanaman padi metode SRI (the Sistem of Rice Intensification) pada sawah bukaan baru. Fungsi tanaman kedelai tidak diragukan lagi saat ini karena sebagai sumber makanan seperti tempe, tahu dan lainnya. Metode tempel misel organik-anorganik berasal dari hasil kompos dalam hal ini kompos asal feses sapi dengan inkubasi 21 hari. Pembuatan 1 t.ha-1 pupuk diperlukan 80% kompos, 20% tanah lempung berliat, dan berturut-turut Urea, SP-36 dan KCl sebanyak 15,0, 12,5, dan 7,5 kg.ha-1. Perlakuan dosis pupuk di zona akar berturut-turut 0,0; 1,5; 3,0 dan 4,5 t.ha-1 dengan pengulangan sebanyak 5 kali dalam media tanam polybag 8 kg tanah Ultisol. Aplikasi takaran pupuk organik anorganik-terinkubasi (Inorganic Organik Fertilizers-incubated, IOF-i) sebesar 3 t.ha-1 mampu memperbaiki pertumbuhan tanaman, meningkatkan komponen hasil seperti jumlah polong per tanaman dan berat 100 biji serta menghasilkan berat biji per rumpun dan per hektar tertinggi. Hasil terbaik mencapai 20,48 g.rumpun-1 atau setara dengan 2,56 t.ha-1.
Kata kunci: IOF-I, kedelai, kompos, misel, pupuk organik anorganik-inkubas
PENENTUAN EC NUTRISI UNTUK PERTUMBUHAN TANAMAN BAWANG MERAH DENGAN SISTEM HIDROPONIK RAKIT APUNG
Bawang merah merupakan salah satu komoditi sayuran unggulan yang sejak lama telah diusahakan oleh petani secara intensif. Salah satu teknik budidaya hidroponik yaitu system Rakit Apung (Floating Raft System) atau biasa dikenal FHS. Dalam system ini, wadah tempat tanaman berada dalam kondisi mengapung dan bersentuhan langsung dengan air nutrisi. Dalam pembuatan nutrisi untuk tanaman perlu diperhatikan EC (Electrical Conductivity) yang digunakan untuk mengukur kepekatan suatu larutan nutrisi hidroponik. Kebutuhan EC disesuaikan dengan fase pertumbuhan, yaitu ketika tanaman masih kecil dibutuhkan nilai EC yang kecil dan semakin meningkat umur tanaman EC yang dibutuhkan juga semakin besar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pada EC berapa yang optimal untuk pertumbuhan tanaman bawang merah dan pengaruhnya terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman. Perlakuan yang akan digunakan pada penelitian ini adalah 3 perlakuan dengan 10 kali ulangan pada masing-masing perlakuan, dengan rincian perlakuan adalah: Perlakuan A dengan EC 1000 (?S /cm) untuk umur 1-30 HST dan 2000(?S /cm) untuk umur > 30 HST. Perlakuan B dengan EC 1500 (?S /cm) untuk umur 1-30 HST dan 2500(?S /cm) untuk umur > 30 HST serta Perlakuan C dengan EC 2000 (?S /cm) untuk umur 1-30 HST dan 3500(?S /cm) untuk umur > 30 HST. Untuk jumlah anakan terlihat bahwa semua perlakuan tidak berbeda nyata. Sedangkan untuk hasil pengamatan berat panen terlihat bahwa perlakuan A, berbeda nyata dengan perlakuan B dan berbeda tidak nyata dengan perlakuan C. Perlakuan B berbeda nyata dengan perlakuan C sedangkan perlakuan C tidak berbeda nyata dengan perlakuan A. Dari data tersebut dapat diketahui bahwa tanaman bawang merah tumbuh paling baik pada perlakuan C dengan pada EC 2000 (?S /cm)) pada umur 1-30 HST dan EC 3500 (?S /cm) pada umur > 30 HST, dengan hasil panen tertinggi yaitu 74,4 gr
ANALISIS GAMBARAN RANTAI PASOK JAGUNG UNTUK PAKAN TERNAK DI KABUPATEN PASAMAN BARAT MENGGUNAKAN MODEL FOOD SUPPLY CHAIN NETWORKS (FSCN)
Kabupaten Pasaman Barat, khususnya Kecamatan Kinali, Pasaman dan Luak Nan Duo merupakan daerah yang memiliki potensi jagung yang cukup tinggi. Pengembangan usaha jagung, khususnya petani jagung terkendala dalam masa tanam yang sifat tanamnya musiman, dalam jaminan kesinambungan kualitas produk, ketepatan waktu pengiriman produk yang menjadi kendala pada proses distribusi jagung kepada konsumen. Penanggulangan masalah ketersediaan jagung untuk bahan baku pakan ternak memerlukan kajian terhadap dinamika komoditas jagung, dapat dilihat melalui suatu rantai kegiatan. Jagung pada umumnya dikonsumsi dalam bentuk pipilan, akan tetapi ini diperuntukkan untuk konsumsi peternakan ayam petelur. Petani sebagai pelaku utama dalam hal ini umumnya tidak mendapat keuntungan yang optimal, karena semakin panjang sebuah rantai pasok maka akan memperlemah posisi tawar petani. Tujuan penelitian ini yaitu menggambarkan ranyai pasok jagung untuk pakan ternak di Kabupaten Pasaman Barat. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survey dengan analisis data kuantitatif dengan menggunakan analisis profil rantai pasok menggunakan kerangka Food Supply Chain Network (FSCN). Sampel yang diambil yaitu petani sebanyak 75 orang, pedagang pengumpul 12 orang dan pedagang besar 1 orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 3 pola saluran rantai pasok, yaitu pola saluran 1 terdiri dari petani – pedagang pengumpul 1– pedagang besar – konsumen, saluran 2 terdiri dari petani – pedagang pengumpul 2– konsumen dan saluran 3 terdiri dari petani – pedagang besar – konsumen. Aliran produk pada proses bisnis rantai pasok jagung mulai dari petani, pedagang pengumpul 1 dan 2 serta pedagang besar disini belum terlaksana dengan baik, karena tidak adanya siklus yang pasti untuk waktu pengiriman maupun kuota yang akan dikirim nantinya kepada konsumen akhir karena tidak dapat diprediksi jumlah yang akan dikirim
Kejadian Scabies Pada Babi Di Kecamatan Mamasa Kabupaten Mamasa: Incidence of Scabies in Pigs in Mamasa District, Mamasa Regency
Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan prevalensi scabies pada babi di Kecamatan Mamasa Kabupaten Mamasa. Penelitian ini dilakukan pada bulan Mei sampai Juni 2021 di Kecamatan Mamasa Kabupaten Mamasa dan pemeriksaan sampel kerokan kulit dilaksanakan di Dinas Pertanian Kabupaten Mamasa. Jenis penelitian yang dilakukan adalah deskriptif. Sampel diambil dari 16.355 ekor babi dan dipilih berdasarkan teknik purposive sampling dari populasi babi. Sampel sebanyak 53 diambil berdasarkan gejala klinis scabies dan diperiksa menggunakan mikroskop di Laboratorium Dinas Pertanian Kabupaten Mamasa. Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah pisau bedah atau silet, botol sampel, sarung tangan, mikroskop, kamera, object glass, cover glass. Bahan yang diperlukan dalam penelitian ini adalah sampel kerokan kulit, KOH 10%, serta alkohol. Analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 53 ternak babi yang menujukkan gejala klinis seperti tidak tenang, kurus, gatal dan sering menggesekan badannya ke kandang, kurang nafsu makan, serta kulit melepuh. Kemudian untuk pemeriksaan mikroskopik terdapat 13 sampel yang positif terinfeksi scabies. Prevalensi scabies pada babi di Kecamatan Mamasa Kabupaten Mamasa sebesar 24,5%. Angka prevalensi tertinggi terdapat di Desa Osango, sedangkan yang paling rendah terdapat di Desa Rambusaratu dengan kasus prevalensi scabies 20%
Puerperium dan Skor Kondisi Tubuh Sapi Peranakan Simmental pada Ketinggian Tempat yang Berbeda: Puerperium and Body Condition Score of Simmental Crossbred Cattle in Different Altitude
Puerperium adalah periode mulai melahirkan sampai organ-organ reproduksi kembali ke kondisi fisiologis dan histologis yang normal dalam keadaan tidak bunting. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi status puerperium dan skor kondisi tubuh pada sapi Peranakan Simmental (PS) yang dipelihara pada ketinggian tempat yang berbeda. Penelitian dilaksanakan menggunakan metode survey di tiga kabupaten yaitu Kabupaten Tanjung Jabung Barat dan Kabupaten Tebo (dataran rendah-sedang) dan Kabupaten Kerinci (dataran tinggi). Sampel dipilih secara purposive sampling dengan kriteria induk sapi PS pasca melahirkan, induk yang dipilih diperkirakan minimal mempunyai 75% darah Simmental berdasarkan penampilan eksteriornya. Setiap daerah dengan tinggi yang berbeda masing-masing diambil 20 ekor sampel. Induk yang memiliki masa puerperum lebih dari 60 hari dikategorikan mengalami gangguan reproduksi (gangrep). Untuk menilai kondisi kesehatan secara keseluruhan dilakukan pemeriksaan Skor Kondisi Tubuh (SKT). Data SKT disajikan dalam bentuk rataan ± standar deviasi. Perbedaan lama puerperium dan SKT dianalisis dengan uji-t, sedangkan proporsi induk yang mengalami gangguan reproduksi dilakukan uji khi- kuadrat. Semua perhitungan statistik menggunakan perangkat lunak SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada dataran rendah-sedang gangrep terjadi pada 70% induk lebih banyak dibandingkan dataran tinggi yaitu 25% (P kecil dari 0,05). Masa puerperium sapi PS di daerah dataran rendah-sedang rata-rata 116,4 ± 19,2 hari lebih lama dibandingkan daerah dataran tinggi (71,6 ± 11,7 hari; P kecil dari 0,05). Nilai SKT induk sapi PS yang mengalami gangrep lebih rendah dari nilai SKT induk sapi PS yang normal (P kecil dari 0,05). Di dataran rendah-sedang pada induk yang normal SKT 3,10 ±0,32 dan SKT gangrep 2,17± 0,29, sedangkan di dataran tinggi nilai SKT yang normal 3,07 ± 0,26 dan SKT gangrep 2,30 ±0,4
Pengaruh Pemberian Capriglandin dan Lutalyse Terhadap Service Perconception, Conception Rate dan Ovarium pada Sapi Simmental
Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh pemberian PGF2 (Capriglandin dan Lutalyse) terhadap service perconception, conception rate dan ovarium, folikel, dan corpus luteum pada induk sapi simmental. Penelitian menggunakan 24 ekor induk sapi Simmental yang tidak bunting di BPTUHPT Padang Mengatas, Sumatera Barat dengan kriteria tidak estrus, siklus estrus normal dan tidak mengalami gangguan reproduksi. Metode eksperimen dengan Rancangan Acak Lengkap Pola Faktorial 2 x 2 x 6 bila terdapat hasil berbeda nyata maka dilanjutkan uji lanjutan DMRT. Faktor A adalah preparat hormon prostaglandin (Capriglandin dan Lutalyse). Faktor B adalah dosis (3 ml dan 5 ml). Perlakuan A1B1 = Capriglandin 3 ml; A1B2 = Capriglandin 5 ml; A2B1 = Lutalyse 3 ml; dan A2B2 = Lutalyse 5 ml yang masing-masing terdapat enam ulangan. Baik Capriglandin dan Lutalyse diberikan secara single dosis intra muskuler. Parameter yang diukur service perconception, conception rate dan ukuran diameter panjang ovarium. Hasil analisis antara preparat hormon Capriglandin dan lutalyse terhadap jumlah dosis 3 ml dan 5 ml menunjukan hasil berbeda nyata (P kecil dari 0.05) terhadap conception rate dan ovarium. Hasil analisis tidak berbeda nyata (P besar dari 0,05) terhadap service perconception. Prostaglandin dengan zat aktif dinoprost tromethamine hanya efektif bila ada CL fungsional, yaitu antara hari ke-7 sampai hari ke-18 siklus estrus. Penggunaan terbaik pada pemberian Capriglandin dengan dosis 5 ml