Online Journal :: Agricultural State Polytechnic of Payakumbuh
Not a member yet
    265 research outputs found

    Deteksi Resistensi Cacing Gastrointestinal Terhadap Albendazole Dengan Metode Fecal Egg Count Reduction Test (FECRT) Pada Babi Di Lombok Utara: Detection of Gastrointestinal Nematode Resistance to Albendazole by the Fecal Egg Count Reduction Test (FECRT) Method in Pig in North Lombok

    No full text
    Resistensi antelmintik golongan albendazole telah dilaporkan terjadi hampir di seluruh dunia dengan tingkat prevalensi yang cukup tinggi. Data tentang deteksi antelmintik golongan albendazole di Pulau Lombok sangat minim terutama pada babi di peternakan rakyat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui resistensi antelmintik albendazole pada peternakan babi di Lombok Utara yang akan menggambarkan efektifitas dari albendazol dengan melihat nilai Egg Per Gram Feses (EPG) dan Fecal Egg Count Reduction Test (FECRT). Penelitian menggunakan community field trial dengan pre and post design dengan menggunakan 16 babi sebagai hewan percobaan. Babi yang menjadi hewan coba dalam penelitian ini adalah babi yang mempunyai EPG besar dari 150 sebelum pemberian Albendazole. Albendazole diberikan secara oral dengan dosis (15mg/kg). Nilai EPG akan dianalisis dengan T-test berpasangan untuk melihat efektifitas dari Albendazole dan resistensi antelmintik albendazole dideteksi dengan metode Fecal Egg Count Reduction Test (FECRT) setelah 14 hari pemberian albendazole. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai EPG sebelum pemberian albendazole adalah (641.25 ± 484.89) dan sesudah pemberian albendazole adalah 27.5 ± 71.13. Hasil nilai t- test berpasangan menunjukan p kecil dari 0,05 (p-value=0.00) dan nilai FECRT dari pemberian Albendazole sebesar 95.71%. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa tidak terdeteksi resistensi Albendazole terhadap cacing gastrointestinal dan albendazole bisa dinyatakan masih efektif digunakan dalam kasus kecacingan pada peternakan babi

    Pengaruh Suplementasi Tepung Daun Kelor dan HQFS terhadap Kecernaan Serat Kasar dan Fraksi Serat pada Ternak Domba Lokal: Effect Supplementation Moringa Leaf Flour and HQFS on Crude Fiber and Fiber Fraction Digestibility on Local Sheep

    No full text
    Daun kelor merupakan salah satu tanaman yang potensial untuk dikembangkan sebagai sumber konsentrat hijau karena mengandung protein kasar, energi, vitamin, mineral yang tinggi dan lengkap, dapat tumbuh  semudah menanam singkong. High Quality Feed Supplement (HQFS) adalah gabungan dari beberapa jenis sumber konsentrat kovensional yang mengandung karbohidrat, protein, vitamin, mineral dan probiotik yang diramu sedemikian rupa untuk memenuhi keseimbangan kebutuhan protein mikroba di rumen maupun untuk sumber protein by pass dipasca rumen untuk ternak induk semang. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh kecernaan serat kasar (SK) dan fraksi serat (ADF, NDF) pada pakan komplit kering berbasis jerami kangkung sebagai sumber serat dengan suplementasi daun kelor dan HQFS dengan dosis yang berbeda. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 5 perlakuan dan 3 kelompok sebagai ulangan. Apabila terdapat perbedaan masing-masing perlakuan dilanjutkan dengan uji DMRT. Penelitian ini mengunakan domba ekor tipis jenis kelamin betina dengan bobot 22-26 kg ± 2,16 sebanyak 15 ekor. Perlakuan terdiri dari 5 jenis formulasi ransum yang berbeda yakni A : kontrol, B : 10% HQFS, C : 20% HQFS, D : 10% kelor, E : 20% kelor. Bahan penyusun konsentrat terdiri dari jagung halus, bungkil kedelai, bungkil kopra dan polard. Perbandingan konsentrat : kangkung kering = 60% : 40%. Hasil anova menunjukan bahwa kecernaan SK, NDF dan ADF berbeda nyata antar perlakuan. Setelah dilakukan uji lanjut DMRT antara perlakuan A, E dengan B, C dan D terhadap kecernaan SK, NDF dan ADF berbeda nyata (P kecil dari 0.05), sedangkan antara perlakuan A dengan E berbeda tidak nyata, antara perlakuan B, C dan D berbeda  tidak nyata. Dengan persentase nilai kecernaan SK : 64,1 – 80,9 %,  kecernaan NDF : 68.4 – 79,3% dan ADF: 65,7-78,9%. Adapun kesimpulan dari penelitian ini berdasarkan nilai kecernaan serat kasar dan fraksi serat, formulasi pakan terbaik adalah pakan B (10% HQFS) dan pakan D (10%) tepung daun kelor kering

    Imbangan Energi dan Nitrogen Ternak Domba Lokal yang Diberi Silase Pakan Komplit dengan Aditif Silase yang Berbeda

    No full text
    Pemberian pakan komplit yang mengandung limbah pertanian kepada ternak akan meningkatkan utilitas bahan pakan terutama limbah pertanian. Pengawetan dengan cara silase bisa menjadi solusi saat pakan sulit ditemukan di musim kemarau. Silase yang ditambahkan additif akan meningkatkan kualitas fermentasinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh yang ditimbulkan dari pakan silase pakan komplit dengan aditif fermented juice lactic acid bacteria (FJLB) yang berbeda terhadap imbangan energi dan nitrogen ternak domba lokal. Sebanyak 12 ternak domba lokal jantan dengan bobot badan awal 17,67 ± 1,7 kg (umur 12 bulan) disusun dalam rancangan acak lengkap.  Ransum terdiri dari jerami padi, bungkil kedelai, jagung, dedak padi, pollard dan mineral mix yang disilase menjadi pakan komplit selama 3 minggu. Perlakuan dalam penelitian ini antara lain yaitu T1= Silase tanpa aditif FJLB, T2= Silase dengan aditif FJLB dari Pennisetum purpureum, T3= Silase dengan aditif FJLB dari Pennisetum purpupoides, dengan 4 ulangan tiap perlakuan. Analisis data menggunakan uji ANNOVA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsumsi energi dan energi tercerna pada T2 lebih rendah dibandingkan dengan control dan T3. Pemberian FJLB memberikan nilai kecernaan energi, energi termetabolisme, dan energi metana yang sama di semua perlakuan. Penambahan aditif FJLB menurunkan konsumsi protein kasar, namun aspek protein kasar tercerna, kecernaan protein kasar, protein kasar termetabolisme, dan allantoin menunjukkan nilai yang sama dengan kontrol. Dapat disimpulkan bahwa perbedaan penambahan aditif FJLB pada silase pakan komplit masih memberikan deposisi energi dan protein yang sama

    Korelasi antara Ukuran-ukuran Tubuh dengan Bobot Badan pada Domba Persilangan DEG dan Merino

    No full text
    Bobot badan adalah salah satu kriteria seleksi untuk meningkatkan mutu genetik. Korelasi bobot badan dengan beberapa ukuran tubuh pada domba memegang peranan penting dalam program seleksi. Tujuan penelitian adalah untuk mengkaji korelasi antara lingkar dada, lingkar leher, dan lingkar kanon dengan bobot badan pada hasil persilangan Domba Ekor Gemuk dengan domba Merino (DEG-MER). Materi yang digunakan adalah domba DEG-MER yang terdiri atas 14 ekor jantan dan 25 ekor betina. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kasus dengan pengukuran langsung pada sampel yang dipilih secara purposive sampling yaitu berdasarkan pertimbangan jenis kelamin, umur, dan kondisi ternak. Data hasil pengukuran dianalisis menggunakan korelasi dan regresi sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata korelasi antara lingkar dada, lingkar leher atas, lingkar leher bawah, lingkar kanon depan, dan lingkar kanon belakang terhadap bobot badan pada domba DEG-MER jantan berturut-turut 0,96, 0,75, 0,78, 0,7, dan 0,74,  sedangkan nilai determinasinya adalah 0,92, 0,56, 0,61, 0,5, dan 0,55. Rata-rata korelasi antara lingkar dada, lingkar leher atas, lingkar leher bawah, lingkar kanon depan, dan lingkar kanon belakang terhadap bobot badan pada domba DEG-MER betina berturut-turut 0,93, 0,79, 0,81, 0,76, dan 0,76, sedangkan nilai determinasinya adalah 0,87, 0,63 0,65, 0,57, dan 0,57. Kesimpulannya, korelasi antara lingkar dada terhadap bobot badan memiliki hubungan yang paling kuat dibandingkan dengan lingkar leher atas, lingkar leher bawah, lingkar kanon depan, dan lingkar kanon belakang pada domba persilangan DEG dengan Merino

    UJI TANAH PODZOLIK MERAH KUNING (PMK) DAN GAMBUT TERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT TALAS BENENG (Xanthomonas undipes K.Kock)

    No full text
    Permintaan ekspor terhadap daun kering talas beneng dan umbi talas beneng ke Negara Australia, Jepang, Korea Selatan dan negara-negara Eropa yang belum dapat dipenuhi oleh Pandeglang sebagai daerah komoditas lokal talas beneng menjadikan tanaman ini memberikan peluang besar bagi daerah lain untuk dapat memenuhi permintaan ekspor tersebut dengan program kemitraan. Riau pada umumnya di dominasi oleh jenis tanah Podzolik Merah Kuning(PMK) dan Gambut.  Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji pertumbuhan tanaman talas beneng pada jenis tanah yang berbeda. Penelitian dilakukan secara eksperimen dengan menggunakan  uji-t tidak berpasangan. Adapun perlakuan nya adalah :P1= Tanah top soil PMK, P2= Tanah Gambut (saprik). Setiap perlakuan terdiri dari 15 ulangan dengan 4 tanaman/plot (2 tanaman sebagai sampel). Pengamatan dilakukan pada akhir penelitian yaitu umur 90 hst, adapun parameter yang diamati adalah sebagai berikut:  lebar daun (cm), lebar daun (cm), tinggi tanaman (cm), jumlah anakan (buah). Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa Hasil Uji-t menunjukkan bahwa uji media tanam PMK dan Gambut berbeda tidak nyata terhadap parameter yang diamati, yaitu lebar daun (cm), panjang daun (cm), tetapi berbeda nyata dengan parameter tinggi tanaman (cm), dan jumlah anakan (buah). Media tanam Gambut memberikan hasil tinggi tanaman dan jumlah anakan lebih tinggi dibandingkan tanah PMK. Media PMK dan gambut dapat digunakan sebagai media tanam pertumbuhan talas benengPermintaan ekspor terhadap daun kering talas beneng dan umbi talas beneng ke Negara Australia, Jepang, Korea Selatan dan negara-negara Eropa yang belum dapat dipenuhi oleh Pandeglang sebagai daerah komoditas lokal talas beneng menjadikan tanaman ini memberikan peluang besar bagi daerah lain untuk dapat memenuhi permintaan ekspor tersebut dengan program kemitraan. Riau pada umumnya di dominasi oleh jenis tanah Podzolik Merah Kuning(PMK) dan Gambut.  Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji pertumbuhan tanaman talas beneng pada jenis tanah yang berbeda. Penelitian dilakukan secara eksperimen dengan menggunakan  uji-t tidak berpasangan. Adapun perlakuan nya adalah :P1= Tanah top soil PMK, P2= Tanah Gambut (saprik). Setiap perlakuan terdiri dari 15 ulangan dengan 4 tanaman/plot (2 tanaman sebagai sampel). Pengamatan dilakukan pada akhir penelitian yaitu umur 90 hst, adapun parameter yang diamati adalah sebagai berikut:  Lebar Daun (cm), Lebar Daun (cm), Tinggi Tanaman (cm), Jumlah Anakan (Buah).Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa Hasil Uji-t menunjukkan bahwa uji media tanam PMK dan Gambut berbeda tidak nyata terhadap parameter yang diamati, yaitu lebar daun (cm), panjang daun (cm), tetapi berbeda nyata dengan parameter tinggi tanaman (cm), dan jumlah anakan (buah). Media tanam Gambut memberikan hasil tinggi tanaman dan jumlah anakan lebih tinggi dibandingkan tanah PMK. Media PMK dan gambut dapat digunakan sebagai media tanam pertumbuhan talas benen

    Respon Zat Pengatur Tumbuh Air Kelapa dan Rootone F terhadap Pertumbuhan Setek Batang Tanaman Cemara Udang (Casuarina equisetifolia)

    No full text
    Perbanyakan secara  vegetatif bisa menghasilkan bibit dalam waktu singkat, dan untuk mempercepat pertumbuhan tersebut dapat menggunakan zat pengatur tumbuh (ZPT) sebagai perangsang pertumbuhan akar dan tunas. Tujuan penelitian adalah mengetahui pengaruh ZPT air kelapa dan Rootone F terhadap pertumbuhan setek tanaman cemara udang dan memperoleh  ZPT yang terbaik terhadap pertumbuhan setek tanaman cemara udang. Kegiatan dilakukan di kebun penelitian BBIH Lubuk Minturun. Penelitian ini terdiri dari tiga perlakuan yaitu : A (Kontrol), B (Air Kelapa), C (Rootone F). Parameter yang diamati  adalah persentase hidup, jumlah tunas dan jumlah akar. Hasil pertumbuhan setek cemara udang yang baik terdapat pada perlakuan ZPT air kelapa dengan persentase hidup 60%, jumlah tunas 0,8, dan jumlah akar 1.2, perlakuan ZPT Rootone F persentase hidup 40%, jumlah tunas 0,6, dan jumlah akar 0,8, dan yang terendah pada kontrol dengan persentase hidup 20%, jumlah tunas 0,2, dan jumlah akar 0,2. Penggunaan ZPT air kelapa dan Rootone F berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman cemara udang dan zat pengatur tumbuh air kelapa menghasilkan pertumbuhan setek batang tanaman cemara udang yang terbaik dilihat dari persentasi tumbuh, jumlah tunas, dan jumlah akar. Berdasarkan kesimpulan dapat disarankan untuk menggunakan air kelapa sebagai ZPT dalam melakukan perbanyakan cemara udang dengan setek.Cemara udang (Casuarina equisetifolia) termasuk kedalam famili Casuarinaceae. Cemara udang memiliki penampilan seperti konifer karena ranting hijaunya yang menggantung dan buahnya seperti kerucut atau runcing.Perbanyakan cemara udang untuk saat ini masih mengandalkan perbanyakan dari generatif yang berasal dari biji yang disemai sedangkan pembiakan secara vegetatif masih jarang dilakukan dan salah satu pembiakan vegetatif adalah setek. Perbanyakan secara generatif memiliki beberapa kelemahan, salah satunya pertumbuhan yang lambat. Untuk mengatasi permasalahan tersebut dapat dilakukan dengan perbanyakan secara vegetatif yang bisa menghasilkan bibit dalam waktu singkat, dan untuk mempercepat pertumbuhan tersebut dapat menggunakan zat pengatur tumbuh (ZPT) sebagai perangsang pertumbuhan akar dan tunas. Tujuan dari percobaan adalah mengetahui pengaruh ZPT air kelapa dan Rootone F terhadap pertumbuhan setek tanaman cemara udang dan menentukan ZPT yang terbaik terhadap pertumbuhan setek tanaman cemara udang. Percobaan ini telah dilakukan selama ± 1,5 bulan, dari tanggal 4 Maret sampai15 April 2022. Kegiatan ini dilakukan di kebun percobaan Balai Benih Induk Padi Palawija dan Hortikultura (BBIH) Lubuk Minturun, Padang, Provinsi Sumatera Barat dengan ketinggian tempat 50 m dpl. Kegiatan yang dilakukan adalah pembuatan sungkup, penyediaan media tanam, penyediaan bahan setek, pengadaaan ZPT dan pengaplikasiannya, penanaman, pemeliharaan dan pengamatan. Percobaan ini terdiri dari tiga perlakuan yaitu : A (Kontrol), B (Air Kelapa), C (Rootone F). Parameter yang diamati pada percobaan ini adalah persentase hidup, jumlah tunas dan jumlah akar.Hasil pertumbuhan setek cemara udang yang baik terdapat pada perlakuan ZPT air kelapa dengan persentase hidup 60%, jumlah tunas 0,8, dan jumlah akar 1.2, kemudian diikuti oleh perlakuan ZPT Rootone F persentase hidup 40%, jumlah tunas 0,6, dan jumlah akar 0,8, dan yang terendah pada kontrol dengan persentase hidup 20%, jumlah tunas 0,2, dan jumlah akar 0,2. Kesimpulan dari percobaan ini adalah penggunaan ZPT air kelapa dan Rootone F berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman cemara udang dan zat pengatur tumbuh air kelapa menghasilkan pertumbuhan setek batang tanaman cemara udang yang terbaik dilihat dari persentasi tumbuh, jumlah tunas, dan jumlah akar. Berdasarkan kesimpulan dapat disarankan untuk menggunakan air kelapa sebagai ZPT dalam melakukan perbanyakan cemara udang dengan setek .Kata Kunci : Tanaman Cemara Udang, Zat Pengatur Tumbuh, Air Kelap

    Youth Satisfaction and Trust in The Sustainability of BUMDes during The Covid-19 Pandemic

    No full text
    The covid-19 pandemic had made the tourism sector managed by BUMDes Raharjo experience a decrease in the number of tourists. In 2020 also BUMDes Raharjo suffered losses in the form of debts to strawberry farmers so that employees were temporarily not given any salaries. The number of youth working in BUMDes decreased from 15 people in 2019 to 8 people in 2020. In 2021, only 5 young men remained in BUMDes Raharjo. This is due to the lack of youth trust in BUMDes. In addition, youth satisfaction also affects the confidence of youth. Satisfaction is related to the spirit and loyalty that youth give to BUMDes. This study aims to analyze the effect of satisfaction on the confidence of pandan village youth to BUMDes Raharjo. The research was conducted at BUMDes Raharjo located in Pandan Hamlet, Pandanrejo Village, Bumiaji Subdistrict, Batu City in May-June 2021. Research conducted using a quantitative approach. The population studied in this study was the youth of Pandan Hamlet aged 16 to 30 years. The sampling method used is accidental sampling.  The data analysis methods used in this study are simple linear regression and partial test (T-test) through SPSS applications. The dependent variable is youth trust. The independent variable is youth satisfaction. The results showed satisfaction had a positive and significant effect on confidence in the T-test

    PENGARUH KOAGULAN DAN ANALISIS GROSS PROFIT MARGIN TERHADAP KADAR MUTU KARET REMAH SIR 20

    No full text
    Indonesia merupakan negara produsen karet kedua terbesar di dunia dan merupakan negara pengekspor karet. Salah satunya karet yang diekspor dari Indonesia adalah SIR 20. Rendahnya mutu bahan olah karet adalah permasalahan karet yang sering dijumpai di Indonesia. Hal ini biasanya disebabkan oleh koagulan yang dipakai. Pada penelitian ini akan dilakukan analisis Plasticity Retention Index (PRI), kadar abu, kadar kotoran, kadar zat menguap serta analisis Gross Profit Margin (GPM) pada koagulasi karet dengan menggunakan koagulan asam format, asam sulfat dan tawas terhadap kadar mutu karet remah SIR 20. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh nilai PRI koagulan asam sulfat adalah yang terbesar dengan nilai 77. Koagulan asam sulfat merupakan koagulan yang memiliki kadar abu dan kotoran terendah dibandingkan dengan asam format dan tawas yaitu sebesar 0,365% dan 0,025%. Kadar zat menguap pada koagulan tawas menunjukkan nilai terbesar yaitu 0,451%. Koagulan asam format memiliki nilai profit dan GPM terkecil dikarenakan harga yang lebih mahal dibandingkan asam sulfat dan tawas

    SELEKSI JAMUR ENDOFIT TANAMAN NIPAH (Nypa fruticans Wurmb.) DAN UJI ANTAGONISME TERHADAP Ganoderma boninense Pat. PENYEBAB PENYAKIT BUSUK PANGKAL BATANG KELAPA SAWIT SERTA IDENTIFIKASINYA

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk menyeleksi dan mendapatkan isolat jamur endofit dari tanaman nipah (Nypa fruticans) yang berdaya antagonis tinggi terhadap G. boninense penyebab penyakit busuk pangkal batang (BPB) pada tanaman kelapa sawit secara in vitro serta mengidentifikasinya hingga tingkat genus. Penelitian dilakukan di Laboratorium Penyakit Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Riau dimulai dari November 2020 hingga Februari 2021. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metoda eksplorasi (isolasi dan pemurnian jamur endofit tanamn nipah), observasi (uji hipovirulensi isolat jamur endofit tanaman nipah, uji hiperparasitisme jamur endofit tanaman nipah yang memiliki daya antagonis tinggi terhadap G. boninense dan identifikasi isolat jamur endofit tanaman nipah yang memiliki daya antagonis terhadap G. boninense) dan eksperimen (uji daya antagonis jamur endofit tanaman nipah terhadap G. boninense, uji diameter dan kecepatan tumbuh koloni isolat jamur endofit tanaman nipah yang memiliki daya antagonis tinggi terhadap G. boninense). Data karakteristik makroskopis, hipovirulensi, hiperparasitisme dan identifikasi jamur endofit antagonis tinggi disajikan secara deskriptif dan disajikan dalam bentuk tabel dan gambar. Data antagonism, diameter pertumbuhan dan laju pertumbuhan jamur yang berdaya antagonis tinggi dianalisis dengan analisis ragam dan untuk membandingkan rata-rata perlakuan dilanjutkan dengan uji duncan’s new multiple range test (DNMRT) pada taraf 5%. Hasil penelitian diperoleh 20 isolat, dimana 14 isolat adalah jamur yang bersifat hipovirulen dan 6 isolat bersifat virulen. 6 isolat memiliki nilai daya antagonis lebih tinggi terhadap G. boninense. Isolat N17 (jamur endofit asal daun tanaman nipah) yang memiliki nilai antagonis tertinggi dan berpotensi sebagai agens hayati yaitu 71,33% dengan diameter kecepatan tumbuh 89,75 mm serta 24,48 mm.hari-1. Tipe interaksi hiperparasitisme masing-masing jamur endofit tanaman nipah berbeda-beda yaitu penempelan  (N7), pelilitan (N17 dan N14), penjeratan (N8) dan lisis (N5 dan N16). Hasil identifikasi menunjukkan bahwa isolat N7 termasuk kedalam genus Aspergillus sp., isolat N8 termasuk kedalam genus Gliocladium sp. dan 4 isolat lain yaitu N5, N14, N16 dan N17 belum teridentifikasi

    PENGGUNAAN TRICHOKOMPOS KOTORAN SAPI UNTUK MENINGKATKAN PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI UBI JALAR VARIETAS CILEMBU (Ipomoea batatas L.)

    No full text
    Abstrak Ubi jalar (Ipomoea batatas L.) merupakan salah satu makanan pokok bagi sekelompok penduduk Indonesia, karena itu tanaman ubi jalar ikut memegang peranan penting di dalam posisi lumbung pangan nasional.  Permintaan akan ubi jalar semakin meningkat seiring meningkatnya jumlah penduduk.   Masalah utama yang dihadapi dalam kegiatan usaha tani ubi jalar adalah rendahnya produksi tanaman ubi jalar.  Salah satu penyebab rendahnya produksi ubi jalar adalah rendahnya ketersediaan hara bagi tanaman yang dipicu oleh pemakaian pupuk kimia secara terus menerus tanpa dibarengi penambahan bahan organik yang akan menganggu keseimbangan unsur hara di dalam tanah dan menurunkan produktifitas lahan.  Salah satu alternatif untuk mengatasi produktifitas lahan dengan penggunaan trichokompos kotoran sapi.  Trichokompos kotoran sapi mengandung unsur hara N 0,50%, P 0,28%, K 0,42%.  Penanaman ubi jalar menggunakan dua perlakuan yaitu penggunaan trichokompos kotoran sapi dengan dosis 5 ton/ha dan tanpa penggunaan trichokompos kotoran sapi.  Pertumbuhan tanaman diamati dan data hasil pengamatan diuji secara statistik menggunakan Uji t pada taraf nyata 5 % dan 1 %.  Berdasarkan hasil pengamatan, penggunaan trichokompos kotoran sapi menunjukkan pengaruh berbeda sangat nyata terhadap panjang sulur, jumlah cabang, panjang umbi, bobot umbi/rumpun dan berat brangkasan, akan tetapi berbeda tidak nyata terhadap jumlah umbi/rumpun dan diameter umbi.  Kata Kunci: kotoran sapi, trichokompos, ubi jalar   Abstract Sweet potatoes (Ipomoea batatas L.) is one of the staple foods for a group of Indonesians, therefore sweet potato plants play an important role in the position of national food barns.  The demand for sweet potatoes is increasing as the population increases.   The main problem faced in the business activities of sweet potato farming is the low production of sweet potato crops.  One of the causes of low sweet potato production is the low availability of nutrients for plants triggered by the continuous use of chemical fertilizers without the addition of organic matter which will disrupt the balance of nutrients in the soil and reduce land productivity.  One alternative to overcome land productivity with the use of cow dung trichocompost.  Trichocompost cow dung contains nutrients N 0.50%, P 0.28%, K 0.42%.  Planting sweet potatoes uses two treatments, namely the use of cow dung trichocompost with a dose of 5 tons/ha and without the use of cow dung trichocompost.  Plant growth is observed and observational data is statistically tested using test t at real levels of 5% and 1%.  Based on the results of observations, the use of cow dung trichocompost showed a very noticeable different effect on tendril length, the number of branches, length of bulbs, the weight of bulbs/clumps, and brangkasan weight, but differed not noticeably on the number of bulbs/clumps and the diameter of the bulbs. Keywords: cow dung, trichocompost, sweet potat

    106

    full texts

    265

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Online Journal :: Agricultural State Polytechnic of Payakumbuh
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇