Online Journal :: Agricultural State Polytechnic of Payakumbuh
Not a member yet
    265 research outputs found

    PEMANFAATAN MULSA ALANG-ALANG UNTUK MENINGKATKAN PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI TANAMAN JAGUNG (Zea mays L.)

    Get PDF
    Kebutuhan jagung di Sumatera Barat cukup besar karena permintaan untuk pakan terus meningkat sejalan dengan perkembangan peternakan ayam. Kabupaten Limapuluh Kota sebagai salah satu sentra peternakan ayam petelur dan pedaging,  hanya mampu memproduksi jagung 25-30% dari kebutuhan lokal. Hal ini disebabkan karena produktivitas jagung masih rendah sehingga diperlukan suatu teknologi untuk meningkatkan produksi. Sebagian besar lahan penanaman jagung di Indonesia berupa lahan kering, yaitu seluas 63,4 juta hektar atau sekitar 33,7%. Masalah utama penanaman jagung di lahan kering adalah kebutuhan air sepenuhnya tergantung pada curah hujan, sehingga pada musim kemarau menyebabkan tanaman kekurangan air untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan. Sedangkan, masalah pada musim hujan adalah tingginya populasi gulma dan adanya erosi yang mengakibatkan penurunan kesuburan lahan. Upaya untuk mengatasi masalah ini adalah dengan cara memanipulasi lingkungan tumbuh tanaman yaitu dengan pemulsaan, salah satunya dengan menggunakan mulsa alang-alang. Budidaya tanaman jagung dengan teknologi mulsa alang-alang dilakukan di lahan praktek Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh, Tanjung Pati. Waktu pelaksanaan dimulai pada bulan September 2015 sampai dengan Januari 2016. Dosis alang-alang yang digunakan yaitu 6 ton/ha atau 150 kg/250 m2. Berdasarkan hasil pengamatan dan uji t student, penggunaan mulsa alang-alang pada tanaman jagung dapat meningkatkan pertumbuhan tinggi tanaman dan jumlah daun serta jumlah biji per baris dan bobot 100 biji. Pada lahan yang diberi teknologi diperoleh produksi sebanyak 107,5 kg/250 m2 (4,3 ton/ha), meningkat 22,85% dibandingkan produksi tanpa teknologi yaitu 87,5 kg/250 m2 (3,5 ton/ha)

    Analisis Efisiensi Pemasaran Kubis di Kecamatan Kayu Aro Kabupaten Kerinci Provinsi Jambi

    Get PDF
    This research is aimed to; 1) describe the marketing system of cabbage, including marketing channels and marketing functions which is done by eachmarketing agencies;2) analyze the structure, conduct, and performance (SCP), marketing margin, farmer's share, and marketing efficiency analysis of cabbage's marketing in Kayu Aro district. The data collection method used in this  research was survey. Primary and secondary data were collected and then analyzed using descriptive qualitative method and quantitative method. The findings of this research indicate that; 1) marketing agencies involved in the cabbage marketing structure are farmers, collectors sellers, large sellers, distributor sellers, and retailer sellers. 2) There are four channels of cabbage marketing, and it consists of three channels inside the region and one channel outside the region. 3) Market functions that had been conducted within each marketing channel are exchange function, physic function, and facility function. 4) The market structure analysis of cabbage leads to an oligopoly market. Marketing price is shaped based on a compromise between demand and supply. Furthermore, this study highlighted that marketing channel IV is the most efficient channel for marketing efficiency analysis. Through this study, the writer would like to advise the producers to follow the cabbage marketing structure that had already been formulated, which is marketing channel IV. The local government could create a policy to make marketing efficiency better, for example, by supplying facilities and infrastructure. As for future researchers, there is pressing urgency for further research about marketing efficiency through a market integration approach.Tujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan sistem pemasaran kubis di Kecamatan Kayu Aro, meliputi saluran dan fungsi pemasaran yang dilakukan oleh masing – masing lembaga pemasaran, serta menganalisis struktur, perilaku, dan kinerjapemasaran (Structure, Conduct and Performance/SCP), marjin pemasaran, farmer’s share, dan efisiensi pemasaran kubis di Kecamatan Kayu Aro. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survey dan data yang dikumpulkan terdiri dari data primer dan sekunder yang dianalisis secara deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa; Lembaga pemasaran yang terlibat dalam pemasaran kubis diantaranya petani, pedagang pengumpul, pedagang besar, pedagang grosir, dan pedagang pengecer. Saluran pemasaran kubis ada empat saluran, yaitu tiga saluran dalam daerah dan satu saluran luar daerah. Saluran pemasaran melakukan fungsi pemasaran diantaranya fungsi pertukaran, fungsi fisik, dan fungsi fasilitas. Analisis struktur pasar kubis mengarah pada pasar oligopoli. Harga pasar ditentukan dari bertemunya permintaan dan penawaran. Saluran pasar yang paling efisien dalam analisis efisiensi pemasaran adalah saluran IV. Saran untuk produsen, diharapkan dapat mengikuti pemasaran kubis seperti yang telah dirumuskan yaitu saluran pemasaran I dan IV.Sedangkan untuk pemerintahdapat merumuskan kebijakan untuk meningkatkan efisiensi pemasaran kubis seperti pengadaan sarana dan prasarana penunjang dan untuk peneliti selanjutnya diharapkan meneliti efisiensi pemasaran menggunakan integrasi pasar

    ISOLASI DAN IDENTIFIKASI BAKTERI PELARUT FOSFAT DARI TANAH RHIZSOSFER KELAPA SAWIT (Eleis guineensis)

    Get PDF
    Bakteri sebagai salah satu agent penyubur tanah, masih sangat minim diketahui petani. Kenyataannya bakteri mampu menyediakan unsur hara makro yang dibutuhkan oleh tanaman, contohnya fosfat. Fosfat di tanah umumnya dalam bentuk terikat, baik yang berbentuk anorganik (Ca-P, Fe-P dan Al-P) maupun organik (asam nukleat dan fosfolipida). Mengeksresikan asam organik, merupakan cara umum bakteri untuk melarutkan fosfat terikat khususnya yang anorganik. Isolasi bakteri pelarut fosfat dilakukan di tanah rhizosper Kelapa Sawit (Eleis guineensis) PT Astra Agro Lestari dengan menggunakan media pikovskaya yang di dalamnya terdapat kalsium fosfat (Ca-P).  Hasilnya ada 6 bakteri yaitu A2, B5, C7, F1, F2, dan K1 yang mampu melarutkan kalsium fosfat (Ca-P). Uji kuantitatif dengan menggunakan spektrofotometer 410 nm, pada supernatant pikovskaya cair menunjukkan bakteri A2 mampu melarutkan fosfat 20,40 ppm paling baik jika dibandingkan dengan bakteri, C7= 7,69 ppm, F1= 5,77 ppm, F2= 5,53 ppm, B5= 1.19 ppm dan K1= 0,46 ppm. Identifikasi partial sequences 16s rRNA menunjukkan bakteri A2 putative Amycolatopsis albidoflavus

    ANALISA PENDAPATAN PETANI INTEGRASI PADI-SAPI PADA KELOMPOK TANI PEMUDA SETIA NAGARI SIMALANGGANG

    Get PDF
    Penelitian ini didasarkan pada sistem pertanian terpadu yang merupakan sistem pertanian yang didasarkan pada konsep daur ulang biologis antara tanaman, perikanan dan ternak. Implementasi sistem integrasi padi-sapi mampu memberikan manfaat bagi penggunaan pupuk kandang yang dapat meningkatkan produktivitas, mengurangi biaya produksi dan meningkatkan pendapatan petani. Jerami padi tidak digunakan secara optimal, mahal dan ketersediaan pupuk urea yang langka, limbah ternak belum dimanfaatkan dengan baik dan limbah kulit kakao belum digunakan sebagai pakan ternak. Tujuan dari penelitian ini adalah: 1) untuk mengetahui peningkatan keuntungan usaha tani dari adopsi sistem usaha tani terpadu dibandingkan dengan sistem konvensional dan 2) untuk menganalisis kelayakan usaha tani dengan penerapan sistem usaha tani terpadu dan sistem konvensional. Kesimpulan dari penelitian ini adalah sebagai berikut: 1) Penerimaan dan keuntungan dari usaha tani konvensional kepada usaha tani dengan sistem pertanian terpadu adalah meningkat. Peningkatan penerimaan selama 6 bulan dari Rp 675 juta menjadi Rp 792,12 juta yaitu meningkat sebesar Rp 117,12 juta atau sebesar 17,35%. Peningkatan keuntungan selama 6 bulan dari Rp 203,57 juta menjadi Rp 259,02 yaitu meningkat sebesar Rp 55,45 juta atau setara dengan 27,24%. 2) Nilai R/C ratio dan profitabilitas dari usaha tani sistem integrasi padi-sapi terintegrasi sebesar 1,49 dan 48,59%. Sedangkan nilai R/C ratio dan profitabilitas usaha tani sapi potong dengan pemeliharaan secara konvensional 25 ekor selama enam bulan adalah sebesar 1,43 dan 43,18%. Nilai R/C ratio dan profitabilitas menunjukkan bahwa bisnis ini layak

    Analisis Dinamika Populasi Ternak Sapi di Provinsi Jambi

    Get PDF
    Jumlah populasi ternak sapi di Provinsi Jambi selama dua dekade lebih mengalami naik turun, meskipun menunjukkan adanya tren kenaikan. Tidak stabilnya populasi sapi di Provinsi Jambi disebabkan pertumbuhan dinamika populasi yang selalu turun naik setiap tahun. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dinamika pertumbuhan gross dan net populasi ternak sapi di Provinsi Jambi dan perbedaan antara kabupaten/kota di Provinsi Jambi, serta faktor yang mempengaruhinya. Penelitian ini menggunakan metode analisis data sekunder dalam bentuk data tahunan/berkala (time series). Analisis data yang digunakan adalah analisis trend dan analisis uji beda serta analisis regresi linear berganda. Hasil analisis trend menunjukkan bahwa ada trend peningkatan gross populasi ternak sapi sebesar 2,96 % per tahun dan net populasi sebesar 3,70 % per tahun selama periode 2010-2017. Hasil uji beda menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan gross dan net populasi ternak sapi pada kelompok populasi banyak, sedang dan sedikit antara kabupaten/kota di Provinsi Jambi. Tidak terdapat pengaruh kelahiran (X1), pemasukan (X2) terhadap gross populasi ternak sapi di Provinsi Jambi. Tidak terdapat pengaruh pengeluaran (X1), pemotongan (X2), dan kematian (X3) terhadap net populasi ternak sapi di Provinsi Jambi

    PEMANFAATAN JAMUR MIKORIZA UNTUK MENINGKATKAN PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI TANAMAN JAGUNG (Zea mays L.)

    Get PDF
    Jagung (Zea mays L.) merupakan komoditas pangan sumber karbohidrat kedua setelah beras yang  sangat penting untuk ketahanan pangan. Jagung juga berperan penting dalam industri pakan ternak dan industri pangan. Dalam kurun lima tahun terakhir, kebutuhan jagung nasional untuk bahan industri pakan, makanan dan minuman meningkat 10% —15% pertahun.  Salah satu teknologi yang dapat meningkatkan produksi tanaman jagung adalah penggunaan jamur mikoriza. Tanaman yang bermikoriza tumbuh lebih baik dari tanaman tanpa mikoriza. Penyebab utama adalah mikoriza secara efektif dapat meningkatkan penyerapan unsur hara baik unsur hara makro maupun mikro. Selain daripada itu akar yang bermikoriza dapat menyerap unsur hara yang belum tersedia bagi tanaman.  Pelaksanaan kegiatan budidaya ini dilakukan di lahan praktek Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh, Tanjung Pati, Kecamatan Harau, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat. Waktu pelaksanaan dimulai pada bulan September 2015 sampai bulan Januari 2016. Budidaya tanaman jagung dilakukan pada luas lahan 300 m2. Luas lahan yang digunakan untuk teknologi adalah 250 m2 dan tanpa teknologi seluas 50 m2.  Berdasarkan hasil pengamatan dan uji statistik, penggunaan jamur mikoriza dapat meningkatkan pertumbuhan vegetatif yaitu tinggi tanaman dan generatif yaitu jumlah biji perbaris dan jumlah bobot 100 biji. Pada lahan teknologi diperoleh produksi sebanyak 132 kg/300 m2 (4,4 ton/ha), meningkat 22,85% dibandingkan produksi tanpa teknologi yaitu 108 kg/300 m2 (3,6 ton/ha).&nbsp

    UJI EFEKTIVITAS BERBAGAI ISOLAT MIKORIZA INDIGENUS DAN BAHAN ORGANIK TERHADAP PERTUMBUHAN KOPI ROBUSTA DI DATARAN TINGGI

    No full text
    Lahan perkebunan kopi rakyat di Sumatera Barat sebagian telah terdegradasi baik secara fisik, kimia dan biologi sehingga terdapat beberapa faktor pembatas dalam pemanfaatannya seperti; pH rendah, Kapasitas Tukar Kation rendah, bahan organik rendah, kandungan P yang sangat rendah, dan  kandungan Al  cukup tinggi yang dapat meracuni pertumbuhan tanaman.   Usaha perbaikan sifat fisik, dan kimia sudah banyak dilakukan, namun hasil yang diperoleh belum optimal.  Oleh karenanya  perlu perbaikan secara biologi dengan memanfaatkan bahan organik setempat dan Fungi Mikoriza Arbuskula indigenus. Pada lahan  perkebunan  kopi   terdapat  Fungi  Mikoriza Arbuskula  indigenus  yang berpotensi  dapat  ditingkatkan  efektifitasnya  dan  diproduksi  dalam  berbagai bentuk inokulan sehingga dapat digunakan sebagai pupuk hayati  (biofertilizer).  Potensi utama Fungi Mikoriza Arbuskular (FMA) dapat membantu penyerapan hara yang lebih baik oleh tanaman, meningkatkan resistensi tanaman terhadap kekeringan, hama penyakit, logam berat, bersifat sinergis dengan mikroba lain serta berperan aktif dalam siklus hara dan meningkatkan stabilitas ekosistem. Penelitian ini telah dilaksanakan di lahan perkebunan kopi rakyat di Dataran  Tinggi, Kabupaten Tanah Datar.   Penelitian  menggunakan rancangan acak kelompok terdiri dari 6 perlakuan, dan satu perlakuan 4 tanaman.   Setiap kombinasi perlakuan diulang 3 kali sehingga diperoleh  3 x 6 = 18 satuan percobaan. Data penelitian hasil pengamatan diuji dengan analisis ragam dan jika perlakuan penunjukkan pengaruh yang nyata, maka  dilanjutkan dengan DNMRT pada taraf kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan bahan organik dan mikoriza Mycoper  ( B1 M2 )  berpengaruh lebih baik dibandingkan dengan lainnya.    Demikian juga pengaruh bahan organik, dengan kombinasi mikoriza menunjukkan pengaruh yang lebih baik, bila dibandingkan bahan organik tanpa pemberian mikoriza ( B1 M0 )

    RANCANG BANGUN DAN ANALISA ALAT PENCUCI WORTEL TIPE DRUM

    Get PDF
    Alat pencuci wortel dibuat untuk membantu meningkatkan kualitas hasil panen tanaman wortel. Hasil uji kinerja alat pencuci wortel tipe drum diperoleh kapasitas efektif alat sebesar 210 kg/jam. Hasil perhitungan analisa ekonomi didapat biaya tetap sebesar Rp.1.059.300/tahun, biaya tidak tetap Rp.16.644/jam, biaya pokok Rp.81/kg dan break event point (BEP) untuk pengoperasian alat ini adalah 3.302 kg/tahun

    Potensi Pengembangan Ayam Buras Di Nagari Silokek Kabupaten Sijunjung Sebagai Kawasan Geopark

    Get PDF
    Pengembangan peternakan berbasis ternak lokal merupakan salah satu strategi pembangunan daerah yang potensial. Ternak ayam buras merupakan salah satu ternak lokal yang berpotensi untuk dikembangkan, di negara berkembang. Berkembangknya wisata Geopark Ranah minang di Nagari Silokek dibutuhkan sumberdaya manusia yang sehat, cerdas dan berpendidikan. Pengembangan ayam buras sebagai ternak lokal dapat mempunyai peran untuk hal tersebut. Pada pengembagan ayam buras di Nagari Silolek perlu dikaji potensi pengembangannya. Penelitian ini menggunakan metode survey, dengan mengumpulkan informasi dari sebagian sampel untuk mewakili populasi. Pengambilan data menggunakan metode purposive sampling. Data yang dipakai adalah data primer dan sekunder. Data sekunder diperoleh dari BPS Kabupaten Sijunjung, Dinas Pertanian Kabupaten Sijunjung, BPP Kecamatan Sijunjung, Kantor Wali Nagari Silokek. Data primer diperoleh dengan melakukan survey dan wawancara langsung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ternak ayam buras mempunyai potensi untuk dikembangkan di Nagari Silokek sebagai kawasan Geopark Ranah Minang beberapa potensi yang ada meliputi bibit yang ada, bahan pakan lokal, pengalaman yang ada, manajemen pemeliharaan yang tidak sulit, meningkatkan kesejateran dan ketahanan pangan masyarakat, ayam, lebih tahan penyakit, warisan budaya serta adanya kelembagaan atau pasar sebagai faktor pendukung. Potensi pengembangan ayam buras di Nagari Silokek melalui perbaikan genetik, peningkatan jumlah populasi, perbaikan manajemen pemeliharaan dan pemanfaatan secara efektif sarana dan prasarana

    PEMANFAATAN KOMPOS KIRINYUH (Chromolaena odorata L.) UNTUK MENGOPTIMALKAN PRODUKSI TANAMAN TERUNG (Solanum melongena L.)

    Get PDF
    Terung (Solanum melongena L.) adalah salah satu komoditas hortikultura yang banyak dibutuhkan oleh masyarakat.  Terung dapat dikonsumsi dalam bentuk sayur dan lalapan, dan jika diolah terung di buat untuk sayur lodeh, tumis, asem-asem, pecel, sayur bening, pepesan berbumbu dan sebagainya. Terung juga bermanfaat membantu pencernaan, mencegah timbulnya sariawan dan dapat mencegah penyakit kejang.  Tanaman terung merupakan tanaman yang responsif terhadap pemupukan.  Pemupukan  sangat penting karena menentukan tingkat pertumbuhan dan hasil baik kuantitatif maupun kualitatif sebagai alternatifnya yaitu memakai pupuk organik. Untuk mengoptimalkan produksi terung dapat digunakan kompos kirinyuh, yang mengandung 2,95% N; 3,02% K dan 0,35% P. Sehingga pertumbuhan vegetatif dan generatif tanaman terung dapat tumbuh dan berproduksi dengan baik. Tujuan proyek usaha mandiri yaitu pemanfaatan kompos kirinyuh untuk mengoptimalkan produksi tanaman terung serta menganalisa kelayakan usaha budidaya tanaman terung dengan potensi pasar di daerah Kabupaten Lima Puluh Kota dan sekitarnya.  Proyek  Usaha  Mandiri  ini  telah  dilaksanakan  pada  kebun  percobaan Politeknik  Pertanian Negeri Payakumbuh di Tanjung  Pati,  Kecamatan Harau, Kabupaten  Lima  Puluh  Kota, Provinsi  Sumatera  Barat, dari bulan  September sampai  Desember  2015.  Pelaksanaan  Proyek  Usaha  Mandiri  menghasilkan  produksi terung ungu  sebanyak 542 kg dengan harga jual rata-rata Rp. 3.626,  penerimaan total (TR) Rp.1.951.200, dan biaya total (TC) sebesar Rp.785.032 dengan untung sebesar  Rp. 1.166.168. R/C yang didapat adalah 2,48 dan profitabilitasnya 148,5 %, sehingga Proyek Usaha mandiri ini layak diusahakan, berdasarkan hal tersebut disarankan menggunakan kompos kirinyuh yang dapat mengoptimalkan  produksi dan kesuburan tanah. &nbsp

    106

    full texts

    265

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Online Journal :: Agricultural State Polytechnic of Payakumbuh
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇