Online Journal :: Agricultural State Polytechnic of Payakumbuh
Not a member yet
265 research outputs found
Sort by
Peran dan Tujuan Kelompok Tani dalam Sistem Integrasi Jagung dan Sapi di Kecamatan Tenayan Raya Kota Pekanbaru
The implementation of the corn and cattle integration system by farmer groups in Tenayan Raya District involves several integrations such as the division of tasks that is not running optimally, the cattle transportation system that is not implemented in a colony using development activities for the transportation of fuel that can be done properly.The research aims to determine the members perception of the role and objectives of the farmer group in the application of corn and cow integration system in Tenayan Raya district Pekanbarucity and analyzing the relationship between the role and purpose of the farmer group in the application of corn and cow integration system Tenayan Raya district Pekanbaru city. This research was conducted in Tenayan Raya district Pekanbaru city. The method use in this research is a survey method with a census sampling technique. Data analysis using quantitative descriptive and a scale to measure a persons perception, and the spearman rank correlation test to measure the relationship between research variables. The results showed that members ' perception of the role of farmer groups in the application of corn and cow integration systems included the category of good enough. Meanwhile, the members perception of Farmer's goals includes very less good category. The relationship between farmer role variables as production units with the goal of better business farmer groups is a strong direct correlation, while the correlation that occurs between farmer group role variables as learning class and rides Cooperation with the purpose of better farming and better living farming group has a weak correlation.Penerapan sistem integrasi jagung dan sapi oleh kelompok tani di Kecamatan Tenayan Raya menghadapi beberapa kendala seperti sistem pembagian tugas yang belum berjalan dengan optimal, sistem pemeliharaan sapi yang tidak dilaksanakan secara koloni menyebabkan aktivitas produktif untuk pemanfaatan limbah sapi maupun limbah jagung sulit dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi anggota terhadap peran dan tujuan kelompoktani dalam penerapan sistem integrasi jagung dan sapi di Kecamatan Tenayan Raya Kota Pekanbarudan menganalisis hubungan antara peran dan tujuan kelompok tani dalam penerapan sistem integrasi jagung dan sapi di Kecamatan Tenayan Raya Kota Pekanbaru. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei dengan teknik pengambilan sampel dilakukan secara sensus. Analisis data menggunakaneskriptif Kuantitatif dan Skala Likert’s Summated Rating (SLR) untuk mengukur persepsi seseorang, dan Uji Korelasi Rank Spearman untuk mengukur hubungan antar variabel penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi anggota terhadap peran kelompoktani dalam penerapan sistem integrasi jagung dan sapi termasuk kategori “cukup baik”. Sedangkan persepsi anggota terhadap tujuan kelompok tani termasuk kategori “sangat kurang baik”. Hubungan yang terjadi antara variabel peran kelompok tani sebagai unit produksi dengan tujuan kelompok tani better business merupakan korelasi searah kuat, sedangkan korelasi yang terjadi antara variabel peran kelompok tani sebagai kelas belajar dan wahana kerjasama dengan tujuan kelompok tani better farming dan better living memiliki korelasi searah lemah
Analisis Nilai Tambah Produk Olahan Jagung Manis (Studi Kasus: Usaha F1 Aina Nagari Batu Hampa Kecamatan Akabiluru Kabupaten Lima Puluh Kota )
The aims of this research were to describe the processing of sweet corn, to analyze the value-added and distribution of value-added becomes peas,corn on the cob, donuts, grits, and bakwan on the business F1 Aina Batu Hampa. This study was conducted from March to April 2016. The study employed a case study method. The study used Hayami method in analyzing the value added. The results of this study showed that the value added generated by Aina F1 was high. It can be seen through the ratio of value added that is greater than 40 percent and varied among products where; 71.76 percents for corn peas, 58.65 percents for corn on the cob, 71.71percents for donuts, 74.40 percents for the grits, and 63,49 percents for bakwan. The product of Sweet corn that generate the highest value added is grits. The ratio of value added can be seen through the margin value distributed in production factors. The highest of portion of value-added received by the company and the smallest portion value-added received by the labor. The largest distribution margin is for the profit of the company. The company's biggest profits come from corn on the cob, followed by grits, peas, donuts, and bakwan. The largest distribution of other input contributions is bakwan, followed by donuts, peas, grits, and corn of the cob. The distribution of margins received by workers is the smallest part compared to the margins for other input contributions and company profits. The largest distribution is for bakwan , followed by donuts, peas, grits, and corn of the cob.Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses pengolahan jagung manis, menganalisis besarnya nilai tambah dan distribusi nilai tambah menjadi pergedel jagung, jagung rebus, donat jagung, bubur jagung, dan bakwan jagung pada usaha F1 Aina Batu Hampa. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret – April 2016. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode studi kasus. Analisis data yang digunakan untuk menganalisis besarnya nilai tambah digunakan metode Hayami. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai tambah yang dihasilkan oleh usaha F1 Aina adalah tinggi. Hal ini dapat dilihat melalui rasio nilai tambah yang diperoleh besar dari 40 persen, yaitu 71,76% untuk pergedel jagung, 58,65% untuk jagung rebus, 71,71% untuk donat jagung, 74,40% untuk bubur jagung, dan 63,49% untuk bakwan jagung. Produk olahan jagung manis yang menghasilkan nilai tambah tertinggi adalah produk bubur jagung. Pendistribusian nilai tambah dapat dilihat melalui nilai marjin yang didistribusikan kepada faktor produksi. Distribusi nilai tambah terbesar diterima oleh perusahaan dan distribusi nilai tambah terkecil diterima oleh tenaga kerja. Distribusi marjin terbesar adalah untuk keuntungan perusahaan. Keuntungan perusahaan terbesar diperoleh dari pengolahan jagung manis menjadi jagung rebus kemudian diikuti oleh bubur jagung, pergedel jagung, donat jagung, dan bakwan jagung. Selanjutnya distribusi terhadap sumbangan input lain terbesar adalah untuk pengolahan bakwan jagung kemudian diikuti oleh donat jagung, pergedel jagung, bubur jagung, dan jagung rebus.. Distribusi margin yang diterima oleh tenaga kerja merupakan bagian paling kecil dibandingkan dengan margin untuk sumbangan input lain dan keuntungan perusahaan. Distribusi terbesar adalah untuk pengolahan bakwan jagung kemudian diikuti oleh donat jagung, pergedel jagung, bubur jagung, dan jagung rebus
Analisis Komparasi Karakter, Kapasitas dan Modal Peternak Terhadap Tingkat Kelancaran Mengulirkan Ternak Pola Gaduhan Ternak Sapi Pemerintah: Comparative Analysis of Character, Capacity and Capital of Farmers Against the Smoothness of Turning Cattle on the Local Government's Beef Cattle Patterns
Penelitian bertujuan untuk mengetahui perbedaan karakter, kapasitas dan modal yang dimiliki peternak dan tingkat kelancaran dalam mengembalikan ternak sapi antara pola gaduhan ternak sapi pemerintah daerah antara Kabupaten Tebo dengan Merangin. Penelitian ini dilakukan pada 2 Kabupaten di Provinsi Jambi yaitu Kabupaten Merangin dan Tebo. Adapun metode penelitian adalah metode survei dengan teknik penarikan sampel adalah Stratified Random Sampling yaitu : Strata I adalah pola gulir anak, dan Strata II adalah pola gulir induk, serta Strata III adalah model yang lain. Untuk mengetahui perbedaan menggunakan uji beda. Terdapat perbedaan karakter peternak dan modal yang dimiliki peternak pada pola gaduhan ternak sapi pemerintah daerah antara Kabupaten Tebo dengan Merangin, sedangkan pada kategori kapasitas peternak di Kabupaten Tebo dan Kabupaten Merangin dapat dikatakan sama. Tingkat kelancaran pengguliran ternak pada pola gaduhan ternak sapi di Kabupaten Tebo lebih baik dibandingkan dengan Kabupaten Merangin
INOVASI PENGOLAHAN LIMBAH KULIT PISANG SEBAGAI PUPUK ORGANIK CAIR UNTUK PERTUMBUHAN TANAMAN KEDELAI (Glycine max L.)
Buah pisang pada umumnya digemari oleh semua kalangan baik dewasa, remaja maupun anak-anak-anak. Namun kulit buah pisang sering dibuang dan tidak dimanfaatkan bagi sebagian besar orang. Inovasi pengolahan limbah kulit pisang menjadi solusi agar limbah dapat dimanfaatkan kembali untuk pertumbuhan tanaman kedelai. Karena kedelai merupakan salah satu sumber protein nabati. Tujuan penelitian ini melihat pengaruh apakah Inovasi pengolahan limbah kulit pisang menjadi pupuk organik cair memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan vegetatif dan generative tanaman kedelai Glicine max L) dan penulis mendapatkan dosis terbaik untuk pertumbuhan dan perkembangan kedelai. Penelitian ini mengunakan rancangan acak lengkap dengan 5 perlakuan dan 4 ulangan yaitu : A. Tanah 5 kg/polybeg (Kontrol), B. Tanah 5kg/polybeg + dosis 11,24 ml/tanaman, Tanah 5kg/polybeg + dosis 16,86 ml/tanaman, D. Tanah 5kg/polybeg + dosis 22,48 ml/tanaman, E. Tanah 5kg/polybeg + dosis 28,10 ml/tanaman. Inovasi pengolahan limbah kulit pisang menjadi pupuk organik cair pada dosis B (11,24 ml/polybag) memberikan pengaruh nyata terhadap pertumbuhan tanaman kedelai yang berpengaruh nyata pada tinggi tanaman (34,620 cm), lebar daun (5,926 cm), jumlah daun (26,220 helai) dan jumlah bobot tanaman kedelai (3,736 g).
 
PENGARUH BERBAGAI JENIS PUPUK KANDANG TERHADAP PERTUMBUHAN TANAMAN KRISAN POTONG (Chrysanthemum sp.)
Unsur hara merupakan salah satu faktor penting dalam keberhasilan budidaya tanaman krisan potong. Beberapa upaya dalam penyediaan unsur hara ialah dengan menambahkan pupuk organik. Pemberian pupuk yang tepat dan unsur hara yang seimbang dilakukan untuk mendapat pertumbuhan dan hasil bunga krisan yang diinginkan. Tujuan untuk mengetahui jenis pupuk kandang yang terbaik terhadap pertumbuhan vegetatif dan generatif tanaman krisan potong. Metode yang digunakan berupa studi literatur terkait pengaruh beberapa jenis pupuk kandang terhadap pertumbuhan tanaman krisan potong. Hasil yang didapatkan pertumbuhan vegetatif tanaman krisan potong yang terbaik terdapat pada perlakuan pupuk kandang sapi yaitu pada parameter tinggi tanaman\, panjang daun. lebar daun dan jumlah ruas batang, sedangkan panjang tangkai daun pada perlakuan pupuk kandang sapi lebih rendah dari pada pupuk kandang ayam serta diameter batang lebih rendah dari perlakuan pupuk kandang ayam, domba dan kelinci. Sedangkan hasil penelitian pertumbuhan generatif tanaman krisan potong yang terbaik terdapat pada perlakuan pupuk kandang ayam.Unsur hara merupakan salah satu faktor penting dalam keberhasilan budidaya tanaman krisan potong. Beberapa upaya dalam penyediaan unsur hara ialah dengan menambahkan pupuk organik. Pemberian pupuk yang tepat dan unsur hara yang seimbang dilakukan untuk mendapat pertumbuhan dan hasil bunga krisan yang diinginkan. Tujuan dari perbandingan data penelitian ini untuk mengetahui jenis pupuk kandang yang terbaik terhadap pertumbuhan vegetatif dan generatif tanaman krisan potong. Perbandingan data ini dimulai dari Februari sampai Juli 2020 di Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sumatera Barat dan Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh. Perbandingan data ini menggunakan metode studi literatur yang berasal dari penelitian Putra dan Histifarina (2010) dari Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa Barat. Perlakuan yang digunakan adalah berbagai jenis pupuk kandang yaitu ayam, domba, kelinci dan sapi. Hasil penelitian pertumbuhan vegetatif tanaman krisan potong yang terbaik terdapat pada perlakuan pupuk kandang sapi yaitu tinggi tanaman (77,05 cm), panjang daun (10,41 cm), lebar daun (5,96 cm), dan jumlah ruas batang (28 ruas), sedangkan panjang tangkai daun pada perlakuan pupuk kandang sapi lebih rendah dari pada pupuk kandang ayam serta diameter batang lebih rendah dari perlakuan pupuk kandang ayam, domba dan kelinci. Sedangkan hasil penelitian pertumbuhan generatif tanaman krisan potong yang terbaik terdapat pada perlakuan pupuk kandang ayam yaitu diamete bunga (5,93 cm) dan jumlah bunga (12 kuntum), sedangkan panjang tangkai bunga lebih rendah dibandingkan dengan pupuk kandang domba, kelinci dan sapi
PENGARUH PEMBERIAN BEBERAPA JENIS ZPT ALAMI DAN PERBEDAAN UKURAN DIAMETER BATANG TERHADAP PERTUMBUHAN SETEK JAMBU BIJI (Psidium guajava L.)
Tanaman jambu biji (Psidium guajava L.) ditanam hampir diseluruh wilayah nusantara dan termasuk buah komersial karena sangat dikenal oleh masyarakat. Salah satu upaya untuk meningkatkan produksi jambu biji adalah melalui perbanyakan vegetatif setek. bahan setek memiliki keterkaitan dengan tersedianya cadangan makanan pada masing-masing bagian bahan setek. Ukuran setek berpengaruh terhadap keberhasilan perbanyakan tanaman. keberhasilan setek jambu biji juga didukung pleh pemberian zat pengatur tumbuh (ZPT) guna mempercepat pertumbuhan setek dengan harapan agar diperoleh hasil yan cepat dan jumlah yang banyak. Tujuan dari penelitian ini adalah : 1). Mengetahui pengaruh pemberian beberapa jenis ZPT alami dan perbedaan ukuran diameter batang terhadap pertumbuhan setek jambu biji. 2). Mendapatkan ZPT alami dan ukuran diameter batang yang terbaik untuk pertumbuhan setek jambu biji. Percobaan ini dilakukan dikebun percobaan Aripan, Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika, Solok, Sumatera Barat, dengan ketinggian tempat 435 m dpl. Kegiatan ini dilaksanakan selama 2 bulan yaitu mulai dari 4 Maret- 3 Mei 2021. Percobaan ini dilakukan dengan dua perlakuan ZPT alami yaitu bawang merah dan air kelapa serta ukuran diameter batang yang digunakan yaitu diameter batang kecil (0,3-0,5 cm) dan diameter batang besar (0,7-1,5 cm) yang terdiri dari perlakuan. Parameter pangamatan yaitu : persentase tumbuh (%), hari mucul tunas, jumlah tunas, panjang tunas, jumlah daun, persentase setek yang berkalus, dan persentase setek yang berakar.Tanaman jambu biji (Psidium guajava L.) ditanam hampir diseluruh wilayah nusantara dan termasuk buah komersial karena sangat dikenal oleh masyarakat. Salah satu upaya untuk meningkatkan produksi jambu biji adalah melalui perbanyakan vegetatif setek. bahan setek memiliki keterkaitan dengan tersedianya cadangan makanan pada masing-masing bagian bahan setek. ukuran setek berpengaruh terhadap keberhasilan perbanyakan tanaman. keberhasilan setek jambu biji juga didukung pleh pemberian zat pengatur tumbuh (ZPT) guna mempercepat pertumbuhan setek dengan harapan agar diperoleh hasil yan cepat dan jumlah yang banyak. Tujuan dari penelitian ini adalah : 1). Mengetahui pengaruh pemberian beberapa jenis ZPT alami dan perbedaan ukuran diameter batang terhadap pertumbuhan setek jambu biji. 2). Mendapatkan ZPT alami dan ukuran diameter batang yang terbaik untuk pertumbuhan setek jambu biji. Percobaan ini dilakukan dikebun percobaan Aripan, Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika, Solok, Sumatera Barat, dengan ketinggian tempat 435 m dpl. Kegiatan ini dilaksanakan selama 2 bulan yaitu mulai dari 4 Maret- 3 Mei 2021. Percobaan ini dilakukan dengan dua perlakuan yaitu bawang merah dan air kelapa serta ukuran diameter batang yang digunakan yaitu diameter batang kecil (0,3-0,5 cm) dan diameter batang besar (0,7-1,5 cm) yang terdiri dari 6 kombinasi perlakuan. Parameter pangamatan yaitu : persentase tumbuh (%), hari mucul tunas, jumlah tunas, panjang tunas, jumlah daun, persentase setek yang berakar, dan persentase setek yang berkalus
INDUSTRI PERBENIHAN DAN PEMBIBITAN TANAMAN HORTIKULTURA DI INDONESIA
Produk hortikultura memiliki beberapa keunggulan seperti nilai jual yang tinggi, jenis yang beragam, dan peningkatan serapan pasar dalam dan luar negeri dalam bentuk segar maupun olahan. Peningkatan produksi komoditas hortikultura agar dapat memenuhi kriteria ekspor masih menghadapi beberapa kendala teknis, seperti rendahnya produksi dan kualitas benih/bibit lokal. Peluang untuk pembangunan industri hortikultura di Indonesia itu masih cukup besar. Hal ini ditandai dengan mudahnya pengembangan industri perbenihan maupun pembibitan karena dukungan sumber daya alam dan sumber daya manusia yang memadai. Sasaran pembangunan industri perbenihan dan pembibitan adalah penyediaan benih yang bermutu dari varietas unggul dengan harganya terjangkau. Petani dapat menghasilkan hasil panen yang berkualitas dengan menggunakan benih maupun bibit hortikultura dengan harga yang terjangkau dari industri dalam negeri, sehingga pendapatan petani meningkat
Karakteristik Patty Burger yang Dibuat Dari Daging Itik dengan Berbagai Persentase Tepung Talas
Penggunaan tepung talas sebagai bahan pengikat pada pembuatan patty burger yang dibuat dari daging itik telah dilakukan. Persentase tepung talas berbeda (0, 5, 10, dan 15%) digunakan sebagai perlakuan. Patty yang dihasilkan dianalisis untuk sifat fisik (kadar air, susut masak, penyusutan diameter, peningkatan ketebalan, tekstur) dan profil sensori (warna, aroma, rasa, tekstur, dan daya terima keseluruhan). Kadar air, susut masak, dan penyusutan diameter dari sampel menurun secara signifikan dengan peningkatan penggunaan tepung talas, tetapi peningkatan ketebalannya meningkat (P kecil dari 0.05). Warna, rasa, dan penerimaan keseluruhan juga meningkat dengan persentase penggunaan tepung talas yang semakin besar. Sebagai kesimpulan, penggunaan 10 persen tepung talas pada formulasi menjadi perlakuan terbaik dalam pembuatan daging burger
PENGGUNAAN PUPUK ORGANO KOMPLEK KOTORAN AYAM UNTUK MENINGKATKAN PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI TANAMAN JAGUNG (Zea mays L.)
Jagung (Zea mays L.) merupakan tanaman pangan kedua setelah padi.. Jagung banyak digunakan sebagai pakan ternak, bahan baku industri serta makanan pokok di beberapa daerah di Indonesia. Kebutuhan jagung Sumatera Barat terus meningkat secara signifikan jauh melampaui pertumbuhan produksinya. Peningkatan kebutuhan jagung ini seiring dengan makin berkembangnya industri pakan ayam ras dan ayam petelur. Stabilitas permintaan jagung dengan harga yang lebih kompetitif menyebabkan makin intensifnya sistem usahatani jagung guna meningkatkan produktivitasnya. Kabupaten Lima puluh Kota merupakan salah satu daerah sentra peternakan unggas terbesar di Provinsi Sumatera Barat. Oleh karena itu jagung menjadi suatu usaha yang layak untuk dikembangkan dengan menggunakan teknologi yang tepat, salah satunya pemanfaatan pupuk organo komplek kotoran ayam. Organo-komplek adalah campuran yang diinkubasi antara bahan organik terkomposisi sebesar 10 t/ha dengan 0,25 – 0,75 dosis pupuk anorganik yang berasal dari Urea 300 kg/ha, SP-36 150 kg/ha, dan KCL 100 kg/ha. Budidaya tanaman jagung dengan menggunakan pupuk organo komplek kotoran ayam ini dilaksanakan pada tanggal 30 September sampai 22 Januari yang berlokasi di kebun percobaan Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh. Penggunaan pupuk organo komplek mampu meningkatkan pertumbuhan seperti tinggi tanaman dan panjang daun terpanjang. Produksi yang diperoleh pada lahan teknologi mencapai 234 kg/300m2 (7,8 ton/ha), sedangkan produksi pada lahan tanpa teknologi hanya 194 kg/300m2 (6,4 ton/ha)
Pengaruh Pemberian Tanaman Obat Sebagai Feed Additive Dalam Ransum Terhadap Performa dan Organ Pencernaan Ayam Pedaging
Penelitian broiler dengan pemberian tanaman obat sebagai feed additive dalam ransum berupa tepung daun salam, daun pepaya, daun jambu biji dan tepung daun miana untuk melihat pengaruhnya terhadap performa broiler. Penelitian dilakukan selama 2 bulan yang dilakukan di Laboratorium Nutrisi dan Pakan Ternak dan di kandang broiler Laboratorium Produksi Ternak. Broiler yang digunakan 100 ekor umur satu hari. Pakan yang diberikan ransum adukan yang terdiri dari jagung, bungkil kedele, tepung ikan, tepung mie, minyak, top mix. Perlakuan yang diberikan adalah daun salam (Eugenia polyantha Wight), daun pepaya (Carica papaya Linn), daun jambu biji (Psidium Guava L) dan daun miana (Coleus scutellarioides) yang dijadikan tepung. Rancangan yang digunakan adalah RAL, dengan 5 perlakuan dan 4 ulangan, yaitu ransum adukan 100% sebagai kontrol (A), penambahan 0,5% tepung daun salam pada ransum adukan (B), penambahan 0,5% tepung daun pepaya pada ransum adukan (C), penambahan 0,5% tepung daun jambu biji pada ransum adukan (D) dan penambahan 0,5% tepung daun miana pada ransum adukan (E). Parameter penelitian adalah menghitung konsumsi ransum, pertambahan bobot badan dan konversi ransum. Hasil penelitian didapatkan bahwa tanaman obat sebagai feed additive dalam ransum memberikan pengaruh yang tidak berbeda nyata (P besar dari 0,05) terhadap konsumsi ransum, pertambahan bobot badan dan konversi ransum