Online Journal :: Agricultural State Polytechnic of Payakumbuh
Not a member yet
    265 research outputs found

    KOMPETENSI PENYULUH PERTANIAN BPP HARAU DALAM MENYUSUN PERENCANAAN PROGRAMA PENYULUHAN MENUJU IMPLEMENTASI KOSTRATANI DI KECAMATAN HARAU: kompetensi, kostratani, penyuluhan

    No full text
    Aspek yang menjadi tolok ukur dari keberhasilan pembangunan pertanian ini adalah produktivitas, kualitas dan kontinuitas. Untuk mewujudkan keberhasilan tersebut, Kementrian Pertanian mencanangkan kegiatan yang diberi nama Komando Startegi Pembangunan Pertanian (Kostratani). Kostratani adalah pusat kegiatan pembangunan pertanian tingkat kecamatan, yang merupakan optimalisasi tugas, fungsi dan peran Balai Penyuluh Pertanian (BPP) dengan memanfaatkan IT dalam mewujudkan kedaulatan pangan nasional. Untuk mewujudkannya harus tersedia sarana prasarana, pelatihan untuk mendukung SDM dan SDM (penyuluh pertanian) yang berkompeten.  Kompetensi ialah pengetahuan, keterampilan dan kemampuan yang ditampilkan oleh seseorang penyuluh dalam konteks pelaksanaan tugas atau pekerjaannya sebagai penyuluh pertanian. Tujuan penelitian ini yaitu mengidentifikasi kompetensi penyuluh pertanian BPP Harau Dalam Menyusun Programa Penyuluhan. Penelitian ini dilaksanakan Maret sampai Oktober 2020 di BPP Kecamatan Harau dengan jumlah responden 8 orang penyuluh. Penelitian ini menggunakan analisis statistik deskriptif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kompetensi penyuluh BPP Harau dalam menyusun programa penyuluhan memiliki nilai rataan skor 2,9 dan tergolong kategori kompeten

    Pengaruh Kombinasi Inokulum dan Waktu Fermentasi terhadap Kandungan Nutrien Campuran Bungkil Inti Sawit dan Onggok: Effect of inoculum combination and fermentation time on nutrient content of palm kernel meal and cassava waste mixture

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh kombinasi inokulum dan waktu fermentasi terhadap kandungan nutrien campuran bungkil inti sawit dan onggok. Metode yang digunakan adalah penelitian dengan rancangan acak lengkap pola tersarang. Kombinasi inokulum terdiri dari Bacillus sp., Trichoderma sp., dan Cellulomonas sp. dengan empat rasio berbeda yaitu 1:1:1 (I1), 2:1:1 (I2), 1:2:1 (I3), dan 1:1:2 (I4). Waktu fermentasi terdiri dari empat perlakuan yaitu 0 (W0), 36 (W1), 72 (W2), 108 (W3), dan 144 jam (W4). Variabel yang diamati adalah kandungan bahan organik (BO), protein kasar (PK), protein terlarut (PT), gula reduksi (GR), neutral detergent fiber (NDF), dan acid detergent fiber (ADF). Data dianalisis menggunakan analisis variansi dan dilanjutkan dengan Uji Jarak Berganda Duncan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi inokulum memberikan pengaruh tidak nyata (P besar dari 0,05) terhadap BO, PK, PT, GR, NDF, dan ADF. Lama fermentasi memberikan pengaruh yang sangat nyata (P kecil dari 0,01) terhadap BO, PK, PT, GR, NDF dan ADF. Kesimpulan dalam penelitian ini adalah kombinasi inokulum tidak berpengaruh terhadap kandungan nutrien campuran bungkil inti sawit dan onggok. Lama fermentasi yang menghasilkan kandungan nutrien campuran bungkil inti sawit dan onggok paling optimal adalah 144 jam

    Analisis Pemetaan Selera Pemirsa Terhadap Atribut Video Penyuluhan Budidaya Padi di Desa Bunga Raya

    No full text
    Video is one of the media that can be used in agricultural extension activities. However, often in practice, the video used is not in accordance with the tastes of farmers and has an impact on the effectiveness of the extension itself. This research was conducted with the aim of identifying the level of farmers' preference for 10 types of videos of rice cultivation extension and analyzing the attributes that affect the attractiveness of rice cultivation video counseling in Bunga Raya Village, Bunga Raya District, Siak Regency. The location selection was done purposively with the consideration that Bunga Raya Village, Bunga Raya District, Siak Regency had an active farmer group and had utilized video media in the extension activities. The sample in this study consisted of 100 farmer panelists to assess the level of preference for the video and 12 expert panelists in attribute assessment. The hedonic test analysis was used to identify the level of farmers' preference for the 10 types of video extension of rice mina cultivation and descriptive test to analyze the attributes that affect the attractiveness of rice video extension education. The results of cluster analysis (AHC) from the hedonic test and Principal Component Analysis (PCA) analysis of the descriptive test are then analyzed using preference mapping techniques. The best video of this study is video number 1 with a respondents' favorite level of 89% and produces a video attribute rating of the most influential namely educational material, understanding material, appropriate material, material to make it easier, story, duration, tested material, gradual material, audio, color, visual, transition, zoom, movie, layout design, back sound, typography, narration, sound effects, video effects, animation, and dialogue. So that preference mapping is very helpful in developing new products by providing a more distinctive visual assessment of hedonic and descriptive data  Video menjadi salah satu media yang dapat digunakan dalam kegiatan penyuluhan pertanian. Namun demikian, seringkali dalam pelaksanaannya, video yang digunakan tidak sesuai dengan selera petani dan berdampak kepada efektifitas penyuluhan itu sendiri. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan Mengidentifikasi tingkat kesukaan petani terhadap 10 jenis video penyuluhan budidaya mina padi dan menganalisis atribut yang mempengaruhi daya tarik video penyuluhan budidaya mina padi di Desa Bunga Raya Kecamatan Bunga Raya Kabupaten Siak. Pemilihan tempat dilakukan secara sengaja (purposive) dengan pertimbangan bahwa Desa Bunga Raya memiliki kelompok tani yang aktif dan telah memanfaatkan media video dalam kegiatan penyuluhan. Sampel  dalam penelitian ini terdiri dari 100 panelis petani untuk menilai tingkat kesukaan terhadap video dan 12 panelis expert dalam penilaian atribut. Analisis uji hedonik digunakan untuk mengidentifikasi tingkat kesukaan petani terhadap 10 jenis video penyuluhan budidaya mina padi dan uji deskriptif untuk menganalisis atribut yang mempengaruhi daya tarik video penyuluhan budidaya mina padi. Hasil analisis cluster (AHC) dari uji hedonik dan analisis Principal Component Analysis (PCA) dari uji deskriptif selanjutnya dianalisis dengan menggunakan teknik preference mapping. Video terbaik dari penelitian ini adalah video nomor 1 dengan tingkat kesukaan responden sebesar 89% dan  menghasilkan peringkat atribut video dari yang paling berpengaruh yaitu materi mendidik, materi memahamkan, materi sesuai, materi untuk mempermudah, kisah cerita, durasi, materi teruji, materi bertahap, audio, warna,  visual, transisi, zoom, movie, layout design, back sound, typography, narasi, sound effect, video effect, animasi, dan dialog. &nbsp

    Prevalensi Cacing Fasciola Hepatica Pada Sapi Akseptor Program Upsus Siwab Di Kabupaten Muna: Prevalence of Fasciola Hepatica Worms in Cattle Upsus Siwab Program Acceptors in Muna Regency

    Get PDF
    UPSUS SIWAB adalah program pemerintah yang bertujuan untuk meningkatkan populasi sapi melalui perbaikan manajemen pemeliharaan dan reproduksi ternak. Salah satu kendala dalam pencapaian program tersebut adalah infeksi penyakit. Infestasi parasit cacing dilaporkan mampu menurunkan produktivitas ternak seperti penurunan bobot badan, daya kerja, kualitas daging, kulit, jeroan, dan terhambatnya pertumbuhan pada sapi muda serta berpotensi sebagai penular penyakit pada manusia (agen zoonosis). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui  prevalensi cacing Fasciola hepatica (F. hepatica) pada sapi akseptor program UPSUS SIWAB di Kabupaten Muna. Sebanyak 270 sampel feses sapi dikoleksi dari sembilan kecamatan menggunakan metode random sampling. Variabel yang diamati, yaitu jenis telur cacing yang menginfestasi sapi akseptor menggunakan metode natif dan pembesaran mikroskop 100x (10x10). Selanjutnya, data dianalisis menggunakan persamaan prevalensi. Hasil studi menunjukkan bahwa tingkat prevalensi kejadian F.  hepatica di Kabupaten Muna adalah 4,9%. Berdasarkan lokasinya, infestasi cacing F. hepatica dideteksi pada sapi akseptor yang tersebar di lima kecamatan, yaitu Kecamatan Parigi (0,74% ; 2/270), Lasapela (0,37% ; 1/270), Kabawo (2,59% ; 7/270), Watopute (0,37% ; 1/270) dan Tangkuno Selatan (0,74% ; 2/270). Faktor yang diduga berpengaruh terhadap variasi infeksi ini adalah sistem pemeliharaan ternak,  keberadaan inang perantara dan tampungan air serta metode diagnose yang digunakan pada studi ini

    KAIROMON SEBAGAI PEMANDU KEDATANGAN PARASITOID DIADEGMA SEMICLAUSUM HELLEN PADA LARVA INANG : Diadegma semiclausum , inang, kairomon, parasitoid, pemandu

    No full text
    Kairomon merupakan suatu zat kimia yang dikeluarkan oleh suatu spesies untuk menarik spesies yang berbeda seperti  larva hama terhadap  parasitoid. Sumber potensial kairomon bisa diperoleh dari kotoran, kelenjar ludah, sutera, kontaminasi tubuh, sekresi makan, dan sekresi pertahanan dari inang. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui  keberadaan kairomon pada kotoran larva inang (larva P. xylostella) dan  pengenceran terbaik dalam mengundang kedatangan parasitoid  D. semiclausum.  Pengujian kairomon menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL), terdiri dari 4 perlakuan dan 7 ulangan.  Perlakuan  yaitu pengenceran kotoran inang pada 10-1, 10-2, (tanpa pengenceran = 100) dan kontrol. Hasil pengujian membuktikan bahwa kotoran larva Plutella xylostella dapat memandu kedatangan parasitoid D. semiclausum  dengan indikator jumlah telur yang diletakkan pada pengenceran kotoran larva 10-1 dan 10-2 dan tingkat parasitisasi pada pengenceran kotoran larva 10-1 dan 10-0.  Kotoran larva  P. xylostella berperan sebagai kairomon bagi  parasitoid  D. semiclausum.   &nbsp

    PENGGUNAAN PUPUK ORGANIK TABUR (POT) DAN ZEOLIT UNTUK MENINGKATKAN PERTUMBUHANDAN HASIL TANAMAN MENTIMUN (Cucumis sativus L.)DI PT.INDMIRA YOGYAKARTA

    No full text
    Mentimun (Cucumis sativus L.) merupakan salah satu jenis tanaman sayur tropis yang banyak dikembangkan di Indonesia dan memiliki nilai jual yang cukup tinggi. Salah satu upaya untuk mendukung pengembangan budidaya mentimun yaitu dengan menggunakan pupuk organik tabur (POT) dan Zeolit. POT merupakan pupuk organik tabur yang berasal dari bahan organik yang banyak mengandung hara makro (N,P, dan K) dan hara mikro (Ca dan Mg). Pengaruh bahan organik terhadap sifat fisik tanah adalah terhadap peningkatan porositas tanah. Zeolit sering digunakan sebagai pembenah tanah.Tujuan percobaan ini yaitu (1) mengoptimalkan produksi tanaman mentimun dengan menggunakan pupuk organik tabur (POT) dan zeolit (2) mengetahui pengaruh penggunaan pupuk organik tabur (POT) dan zeolit yang terbaik terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman mentimun. Kegiatan percobaan tugas akhir ini telah dilakukan selama 3 bulan dari bulan Maret sampai Mei 2019 yang bertempat di kebun percobaan PT. Indmira, Sleman, Yogyakarta.Alat yang digunakan, cangkul, seedbed, meteran, ember, gelas akua, alat tulis (spidol, pena dan rol), kaleng bekas. Bahan yang dibutuhkan adalah bibit mentimun, NPK mutiara, MPPH, zeolit , Pupuk POT, ajir, semat (bambu), dolomit, arang , sekam bakar, cocopeat, tali rafia, kantong plastik.Parameter yang diamatiya itu tinggi tanaman, jumlah duan, lebar daun, awal muncul bunga dan hasil. Berdasarkan hasil pengamatan menggunakan kombinasi pupuk organik tabur (POT) dan zeolit dapat mengoptimalkan pertumbuhan tanaman mentimun dilihat dari tinggi tanaman (21,35 cm), jumlah daun (9,75 helai), lebar daun (17,10 cm), awal muncul bunga (2,70 buah), dan produksi (13,989 gr), dan dalam budidaya tanaman mentimun disarankan menggunakan kombinasi pupuk organik tabur (POT) dan zeolit.Mentimun (Cucumis sativus L.) merupakan salah satu jenis tanaman sayur tropis yang banyak dikembangkan di Indonesia dan memiliki nilai jual yang cukup tinggi. Salah satu upaya untuk mendukung pengembangan budidaya mentimun yaitu dengan menggunakan pupuk organik tabur (POT) dan Zeolit. POT merupakan pupuk organik tabur  yang berasal dari bahan organik yang banyak mengandung makro (N,P, dan K) dan hara mikro (Ca dan Mg). Pengaruh bahan organik terhadap sifat fisik tanah adalah terhadap peningkatan porositas tanah. Zeolit sering digunakan sebagai pembenah tanah.Tujuan percobaan ini yaitu (1) mengoptimalkan produksi tanaman mentimun dengan menggunakan pupuk organik tabur (POT) dan zeolit (2) mengetahui pengaruh penggunaan  pupuk organik tabur (POT) dan zeolit yang terbaik terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman mentimun Kegiatan percobaan  tugas akhir ini telah dilakukan selama 3 bulan dari bulan Maret sampai Mei 2019 yang bertempat di kebun percobaan  PT. Indmira, Sleman, Yogyakarta.Alat yang digunakan, cangkul, seedbed, meteran, ember, gelas akua, alat tulis (spidol, pena dan rol), kaleng bekas.  Bahan yang dibutuhkan adalah bibit mentimun, NPK mutiara,  MPPH, zeolit , Pupuk POT, ajir, semat (bambu), dolomit, arang , sekam bakar, cocopeat, tali rafia, kantong plastik.Parameter yang diamatiyaitutinggitanaman, jumlahduan, lebardaun, awalmunculbungadanhasil. Berdasarkan hasil pengamatan  menggunakan kombinasi pupuk organik tabur (POT) dan zeolit dapat mengoptimalkan pertumbuhan tanaman mentimun dilihat dari tinggi tanaman (21,35 cm), jumlah daun (9,75 helai), lebar daun (17,10 cm), awalmunculbunga (2,70 buah), dan produksi (13,989 gr), dan dalam budidaya tanaman mentimun disarankan menggunakan  kombinasi pupuk organik tabur (POT) dan zeolit

    Karakteristik Karkas Ayam Broiler Fase Finisher yang Diberi Ekstrak Daun Jambu Mete (Anacardium occidentale Linn.) di dalam Air Minum: Carcass characteristics in finisher-Broiler Chickens by Supplementation of Cashew Leaf Extract (Anacardium occidentale Linn.) in Drinking Water

    No full text
    Daun Jambu mete (Anacardium occidentale Linn) merupakan salah satu tumbuhan yang berpotensi menjadi ramuan herbal disebabkan beberapa senyawa yang penting diantaranya mengandung asam anakardiol, asam elagat, flavonoid, kardol, tanin-galat, senyawa fenol, dan metil kardol. Adapun tujuan penelitian ini yakni untuk mengetahui pengaruh pencampuran ekstrak daun jambu mete (EDJM) di dalam air minum terhadap karakteristik karkas ayam broiler meliputi bobot badan akhir, bobot karkas, persentase bobot karkas, bobot lemak abdominal dan persentase bobot lemak abdominal. Total jumlah ayam broiler yang digunakan adalah 80 ekor yang dilakukan pengacakan dengan 5 perlakuan dan 4 ulangan serta setiap ulangan terdiri dari 4 ekor ayam. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan perlakuan yang meliputi P0 (0% EDJM/L air minum), P1 (5% EDJM/L air minum), P2 (90% air minum + 10% EDJM), P3 (85% air minum + 15% EDJM) dan P4 (80% air minum + 20% EDJM). Parameter yang diukur adalah bobot badan akhir, bobot karkas, persentase karkas, bobot lemak abdominal dan persentase lemak abdominal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bobot lemak abdominal dan persentase lemak abdominal secara signifikan (P kecil dari 0,05) menurun dengan pemberian EDJM hingga kadar 20%. Namun demikian, pemberian EDJM tidak berpengaruh nyata (P besar dari 0,05) terhadap bobot badan akhir, bobot karkas dan persentase karkas. Dapat disimpulkan bahwa karakteristik karkas ayam broiler khususnya dalam bobot lemak abdominal dan persentase lemak abdominal dapat menurun dengan pemberian EDJM dalam air minum sampai level 20%

    PENGARUH LAMA PERENDAMAN RIMPANG DALAM LARUTAN PGPR TERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT TANAMAN KENCUR (Kaempferia galanga L.)

    No full text
    Kencur (Kaempferia galanga L.) merupakan tanaman herbal yang memiliki banyak khasiat sebagai obat yang tumbuh didaerah tropis dan subtropis. Secara empirik kencur digunakan sebagai penambah nafsu makan, infeksi bakteri, obat batuk, disentri, tonikum, ekspektoran, masuk angin, dan sakit perut. Banyaknya manfaat kencur memungkinkan pengembangan budidayanya secara intensif yang disesuaikan dengan produk akhir yang digunakan. Perbanyakan tanaman kencur harus memperhatikan proses pembibitan seperti menggunakan rimpang tanaman tersebut. Untuk mempercepat proses pembibitan tanaman kencur dengan menggunakan rimpang, penggunakan zat pemacu/perangsang tumbuh dan juga pengendalian patogen diperlukan sehingga, dapat memaksimalkan pertumbuhan. Zat Pengatur Tumbuh (ZPT) dan pengendalian hayati dapat diperoleh pada Plant Growth Promotong Rhizobacteria (PGPR) yang merupakan bakteri yang berperan penting dalam meningkatkan pertumbuhan tanaman, hasil panen, dan kesuburan lahan. Tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengetahui pengaruh pertumbuhan tunas rimpang kencur dan untuk mengetahui lama perendaman rimpang kencur dalam larutan PGPR yang paling optimal. Percobaan ini telah dilaksanakan pada bulan Maret - April 2021. Bertempat di LPHP dan PAH Induk Bandar Buat, Padang. Percobaan ini terdiri dari beberapa perlakuan yaitu kontrol, 15 menit perendaman, 30 menit perendaman, 45 menit perendaman, dan 60 menit perendaman.  Hasil percobaan menunjukkan bahwa perendaman rimpang kencur dengan PGPR berpengaruh terhadap tinggi tanaman, jumlah tunas dan berat akhir tanaman. Pertumbuhan tanaman kencur yang terbaik diperoleh pada perlakuan 45 menit perendaman dengan rata-rata tinggi tanaman 1,74 cm, jumlah tunas 1,8 buah, berat akhir 5,9 g dan jumlah rimpang yang hidup 100 %.Kencur (Kaempferia galanga L.) merupakan tanaman herbal yang memiliki banyak khasiat sebagai obat yang tumbuh didaerah tropis dan subtropis. Secara empirik kencur digunakan sebagai penambah nafsu makan, infeksi bakteri, obat batuk, disentri, tonikum, ekspektoran, masuk angin, dan sakit perut. Banyaknya manfaat kencur memungkinkan pengembangan budidayanya secara intensif yang disesuaikan dengan produk akhir yang digunakan. Perbanyakan tanaman kencur harus memperhatikan proses pembibitan seperti menggunakan rimpang tanaman tersebut. Untuk mempercepat proses pembibitan tanaman kencur dengan menggunakan rimpang, penggunakan zat pemacu/perangsang tumbuh dan juga pengendalian patogen diperlukan sehingga, dapat memaksimalkan pertumbuhan. Zat Pengatur Tumbuh (ZPT) dan pengendalian hayati dapat diperoleh pada Plant Growth Promotong Rhizobacteria (PGPR) yang merupakan bakteri yang berperan penting dalam meningkatkan pertumbuhan tanaman, hasil panen, dan kesuburan lahan. Tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengetahui pengaruh berbagai waktu lama perendaman dalam larutan PGPR terhadap kualitas pertumbuhan tunas rimpang kencur dan untuk mengetahui lama perendaman rimpang kencur dalam larutan PGPR yang paling optimal. Percobaan tugas akhir ini telah dilaksanakan pada bulan Maret - April 2021. Bertempat di LPHP dan PAH Induk Bandar Buat, Padang. Percobaan ini terdiri dari beberapa perlakuan yaitu kontrol, 15 menit perendaman, 30 menit perendaman, 45 menit perendaman, dan 60 menit perendaman. Parameter pengamatan pada percobaan ini adalah jumlah tunas yang hidup, tinggi tanaman, jumlah tunas, berat akhir, daya bertunas, dan indeks vigor. Hasil percobaan menunjukkan bahwa perendaman rimpang kencur dengan PGPR berpengaruh terhadap tinggi tanaman, jumlah tunas dan berat akhir tanaman. Pertumbuhan tanaman kencur yang terbaik diperoleh pada perlakuan 45 menit perendaman dengan rata-rata tinggi tanaman 1,74 cm, jumlah tunas 1,8 buah, berat akhir 5,9 g dan jumlah rimpang yang hidup 100 %. Kencur (Kaempferia galanga L.) merupakan tanaman herbal yang memiliki banyak khasiat sebagai obat yang tumbuh didaerah tropis dan subtropis. Secara empirik kencur digunakan sebagai penambah nafsu makan, infeksi bakteri, obat batuk, disentri, tonikum, ekspektoran, masuk angin, dan sakit perut. Banyaknya manfaat kencur memungkinkan pengembangan budidayanya secara intensif yang disesuaikan dengan produk akhir yang digunakan. Perbanyakan tanaman kencur harus memperhatikan proses pembibitan seperti menggunakan rimpang tanaman tersebut. Untuk mempercepat proses pembibitan tanaman kencur dengan menggunakan rimpang, penggunakan zat pemacu/perangsang tumbuh dan juga pengendalian patogen diperlukan sehingga, dapat memaksimalkan pertumbuhan. Zat Pengatur Tumbuh (ZPT) dan pengendalian hayati dapat diperoleh pada Plant Growth Promotong Rhizobacteria (PGPR) yang merupakan bakteri yang berperan penting dalam meningkatkan pertumbuhan tanaman, hasil panen, dan kesuburan lahan. Tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengetahui pengaruh berbagai waktu lama perendaman dalam larutan PGPR terhadap kualitas pertumbuhan tunas rimpang kencur dan untuk mengetahui lama perendaman rimpang kencur dalam larutan PGPR yang paling optimal. Percobaan tugas akhir ini telah dilaksanakan pada bulan Maret - April 2021. Bertempat di LPHP dan PAH Induk Bandar Buat, Padang. Percobaan ini terdiri dari beberapa perlakuan yaitu kontrol, 15 menit perendaman, 30 menit perendaman, 45 menit perendaman, dan 60 menit perendaman. Parameter pengamatan pada percobaan ini adalah jumlah tunas yang hidup, tinggi tanaman, jumlah tunas, berat akhir, daya bertunas, dan indeks vigor. Hasil percobaan menunjukkan bahwa perendaman rimpang kencur dengan PGPR berpengaruh terhadap tinggi tanaman, jumlah tunas dan berat akhir tanaman. Pertumbuhan tanaman kencur yang terbaik diperoleh pada perlakuan 45 menit perendaman dengan rata-rata tinggi tanaman 1,74 cm, jumlah tunas 1,8 buah, berat akhir 5,9 g dan jumlah rimpang yang hidup 100 %

    PENGGUNAAN BERBAGAI KONSENTRASI MEDIA TERHADAP SUBKULTUR ANGGREK KATILEA (Cattleya sp) SECARA INVITRO

    No full text
    Tanaman anggrek Cattleya sp adalah salah satu tanaman hias yang populer di seluruh dunia.Tanaman ini juga disebut queen of flower karena keindahannya. Di Indonesia anggrek Katilea (Cattleya sp) merupakan tanaman yang mempunyai nilai ekonomis tinggi. Permintaan pasar akan tanaman ini semakin meningkat, sehingga untuk mendapatkan bibit dalam jumlah yang banyak serta dalam waktu yang singkat untuk memenuhi kebutuhan pasar maka perbanyakan anggrek dapat dilakukan melalui teknik kultur jaringan. Teknik kultur jaringan memerlukan zat pengatur tumbuh (ZPT) dalam konsentrasi yang tepat untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan subkultur anggrek. ZPT yang dapat digunakan untuk subkultur anggrek Cattleyasp adalah IAA dari golongan auksin dan BAP dari golongan sitokinin. Tujuan penelitian ini adalah mempelajari berbagai konsentrasi media untuk subkultur anggrek Cattlyeasp secara InVitro sehingga dapat diperoleh konsentrasi media terbaik. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap satu faktor yang terdiri dari tiga perlakuan media subkultur dengan tiga ulangan, yaitu A: Media MS + BAP 4 ppm + IAA 2 ppm. B: Media MS + BAP 3 ppm + IAA 1 ppm dan Perlakuan C: Media MS + BAP 5 ppm. Hasil penelitian menunjukkan perlakuan A (Media MS + BAP 4 ppm + IAA 2 ppm) memberikan pengaruh yang nyata terhadap peningkatan jumlah daun dan jumlah akar

    MODIFIKASI PEMBUAT MOL LIMBAH ORGANIK BAHAN PRAKTIKUM DI LABORATORIUM POLITEKNIK PERTANIAN NEGERI PAYAKUMBUH

    Get PDF
    Local microorganism made in bio activator of making compost and liquid organic fertilizer that can be used for plant cultivation activaties in intitututional environment. All this time, local microorganism maker tool using plastic bucket with lid, produce local MOL is still low, which is charecterized by a foul-smelling aroma of local microorganism, the resulting solution is coarsely precipitated, also not efficient at harvest time. The purpose of this research is to know the performence of the local microorganism maker tool which has been modified. Observation include in term of scent quality, clean liness of solution time efficiency and energy Testing of unmodified local microorganism maker tool and which have been modified by using vegetables and fruit. From the iest result show that the modified local local microorganism maker tols with filter and faucet produce local microorganism better quality, which are indicated by typical scent of local microorganism and cleanliness of solution, its doest’nt cause a problem of time and energy at harvest time, it can be concluded that a modified local microorganism maker tool with filter and faucet at the bottom of the container give better quality of local microorganism.Salah satu pemanfaatan limbah organik dari sisa praktikum di lingkungan Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh adalah sebagai bahan pembuatan MOL. MOL dijadikan bioaktivator pembuatan kompos dan pupuk organik cair yang dapat digunakan kegiatan budidaya tanaman di lingkungan Institusi. Alat pembuat MOL memakai ember plastik bertutup,  menghasilkan kualitas MOL masih rendah, ditandai dengan aroma MOL berbau busuk, larutan yang dihasilkan banyak endapan , serta tidak efisien dalam saat panen. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kinerja alat  pembuatn MOL yang sudah dimodifikasi.Pengamatan meliputi dari segi kualitas aroma, kebersihan, efisiensi waktu dan tenaga. Pengujian kinerja  pembuat alat pembuat MOL yang belum dimodifikasi dan sudah di modifikasi dengan memakai bahan sayuran dan buah-buahan. Dari hasil pengujian  menunjukkan bahwa alat modifikasi pembuat MOL yang menggunakan saringan dan kran menghasilkan kualitas  MOL yang baik, ditandai larutan MOL dengan aroma khas dan penampakan larutannya bersih, tidak menimbulkan kendala saat panen dari segi waktu dan tenaga. Dapat disimpulkan bahwa alat pembuat MOL yang di modifikasi memakai saringan dengan menambahkan kran dibagian dasar wadahnya memberi tingkat kualitas MOL lebih baik

    106

    full texts

    265

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Online Journal :: Agricultural State Polytechnic of Payakumbuh
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇