Online Journal :: Agricultural State Polytechnic of Payakumbuh
Not a member yet
265 research outputs found
Sort by
Analysis of Income Organik Rice Farmers in Nagari Kamang Mudiak Village Kamang Magek Sub-District Agam Regency West Sumatera
The Rice plant is one of the leading commodities in agriculture, considering that rice is one of the staple foods of Indonesian society. In addition, rice is the main source of income in the highlands. This study aims to analyze the net income of farmers and the efficiency of lowland rice farming. This research is conducted in Kamang Mudiak village, Kamang Magek Sub-district, Agam Regency, West Sumatra. The research is conducted using a survey method with census sampling of 30 organic rice farmers. The results showed that there were several differences in rice cultivation which was carried out organically and inorganically which had been carried out by farmers. The difference between organic and inorganic cultivation is in the type of fertilizer used. However, the water used in the cultivation of rice plants is the same, because, in the research area, rainwater is used to irrigate crops and can also be called rainfed rice fields. The research area does not use pesticides to eradicate pests or diseases, be it organic rice cultivation or inorganic rice cultivation. However, if you use pesticides, of course, there are also differences. The results show that there are several differences in the cultivation of rice which is carried out organically and inorganically by farmers. The difference between organic and inorganic cultivation is the type of fertilizer used. Organic cultivation uses fertilizers that contain easily broken down ingredients such as compost, goat urine, and vegetable ingredients. In addition, there is an increase in the production of unhulled rice from the production of organic cultivation, which reaches a production of 7,163.80 Kg / MT / Ha. The increase in production causes a total net income from organic unhulled production of Rp. 18,495,832.36 / MT / Ha. The RCR value of this farm is 1.94, which means that the farming carried out by the farmer is profitable and it can be considered efficient because the RCR value obtained is more than one (RCR grater than 1)
Pengaruh Ekstrak Tomat dan Wortel Terhadap Kadar Kolesterol dan Enzim Glutation Peroksidase (GPx) Hati Tikus Putih Hiperkolesterolemik: The effect of Tomato and Carrot Extracts on Cholesterol Level and Glutathione Peroxidase Enzyme (GPx) in the Hypercholesterolemic Rats (Rattus norvegicus)
Hiperkolesterolemia merupakan penyebab penyakit kardovaskular yang ditandai dengan peningkatan kadar kolesterol dalam darah dan radikal bebas yang merusak sel endotel pembuluh darah. Resiko tersebut dapat diturunkan dengan pemberian vitamin, antioksidan, antikolesterol yang terkandung di dalam buah dan sayuran seperti tomat dan wortel. Tujuan dari penelitian adalah menguji pengaruh pemberian ekstrak tomat dan wortel terhadap kadar kolesterol total darah dan enzim glutation peroksidase (GPx) pada hati tikus putih hiperkolesterolemik. Penelitian ini menggunakan 24 ekor tikus putih yang dikelompokkan menjadi empat perlakuan, yaitu kelompok kontrol negatif yang diberikan pakan standar (KN), kelompok kontrol positif yang diberikan pakan tinggi kolesterol (KP), kelompok tikus diberikan pakan tinggi kolesterol dan ekstrak tomat 50 mg/kg bb (K I), dan kelompok tikus diberikan pakan tinggi kolesterol dan ekstrak wortel 50 mg/kg bb (K II). Sebelum perlakuan tikus diadaptasikan selama 1 minggu, perlakuan diberikan selama 45 hari. Pemicu terjadinya hiperkolesterolemia pada hewan coba disebabkan oleh pakan tinggi kolesterol yang diberikan sebelum perlakuan dengan ekstrak tomat dan wortel. Pada hari ke 45 dilakukan pengambilan darah melalui ekor untuk pemeriksaan kadar kolesterol total darah, selanjutnya tikus dieuthanasia dan diambil organ hati untuk pemeriksaan enzim GPx. Data yang diperoleh dilakukan uji normalitas Kolmogorov-Smirnov dan homegenitas menggunakan uji Levene. Kemudian dianalisis menggunakan ANOVA dan dilanjutkan dengan uji BNT. Hasil uji statistik menunjukkan ada perbedaan yang nyata (P kecil dari 0,05) kadar kolesterol total darah dan kadar enzim GPx antara kelompok KP dibandingkan dengan KN, KP dengan KI dan KP dengan KII. Tetapi tidak terdapat perbedaan yang nyata (P besar dari 0,05) antara KN dibandingkan dengan KI dan KII. Berdasarkan hal tersebut disimpulkan bahwa pemberian ekstrak tomat 50 mg/kg bb dan ekstrak wortel 50 mg/kg bb selama 45 hari dapat menghambat peningkatan kadar kolesterol total darah dan menghambat penurunan kadar enzim GPx pada hati tikus putih hiperkolesterolemik
Perbandingan Pendapatan Peternak Ayam Ras Pedaging (Broiler) Antara Sistem Kontrak dan Semi Kontrak di Kabupaten Kampar
The purpose of this study is to determine the income of broiler chicken breeders in contract and semi-contract systems in Kampar Regency and analyze the comparison of broiler chicken breeder income between broiler systems and semi-contract systems in Kampar Regency. Broiler chicken business with a pattern of partnership has spread in entire of Indonesia, one of them is in Riau Province. The largest population of broiler chickens in Riau Province is in Kampar Regency. Commonly, there are two the broiler chicken farms partnership patterns in Kampar District,namely the contract system and and semi- contract system between the broiler farmer and poultry companies or poultry shop. The contract system is a binding agreements between the parties relating to the both of the input production’s price and the arvestings price, while the semi-contract are not bound in term of both of the input production’s price and the arvestings price. The objective of the study is analyzed comparison of broiler chicken farm income between contracts system and semi-contract system. The study conducted in Kampar Districtby using survey method for 40 broiler chicken farmer. The results of study shows that the average net income of the broiler farmer on the contract system is lower than the semi contrct system, which is IDR 13.910.273,61for compared to IDR 21.387.673,94. The semi contract broiler chicken farm business is more efficient (RCR=1.12) compared to the contract system (RCR=1.08).Usaha peternakan ayam ras pedaging (broiler) dengan pola kemitraan telah banyak menyebar di seluruh Indonesia, salah satunya di Provinsi Riau. Populasi ternak ayam broiler terbanyak berdasarkan Kabupaten di Provinsi Riau yaitu di Kabupaten Kampar. Dua pola kemitraan pada Kabupaten Kampar yaitu pola sistem kontrak dan semi kontrak. Pola sistem kontrak dilakukan dengan perusahaan mitra dengan kerja sama dituangkan dalam dokumen kontrak yang disepakati kedua belah pihak, sedangkan pola sistem semi kontrak dilakukan dengan perusahaan, tetapi peternak tidak terikat perjanjian harga sapronak dan harga panen. Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Kampar. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pendapatan peternak ayam ras pedaging (broiler) sistem kontrak dan semi kontrak di Kabupaten Kampar serta menganalisis perbandingan pendapatan peternak ayam ras pedaging (broiler) antara sistem kontrak dan semi kontrak di Kabupaten Kampar. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei. Responden penelitian diambil sebanyak 40 peternak. Metode analisis data yang digunakan yaitu analisis biaya usaha ternak, analisis biaya penyusutan, analisis penerimaan, analisis pendapatan dan analisis tingkat efisiensi dari usaha ternak (RCR). Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata pendapatan bersih yang diteima peternak ayam broiler pada sistem kontrak sebesar Rp. 13.910.273,61, sedangkan rata-rata pendapatan bersih yang diterima peternak ayam broiler pada sistem semi kontrak sebesar Rp. 21.387.673,94. Efisiensi usaha ternak atau RCR pada peternak ayam broiler pada sistem kontrak sebesar 1,08 sedangkan efisiensi usaha ternak atau RCR pada peternak ayam broiler pada sistem semi kontrak sebesar 1,12. Berdasarkan perolehan RCR dari kedua sistem tersebut, dapat dilihat bahwa yang paling efisien untuk dijalankan adalah sistem semi kontrak. Hal ini karena Return Cost Of Ratio (RCR) yang diperoleh pada sistem semi kontrak adalah yang paling tinggi dibanding sistem kontrak
Analisis Pendapatan Usaha Peternakan Kerbau pada Kawasan Pengembangan Kabupaten Sijunjung: Analysis of Buffalo Farm Business Income in the Development Area of Sijunjung Regency
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pendapatan peternak dan efisiensi usaha peternakan kerbau yang dilakukan masyarakat Kabupaten Sijunjung. Penelitian dilakukan di wilayah Kabupaten Sijunjung yaitu pada peternak di daerah terpilih pada bulan November 2020. Penelitian ini menggunakan metode survey dengan respondennya adalah peternak kerbau sebanyak 50 orang responden. Data yang dianalisis adalah data 1 tahun berjalan yaitu bulan Oktober 2019 - September 2020. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pendapatan masyarakat peternak Kabupaten Sijunjung dari usaha peternakan kerbau adalah sebesar Rp 6.644.344/peternak/tahun. Kemudian dari analisis R/C ratio, didapatkan nilai 8,07 yang artinya usaha yang dilakukan sudah efisien dan layak untuk dilanjutkan
Evaluasi Aspek Teknis Pemeliharaan Kambing Peranakan Etawa (PE) Menuju Good Dairy Farming Practice (GDFP) di PT. Boncah Utama Kabupaten Tanah Datar: Evaluation of Technical Aspects of Maintenance Etawa Crossbred Dairy Goat Towards Good Dairy Farming Practice (GDFP) at PT. Boncah Utama, Tanah Datar District
Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi aspek teknis pemeliharaan kambing Peranakan Etawa (PE) berdasarkan panduan Good Dairy Farming Practice (GDFP) di PT. Boncah Utama Kabupaten Tanah Datar. Metode yang digunakan adalah survey dan observasi langsung di Usaha Peternakan kambing PE PT Boncah Utama dan analisis laboratorium. Sebaanyak 15 ekor kambing PE diberi perlakuan dengan menerapkan Good Milking Practices (GMiP). Jenis data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Analisis data dilakukan secara deskriptif. Peubah yang diamati adalah total plate count dan evaluasi aspek teknis pemeliharaan menggunakan kuisioner yang berpedoman pada pelaksanaan GDFP modifikasi dari metode FAO/IDF (2010) dan penghitungan kandungan total bakteri susu (Total Plate Count). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan GDFP di Peternakan Kambing PE PT Boncah Utama Kabupaten Tanah Datar sudah cukup baik dan analisis keragaman terhadap TPC menunjukkan bahwa perlakuan berpengaruh nyata terhadap total plate count susu (P kecil dari 0.05). Kesimpulan penelitian ini adalah evaluasi GDFP di PT Bocah Utama sudah cukup baik dan sangat penting diterapkan untuk memastikan susu yang dihasilkan berkualitas dan memenuhi standar yang sudah ditetapkan
Produksi dan Komposisi Nutrisi Limbah Pelepah Tanaman Salak yang Difermentasi dengan Kapang Pelapuk Putih (Phanerochaete chrysosporium): Production and Nutrient Biomass of Fermented Midrib Waste from Salacca sumatrana Becc with White Root Fungi (Phanerochaete chrysosporium)
Produksi limbah pelepah tanaman salak Sidimpuan (Salacca sumatrana Becc) dipandang potensial dalam penyediaan pakan alternatif untuk ternak ruminansia. Selain itu, cemaran limbah tersebut dapat menurunkan metabolisme hara tanah untuk pertumbuhan tanaman induk. Penelitian bertujuan untuk mengevaluasi produksi biomassa nutrisi limbah pelepah tanaman salak setelah difermentasi dengan menggunakan kapang pelapuk putih (Phanerochaete chrysosporium). Produksi bahan baku segar limbah diperoleh setelah menggiling pelepah salak utuh dan dilanjutkan dengan proses fermentasi dengan memanfaatkan inokulan lignin degradator dan dilanjutkan dengan analisa proksimat di Laboratorium Nutrisi Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Jambi. Kapang spesies Phanerochate chrysosporium masing-masing 0%, 10%, 15% dan 20% diinokulasikan kedalam substrat konsentrat kasar limbah pelepah tanaman salak. Penelitian menggunakan RAL dengan 4 perlakuan dan 10 ulangan. Parameter penelitian meliputi nutrisi kadar air, bahan kering, bahan organik, protein kasar, dan fraksi serat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan inokulan sampai 20% berpengaruh nyata (P kecil dari 0.01) terhadap semua parameter. Produksi biomassa nutrisi terbaik ditunjukkan oleh perlakuan P3 (inokulan sebanyak 20%). Kesimpulan penelitian yaitu pemanfaatan inokulan pelapuk putih sangat berpotensi dalam memperbaiki kualitas serat pelepah tanaman salak dan dapat berdampak positif untuk dijadikan sebagai pakan ternak
PENGARUH LARUTAN GULA DENGAN PENAMBAHAN BERBAGAI KONSENTRASI LARUTAN ELEKTROLIT TERHADAP TINGKAT KESEGARAN KRISAN (Chrysanthemum sp) POTONG
Bunga krisan merupakan salah satu jenis tanaman hias yang banyak diburu oleh para pecinta bunga. Perlu peningkatan kualitas bunga yang baik, sehingga keindahan dan kesegaran bunga potong krisan dapat dinikmati lebih lama dalam bentuk segar. Untuk kesegaran lebih lama digunakan tambahan zat penyegar diantaranya gula dan larutan elektrolit pada air rendaman. Tujuan penelitian untuk mengetahui tingkat kesegaran bunga krisan potong yang direndam dalam larutan gula dengan penambahan larutan elektrolit dengan konsentrasi berbeda dan mengetahui medium perendaman terbaik dalam mempertahankan tingkat kesegaran bunga krisan potong. Tempat pelaksanan di Laboratorium Hortikultura Politeknik Pertanian selama 6 bulan. Metode Rancangan Acak Lengkap (RAL), dengan 4 perlakuan dan 8 ulangan; A (air + gula 5 g) sebagai control, B ( air + gula 5 g + larutan elektrolit 5 ml), C ( air + gula 5 g + larutan elektrolit 10 ml), dan D (air + gula 5g + larutan elektrolit 15 ml). Variabel yang diamati lama kesegeran bunga, panjang tangkai bunga potong yang busuk, jumlah bunga yang masih mekar, layu, dan rontok. Data kuantitatif yang berbeda nyata diuji lanjut dengan LSD 5%. Terdapat perbedaan tingkat kesegaran bunga krisan potong yang direndam dalam larutan gula dengan penambahan larutan elektrolit pada konsentrasi yang berbeda terhadap parameter (lama kesegaran bunga, panjang tangkai bunga yang busuk, jumlah bunga yang masih mekar, layu, dan rontok. Semakin tinggi konsentrasi larutan elektrolit yang diberikan, semakin memberikan tingkat kesegaran bunga yang lebih lama. Larutan gula yang ditambahkan larutan elektrolit 15 ml merupakan konsentrasi terbaik dalam mempertahankan tingkat kesegaran bunga krisan potong
MUTASI KLOROFIL TAHAP M2 PADI BERAS MERAH LOKAL SUMATERA BARAT GENOTYPE BANUHAMPU: genotipe banuhampu, mutasi klorofil, padi beras merah
Padi beras merah yang dibudidayakan di masyarakat Sumatera Barat saat ini merupakan padi lokal. Padi lokal memiliki keunggulan tertentu karena telah dibudidayakan secara turun-temurun sehingga telah beradaptasi dengan baik pada berbagai kondisi lahan dan iklim yang spesifik. Sebaliknya, padi lokal juga memiliki beberapa keterbatasan, antara lain berumur panjang, berpostur tinggi, tidak tahan hama dan penyakit, serta berproduksi rendah. Mutasi yaitu perubahan struktur genetik suatu makhluk hidup secara tiba- tiba dan acak yang diwariskan pada generasi berikutnya. Pemuliaan mutasi mempunyai karakter spesifik antara lain sangat efektif untuk merubah sedikit sifat dalam perbaikan varietas tanaman. Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan Agustus hingga Desember 2017. Pada saat persemaian ini akan dilakukan pengamatan mutasi klorofil untuk melihat adanya indikasi keragaman genetik akibat perlakuan iradiasi sinar gamma yang dilakukan terhadap benih. Setiap benih di persemaian diamati perubahan warna daunnya dan dikelompokkan kedalam kriteria Gustafsson. frekuensi mutan tertinggi adalah mutan dengan dosis 200 Gy, sedangkan untuk frekuensi mutasi yang tertinggi adalah tanaman yang diiradiasi dengan dosis 300 Gy. Tanaman yang diiradiasi dengan dosis 200 Gy memiliki frekuensi mutasi sebesar 0,09% dan untuk dosis 300 Gy frekuensi mutan yang terjadi adalah0,02 %
Keputusan Petani Mengadopsi Usahatani Padi Organik di Desa Pringkasap
Organic farming is not the only potential solutions to overcome the problems of conventional farming systems by offering positive impacts on health and environment but also to fulfill the growing demand for healthier food. However, the growing demand for organic food was not responded simultaneously by an increase in the supply of organic food. This means that there is opportunity to increase participation of farmers to adopt organic rice farming systems. This study aims to analyze the adoption rate and factors affecting farmer adoption of organic rice farming system. This study used primary data of 32 organic and conventional farmers in Pringkasap Village Subang Regency. The respondents were chosen using census method for organic farmers and purposive sampling for conventional farmers.The data was analyzed used descriptive statistics and logistic regression. The results showed that the number of farmers adopted organic rice only 6.25 percents amongst the 265 rice farmers in Pringkasap Village. The results also showed that education, farmed land, farmer’s perception of the relative advantage of organic farming and number of family members are factors that significantly affect the adoption of organic rice farming in Pringkasap Village.Pertanian organik tidak hanya solusi potensial untuk mengatasi masalah sistem pertanian konvensional dengan memberikan dampak positif pada kesehatan dan lingkungan tetapi juga untuk memenuhi permintaan yang terus meningkat akan produk pangan yang lebih sehat. Namun, permintaan pangan organik yang meningkat belum direspon dengan peningkatan pasokan pangan organik. Hal ini berarti ada peluang untuk meningkatkan partisipasi petani dalam sistem pertanian organik sehingga berpotensi meningkatkan pendapatan mereka. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat partisipasi petani dan faktor-faktor yang memengaruhi petani mengadopsi budidaya padi organik. Penelitian ini menggunakan data primer dari 32 petani organik dan konvensional di Desa Pringkasap Kabupaten Subang. Pengambilan sampel menggunakan metode sensus untuk petani organik dan purposive sampling untuk petani konvensional. Data dianalisis menggunakan analisis deskriptif dan regresi logistik biner. Hasil penelitian menunjukkan bahwa petani yang memutuskan adopsi budidaya padi organik saat ini hanya mencapai 6.25% dari 265 petani padi di Desa Pringkasap. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa tingkat pendidikan, luas lahan yang diusahakan, persepsi petani terhadap keunggulan relatif pertanian organik dan jumlah tanggungan keluarga adalah faktor yang secara signifikan memengaruhi adopsi pertanian padi organik di Desa Pringkasap
UJI DAYA HASIL PADA JAGUNG HIBRIDA, KOMPOSIT DAN LOKAL DI PARIAMAN
Pariaman memiliki potensi produksi jagung yang tinggi untuk memenuhi permintaan jagung di Sumatera Barat yang terus meningkat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan jenis varietas jagung yang memiliki daya hasil tinggi di Pariaman. Percobaan ini dilakukan di Kota Pariaman Sumatera Barat, dengan ketinggian +/- 32 mdpl yang berlangsung dari bulan November 2020 s/d April 2021. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) satu faktor yaitu 10 varietas jagung, V1= Bima 20, V2= JH-37, V3= Nasa 29, V4= Pioneer P32, V5= NK, V6= Bisi 18, V7= Sinhas, V8= Sukmaraga, V9= Galur IBF, dan V10= Lokal Agam. Hasil penelitian ini adalah Jagung hibrida varietas Pioneer P32 menunjukkan hasil yang tinggi dengan berat tongkol tanpa kelobot 16.08 ton/ha