Sciscitatio (E-Journal)
Not a member yet
    73 research outputs found

    Peningkatan Kualitas Kecap Nira Lontar dengan Penambahan Tepung Tempe

    Get PDF
    Kecap nira lontar adalah jenis kecap tradisional yang umum dibuat oleh masyarakat suku Rote, Nusa Tenggara Timur melalui proses karamelisasi nira dari tanaman lontar dengan metode pemanasan. Penambahan tepung tempe sebagai sumber protein nabati berpotensi meningkatkan kandungan gizi kecap nira lontar. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh penambahan tepung tempe pada peningkatan nilai protein dan citarasa kecap nira lontar. Metode yang digunakan adalah metode eksperimen dengan penambahan variasi konsentrasi tepung tempe yaitu yaitu 0%, 3%, 5%, 7%, dan 10% pada kecap nira lontar. Tahapan penelitian meliputi proses pembuatan kecap nira lontar, uji protein kecap nira lontar dan uji organoleptik. Kandungan protein pada kecap nira lontar meningkat sebanding dengan konsentrasi tepung tempe yang ditambahkan. Uji organoleptik terhadap kecap nira lontar yang diperkaya tepung tempe menunjukkan perbedaan antar perlakuan. Penambahan tepung tempe pada kecap nira lontar meningkatkan kandungan protein dan citarasanya

    Peningkatan Produksi Saponin pada Kultur Kalus Ginseng Jawa (Talinum paniculatum Gaertn) dengan Penambahan Ekstrak Yeast

    Get PDF
    Ginseng jawa (Talinum paniculatum Gaertn) merupakan tanaman yang dimanfaatkan dalam pengobatan tradisional masyarakat Indonesia. T. paniculatum berkhasiat dalam meningkatkan nafsu makan dan afrodisiaka. Upaya peningkatan produksi saponin pada T. paniculatum memerlukan metode yang efektif yaitu elisitasi. Ekstrak yeast (Saccharoyces cerevisiae) digunakan sebagai elisitor karena kemampuannya dalam memproduksi metabolit sekunder. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi elisitor ekstrak yeast (0,025%, 0,05%, 0,075%, 0,1%, dan 0,5%) dan waktu inkubasi (1, 2, dan 3 minggu) terhadap biomassa dan produksi saponin dari kultur kalus daun T. paniculatum. Media yang digunakan adalah MS (Murashige and Skoog). Identifikasi saponin menggunakan KLT (Kromatografi Lapis Tipis). Hasil menunjukkan konsentrasi ekstrak yeast dan waktu inkubasi tidak berpengaruh secara signifikan dalam meningkatkan biomassa kalus T. paniculatum. Konsentrasi ekstrak yeast 0,075% dengan waktu inkubasi 3 minggu menghasilkan luas noda saponin tertinggi yaitu 0,549 cm2

    Studi Etnobotani Kelapa (Cocos nucifera) di Desa Tambi, Kecamatan Sliyeg, Kabupaten Indramayu

    Get PDF
    Etnobotani adalah studi tentang hubungan antara manusia dan penggunaan tumbuhan secara tradisional. Kelapa (Cocos nucifera) merupakan salah satu tanaman yang memiliki nilai pemanfaatan yang tinggi dalam masyarakat. Berdasarkan survei awal, tanaman kelapa banyak dimanfaatkan sebagai obat, sumber pangan, bahan kerajinan dan lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik, potensi, distribusi dan pemanfaatan tanaman kelapa di Desa Tambi dan Desa Tambi Lor, Kecamatan Sliyeg, Kabupaten Indramayu. Penelitian ini bermanfaat untuk memberikan informasi kepada masyarakat tentang karakteristik dan pemanfaatan tanaman kelapa serta pentingnya konservasi tanaman kelapa. Penelitian ini dilakukan dengan metode deskriptif kualitatif melalui eksplorasi pengamatan langsung di lapangan dengan wawancara menggunakan kuesioner. Hasil penelitian mendapatkan 3 varietas kelapa yang tumbuh di lokasi penelitian yaitu varietas kelapa dalam hijau, kelapa genjah kuning (gading) dan kelapa genjah hijau. Tanaman kelapa di Desa Tambi dan Desa Tambi Lor dimanfaatkan sebagai bahan pangan dan kerajinan sebesar 20%, adat istiadat sebesar 10%, obat 14 %, bahan bakar sebesar 16%, bahan bangunan sebesar 17% dan jamu sebesar 1%. Distribusi tanaman kelapa Desa Tambi ditemukan pada 18 titik, sedangkan pada Desa Tambi Lor ditemukan 22 titik tumbuh tanaman kelapa. Penyebaran tanaman kelapa berdasarkan tata guna lahan Desa Tambi hanya dijumpai pada pekarangan dan tepi sawah, sedangkan di Desa Tambi Lor, tanaman kelapa di jumpai disemua lahan yaitu pekarangan, tepi jalan, dan tepi sawah

    Uji Antibakteri Rhizopus sp. Asal Inokulum Tempe terhadap Vibrio cholerae

    Get PDF
    Rhizopus sp. merupakan kapang yang digunakan dalam fermentasi tempe. Kapang Rhizopus pada tempe telah dikaji manfaatnya dalam mengurangi kejadian diare pada Escherichia coli dan Salmonella typhidibandingkan pada Vibrio cholerae. Diare kolera yang disebabkan oleh Vibrio cholerae pernah menjadi Kejadian Luar Biasa (KLB) di Indonesia, sehingga bakteri kolera sebagai penyebab penyakit pada penderita diare masih ada. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan antibakteri Rhizopus sp asal inokulum tempe terhadap Vibrio cholerae dan mengetahui perbedaan kemampuan antibakteri Rhizopus sp dari beberapa inokulum tempe terhadap Vibrio cholerae. Uji antibakteri Rhizopus sp terhadap Vibrio cholerae dilakukan dengan metode difusi kertas. Isolasi dari inokulum tempe komersial memperoleh dua isolat kapang, yang teridentifikasi Rhizopus sp.IP dan Rhizopus sp. IJ. Hasil uji antibakteri menunjukkan bahwa dua isolat Rhizopussp. tersebut dapat menghambat Vibrio cholerae. dengan kemampuan penghambat kategori sedang dan tidak terdapat perbedaan aktivitas antibakteri Rhizopus sp. IP dan Rhizopus sp. IJ terhadap Vibrio cholerae

    Hubungan Konsentrasi Kromium (Cr) dalam Air Sumur dengan Konsentrasi pada Urin dan Rambut Warga Dusun Banyakan Yogyakarta

    Get PDF
    Aktivitas pembuangan limbah cair industri penyamakan kulit di dusun Banyakan memiliki dampak negatif bagi lingkungan. Masuknya pencemar kromium kedalam air sumur adalah salah satu dampak negatif tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui konsentrasi kromium dalam air sumur, rambut dan urin warga setempat. Penelitian dilakukan di Dusun Banyakan, Kabupaten Bantul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Sampel yang diambil adalah sampel air sumur, urin dan rambut. Ektraksi sampel menggunakan metode destruksi aqua regia (3HNO3 + HCl) selanjutnya analisa konsentrasi kromium menggunakan instrumen AAS (Atomic Absorption Spectrophotometry). Pencemar kromium ditemukan pada semua sampel, baik air sumur, rambut dan urin. Sampel rambut memiliki konsentrasi kromium paling tinggi dengan rerata sebesar 0,4685 Mg/Kg, diikuti sampel urin dengan rerata 0,0007 Mg/L dan terendah pada sampel air sumur dengan rerata 0,0007 Mg/L. Konsentrasi kromium pada rambut dan urin didapati melebihi standar baku mutu. Paparan yang diterima warga rata-rata per harinya adalah 0,10125 ?g/L serta tidak ada hubungan antara asupan harian kromium dengan konsentrasi kromium pada urin dan rambut. &nbsp

    Uji Efektivitas Ekstrak Alkohol Daun Cengkeh (Syzigium aromaticum) Sebagai Repellent Semprot Terhadap Lalat Rumah (Musca domestica)

    Get PDF
    Lalat rumah (Musca domestica) merupakan anggota dari familia Muscidae yang umum dijumpai pada daerah permukiman di Indonesia. Kebiasaan lalat rumah dalam mencari makanan pada sampah basah hasil buangan rumah tangga berpotensi menjadikannya vektor patogen penyebab penyakit diare. Daun cengkeh (Syzigium aromaticum) diketahui mempunyai senyawa fitokimia yang berpotensi sebagai pengusir lalat. Tujuan dari penelitian ini untuk mempelajari konsentrasi ekstrak alkohol S. aromaticum yang efektivitas sebagai repellent semprot terhadap M. domestica dengan cara penyemprotan ekstrak ke wadah yang berisi ikan. Penelitian ini dirancang menggunakan metode ekperimental RAL sederhana dengan 5 perlakuan dan 3 kali ulangan. Variasi konsentrasi 0% (control) 10%, 15%, 20%, 25% dari 1000 ppm. Analisis data menggunakan analisis uji statistik Anova versi SPSS 24 pada taraf signifikan 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin tinggi konsentrasi ekstrak daun cengkeh yang digunakan dalam repellent semprot, maka semakin banyak lalat yang menjauh. Kemampuan tolak repellent semprot terhadap lalat rumah adalah sebesar sebesar 83,7% untuk konsentrasi ekstrak 10%, 88,88% untuk konsentrasi ekstrak 15%, 91,10%untuk konsentrasi ekstrak 20% dan 95,55% untuk konsentrasi ekstrak 25% Ekstrak alkohol daun cengkeh berpotensi untuk digunakan sebagai bahan aktif repellent semprot yang efektif terhadap lalat rumah

    Pengaruh Penggunaan Lahan, Sumber Pencemar dan Tipe Vegetasi Riparian terhadap Kualitas Air Sungai Code Daerah Istimewa Yogyakarta

    Get PDF
    Sebagai salah satu sungai besar di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, kualitas air Sungai Code banyak ditentukan oleh pengaruh aktivitas manusia dan kondisi alamiah yang ada disekitarnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tataguna lahan, tipe vegetasi riparian, dan sumber bahan pencemar terhadap kualitas air sungai Code. Metode penelitian yang digunakan adalah purposive sampling. Parameter yang diukur terdiri dari parameter fisik, kimia, dan biologi. Parameter fisik sungai meliputi kedalaman, kekeruhan, kecerahan, kecepatan arus, debit air, suhu, tipe substrat, TSS, dan TDS. Parameter kimia sungai meliputi pH, DO, BOT, nitrat, fosfat, dan amonia. Parameter biologi meliputi vegetasi riparian dengan indeks biotik meliputi kerapatan, indeks kekayaan jenis, dan indeks keanekaragaman jenis. Penggunaan lahan di sungai Code didominasi oleh pembangunan (tanggul,pemukiman), pertanian dan jalan. Aktivitas masyarakat didominasi oleh aktivitas bertani dan penambangan pasir. Jenis sumber pencemar yang dominan adalah limbah rumah tangga.Karakteristik lingkungan di sungai Code adalah berbatu dan berpasir. Ditemukan 36 spesies,25 famili, 23 ordo, 4 kelas, dan 2 divisi. Struktur komunitas vegetasi riparian didominasi oleh famili Poaceae, Asteraceae dan Malvaceae. Penggunaan lahan, pola aktivitas dan sumber pencemar dapat mempengaruhi kualitas air sungai Code (parameter fisik dan kimia). Keberadaan struktur komunitas vegetasi riparian dapat mempengaruhi kualitas air sungai Code khususnya pada parameter BOT dan Nitrat air sungai Code

    Pemanfaatan Senyawa Metabolit Sekunder Ekstrak Eter Diadema setosum dari Pantai Kukup dan Pantai Sundak Gunungkidul sebagai Antiinflamasi

    Get PDF
    Bulu babi atau landak laut merupakan hewan laut yang tergolong dalam kelas Echinoidea. Kelompok hewan dari kelas Echinoidea mempunyai kemampuan menghasilkan metabolit sekunder yang memiliki efek farmakologis seperti antibakteri, antitumor dan kanker, antioksidan, dan antiinflamasi. Salah satu metabolit sekunder dari yang dihasilkan oleh hewan dari kelompok Echinoidea adalah Ovothiol-A yang berpotensi sebagai antiinflamasi. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari metabolit sekunder dari Diadema setosum yang berasal dari Pantai Selatan Gunungkidul dan studi potensinya sebagai antiinflamasi. Hasil uji KLT dan FTIR menunjukkan bahwa spesies Diadema setosum sebagai salah satu anggota Echinoidea diduga mengandung senyawa Ovothiol-A pada bagian organ maupun cangkangnya. Senyawa diduga sebagai Ovothiol-A yang dihasilkan oleh D. setosum memiliki kemampuan antiinflamasi yang ditunjukkan oleh penyempitan luka pada mencit yang diberi perlakuan ekstrak bagian organ (100%) D.setosum dengan rata-rata penyempitan luka 0,44±0,256 mm/hari. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa ekstrak D. setosum memiliki senyawa Ovothiol-A yang dapat berfungsi sebagai antiinflamasi. Ekstrak D. setosum bagian organ memiliki kemampuan antiinflamasi yang lebih baik

    Elisitasi Saponin dalam Kultur Kalus Ginseng Jawa (Talinum paniculatum Gaertn.) Menggunakan Asam Salisilat

    Get PDF
    Ginseng Jawa (Talinum paniculatum Gaertn.) digunakan dalam pengobatan tradisional karena mengandung senyawa metabolit sekunder berupa saponin, tannin, alkaloid, kuinon, steroid, polifenol, flavonoid, dan minyak atsiri. Dari beberapa senyawa metabolit sekunder tersebut, saponin merupakan metabolit sekunder yang dominan dihasilkan oleh ginseng jawa dan diketahui memiliki banyak efek farmakologi. Elisitasi melalui kultur in vitro khususnya kultur kalus dapat digunakan dalam upaya meningkatkan kandungan saponin menggunakan asam salisilat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi asam salisilat dan waktu elisitasi terhadap pertumbuhan kalus dan produksi saponin dalam kultur kalus Talinum paniculatum. Induksi dan produksi kalus T. paniculatum menggunakan media MS dengan kombinasi 2,4-D 2 mg/L + kinetin 3 mg/L. Kalus yang telah memasuki fase stationer (pada hari ke 58) digunakan untuk proses elisitasi. Elisitasi kalus menggunakan variasi konsentrasi asam salisilat 0,5 mM, 0,10 mM, 0,15 mM, 0,20 mM, 0,25 mM, 0,30 mM, 0,35 mM dan waktu inkubasi 3 hari, 6 hari, dan 9 hari. Ekstrak kalus selanjutnya diidentifikasi menggunakan KLT untuk mengetahui kandungan saponinnya melalui luas noda saponin. Penambahan konsentrasi asam salisilat sebesar (0,05 – 0,35 mM) dan waktu elisitasi (3-9 hari) pada kultur kalus T.paniculatum berpengaruh terhadap peningkatan biomassa kalus (0,056 – 0,069 gram) dibandingkan kontrol (0,054 gram) dan kandungan saponin dalam kalus. Kandungan saponin tertinggi sebesar 0,565 cm2pada perlakuan konsentrasi asam salisilat 0,30 mM dengan waktu inkubasi 6 har

    Combination of Zeolite, Charcoal and Water Spinach as Integrated Filters to Reduce Ammonia Level in Aquaponic System

    Get PDF
    Aquaponic is a combination of aquaculture and hydroponic plants in the recirculation system. The aquaponic system has a constraint in the form of ammonia which is produced by fish metabolism. In order to increase the productivity of fish and plants in aquaponics, an approach by integrating filters and biofilter could be used to reduce ammonia waste. The aim of this research was to study the use of zeolite, charcoal, and water spinach as components of integrated filters to reduce ammonia concentration in an aquaponic system. This research was conducted for four weeks with three repetitions of water sampling sourced from pond, filters, and output. The results of this study indicated that the use of combination of zeolite, charcoal and water spinach as componentof integrated filters can reduce ammonia throughout the research period. &nbsp

    73

    full texts

    73

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Sciscitatio (E-Journal)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇