Sciscitatio (E-Journal)
Not a member yet
73 research outputs found
Sort by
Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Binahong Terhadap Staphylococcus aureus dan Propionibacterium acnes Penyebab Jerawat
Jerawat merupakan salah satu masalah pada kulit yang disebabkan oleh peningkatan produksi sebum, pengelupasan keratinosit, inflamasi serta pertumbuhan bakteri. Masalah ini sering dialami oleh banyak orang dan berdampak pada penurunan kepercayaan diri, menimbulkan rasa tidak nyaman, serta berkurangnya interaksi sosial. Staphylococcus aureus dan Propionibacterium acnes merupakan bakteri yang sering menginfeksi jerawat. Pengobatan dengan antibiotik yang tidak tepat dapat menimbulkan resistensi bakteri penyebab jerawat. Tanaman binahong dimanfaatkan oleh masyarakat untuk pengobatan tradisional. Kandungan senyawa fitokimia yang ada pada daun binahong diduga memiliki aktivitas antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri dari ekstrak daun binahong terhadap Staphylococcus aureus dan Propionibacterium acnes penyebab jerawat. Daun binahong diekstrak dengan metode maserasi menggunakan etanol 70% dan dilakukan screening fitokimia. Uji antibakteri dilakukan dengan metode diffuse disc, kemudian dilanjutkan dengan metode micro-dilution untuk mengetahui Minimum Inhibitory Concentration (MIC) dan metode swab untuk mengetahui Minimum Bactericidal Concentration (MBC) terhadap bakteri target. Ekstrak etanol daun binahong memiliki kandungan flavonoid, alkaloid, saponin, dan tannin yang memiliki daya hambat terbaik pada konsentrasi 80% terhadap Staphylococcus aureus dan Propionibacterium acnes dengan masing-masing diameter zona hambat 14,66±0,57 mm (kuat) dan 11,66±0,57 mm (kuat). Nilai MIC terhadapStaphylococcus aureus sebesar 20% dan terhadap Propionibacterium acnes sebesar 5%. Nilai MBC terhadapStaphylococcus aureus sebesar 60% dan terhadap Propionibacterium acnes sebesar 5
Analisis Risiko Kesehatan Kromium Yang Terkandung Dalam Beras Dari Area Persawahan Kecamatan Pleret
Kegiatan industri penyamakan kulit sekitar daerah aliran Sungai Opak berpotensi meningkatkan pencemaran Sungai Opak akibat belum efektifnya pengolahan limbah cair yang berakhir pada pembuangan ke badan air. Logam kromium dalam bentuk kromium heksavalen yang terdapat dalam limbah cair industri penyamakan kulit dapat terakumulasi dalam tanaman padi yang ditanam di area persawahan yang memanfaatkan air Sungai Opak sebagai sumber irigasi, termasuk persawahan di Kecamatan Pleret. Kromium heksavalen yang terakumulasi dalam beras dapat menyebabkan gangguan kesehatan orang yang mengkonsumsi beras tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur kadar kromium heksavalen yang terdapat dalam beras yang dihasilkan dari area persawahan di Kecamatan Pleret, dan mempelajari risiko kesehatan yang diakibatkan pola konsumsi beras yang tercemar kromium heksavalen. Penelitian menggunakan 60 sampel beras yang dihasilkan dari persawahan di Kecamatan Pleret, Kabupaten Bantul yang mendapatkan aliran irigasi dari Sungai Opak. Analisis kandungan kromium heksavalen dalam sampel dilakukan dengan metode spektrofotometri. Hasil penelitian menunjukkan konsentrasi kromium heksavalen dalam beras berada pada kisaran 0,072-0,667 mg/kg dengan rerata konsentrasi 0,251 mg/kg. Laju asupan kromium di Kecamatan Pleret masih berada di bawah ambang batas berdasarkan standar US EPA. Tingkat risiko kesehatan non karsinogenik masih terbilang aman dengan nilai RQ < 1. Nilai Excess Cancer Risk (ECR) dalam penelitian ini menunjukkan pajanan kromium heksavalen berpotensi menjadi kasus kanker
Profil Cemaran Kromium dan Akumulasinya pada Ikan di Muara Sungai Opak Kabupaten Bantul
Sungai Opak merupakan salah satu sungai utama di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta yang berpotensi tercemar akibat aktivitas pembuangan limbah kegiatan pertanian dan industri penyamakan kulit yang berada di daerah aliran sungainya. Masuknya logam berat kromium yang terkandung dalam limbah ke badan air dapat memicu akumulasi kromium pada biota air. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari karakteristik kualitas air, keragaman ikan, sebaran akumulasi kromium, dan hubungan konsentrasi kromium dalam air dan sedimen dengan tingkat akumulasi kromium pada ikan di muara Sungai Opak. Penelitian dilakukan pada tiga stasiun sampling yaitu: bagian atas, tengah dan bawah muara Sungai Opak. Proses ekstraksi sampel air dilakukan dengan metode standar APHA/AWWA/WEF, sedangkan ekstraksi sampel padat (sedimen dan ikan) dilakukan dengan metode asam. Pencemar kromium ditemukan pada semua sampel ikan, air, dan sedimen. Perairan muara Sungai Opak telah tercemar oleh nitrat, fosfat dan kromium, sedangkan sedimen dan ikan di muara Sungai Opak telah tercemar oleh kromium. Sampel sedimen memiliki konsentrasi kromium paling tinggi dengan kisaran sebesar 1,140 – 4,328 mg/kg, diikuti sampel ikan dengan kisaran sebesar 0,108 – 0,919 mg/Kg dan terendah pada sampel air dengan kisaran sebesar 0,108 – 0,211 mg/L. Konsentrasi kromium pada air dan sedimen tidak berpengaruh secara signifikan terhadap akumulasi kromium pada ikan berdasarkan titik sampling. Akumulasi kandungan krom dalam 12 jenis ikan di muara Sungai Opak masih memenuhi standar baku mutu yang ditetapkan oleh Dirjen BPOM No. 03725/ B/ SK/ 89 sebesar 2,5 mg/kg. Perlu dilakukan penanganan lebih lanjut terkait bahaya akumulasi kromium dalam ikan yang dapat menimbulkan masalah kesehatan apabila terkonsumsi oleh manusia dalam jangka waktu yang lam
Variasi Konsentrasi Saccharomyces cerevisiae dalam Pembuatan Wine Buah Dilak (Limonia acidissima)
Buah Dilak (Limonia acidissima) digemari oleh masyarakat Nusa Tenggara Timur karena rasanya yang manis dan aromanya yang harum. Kulit buah Dilak juga dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai wadah untuk mengambil air. Karakteristik buah Dilak yang manis dengan aroma yang harum berpotensi digunakan sebagai bahan dasar fermentasi minuman beralkohol seperti wine. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh variasi konsentrasi inokulum Sacharomyces cerevisiae terhadap kualitas wine buah Dilak (L. acidissima). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimental untuk mengukur konsentrasi alkohol menggunakan vinometer, pengukuran pH, dan uji organoleptik wine hasil fermentasi buah Dilak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin tinggi konsentrasi S. cerevisiae yang digunakan dalam fermentasi maka semakin tinggi kadar alkohol yang terbentuk pada wine buah Dilak. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa alkohol yang terdapat pada wine buah Dilak berkisar antara 13,3%-23,3 % dengan nilai pH berkisar antara 3 - 4. Hasil uji organoleptik panelis terhadap wine buah Dilak berdasarkan parameter warna, rasa, dan aroma menunjukkan persentase kesukaan tertinggi pada wine yang dihasilkan dari perlakuan P2 dengan konsentrasi S.cerevisiae 2
Induksi Kalus Eksplan Daun Porang (Amorphophallus muelleri Blume) Menggunakan Kombinasi Air Kelapa dan IAA (Indole Acetic Acid)
Permintaan ekspor umbi Porang yang relatif tinggi tidak diimbangi dengan ketersediaan bibit tanaman. Kultur in vitro menjadi salah satu upaya perbanyakan yang efektif untuk menghasilkan bibit dengan sifat seragam secara cepat dalam jumlah yang tidak terbatas. Penambahan IAA dan air kelapa merupakan faktor penting untuk menginduksi kalus Porang. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi IAA dan air kelapa serta kombinasinya terhadap respons pembentukan kalus berdasarkan waktu munculnya kalus, persentase pertumbuhan kalus dan morfologi kalus meliputi tekstur dan warna. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap Faktorial yaitu konsentrasi IAA (0; 0,5; 1,5 ; dan 2) ppm dan air kelapa (0; 5; 10; dan 15)%(v/v). Eksplan yang digunakan adalah bagian daun yang dikultur dalam medium MS selama 6 minggu. Hasil pengamatan menunjukkan semua perlakuan IAA dan air kelapa menghasilkan respons pertumbuhan kalus sebesar 100%. Perlakuan 5 ppm IAA dan 10% air kelapa berpengaruh terhadap kecepatan munculnya kalus yaitu 15±2.83 HST. Dalam hal warna dan tekstur kalus, penambahan air kelapa pada konsentrasi (0, 5 dan 10) % dengan konsentrasi IAA lebih rendah (0 dan 0,5) ppm menghasilkan warna kalus putih kekuningan dengan tekstur kompak. Informasi yang diperoleh dari penelitian ini diharapkan dapat mendukung upaya perbanyakan tanaman Porang secara in vitro melalui kultur kalus
Aktivitas Antibakteri Metabolit Rhizopus sp. Asal Usar Daun Jati terhadap Salmonella typhi
Kapang Rhizopus sp. berperan sebagai inokulum utama dalam fermentasi tempe. Inokulum dalam fermentasi tempe juga dapat diperoleh secara alami dari usar daun jati. Rhizopus sp. yang tumbuh pada kedelai akan menghasilkan metabolit yang telah dikaji sebagai antidiare yang disebabkan bakteri Salmonella typhi sebagai penyebab demam tifoid yang masih menjadi penyakit endemis di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari aktivitas antibakteri metabolit Rhizopus sp. asal usar daun jati terhadap S. typhi. Metabolit Rhizopus sp. diproduksi pada media Sabouraud Dextrose Broth (SDB) selama 5 hari. Uji antibakteri metabolit mengunakan metode difusi kertas. Isolasi dari usar daun jati memperoleh satu isolat kapang yang teridentifikasi Rhizopus sp. Hasil uji menunjukkan bahwa crude metabolit Rhizopus sp. mempunyai aktivitas antibakteri kategori sedang terhadap S. typhi
Pengaruh Pemberian Pakan Kombinasi Nannochloropsis sp, Saccharomyces cerevisiae dan Tepung Ikan Tongkol Terhadap Pertumbuhan Populasi Branchionus plicatili
Rotifera (Branchionus plicatilis) merupakan zooplankton yang dapat dijadikan sebagai pakan alami larva ikan. Budidaya pakan alami ikan seperti rotifera dapat dilakukan bersamaan dengan budidaya ikan dan memberikan keuntungan dalam pengurangan biaya pakan ikan. Upaya pengembangan budidaya rotifera bisa didukung oleh studi pemberian pakan yang memacu pertumbuhan populasi rotifera. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh pemberian pakan berupa Nannochloropsis sp., Saccharomyces cerevisiae, dan tepung ikan terhadap pertumbuhan populasi B. plicatilis, salah satu spesies dari filum rotifera. Brachionus plicatilis dikulturkan dan diberi perlakuan pakan tunggal Nannochloropsis sp., S. cerevisiae, dan tepung ikan dan kombinasinya. Parameter pertumbuhan yang diamati adalah kepadatan populasi B. plicatilis dan laju pertumbuhannya, sedangkan parameter lingkungan yang diamati terdiri dari suhu, kadar amonia, salinitas, dan pH. Data dianalisis dengan one-wayAnova tingkat kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan pakan kombinasi memberikan hasil lebih baik dibandingkan pakan tunggal untuk pertumbuhan populasi B. plicatilis. Kombinasi pakan terbaik bagi pertumbuhan B. plicatilis adalah kombinasi pakan 20 ml Nannochloropsis sp. + 0,25 gr ragi Saccharomyces cerevisiae + 0,75 gr tepung ikan yang menghasilkan kepadatan tertinggi pada hari ke -4 sebanyak 126 ind/ml. Analisis statistik menunjukan nilai rerata kepadatan populasi berbeda nyata untuk tiap pemberian pakan (p<0,05). Meningkatnya kepadatan populasi berelasi dengan perubahan nilai pH media pemeliharaan
Etnobotani Tumbuhan Liar di Bawah Naungan Tegakan Kopi (Coffea sp.) pada Perkebunan Kopi di Dusun Krajan, Desa Jambuwer, Kecamatan Kromengan, Kabupaten Malang
Dalam usaha budidaya tanaman kopi banyak kendala yang harus dialami oleh petani kopi yaitu adanya tumbuhan liar pada area perkebunan. Tampaknya petani kopi belum mengetahui manfaat tumbuhan liar, sehingga dianggap sebagai tumbuhan yang merugikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenisjenis dan manfaat tumbuhan liar yang tumbuh di bawah tegakan kopi. Penelitian dilakukan di Dusun Krajan, Desa Jambuwer, Kecamatan Kromengan, Kabupaten Malang pada bulan Maret sampai Juli 2021. Metode penelitian secara deskriptif dengan teknik pendekatan etnobotani aspek pemanfaatan melalui wawancara secara mendalam. Penentuan responden menggunakan metode purposive sampling. Pengambilan tumbuhan liar secara langsung di bawah tegakan pohon kopi. Data jawaban responden terhadap pemanfaatan dan nama lokal tumbuhan liar dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan 13 jenis tumbuhan liar yang tersebar dalam 10 familia dan 2 divisio (Spermatophyta dan Pteridophyta). Tumbuhan liar yang ditemukan dimanfaatkan sebagai pupuk organik dan sayuran (15,4%), sebagai pupuk organik saja (8%), dan tumbuhan liar yang tidak diketahui manfaatnnya ( 0%) berjumlah 5 jenis
Kualitas Mata Air Lahurus Sebagai Mata Air Tradisional di Desa Lahurus Kabupaten Belu
Kehidupan manusia sangat bergantung pada sumber daya air yang banyak dimanfaatkan untuk kebutuhan rumah tangga, pertanian, dan industri. Salah satu sumber penting pemenuhan kebutuhan air bagi manusia adalah mata air. Konsumsi air minum yang bersumber dari mata air wajib mempertimbangkan kualitas air yang meliputi parameter fisika, kimia dan biologis agar penggunaannya bermanfaat bagi kesehatan manusia. Masyarakat desa Fatulotu memanfaatkan mata air Lahurus untuk memenuhi kebutuhan air minum, mandi, cuci, dan rekreasi. Untuk penggunaanya sebagai air minum, mata air Lahurus belum memiliki data kualitas air terkait beberapa parameter kunci baik fisika, kimia, dan biologi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kualitas air di mata air Lahurus berdasarkan parameter suhu, TSS, pH, BOD, COD, dan fecal coliform. Data diambil dengan peralatan standar untuk kegiatan sampling. Titik lokasi sampling berada di bagian atas dan bawah lokasi titik keluar mata air Lahurus. Data diukur secara in situ untuk parameter suhu dan ex situ untuk parameter TSS, pH, BOD, COD, dan fecal coliform yang dilakukan di laboratorium Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Belu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai parameter air pada titik sampling di bagian atas mata air meliputi suhu 21,5oC, TSS 11,6 mg/L, pH 5,6, BOD 0,99 mg/L, COD 1,574 mg/L, dan fecal coliform 92. Nilai parameter air pada titik sampling bagian bawah mata air meliputi suhu 21,5oC, TSS 10 mg/L, pH 5,47, BOD 0,62 mg/L, COD 0,776 mg/L dan fecal coliform 61. Kualitas air pada mata air Lahurus dapat dikategorikan sebagai mata air yang relatif layak dan
Elisitasi Flavonoid menggunakan Kitosan pada Kultur Kalus Ginseng Jawa (Talinum paniculatum Gaertn.)
Ginseng Jawa (Talinum paniculatum Gaertn.) sering dimanfaatkan dalam pengobatan herbal karena mengandung flavonoid yang berkhasiat sebagai antivirus, antiinflamasi, kardioprotektif, antidiabetes, antikanker,dan antioksidan. Kultur in vitro adalah teknik yang dapat meningkatkan produksi metabolit sekunder melalui elisitasi. Elisitasi metabolit sekunder dengan menggunakan kitosan dapat digunakan untuk menghasilkan flavonoid dan bekerja langsung pada enzim kunci penghasil flavonoid. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi kitosan dan durasi elisitasi terhadap biomassa kalus dan akumulasi flavonoid. Inisiasi kalus T. paniculatum dilakukan menggunakan eksplan daun yang diinokulasi dalam media MS dengan penambahan 3 mg/L kinetin dan 2 mgL 2,4-D. Kalus berusia 58 hari (fase early stasioner) dielisitasi dengan variasi konsentrasi kitosan 0, 50, 150, dan 200 ppm dan durasi elisitasi 0, 24, 48, dan 96 jam. Ekstraksi kalus menggunakan metanol 96% dilanjutkan analisis secara kualitatif dan semi kuantitatif menggunakan KLT. Peningkatan konsentrasi dan durasi elisitasi kitosan secara umum menyebabkan penurunan biomassa kalus (0,051-0,066 g/g BK) dibandingkan kontrol (0,067 g/g BK). Selain itu, peningkatan konsentrasi dan durasi elisitasi kitosan berpengaruh terhadap peningkatan akumulasi flavonoid berdasarkan luas noda KLT (0,082 - 0,1178) cm2 dibandingkan kontrol (0,0785 cm2). Konsentrasi dan durasi elisitasi kitosan yang optimal meningkatkan biomassa kalus (0,068 g/g BK) adalah kitosan konsentrasi 150 ppm selama 24 jam (K2W1) sedangkan akumulasi flavonoid optimal (0,1178 cm2) dan intensitas warna noda KLT bernilai 5 (kuning kehijauan gelap) pada perlakuan kitosan 150 ppm selama 48 jam (K2W2)