e-Journal Institut PTIQ Jakarta
Not a member yet
295 research outputs found
Sort by
QUNUT DALAM KACAMATA MUHAMMADIYAH: STUDI PEMAHAMAN HADIS DALAM FATWA MAJELIS TARJIH
Artikel ini bertujuan untuk meneliti pemahaman hadis yang digunakan sebagai argument fatwa Majelis Tarjih yang tidak membenarkan pengkhususan membaca qunut dalam shalat shubuh. Putusan ini tidak sepaham dengan sebagian mazhab di Indonesia, yakni mazhab Imam Syafi’i yang juga menggunakan hadis sebagai dasar hukum. Artikel ini ditulis menggunakan metode analisis diksriptis terhadap pemahaman hadis yang digunakan oleh Majelis Tarjih. Sebagai hasil, didapati kesimpulan bahwa hadis yang dijadikan landasan hukum oleh Majelis Tarjih Muhammadiyah benar-benar sahih. Hadis tersebut secara terang tidak melarang membaca qunut dalam shalat shubuh. Namun pelarangan atau tidak membenarkan adanya qunut dalam shalat shubuh merupakan suatu pemahaman Majelis Tarjih Muhammadiyah yang berlandaskan pada bahwasannya jika ada suatu amalan yang diperselisihkan hukumnya, maka tidak dibenarkan untuk mengamalkannya. Sementara itu, didapatkan bahwasannya dalil yang dikemukakan oleh Majelis Tarjih Muhammadiyah merupakan suatu dalil yang umum tentang utamanya shalat dengan membaca qunut. Dalil ini mestinya memperkuat dalil yang disampaikan oleh Syafi’i sebagaimana dipaparkan dalam hadis sebelumnya bahwasannya membaca qunut dalam shalat shubuh hukumnya adalah sunnah
TELAAH SOSIOLOGI PENGETAHUAN TERHADAP KONTEKS PEWAHYUANAL-QUR’AN DAN PENGILHAMAN BIBEL
Tulisan ini membahas tentang kronologi pewahyuan Al-Qur’an dan pengilhaman Bible. Uniknya, permasalahan ini selalu menjadi menarik bagi para cendekiawan muslim dalam setiap kurun waktu meskipun isu ini sudah terbilang lama namun tidak pernah berhenti untuk diperbincangkan. Maka, dalam penelitian ini setidaknya ada tiga hal yang menjadi pertanyaan pokok, Pertama, bagaimana proses pewahyuan Al-Qur’an?, kedua, bagaimana proses pengilhaman Bible?, ketiga, bagaimana pengaruh proses pewahyuan Al-Qur’an dan Bible terhadap masing-masing pemeluknya?. Artikel ini hendak membantah opini Noldeke yang mengkritik kesejarahan Al-Qur’an yang menurutnya telah terjadi pendistorsian secara fatal. Artikel ini mengembangkan teori Wilhelm Schmidt bahwa semua agama berasal dari monoteisme. Teori yang digunakan dalam riset ini adalah sosiologi pengetahuan Peter L Berger yang berusaha mengungkap makna yang dirasakan oleh komunitas muslim dan nasrani saat turunnya wahyu. Artikel ini berkesimpulan bahwa kronologi turunnya Al-Qur’an dan Bible yang sudah dijelaskan di atas telah memberikan banyak fakta bahwa Al-Qur’an dan Bible turun dalam kurun waktu dan kondisi sosial yang jauh berbeda. Secara metodis, pewahyuan Al-Qur’an mengalami dua fase, yaitu metafisik dan alam fisik. Sedangkan Bible termasuk dalam metode organis yakni Tuhan Yesus meniupkan Roh Kudus kepada para manusia pilihannya, misal Paulus dan Markus, untuk menyampaikan pesan-pesannya
Pemimpin Non-Muslim Berdasarkan Sudut Pandang Al-Qur’an dan Hadis: Tinjauan AtasPandangan Ja’far Umar Thalib
Artikel ini bertujuan untuk mengkaji tentang salah satu sosok Islam fundamental di Indonesia, Ja’far Umar Thalib. Thalib merupakan salah satu aktor muslim di Indonesia yang dikenal dengan rekam jejaknya dengan gerakan manaj salaf dan juga merupakan aktor yang mendirikan Laskar Jihad yang terlibat konflik di Ambon, Maluku pada tahun 1999. Artikel ini fokus untuk mengkaji pemikiran Thalib dalam memandang kepemimpinan suatu pemerintahan dan pemimpin non- muslim. Artikel ini menggunakan desain penelitian kualitatif dengan menggunakan model penelitian kritik tokoh yang bersifat etnografi. Artikel ini menemukan bahwa Thalib menempatkan kepemimpinan sebuah pemerintahan sebagai bagian dari syari’at Islam dalam bidang as-siya>sah asy-syar’iyyah. Oleh sebab itu, dalam pandangan Thalib, seorang pemimpin pemerintahan harus berpegang kepada Al-Qur’an dan hadis. Selain itu, dengan menggunakan QS. al-Maidah ayat 51, Thalib menegaskan bahwa orang-orang Islam dilarang setia dan memiliki loyalitas dengan orang kafir baik dari kalangan Yahudi maupun Kristen, lebih-lebih dalam konteks memilih kepemimpinan
Manusia dan Isu Ekologi: Tinjauan Tafsir Al-Ibriz
Isu ekologi menjadi penting untuk dibahas, melihat kondisi saat ini yang sangat memprihatinkan. Penelitian ini bertujuan untuk membahas bagaimana relasi antara manusia dengan lingkungannya, polusi udara dan suhu udara ekstrim sebagai sebuah isu ekologi dilihat dari sudut pandang tafsir. Untuk menjawab hal tersebut, penelitian ini menggunakan metode kepustakaan (library research). Data-data diambil dari berbagai sumber teks kemudian dianalisis dengan teknik analisis isi. Adapun hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat relasi antara manusia dengan ekologi dalam beberapa hal yakni pertama, manusia sebagai pengelola lingkungan dan sumber daya alam. Kedua, manusia sebagai subjek yang diberi amanah untuk merawat dan menjaga kelestarian lingkungan. Ketiga, Bumi merupakan tempat tinggal dan tempat untuk beribadah bagi manusia kepada Tuhannya. Keempat, Bumi dan seisinya merupakan objek agar manusia mau berpikir tentang tanda-tanda kebesaran-Nya. Kemudian, polusi udara dan suhu udara ekstrim merupakan salah satu bentuk lingkungan yang tidak sehat bagi manusia. Beberapa ayat Al-Qur’an menyindir manusia terkait ketidakmauannya untuk berpikir dan merenungkan terkait ciptaan-ciptaan-Nya sehingga mereka tidak mau memperhatikan kondisi ekologi, menjaga, dan merawatnya. Padahal, alam raya diciptakan sebagai lingkungan yang nyaman bagi manusia
Preferensi Konsumen dalam Pembelian Produk yang Dipasarkan di Supermarket TIP TOP Cabang Ciputat
The halal label is the output of LPPOM MUI for products that have passed the halal certification process. The study analyzes the effect of product halal labels on purchasing decisions and to find out how much influence it has on consumers of the TIP TOP Supermarket Ciputat. The research method uses descriptive correlation with a quantitative approach. The findings of this study state that the halal label on the product has a significant positive effect on consumer purchasing decisions at the TIP TOP Ciputat Supermarket, with a correlation significance value of 0.420 and a coefficient of determination of 17.64%. While the other 82.36% is the influence of other factors
MOHAMMED ARKOUN’S THOUGHT ON METHODOLOGY OF INTERPRETING THE QUR’AN
This article explores Arkoun’s thought about Quran and its Interpretation Methodology. In Arkoun’s view, revelation as guidance source for mankind must be treaten not only as sacred thing, but also taken into account that it emerges for mankind benefits. Revelation manifested into muṣḥāf, for Arkoun, must be studied by modern approaches using multidiscipline sciences. So that, we can unravel message substance of revelation maximally. But the most important thing is the unveiling of revelation meaning may not be followed or framed by ideological and political interest or other profane interests, which will reduce revelation become a kind of justification or legitimation. What Arkoun proposes in his interpretation methodology includes approaches as follow: first, Linguistic-Semiotic and Literary Interpretation. By these approaches, he wants to explore the meaning of Quran by explaining every word and syntax arrangement of Quran. Quran consists of sign and symbols that can be analysed semiotically to reach its deepest meaning, and far from ideological point of view. Second, Historical-Antropological Interpretation. This approach acquaints Quran as part of historical life. Then, to understand well the Quran, the interpreter should understand that Quran includes many stories behind the descent. Arkoun recognizes that this method obviously is to challenge all sacralizing and transcendentalizing interpretations produced by traditional theological reasoning. Third, Theological-Religious Interpretation. This used as last alternative to read Quran. Arkoun points out to two essential characteristics of this approach. First, any type of belief-oriented reading falls under the “dogmatic enclosure”. Second, the early monumental works of exegesis contributed to the historical development of “the living tradition”
MEMBELA INTEGRITAS SAHABATTAFSIR KOMPARATIF KISAH TSA’LABAH IBN HATIB DALAM QS. AL-TAUBAH:75-78
Tersebar sebuah kisah populer di masyarakat Islam tentang Tsa’labah ibn Hatib, seorang sahabat Nabi yang menjadi kikir dan munafik saat doanya dikabulkan Allah. Tsa’labah dituduh sebagai sebab turunnya ayat 75 hingga 78 Surah al-Taubah. Kisah ini kerap dimuat di kitab-kitab tafsir dan beberapa kitab hadis. Banyak penulis tidak menanggapi sosok Tsa’labah, melainkan hanya meneruskan riwayat yang terlanjur menyebar. Padahal sahabat Nabi adalah generasi yang dipuji langsung oleh Allah dan rasul Nya. Serta sosok Tsa’labah memiliki nama baik sebagai pejuang Perang Badr, yang telah dijamin surga oleh Nabi. Artikel singkat ini mencoba mengkritisi diamnya para penulis riwayat dan mengkaji kisah ini dari segi transmisi hikayatnya. Ternyata ditemukan fakta bahwa kisah ini tidaklah benar. Substansi tuduhan kisah ini tidak tepat ditujukan pada Tsa’labah, melainkan membicarakan status munafik secara keseluruhan. Selain itu, analisis ini mencoba menyingkap secara sistematis status sahabat sebagai manusia biasa dan batasan keterjagaan kredibilitas mereka di hadapan syariat. Artikel ini juga berusaha membantah pendapat Ouzon yang menempatkan para sahabat perawi hadis sebagai manusia biasa yang bisa saja berbuat dosa
Urgensi Tumbuh Kembang Anak terhadap Pembentukan Karakter
The phase of development of the child\u27s age affects the formation of character. Age 0-4 years cognitive development reaches 50%, this age is called the golden age. Ages 4-8 years by 30% and ages 9-17 years 20%. What is seen, heard and learned will take root and shape the child\u27s perception of life experienced. If a child of this age is raised with love, appreciation and empathy, then what is experienced will be engraved and rooted into character. But if what is seen, experienced and felt something painful and unsafe, it will form a character who is easily discouraged, unstable and stubborn. For that the role of the closest person, namely parents, contributes to shaping the character of the chil
REVIEW PEMBATALAN PERKAWINAN YANG DISEBABKAN PENIPUAN PADA PENGADILAN AGAMA: Studi Kasus pada Pengadilan Agama Bandung
Perkawinan sebagai ikatan yang kokoh antara dua anak manusia untuk mewujudkan keluarga yang sakinah, mawaddah wa rahmah. Namun, bila perkawinan yang telah dilaksanakan tidak memenuhi syarat dan rukun perkawinan maka tentu ini akan batal demi hukum. Penelitian dengan pendekatan yuridis empiris integrasi yuridis sosiologis ini bertujuan menganalisis secara yuridis faktor pembatalan pernikahan yang disebabkan adanya penipuan, kemudian menganalisis faktor poligami yang disembunyikan termasuk kategori penipuan dan menganalisis dasar keputusan hakim membatalkan perkawinan yang disebabkan penipuan. Penelitian ini sampai pada kesimpulan: Pertama, faktor penyebab pembatalan pernikahan: hubungan mahram, pernikahan saat belum tamyiz, penipuan dari segi mahar dan pihak yang melangsungkan pernikahan, murtad, cacat fisik, suami terputus sumber nafkah. Kedua, penipuan identitas dalam Islam merupakan upaya kebohongan untuk menyembunyikan kekurangan dalam diri seseorang. Ketiga, hakim pengadilan agama Bandung melakukan penyelesaian perkara pembatalan perkawinan yang disebabkan penipuan identitas dengan langkah: (1) pendaftaran perkara ke Pengadilan Agama setempat; (2) hakim melakukan panggilan untuk persidangan dengan terlebih dahulu mengusahakan upaya perdamaian kepada pihak yang berperkara; (3) hakim memutus perkara dengan berlandaskan pasal 4 dan pasal 5 Undang-undang Nomor 1 tahun 1975, pasal 40 dan pasal 41 Peraturan Pemerintah Nomor 9 tahun 1975
Implementasi Hermeneutika Gracia dalam Studi Al-Qur’an dari PerspektifSarjana Indonesia
Persoalan jarak ruang dan waktu antara pengarang dan pembaca yang menjadi kunci filsafat hermeneutika seringkali tidak dibaca dengan baik oleh pemerhatinya. Dari situlah pemikiran Gracia lahir. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan detail hermeneutika Gracia serta upaya para sarjana muslim Indonesia untuk menerapkan teori interpretasi Gracia dalam mengkaji Al-Qur’an. Berangkat dengan pendekatan kualitatif, dari penelitian pustaka ini dipahami bahwa hermeneutika moderat Gracia yang menekankan pada keseimbangan antara pencarian makna asal teks dan peran pembaca dalam penafsiran bisa diaplikasikan pada kedua kajian al-Qur’an dan hadis. Penggunaan teori fungsi interpretasi Gracia secara tepat dapat membantu memahami Al-Qur’an secara inklusif dan dapat berjalan harmonis dengan kaidah-kaidah penafsiran yang telah mapan dalam kajian tafsir Al-Qur’an