e-Journal Institut PTIQ Jakarta
Not a member yet
    295 research outputs found

    PERAN IMAM MALIK DAN AL-SYAFII DALAM MEMBANGUN FIQH AL-H{ADI>S|

    No full text
    Fiqh al-h}adis\ kurang begitu diperhatikan peneliti modern. Ia belum banyak dibahas dalam bentuk penelitian dan karya tersendiri berupa buku. Padahal ia merupakan metodologi istinbat yang aplikatif dari khazanah keilmuan ulama klasik. Apalagi fakta menunjukkan bahwa kebutuhan umat untuk memahami makna dan kandungan hadis semakin tinggi; mengingat peristiwa hukum yang memerlukan dalil terus bertambah dan pelik. Tuntutan agar hadis selalu berdialog dengan konteks semakin mendesak. Fiqh al-h}adi>s\ mesti hadir menawarkan alternatif untuk mengurai gejala tersebut dengan menunjukkan sisinya yang s}a>lih}un likulli zama>n wa maka>n. Secara metodologi kerja ilmiah fiqh al-h}adi>s\ ini lebih mendalam daripada syarah hadis. Jika syarah hadis hanya sekadar membantu pembaca memahami redaksi hadis lebih lanjut maka Fiqh al-h}adi>s\ lebih dari itu, yakni mengeluarkan hikmah, hukum dan kedudukan hadis dilihat dari berbagai sisi, baik sanad, matan atau yang lainnya bahkan kontekstualisasinya di zaman sekarang. Melalui metode kualitatif, penelitian ini mencoba melacak eksistensi Fiqh al-h}adi>s\ dari kitab-kitab syarah hadis juga dari Riwayat-riwayat yang tepercaya. Hasil kajian ini berkesimpulan bahwa dalam konteks Fiqhal-h}adi>s\ memiliki geneologi yang panjang dan dapat dilacak dengan baik

    REINTERPRETASI HADIST NABI TENTANG WANITA SEBAGAISUMBER FITNAH PERSPEKTIF TEORI GENERATIF TRANSFORMATIFNOAM CHOMSKY

    No full text
    Pentingnya memahami hadis secara kompleks menunjukkan dinamisasi teks yang memiliki spirit pada kemaslahatan. Artikel ini bertujuan melakukan reinterpretasi terhadap salah satu hadis yang secara tekstual seringkali melegalisasi eksistensi perempuan sebagai sumber fitnah.Upaya ini penting dilakukan mengingat posisi hadist sebagai sumber kedua (the second resource) dalam pondasi hukum Islam. Keotentikan serta kevalidan suatu hadist sangat penting untuk diteliti namun memahaminya dengan pemahaman yang benar adalah suatu yangsangat penting untuk mengetahui maksud dari suatu redaksi hadist. Kajian ini menggunakan teori generatif-transformatif yang dipelopori oleh Noam Chomsky yang menekankan untuk melihat pada susunan bahasa yang dibagi menjadi dua: pertama, deep structure atau struktur dalam dan kedua surface structure atau struktur luar. Artikel ini berkesimpulan bahwa kedua hadis ini memiliki kesamaan dan kemiripan akan tetapi memilki redaksi yang berbeda, baik berupa Expansion maupun Permutation. Kemudian As-Subki dalam memaknai hadis wanita adalah fitnah lebih menggunakan pendekatan deep structure. Sedangkan Ibnu Hajar dan Al-Qosthollani lebih menggunakan pendekatan surface structure, dan Al-Qordhowi lebih menggunakan deep structure dan surface structure

    Pemikiran Hadits KH Hasyim Asy\u27ari Terhadap Penyimpangan Akidah diTanah Jawa (Tela\u27ah Atas Kitab Risa>lah Ahlusunnah wal Jama>\u27ah)

    No full text
    Islam adalah agama yang lurus, karena dia berlandaskan wahyu baik wahyu dari Allah, maupun wahyu yang disebut sebagai hadits nabi. Namun tidak sedikit orang yang salah dalam memahami makna ajaran Islam, karena berangkat dari ketidaktahuan dan taqlid buta. Di Indonesia sendiri sejak zaman kolonial Belanda sudah banyak aliran-aliran Islam yang di anggap sesat menyesatkan. Penelitian ini dilatabelakangi oleh maraknya aliran-aliran menyimpang di Indonesia, khususnya di zaman pra kemerdekaan. Selain itu, isu tentang aliran di Indonesia akan selalu meanarik perhatian untuk diteliti. Oleh karenanya peneliti tertarik mengkaji tema ini lebih dalam lagi. Penelitian ini adalah penelitian kepustakaan berupa model kajian tematik yang berfokus pada hadits dalam kitab Risa>lah Ahlusunnah wal Jama>’ah karya KH. Hasyim Asy’ari dengan pembahasan khusus penyimpangan akidah di tanah Jawa. Kesimpulan artikel menunjukan bahwa akidah-akidah menyimpang di masa kolonial sangat marak sekali. Adapun beberapa penyimpangan-penyimpangan aliran di tanah Jawa pada saat itu adalah munculnya sekte Wahabi, Syi’ah, Ibahiyun, Reinkarnasi dan paham H{ulu>l/Ittih}a>d. Kemudian dalam tinjauan maqa>s}i>d al-syari>’ah bahwa akidah Ahlussunnah wal Jama’ah adalah akidah yang lurus dan telah diletakan beberapa kaidah yang baik dan benar dalam beragama. Oleh karena itu aliran-aliran menyimpang tersebut bukanlah ajaran Islam yang lurus, akan tetapi hanya membuat nilai Islam kotor

    COUNSELING AS AN EFFORT TO EMPOWER THE SASAK COMMUNITY IN UNDERSTANDING RELIGION AND CULTURAL DIFFERENCES

    No full text
    Counseling here is an effort to bring about people\u27s understanding of the differences they face, be it religious or cultural differences. The Sasak people have various forms of religion and culture, so this is their characteristic from other communities, especially in Lombok. With these differences in religion and culture, counseling here has a very significant empowering role in providing understanding to the community so as to foster an attitude of respect for differences. The research method used, apart from using observation methods, also includes library research by reviewing previous research literature and analyzing contemporary phenomena. Data collection also uses searching for writings that examine people\u27s understanding of religious and cultural differences, whether from journals, books or other media. The research results show that the Sasak people who use this counseling have a significant role in providing understanding to the community about differences. Therefore, the Sasak community emphasizes counseling actions by referring to religious and cultural figures. These figures certainly have extensive knowledge and strong power or influence as figures in society, so they play an important role in providing understanding to the Sasak people about religious and cultural differences in everyday life. These figures act because they are in line with their agenda in providing awareness to society in understanding differences and maintaining society so that they live in harmony as a characteristic of Indonesian society which always wants to live united in harmony and harmony even though they are different and divers

    Simply Paradigm of Da’wah Character In Facing Neurotechnology Era

    Full text link
    Since year 569 M, da’wah character has been organized around the exchange paradigm. Da’wah character for postindependence period, was faced with the life of Islam history which had been confessed as  a  cultural  power.  The concepts apply to all forms of exchange, as Al-Qur’an is compatible to   all centenaries and places. Whether it is communicated by speaking efforts    (bi al-lisan), writing (bi al-qalam), or by doing (bi al-hal). Da’wah character paradigm evolved from a verbal-conventional oriented view, physical efforts, and to expand to the highest network level of information technology system called neurotechnology. This paper use a literatur studies from the references that relevances with this theme.  Theoretically, this article is  developing of a three-tiered discourses of the emerging field of da’wah characters are explored - its sub phenomenon (Muslim sensory models), its phenomenon (da’wah character networks), and its super phenomenon (sustainability and development). The result of this article that consequently the relational theories have come to the fore. But even as the field struggles to grasp its new fields of explanation, there is a paradigm shift happening at its boundaries. The shift significantly integrates the da’wah character worldview by the theoretical tools and methodologies in frame syummuliyah and ‘alamiyah and based on  Al-Qur’an and hadist (rabbaniyah), absolutly.&nbsp

    Dakwah dalam Budaya Nu Ham Tua’ di Amarasi NTT

    Full text link
    Methods and discussing Islamic da\u27wah in Indonesia are increasingly diverse and always interesting to study, because da\u27wah besides implementing Muslims in the implication of God\u27s messages to His servants is also a deedification or concept that develops the development of the times. However, this research is more interested in traditional and conventional da\u27wah research carried out with heredity (inheritance) from the founder for his successors, such as in NTT Province especially in the Amarasi Kupang community, as the Da\u27wah Old Ham ". Therefore, the purpose of this study is to discuss the culture of propaganda in Nu Ham Tua \u27in Amarasi, NTT through the discovery of Communication Ethnography. Regarding the short definition, Communication Ethnography is a temporary theory for exporting and describing certain values, cultures, customs, communities through communication (verbal and verbal) through the principle of SPEAKING. Selected speakers are leaders, members and cultural communities, Nu Ham Tua, participants and interviews, and data as validity. The results of the study describe the culture of Nu Ham Tua \u27discussing the typical and very thick blend of Timorese (indigenous) and Arabic (as immigrant tribe) cultures, seen in instruments (verbal using native language, Amarasi and others combined with Arabic and nonverbal it looks like Arabic culture (embracing each other, kissing a muhrim friend when meeting), and mutual cooperation is also a deliberation that accepts the indigenous culture of Indonesia. So, the Nu Ham Tua \u27genre can be called Da\u27wah based on local wisdom

    THE ROLE OF BEANA HOME QUR\u27AN IN FULFILLING THE NEEDS OF LEARNING TO READ THE QUR\u27AN OF THE MALAYSIAN MUSLIM COMMUNITY

    Full text link
    This study focuses on the role of BEANA Home Qur\u27an for the Muslim Community in Malaysia with qualitative methodology. Through in-depth interviews and direct observation to the BEANA Home Qur\u27an Institution in Malaysia, this study explores how BEANA Home Qur\u27an meets the needs of the Malaysian Muslim Community to be able to read and understand the Qur\u27an well and quickly. The findings of the study indicate that, First, the BEANA Home Qur\u27an Institution plays a role in meeting the needs of the Malaysian Muslim community in reading and memorizing the Qur\u27an by providing Qur\u27an teachers and the freedom for them to choose Qur\u27an teachers with a schedule of learning activities according to their wishes. Second, improving the welfare and nobility of Qur\u27an teachers. Third, preparing Islamic Civilization in Malaysia through families that are close to the Qur\u27an, with programs and activities with students and their families. Fourth, improving the competence of Qur\u27an teachers and Fifth, preparing to face challenges in the Global World in the future. This study confirms the significance of the BEANA Home Qur\u27an institution in providing easy facilities and techniques for the Malaysian Muslim Community in learning to read and understand the Qur\u27an. The institution continues to grow with an increasing number of students of 700 people from various regions throughout Malaysia and 200 teachers of the Qur\u27an

    PERNIKAHAN BEDA AGAMA PERSPEKTIF AL-QUR’AN(ANALISIS PEMIKIRAN BUYA HAMKA DALAM TAFSIR AL-AZHAR)

    Full text link
    Allah memberikan jalan kepada manusia untuk menjaga kehormatan serta martabatnya dengan jalan pernikahan. Pernikahan beda agama tak jarang menimbulkan gejolak dan reaksi keras di kalangan masyarakat. Masing-masing pihak memiliki argumen logis yang berasal dari penafsiran dalil-dalil Islam tentang pernikahan beda agama. Penelitian ini ingin menjawab bagaimana pernikahan beda agama dalam perspektif Al-Qur’an Analisis Pemikiran Buya Hamka dalam tafsir Al-Azhar. Alasan penulis memilih tafsir Al-Azhar karya Buya Hamka adalah karena tafsir Al-Azhar mampu menampilkan sosio-budaya dan sosio-politik pada saatpenulisannya. Jenis Penelitian ini adalah library research dengan metode yang digunakan adalah studi tokoh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Buya Hamka mengharamkan pernikahan muslim dengan orang musyrik baik laki-laki maupun perempuan berdasarkan surat Al-Baqarah ayat 221. Musyrik menurut Buya Hamka adalah musyrik secara umum tanpa terkecuali. Selanjutnya dalam surat Al-Maidah ayat 5 Buya Hamka membolehkan nikah beda agama antara pria muslim dan wanita ahli kitab. Ahli kitab yang merdeka dan wanita baik-baik. Ahli kitab yang dimaksud hanya Yahudi dan Nasrani. Buya Hamka cenderung mengedepankankan bahwa seorang mukmin harus kuat dan kokoh imannya jika akan menikah dengan ahli kitab. Implikasi dari pemikiran Buya Hamka menjadi salah satu sumbangan bagi produk hukum di Indonesia terkhusus tentang pelarangan nikah beda agama pada Fatwa MUI tahun 1980

    PENGARUH TAFSIR AL-TAHRIR WA AL-TANWIR DALAM TAFSIR AL MISBAH PADASURAT LUQMAN AYAT 14 DAN AL AHZAB AYAT 59

    Full text link
    Nurul Bajan merupakan salah satu kitab tafsir yang lahir dari tanah Sunda karya KH, Muhammad Romli. Dalam penulisan tafsirnya masih menggunakan ejaan lama, sehingga memerlukan penyesuaian dalam membaca tafsirmya. Sudah banyak penelitian yang menganalisis isi dari penafsiran KH. Muhammad Romli dengan berbagai tema yang dikaji. Jurnal ini bertunjuan untuk meneliti keterpengaruhan Tafsir Al-Mannar dalam Tafsir Nurul Bajan. Adapun langkah penilitian ialah dengan melacak teks Tafsir Nurul Bajan, kemudian melakukan studi komperatif dengan Tafsir Al-Mannar yang diduga menjadi rujukan dalam penulisan Tafsir Nurul Bajan. Artikel ini berkesimpulan bahwa Tafsir Nurul Bajan memiliki persamaan penafsiran dengan Tafsir Al Mannar. Dalam kasus surat Al-Baqaroh ayat 261-262, KH. Romli memaknai kata fi sabilillah sebagai kemaslahatan umat. Pernyataan yang sama juga disampaikan Al-Manna>r. Adapun relasi keilmuan antara keduanya karena popolaritas Al-Manna>r di tubuh ormas Persis, dan KH. Romlik merupakan Pengurus Persis

    Radikalisme di Kalangan Terdidik

    No full text
    There are many factors that cause a person to act radically. Socio-political changes and economic conditions are considered to be a number of factors why a person becomes radical. Religion is used as legitimacy for every action carried out. At present, radical ideology has penetrated the world of education. Although it is not yet at an alarming stage, it has great potential to damage existing social order. This paper briefly reviews the development of radical ideology, the concept of jihad and acts of terrorism in Indonesia along with alternative treatments for educated circles. The method used in this research is library research. &nbsp

    110

    full texts

    295

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    e-Journal Institut PTIQ Jakarta
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇