Dialog (E-Journal)
Not a member yet
283 research outputs found
Sort by
The Socio-religious Construction: The Religious Tolerance among Salafi Muslim and Christian in Metro: Konstruksi Sosial-keagamaan: Toleransi Beragama antara Muslim Salafi dan Pemeluk Agama Kristen di Metro
Salafi Islamic community has been negatively constructed as puritan, extreme, and exclusive group separated itself from the social space. This justification precludes possibility that Salafi groups can synergize with surrounding socio-religious conditions. This article reveals the socio-religious life among Salafi community of Ma\u27had Ittiba\u27us Salaf in Purwoasri Village, Metro City to maintain the Islamic Salafi concept and expanding network of its followers. The research methodology is qualitative using observation, interviews, and documentation studies to expose the Salafi movement. This study shows that the presence of Salafi in Purwosari can build good relations with other religious communities, both Muslims and non-Muslims (Chrisrtian). The synergy between Salafi Muslims and Christians in building a strong social construction in maintaining the peace values is facilitated by the FPKM organization. This study concludes that Salafi da\u27wah is not entirely around the radical activities and leads to violence. Salafis in Metro City use a lot of social networks, technology facilities, and local organizations to preach, be economically, and socially.
Keywords: salafi, socio-religious construction, religious relation, tolerance
Pandangan masyarakat tentang komunitas Islam Salafi telah terkonstruksi negatif sebagai kelompok puritan, ekstrim, dan ekslusif yang memisahkan dari lingkungan sosial. Justifikasi tersebut menutup kemungkinan Salafi dapat bersinergi dengan keberagaman sosial-keagamaan sekitarnya. Artikel ini bertujuan untuk mengungkap realitas kehidupan sosial-keagamaan komunitas Salafi Ma\u27had Ittiba\u27us Salaf di Kelurahan Purwoasri Kota Metro dalam mempertahankan konsep Islam Salafi dan memperluas jaringan pengikutnya. Metodologi penelitian ini adalah kualitatif dengan menggunakan data observasi, interview, dan studi dokumentasi untuk menjelaskan gerakan Salafi. Penelitian ini menunjukkan bahwa keberadaan Salafi di Purwoasri mampu membangun hubungan baik dengan komunitas kegamaan lainnya, baik Muslim maupun non-Muslim (Kristen). Sinergisitas antara Salafi dan Kristen dalam membangun konstruksi sosial yang kuat dalam menjaga nilai-nilai perdamaian difasilitasi dengan adanya Paguyuban FPKM. Penelitian ini menyimpulkan bahwa ternyata dakwah Salafi tidak secara keseluruhan terkonsentrasi dengan aktivitas radikal dan mengarah kepada kekerasan. Salafi di Kota Metro banyak menggunakan jaringan sosial, fasilitas teknologi, dan bergabung dalam Paguyuban untuk berdakwah, berekonomi, dan bersosial. Artikel ini masih terbatas pada skala penelitian di kota Metro, sehingga masih sangat mungkin untuk dilengkapi oleh kajian pada tempat lain dengan skala dan pendekatan yang berbeda.
Kata Kunci: salafi, konstruksi sosial-kegamaan, relasi keagamaan, tolerans
Tolerance Portraits in Kupang City Based on Dimensions of Perception, Attitude, Cooperation, and Government Role: Potret Toleransi di Kota Kupang Berdasarkan Dimensi Persepsi, Sikap, Kerjasama, dan Peran Pemerintah
Humans were influenced by perceptions, attitudes, cooperation, and the government roles to portray indicators of religious tolerance. Therefore, this study was carried out between January and March 2020 to deeply analyze the dimensions of perception, attitude, cooperation, and the roles of the government, using a case study technique with a descriptive approach. The population of this study were 53 people representing religious figures, community leaders, government, and levels of society. A questionnaire was used containing statements based on Likert scale measurements. Data analysis was carried out in a narrative manner. The results showed that the portrait of the dimensions of perception, attitude, cooperation, and the role of the government supports religious tolerance in the City of Kupang. However, it found that a neutral attitude was shown when it was related to the attendance to the worship of other religions. Based on the dimension of cooperation, there were also people who showed a neutral attitude on the donations or social action for the followers of other religions, and a willingness to maintain a normative business that does not conflict with adherents of other religions.
Unsur manusia yang dipengaruhi oleh persepsi, sikap, kerjasama dan peran pemerintah merupakan indikator potret terhadap toleransi umat beragama. Untuk hal tersebut maka telah dilakukan penelitian sejak Januari-Maret 2020 tentang potret dimensi persepsi, sikap, kerjasama, dan peran pemerintah, menggunakan teknik studi kasus dengan pendekatan secara deskriptif. Populasi ataupun sampel dalam penelitian ini sebanyak 53 orang sebagai representatif tokoh-tokoh agama, tokoh-tokoh masyarakat, pemerintahan, dan lapisan masyarakat. Metode survei menggunakan kuesioner yang berisi pernyataan berbasis pengukuran skala Likert. Analisis data dilakukan secara naratif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa potret dimensi persepsi, sikap, kerjasama, dan peran pemerintah mendukung toleransi umat beragama di Kota Kupang. Meskipun demikian masih ada sikap umat beragama yang netral jika terkait dengan kesediaan berada di rumah ibadah pemeluk agama lain yang ada di sekitar tempat tinggal. Berdasarkan dimensi kerjasama, juga terdapat umat yang menunjukkan sikap netral terhadap kesediaan memberikan sumbangan atau aksi sosial kepada pemeluk agama lain, dan kesediaan untuk menjaga normatif usaha yang tidak bertentangan dengan pemeluk agama lain
Implementation of Unschooling Education Model As An Effort to Develop Tolerance Values: Implementasi Model Pendidikan Unschooling Sebagai Upaya Dalam Mengembangkan Nilai-Nilai Toleransi
Humans have the ability to immerse into different levels of society. Due to the importance of tolerance values ​​in this life, character education embodying tolerance values ​​should be taught as early as possible. Home is the first school for children to understand tolerance values. However, how to teach the values ​​of tolerance certainly requires an in-depth study. Related to this, there is an educational model that develops tolerance values, namely the unschooling education model. This is a type of the homeschooling education where children are facilitated according to their learning needs at home. Parents and adults who live with the children play as facilitators of learning, for the children do not receive education like that of formal schools. Triangulation methods are used, namely comparing sources and theories, checking the data obtained from the fieldwork, namely secondary data collection and interviews. The results of the study show that children start to learn since they were born. The adults around the children need to continue learning because children are not only the recipients of knowledge. Therefore, unschooling education model is perceived of instrumental in the internalization of tolerance values ​​in children from the early age.
Keywords: character education, tolerance values, unschooling education model
Manusia sebagai makhluk sosial tentunya harus memiliki kemampuan untuk beradaptasi dengan kondisi di berbagai lapisan masyarakat. Berbekal internalisasi nilai-nilai toleransi dalam diri setiap insan, pendidikan karakter terkait dengan nilai-nilai toleransi sebaiknya diajarkan sedini mungkin. Rumah sebagai sekolah dan madrasah pertama bagi anak merupakan sarana dan katalisator pengembangan nilai-nilai toleransi. Akan tetapi, bagaimana cara untuk mengajarkan nilai-nilai toleransi tersebut tentunya memerlukan sebuah kajian mendalam. Terkait dengan hal tersebut terdapat sebuah model pendidikan yang dapat diterapkan sebagai upaya pengembangan nilai-nilai toleransi yaitu model pendidikan unschooling. Model pendidikan unschooling sebagai variasi dari model pendidikan homeschooling, dimana anak difasilitasi sesuai dengan kebutuhan belajarnya di rumah dan orang tua atau orang dewasa yang tinggal bersama anak, merekalah fasilitator anak dalam belajar serta anak tidak mengenyam pendidikan seperti sistem pembelajaran di sekolah formal. Kajian dalam penelitian ini dianalisis secara kualitatif melalui penggunaan metode triangulasi, yaitu membandingkan sumber dan teori, melakukan pengecekan data-data yang diperoleh dari dua teknik pengumpulan data yaitu pengumpulan data sekunder dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sejak dini di lingkungan pertama anak terlahir adalah garis awal kita sebagai fitrah dari Allah Swt untuk belajar. Orang dewasa di sekitar anak sebagai pembimbing pertama bagi anak perlu untuk terus belajar, karena tidak hanya anak sebagai penerima ilmu. Oleh sebab itu, implementasi model pendidikan unschooling efektif dan efisien dalam menjembatani internalisasi nilai-nilai toleransi pada anak sejak dini.
Kata Kunci: pendidikan karakter, nilai-nilai toleransi, model pendidikan unschoolin
The Nusantara Characters in Overcoming Negative Behaviors: Karakteristik Kepribadian Nusantara dan Relevansinya Mengatasi Perilaku Negatif
Understanding Nusantara character is important to overcome negative behaviors that often occur in the hearts of community. This study attempts to explore how Nusantara character is able to overcome negative behaviors. This study is literature in nature using several Indonesian journals of psychology. The results of this study indicate that the characters are developed from subjective happiness, motivation of achievement, and tolerance. These three characters have potentials to overcome negative behaviors. The author suggests that Indonesian researchers in psychology need to meticulously investigate cultural values in certain communities and the construction of Nusantara characters.
Keywords: personality archipelago, negative behavior
Menelurusi karakteristik kepribadian nusantara ini penting dilakukan untuk mengatasi perilaku negatif yang kerap muncul di tengah-tengah masyarakat. Tujuan penelitian ini berusaha menunjukkan karakteristik kepribadian nusantara, sekaligus menjadi solusi alternatif mengatasi perilaku negatif. Penelusuran ini menggunakan studi literatur, diambil dari jurnal-jurnal psikologi Indonesia. Hasil penelusuran menunjukkan bahwa salah-satu karakteristik kepribadian nusantara ialah kebahagiaan subjektif, motivasi berprestasi, dan toleransi. Karakteristik ini dapat menjadi solusi alternatif mengatasi perilaku negatif. Jadi, kesimpulannya ialah karakteristik kepribadian nusantara meliputi kebahagiaan, motivasi, dan toleransi, yang hal ini dapat berkontribusi mengatasi perilaku negatif. Meskipun demikian, penelusuran ini memiliki keterbatasan yakni masih minimnya sumber-sumber penelitian psikologi nusantara, ke depan para peneliti psikologi Indonesia perlu menggali nilai-nilai budaya dalam masyarakat tertentu dan mengkonstruknya menjadi kepribadian nusantara.
Kata Kunci: kepribadian nusantara, perilaku negati
Religious Plurality in Dayak Bidayuh Lara Society (Portrait of Inter-Religious Harmony in Kendaie Lundu Village, Sarawak): Pluralitas Agama pada Masyarakat Adat Dayak Bidayuh Lara (Potret Kerukunan Antar Umat Beragama di Kampung Kendaie Lundu, Sarawak)
This study investigates the phenomena of plurality among the Dayak Bidayuh Lara community in Kendaie Lundu Village, Sarawak. Apart from that, it also describes the social and religious activities of the indigenous people that maintain the concept of tolerance. This study used qualitative methods by conducting observations and by using a descriptive approach as a research instrument. The study found that 1) as an indigenous community, the indigenous Dayak Bidayuh lara community in Kendaie Lundu Village are aware of the plurality of life in their environment, so that in carrying out social and religious activities, they live not in boundaries that separate between majority and minority communities. 2) There are some people with different religions from one family and live in one house. So that this reflects the exoticism of religious plurality in the Dayak Bidayuh Lara community; 3) as a community that inhabits the interior and border areas, inter-national fraternities are closely intertwined, social relations between the people of Malaysia and Indonesia are still established today.
Makalah ini menggambarkan pluralias yang terjadi pada masyarakat Dayak Bidayuh Lara di Kampung Kendaie Lundu, Sarawak. Selain itu, makalah ini juga mendeskripsikan kegiatan-kegiatan sosial dan keagamaan masyarakat adat di sana yang menjunjung tinggi toleransi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan melakukan observasi, pengamatan, dan dengan menggunakan pendekatan deskriptif sebagai instrumen penelitian. Hasil penelitian; 1) sebagai masyarakat adat, masyarakat adat Dayak Bidayuh Lara di Kampung Kendaie Lundu sadar akan pluralitas dalam kehidupan di lingkungannya, sehingga dalam melakukan aktivitas sosial dan keagamaan, tidak menimbulkan jarak dan batasan antara masyarakat mayoritas dan minoritas; 2) masih banyak dijumpai orang-orang dengan agama yang berbeda namun masih satu keluarga dan hidup dalam satu rumah, sehingga hal tersebut mencerminkan keeksotisan dalam kemajemukan beragama pada masyarakat Dayak Bidayuh lara di sana; 3) sebagai masyarakat yang mendiami wilayah pedalaman dan perbatasan, persaudaraan serumpun lintas negara terjalin dengan erat, hubungan sosial masyarakat di Malaysia dan Indonesia masih terjalin sampai sekarang
Philosophy of Ayam Jago: Researching The Values of Character Education in Customary Perbayo Sungai Tutung Village, Kerinci District: Filosofi Ayam Jago: Menelisik Nilai-Nilai Pendidikan Karakter dalam Perbayo Adat Desa Sungai Tutung Kabupaten Kerinci
Perbayo is a speech delivered at the coronation ceremony of a local village leader that embraces three aspects, namely: the creation of human, the Kerinci\u27s natural history, and the leadership. As for the third aspect, the values are often analogous to a rooster having six characters: 1) langsing kokok (good crow); 2) sibar ekor (beautiful tail); 3) kembang sayap (wide wings); 4) besar paruh (big beak); 5) lebar dada (big chest); and 6) runcing taji (sharp spur). The six characters are metaphors of the values that a leader of Sungai Tutung Village must have. This study aims to explore the practice of character education among the people of Sungai Tutung Village. Using a semi-ethnographic design, this study found: firstly, the rooster\u27s six characters symbolize leadership values that have been preserved from generation to generation among the customary leaders of Sungai Tutung Village; secondly, the analogy of the rooster is maintained because apart from being easy to remember, it symbolizes courage, dignity, wisdom, and responsibility.
Perbayo merupakan pidato saat penobatan pemuka adat desa yang memiliki penekanan pada tiga aspek, yaitu penciptaan manusia, sejarah alam Kerinci, dan kepemimpinan. Pada aspek ketiga, nilai-nilainya seringkali dianalogikan dengan ayam jago yang memiliki enam karakter: 1) langsing kokok; 2) sibar ekor; 3) kembang sayap; 4) besar paruh; 5) lebar dada; dan 6) runcing taji. Keenam karakter tersebut adalah metafor dari nilai-nilai yang mesti hidup dan tumbuh dalam individu pemuka adat di Desa Sungai Tutung. Artikel ini bertujuan untuk menggali nilai-nilai pendidikan karakter yang terdapat dalam Perbayo Adat Desa Sungai Tutung. Dengan menggunakan desain semi etnografi, studi ini menemukan: pertama, enam karakter ayam jago merupakan nilai-nilai kepemimpinan yang dilestarikan secara turun-temurun oleh pemuka adat Desa Sungai Tutung; kedua, analogi ayam jago dipertahankan karena selain gampang diingat dan disebut, ayam jago menyimbolkan keberanian, kewibawaan, kebijaksanaan, dan bertanggungjawab
Oral-Based Christian-Marapu Interreligious Engagement: Manawara as a Shared Virtue for Common Liberation: Keterlibatan Antaragama Kristen-Marapu Berbasis Kelisanan: Manawara sebagai Kebijakan Bersama untuk Pembebasan Bersama
This has been prevalent that the discourse of interreligious dialogue has been overwhelmingly dominated by the elites in the formal spheres. It even seems to be the only standard to examine the issues of interreligious relations, without taking into account the diverse modes of everyday engagements among the people. This then raises the recognition that there is actually no single pattern for interreligious engagement since it would be always contextual according to its distinctive context. It therefore implies the need to learn more from the localities to develop more contextual interreligious engagement. In this regard, this work will examine the interreligious engagement of Christianity and Marapu indigenous religion in Sumba. The data used in this work are based on the field research conducted in 2019 in Southwest Sumba. Observation and in depth interview with a number of Sumbanese Christians and Marapu are also conducted. The research finds that manawara (the teaching of love; compassion) as the potential basis for developing social engagement. The term manawara is used by Marapu people in their teaching, but since the term is a Sumbanese language, the Sumbanese Christians also translate their prominent teaching of love with that term. Manawara is then both scriptural-based for Christians, and oral-based for Marapu people. Using Lattu\u27s oral-based interreligious engagement and Knitter\u27s socially engaged dialogue as the theoretical frameworks, this work argues that manawara as a shared virtue is very potential to be developed, in realizing common liberation of the Sumbanese through mutual action.
Keywords: interreligious engagement, manawara, orality, sumbanese christian, marapu indigenous rel
Wacana dialog antaragama selama ini telah didominasi sedemikian rupa oleh para elit dalam ruang-ruang formal. Hal itu bahkan menjadi seolah satu-satunya ukuran untuk membahas isu-isu hubungan antaragama, tanpa memperhitungkan keberagaman bentuk keterlibatan sehari-hari yang dihidupi secara nyata oleh orang-orang beragama yang merupakan subjek utama dalam topik tersebut. Dari sinilah kemudian muncul kesadaran bahwa sebenarnya tidak ada satu pola tertentu untuk keterlibatan antaragama karena ia akan selalu tergantung pada konteksnya yang unik. Hal ini menunjukkan bahwa penting untuk lebih banyak belajar dari lokalitas-lokalitas yang ada demi mengembangkan keterlibatan antaragama yang lebih kontekstual. Untuk itu, tulisan ini akan membahas keterlibatan antaragama Kristen dan Marapu di Sumba. Data yang digunakan dalam studi ini diperoleh dari sebuah penelitian lapangan pada tahun 2019 di Sumba Barat Daya yang dilakukan melalui observasi dan wawancara mendalam dengan sejumlah orang Sumba Kristen dan Marapu. Penelitian tersebut menemukan manawara (ajaran tentang kasih) sebagai basis potensial untuk mengembangkan keterlibatan yang ada. Istilah manawara digunakan oleh orang Marapu dalam ajaran mereka, namun karena istilah tersebut adalah sebuah kata dalam Bahasa Sumba, orang Sumba Kristen juga menerjemahkan ajaran kasih mereka dengan istilah manawara tersebut. Dengan demikian, manawara menjadi suatu ajaran yang basisnya skriptural, bagi orang Kristen, dan oral, bagi orang Marapu. Dengan menggunakan keterlibatan antaragama berbasis oral dari Lattu dan socially engaged dialogue dari Knitter sebagai kerangka teori, studi ini berargumen bahwa manawara sebagai sebuah kebajikan bersama sangatlah potensial untuk dikembangkan, dalam merealisasikan pembebasan bersama orang Sumba melalui aksi bersama.
Kata Kunci: keterlibatan antaragama, manawara, kelisanan, orang Kristen Sumba, agama Marap
From Debate to Dialogue: Authentic Interfaith Friendship from The Perspective of Christian Theology: Dari Debat ke Dialog: Persahabatan Antariman yang Autentik dari Perspektif Teologi Kristen
This study is qualitative which employs literature reviews of materials discussing multifaith dialogues from the Christian perspectives. It believes that multifaith debate is already out-of-date and rather counterproductive. This study is to demonstrate the importance of dialogues among different faiths to foster interfaith brotherhood. It found that Christian theological attitudes towards other religions can be categorized into three major types known as tripolar typologies: exclusivism, inclusivism, and pluralism which was developed by Alan Race. This paper proposes an interfaith friendship dialogue based on mutual understanding as the essence of Christian existence. Truly authentic dialogue is only possible if it is established in friendly relationships between faiths.
Metode penelitian dalam tulisan ini ialah kualitatif. Secara khusus, penelitian ini menggunakan studi pustaka dengan memanfaatkan sejumlah literatur yang mengulas tentang dialog antariman dan teori persahabatan dari perspektif Kristen. Perdebatan antaragama adalah sesuatu yang usang karena hanya akan semakin menumbuhkan benih-benih kebencian dan bersifat kontraproduktif. Signifikansi dari penelitian ini ialah guna memperlihatkan pentingnya dialog untuk menjembatani perbedaan dan memupuk persaudaraan antariman. Penelitian ini memperlihatkan bahwa sikap teologis Kristen terhadap agama lain dikelompokkan ke dalam tiga bagian besar yang dikenal dengan tipologi tripolar, yaitu eksklusivisme, inklusivisme, dan pluralisme. Teori tipologi tripolar ini dikembangkan oleh Alan Race. Tulisan ini juga menunjukkan bahwa diperlukan pendekatan dialog yang melampaui tipologi tripolar tersebut. Tulisan ini mengusulkan dialog persahabatan antariman dengan dasar pemahaman bahwa dialog antariman merupakan hakikat keberadaan Kristen. Dialog yang benar-benar autentik hanya mungkin terjadi jika terbangun dalam relasi persahabatan antariman
The Exploitation of Religious Narratives: The Study of “Jihad Nikah†Narratives in ISIS Al-Qur\u27an Perspective: Eksploitasi Narasi Keagamaan: Studi Tentang Narasi “Jihad Nikah†Pada ISIS Perspektif Al-Qur\u27an
ISIS uses the term “marriage jihad†narrative to attract new recruits, especially among women. Although ISIS was declared defeated in 2016, the seeds of the “jihadi brides†narrative can still be found in some acts of terrorism around the world even today. Hence, the study of “marriage jihad†is seen very relevant and urgent to be conducted. “Marriage jihad†narrative, according to them, emphasizes the importance of expecting mothers who will deliver warriors and soldiers who involved in their holy war. On the other hand, this narrative is also used to legitimize biological motives of ISIS combatants. Based on human rights perspective, this narrative is the kind of women slavery who are perceived as sexual objects. This is often wrapped in religious terminology, such “for the sake of Islamâ€. The “marriage jihadâ€phrase which has never been found in the history of Islamic discourse is analyzed through the perspectives of the Qur\u27an based on Ma\u27na Cum Maghza approach. According to the Qur\u27anic perspectives, both jihad and marriage have the same goal, that is to build a vision of peace and compassion. So the narrative of the “marriage jihad†initiated by ISIS is certainly at odd with the Islamic principles.
ISIS menggunakan narasi “jihad nikah†untuk menarik calon anggota baru, khususnya perempuan. Meskipun ISIS sudah dinyatakan kalah pada 2016, benih-benih narasi “jihadi brides†masih bisa ditemui dalam aksi-aksi terorisme di seluruh dunia bahkan hingga saat ini. Hal ini yang membuat kajian tentang narasai “jihad nikah†menjadi relevan dan urgen. Artikel ini membahas tentang eksploitasi terminologi agama dalam agenda propaganda ISIS yaitu “jihad nikahâ€. Narasi ini, menurut mereka, menekankan pentingnya perempuan untuk dihamili agar kelak anak-anak yang lahir menjadi pejuang dan prajurit yang memperjuangkan mereka. Di sisi lain, narasi ini juga digunakan sebagai legitimasi kebutuhan syahwat para kombatan ISIS yang sedang berada di medan perang. Frase jihad nikah tidak pernah ditemukan dalam sejarah diskursus Islam. Tulisan ini mengupas narasi jihad nikah dalam perspektif al-Qur\u27an dengan pendekatan Ma\u27na Cum Maghza. Menurut sudut pandang tafsir al-Qur\u27an, jihad dan nikah mempunyai tujuan yang serupa yaitu membangun visi perdamaian dalam kasih sayang. Maka narasi jihad nikah yang diprakarsai oleh ISIS tersebut tentu bertolak belakang dengan prinsip-prinsip Islam
MAPPADENDANG SEBAGAI TRADISI BERSAMA KOMUNITAS TO WANI TOLOTANG DENGAN UMAT ISLAM
Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui bentuk-bentuk tradisi Mappadendang dan unsur-unsur yang sarat dengan simbol-bimbol keagamaan. Penelitiannya menggunakan pendekatan kualitatif, dengan penjabaran deskriptif. Metode pengumpulan data dilakukan dengan tehnik observasi, wawancara dan dokumentasi. Dari penelitian ini ditemukan, pertama tradisi Mappadendang mendasari tradisi kepercayaan kepada dewi sangiang serri wujud dari pernyembahan kepada Dewata SeuwaE dan penghargaan kepada leluhur. Mereka memiliki kewajiban untuk melaksanakan upacara tradisi mappadendang sebagai adat istiadat dan tradisi leluhur yang patut dilestarikan wujud rasa syukur atas limpahan rejeki terhadap hasil panen sawah mereka. Kedua, segala bentuk-bentuk dalam tradisi Mappadendang dalam komunitas ini syarat dengan simbol-simbol keagamaan. Sebagai salah satu cara untuk menghidupkan benda-benda dan makhluk-makhluk sakral yang gaib dalam fikiran dan jiwa para pemeluk komunitas ini. Orang To Lo\u27 mempercayai benda- benda sebagai lambang kesakralan dalam ritual Paddendang yang memiliki sifat sacred agar terhindar dari Bala\u27 terhadap segala sesuatu yang dapat menggagalkan panen mereka sehingga tradisi Mappadendang ini harus dilakukan, selain sebagai wujud rasa syukur juga sebagai upaya terhindar dari unsurr yang bersifat profane