Dialog (E-Journal)
Not a member yet
283 research outputs found
Sort by
Understanding “Hijrah and Atonement†among Indonesian Celebrities: Social Psychology and Psychology of Religion Perspectives: Memahami “Fenomena Hijah dan Pertobatan†di Kalangan Pesohor Indonesia: Kajian Psikologi Agama dan Sosial
This article aims at understanding “hijrah and Atonement†from the perspectives of psychology in particular psychology of religion. This article focuses to investigate the phenomena of young people who conduct hijrah and the process of their hijrah? This article is part of the qualitative studies on religious conversion among young generations including those are among Indonesian celebrities. Data and information are gathered from various online news and social media particularly from YouTube as the main source. Two main figures of Indonesian celebrities are chosen to be subjects of the study by using their life stories and statements about religious conversion in various online news and social media, and then those of stories and statements are analyzed with thematic analysis technique. This paper finds that the choice of religious conversion takes place through a long psychological and social process. Starting from a psychological crisis in a personal and interpersonal context and ending with a strong commitment and acceptance facing the consequences of their decision. The pivotal conclusion of this study addresses that hijrah is a long process of seeking God and constructing meaningfulness.
Keywords: emigration, psychology, conversion, millennial
Tulisan ini bertujuan untuk memahami fenomena hijrah dari sudut pandang ilmu psikologi, terutama mencaritahu mengapa anak muda pesohor Indonesia tertarik untuk berhijrah dan bagaimana proses mereka berhijrah? Tulisan ini adalah hasil studi kualitatif tentang konversi agama di kalangan generasi milineal terutama di kalangan pesohor Indonesia. Data dikumpulkan dari berbagai berita online dan media sosial terutama Youtube sebagai sumber informasi. 2 tokoh pesohor Indonesia papan atas dipilih sebagai subyek studi dengan mengkaji pengalaman hidup dan pernyataannya terkait konversi agama di pemberitaan online dan media sosial lalu dianalisis dengan teknik analisis tematik.. Studi ini menemukan bahwa pilihan melakukan konversi keagamaan berlangsung melalui proses psikologis dan sosial yang panjang. Dimulai dari krisis psikologis dalam konteks personal dan interpersonal dan berakhir dengan komitmen yang kuat dan penerimaan konsekuensi dari keputusan berhijrah. Kesimpulan penting dari penelitian ini adalah bahwa hijrah merupakan perjanalan spiritual yang panjang dalam mencari Tuhan dan Kebermaknaan dengan segala cobaan dan tantangan yang mengikutinya.
Kata Kunci: hijrah, psikologi, konversi, milineal 
The Social Relation of Muslims and Christians in Sidorejo Village, Umbulsari District, Jember Regency: Relasi Sosial Muslim dan Kristiani di Desa Sidorejo, Kecamatan Umbulsari, Kabupaten Jember
This study aims to explore social relations in Sidorejo Village, Umbulsari District, Jember Regency. Central to this study is the relations and efforts to maintain harmony between Muslims and Christians in Sidorejo Village. The methodology in this study is qualitative methods using historical, religious and social approaches in-depth interview techniques and literature review analysis. The results of this study indicate that social solidarity among the people of Sidorejo in building social relations is very harmonious through several religious and social activities carried out together. Religious leaders and community leaders also participate in building harmony between Muslims and Christians in Sidorejo Village. In conclusion, the Sidorejo people enable to construct harmony and tackle social conflict through mediation before the conflict arises on the surface. Social relations are the key for the people of Sidorejo to build social-based religious harmony, because the goal of building harmony is not theological but how social relations are developed. Some social activities carried out to build communality including building houses of worship. It is more important that the role of religious leaders becomes a central force in ensuring unity and harmony.
Keywords: relationship, harmony, Islam, Christian
Penelitian ini bertujuan untuk menggali sebuah relasi sosial dalam masyarakat Desa Sidorejo, Kecamatan Umbulsari, Kabupaten Jember. Titik fokus permasalahan yang ingin disampaikan dalam penelitian ini ialah bagaimana relasi dan upaya merawat keharmonisan antara Muslim dan Kristiani di Desa Sidorejo tersebut. Adapun metodologi dalam penelitian ini penulis menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan sejarah, agama dan sosial secara mendalam dengan teknik wawancara dan analisa kajian pustaka. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa masyarakat Sidorejo dalam membangun relasi sosial, solidaritas sosial sangat rukun dan harmonis, terbukti dengan adanya beberapa kegiatan agama, sosial dilakukan secara bersama-sama. Tiada lain tiada bukan, peran tokoh agama, tokoh masyatakat juga ikutserta dalam membangun kerukunan antara Muslim dan Kristiani di Desa Sidorejo. Kesimpulannya bahwa hubungan kehidupan masyarakat Sidorejo begitu rukun dan harmonis, resolusi konflik selalu di munculkan sebagai mediasi sebelum konflik itu timbul di permukaan. Relasi sosial menjadi kunci bagi masyarakat Sidorejo untuk membagun kerukunan agama berbasis sosial, karena tujuan membangun keharmonisan bukan dari teologisnya melainkan bagaimana hubungan sosialnya, dan ini terbukti banyak kegiatan sosial yang dilakukan untuk membangun kebersamaan, terutama membangun rumah ibadah. Terpenting lagi bahwa peran tokoh agama menjadi kekuatan sentral dalam menyatukan dan merawat kebersamaan dalam perbedaan demi mewujudkan Sidorejo yang rukun, tentram dan harmonis.
Kata Kunci: relasi, harmonis, Islam, Kriste
The Portrait of Interreligious Harmony: A Phenomenon Study of Inter-Faith Family Harmony in Gunung Kidul, Yogyakarta: Potret Kerukunan Umat Beragama: Studi Fenomena Keharmonisan Keluarga Antar Agama di Gunung Kidul, Yogyakarta
This study aims to delve into the building harmony of interfaith families in Jetis, Hargomulyo, Gedangsari, Gunung Kidul Yogyakarta. It explores how the family ensures rights and obligations, educates children, provides freedom of worship and maintains relations with the family and the surrounding communities. In addition, it also explains how Islam views the harmony of families of interfaith couples. The results showed that the people of Jetis kampong attempted to fulfill their rights and obligations properly, such as the provision of proper livelihoods, not less and not excessive, although the level of fairness of each individual is different from one person to another. In terms of religion, the couples were able to carry out religious activities separately; they mutually support one another by creating tolerance in the family.
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan praktek pembentukan keluarga harmonis pasangan keluarga beda agama di Dusun Jetis, Hargomulyo, Gedangsari, Gunung Kidul Yogyakarta, yang meliputi bagaimana pemenuhan hak dan kewajiban, bagaimana pendidikan anak, bagaimana kebebasan beribadah dan bagaimana relasi dengan keluarga maupun masyarakat sekitar, serta menjelaskan bagaimana tinjauan Islam terhadap keharmonisan keluarga pasangan beda agama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat Dusun Jetis dalam praktek pembentukan keluarga harmonis dilihat dari segi pemenuhan hak dan kewajiban sudah terpenuhi dengan baik, serta dalam hal keagamaan keduanya mampu menjalankan aktivitas keagamaan secara terpisah namun saling mendukung antara satu dengan yang lainnya dengan memunculkan sikap toleransi dalam keluarga
Actualization of Pancasila Values in The Tahlilan Tradition in Sapen Village Yogyakarta: Aktualisasi Nilai-Nilai Pancasila dalam Tradisi Tahlilan di Kampung Sapen Yogyakarta
This study aims to describe how Pancasila values are implanted ​​in the tahlilan tradition in Kampung Sapen Yogyakarta. This study employs a qualitative descriptive method using interviews with several figures in Kampung Sapen. The study finds that the tahlilan tradition among Sapen community enables to instill Pancasila values, including: 1) theological awareness of the existence of God Who Creates and Destroys; this is the practice of Divine values/the first pillar; 2) the expression of sympathy for the bereaved family, and a congregational prayer for the deceased; this is the practice of the second pillar; 3) the gatherings that reflect a sense of brotherhood and unity/the third pillar; 4) a full obedience to the leader of tahlil can be seen as the practice of the fourth pillar; 5) Equality of seats, food and duties shows the practice of justice within the community. Tahlilan in Kampung Sapen has been practiced since the 1950s. For the people of Sapen, tahlilan plays as a hub of friendship and da\u27wah.
Keywords: Pancasila values, tahlilan, Sapen
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan representasi nilai-nilai Pancasila dalam tradisi tahlilan di Kampung Sapen Yogyakarta. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik wawancara terhadap beberapa tokoh dari penduduk Sapen yang representatif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dalam tradisi tahlilan terdapat pengamalan nilai-nilai Pancasila yang selama ini dipraktikkan oleh masyarakat, yaitu: 1) kesadaran teologi akan adanya Tuhan yang Maha Menciptakan dan Mematikan manusia dan seluruh makhluk-makhluknya, ini adalah pengamalan dari nilai ketuhanan; 2) adanya simpati pada keluarga yang berduka, dan doa bersama untuk meminta kebaikan untuk sang almarhum, adalah pengamalan sila kedua; 3) berkumpulnya semua lapisan masyarakat dalam suatu majlis menunjukkan sikap persaudaraan dan persatuan yang kokoh; 4) kepatuhan dan ketundukan pada sang pemimpin tahlil meruPakan pengamalan dari sila keempat; 5) persamaan tempat duduk, makanan dan tugas menunjukkan keadilan yang nyata di tengah-tengah masyarakat. Tahlilan di Kampung Sapen telah ada sejak tahun 1950-an. Tahlilan bagi masyarakat Sapen berfungsi sebagai wadah silaturrahmi dan dakwah. Fenomena tradisi tahlilan di kampung Sapen membantah anggapan yang mengatakan bahwa warga Muhammadiyah tidak melaksanakan tahlilan.
Kata Kunci: nilai-nilai Pancasila, tahlilan, Sape
The Dakwah Movement of Kiai Muda in Eastern Indonesia: Study of Islamic Application and Islamization Models of As\u27adiyah: Gerakan Dakwah Kiai Muda di Indonesia Timur: Studi Model Penerapan Islam dan Islamisasi Khas As\u27adiyah
This article discusses the roles of kiai muda in offering the model of typical As\u27adiyah Islamic Boarding School and disseminating Islam to the Eastern part of Indonesia. Kiai muda are the descendants of ulama graduating from Ma\u27had Aly at Pesantren As\u27adiyah. The study aims to answer some fundamental queations as to what As\u27adiyah Islamic model and the process of Islamization conducted by kiai muda from As\u27adiyah. The results show that As\u27adiyah grounds itself on Ahlu Sunna wal Jama\u27ah school of thoughts that is brought by Imam Nawawi and other the proponents of Shafi\u27I school of thought. The orientation of Ahlu Sunna wal Jama\u27ah and the typical Shafi\u27i mazhab are well maintained and practiced both in the pesantren and the surrounding community. The teachings of this school of thought are well received by the people of Eastern part of Indonesia. Hence, by all means, this has highly influenced the practices of dakwah delivered by kiai muda.
Keywords: As\u27adiyah, kiai muda, dakwah, Islam, Islamization
Artikel ini membahas peran kiai muda dalam menerapkan model Isam khas As\u27adiyah beserta menyebarkannya kepada masyarakat di Indonesia Timur. Di sini, kiai muda adalah mereka yang ditetapkan sebagai kiai melalui kaderisasi ulama pada jenjang Ma\u27had Aly di Pesantren As\u27adiyah. Rumusan masalah artikel ini adalah bagaimana model penerapan Islam As\u27adiyah? Bagaimana model Islamisasi oleh para kiai muda dari As\u27adiyah? Artikel ini merupakan penelitian lapangan dengan menggunakan metode deskripsi-analitis terhadap data-data yang terkait tema kajian. Adapun hasil temuan artikel ini menyatakan bahwa As\u27adiyah memiliki paham Ahlu Sunna wal Jama\u27ah yang mengacu pada pandangan Imam Nawawi, dan bermazhab Syafi\u27i. Paham dan mazhab tersebut dijaga, dipelajari, diamalkan dan disebarkan, baik dalam lingkungan pesantren maupun ketika berdakwah kepada masyarakat. Penyebaran paham dan mazhab ini diterima dengan baik oleh masyarakat, yang terlihat berdasarkan bertahan dan berkembangnya penerimaan masyarakat atas dakwah-dakwah yang disampaikan oleh kiai muda Pesantren As\u27adiyah. Karena itu, dalam rangka menjaga dan menyebarkan model penerapan Islam yang Ahlu Sunna wal Jama\u27ah dan bermazhab Syafi\u27i di Indonesia Timur, maka gerakan dakwah kiai muda perlu didukung dan dikembangkan.
Kata Kunci: As\u27adiyah, kiai muda, dakwah, Islam, Islamisas
Conflict Management in Pesantren, Madrasah, and Islamic Colleges in Indonesia: A Literature Review: Manajemen Konflik di Pesantren, Madrasah, dan Perguruan Tinggi Islam di Indonesia: Kajian Literatur
This is a literature review focusing on the causes and the conflict resolution in pesantren (Islamic boarding schools), madrasas, and Islamic colleges in Indonesia. The study based on 27 documents consisting of 12 documents on conflict management in Islamic boarding schools, 12 documents on conflict management in madrasah and 3 documents on conflict management in Islamic Higher Education. All documents were strictly selected through the following stages: first, keyword mapping; second, searching; third, screening; fourth, checking the sorted data in the Mandeley software; fifth, all existing literatures are imported into the Nvivo software for analysis. The results of the study show that: 1) Among the causes of conflict in the pesantren are mainly family problems within the pesantren, and conflicting views in the management of education; 2) The causes of conflict in madrasah include the discipline of working time, teacher personal styles and personal problems, communication problems, organizational structure, and organizational members, and financial management problems; 3) The causes of conflict in Islamic colleges are disputed opinions and various interests among individuals or groups in the institution.
Artikel ini adalah kajian literatur yang fokus mendiskusikan penyebab konflik dan penyelesaiannya dalam manajemen konflik di pesantren, madrasah, dan perguruan tinggi Islam (PTKI) di Indonesia. Jumlah literatur yang direview adalah 27 dokumen; 12 dokumen berbicara mengenai manajemen konflik di pesantren, 12 dokumen tentang manajemen konflik di madrasah, dan 3 dokumen membincangkan manajemen konflik di Perguruan Tinggi Islam. Semua dokumen dikumpulkan secara ketat melalui tahapan-tahapan berikut: pertama, pemetaan kata kunci; kedua, pencarian (searching); ketiga, penyaringan (screening); keempat, memasukkan semua data yang sudah dipilah ke dalam software Mandeley; kelima, semua data/literatur yang ada di Mandeley diimpor ke software Nvivo untuk dianalisis. Hasil kajian menunjukkan bahwa: 1) Di antara penyebab konflik di pesantren adalah masalah keluarga di internal pesantren, perbedaan pendidikan dan pandangan manajemen; 2) Penyebab konflik di madrasah antara lain kedisiplinan kehadiran dan waktu kepulangan, gaya pribadi guru, dan masalah pribadi, masalah komunikasi, struktur organisasi, dan anggota organisasi, dan masalah manajemen keuangan; 3) Di antara penyebab konflik di perguruan tinggi Islam adalah perbedaan pendapat dan kepentingan antara individu atau kelompok
The Mindset of Christ As The Foundation of The Church in Building Religious Harmony: An Interpretation of Philippians 2: 5: Mindset Kristus Sebagai Landasan Gereja dalam Membangun Kerukunan Umat Beragama: Suatu Tafsir Terhadap Surat Filipi 2: 5
Building religious harmony is the duty and responsibility of all Indonesian people. Church is an essential part of Indonesian society which is also obliged to develop religious harmony. Answering the question of how the church should behave and act in a pluralistic society is to offer the teaching concept of the mindset of Christ. As it is contained in Philippians 2: 5, the church has to serve as the foundation of religious harmony. The mindset of Christ in question is the act of Christ who does not defend his rights, the act of Christ who willingly becomes the same as an ordinary man and the act of Christ who takes the form of a slave and acts like a slave who cares for the interests of his master. This study utilizes technical data analysis with a descriptive-interpretive model, which is to elaborate the focus of the study by parsing and re-interpreting it in a certain context. In this case the text described is Philippians 2: 5 using the hermeneutic method as a scalpel and then interpreted in the context of religious harmony in Indonesia.
Membangun kerukunan umat beragama merupakan tugas dan tanggungjawab seluruh rakyat Indonesia. Gereja merupakan salah satu bagian dari masyarakat Indonesia yang juga berkewajiban untuk berkontribusi mewujudkan kerukunan umat beragama. Menjawab pertanyaan bagaimana gereja harus bersikap dan bertindak di tengah lingkup masyarakat yang majemuk adalah dengan menawarkan konsep pengajaran mengenai mindset Kristus yang terkandung dalam surat Filipi 2:5 untuk dijadikan sebagai landasan gereja membangun kerukunan umat beragama. Mindset Kristus yang dimaksud adalah tindakan Kristus yang tidak mempertahankan haknya, tindakan Kristus yang dengan rela menjadi sama dengan manusia dan tindakan Kristus yang mengambil rupa hamba dan berlaku seperti hamba yang mementingkan kepentingan tuannya. Penelitian ini menggunakan teknis analisis data dengan model deskripitf-interpretatif yaitu mengelaborasi fokus penelitian dengan cara mengurai dan memaknai kembali pada konteks tertentu. Dalam hal ini teks yang diurai adalah surat Filipi 2:5 menggunakan metode hermeneutik sebagai pisau bedah lalu dimaknai pada konteks kerukunan umat beragama di Indonesia
The Views of Contemporer Mut\u27ah Marriage among Yogyakarta Shi\u27ite Leaders: Pandangan Tokoh Syiah Yogyakarta tentang Nikah Mut\u27ah dan Implementasinya di Era Kontemporer
This paper explicates the views of Shia leaders in Rausyan Fikr Foundation Yogyakarta on mut\u27ah marriage. There have been various views related to mut\u27ah marriage law by Rausyan Fikr leaders. On one side, Shi\u27ite school of thought is hitherto the only proponent to the mut\u27ah marriage. This research is descriptive-analytic study using normative approaches by examining the views of Yogyakarta Shi\u27ite leaders in justifying the marriage using Islamic law including the Qur\u27an, Hadith, and Fiqh principles or ushuliyyah. The study finds that there are three opinions among Shi\u27ite leaders in Yogyakarta; 1) Some leaders strictly prohibit due to the differences in places and conditions between Indonesia and Iran, 2)Some of them allow it with the condition that marriage must be conducted with fellow Shi\u27ite, 3) Some believe it is allowed according the Ja\u27fari school of thought without considering conditions and places. Despite the differences of views among Yogyakarta Shia leaders, these differences can be compromised by seeing that mut\u27ah marriage is unacceptable under normal circumstances, but in an emergency situation, it can certainly be justifiable by considering its maslahat (benefit) or mudarat (danger).
Keywords: mut\u27ah marriage, Islamic law, Yogyakarta Shia leaders
Tulisan ini membahas tentang nikah mut\u27ah dan penerapannya dalam pandangan tokoh Syiah di Yayasan Rausyan Fikr Yogyakarta. Diketahui bahwa terjadi perbedaan pandangan terkait hukum nikah mut\u27ah oleh para tokoh Rausyan Fikr. Di sisi lain, kita ketahui bahwa mazhab Syiah adalah satu-satunya mazhab yang konsisten dengan argumentasi bahwa nikah mut\u27ah tetap berlaku hingga akhir zaman. Penelitian ini merupakan penelitian lapangan (field research) bersifat deskriptif-analitik dengan menggunakan pendekatan normatif dengan mengkaji pandangan para tokoh Syiah Yogyakarta menggunakan hukum Islam secara mayoritas meliputi al-Qur\u27an, Hadis dan kaidah-kaidah fiqhiyyah ataupun ushuliyyah. Hasil penelitian ini adalah terdapat tiga pendapat dari tokoh Syiah di Yogyakarta; yaitu 1) melarang secara mutlak dengan alasan perbedaan tempat dan kondisi antara Indonesia dan Iran, 2) membolehkan dengan syarat pernikahan harus dilakukan dengan sesama penganut Syiah, 3) membolehkan secara mutlak berlandasan pada fikih mazhab Syiah Ja\u27fari tanpa mempertimbangkan perbedaan kondisi dan tempat. Terlepas perbedaan pandangan di kalangan tokoh Syiah Yogyakarta, perbedaan tersebut dapat dikompromikan dengan melihat bahwa nikah mut\u27ah tidak dapat diterima dalam keadaan normal, namun dalam keadaan darurat tentu dapat dipertimbangkan dan dilihat mana lebih besar maslahat dan mudaratnya.
Kata Kunci: nikah mut\u27ah, hukum Islam, tokoh Syiah Yogyakart