Jurnal Program Studi Universitas Pertahana
Not a member yet
1215 research outputs found
Sort by
ANALISIS KARAKTERISTIK MATERIAL PADAT (AMMONIUM PERCHLORATE) PROPELAN KOMPOSIT TERHADAP KINERJA PROPELAN LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL (LAPAN) DALAM RANGKA PENGUASAAN TEKNOLOGI PROPELAN
Komposisi ammonium perchlorate dalam propelan komposit sekitar 75-85 %, dengan kandungan demikian ammonium perchlorate adalah material padat terpenting dalam propelan komposit. Propelan komposit merupakan bahan bakar pada roket dan rudal militer. Sebagai oksidator, ammonium perchlorate memiliki peran penting terhadap kinerja propelan LAPAN. Kinerja propelan LAPAN saat ini masih belum dapat mencapai standar, hal ini diprediksi oleh pengaruh dari karakteristik ammonium perchlorate dalam negeri yang mana masih rendah. Strategi dalam meningkatkan karakteristik ammonium perchlorate dalam negeri dan mengejar ketertinggalan dengan negeri-negara maju adalah dengan menganalisis bahan baku impor dari China dan Korea Selatan. Permasalahan yang akan diteliti adalah karakteristik ammonium perchlorate C200, H200 dan L200 yang digunakan seperti ukuran partikel, bentuk partikel, luas permukaan, dan luas permukaan partikel. Tujuan penelitian ini ialah melakukan analisis terhadap karakteristik ammonium perchlorate C200, H200 dan L200 sebagai penyusun propelan komposit, dan parameter yang paling berpengaruh terhadap rendahnya kinerja propelan. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif variabel terukur langsung dengan desain eksperimental di Laboratorium. Populasi pada penelitian ini adalah propelan komposit dengan sampel ammonium perchlorate dari China, Korea Selatan dan Indonesia (LAPAN). Instrument yang digunakan untuk memperoleh data adalah PSA (particle size analyzer), SEM, dan BET. Hasil dari penelitian ini diperoleh karakteristik material berupa ukuran partikel C200, H200 dan L200 adalah 265 µm, 236 µm, dan 242 µm. Diperoleh juga luas permukaan partikel sebagai berikut 1,104 m2/g, 5,561 m2/g, dan 2,972 m2/g. Bentuk partikel C200, H200 dan L200 ialah 0,68, 0,38 dan 0,33, dengan roundness 0,57, 0,79 dan 0,63. Surface area merupakan parameter yang berpengaruh terhadap laju bakar yang mana juga memiliki pengaruh besar terhadap kinerja propelan. Hasil dari penenelitian ini penting untuk meningkatkan kinerja propelan LAPAN melalui peningkatan karakteristik ammonium perchlorate dalam negeri sehingga tercapai kemandirian bahan baku dan penguasaan teknologi propelan. Kata Kunci: Karakteristik Ammonium Perchlorate, Propelan Komposit, Kinerja Propelan, Pertahanan, LAPA
STRATEGI PENGUASAAN TEKNOLOGI ADVANCED COMPOSITE UNTUK MENDUKUNG KEMANDIRIAN PENGEMBANGAN PESAWAT TEMPUR
Perkembangan teknologi pertahanan yang mumpuni akan turut memberikan kontribusi bagi modernisasi dari segi kekuatan militer. Dengan perkembangan teknologi yang pesat di masa mendatang akan menambah keunggulan suatu bangsa dalam membangun kekuatan militer. Alpalhankam merupakan salah satu indikator kekuatan pertahanan suatu negara, salah satunya adalah pesawat tempur. tujuan dari penelitan ini adalah menelisik serangkaian perencanaan strategis dan prioritas bagi PTDI sebagai industri nasional yang saat ini ditunjuk sebagai Indonesia Industrial Participan (IIP) dan berperan untuk mengembangkan Pesawat Tempur Generasi 4,5 dengan salah satu tujuan jangka panjangnya mencapai primary structure pada teknologi komposit untuk pesawat tempur. metode yagn digunakan dalam analisis penelitain ini adalah analisa faktor eksternal dengan metode SWOT, perumusan strategi dengan menggunakan Balanced Scorecard, serta sintesis prioritas dengan menggunakan Analitical Hierarchy Process. hasil dari analisis diperoleh prioritas strategi Perspektif Pembelajaran dan Pertumbuhan menjadi prioritas pertama dengan bobot 0,362, Perspektif Finansial menjadi prioritas kedua dengan bobot 0,296, Perspektif Pelanggan menjadi prioritas ketiga dengan bobot 0,189 dan Perspektif bisnis internal menjadi prioritas keempat dengan bobot 0,154.Kata Kunci: Manajemen Strategis, Teknologi Komposit, SWOT, Balanced Scorecard, Analytical Hierarchy Proces
Penanganan Potensi Ancaman Terorisme di Ibu Kota Baru Indonesia Studi Kasus: Kabupaten Kutai Kartanegara dan Penajam Paser Utara
Pertimbangan diputuskannya Kabupaten Kutai Kartanegara dan Penajam Paser Utara sebagai lokasi ibu kota negara atau IKN berdasarkan beberapa kajian yang dilakukan oleh Bappenas kurang menyoroti faktor keamanan khususnya pada ancaman terorisme di kawasan tersebut, sehingga perlu dilakukan pengkajian terkait potensi ancaman terorisme di ibu kota baru dan cara penanggulangannya. Tanpa adanya pertahanan yang kuat dalam rangka pengamanan ibu kota atau PIK, maka IKN rentan untuk diserang. Tulisan ini menggunakan metode kualitatif dengan pengumpulan data dari media, buku, dan jurnal. Penulis menggunakan 5 aspek geografi pertahanan sebagai fokus identifikasi wilayah IKN diantaranya seperti relasi spasial, akar ras dan etnis, bahasa dan agama, struktur sosial, dan instalasi militer. Berdasarkan analisis yang telah dilakukan diketahui bahwa karakterstik geografi pertahanan di Kabupaten Kutai Kartanegara dan Penajam Paser Utara dalam menanggulangi potensi ancaman terorisme masih kurang karena potensi ancaman terorisme yang cukup besar di sekitar kawasan IKN baru. Sehingga diperlukan kerjasama pertahanan dan keamanan yang solid antar wilayah dan juga negara tetangga; diperlukan juga reformasi pendidikan keagamaan dan kewarganegaraan; serta pengembangan skill warga lokal yang memiliki pendidikan rendah hingga terancam kemiskinan dan pengangguran dari perubahan menuju IKN baru.Kata kunci: Geografi Pertahanan, Ibu Kota Baru, Penanganan Terorisme, Potensi Ancama
ANALISIS RESOLUSI KONFLIK PEMBANGUNAN FLY OVER MALL BOEMI KEDATON (MBK) DI BANDAR LAMPUNG
Konflik kepentingan antarpemerintah daerah seringkali menjadi kendala dalam melaksanakan pembangunan baik fisik dan non-fisik yang jika tidak ditangani dengan tepat, akan berpengaruh kepada tingkat kepercayaan publik terhadap kredibilitas pemerintah. Pembangunan fly over Mall Boemi Kedaton di Bandar Lampung sempat menimbulkan konflik antara Walikota Bandar Lampung dan Gubernur Lampung. Pembangunan fly over yang dilakukan oleh Walikota Bandar Lampung ini dilakukan di ruas jalan nasional, sehingga membutuhkan izin tertulis dari Kementerian. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif diaksanakan pada bulan September 2019 hingga November 2019 bertempat di Kota Bandar Lampung. Dengan menggunakan wawancara, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 4 faktor yang mempengaruhi konflik yang terjadi pada pembangunan fly over MBK di Bandar Lampung: (1) Wewenang Jalan dan Perizinan, (2) Hibah Jalan Nasional, (3) Pemberitaan Media Massa, dan (4) Tahun Politik. Konflik terjadi karena adanya tumpang tindih wewenang yang berasal dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. Selain itu juga karena kurangnya koordinasi antara Walikota Bandar Lampung dan Gubernur Lampung terkait dengan perizinan pengelolaan jalan nasional, serta persyaratan pembangunan yang harus disesuaikan dengan Kementerian
ANALISIS POLA SEBARAN KAPAL PENCURI IKAN LAUT NATUNA UTARA GUNA MENDUKUNG SISTEM PERTAHANAN NEGARA
Laut Natuna Utara berada di wilayah perbatasan Indonesia serta terhubung dengan perairan bebas sehingga aktifitas pencurian ikan sangat rawan terjadi. Kasus pencurian ikan ini merupakan ancaman nirmiliter yang merugikan Negara Indonesia. Oleh karena itu Negara mempunyai kewajiban untuk menangkal serta memberantas praktik pencurian ikan. Dalam membangun daya tangkal yang tinggi terhadap ancaman, gangguan, hambatan dan tantangan maka penyelenggaraan pertahanan Negara mengintegrasikan pertahanan militer dan nirmiliter. Setiap unsur kekuatan dilakukan secara menyeluruh, terpadu dan terarah dibawah kesatuan komando dengan memadukan strategi pertahanan, sehingga merupakan satu totalitas pertahanan Negara. Teknologi SAR (Synthetic Aperture Radar) dari citra Radarsat-2 dan VMS (Vessel Monitoring System) dapat dimanfaatkan sebagai upaya pemantauan dan pelacakan aktifitas pencurian ikan. Tujuan penelitan ini untuk menganalisis pola sebaran kapal pencuri ikan dan strategi operasi pertahanan laut. Berdasarkan hasil penelitian, sepanjang tahun 2016 terdapat lokasi potensi daerah penangkapan ikan yang tersebar di wilayah Laut Natuna Utara dengan potensi pencurian ikan yaitu sebanyak 444 kapal. Praktik pencurian ikan dominan terjadi pada wilayah batas landas kontinen yang memiliki jarak dari tepi pantai sekitar 2-150 mil laut dengan intensitas tinggi pada bulan-bulan di Musim Peralihan II. Dengan demikian diperlukan strategi pertahanan Negara untuk menghadapi ancaman pencurian ikan tersebut. Strategi kolaborasi merupakan salah satu upaya menjaga laut secara bersama-sama. Konsep kolaborasi tersebut yaitu diantaranya stakeholder saling bersinergi dengan sama-sama beroperasi namun membagi jadwal masing-masing dan saling berbagi informas
ANALISIS MOBILITAS MEDIUM TANK PT. PINDAD PADA DEFORMASI TERRAIN
Upaya pengembangan industri pertahanan dilaksanakan untuk memoderenisasi kekuatan militer, salah satunya dengan melakukan pengembangan teknologi pertahanan.Fokus pengembangan teknologi Alpalhankam khusunya Medium Tank melibatkan kementerian dan lembaga dengan melakuka joint development. Dalam hal ini, PT.Pindad melakukan joint development Medium Tank bersama FNSS Defense System Turki. Pengembangan Medium Tank memiliki tiga kriteria, yakni survivability, fire power, dan mobility. Tujuan dari penelitian ini berfokus pada mobilitas Medium Tank mencakup analisis parameter terrain dan Medium Tank serta analisis interaksi terrain dengan Medium Tank. Analisis data empiris untuk mendapatkan pengukuran daya dukung tanah dengan Cone Index (CI) untuk tanah liat adalah 399,89 kN/m2 dan pasir 710,16 kN/m2 , Remoulding Cone Index (RI) adalah 5,5 kN/m2 , Rating Cone Index (RCI) untuk tanah liat adalah 317 kN/m2 dan pasir 565 kN/m2, perhitungan parameter kendaraan dengan Nominal Ground Pressure (NGP) adalah 74,929 kN/m2, Mobility Index (MI) adalah 72,286, Mean Maximum Pressure (MMP) adalah 236,783 kN/m2, perhitungan parameter limit kendaraan dengan Limiting Cone Index (CIL) adalah 197 kN/m2, Vehicle Cone Index (VCI) 1 passing adalah 144,066 kN/m2 dan 50 passing adalah 335,458 kN/m2, Vehicle Limiting Cone Index (VCIL) adalah 306,32 kN/m2, terakhir pengukuran performa Medium Tank dengan Mobility Numeric untuk tanah liat adalah 3,48 beserta pasir adalah 1,414 dan Excess Soil Strenght untuk tanah liat pada passing 1 dan 50 adalah 0,522 dan -0,386, hal ini mengiscaratkan bahwa Medium Tank tidak dapat atau dapat melewati namun beresiko tertahan dalam melewati terrain yang ditentukan, karena nilai RCI lebih kecil dari VCI. Excess soil strength untuk pasir pada passing 1 dan 50 adalah 0,6565 dan 0,606, hal ini mengisyaratkan bahwa terrain dapat dilewati Medium Tank
RESOLUSI KONFLIK KEBIJAKAN PELARANGAN ALAT TANGKAP IKAN JENIS CANTRANG DI KOTA TEGAL
Kota Tegal merupakan kota bahari, karena berbatasan langsung dengan Laut Jawa, sehingga penduduk di perbatasan Laut Jawa bekerja sebagai nelayan. Adanya Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 2 Tahun 2015 Tentang Larangan Penggunaan Alat Penangkapan Ikan Pukat Hela dan Pukat Tarik. Pukat Hela terdiri dari pukat hela dasar, pukat hela pertengahan, pukat hela kembar berpapan, dan pukat dorong. Sedangkan Pukat Tarik terdiri dari pukat tarik pantai dan pukat tarik berkapal yakni dogol, scottish seines, pair seines, payang, cantrang, dan lampara dasar. Nelayan Kota Tegal mayoritas sebagai nelayan tangkap dengan alat tangkap ikan jenis cantrang, menolak Peraturan Menteri tersebut sehingga menimbulkan konflik antara nelayan Kota Tegal dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan. Tujuan penelitian untuk menganalisis resolusi konflik kebijakan pelarangan alat tangkap ikan jenis cantrang di Kota Tegal. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: resolusi konflik kebijakan alat tangkap ikan jenis cantrang di Kota Tegal melalui adanya diskresi Presiden tentang diperbolehkannya nelayan cantrang melaut kembali tanpa batasan ukuran GT dan adanya Surat Edaran Gubernur Jawa Tengah Nomor 523/0005592 tanggal 13 Maret 2019 tentang Pemberian Izin Melaut dan Rekomendasi Perpanjangan Kapal Ikan 10 GT s/d ? 30 dengan Alat Tangkap Cantrang di Jawa Tengah. Kesimpulan bahwa Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 2 Tahun 2015, belum dapat diterapkan di Kota Tegal karena mayoritas nelayan dengan alat tangkap ikan jenis cantrang, sedangkan nelayan Kota Tegal diizinkan untuk melaut menggunakan alat tangkap ikan jenis cantrang karena adanya diskresi Presiden dan Surat Edaran Gubernur Jawa Tengah.Kata Kunci: Alat Tangkap Ikan, Cantrang, Kebijakan Publik, Nelayan, Resolusi Konfli
EFEKTIVITAS PROGRAM KAMPUNG BAHARI DALAM MENJAGA KONDISI SOSIAL MASYARAKAT PESISIR DI SEMARANG DARI PERSPEKTIF SOSIOLOGI MARITIM
Paradigma pesisir prasejahtera di Tambaklorok dapat dilihat dari kondisi kekurangan gizi, pendapatan yang belum memadai, tingkat kesehatan, keterbatasan pendidikan, hunian yang tidak layak, pengelolaan sampah yang buruk, penurunan tanah, maupun ancaman dalam kondisi pembangunan infrastruktur dan tantangan sosial. Dalam rangka Indonesia sebagai poros maritim dunia, dicanangkanlah program Kampung Bahari untuk mengantisipasi serta menumbuhkan karakter bangsa maritim. Sebagai salah satu daerah percontohan kawasan Tambaklorok yang terletak di pesisir Kota Semarang sebagai kawasan nelayan terbesar di kota Semarang. Tujuan dari penelitian ini yaitu menganalisis efektivitas pembangunan sosial Kampung Bahari. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan memadukan teori keamanan maritim, teori sea power, teori sosiologi dan budaya maritim, teori sinergi, teori efektivitas dan konsep Poros Maritim Dunia yang dipadu dalam Soft System Methodology (SSM), serta Software Nvivo untuk mengolah data dengan melakukan koding serta pembentukan kategori tema. Hasil dari penelitian ini ditemukan seiring berjalannya waktu jumlah nelayan berkurang disertai lunturnya jati diri bangsa maritim di kalangan pemuda dan belum efektif kerja sama dalam aspek pembangunan sosial antar sesama stakeholder terkait.Kata Kunci: Kampung Bahari, Soft System Methodology, Software NVivo, Efektivitas, sosiologi maritim
IMPLEMENTASI KEPEMIMPINAN DANYONIF DALAM MENINGKATKAN KINERJA PRAJURIT GUNA MENCAPAI KEBERHASILAN TUGAS POKOK SATUAN (STUDI PADA YONIF 403/WP)
Yonif 403/WP sebagai bagian dari Korem 072/Pamungkas merupakan satuan tempur. Memiliki tugas pokok menyelenggarakan pertempuran darat di segala bentuk cuaca dan medan selain itu dituntut memiliki kemampuan melaksanakan OMP dan OMSP. Dihadapkan dengan dinamika penugasan yang sangat padat, seorang Komandan Satuan dalam hal ini Danyon harus mampu melaksanakan perannya sebagai seorang pemimpin dan komandan. Komandan Batalyon merupakan figur satuan atau tokoh sentral yang dalam kepemimpinannya harus dapat menunjukan contoh tauladan yang baik bagi anggota. Sosok pemimpin yang teladan adalah pemimpin yang memiliki disiplin, loyalitas dan kehormatan yang dengan begitu diharapkan mampu membentuk prajurit-prajurit yang dapat diandalkan oleh satuannya. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk menganalisis implementasi peran pemimpin dalam meningkatkan kinerja bawahannya di satuan TNI AD melalui seorang Danyonif dalam hal ini Danyonif 403/WP, dinilai dari implementasi perannya di lapangan dengan baik dan maksimal. Guna mencapai tujuan tersebut, penelitian ini menggunakan metode kualitatif melalui teknik analisis deskriptif dan analisis SWOT. Hasil penelitian ditemukan bahwa Danyonif telah melaksanakan perannya sebagai perencana, pengorganisir, pengawas dan pengevaluasi dalam hal diantaranya melatih dan menjaga kesehatan anggota Yonif 403/WP dan berupaya dalam memperbaiki dan meningkatkan kualitas sarana dan prasarana latihan yang masih bias untuk diatasi. Adapun langkah dalam mengoptimalkan kinerja prajurit yakni dengan meningkatkan kemampuan dalam perencanaan dan manajerial Danyon serta memimpin satuan dengan menerapkan azas, sifat dan prinsip kepemimpinan yang diperoleh saat mengikuti Pendidikan Jabatan Danyon.Kata Kunci : Implementasi, Kepemimpinan, Peran, Kinerja, Danyo
DESAIN KONSEPTUAL SISTEM PENGAWASAN KAPAL SELAM ASING BERBASIS TEKNOLOGI AKUSTIK TOMOGRAFI UNTUK MENDUKUNG SISTEM PERTAHANAN NEGARA
Indonesia didominsai oleh wilayah laut membuat potensi ancaman berpotensi besar melalui laut. Adanya temuan objek asing di bawah air seperti ranjau dan drone bawah air serta belum optimalnya pengawasan bawah air di perairan Indonesia mengindikasikan pertahanan bawah air sangatlah rentan adanya penyusupan. Penguasaan teknologi bawah air bersifat strategis, karena banyak aplikasi yang bisa dihasilkan. Akustik tomografi memberikan hasil yang baik dalam memetakan arus laut. Untuk itu peneliti tertarik membuat konsep sistem pengawasan bawah air berbasis akustik tomografi. Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi ancaman bawah air, mengkaji akutik tomografi bagaimana mendeteksi kapal selam dan membangun konsep sistem pengawasan berbasis akustik tomografi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan menggunakan teknik analisa mencakup definsi masalah, pengumpulan informasi sampai pada tahap pembangunan konsep. Data diperoleh dengan melakukan wawancara dan studi literatur yang berkaitan dengan penelitian. Hasil menunjukkan bahwa: (1) Ancaman bawah air meliputi penyusupan kapal selam asing, atau senjata bawah air, selain itu terdapat ancaman berupa shadow zone yang merupakan daerah kedap gelombang akustik yang memungkinkan objek asing tidak dapat terdeteksi. (2) Akustik tomografi mendeteksi kapal selam melalui ulakan kapal selam yang membentuk pola gelombang vertikal stabil dan berlangsung dalam durasi panjang, selain itu kapal selam dapat diidentifikasi keberadaanya dari suhu panas yang dihasilkan oleh kapal selam. (3) Sistem pengawasan dirancang utamanya berada pada lokasi choke point, karena secara umum titik tersebut memiliki kedalaman selat yang cenderung dalam sebagai perlintasan kapal selam. Sistem pengawasan terintegrasi juga diusulkan dengan harapan mampu menunjang sistem K4IPP TNI dalam mencapai keunggulan informasi.Kata kunci : Identifikasi Ancaman, Akustik Tomografi, Konsep Siste