Jurnal Ilmiah Religiosity Entity Humanity (JIREH)
Not a member yet
    197 research outputs found

    INTUISI: Pendalaman Gagasan Hans-George Gadamer tentang Intuisi sebagai Supralogika

    Full text link
    This article explains about digging deeper of Hans-Georg Gadamer's ideas, in term of intuition as a supralogic. This study aim is to find out how the role of intuition develops a view of the goodness and the general truth. In this case, intuition allows someone to act wisely, also could live harmoniously in their community base. Research design: This research aims to describe Gadamer's view of intuition from the point of view of hermeneutic philosophy. The concept of humans is discussed more clearly by Gadamer in his own four ideas, that is: (1) bildung or culture, (2) sensus communis or conscience or heart, (3) consideration, and (4) taste. In this study, can be drawn that the idea of a communist census enables one to act almost intuitively. Implication and the result: Intuition or heart, heart or conscience has a social aspect, that is the sense of community, and by which we can gain knowledge and carry out interpretations. The Intuition approach as a supralogic is an openness to others, whatever its form, be it text, musical sounds or works of art, whose truth cannot be achieved by scientific methods. It is hoped that this study will bring benefit for cultural practitioners and education observers. Pendalaman gagasan Hans-Georg Gadamer tentang intuisi sebagai supralogika. Tujuan penelitian ini adalah hendak mengetahui bagaimanakah peran intuisi memperkembangkan suatu pandangan kebaikan yang benar dan umum? Dalam hal ini, intuisi memungkinkan seseorang bertindak bijak, hidup serasi di dalam komunitas. Penelitian ini hendak menguraikan pandangan Gadamer tentang intuisi dari sudut pandang filsafat hermeneutik. Konsep tentang manusia dibahas lebih luas oleh Gadamer dalam empat konsep, yakni bildung atau kebudayaan, sensus communis atau suara hati atau kalbu, pertimbangan dan taste atau selera. Dalam kajian ini, gagasansensus communis-lah yang memungkinkan seseorang bertindak hampir-hampir secara intuitif. Hasilnya, intuisi atau hati, kalbu atau suara hati mempunyai aspek sosial yaitu rasa komunitas, dan olehnya kita dapat mengetahui dan menginterpretasi. Pendekatan Intuisi sebagai supralogi adalah keterbukaan terhadap yang lain, apapun bentuknya, baik teks, bunyi musik atau karya seni, yang kebenarannya tak dapat dicapai dengan metode ilmiah. Kajian ini diharap memberi manfaat bagi pelaku budaya dan pemerhati pendidikan. &nbsp

    Marpasar Dalam Perspektif Teologi Kristen

    Full text link
    The term "Marpasar" is a place of mention in the Batak language which is determined as a person who earns a living by lending money. Marpasar becomes pros and cons for some members of the congregation and also clergy is based on theological and non-theological reasons. The theological reason is that in the Old Testament there was a prohibition about lending money. While non-theological reasons, the image of Marpasar perpetrators as loan sharks or extortionists have been formed in the public view due to high-interest rates. This article focuses on discussing Marpasar and how exactly the meaning of the Bible verse about the interest of money. The method used by researchers is a qualitative descriptive approach to exposition, interviews and literature. The results of the discussion obtained an answer that the context of the verses used is used by contra parties differing in context, a culture of geography in the present, and not all actors in Marpasar peg the interest that leads to extortion. Istilah kata Marpasar adalah suatu penyebutan dalam bahasa Batak yang didefinisikan sebagai orang  yangmencari nafkah dengan cara membungakan uang.  Marpasar menjadi pro kontra bagi sebagain kalangan jemaat dan juga rohaniawan didasarkan pada alasan teologis dan non teologis. Adapun alasan teologis karena dalam Perjanjian Lama adanya larangan tentang membungakan uang. Sementara alasan non-teologis, citra pelaku Marpasar sebagai lintah darat atau pemeras sudah terbentuk di pandangan umum karena bunga yang dipatok tinggi. Artikel ini berfokus membahas tentang Marpasar serta bagaimana sebenarnya maksud dari ayat Alkitab tentang membungakan uang. Adapun metode yang digunakan peneliti adalah deskriptif kualitatif  dengan pendekatan eksposisi, wawancara serta literatur. Hasil dari pembahasan didapatkan sutau jawaban bahwa konteks ayat-ayat yang digunakan digunakan oleh pihak yang kontra berbeda secara konteks, zaman, budaya serta kultur geografi di masa kini, serta tidak semua pelaku Marpasar mematok bunga yang mengarah pada pemerasan

    Penerapan Pondasi Keluarga Bagi Generasi Penerus

    Full text link
    Today's family members face increasingly difficult situations. Changes in the times have shifted and shot far, which has an impact on the pattern of family life. So that the family must rebuild and rebuild a foundation that can answer the needs of the times and be in line with God's teachings. The family in managing and laying the foundation for future generations must have a solid foundation; Includes the foundation of family understanding, the foundation of family relationship patterns, the foundation of family goals, and the foundation for achieving goals. To find the results of this study using a qualitative approach that is based on the initial step by collecting the required data, then clarification and description are carried out. Meanwhile, the results are obtained through creating concepts that reveal one's personality and views of the future. Membina keluarga dizaman sekarang ini menghadapi situasi yang semakin sulit. Perubahan zaman telah bergeser dan melesat jauh, yang berdampak pada pola kehidupan dalam berkeluarga. Sehingga keluarga harus merekonstruksi ulang dan membangun kembali pondasi yang dapat menjawab kebutuhan zaman dan sejalan dengan ajaran Tuhan. Keluarga dalam pengelolaan dan menanamkan pondasi bagi generasi penerus harus memiliki dasar yang kokoh; meliputi pondasi pemahaman keluarga, pondasi pola hubungan keluarga, pondasi tujuan keluarga, dan pondasi pencapaian tujuan. Untuk menemukan hasil penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang didasarkan pada langkah awal dengan mengumpulkan data-data yang dibutuhkan, kemudian dilakukan klarifikasi dan deskripsi. Sedangkan hasilnya didapatkan melalui membuat isntrumen konsep-konsep yang menyingkapkan kepribadian diri, menggali potensi dan pandangan terhadap masa depan

    Analisis Kualitatif Manfaat Pemahaman Warga Jemaat Tentang Sejarah Gereja Lokal Di HKBP Ressort Tampahan

    Full text link
    This study aims to determine the benefit index of adult congregation members' understanding in the history of the local church in the development of faith in HKBP Tampahan District XI Toba Hasundutan located in Tampahan Village, Toba Regency, North Sumatra Province 2019. Primary data were obtained from answers interview questions to 15 respondents who know and understand the history of the local church. This study was a descriptive qualitative approach with structured interview methods about the implementation of church holistic stewardship in the period 1901-1937. The results of secondary data showed that the index of the benefits of their understanding of history was 72.54%. Based on the results, recommendations are given that church ministers and historical figures must continue to make intensive refreshment for the young generation of the church because it has been proven to have supported the life of the church and the family of the congregation. Keywords: analysis, the benefits of understanding, the history of the local church, HKBP Tampahan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui indeks manfaat pemahaman anggota jemaat kaum dewasa tentang sejarah gereja lokal dalam perkembangan kepercayaan di HKBP Ressort Tampahan Distrik XI Toba Hasundutan yang berada di Kelurahan Tampahan, Kabupaten Toba, Propinsi Sumatera Utara Toba Tahun 2019. Data primer diperoleh dari jawaban pertanyaan wawancara terhadap 15 orang responden yang mengetahui dan mengerti tentang sejarah gereja lokal. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode wawancara terstruktur tentang pelaksanaan penatalayanan holistik gereja periode tahun 1901-1937. Hasil analisa data sekunder jawaban responden menunjukkan bahwa indeks manfaat pemahaman mereka tentang sejarah gereja lokal di HKBP berada pada angka 72,54 %. Berdasarkan hasil ini diberikan rekomendasi bahwa pelayan gereja dan tokoh sejarah harus tetap melakukan penyegaran intensif bagi generasi muda gereja sebab telah terbukti telah menopang kehidupan gereja dan keluarga jemaat

    Analisis Narrative Criticism Kisah Simson dan Ironi Kehidupannya di Dalam Kitab Hakim-Hakim

    Full text link
    The story of Samson as Israel's last judge becomes the primary material in the narrative criticism approach as an analytical tool. This story is chosen because it is a complete story and contains many conflicts and irony. The author-speech intent of the story will be examined in the interest of today's readers. The narrative analysis method that the author uses is the background story (background); location and time (setting of time and location); storyline (plot); events and their causes (causal links); character identification; conflicts that have occurred (conflicts); tragic things (irony); relationship with other texts (intertextuality); and main emphasis (point of view). The results show that the story of Samson does not stop at the readers who are the target of the story in the past. Samson's life as a nazir becomes a reflection and an example for today's readers about the importance of respecting, maintaining, and completing every task and call of God in ​​life where God places everyone. Kisah Simson sebagai hakim terakhir Israel menjadi materi primer di dalam pendekatan kritik naratif sebagai alat analisis. Kisah ini dipilih karena merupakan sebuah cerita (stories) yang lengkap dan utuh dan mengandung banyak konflik serta ironi. Maksud penulis-tutur dari kisah tersebut akan diteliti dalam kepentingan pembaca masa kini. Metode analisis naratif yang penulis gunakan adalah latar belakang kisah (background); lokasi dan waktu (setting of time and location); alur cerita (plot); peristiwa-peristiwa dan penyebabnya (causal links); identifikasi karakter melalui tokoh (character identification); konflik-konflik yang terjadi (conflicts); hal-hal tragis (irony); hubungannya dengan teks lain (intertextuality); dan penekanan utama (point of view). Hasil yang diperoleh dari analisis ini memperlihatkan cerita tentang Simson tidak berhenti hanya pada pembaca yang menjadi tujuan kisah di masa lalu. Kehidupan Simson sebagai nazir menjadi refleksi dan teladan bagi pembaca masa kini mengenai pentingnya menghormati, menjaga dan menuntaskan setiap tugas dan panggilan Tuhan di dalam bidang kehidupan dimana Tuhan menempatkan setiap orang

    Konstruksi Sosial Remaja di Tamiang Layang pada Esoterisme Religio Magis Putri Mayang Sari

    Full text link
    This study aims to examine the phenomenon of religio magis putri mayang sari among Tamiang Layang Christian adolescents. The research method used is qualitative. The technique of collecting data by means of interviews, observation and documentation. The research subjects were students of SMAN 1 Tamiang Layang, caretakers of the tombs, and parents of students. The results showed that the socio-cultural construction of the Ma'anyan community towards the Puteri Mayang Rite as a social reality is an expression of Ma'anyan appreciation of the world and transcendent values are religio magis. Then, the Ma'anyan adolescent social construction of the Princess Mayang Rite was implemented in Christian Religious Education learning through interactive, inspirational, challenging learning strategies and participant observation as well as in multicultural learning. The social construction of Ma'anyan youth towards the Princess Mayang Rite contains an understanding of religious, social values, a sense of pride in one's own culture (local culture), and tolerance obtains support from educators. The results of the study recommend that Christian Religious Education teachers support the social construction of Ma'anyan adolescents so that they are conveyed in the learning process in the classroom. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji fenomena religio magis putri mayang sari di kalangan remaja Kristen Tamiang Layang. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif. Teknik pengumpulan data dengan wawancara, observasi, dan dokumentasi. Adapun subyek penelitian adalah siswa SMAN 1 Tamiang Layang, juru kunci makam, dan orang tua siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konstruksi sosial budaya masyarakat Ma’anyan terhadap Ritus Puteri Mayang sebagai realitas sosial adalah ungkapan penghayatan Ma’anyan tentang dunia dan nilai transenden bersifat religio magis. Kemudian, konstruksi sosial remaja Ma’anyan terhadap Ritus Puteri Mayang diimplementasikan pada pembelajaran Pendidikan Agama Kristen melalui strategi pembelajaran interaktif, inspiratif, menantang, dan observasi partisipan serta dalam pembelajaran multikultural. Konstruksi sosial remaja Ma’anyan terhadap Ritus Puteri Mayang mengandung pemahaman tentang nilai religius, sosial kemasyarakatan, ada rasa bangga terhadap kebudayaan sendiri (budaya lokal), dan toleransi memperoleh dukungan dari para pendidik. Hasil penelitian merekomendasikan agar guru Pendidikan Agama Kristen mendukung konstruksi sosial remaja Ma’anyan agar disampaikan dalam proses pembelajaran di kelas

    Peran Pendidikan Agama Kristen Dalam Memerangi Berita Hoaks di Media Sosial

    Full text link
    In this study, the author studies the role of Christian religious education in combating hoax on social media. This study begins with the author's empirical observation where these days hoax on social media becomes the main news that is endlessly discussed in public. As a result of many hoaxes on social media, there are many divisions between the people as expressed in this empirical study. If it is carefully observed that the main problem is not in the development of science and technology globally, but the problem is there are every person who uses the technology irresponsibly because humans are too spoiled with various facilities of technological sophistication so that there is no control when someone is free to express opinions in social media. Ironically this freedom is exploited to explore personal and group interests, without seeing the consequences of this dishonourable behaviour. By looking at these various facts, this study presents an effort to provide understanding and education to the public to participate in combating hoax on social media. The purpose of this study is to invite all Christians to contribute and care for the social problems that are troubling society today. Therefore it is time for the role of Christian Religion education to be applied through lifestyles by communicating honestly and get used to using ethics when surfing on social media. Tulisan ini merupakan kajian terhadap peran pendidikan agama kristen dalam memerangi berita hoaks di media sosial. Kajian ini berangkat dari pengamatan penulis secara empiris dimana hari-hari ini berita hoaks di media sosial menjadi berita utama yang tidak habisnya dibicarakan di publik. Akibat dari mewabahnya berita hoaks di media sosial maka tidak sedikit terjadinya perpecahan diantara masyarakat sebagaimana yang diungkapkan dalam tulisan ini seacara empiris. Jika diperhatikan dengan teliti bahwa unsur persolan sebenarnya bukan terletak pada perkembangan ilmu dan teknologi secara global, tetapi persoalannya adalah ada pada setiap oknum yang memanfaatkan teknologi tersebut karena manusia terlalu dimanjakan dengan berbagai fasilitas dari kecanggihan teknologi tersebut sehingga tidak ada kontrol ketika seseorang bebas mengeluarkan berpendapat di media sosial. Dengan melihat berbagai fonomena ini maka tulisan ini hadir sebagai upaya memberi pemahaman dan edukasi kepada masyarakatuntuk ikut berpatisipasi dalam memerangi berita hoaks di media sosial. Tujuan kajian ini mengajak seluruh umat Tuhan untuk berkontribusi dan peduli terhadap persolan-persoalan sosial yang sedang meresahkan masyarakat saat ini

    Konsep Diri Remaja Kristen Dalam Menghadapi Perubahan Zaman

    Full text link
    The ever-expanding changes times have an impact on many people even more on the lives of Christian teens. The teenage phase is a pretty hard time to deal with because of many influences around both positive and negative. This phase is also in which a person’s mind begins to form and depends on the circumstances surrounding them. This study aims to provide an overview of the self-concept of Christian teens in the face of changing times that continue to develop. Researches use a literature study approach to find the main picture of the research in question. The results showed that Christian youth in facing the changing times needed God’s wisdom in this world and needed to be followed by the right example of life. In addition, it is necessary to present the right figures and be the right role models, both from parents and the church (youth servants, servants of God/pastors) so that there is a role model for adolescents who help them live a wiser and more responsible life even if it occurs changing times that have their own impact. Perubahan zaman yang terus berkembang tentu memiliki dampak bagi banyak orang terlebih lagi pada kehidupan remaja Kristen. Fase remaja adalah masa-masa yang cukup sulit dihadapi dikarenakan banyaknya pengaruh di sekitar baik secara positif dan juga negatif. Di fase ini pula pola pikir seseorang mulai terbentuk dan tergantung dari keadaan yang ada di sekitarnya. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran tentang konsep diri remaja Kristen dalam menghadapi perubahan zaman yang terus berkembang. Peneliti menggunakan pendekatan studi pustaka untuk menemukan gambaran pokok penelitian yang dimaksud. Hasil penelitian menunjukkan bahwa remaja Kristen dalam menghadapi perubahan zaman, perlu hikmat Tuhan dalam dunia ini dan perlu diikuti dengan keteladan hidup yang benar. Selain itu, perlu menghadirkan tokoh-tokoh yang benar dan menjadi teladan yang benar, baik itu dari orangtua maupun gereja (pelayan remaja, hamba Tuhan/pendeta) agar ada role model bagi remaja yang membantunya dalam menjalani hidup dengan lebih bijak dan lebih bertanggungjawab sekalipun terjadi perubahan zaman yang membawa dampak tersendiri

    Kajian Teoritis Tentang Konsep Ruang Lingkup Kurikulum Pendidikan Agama Kristen

    Full text link
    This study aims to analyze the concept of the scope of the curriculum of Christian Religious Education. The method used in this research is descriptive qualitative approach to the study of literature. The results showed that the scope in formulating the Christian Religious Education curriculum considered elements of students, lecturers, educational institutions, institutional leaders, parents of students, churches and community. Understanding the curriculum concept is also an important part in formulating a Christian Religious Education curriculum. With the results of the study found a thesis that a correct understanding of the basic concept of the Christian Religious Education curriculum has a close relationship in the success of the curriculum development process and it’s implementation in the context of church service and in the context of general education in school. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa konsep ruang lingkup kurikulum Pendidikan Agama Kristen. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ruang lingkup dalam merumuskan kurikulum Pendidikan Agama Kristen mempertimbangkan unsur mahasiswa, dosen, lembaga pendidikan, pimpinan institusi, orangtua mahasiswa, gereja dan masyarakat. Pemahaman konsep kurikulum juga menjadi bagian penting dalam merumuskan kurikulum Pendidikan Agama Kristen. Dengan hasil penelitian tersebut ditemukan tesis bahwa pemahaman yang benar terhadap konsep dasar kurikulum Pendidikan Agama Kristen memiliki relasi yang erat dalam keberhasilan proses pengembangan kurikulum dan pelaksanaannya dalam konteks pelayanan gereja maupun dalam konteks pendidikan umum di sekolah-sekolah. &nbsp

    Pola Perwalian Sebagai Pembinaan Akademik, Kerohanian dan Karakter Mahasiswa

    Full text link
    This research was conducted to determine the pattern of student trusteeship as academic, spiritual and character development. The author uses a qualitative approach to obtain relevant information. The results showed that guardianship of students was carried out in two forms, namely academic guidance and guidance that emphasized aspects of spirituality and character. Guardianship for academic guidance is carried out through the guidance of study plans, monitoring students on academic aspects, and providing motivation so that students experience academic improvement. Spiritual and character formation is carried out by holding joint prayers, guidance to get to know each group's spiritual gifts, personal and group counseling, and Bible study.   Penelitian ini dilaksanakan untuk mengetahui pola perwalian mahasiswa sebagai pembinaan akademik, kerohania, dan karakter. Penulis menggunakan pendekatan kualitatif untuk memperoleh informasi yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perwalian terhadap mahasiswa dilaksanakan dalam dua bentuk yaitu bimbingan yang bersifat akademik dan bimbingan yang menekankan aspek kerohanian dan karakter. Perwalian untuk bimbingan akademik dilaksanakan melalui bimbingan rencana studi, pemantauan mahasiswa pada aspek akademik, dan pememberian motivasi agar mahasiswa mengalami peningkatan secara akademik. Pembinaan rohani dan karakter dilaksanakan dengan mengadakan doa bersama, bimbingan untuk mengenal karunia rohani masing-masing kelompok, konseling pribadi dan grup, dan pendalaman Alkitab

    193

    full texts

    197

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Ilmiah Religiosity Entity Humanity (JIREH)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇