Jurnal Ilmiah Religiosity Entity Humanity (JIREH)
Not a member yet
197 research outputs found
Sort by
Motivasi Belajar Mahasiswa Melalui Gaya Mengajar Dosen Di Era Pandemi
This study aims to confirm the influence of lecturers' teaching styles on student learning motivation at the Basom Theological College batam. This study used quantitative methods with a sample of 30 students. The findings of the study revealed that the teaching style of lecturers at STT Basom Batam affects student learning motivation. This is shown by the data that if th ≥ tt, then there is a significant Influence of Lecturer Teaching Style (X) on the Learning Motivation of STT Basom (Y) students. From the table it is known that tt = 1.697 and from the calculations obtained 2.696 at a significance level of 5% with N = 30. Thus, th > tt, meaning that there is a significant influence of the lecturer's teaching style on the learning motivation of STT Basom Batam students.
Penelitian ini bertujuan untuk mengkonfirmasi pengaruh gaya mengajar dosen terhadap motivasi belajar mahasiswa di Sekolah Tinggi Teologi Basom Batam. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan sampel mahasiswa sebanyak 30 orang mahasiswa. Temuan penelitian mengungkapkan bahwa gaya mengajar dosen di STT Basom Batam mempengaruhi motivasi belajar mahasiswa. Hal ini ditunjukkan dengan data bahwa jika th ≥ tt, maka terdapat Pengaruh Gaya Mengajar Dosen (X) yang signifikan terhadap Motivasi Belajar mahasiswa STT Basom (Y). Dari tabel diketahui tt = 1,697 dan dari perhitungan diperoleh 2, 696 pada taraf signifikansi 5% dengan N = 30. Dengan demikian, th > tt, artinya terdapat pengaruh yang signifikan gaya mengajar dosen terhadap motivasi belajar mahasiswa STT Basom Batam
Teologi Anak Menurut John Calvin dan Signifikansinya Bagi Kekristenan Masa Kini
Children are the future of a society and the future of the church. Awareness of the importance of children to society and the church needs to be based on biblical concepts of nature of child and childhood. This is necessary because of the emergence of deviant attitudes towards children as a result of extreme understanding between children as sinners or children as innocent and pure individuals. One of them is the abuse of discipline and punishment and the underestimation of the possibility of crimes committed by children. Therefore, this article descriptively through literature study tries to retell the efforts of a reformer named John Calvin who has introduced the biblical concept of child and childhood with a balance between the sinful side and the precious side of a child in Geneva. Calvin's understanding and experience can set an example for a balanced view of children and childhood and help today's Christianity to carry out the responsibilities it should take for children in the family, church and society.
Anak-anak adalah masa depan dari sebuah masyarakat dan hari depan gereja. Kesadaran akan pentingnya anak-anak bagi masyarakat dan gereja perlu didasari oleh konsep yang biblikal mengenai natur dan masa kanak-kanak. Hal ini diperlukan karena timbulnya sikap-sikap yang menyimpang terhadap anak-anak sebagai hasil dari pemahaman yang ekstrem antara anak-anak sebagai manusia berdosa ataupun anak-anak sebagai pribadi yang polos dan murni. Salah satunya adalah penyalahgunaan disiplin dan hukuman serta penyepelean adanya kemungkinan kejahatan yang dilakukan oleh anak-anak. Oleh sebab itu, artikel ini secara deskriptif melalui studi pustaka berusaha menceritakan kembali usaha seorang reformator bernama John Calvin yang telah memperkenalkan konsep anak dan masa kanak-kanak yang biblikal dengan seimbang antara sisi berdosa dan sisi berharga seorang anak di Jenewa. Pemahaman dan pengalaman Calvin dapat memberikan contoh bagi cara pandang yang seimbang terhadap anak-anak dan masa kanak-kanak serta menolong Kekristenan masa kini untuk mengerjakan tanggung jawab yang seharusnya dilakukan bagi anak-anak di dalam keluarga, gereja dan masyarakat
Memancarkan Pengajaran Makna ‘Habis Gelap Terbitlah Terang’ Berdasarkan Efesus 5:1-21 dalam Diri Orang Kristen
In the past, Ephesians committed various sins. Therefore, the apostle Paul was chosen by God to preach the gospel to Ephesus to leave sin according to the teaching, 'It is dark to rise the light.' The phrase 'the dark rises of light' is an attitude that must be taken by god's people, namely those who believe in Jesus Christ, to distinguish their lives from the lives of others who still live in sin. Aim the research to find mean phrase of 'the dark rises of light'. This research uses qualitative methods with a literature and exposition approach to the text of the Bible. From the results of this study, it is hoped that God's people do not tend to sin because sin is a violation of God's law. The conclusion and implication of the results of this study are that the sinful acts committed by a man or God's people, both in hidden places and in the open places violate God's law. God will give eternal punishment to everyone who does not renounce his sin and does not want to live in the miraculous light of Christ.
Dahulu orang-orang Efesus melakukan berbagai pelanggaran/dosa. Karena itu, rasul Paulus dipilih Allah agar memberitakan Injil ke Efesus supaya meninggalkan dosa sesuai pengajaran, ‘Habis gelap terbitlah terang.’ Frasa ‘habis gelap terbitlah terang’ merupakan sikap yang harus dilakukan oleh umat Tuhan, yakni yang beriman kepada Yesus Kristus, untuk membedakan kehidupannya dengan kehidupan orang lain yang masih tinggal di dalam dosa. Tujuan penelitian untuk menemukan makna dan pengajaran frasa ‘Habis gelap terbitlah terang.’ Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan kepustakaan dan eksposisi terhadap teks Alkitab. Dari hasil penelitian ini diharapkan umat Tuhan tidak memiliki kecenderungan untuk berbuat dosa karena dosa adalah pelanggaran hukum Tuhan. Konklusi dan implikasi hasil penelitian ini ialah perbuatan dosa yang dilakukan oleh manusia atau umat Tuhan, baik di tempat-tempat tersembunyi maupun di tempat-tempat terbuka adalah melanggar hukum Tuhan. Tuhan akan memberi hukuman kekal kepada setiap orang yang tidak meninggalkan dosanya dan tidak menghendaki untuk hidup di dalam terang Kristus yang ajaib
Profesionalisme Guru Agama Kristen Dalam Pembentukan Karakter Peserta Didik
Teachers are educators, and it can be said that teachers are people who play a very important role in producing humans with good quality human resources for the country. The phenomena obtained from the teachers slapping and tearing students' books for not doing their assignments. The aims of this research are as follows: (1) what is meant by a professional teacher? (2) how is the character of Christian religious education teacher? (3) how is the competence of Christian religious education teacher? (4) how to shape the character of student? and (5) How is the professionalism of Christian religious educators to shape the characteristics of students? This research uses a qualitative method with a literature study approach. The results of the study are (1) Professional teachers are educators who do work as educators/teachers with high capacities who are the source of life. (2) Have the characters of Christ. (3) Have pedagogic, professional, social, and personality competencies. (4) An exemplary teacher. (5) a teacher who has the principle that students are gold, gems and diamonds that do not pay off.
Guru merupakan tenaga pendidik, dan bisa dikatakan guru adalah orang yang sangat berperan dalam mengasilkan manusia dengan kualitas sumber daya manusia yang baik bagi negeri. Fenomena yang di dapatkan Guru menampar dan merobek buku murid hanya karena tidak mengerjakan tugas. Tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut: (1) Apakah yang dimaksud guru professional? (2) Bagaimana karakter guru pendidikan agama Kristen? (3) Bagaimana kompetensi guru pendidkan agama Kristen? (4) Bagaiman membentuk karakter peserta didik? dan (5) Bagaimana Profesionalisme tenaga pendidik agama kristen untuk membentuk karaktersitik peserta didik? Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka. Hasil dari penelitian adalah (1) Guru Profesional merupakan pendidik yang melakukan pekerjaan sebagai pendidik/pengajar dengan kapasitas tinggi yang menjadi sumber kehidupan. (2) Memiliki karakter Kristus. (3) Memiliki kompetensi pedagogic, profesional, sosial, dan kepribadian. (4) Guru yang menjadi teladan. (5) Guru yang memiliki prinsip bahwa peserta didik adalah emas, permata dan berlian yang tidak terbayar harganya
Developing an ICT Based Media of English Learning for Buddhist Students at Kusalamitra Homeschooling
This study was conducted at one of Buddhist Homeschooling namely Kusalamitra Homeschooling. This study aimed to develop an ICT based application to learn English for Buddhist students of Kusalamitra Homeschooling. This recent study was a research and development study so it objected to develop an English learning application for the students. Subjects of this study were validators and Buddhist students. There were two techniques used to collect the data namely interview and questionnaires. The interview was used to identify students’ need in learning English. The questionnaires were used to validate the product and evaluate the product. The data collected were analyzed qualitatively and quantitatively. There were five procedures in conducting this study. Those were analyzing needs, designing product, developing product, implementing product, and evaluating product. Based on the research finding, this study showed that the media developed had very good quality and very worth to be implemented on the students.
Penelitian ini dilaksanakan di salah satu Homeschooling Buddha yang bernama Homeschooling Kusalamitra. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan media pembelajaran bahasa Inggris berbasis teknologi informasi dan komunikasi. Penelitian ini merupakan jenis penelitian dan pengembangan yang bertujuan untuk mengembangkan sebuah aplikasi pembelajaran bahasa Inggris bagi siswa. Terdapat dua subjek dalam penelitian ini yaitu validator dan juga siswa Buddha homeschooling itu sendiri. Terdapat dua teknik yang digunakan untuk mengumpulkan data yaitu melalui wawancara dan penyebaran angket. Data yang dikumpulkan kemudian dianalisis secara kualitatif dan kuantitatif. Terdapat lima langkah dalam melaksanakan penelitian ini yaitu menganalisis kebutuhan, mendesain produk, mengembangkan produk, mengimplementasikan produk, dan mengevaluasi produk. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media yang dikembangkan masuk dalam kategori sangat baik dan sangat layak untuk digunakan oleh siswa
Enkulturasi Nilai-nilai Kristiani dalam Tradisi Batak melalui Lagu “Nunga Loja Daginghon” sebagai Bentuk Pendidikan Spiritual dalam Keluarga
Singing nunga loja daginghon as a lullaby for children in the family has become an inseparable tradition in the life of the Christian Batak family. A spiritual song born in the socio-historical context of the poor and oppressed proletariat in Germany has been adopted into a lullaby spiritual song in Batak derived from Ende's book written with a description of the evening chant. The specialty of this song in the life of the Batak Christian family is interesting to examine with a qualitative approach through the study of literature in a musical and socio-historical perspective. This approach is done to find the background of this song used as a lullaby at night and also at the same time to find the meaning contained in this song as a medium of spiritual education for children in the life of the Christian Batak family. Researchers argue that based on an analysis of the song form and socio-historical context of Nunga Loja Daginghon's song, singing this song at night is very effective as a form of spiritual education for children in the context of Christian Batak family life.
Menyanyikan lagu Nunga Loja Daginghon sebagai pengantar tidur bagi anak-anak dalam keluarga telah menjadi tradisi yang tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan keluarga Batak Kristen. Lagu rohani yang lahir dalam konteks sosio-historis kaum proletar yang miskin dan tertindas di Jerman telah diadopsi menjadi lagu rohani pengantar tidur dalam bahasa Batak yang bersumber dari buku Ende yang ditulis dengan keterangan nyanyian pada malam hari. Keistimewaan lagu ini dalam kehidupan keluarga Batak Kristen menarik untuk ditelaah dengan pendekatan kualitatif melalui studi kepustakaan dalam perspektif musik dan sosio-historis. Pendekatan ini dilakukan untuk menemukan latar belakang lagu ini dijadikan sebagai lagu pengantar tidur pada malam hari dan juga sekaligus untuk menemukan makna yang terkandung dalam lagu ini sebagai media pendidikan spiritualitas bagi anak-anak dalam kehidupan keluarga Batak Kristen. Peneliti berpendapat bahwa berdasarkan analisis terhadap bentuk lagu dan konteks sosio-historis terhadap lagu Nunga Loja Daginghon, menyanyikan lagu ini pada malam hari sangat efektif sebagai bentuk pendidikan spiritualitas bagi anak-anak dalam konteks kehidupan keluarga Batak Kristen.
 
Moral Values behind the Reliefs’ Story of The Sojiwan Temple at Klaten Region
This research was conducted at Sojiwan Temple, Klaten. The Sojiwan Temple is a Buddhist Temple located in Klaten Region. This research aimed to investigate the Reliefs’ shapes that existed at Sojiwan Temple and the story of Temples’ Reliefs. There were some related researches to the previous study. However, the gap was found. It is about the moral values based on story behind the Temple’s Reliefs at the Sojiwan Temple. There was a qualitative research design employed in this study. The object of this research was Sojiwan Temple itself. There were three data collection techniques used to collect the data. They were observation, interview and documentation. The data gathered were analyzed using a research design called flow method of qualitative design. This research method consisted of three stages, those namely collecting data, reducing data, displaying data, and concluding or verifying. The result of this study indicated that: (1) there were fourteen Reliefs’ shapes existed at Sojiwan Temple and (2) Each Relief at Sojiwan Temple had moral values based on its own story sculpted. All the Reliefs told about some moral values. They were ingenuity, simplicity, tolerance, sincerity, discipline, toughness, affection, carefulness, self-awareness, solidarity, and unity.
Penelitian ini dilaksanakan di Candi Sojiwan, Klaten. Candi Sojiwan merupakan candi Buddha yang terletak di Kabupaten Klaten. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menemukan bentuk-bentuk Relief yang ada di Candi Sojiwan beserta dengan makna dari masing-masing Relief tersebut. Dalam penelitian-penelitian terdahulu sudah membahas tentang hal serupa. Namun, terdapat perbedaan yang ditemukan yaitu tentang nilai-nilai moral yang diperoleh dari makna dan cerita di balik Relief yang ada di Candi Sojiwan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Adapun objek dalam penelitian ini adalah Candi Sojiwan itu sendiri. Terdapat tiga teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi. Data yang diperoleh kemudian dianalisis menggunakan desain penelitian yang disebut dengan metode kualitatif flow. Metode penelitian yang digunakan ini memiliki tiga tahap, yaitu mengumpulkan data, mengurang data, menampilkan data, dan menyimpulkan atau memvalidasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) terdapat empat belas bentuk Relief yang ada di Candi Sojiwan dan (2) masing-masing Relief memiliki nilai moral yang terkandung dalam cerita dari masing-masing Relief. Semua Relief tersebut menyampaikan nilai-nilai moral, yaitu kecerdikan, kesederhanaan, toleransi, ketulusan, disiplin, ketabahan, kasih sayang, kehati-hatian, mawas diri, solidaritas, dan persatuan
Strategi Manajemen Keuangan Gereja Kalimantan Evangelis Dalam Bentuk Badan Usaha
Financial management in religious organizations such as churches needs to be independent of church operational funds without relying on congregational offerings. The purpose of this study is to analyze the church's financial management strategy in managing its assets as an investment that generates funds for church management, especially in the Gereja Kalimantan Evangelis. The method used is a qualitative exploration with the techniques of observation, interviews, and documentation studies. This study analyzes the financial management strategy process namely strategy formulation, development of vision and mission, identification of opportunities and threats managing church assets at GKE Resort Tewah by building swallow nests and market blocks. The investment strategy results by managing church assets can fund all church operations and become a financially independent church without depending on congregational offerings.
Manajemen keuangan pada organisasi keagamaan seperti gereja perlu menuju kemandirian dana operasional gereja tanpa bergantung pada persembahan jemaat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis strategi manajemen keuangan gereja dalam mengelola aset yang dimiliki sebagai suatu investasi yang menghasil dana untuk pengelolaan gereja, khususnya di Gereja Kalimantan Evangelis. Metode yang digunakan adalah kualitatif eksplorasi dengan teknik observasi, wawancara, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian ini berupa analisis proses strategi manejemen keuangan yaitu perumusan strategi, mengembangkan visi dan misi, mengidentifikasi peluang dan ancaman. Bentuk penerapan strategi keuangan dengan mengelola aset gereja di GKE Resort Tewah dengan membangun sarang burung walet dan blok pasar. Hasil dari strategi investasi dengan mengelola aset gereja dapat mendanai seluruh operasional gereja dan dapat menjadi gereja yang mandiri secara keuangan tanpa bergantung kepada persembahan jemaat
TERIAKKAN “PUKUL TERUS”: Misiologi Pantekosta dan Pendidikan Agama Kristen
The paper presents Pantecostal missiology both historically, teaching and learning processes, as well as more recent empirical data. By not dismissing the problems and criticisms from scholars who doubted whether Pantecostalism really had a missiology, and doubted the process of learning about it in Christian religious higher education, here is narrated the dynamics of Pantecostal missiology. This paper presents the Pantecostal Church in Indonesia (PCiI or GPdI) and many things that surround it, the history of its formation since January 6, 1906 in the era of the Dutch East Indies as the object of study. To build a solid argument, based on the finding that there really is a Pantecostal missiology, we use a combined research method of quantitative empirical through a questionnaire survey for the need for a postgraduate thesis and qualitative based on primary data sources from the GPdI senior figures themselves and literature from other researchers as secondary sources. The paper is useful as a conceptual framework for the Indonesian academic field, namely Pantecostal missiology and Christian religious education which has never been the object of study so far that is useful for Christian religious higher education and global studies of Pantecostalism which is currently growing in the international academic arena.
Tulisan ini menampilkan misiologi Pantekosta baik itu secara historis, proses belajar mengajar, maupun data empiris yang lebih baru. Dengan tidak menampik adanya problem dan kritik dari sarjana yang banyak meragukan apakah Pantekosta benar-benar memiliki misiologi, dan meragukan proses pembelajaran akan hal tersebut di pendidikan tinggi keagamaan Kristen, di sini dinarasikan dinamika misiologi Pantekosta. Tulisan ini mengetengahkan Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) dan banyak hal yang mengitarinya sejarah pembentukannya sejak 6 Januari 1906 di era Hindia Belanda sebagai objek studi. Untuk membangun argumentasi yang solid atas dasar temuan bahwa benar ada misiologi Pantekosta, kami menggunakan metode penelitian gabungan antara kuantitatif empiris lewat survei angket untuk kebutuhan tesis pascasarjana dan kualitatif berdasarkan sumber data primer dari tokoh GPdI itu sendiri serta literatur dari peneliti lain sebagai sumber sekunder. Tulisan ini berguna menjadi kerangka konseptual dari ladang akademik Indonesia yakni misiologi Pantekosta dan pendidikan agama Kristen yang belum pernah menjadi objek kajian selama ini yang berguna bagi pendidikan tinggi keagamaan Kristen maupun studi global Pantekostalisme yang sedang menggeliat di arena akademik internasional
Sebuah Perbandingan Terhadap Spiritualitas Postmodern dan Spiritualitas Pentakosta
Pentecostal and Postmodern spirituality deserve to be discussed because it seems as if the Pentecostal tradition in building spirituality has similarities with the idea of spirituality in Postmodern. There is no denying that the Pentecostal group is plagiarism of postmodern spirituality. Therefore, in this paper, I would like to conduct a comparative analysis of Pentecostal and Postmodern spirituality using non-experimental qualitative research methods, reviewing the relevant literature with Pentecostalism and Postmodernism.
Spiritualitas Pentakosta dan Postmodern layak dipercakapkan karena seolah-seolah tradisi pentakosta dalam membangun spitirualitasnya memiliki kemiripan dengan gagasan spiritualitas dalam Posmoderen. Tidak dapat disangkali bahwa kelompok Pentakosta semacam melakukan penjiplakan terhadap spiritualitas posmoderen. Karena itu, dalam penulisan ini saya hendak melakukan suatu analis perbandingan terhadap spiritulaitas Pentakosta dan Posmoderen dengan memakai metode penelitian kualitatif non eksperimental dalam hal ini melakukan telaah terhadap literatur-literatur yang relevan dengan Pentakostalisme dan Posmodenisme