Jurnal Ilmiah Religiosity Entity Humanity (JIREH)
Not a member yet
    197 research outputs found

    Agama dan Politik: Perbandingan Sosio-Historis Antara Konteks Indonesia dan Kerajaan Israel Bersatu

    Full text link
    The purpose of this article is to describe various forms of formalization, interpretation, and concretization of the relationship between religious and political entities that are integralistic, intersectional, or secular in the context of Indonesia and the United Kingdom of Israel. The approach used to describe the above is a hermeneutic approach through literature study. The results of the study show that the relationship between religious and political entities, both in the context of the Indonesian state and the context of the United Kingdom of Israel is an intersectional and integralistic relationship. The model and the nature of these relations are clearly seen in the pattern and process of selecting the head of government, the elaboration of ideology and the basis of the state, such as in the formation of Pancasila and the J source, to the concretization of forms of community social interaction which are always related to socio-religious dynamics. At this point, although the state of Indonesia and the United Kingdom of Israel have different contexts and concepts of government, the relationship between religious and political entities is a form of reciprocal relationship and reflects the concept of idealistic culture. Tujuan penulisan artikel ini adalah mendesripsikan berbagai bentuk formalisasi, intepretasi, maupun konkretisasi hubungan antara entitas agama dan politik yang bersifat integralistik, intersectional, ataupun sekularistik baik pada konteks Indonesia maupun Kerajaan Israel Bersatu. Pendekataan yang digunakan untuk mendeskripsikan perihal di atas adalah pendekatan hermeneutik melalui studi kepustakaan. Hasil penelitian menunjukan bahwa relasi antara entitas agama dan politik baik pada konteks negara Indonesia maupun konteks Kerajaan Israel Bersatu merupakan relasi yang bersifat intersectional dan integralistik. Model dan sifat relasi tersebut terlihat jelas dalam pola dan proses pemilihan kepala pemerintahan, elaborasi ideologi dan dasar negara seperti dalam pembentukan Pancasila dan sumber Y, sampai pada bentuk-bentuk konkritisasi interaksi sosial masyarakat yang selalu berhubungan dengan dinamika sosial-keagamaan. Pada titik ini, meski negara Indonesia dan Kerajaan Israel Bersatu memiliki perbedaan konteks dan konsep pemerintahan, namun ralasi antara entitas agama dan politik menjadi bentuk relasi yang resiprokal dan mencerminkan konsep idealistic culture

    Partisipasi Orangtua Sebagai Agen Misi Dalam Keluarga: Mixed Method

    Full text link
    The mission of God in this world is accomplished through the presence of families. However, ignoring their role as God’s mission agents, many parents do not understand their duties and responsibility to participate as God’s mission agents for their family. To add, maturity level of parents in terms of spiritual, individual, and knowledge is still low because they prioritize money, prestige, and carrier instead of being a role model to their children. To investigate such issues, this research applied a mixed methods approach Sequential Exploratory (quantitative and qualitative). The quantitative research sample was 135 parents and qualitatively from each church, one parent was taken from three (3) different church denominations, namely GMIT, GMII, and the Indonesian Morning Star Church. The result shows more than 75% parents got involved in being mission agents to their families as evangelist, disciple maker, and example of faith. The responsibility is shown through actively shape the spirituality of each family member by practicing praying together, developing good communication to nurture spiritual maturity, supporting family members to get involved in church services, and above all being a role model to family members. Misi Allah dalam dunia ini dikerjakan melalui keluarga. Sebagai agen misi Allah, orangtua harus dapat menjalankan tanggungjawabnya, namum ada banyak orangtua yang belum paham mengenai tugas dan tanggungjawabnya sebagai agen misi bagi keluarganya sendiri. Di samping itu, tingkat kedewasaan orangtua dalam kerohanian, kepribadian, dan wawasan pun masih minim, di mana orangtua tidak menjadi teladan iman bagi anggota keluarganya dan sibuk mengejar materi, prestise dan karier. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah mixed method dengan metode kombinasi Sequential Eksplanatory (kuantitatif dan kualitatif). Sampel penelitian kuantitatif berjumlah 135 orangtua dan secara kualitatif masing-masih gereja diambil 1 orangtua dari tiga (3) denominasi gereja yang berbeda yakni GMIT, GMII dan Gereja Morning Star Indonesia. Hasil temuan penelitian menunjukkan bahwa lebih dari 75% orangtua telah menjalankan perannya sebagai agen misi dalam keluarga sebagai penginjil, desciple maker, dan teladan iman. Tanggungjawab tersebut ditunjukkan dengan cara aktif membangun kerohanian anggota keluarga melalui pemberlakukan ibadah keluarga, membangun komunikasi yang dinamis demi pendewasaan kerohanian anggota keluarga, mendorong anggota keluarga untuk terlibat dalam pelayanan gerejawi, dan yang paling penting adalah menjadi teladan bagi anggota keluarga

    Revolusi Konseling Karakter Bagi Peserta Didik Menghadapi Tantangan Abad 21

    Full text link
    Moral degradation in generations in the 21st century is a challenge and a complex problem that must be immediately addressed by educational institutions. Character counseling guidance for students is a solution to answer the needs of these problems. Educators as implementers of educational tasks can restore character counseling guidance to meet the needs of students in responding to and dealing with shifts in socio-cultural values ​​that affect a character. This research paper uses a descriptive qualitative approach to describe educators designing character education patterns and strategies for counseling guidance approaches that are appropriate to the needs of the times and right on target. The educational counseling guidance revolution can be pursued by designing Strengthening Character Education which is: Faithful, Morals and Integrity. While the Strategic Approach: Thinking Critically, Be Optimistic, and Act Creatively. Degradasi moral pada generasi di abad 21 menjadi tantangan dan masalah kompleks yang harus segera ditangani oleh lembaga pendidikan. Bimbingan konseling karakter terhadap peserta didik merupakan solusi untuk menjawab kebutuhan persoalan tersebut. Para pendidik selaku pelaksana tugas pendidikan dapat melakukan restorasi bimbingan konseling karakter guna memenuhi kebutuhan peserta didik dalam menyingkapi dan mengadapi pergeseran nilai-nilai social budaya yang berpengaruh pada karakter. Penelitian naskah ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif untuk menggambarkan para pendidik merancang pola pendidikan karakter dan strategi pendekatan bimbingan konseling yang sesuai dengan kebutuhan zaman dan tepat pada sasaran. Revolusi bimbingan konseling pendidikan dapat ditempuh dengan merancang Penguatan Pendidikan Karakter yang: Bertaqwa, Bermoral dan Berintegritas. Sedangkan Pendekatan Strategi: Berpikir Kritis, Bersikap Optimis, dan Bertindak Kreatif.   &nbsp

    Pendidikan Perempuan Pantekosta Sebagai Upaya Optimalisasi Peran Wanita Dalam Penatalayanan Gereja

    Full text link
        The fact show that there is still an understanding that women do not need to optimize themselves regarding the implementation of of the Christian faith, ethich and morality education as organism involved in church stewardship activities. Women deal mostly with consumption and are limited to housewives, a bad mirror of women among Pentecostal women. While Pentecostal women also seem to enjoy the condition without a role. This paper aims to provide a significant insight into the need for education for women to be optimal in their duties and role according to the Lord Jesus’ mandate for believers which is facilitated in church stewardship. This paper was preceded by the application of descriptive qualitative research methods to served as church pastors, housewives, and leaders of Pentecostal service oraganizations. Researchers obtain the reality that the Pentecostal Church does not understand gender. Pentecostal women who are the source of data in this research are the facts of the domination of Pentecostal male ego, as well as providing a strong indication of the importance of Pentecostal women’s education in the context of efforts to optimize the role of female congregation members in church stewardship as concrete events that require creative and transformative solutions. Fakta bahwa masih ada pemahaman perempuan tidak perlu mengoptimalisasi diri terkait implementasi nilai-nilai iman Kristen, edukasi etika dan moralitas sebagai organisme yang terlibat dalam kegiatan penatalayanan gereja. Perempuan hanyalah berurusan dengan konsumsi, sebatas ibu rumah tangga, merupakan cermin buruk perempuan di kalangan perempuan Pantekosta. Sementara perempuan Pantekosta pun seolah-olah menikmati kondisi tanpa peran. Tulisan ini bertujuan memberikan suatu wawasan signifikan tentang perlunya pendidikan bagi kaum perempuan untuk menjadi optimal dalam tugas dan perannya sesuai mandat Tuhan Yesus bagi orang percaya yang difasilitasi dalam penatalayanan gereja. Tulisan ini didahului penerapan metode penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif pada beberapa perempuan yang berperan sebagai gembala jemaat, ibu rumah tangga, dan pemimpin wadah-wadah pelayanan Pantekosta. Peneliti memperoleh realita bahwa Gereja Pantekosta tidak mengerti perihal gender. Perempuan Pantekosta yang menjadi sumber data dalam riset ini adalah fakta dominasi keakuan laki-laki Pantekosta, sekaligus memberikan indikasi kuat pentingnya pendidikan perempuan Pantekosta dalam rangka upaya optimalisasi peran warga jemaat kategori wanita dalam penatalayanan gereja sebagai peristiwa kongkret yang membutuhkan solusi kreatif dan transformatif

    Kontekstual Sinergisitas Gereja Dan Influencer Rohani Dalam Pembangunan Spiritual Generasi “Z”

    Full text link
    Artikel ini melihat aspek spiritualitas biblika, komitmen pelayanan, dan pengembangan spiritual sebagai irisan untuk konteks pendekatan praksis dalam pengembangan spiritual generasi Z. Penulis melihat ruang sinergisitas antara gereja dengan tradisi pelayanan fisik dengan influencer Kristen dalam ruang media sosial. Tujuannya adalah merumuskan kembali postulat gereja dalam pengembangan spiritual generasi Z bersama Influencer Kristen.  Bagian pertama memuat peran gereja dan influencer Kristen sebagai inisiator dalam pengembangan relasi dan komunitias generasi Z dalam ruang fisik dan virtual. Bagian kedua menjelaskan langkah influencer rohani bertindak sebagai opinion leader dalam media. Bagian ketiga menjelaskan dua kategori bentuk sinergisitas gereja dan influencer Kristen. Kategori awal ketika gereja bertanggung jawab dalam melatih dan melahirkan influencer Kristen dalam pesan pertobatan dan pengembangan rohani dengan pengurapan dan otoritas Ilahi, serta berkualitas tinggi dalam norma-etika di ruang digital. Kategori akhir adalah sinergisitas dalam bentuk ekuivalensi mutu Firman Tuhan dalam ruang fisik dan virtual. Metode penelitian dengan pendekatan kualitatif deskriptif, dan pengumpulan data melalui studi literatur

    Konsep Menyerahkan Orang Kepada Iblis dalam 1 Korintus 5:1-13 dan Implementasinya dalam Kehidupan Orang Percaya

    Full text link
    The basic diificulty in understanding the text is understanding the role of the devil who destroys the body but aims to save the soul of the person who is handed over to the devil which is very contrary to the goal of the devil who wants to destroy humans so that they experience eternal death instead of saving the soul.  The purpose of this study is to examine the concept of handing people over to the devil in the text of 1 Corinthians 5:1-13. In addition, the author also explains the implications of the text for believers today. This study uses a grammatical-historical hermeneutic study method. The result of the author's study is that the concept of handing people over to the Devil in 1 Corinthians 5:1-13 is an act of the congregation by exercising church discipline against church members who have not left their sins and aims to provide a deterrent effect. Meanwhile, the implementation of the concept of handing people over to the Devil/demons in 1 Corinthians 5:1-13 is that believers live in a commitment to holiness, carry out church discipline as the identity of the holy people, and carry out church discipline as the authority of the congregation.   Kesulitan dasar dalam memahami teks tersebut ialah memahami peran Iblis yang membinasakan tubuh namun bertujuan untuk keselamatan roh atas orang yang diserahkan kepada Iblis yang sangat bertentangan dengan tujuan Iblis yang mau membinasakan manusia agar mengalami kematian kekal bukan keselamatan roh. Tujuan dari penelitian ini ialah mengkaji konsep menyerahkan orang kepada Iblis dalam teks 1 Korintus 5:1-13. Selain itu, penulis juga menjelaskan implikasi teks bagi orang percaya pada masa kini. Penelitian ini menggunakan metode kajian hermeneutik gramatikal-historis. Hasil kajian penulis ialah konsep menyerahkan orang kepada Iblis dalam 1 Korintus 5:1-13 adalah tindakan jemaat dengan menjalankan disiplin gereja terhadap anggota jemaat yang belum meninggalkan dosanya dan bertujuan memberikan efek jera. Adapun, implikasi dari konsep menyerahkan orang kepada Iblis/setan dalam 1 Korintus 5:1-13 ialah orang percaya hidup dalam komitmen kekudusan, menjalankan disiplin gereja sebagai identitas umat yang kudus, serta menjalankan disiplin gereja sebagai wewenang jemaat

    Moderasi Beragama: Praksis Kerukunan Antar Umat Beragama

    Full text link
    The Indonesian state has religious pluralism, therefore an effort is needed to maintain inter-religious harmony. One of them is through religious moderation. The principle of religious moderation is to be balanced on two things, namely understanding religious texts (holy books) that must be in accordance with the context, and upholding humanity as the core of religion itself. Christians in Indonesia, both individuals and church institutions need to take part in living religious moderation. The purpose of this research is to describe and analyze the understanding and practice of religious moderation at church. One of them is at Gereja Kalimantan Evangelis (GKE), namely GKE Kasongan, Katingan Regency, sentral Kalimantan Province. The method used is a qualitative method with a descriptive-analytical approach. Sources of data from interviews and literature review on religious moderation. The results show that although most of the members of the GKE Kasongan do not understand the term religious moderation, in practice it has been realized. It is necessary to socialize and realize religious moderation which can be started from each religious community in Indonesia. Negara Indonesia memiliki kemajemukan agama, oleh sebab itu diperlukan suatu upaya untuk memelihara kerukunan antar umat beragama. Salah satunya adalah melalui moderasi beragama. Prinsip moderasi beragama yakni seimbang pada dua hal yakni  memahami teks (kitab suci) keagamaan harus sesuai dengan konteks, dan menjunjung kemanusiaan sebagai inti dari beragama itu sendiri. Umat kristen di Indonesia, baik individu maupun institusi gereja perlu ambil bagian dalam menghidupi moderasi beragama. Tujuan Penelitian adalah mendeskripsikan dan menganalisa pemahaman dan praksis moderasi Beragama di gereja. Salah satunya adalah di Gereja Kalimantan Evangelis (GKE) yakni GKE Kasongan,  Kabupaten Katingan, Provinsi Kalimantan Tengah. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif-analitis. Sumber data dari hasil wawancara dan kajian literatur tentang moderasi beragama. Hasil Penelitian menunjukkan sekalipun sebagian besar Jemaat GKE Kasongan belum memahami istilah moderasi beragama namun praksis moderasi beragama sudah diwujudkan, sehingga perlu disosialisasikan dan diwujudkan dalam hal pemahaman maupun praksis yang dimulai dari masing-masing komunitas umat beragama di Indonesia. &nbsp

    Relevansi Ilmu Filsafat bagi Perkembangan Ilmu Pengetahuan Pendidikan Agama Kristen

    Full text link
    The concept of Christian theology departs from God as the ultimate reality but philosophy departs from the human mind which thinks critically, questions many things to their roots. This fact often makes many Christians today still have anti-philosophical attitudes, and this certainly has an impact on the development of Christian religious education. History has recorded that the birth of philosophers in the ancient Greek era emphasized how the beginnings of science developed. This happens because philosophy gave birth to a tradition of critical and logical thinking that breaks, liberates, guides and ultimately brings humans to enlightenment. The development of science cannot be separated from this philosophical tradition. The relevance of philosophy to the development of Christian religious education disciplines is if philosophy, first, the tradition of philosophy gets a portion in the practice of Christian religious education. Second, the practice of Christian religious education must provide space for freedom of thought. Third, the practice of Christian religious education is open and not exclusive. The discipline of philosophy should not be ignored, because it is a tool to describe the philosophical foundations of science, namely ontological, epistemological and axiological. Konsep teologi kristen yang berangkat dari Allah sebagai realitas utama namun sebaliknya filsafat berangkat dari pikiran manusia yang berpikir secara kritis, mempertanyakan banyak hal sampai keakar-akarnya. Kenyataan ini yang kerap menjadikan banyak orang kristen pada masa kini masih memiliki sifat anti terhadap filsafat, dan hal ini tentu berdampak pada perkembangan ilmu pendidikan agama Kristen. Sejarah telah mencatatkan bahwa kelahiran para filsuf pada era Yunani kuno menandaskan bagaimana awal mula ilmu pengetahuan berkembang. Hal ini terjadi karena filsafat melahirkan tradisi berpikir kritis dan logis yang mendobrak, membebas, membimbing dan pada akhirnya membawa manusia kepada pencerahan. Perkembangan ilmu pengetahuan tidak bisa dilepaskan dari tradisi filsafat ini. Relevansi filsafat terhadap pengembangan disiplin ilmu pengetahuan pendidikan agama Kristen apabila filsafat, Pertama, tradisi ilmu filsafat mendapatkan porsi dalam praktik ilmu pendidikan Agama Kristen. Kedua, praktik pendidikan agama Kristen harus memberi ruang kebebasan untuk berpikir. Ketiga, praktik ilmu pendidikan agama Kristen bersikap terbuka dan tidak eksklusif. Disiplin ilmu filsafat tidak boleh diabaikan, karena ia merupakan alat untuk menguraikan pondasi ilmu secara filosofis yaitu ontologis, epistemologis dan aksiologis

    Rekonstruksi Sosial Jemaat Katunen Pada Esoterisme Religio Magis Bukit Batu

    Full text link
    This research stems from the phenomenon of religious and psycho-social community life dayak Ngaju Katingan that must be faced by members of the Katunen Congregation. The Esoteric Rite of The Rock is loaded with magi practices can affect the personality of members of the congregation who should grow and develop into mature and faithful members of the Church. The research focused on the socio-cultural construction of the Dayak Ngaju Katingan community through the externalization, objectification, and internalization of members of the congregation, the consciousness of adult congregation members. The research method used is phenomenal. The results showed that the Esoteric Social construction of Bukit Batu for the members of the Riwut asi Katunen Kasongan congregation processed externalization, objectivation and internalization. The socio-cultural construction of katingan society towards Bukit Batu as a social reality is an expression of Dayak Ngaju Katingan's imagination of the world and transcendent values are religio magi. In general, most Dayak Ngaju Katingan people support and faithfully carry out the rite. The social reconstruction of adult church members to the stone hill rite is implemented in the learning of adult packs in the congregation through Sunday worship and categorical worship, especially the service section of the fathers, the women's ministry section and also through family worship. Penelitian ini bertitik tolak dari fenomena kehidupan masyarakat keagamaan dan psiko-sosial masyarakat Dayak Ngaju Katingan yang harus dihadapi anggota Jemaat Katunen. Ritus Esoteris Bukit Batu sarat dengan praktek magi dapat mempengaruhi kepribadian anggota jemaat yang seharusnya tumbuh dan berkembang menjadi anggota Jemaat yang dewasa dan yang beriman.. Penelitian ini difokuskan pada konstruksi sosial-budaya masyarakat Dayak Ngaju Katingan melalui eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi anggota jemaat, kesadaran anggota jemaat dewasa. Metode penelitian yang digunakan adalah fenomenalogi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konstruksi Sosial Esoteris Bukit Batu bagi warga jemaat Riwut asi Katunen Kasongan berproses secara eksternalisasi, objektivasi dan internalisasi. Konstruksi sosial budaya masyarakat Katingan terhadap Bukit Batu sebagai realitas sosial adalah ungkapan penghayatan Dayak Ngaju Katingan tentang dunia dan nilai transenden bersifat religio magi. Pada umumnya kebanyakan masyarakat Dayak Ngaju Katingan mendukung dan setia melaksanakan ritus.Rekonstruksi sosial anggota jemaat dewasa terhadap ritus bukit batu diimplementasikan pada pembelajaran pak dewasa di jemaat melalui ibadah minggu dan ibadah kategorial khususnya ibadah seksi pelayanan bapak-bapak, seksi pelayanan perempuan dan juga melalui ibadah keluarga

    Analisis Teks Yosua Pasal 12 dan 13 Tentang Penaklukan Bangsa-Bangsa di Tanah Kanaan

    Full text link
      When the Israelites came out of Egypt, the Lord led them back into the land of Canaan according to the promise God made to their ancestors. That promise was fulfilled during the reign of Joshua. So in the book of Joshua chapter 12 tells about the kings who were defeated during the reign of Moses and Joshua and the distribution of the promised land to the tribes of Israel. Meanwhile, Joshua chapter 13 tells of the lands that were left behind and had not been conquered by Joshua after he grew old and advanced in age. In addition, this chapter gives another account of Moses' conquest of Sihon and Og and the division of the land of Canaan to the tribes of Israel. Moses repeatedly told the Israelites about the land of Canaan to remind them that God was faithful to his promises to His chosen people. But there are still questions that arise among Christians, namely if God promised why the Israelites had difficulty entering the land of Canaan and occupying the land, there were even other nations left there. On this question, the author discusses the text that is in us, Joshua 12 and 13. Through this discussion, it is hoped that it can add insight to the readers about the conquest of nations and further strengthen the belief of today's believers that God's promises to His people are never broken. Ketika Bangsa Israel keluar dari Mesir mereka dituntun Tuhan masuk kembali ke dalam tanah Kanaan sesuai dengan janji Allah kepada nenek moyangnya. Janji itu digenapi pada masa kepemimpinan Yosua. Maka dalam Kitab Yosua pasal 12 menceritakan tentang raja-raja yang telah dikalahkan pada masa kepemimpinan Musa dan Yosua serta pembagian tanah perjanjian kepada suku-suku Israel. Sedangkan Yosua pasal 13 menceritakan negeri-negeri yang tertinggal dan belum ditaklukkan oleh Yosua setelah ia menjadi tua dan lanjut umur. Selain itu, pasal ini memberikan kembali laporan tentang penaklukan Musa atas Sihon dan Og serta pembagian tanah Kanaan kepada suku-suku Israel. Musa berulang kali menyampaikan kepada bangsa Israel tentang tanah Kanaan untuk mengingatkan mereka bahwa Allah setia terhadap janji kepada umat pilihan-Nya. Namun masih ada pertanyaan-pertanyaan yang muncul dikalangan orang Kristen, yaitu jika Allah yang berjanji mengapa bangsa Israel mengalami kesulitan masuk ke dalam tanah Kanaan dan menduduki negri itu, bahkan ada bangsa-bangsa lain yang tertinggal di sana. Atas pertanyaan ini maka penulis membahas teks yang ada dalam kita Yosua 12 dan 13. Melalui pembahasan ini, diharapkan dapat menambah wawasan para pembaca tentang penaklukan terhadap bangsa-bangsa dan semakin meneguhkan keyakinan orang percaya masa kini bahwa janji Allah kepada umat-Nya tidak pernah ingkar

    193

    full texts

    197

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Ilmiah Religiosity Entity Humanity (JIREH)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇