Universitas Pancasila Journal
Not a member yet
3327 research outputs found
Sort by
EVALUASI KONDISI PERKERASAN LENTUR MENGGUNAKAN METODE ROAD CONDITION INDEX DAN MANUAL DESAIN PERKERASAN 2024 PADA RUAS JALAN PESAGUAN-KENDAWANGAN
The Pesaguan-Kendawangan road section is a strategic corridor connecting industrial areas with ports in Ketapang Regency. The intensity of mining and industrial activities has significantly increased traffic loads, requiring a comprehensive evaluation of road infrastructure conditions. This study aims to assess the condition, determine the type of treatment and cost requirements on the Pesaguan-Kendawangan road section and which is a connecting road section of the industrial area in the Ketapang area. The method used is the Road Condition Index (RCI) approach which is converted into the International Roughness Index (IRI) to assess road conditions. For road improvement/reconstruction needs, the thickness of the pavement components is determined using the 2024 Pavement Design Manual by considering the Cumulative Equivalent Standard Axle Load traffic load of 3.1 × 10⁶ ESA5. The results of the study indicate that the 65.27-kilometer section has a high reconstruction need of 22.90 percent, the IRI value ranges from 1,627 to 16,041 meters per kilometer. Based on the analysis using MDP 2024, there are 5 alternative types of construction for handling the road section, because the regional conditions have limited resources of crushed stone materials, the level of difficulty of the work and difficult access to the work location, so the type of construction for handling Asphalt Concrete Wearing Course (AC-WC) with a thickness of 50 mm and a 300 mm Soil Cement foundation layer was chosen. The conclusion is that the RCI method can be used to evaluate road conditions and the MDP 2024 method can also be used to plan road pavement designs on the Pesaguan-Kendawangan road section.Ruas jalan Pesaguan-Kendawangan merupakan koridor strategis yang menghubungkan kawasan industri dengan pelabuhan di Kabupaten Ketapang. Intensitas aktivitas pertambangan dan industri telah meningkatkan beban lalu lintas secara signifikan, sehingga memerlukan evaluasi kondisi infrastruktur jalan yang komprehensif. Penelitian ini bertujuan untuk menilai kondisi, menentukan jenis penanganan serta kebutuhan biaya pada ruas jalan Pesaguan-Kendawangan dan yang merupakan ruas jalan penghubung kawasan industri di wilayah Ketapang. Metode yang digunakan adalah pendekatan Road Condition Index (RCI) yang dikonversikan menjadi International Roughness Index (IRI) untuk menilai kondisi jalan. Untuk kebutuhan peningkatan/rekonstruksi jalan, tebal komponen perkerasan ditentukan menggunakan Manual Desain Perkerasan tahun 2024 dengan mempertimbangkan beban lalu lintas Cumulative Equivalent Standard Axle Load sebesar 3,1 × 10⁶ ESA5. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ruas sepanjang 65,27 kilometer memiliki kebutuhan rekonstruksi yang tinggi yaitu 22,90 persen,rentang nilai IRI berkisar antara 1,627 hingga 16,041 meter per kilometer. Berdasarkan analisis menggunakan MDP 2024 terdapat 5 alternatif jenis konstruksi penanganan ruas jalan tersebut, karena kondisi daerah memiliki keterbatasan sumberdaya material batu pecah, tingkat kesulitan pekerjaan dan akses yang sulit menuju lokasi pekerjaan sehingga dipilih jenis konstruksi penanganan Asphalt Concrete Wearing Course (AC-WC) dengan tebal 50 mm dan lapis fondasi Soil Cement 300 mm. Kesimpulannya bahwa metode RCI dapat digunakan untuk mengevaluasi kondisi jalan dan metode MDP 2024 juga dapat digunakan untuk merencanankan desain perkerasan jalan pada ruas jalan Pesaguan-Kendawangan
“A DAY IN MY LIFE” – PENGEMBANGAN KETERAMPILAN BERBAHASA INGGRIS SISWA SDN CIMONE 1 MELALUI PENULISAN KREATIF DAN ILUSTRATIF
Program pengabdian masyarakat ini bertujuan meningkatkan keterampilan menulis dan berbicara Bahasa Inggris siswa SDN Cimone 1 melalui penulisan kreatif bertema “A Day in My Life”. Siswa dilatih menarasikan pengalaman pribadi secara lisan sekaligus menghasilkan buku mini sebagai luaran otentik yang memadukan bahasa, ekspresi diri, dan ilustrasi. Kegiatan dilaksanakan secara partisipatif melalui tahapan sosialisasi, pelatihan menulis dan berbicara, penerapan project-based learning dengan pembuatan mini book, pendampingan dan evaluasi, hingga rencana keberlanjutan. Hasil menunjukkan seluruh siswa mampu menghasilkan karya tulis sederhana, mayoritas berani mempresentasikan cerita mereka, serta lebih percaya diri menggunakan Bahasa Inggris secara lisan. Guru SDN Cimone 1 berperan aktif sebagai co-fasilitator sehingga metode ini berpotensi direplikasi dalam pembelajaran reguler. Luaran program mencakup karya mini book siswa, modul pembelajaran kreatif, dan dokumentasi kegiatan, dengan dukungan sekolah melalui rencana pengembangan English Corner mingguan. Secara keseluruhan disimpulkan program ini membuktikan bahwa kolaborasi perguruan tinggi dan sekolah dasar dapat menghadirkan inovasi pembelajaran yang menyenangkan, aplikatif, dan berkelanjutan serta berdampak langsung pada peningkatan literasi produktif siswa.
Kata Kunci: penulisan kreatif, keterampilan berbicara, proyek buku mini
PENYELESAIAN SENGKETA YANG BERKEADILAN BAGI BADAN PENGELOLA DANA LINGKUNGAN HIDUP DALAM HAL TERJADI KEPAILITAN
Kedudukan Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH) dalam perkara kepailitan menimbulkan persoalan hukum karena lembaga ini sering hanya diakui sebagai kreditor separatis, bukan sebagai kreditor preferen yang memiliki hak mendahulu. Sebagai Badan Layanan Umum (BLU) di bawah Kementerian Keuangan, BPDLH mengelola dana publik dari APBN untuk kepentingan lingkungan hidup, sehingga secara yuridis dana tersebut termasuk keuangan negara yang seharusnya mendapat perlindungan hukum khusus. Kajian ini menggunakan metode yuridis normatif dengan pendekatan peraturan perundang-undangan, doktrin, dan putusan pengadilan. Hasil analisis menunjukkan bahwa sistem hukum kepailitan belum memberikan kepastian dan perlindungan terhadap dana publik yang dikelola BPDLH. Oleh karena itu, diperlukan harmonisasi regulasi antara UU Kepailitan, UU Perbendaharaan Negara, dan UU PUPN untuk mempertegas status BPDLH sebagai kreditor preferen sesuai prinsip hak mendahulu atas piutang negara dan asas keadilan hukum
Developing Religious Moderation Perspectives and the Internalization ofEcotheology: Efforts to Build Religious and Ecological Awareness in theBorder Region of Natuna Regency
This study aims to analyze the development of religious moderation perspectives and the internalization of ecotheology as strategies for building religious and ecological awareness in the border region of Natuna Regency. As a strategic archipelagic area, Natuna faces various ecological pressures such as coral reef degradation, coastal abrasion, and marine pollution driven by both local and transboundary activities. On the other hand, the people of Natuna possess a strong religious character and are deeply connected to their coastal environment, making religious values a potential moral foundation for shaping ecological behavior. Using a qualitative-descriptive approach, this study examines the integration of religious moderation—grounded in principles of balance, tolerance, and cultural adaptation—with Islamic ecotheology, which emphasizes tauhid, khalifah, and amanah as spiritual foundations for environmental ethics. The findings indicate that the internalization of ecological values through religious channels is more readily accepted by the community, particularly through the roles of religious instructors, traditional leaders, and educational institutions. Programs such as Ecology-Oriented Religious Instructor Training, the Green Mosque Movement, and local wisdom–based preaching have proven relevant in strengthening environmental awareness among the Natuna community. This study highlights that integrating religious moderation and ecotheology can serve as a model for empowering coastal communities and as a strategy for socio-ecological resilience in border regions. The study recommends strengthening cross-sector collaboration, enhancing ecological literacy, and developing environmentally friendly curricula in schools and madrasahs
KEABSAHAN KONTRAK ELEKTRONIK DIKAITKAN DENGAN PERJANJIAN ELEKTRONIK
Era digital membawa pengaruh atas perubahan kontrak konvensional menjadi kontrak elektronik yang memberikan kepastian hukum berbagai pihak yang terlibat didalamnya. Penelitian ini berfokus pada bagaimana ketentuan-ketentuan hukum yang ada dalam mengatur keabsahan kontrak elektronik khususnya pada sistem hukum Indonesia dan apakah ketentuan tersebut telah memberikan kepastian hukum dan bagaimana implementasi kontrak elektronik dalam dunia bisnis digital. Penelitian ini menggunakan peneltian doctrinal atau yang biasa dikenal dengan penelitian yuridis-normatif. Sifat penelitian ini merupakan penelitian deskriptif-kualitatif. Pendekatan penelitian ini digunakan untuk menelaah berbagai peraturan perundang-undangan mengenai keabsahan kontrak elektronik yang memberikan kepastian hukum. Selain itu, akan dilakukan analisis mendalam terhadap prinsip-prinsip hukum, kaedah-kaedah hukum baik nasional dan internasional berkaitan dengan kontrak elektronik. Adapun hasil penelitian menunjukkan bahwa keabsahan kontrak elektronik diatur dalam pasa 1320 KUHPerdata. Adapun Pembuktian terhadap kesepakatan dalam kontrak/perjanjian elektronik memiliki tantangan tersendiri. Tantangan tersebut terletak pada autentikasi identitas para pihak dan kepastian bahwa persetujuan diberikan oleh pihak yang berwenang. Sistem autentikasi yang lemah dapat menimbulkan permasalahan hukum tertentu terkait dengan keabsahan kesepakatan. Harmonisasi antara regulasi Indonesia dengan standar internasional harus senantiasa dicapai. Diperlukan pula adanya suatu mekanisme baru dalam penyelesaian sengketa yang efektif dan dapat diakses oleh para pihak dari berbagai yurisdiksi atau sistem hukum yang berbeda-beda
STUDI PERSEPSI WISATAWAN TERHADAP PRODUK WISATA BUDAYA OSING BERDASARKAN PENDEKATAN 3A DI DESA WISATA KABUPATEN BANYUWANGI
This study examines tourists’ perceptions of Osing cultural tourism products in three Banyuwangi tourism villages—Kemiren, Tamansari, and Gintangan—using the 3A framework of attractions, amenities, and accessibility. A descriptive qualitative approach was employed, combining observation and semi-structured interviews with visitors, supported by secondary literature and documentation. Findings show that Osing cultural attractions are perceived as highly authentic and distinctive: Kemiren as a living Osing heritage village, Tamansari as a curated stage for rituals and performing arts, and Gintangan as a creativity-based bamboo craft village. However, across the three villages, modern amenities, digital connectivity, and structured information services (signage, visitor centres, multilingual materials) are still regarded as inadequate. These gaps limit comfort, length of stay, and repeat visitation. The study argues that strengthening service quality and information accessibility, while maintaining cultural authenticity, is crucial for advancing sustainable, community-based Osing cultural tourism in Banyuwangi.Penelitian ini mengkaji persepsi wisatawan terhadap produk wisata budaya Osing di tiga desa wisata di Banyuwangi—Kemiren, Tamansari, dan Gintangan—menggunakan kerangka kerja 3A yaitu atraksi, amenitas, dan aksesibilitas. Pendekatan kualitatif deskriptif digunakan, menggabungkan observasi dan wawancara semi-terstruktur dengan pengunjung, didukung oleh literatur dan dokumentasi sekunder. Temuan menunjukkan bahwa atraksi budaya Osing dianggap sangat autentik dan khas: Kemiren sebagai desa warisan Osing yang hidup, Tamansari sebagai panggung kurasi untuk ritual dan seni pertunjukan, dan Gintangan sebagai desa kerajinan bambu berbasis kreativitas. Namun, di ketiga desa tersebut, amenitas modern, konektivitas digital, dan layanan informasi terstruktur (penanda, pusat pengunjung, materi multibahasa) masih dianggap tidak memadai. Kesenjangan ini membatasi kenyamanan, lama tinggal, dan kunjungan ulang. Penelitian ini berpendapat bahwa penguatan kualitas layanan dan aksesibilitas informasi, sambil mempertahankan keaslian budaya, sangat penting untuk memajukan pariwisata budaya Osing yang berkelanjutan dan berbasis masyarakat di Banyuwangi
Adaptation and Psychometric Validation of Portrait Value Questionnaire to Map the Work Values of Indonesian Employees
Work values play a crucial role in understanding individual behavior in the workplace as it is serving as the foundation for one’s decision-making at work. However, cross-cultural research indicates that the structure of work values may vary depending on the socio-cultural context of the worker lives in. Therefore, this study aims to explore the structure of work values among Indonesian employees based on Schwartz’s theory of universal human values through an empirical examination using Exploratory Factor Analysis (EFA) on the dataset collected from 519 employees aged 27-55 years old residing on Java Island using Portrait Value Questionnaire combined with PVQ-RR. Based on the analysis, the data met the assumptions for EFA (KMO = 0.911; Bartlett’s χ² (78) = 3353.020, p < .001). PCA with Varimax rotation identified a more interpretable three-factor solution (EV = 6.184, 1.547, 0.808, explaining 65.69% of the total variance. We then construct three new higher-order factors were identified as (1) relational harmony and social security, (2) self-determination grounded in socio-cultural values, and (3) achievement and status as work identity. Adapting terminology and clustering value indicators into higher-order factors can yield a blueprint that is more sensitive to Indonesian culture without obscuring the meaning of the constructs, thereby providing an initial blueprint for developing a more context-sensitive Indonesian-version of PVQ (Portrait Values Questionnaire).Nilai (value) kerja berperan penting untuk membantu memahami perilaku individu di tempat kerja karena value merupakan landasan individu bertindak dan mengambil keputusan dalam pekerjaannya. Kendati demikian, penelitian lintas budaya menunjukkan bahwa pemaknaan serta struktur value kerja dapat bervariasi dan bergantung pada konteks sosial-budaya yang berlaku. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengeksplorasi bagaimana struktur value kerja pada pekerja di Indonesia dengan mengacu pada basis kerangka teoretik universal value milik Schwartz menggunakan Exploratory Factor Analysis (EFA) atas dataset yang dikumpulkan menggunakan Portrait Value Questionnaire yang dikombinasikan dengan PVQ-RR pada 519 pekerja di Pulau Jawa yang berada pada rentang usia 27–55 tahun. Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan, data dinilai memenuhi prasyarat EFA (KMO = 0.911; Bartlett χ²(78) = 3353.020; p < .001). PCA–Varimax mengidentifikasi tiga faktor yang lebih interpretabel (EV = 6.184; 1.547; 0.808) dengan total varian terjelaskan 65.69%. Diperoleh tiga higher order factor baru dengan usulan nama berupa (1) harmoni relasional dan keamanan sosial, (2) kemandirian berlandaskan nilai sosial-budaya, serta (3) prestasi dan status sebagai identitas kerja. Pengelompokan indikator value ke dalam higher order factor dapat menghasilkan cetak biru (blueprint) yang lebih sensitif pada budaya Indonesia tanpa mengaburkan makna konstruk, sehingga hasilnya dapat menjadi blueprint awal bagi pengembangan PVQ berbahasa Indonesia yang lebih kontekstual
MICROBIAL ELECTROLYSIS CELL CARBON ANODE WITH VOLTAGE VARIATION FOR HYDROGEN GAS PRODUCTION
The global energy crisis and environmental impacts of fossil fuel usage have accelerated the development of sustainable renewable energy sources. Hydrogen (H₂) has emerged as a promising clean energy carrier due to its high calorific value and zero carbon emissions. This study aims to develop and optimize a Microbial Electrolysis Cell (MEC) system that utilizes palm oil waste as a substrate for hydrogen production. Using anaerobic bacteria, MECs convert organic compounds in the waste into electrons and protons, which are then electrochemically transformed into hydrogen gas with the aid of an external power source. The research involves a dual-chamber reactor setup (anode and cathode) using carbon electrodes and a proton exchange membrane, monitoring the volume of hydrogen gas generated. The results are expected to improve energy conversion efficiency, significantly reduce industrial waste, and contribute to the advancement of applicable clean energy technologies. MEC technology presents an innovative dual-solution approach by integrating waste treatment with renewable energy production efficiently.
PERAN GENDER DIVERSITY DALAM PENGUNGKAPAN EMISI KARBON: PERSPEKTIF KARAKTERISTIK INTERNAL PERUSAHAAN
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh profitabilitas, leverage, dan ukuran perusahaan terhadap pengungkapan emisi karbon dengan keberagaman gender dewan direksi sebagai variabel moderasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan data sekunder yang diperoleh dari laporan tahunan dan laporan keberlanjutan perusahaan sektor energi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama periode 2022–2024. Analisis data dilakukan menggunakan regresi linier berganda dengan uji moderasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa profitabilitas berpengaruh positif namun tidak signifikan terhadap pengungkapan emisi karbon, leverage berpengaruh negatif signifikan, dan ukuran perusahaan berpengaruh positif signifikan terhadap pengungkapan emisi karbon. Selanjutnya, keberagaman gender dewan direksi terbukti memoderasi hubungan antara leverage dan ukuran perusahaan terhadap pengungkapan emisi karbon secara signifikan, namun tidak memoderasi hubungan antara profitabilitas dan pengungkapan emisi karbon. Selain itu, secara langsung, keberagaman gender dewan direksi berpengaruh positif dan signifikan terhadap pengungkapan emisi karbon. Hasil ini menunjukkan bahwa kehadiran perempuan dalam dewan direksi memperkuat komitmen perusahaan terhadap transparansi, akuntabilitas, dan tanggung jawab lingkungan. Temuan penelitian ini mendukung teori legitimasi, teori stakeholder, serta prinsip triple bottom line, yang menegaskan pentingnya tata kelola perusahaan yang inklusif dan berkelanjutan dalam meningkatkan pengungkapan informasi lingkungan
ASPEK HUKUM PAJAK ATAS KLAIM ASURANSI DWIGUNA: GAGASAN REFORMASI REGULASI
Produk asuransi dwiguna memiliki dua karakter utama, yakni perlindungan jiwa dan investasi. Dalam praktiknya, terdapat ketidakjelasan hukum mengenai perlakuan pajak atas klaim yang diterima pemegang polis, terutama ketika jatuh tempo tanpa terjadi risiko kematian. Ditemukan bahwa ketidakpastian hukum dan ketidakterpaduan regulasi antara OJK dan DJP menyebabkan potensi penghindaran pajak dan perlakuan yang tidak adil. Oleh karena itu, diperlukan pembaruan regulasi pajak yang menegaskan pemisahan fungsi proteksi dan investasi dalam produk asuransi, serta penegasan objek pajak terhadap hasil investasi. Rumusan masalah penelitian ini adalah bagaimanakah pengaturan pengenaan pajak penghasilan atas klaim asuransi Dwiguna menurut UU Pajak Penghasilan dan UU Cipta Kerja? dan bagaimanakah aspek hukum pajak atas klaim asuransi Dwiguna dalam gagasan reformasi regulasi? Penelitian ini bersifat deskriptif dengan jenis penelitian yaitu yuridis normatif. Adapun hasil penelitian ini adalah Meski terjadi perubahan administrasi dan penyesuaian sistem perpajakan, tidak ada norma baru yang secara spesifik mengatur perlakuan pajak atas hasil investasi dalam polis dwiguna. Hal ini menunjukkan masih adanya kekosongan hukum yang berdampak pada ketidakpastian hukum dalam praktik. Sehubungan dengan ketidakjelasan Hukum dalam perlakuan pajak atas unsur investasi, maka regulasi perpajakan saat ini belum mengatur secara eksplisit mengenai pemajakan atas hasil investasi dalam produk asuransi dwiguna. Hal ini menimbulkan ketidakpastian hukum, membuka celah potensi penghindaran pajak, dan membuat perlakuan perpajakan menjadi tidak konsisten jika dibandingkan dengan produk keuangan lain