Universitas Pancasila Journal
Not a member yet
    3327 research outputs found

    Catatan Editor: Perjuangan Perempuan Indonesia Melalui Penelitian Psikologi

    Full text link
    Penelitian di bidang psikologi terkait isu perempuan terbilang cukup banyak. Hal ini dikarenakan isu-isu tentang perempuan masih sangat tinggi, terutama isu terkait penindasan terhadap perempuan (kekerasan fisik, seksual, femisida) dan kesetaraan gender. Isu lainnya tentang perempuan adalah terkait pernikahan, usaha memperoleh keturunan, serta isu terkait pekerjaan. Hasil riset mengenai isu-isu tersebut dapat digunakan untuk membantu perjuangan perempuan dan program pemerintah. Hal ini untuk membuat perempuan dapat hidup lebih berkualitas. Oleh karena itu para peneliti Psikologi (yang umumnya lebih banyak perempuan) dapat memperjuangkan hak-hak perempuan melalui berbagai riset terkait hal tersebut

    High Pressure Transfer Pump Efficiency Calculation Before And After Reverse Engineering at PLTGU XYZ

    Full text link
    Steam Gas Power Plant (PLTGU) is a power plant that uses gas as fuel and reuses exhaust gas from the gas turbine to heat the pipes in the HRSG (Heat Recovery Steam Generator) to produce steam and rotate the steam turbine. PLTGU XYZ is a Gas and Steam Power Plant which has 2,154 MW. One of the important components used in PLTGU is the high-pressure transfer pump. A high-pressure transfer pump is a pump that functions to move water from the low-pressure drum through the high pressure economizer to the high pressure drum, using an automatic system. The type of high-pressure transfer pump at PLTGU XYZ is Type MC100-300/9. To maintain the efficiency of the high-pressure transfer pump, components need to be maintained or replaced. high pressure transfer pump components have been replaced on the pump shaft using the reverse engineering method. Before reverse engineering the large pump shaft the efficiency was 66%, and after reverse engineering the large pump shaft the efficiency was 63%, so the comparison of pump efficiency before and after reverse engineering the pump shaft was 3%

    Broiler Chicken Coop Heating Efficiency Analysis: Comparative Study of Heat Dispersion and Energy Consumption

    Full text link
    Broiler house heaters play a crucial role in maintaining optimal temperatures during the brooding phase to support optimal growth. However, conventional heaters such as the Super Saver Heater and Heater Handmade have limitations in terms of energy efficiency and heat distribution. This study aims to analyze the performance of the proposed heater in three key aspects: heating rate, heat distribution, and fuel consumption efficiency, and compare it with conventional heaters. The results indicate that the proposed heater increased the temperature from 26°C to 53°C within 2 minutes, with an average heating rate of 13.5°C per minute, outperforming conventional heaters. Heat distribution was more uniform, ensuring stable temperatures at various measurement points within the broiler house. In terms of energy efficiency, the proposed heater consumed only 0.5 kg of LPG in 6 minutes, significantly lower than the Super Saver Heater, which required 1 kg of LPG. Overall, the proposed heater demonstrated superior energy efficiency, faster heating, and more stable heat distribution, making it a more effective alternative to conventional heating systems used in broiler farming

    Modifikasi Perancangan Sandaran Kaki (Footrest) Yang Fleksibel Pada Kursi Roda Penyandang Disabilitas

    Full text link
    Pada umumnya kursi roda banyak digunakan oleh penyandang disabilitas. Selain alat bantu, kursi roda juga digunakan sebagai alat transportasi. Secara visual, komponen kursi roda mempunyai bentuk yang bagus dan inovatif, namun bentuk tersebut belum tentu menjamin keamanan dan kenyamanan, salah satu komponen penting dalam bagian kursi roda adalah pijakan kaki yang perlu dibuat aman dan nyaman. Perancangan desain ini menghasilkan 1 varian terpilih dari hasil pembobotan kriteria perancangan. Varian 1 terdiri dari komponen engsel bawah, engsel atas, tuas pengatur sandaran kaki, dudukan penopang betis, pipa penyangga dudukan, pipa pijakan kaki, plat penopang betis, busa penopang betis, dan penopang betis. Dari hasil dilapangan dihasilkan beban rata-rata remaja adalah 30 kg sehingga secara analisis ergonomi, beban pijakan kaki adalah 294,3 N. Sandaran pijakan kaki kemudian dianalisis menggunakan software Solidworks 2020 dengan memberikan beban pijakan kaki pada posisi 15º, 30º, dan 90º. Dari hasil analisis tersebut diperoleh hasil bahwa perancangan sandaran pijakan kaki ini aman karena tegangan tarik sandaran pijakan kaki masih dibawah nilai kekuatan luluh material AISI 1020 sebesar 3,52× 108 N/m2 . Nilai tegangan tarik terbesar adalah  3,298 × 10⁸ N/m2 ketika posisi 15 ͦ , nilai  deformasi terbesar adalah 1,108 mm ketika posisi 90 ͦ dan Factor of Safety terkecil sebesar 1,2 ketika posisi 15 ͦ

    Anti-Inflammatory and Analgesic Effect: an Experimental Study of Purple Leaves (Graptophyllum pictum (L.) Griff) Decoction

    Full text link
    Purple leaves (Graptophyllum pictum (L.) Griff) are known to contain flavonoid compounds as anti-inflammatory and analgesic properties. This study aims to obtain the efficacy of purple leaf decoction as anti-inflammatory and analgesic. The anti-inflammatory study used the Winter method with Sprague Dawley rat test, were divided into 5 groups, negative control was only given aquadest, positive control with a dose of diclofenac sodium 8.0208 mg/200g BW, and 3 groups of decoction with doses of 5.4 mg/200g BW, 10.8 mg/200g BW and 21.6 mg/200g BW. Anti-inflammatory testing was carried out by measuring the decrease in the volume of edema on the soles of the rat\u27s feet. Analgesic testing using the Siegmund method with Deutche Denken Yoken mice. The mice were divided into 5 groups, negative control was only given aquadest, positive control with a dose of diclofenac sodium 1.1586 mg/20g BW, and 3 groups of decoction with doses of 1 mg/20g BW, 2 mg/20g BW and 4 mg/20g BW. The analgesic study was carried out by calculating the decrease in the number of writhing mice. The results of the percentage of anti-inflammatory effectiveness of purple leaf decoction doses (5.4 mg/200g BW, 10.8 mg/200g BW and 21.6 mg/200g BW) were 51.77%, 68.77% and 79.46%, respectively. The results of the percentage of analgesic effectiveness of purple leaf decoction doses (1 mg/20g BW, 2 mg/20g BW and 4 mg/20g BW) were 54.03%, 71.62% and 79.73%, respectively. Based on the test results, it can be concluded that purple leaf decoction has an anti-inflammatory and analgesic  effect

    Crisis Communication in Journalism in Digital Daily Media: Renewable Energy Issues in Coverage Ahead of Indonesia\u27s 2024 Elections

    Full text link
    Environmental issues that are already on the discussion of rising sea levels and centimeters of land sinking per year, show the many things that must be done by all stakeholders to reduce the environmental problems that result from these issues. The importance of collective action by all stakeholders to reduce the negative impacts that arise. One issue that has high relevance in contributing solutions is the growing use of renewable energy. Renewable energy can be obtained from a variety of natural resources such as sun, water, wind, and geothermal that we can feel the existence of everyday in Indonesia. This context sparked the study of renewable energy issues in the coverage ahead of the 2024 Election, to identify whether the media in Indonesia has a media agenda to carry out crisis communication on the issue of renewable energy when the events of the presidential candidate debate on environmental issues are conveyed to the Indonesian people? The concept of Agenda setting became a reference in analyzing the news that appeared in several digital daily national media in Indonesia on the date of the debate related to renewable energy issues as one of the solutions to climate change, especially in Indonesia. A content analysis was conducted on the text that appeared in the news in Indonesian digital media on the date when the presidential debate related to environmental topics was held, the day before and the day after. The results showed that the media framed these issues with various approaches, ranging from negative, neutral, to positive framing. By highlighting environmental issues in the news surrounding the vice president debate, the media showed concern over the lack of substantial discussion from the candidates on these strategic issues

    ANALISIS PERBANDINGAN DUA PENETAHAPAN PENGADILAN ATAS PERKAWINAN BEDA AGAMA (STUDI KASUS PUTUSAN NOMOR 916/Pdt.P/2022/PN.Sby dan 71/Pdt.P/2017/PN.Bla)

    Full text link
    Perkawinan merupakan ikatan yang sakral karena di dalam ikatan perkawinan tersebut tidak hanya terdapat ikatan lahir atau jasmani saja tetapi juga ada ikatan rohani yang berdasarkan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Walaupun demikian dalam kenyataannya masih ada terjadi perkawinan beda agama ditengah-tengah masyarakat yang dilakukan secara tertutup atau secara terangterangan dengan melangsungkan perkawinan tersebut atas dasar putusan pengadilan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan. Dalam prakteknya masih sering ditemui adanya penetapan permohonan izin perkawinan beda agama, salah satunya yaitu Penetapan Pengadilan Negeri Surabaya berbeda dengan Penetapan Pengadilan Negeri Blora yang menolak memberikan izin perkawinan beda agama. Tujuan penelitian dalam skripsi ini adalah untuk mengetahui apa yang menjadi pertimbangan hakim dalam menetapkan perkawinan beda agama studi kasus Penetapan Nomor 916/Pdt.P/2022/PN. Sby dan pertimbangan hakim dalam menolak izin perkawinan beda agama studi kasus Penetapan Nomor Nomor 71/Pdt.P/2017/PN.Bla. Jenis penelitian yang digunakan adalah yuridis normatif. Data sekunder dalam penelitian hukum normatif meliputi bahan hukum primer, bahan hukum sekunder dan bahan hukum tersier. Hasil penelitian ini adalah Pertimbangan hakim dalam memutuskan perkara pencatatan perkawinan beda agama di Pengadilan Negeri Surabaya menggunakan Pasal 35 huruf a UndangUndang Republik Indonesia Nomor 23 tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan dan Pengadilan Negeri Blora lebih menekankan pada ketentuan Pasal 2 ayat (1) Undang- Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. Perkawinan beda agama berdasarkan penetapan pengadilan merupakan perkawinan yang sah dan tidak memiliki akibat hukum. Kesimpulan dalam penelitian ini adalah, bahwa tidak adanya payung hukum yang mengatur tentang perkawinan beda agama pasca dilahirkannya Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan, Undang-undang ini menjadikan sebagai pertimbangan hakim untuk melangsungkan perkawinan beda agama dan Hakim dalam menolak permohonan karena memahami Pasal 2 ayat (1) secara jelas sudah memberikan ketegasan bahwa tidak boleh melaksanakan perkawinan kecuali sesuai dengan agamanya

    INTEGRATED TRANSPORTATION ROUTE ENGINEERING ON THE PALACE CULTURAL TOURISM IN CIREBON CITY

    Full text link
    Cirebon City has great potential in the tourism sector. The existence of the palaces is the main destination called heritage tourism. Seeing the great potential of tourism, of course, it must be supported by ease of accessibility, transportation, and infrastructure. Accessibility in the palace tourism area is not yet efficient because transportation has not been integrated with each other. This research was conducted using a qualitative method with direct observation in the palace tourism area and indirect observation. To maximize the potential of palace tourism, it is necessary to integrate between palaces by taking into account the efficiency of time and comfort of tourists. The result from this research is a new route engineering that is expected to improve accessibility, transportation, and infrastructure for Cirebon heritage tourism, especially in Kanoman Palace, Kasepuhan Palace, and Kacirebonan Palace

    KAJIAN YURIDIS NORMATIF TENTANG PENGATURAN KLINIK ESTETIKA DI INDONESIA DALAM PERSPEKTIF HAK ASASI MANUSIA

    Full text link
    Perkembangan industri klinik estetika di Indonesia senantiasa ikut tumbuh sejalan dengan makin tingginya kesadaran masyarakat terhadap perawatan estetika. Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengkaji aspek yuridis normatif pengaturan klinik estetika di Indonesia dan implementasi prinsip hak asasi manusia dalam regulasinya. Dengan menggunakan metode penelitian yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undangan dan konseptual, penelitian ini menganalisis bahan hukum primer, sekunder, dan tersier yang relevan dengan pengaturan klinik estetika. Hasil penelitian menunjukkan bahwa regulasi klinik estetika di Indonesia bersifat fragmentaris dan tersebar dalam bermacam peraturan perundang-undangan. Penelitian mengungkap beberapa isu kritis termasuk praktik tanpa izin, penggunaan produk tidak terdaftar, kualifikasi tenaga medis yang tidak memadai, dan perlindungan hukum konsumen yang belum optimal. Lebih lanjut, implementasi prinsip hak asasi manusia dalam pengaturan klinik estetika memerlukan penguatan melalui harmonisasi regulasi yang komprehensif. Temuan penelitian menunjukkan bahwa meskipun landasan hukum telah ada, terdapat kebutuhan mendesak untuk kerangka regulasi terintegrasi yang menyeimbangkan pertumbuhan industri dengan perlindungan konsumen dan prinsip-prinsip hak asasi manusia. Penelitian ini merekomendasikan pembentukan peraturan khusus untuk klinik estetika, peningkatan mekanisme pengawasan, dan pengembangan sistem perlindungan konsumen yang komprehensif untuk menjamin layanan kesehatan estetika yang aman dan berkualitas di Indonesia

    CONSTITUTIONAL PREVIEW SEBAGAI UPAYA MENINGKATKAN EFEKTIVITAS PROSES PEMBENTUKAN PERJANJIAN INTERNASIONAL DI INDONESIA

    Full text link
    Pembentukan perjanjian internasional merupakan kewenangan Presiden sebagaimana yang diatur dalam Pasal 11 ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945. Namun, dalam praktiknya telah ditemukan beberapa perjanjian internasional yang merugikan masyarakat. Salah satunya adalah Undang-Undang Nomor 1 tahun 2020 tentang Pengesahan Persetujuan Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia-Australia, di mana terdapat perbedaan masa berlaku dalam undang-undang hasil ratifikasi perjanjian internasional dengan perjanjian internasional (IA-CEPA). Seharusnya pemerintah berhati-hati dalam membentuk suatu perjanjian internasional karena tindakan tersebut secara langsung memberikan sebagian “kedaulatan Indonesia” kepada negara yang menjadi mitra. Berdasarkan hal tersebut, dipandang perlu peran Mahkamah Konstitusi sebagai guardian of constitution untuk memiliki kewenangan constitutional preview dalam proses ratifikasi perjanjian internasional. Adapun rumusan masalah dalam artikel ini, yaitu bagaimana efektivitas pembentukan undang-undang, terutama perihal undang-undang ratifikasi perjanjian internasional di Indonesia? serta bagaimana peran Mahkamah Konstitusi dalam proses ratifikasi perjanjian internasional di negara lain?. Metode yang digunakan dalam penulisan adalah metode penulisan hukum normatif dengan pendekatan perbandingan dengan 51 negara. Alasan pemilihan negara tersebut karena negara-negara tersebut merupakan negara dengan kekuasaan eksekutif yang kuat. Peran Mahkamah Konstitusi dalam proses ratifikasi perjanjian internasional pada negara lain dinilai memberikan kontribusi yang signifikan melalui constitutional preview untuk mencegah teratifikasinya perjanjian internasional yang bertentangan dengan konstitusi negara masing-masing.Pembentukan perjanjian internasional merupakan kewenangan Presiden sebagaimana yang diatur dalam Pasal 11 ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945. Namun, dalam praktiknya telah ditemukan beberapa perjanjian internasional yang merugikan masyarakat. Salah satunya adalah Undang-Undang Nomor 1 tahun 2020 tentang Pengesahan Persetujuan Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia-Australia, di mana terdapat perbedaan masa berlaku dalam undang-undang hasil ratifikasi perjanjian internasional dengan perjanjian internasional (IA-CEPA). Seharusnya pemerintah berhati-hati dalam membentuk suatu perjanjian internasional karena tindakan tersebut secara langsung memberikan sebagian “kedaulatan Indonesia” kepada negara yang menjadi mitra. Berdasarkan hal tersebut, dipandang perlu peran Mahkamah Konstitusi sebagai guardian of constitution untuk memiliki kewenangan constitutional preview dalam proses ratifikasi perjanjian internasional. Adapun rumusan masalah dalam artikel ini, yaitu bagaimana efektivitas pembentukan undang-undang, terutama perihal undang-undang ratifikasi perjanjian internasional di Indonesia? serta bagaimana peran Mahkamah Konstitusi dalam proses ratifikasi perjanjian internasional di negara lain?. Metode yang digunakan dalam penulisan adalah metode penulisan hukum normatif dengan pendekatan perbandingan dengan 51 negara. Alasan pemilihan negara tersebut karena negara-negara tersebut merupakan negara dengan kekuasaan eksekutif yang kuat. Peran Mahkamah Konstitusi dalam proses ratifikasi perjanjian internasional pada negara lain dinilai memberikan kontribusi yang signifikan melalui constitutional preview untuk mencegah teratifikasinya perjanjian internasional yang bertentangan dengan konstitusi negara masing-masing

    3,010

    full texts

    3,327

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Universitas Pancasila Journal
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇