E-Journal Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang Palangka Raya
Not a member yet
    711 research outputs found

    WORSHIP OF RATU SUBANDAR, MEKAH, MELAYU, AND SUNDAWAN AT KERTA NEGARA GAMBUR ANGLAYANG TEMPLE IN THE TRADITIONAL VILLAGE OF KUBUTAMBAHAN, BULELENG, BALI

    No full text
    This article results from field research on the Pura Kerta Negara Gambur Anglayang in the Kubuaddan Traditional Village, Buleleng, Bali. This research aims to reveal the background of the use of the names Ratu Subandar, Mecca, Melayu, and Sundawan as names for the shrines or pelinggih at the temple. This research uses a qualitative approach in the form of historical and cultural research. The theoretical approach used is cultural materialism. The research results show that the use of the names Ratu Subandar, Mecca, Melayu, and Sudawan is related to the location of the temple, which was previously a port called Tabanding. This port was busy with Chinese, Mecca (Arab), Malay and Sundanese traders. The Chinese also played an important role as subandars. The diversity of merchant visits gave rise to a multicultural social structure based on trade-economic infrastructure. This forms an ideological superstructure, namely the belief in gods, also characterised by diversity. This pattern also follows pantheistic theology in Hinduism, which emphasises that a transcendental God can be immanenced by natural phenomena. This belief causes natural phenomena that have the potential to provide prosperity to be personified by gods. The Balinese accept it because it also fits the image of the god as the personification of God to provide prosperity to humans.  Artikel ini merupakan hasil penelitian lapangan terhadap Pura Kerta Negara Gambur Anglayang di Desa Adat Kubutambahan, Buleleng, Bali. Tujuan riset ini adalah mengungkapkan latar belakang pemakaian nama Ratu Subandar, Mekah, Melayu, dan Sundawan sebagai nama bagainama nama pelinggih pada pura tersebut. Penelitian ini memakai pendekatan kualitatif berbentuk penelitian sejarah dipadukan dengan penelitian kebudayaan. Pendekatan teori yang digunakan adalah meterialisme kebudayaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan nama Ratu Subandar, Mekah, Melayu, dan Sudawan berkaitan dengan lokasi pura tersebut dahulunya merupakan pelabuhan bernama Tabanding. Pelabuhan ini ramai didatang oleh pedagang Cina, Mekah (Arab), Melayu, dan Sunda. Orang Cina berperan pula sebagai subandar. Keragaman kunjugan pedagang memunculkan struktur sosial multikultur berbasis infrastruktur ekonomi perdagangan. Hal ini membentuk superstruktur ideologi, yakni keyakinan terhadap dewa-dewa yang juga bercorak keberagaman. Pola ini sesuai pula dengan teologi panteisme pada Agama Hindu yang menekankan bahwa Tuhan yang transendental dapat beimanensi ke dalam gejala alam. Keyakinan ini mengakibatkan gejala alam yang bepotensi memberikan kemakmuran dipersonifikasikan dengan dewa. Orang Bali menerimanya, karena sesuai pula dengan gambaran tentang dewa sebagai personifikasi dari Tuhan untuk memberikan kesejahteraan kepada manusi

    KARMA SEBAGAI PRAKSIS PEMBEBASAN DALAM BHAGAVAD GĪTĀ

    No full text
    This research is a literature study, using qualitative data. The hermeneutic method was used to analyze data regarding the teaching of karma as a practice of liberation in the text of the Bhagavad Gītā. Where, the Bhagavad Gītā has an important position in Hinduism because it contains the teachings of Brahmavidyā (divine knowledge) and yogaśāstra (yogic knowledge). The Bhagavad Gītā not only guides humans ethically, but also directs humans to carry out practical actions through karma (effort, work, action). In this case, the Bhagavad Gītā makes karma a praxis through the teachings of yoga, as a way to connect oneself (individual soul) with God (Universal Soul). The teaching of karma in the Bhagavad Gītā emphasizes work or actions carried out based on dharma (duty), and awareness of God as the owner of actions (karma). In this case, all the actions he performs will be directed towards God, so that he will no longer be bound by the results of the actions he performs. This is expressed in the Bhagavad Gītā, II.47: karmaṇy evadhikāras te mā phaleṣu kadācana, mā karma-phala-hetur bhūr mā te saṅgo ‘stv karmaṇ. The result of this research is that the Bhagavad Gītā teaches karma as a path to material and spiritual liberation. Where material liberation is interpreted not as an effort to accumulate material possessions, instead it frees humans from the shackles of material attachment by offering all the results of actions or work to God. Complete surrender to God of all karmic results and Unity with God is a form of spiritual liberation.Penelitian ini merupakan studi kepustakaan, dengan menggunakan data kualitatif. Metode hermeneutik digunakan untuk melakukan analisa data mengenai ajaran karma sebagai praksis pembebasan dalam teks Bhagavad Gītā. Di mana, Bhagavad Gītā memiliki kedudukan yang penting dalam agama Hindu karena memuat ajaran Brahmavidyā (pengetahuan ketuhanan) dan yogaśāstra (pengetahuan yoga). Bhagavad Gītā tidak hanya menuntun manusia secara etis, tetapi juga mengarahkan manusia untuk melakukan perbuatan yang praktis melalui karma (usaha, kerja, tindakan). Dalam hal ini Bhagavad Gītā menjadikan karma sebagai sebuah praksis melalui ajaran yoga, sebagai jalan untuk menghubungkan diri (jiwa individu) dengan Tuhan (Jiwa Universal). Ajaran karma dalam Bhagavad Gītā menekankan pada kerja atau tindakan yang dilakukan berdasarkan dharma (kewajiban), dan kesadaran akan Tuhan sebagai pemilik tindakan (karma). Dalam hal ini seluruh perbuatan yang dilakukannya akan ditujukan kepada Tuhan, sehingga dirinya tidak akan terikat lagi akan hasil perbuatan yang dilakukannya. Hal ini diungkapkan dalam Bhagavad Gītā, II.47: karmaṇy evadhikāras te mā phaleṣu kadācana, mā karma-phala-hetur bhūr mā te saṅgo ‘stv akarmaṇ. Hasil dari penelitian ini adalah Bhagavad Gītā mengajarkan karma sebagai jalan pembebasan secara material dan spiritual. Di mana pembebasan material dimaknai bukan sebagai usaha dalam menumpuk harta benda secara materi, sebaliknya membebaskan manusia dari belenggu keterikatan materi dengan cara mempersembahkan seluruh hasil dari tindakan atau kerja kepada Tuhan. Penyerahan sepenuhnya kepada Tuhan akan seluruh hasil karma dan Bersatu dengan Tuhan merupakan bentuk pembebasan spiritual

    Filsafat Etika Hindu Dalam Tradisi Mabuu-Buu di Desa Adat Unggahan Kecamatan Seririt Buleleng

    No full text
    Tradisi mabuu-buu di Desa Adat Unggahan merupakan salah satu tradisi yang diwariskan sejak turun temurun serta sebagai salah satu pengganti ditiadakannya ogoh-ogoh. Tradisi mabuu-buu ini dilaksanakan pada rahina tilem sasih kesanga lebih tepatnya pada saat pangrupukan yakni tradisi mabuu-buu dilaksanakan pada malam hari serta tradisi mabuu-buu ini diyakini memiliki tujuan untuk mencapai keharmonisan. Berdasarkan latar belakang tersebut, maka dapat dirumuskan permasalahannya yakni: (1) Bagaimana bentuk pelaksanaan tradisi mabuu-buu di Desa Adat Unggahan Kecamatan Seririt Kabupaten Buleleng?, (2) Nilai-nilai filsafat etika Hindu apa saja yang terdapat dalam tradisi mabuu-buu di Desa Adat Unggahan Kecamatan Seririt Kabupaten Buleleng?, (3) Bagaimana implikasi nilai filsafat etika Hindu dalam tradisi mabuu-buu di Desa Adat Unggahan Kecamatan Seririt Kabupaten Buleleng?. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu kualitatif dengan metode pengumpulan data melalui metode observasi, wawancara, kepustakaan dan metode dokumentasi. Teori yang digunakan dalam penelitian ini yaitu: (1) Teori Religi, (2) Teori Interaksionisme Simbolik, (3) Teori Tindakan Sosial. Hasil yang diperoleh melalui penelitian ini antara lain: (1) Bentuk pelaksanaan tradisi mabuu-buu yakni: sarana, tempat, waktu, proses pelaksanaan dan penyelenggara. (2) Nilai filsafat etika Hindu dalam tradisi mabuu-buu yakni: nilai pengendalian diri, nilai susila, nilai ketulusikhlasan, nilai kebersamaan dan nilai tri kaya parisudha. (3) Implikasi nilai filsafat etika Hndu dalam tradisi mabuu-buu yakni: implikasi terhadap pelestarian budaya, implikasi terhadap sosial masyarakat dan implikasi terhadap norma agama

    Manajemen Spiritualitas Dan Pemberdayaan Jemaat Di Klasis Amfoang Selatan, Kabupaten Kupang

    No full text
    Penelitian ini menggambarkan implementasi kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) dengan tema manajemen spiritualitas dan pemberdayaan jemaat melalui kegiatan Bible Camp dalam konteks jemaat Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) Pos Pelayanan Raja Damai Bioba, Klasis Amfoang Selatan, Kabupaten Kupang, serta jemaat-jemaat tergabung dalam wilayah Klasis Amfoang Selatan. Fokus utama kegiatan ini adalah meningkatkan manajemen spiritualitas, pemahaman Kitab Suci, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui partisipasi aktif dari berbagai lapisan jemaat, termasuk di dalamnya pemuda. Kegiatan ini melibatkan dosen, mahasiswa, alumni, serta pengajar agama Kristen, yang bertujuan menciptakan transformasi spiritual dan memperkuat persekutuan di tengah jemaat

    Manajemen Kearsipan Untuk Peningkatan Kualitas Mutu Perguruan Tinggi Hindu

    No full text
    Tulisan ini bertujuan untuk memahami elemen-elemen yang mendukung efektivitas dari manajemen kearsipan dan menemukan strategi dalam meningkatkan kualitas pengelolaan arsip dalam mendukung mutu pendidikan di Perguruan Tinggi Hindu. Beberapa pertanyaan kunci menjadi acuan penulis antara lain faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan manajemen kearsipan serta strategi yang dapat digunakan untuk mengoptimalkannya. Penelitian menggunakan tinjauan literatur dari sumber yang berfokus pada referensi artikel jurnal, prosiding dan buku dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Hasil yang diperoleh adalah bahwa manajemen kearsipan yang efektif dalam meningkatkan layanan dan mutu pendidikan dengan menyediakan akses mudak ke dokumen penting. Faktor dari keberhasilannya meliputi kualitas layanan, informasi dan sumber daya manusia yang mendukung transparansi serta akuntabilitas institusi pendidikan

    UPACARA MUJA SUMBANG PADA UMAT HINDU KAHARINGAN DI KECAMATAN LAHEI BARAT KABUPATEN BARITO UTARA

    No full text
    Upacara Muja Sumbang adalah upacara perkawinan salah yang terjadi karena perilaku menyimpang pasangan. Upacara ini harus dilaksanakan oleh pasangan sebagai pensucikan dan menghilangkan pengaruh Layong Liha Alut Apoi dari pasangan yang berdampak pada pasangan dan alam semesta. Tulisan ini mencari jawab pertanyaan bagaimana proses upacara Muja Sumbang pada umat Hindu Kaharingan di Desa Papar Pujung Kecamatan Lahei Barat Kabupaten Barito Utara. Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui, menganalisis, memahami dan menjelaskan proses yang terkandung dalam upacara Muja Sumbang. Teori yang digunakan dalam penilitian terdiri atas dua yaitu Teori Fenomenologi Metode penelitian ini menggunakan penelitian jenis kualitatif, dengan lokasi penelitian di Desa Papar Pujung, jenis dan sumber data yang digunakan: data primer dan data sekunder, teknik penentuan informan yang digunakan yaitu teknik purposive sampling, adapun teknik penentuan data yang digunakan: observasi, wawancara dan dokumentasi. Instrumen penelitian, teknik analisis data terdiri dari reduksi data, klasifikasi data, penyajian data, verifikasi serta penarik kesimpulan. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan tentang upacara Muja Sumbang pada umat Hindu di Desa Papar Pujung memiliki beberapa tahap yakni: Tahap awal, Tahap Persiapan, Tahap inti, dan Tahap akhi

    Hari Suci Tumpek Wariga dan Nilai-Nilai Pendidikan Hindu di Desa Mantaren II Kabupaten Pulang Pisau

    No full text
    Tumpek wariga has been implemented for a long time by ethnic Balinese Hindus and is still maintained by ethnic Balinese Hindus who have transmigrated in Mantaren II village. Tumpek wariga is one of the holy days that is routinely celebrated every six months. The holy day is a form of implementation of the values in Hindu teachings contained in the holy book. However, the values of Hindu teachings conveyed through the implementation of tumpek wariga holy day have not been fully understood by Hindus in Mantaren II village. This study intends to explore and understand the values of Hindu Education contained in the implementation of the yadnya of tumpek wariga holy day in Mantaren II village. This study uses a phenomenological qualitative method approach with data collection techniques namely observation, interviews and documents. The data that has been collected is then analysed using the comparative constant technique. The results showed that the implementation of yadnyahari suci tumpek wariga there is a value of Hindu Education namely the value of Tattwa Education, Susila and ceremony.Tumpek wariga telah dilaksanakan dari sejak lama oleh umat Hindu etnis Bali dan tetap dipertahankan oleh umat Hindu etnis Bali  yang telah bertransmigrasi di desa Mantaren II. Tumpek wariga merupakan salah satu hari suci yang rutin setiap enam bulan sekali diperingati. Hari suci sebagai salah satu bentuk implementasi dari nilai-nilai dalam ajaran Hindu yang tertuang dalam kitab suci. Akan tetapi, nilai-nilai ajaran Hindu yang disampaiakan melalui pelaksanaan hari suci tumpek wariga belum sepenuhnya dipahamai oleh umat hindu di desa Mantaren II. Studi ini bermaksud untuk mengekplorasi dan memahami nilai-nilai Pendidikan Hindu yang terkandung dalam pelaksanaan yadnya hari suci tumpek wariga di desa Mantaren II. Studi ini mengunakan pendekatan metode kualitatif fenomenologi dengan Teknik pengumpulan data yakni observasi, wawancara dan dokumen. Data yang telah terkumpul selanjutnya dianalisis mengunakan Teknik konstan komparatif. Hasil penelitian menunjukan bahwa pelaksanaan yadnyahari suci  tumpek wariga terdapat nilai Pendidikan Hindu yakni nilai Pendidikan Tattwa, Susila dan upacara

    Media Pembelajaran Audio Visual Dalam Meningkatkan Pemahaman Siswa Pada Pembelajaran Pendidikan Agama Hindu

    No full text
    Era digital ini penggunaan media pembelajaran audio visual dalam pembelajaran telah menjadi salah satu trend yang banyak diaplikasikan untuk memfasilitasi peningkatan pemahaman peserta didik. Pengajian ini bertujuan untuk mengeksplorasi peran media pembelajaran audio visual dalam meningkatkan pemahaman peserta didik pada pembelajran pendidikan agama Hindu. Pendidikan agama Hindu memegang peran yang sangat strategis dalam membentuk karakter, moral dan pemahaman spiritual peserta didik. Namun kompleksitas materi acap kali menjadi tantangan tersendiri bagi pendidik. Seiring dengan perkembangan teknologi, media audio visual muncul sebagai upaya solutif dalam proses pembelajaran. Media audio visual mampu mengintegrasikan unsur audia dan visual secara simultan sehingga materi yang bersifat kompleks dapat tersampaikan dengan lebih menarik, interaktif, serta mudah dipahami oleh peserta didik. Hasil pengajian dari literature review menunjukkan media audio visual mampu meningkatkan pemahaman, partisipasi aktif peserta didik, dan hasil belajar peserta didik. Penggunaan media audio visual ini juga mampu memperkuat struktur kognitif peserta didik dengan menyajikan materi secara konkret seperti kehidupan nyata peserta didik.   Kata Kunci : Media Pembelajaran Audio Visual, Pemahaman Siswa, Pendidikan Agama Hind

    FILOSOFI RIDEO ERGO SUM: MEMAKNAI MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK YANG TERTAWA (HOMO RIDENS)

    No full text
    The phrase rideo ergo sum or I laugh because I exist is a philosophy that has a very deep meaning. This is because only humans are able to laugh or are referred to as homo ridens while animals cannot. Although there are animal sounds that resemble laughter, they are not a form of laughter like in humans. Laughter is not a form of meaningless expression. Many things can be obtained by interpreting humans as homo ridens. This research uses library research method with Miles and Huberman analysis pattern. The results in this study are 1). Laughter is a form of authenticity from humans, humans need humor and laughter as an expression of the happiness they experience, humans are unique because humans are able to laugh (homo ridens) as their characteristic. 2). Laughter has a philosophy, because laughing is a form of freedom of expression, and laughter is a form of reality of human freedom. 3). Various things are obtained by humans as homo ridens, especially in the health, so that laughing yoga is a form of actualization of the homo ridens.Ungkapan rideo ergo sum atau Aku tertawa maka aku ada merupakan sebuah filosofi yang mengandung makna yang sangat dalam. Hal ini karena hanya manusia yang mampu tertawa atau disebut sebagai homo ridens sedangkan hewan tidak bisa. Walaupun terdapat suara hewan yang menyerupai tertawa, namun itu bukanlah bentuk tertawa seperti pada manusia. Tertawa bukanlah sebagai suatu bentuk ekspresi tanpa makna. Banyak hal yang dapat diperoleh dengan memaknai manusia sebagai homo ridens. Penelitian ini menggunakan metode library research dengan pola analisis Miles dan Huberman. Adapun hasil dalam penelitian ini adalah 1). Tertawa adalah bentuk otentisitas dari manusia, manusia membutuhkan humor dan tertawa sebagai ekspresi dari rasa bahagia yang dialaminya, manusia itu unik karena manusia mampu tertawa (homo ridens) sebagai ciri khasnya. 2). Tertawa memiliki filosofi, karena tertawa merupakan bentuk kebebasan dalam berekspresi, dan tertawa merupakan bentuk kenyataan dari kebebasan manusia. 3). Berbagai hal yang diperoleh manusia sebagai homo ridens terutama dalam bidang kesehatan, sehingga yoga tertawa merupakan bentuk aktualisasi dari homo ridens tersebut

    Integrasi Konsep Hukum Karmaphala dalam Pembentukan Moral dan Etika Anak Usia Dini

    No full text
    The role of the concept of Karmaphala Law in the perspective of moral and ethical formation in early childhood. The concept of Karmaphala Law, which originates from Hindu tradition and Hindu philosophy, provides a strong philosophical basis for understanding the principle of cause-and-effect law in every action. By exploring this principle, this research aims to explore how this concept can be integrated into the moral education curriculum for early childhood. This research uses a literature review method. The importance of applying the concept of Karmaphala Law in environmental and sustainability education. This concept can help children understand the connection between their actions and the environment, stimulate a sense of responsibility towards nature, and support the development of positive character and ethics. The result of this research is that the integration of the Karmaphala Law concept in the moral education curriculum for early childhood is not only relevant but also has a positive impact in shaping the morals and ethics of early childhood. The application of this concept provides a strong foundation for the formation of a future generation that is responsible, morally aware and cares about the surrounding environment.Peran konsep Hukum Karmaphala dalam perspektif pembentukan moral dan etika pada anak usia dini. Konsep Hukum Karmaphala, yang berasal dari tradisi Hindu dan filsafat Hindu, memberikan dasar filosofis yang kuat untuk memahami prinsip hukum sebab-akibat dalam setiap tindakan. Melalui penelusuran prinsip ini, penelitian ini  bertujuan untuk menggali bagaimana konsep tersebut dapat diintegrasikan ke dalam kurikulum pendidikan moral untuk anak usia dini. Penelitian ini menggunakan metode literature review. Pentingnya penerapan konsep Hukum Karmaphala dalam pendidikan lingkungan dan keberlanjutan. Konsep ini dapat membantu anak-anak memahami keterkaitan antara tindakan mereka dengan lingkungan, merangsang rasa tanggung jawab terhadap alam, dan mendukung pengembangan karakter dan etika yang positif. Hasil penelitian ini adalah integrasi konsep Hukum Karmaphala dalam kurikulum pendidikan moral anak usia dini tidak hanya relevan tetapi juga membawa dampak positif dalam membentuk moral dan etika anak usia dni. Penerapan konsep ini memberikan landasan kuat untuk pembentukan generasi masa depan yang bertanggung jawab, sadar moral, dan peduli terhadap lingkungan sekitar

    302

    full texts

    711

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    E-Journal Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang Palangka Raya
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇