E-Journal Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang Palangka Raya
Not a member yet
711 research outputs found
Sort by
Membangun Critical Thinking Mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Hindu Melalui Problem Based Learning Pada Mata Kuliah Profesi Pendidikan Dan Keguruan
Critical thinking skills are very important for students, especially for students studying in the Hindu Religious Education Study Program. As prospective educators, students are required to be able to analyze situations, evaluate various options, and create innovative solutions that are relevant to solving problems that arise, both in the academic and social fields. Building critical thinking aims to identify and understand the implicit assumptions underlying an argument, thereby increasing students' capacity to adapt to cultural and value diversity. For students of the Hindu Religious Education Study Program, this critical thinking ability is crucial, because they are required to be able to integrate Hindu spiritual values with the challenges of education in a multicultural era. The application of PBL in Professional Education and Teaching courses also supports the formation of student character as prospective educators who are professional and have integrity. Implementation of PBL by building critical thinking in the Education and Teaching Professionals course, which is one of the relevant courses for developing critical thinking skills. This course requires students to understand the role of teachers as agents of change who are able to provide solutions to educational problems in the modern era. Apart from that, this course also provides students with insight into the importance of professionalism and ethical responsibility in the teaching profession
Kebijakan Penanggulangan Joged Bumbung Porno dalam Perspektif Hukum dan Perspektif Budaya
Joged Bumbung is an art form that combines music from Balinese traditional instruments and dance. Now, the presentation and aesthetic concept of the Joged Bumbung dance are starting to be ignored by the dancers making the identity of this dance disappear, namely the existence of Joged Bumbung which contains elements of pornographic action and pornography via social media. The purpose of this writing is to find out and examine criminal acts in pornographic Joged Bumbung performances as well as policies for dealing with them. This research method is a normative method, namely research which in its study refers to and is based on legal norms and rules, applicable laws and regulations and other literature materials that are relevant to the research topic. The results of this research are that based on Law Number 44 of 2008, both organizers and perpetrators of pornography, in this case namely Joged Bumbung performances that have pornographic nuances, can be given legal sanctions based on legal provisions that contain prohibitions on pornography and pornographic acts. Furthermore, related pornographic Joged Bumbung shows which are distributed via social media, it is regulated in Article 27 of Law Number 1 of 2024 concerning the Second Amendment to Law Number 11 of 2008 concerning Information and Electronic Transactions. Policies to overcome these problems can be implemented by warning the dancers and pengibing not to display body movements that lead to pornography.Joged Bumbung merupakan bentuk kesenian yang memadukan antara seni tabuh dengan tari. Kini, tata saji dan konsep estetik tari Joged Bumbung mulai diabaikan oleh para penarinya yang membuat jati diri tarian ini menjadi hilang yakni adanya Joged Bumbung yang mengandung unsur pornoaksi maupun pornografi melalui media sosial. Adapun tujuan dari penulisan ini adalah untuk mengetahui dan mengkaji tindak pidana dalam pertunjukkan joged bumbung porno serta kebijakan penanggulangannya. Metode penelitian ini adalah metode normatif, yaitu penelitian yang dalam pengkajiannya dengan mengacu dan mendasarkan pada norma-norma dan kaidah-kaidah hukum, peraturan perundang-undangan yang berlaku dan bahan-bahan kepustakaan lainnya yang relevan dengan topik penelitian. Adapun hasil penelitian ini adalah Berdasarkan Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2008 bahwa baik pengelola dan pelaku pornografi dalam hal ini yaitu pertunjukkan Joged Bumbung yang bernuansakan porno, dapat diberikan sanksi hukum pada ketentuan-ketentuan hukum yang memuat larangan pornografi dan porno aksi tersebut. Selanjutnya, terkait pertunjukkan Joged Bumbung porno yang disebar melalui media sosial diatur dalam Pasal 27 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2024 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Kebijakan penanggulangan dalam pertunjukkan joged bumbung dapat dilakukan dengan cara memperingatkan kepada penari dan pengibing agar tidak menampilkan gerakan-gerakan tubuh yang mengarah pada pornografi
Pemanfaatan Media Pembelajaran Pada Proses Pembelajaran Pendidikan Agama Hindu Di SMPN 1 Basarang Kabupaten Kapuas
Kegiatan pembelajaran tidak dapat dipisahkan dari pendidikan, karena merupakan hal mutlak yang harus saling berdampingan. Kegiatan pembelajaran memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan seluruh potensi yang ada dalam dirinya untuk meningkatkan daya pikir kritis (critical thingking), pengetahuan (knowledge), sikap, keterampilan, emosional, dan tentunya tidak kalah penting adalah spiritual intelegensi pada peserta didik. Secara eksplisit kegiatan pembelajaran adalah usaha untuk meningkatkan tiga ranah sesuai dengan teori taksonomi bloom yakni kognitif, afektif dan psikomotorik. Media pembelajaran dalam proses pembelajaran memegang peran yang sangat penting untuk menunjang keberhasilan belajar siswa. Karena dengan adanya media pembelajaran siswa mampu memahami materi yang sifatnya abstrak menjadi lebih konkrit, hal ini dikarenakan dengan menggunakan media guru mampu memberikan contoh reel terkait dengan sesuatu/materi yang sedang disampaikan. Sehingga pesan yang terkandung dalam materi dapat membantu siswa untuk lebih mudah memahami apa yang disampaikan oleh guru. Pada penelitian ini peneliti mencantumkan dua rumusan masalah yakni 1. Bagaimana pemanfaatan media pembelajaran dalam proses pembelajaran pendidikan agama hindu di SMPN 1 Basarang? Dan 2. Bagaimana implikasi penggunaan media pembelajaran dalam proses pembelajaran pendidikan agama hindu di SMPN 1 Basarang?. Selanjutnya peneliti menggunakan teori humanistik dalam membedah masing-masing rumusan masalah. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif untuk menelisik lebih dalam terkait dengan pemanfaatan media pembelajaran. Hasil penelitian menunjukkan pemanfaatan media pada proses pembelajaran di SMPN 1 Basarang menggunakan media lingkungan guru dan media elektronik sebagai media pembelajaran. Terkait dengan implikasi penggunaan media pembelajaran pada proses pembelajaran pendidikan agama hindu sangat membantu siswa dalam memahami materi yang disampaikan oleh guru.
 
EKSISTENSI BUDAYA LOCAL DALAM PENDIDIKAN KARAKTER DI ERA MODERNISASI
ABSTRACT
The purpose of this writing is to examine the existence of local culture in character education during the era of modernization. Character education is a matter of utmost urgency and importance for the younger generation in the midst of increasingly sophisticated technological advancements. This progress not only brings positive influences but also negative ones, such as the erosion of the nation's moral values due to the influence of foreign cultures that may not align with the nation's noble values. To fortify the younger generation against various negative impacts of technological progress, local culture, as one of the systems of values growing and evolving within a society based on religious teachings, morality, and intergenerational experiences, is crucial as a moral foundation in shaping the character of the nation's children. This aims to cultivate a young generation with noble behavior, integrity, religious values, and empathy towards various issues in their surrounding environment.
Keywords: Existence, Local Culture, Character Education, ModernizationAbstrak
I Made Sadiana1, Ni Nyoman Rahmawati2
Universitas Palangkaraya1, IAHN-TP Palangka Raya2
[email protected], [email protected]
Tujuan tulisan ini adalah untuk melihat eksistensi budaya lokal dalam pendidikan karakter di era modernisasi. Pendidikan karakter merupakan hal yang sangat urgen dan penting bagi generasi muda di tengah kemajuan teknologi yang semakin cangih. Kemajuan ini tidak hanya memberi pengaruh positif tetapi juga negatif seperti semakin terkikisnya nilai-nilai moralitas bangsa sebagai akibat pengaruh budaya luar yang tidak sesuai dengan nilai luhur bangsa. Untuk membentengi generasi muda dari berbagai pengaruh negatif kemajuan teknologi. Budaya Lokal sebagai salah satu tatanan nilai yang tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat yang berlandaskan pada ajaran agama, moralitas, pengalaman turun temurun sangat penting dijadikan sebagai landasan moralitas dalam pembentukan karakter anak bangsa sehingga mereka tumbuh menjadi generasi muda yang berahlak mulia, berintegritas, religious, dan memiliki empati terhadap berbagai permasalahan yang terjadi di lingkungan sekitarnya.
Kata Kunci: Eksistensi, Budaya Lokal, Pendidikan Karakter, Modernisas
The NILAI NILAI PENDIDIKAN KARAKTER ANAK USIA DINI DALAM KITAB SLOKANTARA
This research aims to determine the character education values in Slokantara’s book. This research conduct with qualitative method. The data source was obtained through literature study. The Slokantara book was used as primary literature which is supported by other Hindu literary sources. The research results show that there are religious, honesty, hard work, communicative/friendly, love of peace, responsibility and social care in the Slokantara book. The character education values in the Slokantara book can be used as a reference in the early childhood education process for the formation of strong children. The process of internalizing character education values can be carried out using various methods, including storytelling, field trips, role playing and experiments. Every child is expected to receive the best education process from family, school and society in order to create a person with good character.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai-nilai Pendidikan karakter yang terdapat dalam kitab Slokantara. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif. Sumber data diperoleh melalui studi kepustakaan Kitab Slokantara dijadikan sebagai pustaka primer yang didukung oleh sumber-sumber sastra Hindu lainnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat nilai religius, jujur, kerja keras, komunikatif/bersahabat, cinta damai, tanggung jawab, dan peduli sosial dalam kitab Slokantara. Nilai-nilai pendidikan karakter dalam kitab Slokantara dapat dijadikan sebagai salah satu referensi dalam proses pendidikan anak usia dini demi terbentuknya anak yang suputra. Proses internalisasi nilai-nilai Pendidikan karakter dapat dilakukan dengan berbagai metode diantaranya yaitu metode bercerita, karyawisata, bermain peran, dan eksperimen. Setiap anak diharapkan mendapatkan proses Pendidikan terbaik dari keluarga, sekolah, dan masyarakat demi terwujudkan manusia berkarakter
Ritual Upacara Sri Tumpuk Di Pura Luhur Batukau Desa Pakraman Wongaya Gede Kabupaten Tabanan (1998-2022)
This research discusses the Sri Tumpuk Ceremony at Pura Luhur Batukau Pakraman Wongaya Gede Village, Tabanan Regency (1998-2022). Balinese culture is very rich and numerous, ranging from the traditional culture owned by each resident in Bali, the religion practiced, the arts owned, the typical food owned by the Balinese region, Balinese traditional houses, Balinese traditional clothes, and places to worship in the Balinese region. One of these temple buildings that will be designated as cultural heritage and become a heritage of Balinese life, namely Pura Luhur Batukau. The formulation of the problem examined. First, Related to the Procession of the Sri Tumpuk Ceremony; Second, About the Meaning of the Sri Tumpuk Ceremony; Third, About the Implications of the Sri Tumpuk Ceremony. The purpose of the research in general, to find out the Culture, Tradition, History and Sincerity of doing Yadňya, which is related to the Sri Tumpuk Ceremony at Pura Luhur Batukau. The method used is Descriptive Qualitative Research Method. Data collection techniques with. First, Observation; Second, Interview; Third, Document; and Fourth, Library. The results of the research will discuss several related matters, namely: First, Related to the Procession of Sri Tumpuk Ceremony; Second, About the Meaning of Sri Tumpuk Ceremony; Third, About the Implications of Sri Tumpuk Ceremony
INTEGRASI NILAI-NILAI KEMANUSIAAN UNIVERSAL DALAM PENDIDIKAN PANCASILA: PERSPEKTIF FILSAFAT HINDU
Universal human values serve as the cornerstone for building national character and realizing a just, peaceful, and prosperous society. Amidst the turmoil of globalization and modernization, instilling universal human values from an early age becomes crucial. Pancasila Education as a crucial subject in schools plays a strategic role in inculcating these values. Hindu philosophy, with its rich trove of universal human values, offers immense potential for integration into Pancasila Education. This journal aims to explore the universal human values embedded in Hindu philosophy and how these values can be integrated into Pancasila Education. Integrating Hindu philosophical values into Pancasila Education holds numerous benefits for Indonesia's younger generation. These values can help them develop into individuals with strong morals, noble character, and a deep respect for universal human values. While challenges and obstacles exist, this integration can yield immense benefits for Indonesia's youth and the nation's future.Nilai-nilai kemanusiaan universal menjadi landasan utama dalam membangun karakter bangsa dan mewujudkan masyarakat yang adil, damai, dan sejahtera. Di tengah gejolak globalisasi dan modernisasi, penanaman nilai-nilai kemanusiaan universal sejak dini menjadi krusial. Pendidikan Pancasila sebagai salah satu mata pelajaran penting di sekolah memiliki peran strategis dalam menanamkan nilai-nilai tersebut. Filsafat Hindu, dengan kekayaan nilai-nilai kemanusiaan universalnya, menawarkan potensi besar untuk diintegrasikan ke dalam pendidikan Pancasila. Jurnal ini bermaksud untuk mengeksplorasi nilai-nilai kemanusiaan universal yang terkandung dalam filsafat Hindu dan bagaimana nilai-nilai tersebut dapat diintegrasikan ke dalam pendidikan Pancasila. Integrasi nilai-nilai filsafat Hindu ke dalam pendidikan Pancasila memiliki banyak manfaat bagi generasi muda Indonesia. Nilai-nilai ini dapat membantu mereka untuk menjadi pribadi yang bermoral, berakhlak mulia, dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Meskipun terdapat beberapa tantangan dan hambatan, integrasi ini dapat memberikan manfaat yang besar bagi generasi muda Indonesia dan masa depan bangsa
Nilai Nilai Pendidikan Karakter Dalam Nyambutin Umat Hindu Di Desa Basarang Jaya Kecamatan Basarang Kabupaten Kapuas
Penelitian ini mengkaji tentang nilai pendidikan karakter dalam Nyambutin umat Hindu di Desa Basarang Jaya Kecamatan Basarang Kabupaten Kapuas. Nyambutinmerupakan yadnya suci untuk membersihkan/menghilangkan leteh, papa klesa, danmemperkuat kedudukan atman si bayi. Pentingnya melihat nilai pendidikan karakter dalamNyambutin umat Hindu di Desa Basarang Jaya Kecamatan Basarang Kabupaten Kapuas.Berdasarkan latar belakang dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut: 1.Bagaimanakah Bentuk dan Fungsi pelaksanaan Nyambutin umat Hindu di Desa BasarangJaya Kecamatan Basarang Kabupaten Kapuas ? 2. Apa saja nilai Pendidikan karakter dalampelaksanaan Nyambutin di desa Basarang Jaya Kecamatan Basarang Kabupaten Kapuas?Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah, teori religi, teori Interkasionisme simbolikdan teori nilai pendidikan karakter. Metode yang digunakan dalam penelitian ini metodekualitatif, lokasi penelitian di Desa Basarang Jaya Kecamatan Basarang, jenis dan sumberdata; jenis data menggunakan data kualitatif, sumber data; sumber data primer dan sumberdata skunder, teknik penentuan informan dengan puporsive sampling, instrumen penlitianpeneliti sendiri, teknik pengumpulan data; observasi, wawancara, dan studi dokumen; teknikanalisa data menggunakan data kualitatif dengan teknik analisa milles anda Huberman.Berdasarkan hasil analisa data, hasil penelitian meliputi bentuk pelaksanaannyambutin dikaji dengan teori interaksionisme simbolik, meliputi; Sarana yang digunakan,Banten Pengelepas Awon/Pebyakaonan, banten penyambutan, banten prayascita, bantenjejagan, banten kumare,banten tataban. Waktu pelaksanaan, pelaksanaan Nyambutindilaksanakan ketika hari purnama atau bulan purnama penuh, proses pelaksanaan Nyambutinmeliputi ; pembersihan/penglukatan, mebajang colong, mengelilingi lesung, mepetik,sembahyang, mejaya-jaya. Fungsi Nyambuti meliputi ; fungsi religius, fungsi penyucian,fungsi sosial, dan fungsi Estetika. Nilai pendidikan karakter dalam Nyambutin meliputi:religius, kedisiplinan, integritas, empati
MELACAK TANTANGAN PERETASAN DALAM PERKEMBANGAN HUKUM DUNIA MAYA DI INDONESIA
The digital era continues to develop, security threats, especially those related to hacking practices, have become one of the main challenges for the development of cyber law and information technology in Indonesia. Hacking, which refers to the practice of illegally entering a computer system, has raised serious concerns in efforts to keep sensitive data and information secure. This research discusses the challenges faced by Indonesia in dealing with hacking practices as part of the evolution of cyber law. This research focuses on legal changes, law enforcement efforts, and the challenges faced in law enforcement against cybercriminals. In an effort to tackle hacking practices, legislative changes, international cooperation and increasing awareness of the importance of cyber security are expected to help strengthen Indonesia's legal framework to protect its digital infrastructure. Through normative legal analysis and comprehensive qualitative analysis, this research seeks to present an overview of the efforts needed to track and overcome hacking threats in order to advance cyber law in Indonesia.Era digital yang terus berkembang, ancaman keamanan, khususnya terkait dengan praktik peretasan, telah menjadi salah satu tantangan utama bagi perkembangan hukum dunia maya dan teknologi informasi di Indonesia. Peretasan, yang merujuk pada praktik memasuki sistem komputer secara ilegal, telah menimbulkan kekhawatiran serius dalam upaya menjaga keamanan data dan informasi sensitif. Penelitian ini membahas tantangan yang dihadapi Indonesia dalam menghadapi praktik peretasan sebagai bagian dari evolusi hukum dunia maya. Penelitian ini fokus pada perubahan hukum, upaya penegakan hukum, dan tantangan yang dihadapi dalam penegakan hukum terhadap pelaku kejahatan dunia maya. Dalam upaya menanggulangi praktik peretasan, perubahan legislasi, kerjasama internasional, dan peningkatan kesadaran akan pentingnya keamanan dunia maya diharapkan dapat membantu memperkuat kerangka hukum Indonesia untuk melindungi infrastruktur digitalnya. Melalui analisis hukum normatif dan analisis kualitatif komprehensif, penelitian ini berupaya menyajikan gambaran tentang upaya yang diperlukan dalam pelacakan serta mengatasi tantangan peretasan demi memajukan hukum siber di Indonesia
Resistensi Masyarakat Aceh terhadap Pengungsi Muslim Rohingya di Era Digital
The arrival of Rohingya Muslim refugees in coastal Aceh led to a rejection response from the local community. Resistance is not necessarily present but the result of accumulated experiences and negative contacts built between local communities and previous refugees. In line with that, this article aims to map the resistance that is present in the frame of digital media. More specifically, this article wants to explain about: 1) the forms of resistance present in the framing of online news media, 2) the forms of resistance found in social media, and 3) the controversy between the community and pro Rohingya organizations. In order to obtain the desired data, this article uses internet studies and a descriptive qualitative approach. The results show that resistance in online news framing is divided into three forms, namely news that broadcasts community resistance in the form of demonstrations, expulsion of Rohingya boats, to anarchist actions and evictions at refugee camps. In the realm of social media, recorded resistance develops into a universal issue that is produced and reproduced. The resistance manifested in feed posts, video reels content, and discourse in comments gradually shifted into expressions of hatred towards Rohingya refugees. The rejection continues to pressure international and national institutions for the expulsion of Rohingya refugees. Thus, it is necessary to socialize digital literacy and strengthen the values of diversity in the community in order to build awareness in the wise use of social media.Kedatangan pengungsi muslim Rohingya di pesisir Aceh menimbulkan respon penolakan dari masyarakat setempat. Resistensi tidak serta-merta hadir namun hasil dari akumulasi pengalaman dan kontak negatif yang terbangun di antara masyarakat lokal dengan pengungsi terdahulu. Sejalan dengan itu, artikel ini bertujuan memetakan resistensi yang hadir dalam bingkai media digital. Secara lebih khusus artikel ini ingin menjelaskan perihal: 1) bentuk-bentuk resistensi yang hadir dalam framing media berita online, 2) bentuk-bentuk resistensi yang ditemui di dalam media sosial, dan 3) kontroversi antara masyarakat dan lembaga pro Rohingya. Guna memperoleh data yang dikehendaki, artikel ini menggunakan studi internet dan pendekatan kualitatif deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penolakan dalam framing berita online terbagi ke dalam tiga bentuk yakni berita yang menyiarkan resistensi masyarakat berupa demonstrasi, pengusiran kapal Rohingya, hingga aksi-aksi anarkis dan penggusuran pada lokasi pengungsian. Pada ranah media sosial, resistensi terekam berkembang menjadi isu universal yang diproduksi dan direproduksi. Penolakan yang termanifestasi dalam postingan feed, konten video reels, hingga wacana dalam komentar lambat laun bergeser menjadi ekspresi kebencian terhadap pengungsi Rohingya. Penolakan terus berlanjut hingga desakan terhadap lembaga-lembaga internasional maupun nasional atas pengusiran terhadap pengungsi Rohingya. Dengan demikian, diperlukan sosialisasi mengenai literasi digital dan penguatan nilai-nilai keberagaman di tengah-tengah masyarakat agar terbangun kesadaran dalam pemanfaatan media sosial secara bijaksana