E-Journal Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang Palangka Raya
Not a member yet
711 research outputs found
Sort by
Pendidikan Karakter dan Moderasi Beragama Dalam Konteks Ajaran Niti Sastra
Abstrak
This article aims to provide solutions to overcome the problems of radicalism and intimidation that are increasingly prevalent in society in the name of religion There are three problems in this article, namely: How does a multicultural and plural society practice religious moderation in Indonesia, how is religious moderation taught in Niti Sastra and the importance of religious moderation education in a plural society. In analysing the problem, library research method is used. The results obtained are: (1). The practice of religious moderation in Indonesia is reflected in several moments of religious rituals such as the celebration of Eid al-Fitr, Christmas, and Nyepi, as well as incidental activities such as grief and marriage. (2). The value of religious moderation in Niti Sastra is reflected in various character education that is emphasised to be a good leader such as mutual respect, appreciation (3) Religious moderation in plural societies is very important to be applied to overcome the distortion of community morality values, an important key to the unity and integrity of the Indonesian nation, and to preserve the continuity of traditions.
 
Wayang Lemah Dalam Upacara Atma Wedana: Visualisasi, Tuntunan, Dan Penyucian Jiwa
Upacara Atma Wedana (AW) merupakan ritual sakral yang dimaksudkan untuk menyucikan atma (jiwa) setelah kematian dan membimbingnya menuju alam spiritual yang lebih tinggi. Wayang Lemah (WL) berperan penting dalam proses tersebut dengan menceritakan kisah Bima Swarga tentang perjalanan atma, menggambarkan perjuangan heroik Bima di alam kematian sebagai penuntun dan penyucian atma. Artikel ini membahas peran WL dalam Upacara AW sebagai sarana visualisasi, penuntun spiritual, dan penyucian atma. Untuk memahami fungsi simbolik WL, penelitian ini mengunakan metode kualitatif deskritif. Pengumpulan data dilakukan melali wawancara mendalam dengan dalang dan pemangku (rohaniawan Hindu Bali). Melakukan analisis pada dokumen kisah Bima Swarga dan ritual AW. Fokus penelitian terletak pada tiga dimensi utama, yaitu, visualisasi atma melalui simbol-simbol dalam pertunjukkan WL; peran WL sebagai penuntun spiritual bagi sang atma; dan peran WL sebagai penyucian atma.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa WL tidak hanya berfungsi sebagai media ritual, tetapi juga membantu orang belajar tentang spiritualitas. WL dalam AW tidak hanya mempertahankan tradisi keagamaan Hindu tetapi juga mengajarkan nilai-nilai spiritual dan pendidikan melalui visualisasi perjalanan atma. Selain itu, WL berfungsi sebagai penuntun dan penyuci atma, memastikan bahwa jiwa mencapai keadaan spiritual yang lebih tinggi sesuai ajaran Hindu
Peran Manajemen Strategik Dalam Sistem Pengelolaan Perguruan Tinggi
Implementasi manajemen strategik dalam pengelolaan perguruan tinggi mencakup berbagai aspek, mulai dari perencanaan kurikulum, pengembangan SDM, pengelolaan keuangan, hingga peningkatan kualitas penelitian dan pengabdian masyarakat. Pendekatan ini mendorong terciptanya budaya organisasi yang berorientasi pada kinerja dan perbaikan berkelanjutan. Namun, penerapan manajemen strategik di perguruan tinggi bukan tanpa tantangan. Karakteristik unik institusi akademik seperti otonomi fakultas, kebebasan akademik, serta struktur organisasi yang kompleks dapat menjadi hambatan dalam implementasi strategi yang koheren. Diperlukan kepemimpinan yang kuat dan komunikasi efektif untuk menyelaraskan berbagai elemen dalam institusi menuju visi bersama. Mengingat dinamika lingkungan pendidikan tinggi yang terus berubah, peran manajemen strategik menjadi semakin penting. Perguruan tinggi yang mampu menerapkan manajemen strategik secara efektif akan lebih siap menghadapi tantangan masa depan dan mencapai keunggulan kompetitif yang berkelanjutan
Pelatihan Penelitian Tindakan Kelas Bagi Guru-Guru Di Larantuka
This training aims to provide teachers with an understanding of the importance of classroom action research, as an effort to improve the process and quality of learning in schools, as well as the importance of writing classroom action research itself for the teacher's career advancement in terms of proposing rank and career path. This activity was carried out in the form of classroom action research (PTK) writing training which lasted for 2 (two) days starting December 8-9 2021. The material presented consisted of 2 (two) main themes, namely the basic concepts of classroom action research and practical writing exercises. classroom action research. The number of participants who participated in the training was 100 teachers (multi-religious). The training material delivery method consists of lectures, question and answer, discussion, and direct practice in making classroom action research proposals. The training results showed that participants' understanding and mastery of PTK material had increased after attending the training compared to before. Additionally, training participants already have the skills and ability to make Class Action Research Proposals (CAR) and be highly motivated to participate in training activities
Tindak Pidana Pembunuhan dalam Delik Kejahatan Terhadap Nyawa (Kajian terhadap Unsur Kesengajaan dengan Alasan Pembelaan Diri)
Tindak pidana pembunuhan adalah sengaja merampas nyawa atau menghilangkan nyawa orang lain. Jadi tindak pidana pembunuhan adalah perbuatan yang bertentangan dengan harkat manusia dan tidak manusiawi, pembunuhan merupakan bahaya besar bagi berlangsungnya kehidupan manusia. Permasalahan yang muncul adalah ketika pembunuhan dilakukan oleh orang yang membela diri. Dalam praktik hukum terdapat inkonsistensi dalam menilai perbuatan pidana ini. Jenis Penelitian ini merupakan penelitian secara normative. Pengumpulan Data dilakukan dengan mengumpulkan data dan pengambilan data dari bahan-bahan hukum yang berupa perundang-undangan, karya tulis, buku, jurnal yang berkaitan dengan tindak pidana pembunuhan. Teknis Analisis Data yang dilakukan oleh penulis dengan mengolah dan menganalisis data tersebut dengan menggunakan analisis deskriptif kualitatif. Adapun hasil penelitian ini adalah dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) diatur pada buku II title XIX (Pasal 338-350 KUHP), tentang “kejahatan-kejahatan terhadap nyawa orang”. Pembunuhan adalah termasuk tindak pidana material (material delict), artinya untuk kesempurnaan tindak pidana ini tidak cukup dengan dilakukannya perbuatan itu, akan tetapi menjadi syarat juga adanya akibat dari perbuatan itu. Pembelaan diri tidak serta merta dapat diterima menjadi alasan agar pelaku tidak dipidana. Pengujian terhadap kegoncangan jiwa menjadi sangat penting dalam menilai unsur kesengajaan
Peran Kepala Desa Dalam Menyelesaikan Sengketa Tanah Pada Masyarakat di Desa Mampai Kecamatan Kapuas Murung Kabupaten Kapuas
Tanah merupakan suatu hal yang sangat penting bagi kehdupan manusia, sehingga setiap orang yang memiliki tanah pasti akan mempertahkan haknya tersebut dari orang lain. Begitu pentingnya tanah bagi kehidupan manusia maka tidak jarang tanah tersebut sebagai obyek sengketa pada masyarakat, seperti halnya sengketa tanah pertanian yang terjadi di Desa Mampai Kecamatan Kapuas Murung Kabupaten Kapuas. Sengketa tanah yang terjadi dapat menimbukan keresahan/konflik sehingga proses penyelesaian sengketa tanah ini harus segera di selesaikan. Dalam proses peneyelesaian sengketa tanah yang terjadi di Desa Mampai Masyarakat Desa Mampai lebih memilih penyelesaian melalui kepala desa. Sebagaimana yang diatur dalam pasal 26 Ayat (4) poin (k) Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa yang menyatakan bahwa : Peran Kepala Desa dalam menyelesaikan perselisihan (sengketa tanah) Kepala Desa sebagai hakim perdamaian (mediator) sebagai mediator memfasilitasi para pihak dalam mencapainya kesepakatan-kesepakatan diantara para pihak yang berperkara sehingga tercapainya keputusan penyelesaian sengketa tanah secara adil bagi kedua belah pihak yang bersengketa
Kebebasan Beragama Dalam Konstitusi Dan Perspektif Hak Asasi Manusia
Religion is a guide or guidance for its followers. Embracing a religion is a human right of all individuals which has been guaranteed and protected by the state through the constitution. The purpose of writing this article is to reveal transparently based on the rules or constitution the freedom to embrace a religion. The method used in this research is normative law. Where data obtained through legal materials and legal articles is analyzed systematically. The result is that freedom of religion based on the constitution is contained in the values of Pancasila as the ideology of the nation and state, especially the first principle. The 1945 Constitution in article 28 D (1) also explains freedom of religion and this is a guideline for every religious community in embracing and practicing their beliefs. Likewise, based on human rights law number 39 of 1999 and also the Universal Declaration of Human Rights (UDHR) it is clear that it states the protection and freedom to embrace a religion. The conclusion is that embracing a religion must be based on one's own wishes and beliefs, it is not permissible for other people or certain parties to intervene in this matter because it is a human right. In carrying out religious life, there must be no discrimination, no matter how small. This is because religious freedom is regulated by the constitution, so it is obligatory to obey the law.Agama adalah sebuah pedoman atau tuntunan bagi pemeluknya. Memeluk agama merupakan hak asasi semua individu yang telah dijamin dan dilindungi oleh negara melalui konstitusi. Tujuan dari penulisan artikel ini adalah untuk mengungkapkan secara transparan berdasarkan aturan atau konstitusi kebebasan memeluk suatu agama. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah hukum normatif. Dimana data yang diperoleh melalui melalui bahan hukum dan artikel-artikel hukum dianalisis secara sistematis. Adapun hasilnya adalah bahwa kebebasan beragama berdasarkan konstitusi tertuang dalam nilai-nilai Pancasila sebagai ideologi bangsa dan negara khususnya sila pertama. UUD 1945 dalam pasal 28 D (1) juga menjelaskan kebebasan beragama dan ini menjadi pedoman setiap umat beragama dalam memeluk dan menjalankan keyakinannya. Begitu halnya berdasarkan undang-undang hak asasi manusia nomor 39 tahu 1999 dan juga Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (DUHAM) telah jelas berbunyi perlindungan dan kebebasan memeluk suatu agama. Kesimpulannya adalah memeluk agama harus didasarkan keinginan dan keyakinan sendiri, tidak dibenarkan ada orang lain atau pihak-pihak tertentu untuk mengintervensi hal tersebut karena merupakan sebuah hak asasi manusia. Dalam menjalankan kehidupan beragama tidak boleh terjadi diskriminasi sekecil apapun. Hal ini dikarenakan kebebasan beragama telah diatur oleh konstitusi, sehingga wajib hukumnya untuk dipatuhi
Implementasi Pendidikan Prenatal Melalui Upacara Manyaki Tihi Pada Umat Hindu Kaharingan
Hinduism is a religion recognized by the Indonesian government, whose adherents are spread in almost all corners of Indonesia. In the practice of religious rituals, Hinduism has differences from one region to another which are adapted to Desa Kala Patra. However, in general they have the same goal. One example is the Hindu religion on the island of Kalimantan, precisely in the province of Central Kalimantan, known as Hindu Kaharingan, whose adherents are the Dayak tribe, a native tribe of Kalimantan. In religious practice, the Hindu Kaharingan community has its own and unique characteristics. For example, at the Manyaki Tihi ceremony, which is a practice of religious activities to support prenatal education. The aim of this research is to describe and analyze the implementation of prenatal education through Manyaki Tihi among Hindu Kaharingan in Tangki Dahuyan Village, Manuhing District. The method in this research is descriptive qualitative. The results of the research are that the Manyaki Tihi ceremony is a ceremony carried out by the Hindu Kaharingan community for generations which is aimed at pregnant women or pregnant women based on the difficult events faced by a woman who is pregnant until she gives birth. The Manyaki Tihi ceremony has three series of activities, namely: 1) Preparation, namely determining a good day and preparing facilities such as: rice, sacrificial animals in the form of pigs and chickens for blood to be taken, betel nut, coconut oil, water, pot lids, nets, mats (Amak ), incense or frankincense and tools such as axes, machetes and sharpening stones. 2) The main activity, namely smearing (manyaki) pig and chicken blood on pregnant women and sprinkling white rice in various directions. And, 3) Closing, namely bargaining capacity. As well as the implementation, this ceremony can only be performed by Kaharingan Hindu women who are pregnant with their first child at the age of 7 months. Because this ceremony will make the mother-to-be feel more peaceful and calm, because during the ceremony the Basir will say prayers aimed at the ancestors and Ranying Hatlla Langit. So the mother feels calmer and ready to face the birth of her first baby. And the baby in the womb will be healthier, because the mother does not experience stress.Agama Hindu merupakan salah satu agama yang diakui oleh pemerintah Indonesia, yang penganutnya tersebar hampir diseluruh pelosok wilayah Indonesia. Dalam praktik ritual keagamaan, agama Hindu memiliki perbedaan dari satu daerah dengan daerah lainnya yang disesuaikan dengan Desa Kala Patra. Namun pada umumnya memiliki tujuan yang sama. Salah satu contohnya yaitu agama Hindu yang ada di pulau Kalimantan tepatnya provinsi Kalimantan Tengah yang dikenal dengan nama Hindu Kaharingan yang penganutnya merupakan suku Dayak, suku asli Kalimantan. Dalam praktik keagamaan, masyarakat Hindu Kaharingan memiliki ciri khas tersendiri dan unik. Misalnya pada upacara Manyaki Tihi yang merupakan sebuah praktik kegiatan keagamaan dalam mendukung pendidikan prenatal. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan dan menganalisa implementasi pendidikan prenatal melalui Manyaki Tihi pada umat Hindu Kaharingan di Desa Tangki Dahuyan Kecamatan Manuhing. Metode dalam penelitan ini adalah kualitatif deskriptif. Adapun hasil penelitian yaitu upacara Manyaki Tihi adalah sebuah upacara yang dilakukan oleh masyarakat Hindu Kaharingan secara turun-temurun yang ditujukan untuk ibu hamil atau ibu yang sedang mengandung dilatar belakangi atas dasar peristiwa-peristiwa sulit yang dihadapi oleh seorang perempuan yang sedang mengandung sampai ia melahirkan. Upacara Manyaki Tihi memiliki tiga rangkaian kegiatan yaitu: 1) Persiapan, yaitu menentukan hari baik dan menyiapkan sarana seperti: beras, hewan korban berupa babi dan ayam untuk diambil darahnya, sirih pinang, minyak kelapa, air, tutup panci, jala, tikar (Amak), dupa atau kemenyan dan perkakas seperti kapak, parang, dan batu asah. 2) Kegiatan inti, yaitu memoleskan (manyaki) darah babi dan ayam pada ibu hamil dan menaburkan beras putih keberbagai penjuru. Dan, 3) Penutup, yaitu tampung tawar. Serta implementasi yaitu upacara ini hanya boleh dilakukan oleh wanita yang beragama Hindu Kaharingan yang sedang mengandung anak pertama pada usia kandungan memasuki usia 7 bulan. Karena upacara ini akan membuat sang calon ibu merasa lebih damai dan tenang, karena selama upacara sang Basir akan mengucapkan doa-doa yang ditujukan untuk para leluhur dan Ranying Hatlla Langit. Sehingga sang ibu merasa lebih tenang dan siap untuk menghadapi kelahiran bayi pertamanya. Dan sang bayi dalam kandunganpun akan menjadi lebih sehat, karena sang ibu tidak mengalami stres
GOTONG ROYONG PADA MASYARAKAT HINDU BALI SEBAGAI PEDOMAN MENYONGSONG ERA SOCIETY 5.0
Abstract
The arrival of the Society 5.0 era has accelerated the development of technology and information. On the one hand, technological developments make all activities run more effectively and efficiently. But on the other hand, technological developments can also degrade the noble values that exist in society. For this reason, it is necessary to replant the noble values of life, such as the concept of Ekasila 'Gotong Royong' in Hindu society in Bali. Based on these problems, this research tries to examine more holistically the concept of gotong royong and its implementation in Balinese Hindu society. Through this topic, 3 discussions were formulated, including the essence of Ecasila, several concepts of gotong royong in Balinese Hindu society, and the implications of gotong royong as a guideline in welcoming the era of Society 5.0. By using a qualitative research method with a descriptive approach, as well as data collection using literature studies and Miles and Huberman data analysis, this study found that the concept of Ekasila 'Gotong Royong' in Balinese Hindu society can be a noble and noble guideline in welcoming the era of Society 5.0.
Keywords: Ekasila, Gotong Royong, Society 5.0Abstrak
Datangnya era Society 5.0 membuat perkembangan teknologi dan informasi semakin cepat. Disatu sisi, perkembangan teknologi membuat segala aktivitas bisa berjalan lebih efektif dan efisien. Namun disisi lain, perkembangan teknologi juga dapat mendegradasi nilai luhur yang ada dalam masyarakat. Untuk itulah perlu adanya penanaman kembali nilai luhur kehidupan, seperti konsep Ekasila ‘Gotong Royong’ pada masyarakat Hindu di Bali. Berdasarkan permasalahan tersebut, penelitian ini mencoba meneliti secara lebih holistik tentang konsep gotong royong dan implementasinya pada masyarakat Hindu Bali. Melalui topik tersebut, dirumuskan 3 buah pembahasan antara lain tentang hakikat Ekasila, beberapa konsep gotong royong pada masyarakat Hindu Bali, serta implikasi gotong royong sebagai pedoman dalam menyongsong era Society 5.0. Dengan menggunakan metode penelitian kualitatif yang berpendekatan deskriptif, serta pengumpulan data yang memakai studi kepustakaan serta analisis data Miles dan Huberman, penelitian ini memperoleh hasil bahwa konsep Ekasila ‘Gotong Royong’ pada masyarakat Hindu Bali dapat menjadi pedoman luhur dan mulia dalam menyongsong era Society 5.0.
Kata Kunci: Ekasila, Gotong Royong, Society 5.
Pengaruh Ketersediaan Sarana dan Prasarana Pendidikan terhadap Prestasi Belajar Siswa Kelas X TKR SMK Negeri 2 Siatas Barita Tahun Ajaran 2023/2024
The aim of this research is to determine the effect of the availability of infrastructure on the learning achievement of class X TKR students at SMK Negeri 2 Siatas Barita. The method used in this research is an inferential quantitative method. The population was all 127 class X TKR students and a sample of 30 was determined using a non-probability sampling technique, namely purposive sampling. Data was collected using a closed questionnaire with 15 items. The results of data analysis show that there is a positive and significant influence in the availability of educational infrastructure on the learning achievement of class A positive relationship is obtained by the value rxy = 0.553 > rtable(=0.05,n=30) = 0.361, thus it is known that there is a positive relationship between variable > t table(=0.05,dk=n-2=28)= 2.048, thus there is a significant relationship between variable "72.863"+0.130X. b) Regression coefficient of determination test (r2) = 30.5%. 3) Test the hypothesis using the F test to obtain Fcount > Ftable, namely 12.315 > 4.17. Thus Ha is accepted and H0 is rejected