E-Journal Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang Palangka Raya
Not a member yet
711 research outputs found
Sort by
WACIKA PARISUDA : ETIKA UJARAN DALAM HINDU
This paper is an explanation of the ethical teaching of speech according to Hinduism. In Hinduism, the quality of one's self is measured at least on three aspects of action, known as Tri Kaya Parisuda (Three Good or noble Behavior), 1) Manacika (good thinking), 2) Wacika (good speech), and 3) Kayika (good action). All three things must be actualized in a balanced way. If there is lameness in one of the other aspects, it will have a bad effect. Man is recognized by the way he thinks, speaks and acts. This paper traces the teachings of wacika parisuda (good speech) from various sources in Hindu literature. In the study of Hindu literature (Nitisastra, Slokantara, Sarasamuccaya, Bhagavadgita) shows that a person's utterance indicates his maturity, knowledge, and spirituality
ILMU KOMUNIKASI DI DALAM PENDIDIKAN AGAMA HINDU
Sejak manusia dilahirkan, mereka dikaruniai oleh keterampilan komunikasi. Keterampilan ini kemudian berkembang lebih jauh setiap saat, sehingga pesan dapat dipahami oleh penerima. Dengan proses komunikasi, harus ada pesan dari pemberi sebagai komunikator yang dikenal dan penerima sebagai komunikan yang dikenal. Pendidikan Hindu dengan menggunakan ilmu komunikasi, bisa dilakukan oleh siapa saja dan di mana saja
PENDIDIKAN KARAKTER DAN MORALITAS BAGI ANAK
Anak merupakan generasi penerus yang eksistensinya sangat menentukan langkah kehidupan masyarakat, bangsa, dan negara Indonesia ke depan.Eksistensi generasi Penerus menjadi pelopor pergerakan kemerdekaan Indonesia kemudian menjadi tonggak yang sangat menentukan dalam sejarah perjalanan bangsa Indonesia.
Anak sebagai generasi penerus bangsa memiliki peran dan posisi yang strategis. Mereka merupakan harapan masa depan bangsa. Maju atau mundurnya bangsa dan Negara ada di pundak mereka. Pendidikan karakter dan moral sangat penting diberikan kepada anak sebagai generasi bangsa karakter adalah “kualitas atau kekuatan mental, moral, akhlak atau budi pekerti individu yang merupakan kepribadian khusus yang menjadi pendorong dan penggerak, serta yang membedakan dengan individu lain”. Pembentukan karakter penting dilakukan bagi individu, tidak terkecuali generasi bangsa. Moral adalah perbuatan/tingkah laku/ucapan seseorang dalam berinteraksi dengan manusia. Apabila yang dilakukan seseorang itu sesuai dengan nilai rasa yang berlaku di masyarakat tersebut dan dapat diterima serta menyenangkan lingkungan masyarakatnya, maka orang itu dinilai memiliki moral yang baik, begitu juga sebaliknya. Orang tua harus menjadi yang terbaik dalam hal apapun. Banyak orang tua ingin mendorong anaknya untuk melakukan hal yang terbaik dalam kehidupannya
MEMAHAMI RITUAL BALIAN PALAS BIDAN SUKU DAYAK LAWANGAN DI AMPAH KECAMATAN DUSUN TENGAH KABUPATEN BARITO TIMUR PROVINSI KALIMANTAN TENGAH
The social life in community are bound by rules, and norms that as the regulation life together, kind rules that source of religion study that growth up and develop in community because it is agreement together especially tradition low and culture. The kind of life and grade, the members of a religious community Hindu Kaharingan the ethnic group of Dayak Lawangan in be married long for a child as the next generation and as the implementation of ritual for their forfather. Based on the belief of the members of a religious community of Hindu Kaharingan the ethnic group of Dayak Lawangan the new birth is not get to contaminated from out side of the world and he or she needs to cleance by ritual Balian Palas Bidan. So He or She cleance birth and spiritual. The furthermore the data are collected throw observation, interview, and documentation get to wed the how analysis technic, by the manner of data mereduction, serve,and conclusion.
The result of this research about comprehension of shape, function, and meaning of Balian Palas Bidan that be performance with the sacral dance and the sound of gamelan, and cleansing the mean and infrastructure of ritual. The function of it is clean or cleansing the baby or child, mother, and midwife so free from pali pulan/cuntaka of the birth effect. They have function to maintain cleaniliness the harmony of connection of the human with the God, the human with the human, The human with environment. So the mother of the baby and midwife always in healthy and spiritua
PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PERKEMBANGAN PENDIDIKAN MELALUI MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH (MBS)
ABSTRAK
Meningkatkan mutu pendidikan dapat dilakukan dengan penguatan partisipasi masyarakat, dengan ikut serta dalam penyusunan program serta implementasinya dalam proses pembelajaran. Keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan pendidikan dapat dilakukan bila sekolah memiliki otonomi untuk penyelenggaraan pendidikannya dengan melibatkan semua warga sekolah termasuk masyarakat dan orang tua. Penerapan manajemen berbasis sekolah (MBS) diyakini sebagai suatu model implementasi kebijakan desentralisi pendidikan yang mencirikan otonomi kepada sekolah dalam pengelolaannya. MBS merupakan salah satu langkah dalam mendukung peningkatan mutu sekolah. MBS menekankan pada seluruh pihak yang berkepentingan dalam peningkatan mutu pendidikan dalam menggodok dan merumuskan segala macam keputusan yang berkaitan dengan pendidikan serta ikut serta dalam implementasi konsep yang telah dibuat. Partisipasi dari orangtua siswa dan masyarakat dalam program MBS berupa merealisasi program sekolah selai itu mendukung sekolah melalui bantuan dana dan bersama warga sekolah merumuskan dan mengembangkan program yang dapat meningkatkan kualitas pendidikan disekolah. Partisipasi masyarakat dan orang tua siswa dapat membantu sekolah sebagai narasumber atau organisator kegiatan sekolah. Selain itu dapat juga terlibat secara aktif dalam proses kontrol kualitas pengelolaan sekolah.
Kata Kunci : manajemen berbasis sekolah, partisipasi masyaraka
Nilai-Nilai Pendidikan Hindu Dalam Upacara Perkawinan Hindu Kaharingan Dayak Ngaju
Pendidikan adalah salah satu upaya yang berguna untuk mewariskan nilai, sebagai penolong dan penuntun dalam menjalani kehidupan bermasyarakat serta sekaligus untuk memperbaiki nasib dan peradaban umat manusia dalam menghadapi tantangan zaman globalisasi yang akan membawa perubahan terhadap kehidupan masyarakat. Firman Ranying Hatalla merupakan pedoman bagi pemeluk agama Hindu Kaharingan apabila melaksanakan upacara perkawinan, maka haruslah berdasarkan pada Pelek Rujin Pangawin Nyai Endas Bulau Lisan Tingang dengan Raja Garing Hatungku, dengan melaksanakan Pelek Rujin Pangawin tersebut maka akan terciptalah kehidupan rumah tangga yang harmonis, bahagia dan sejahtera baik lahir maupun bathin. Khusus untuk upacara perkawinan umat Hindu Kaharingan yang merupakan suatu firman dari Ranying Hatalla Langit kepada umat Hindu Kaharingan untuk selalu dilaksanakan, maka kewajiban kita untuk menjaga dan melestarikannya sehingga nilai-nilai pendidikan agama Hindu akan selalu melekat dan dipahami oleh seluruh generasi Hindu. Nilai-nilai pendidikan dalam upacara Perkawinan Umat Hindu Kaharingan di Kota Palangka Raya maka dapat digali berupa Nilai Kontruktif yaitu Nilai Religi dan Nilai Kebenaran, Nilai Positif yaitu Nilai-Nilai Positif dan Nilai-Nilai Kebaikan, Nilai Kognitif yaitu Nilai Pengetahuan yang terkandung dalam Upacara Perkawinan Umat Hindu Kaharingan dan bagaimana proses Transformasi nilai tersebut, Nilai Expresif yaitu nilai keindahan dan rasa bakti dalam upacara Perkawinan umat Hindu Kaharingan Dayak Ngaju
Peranan Bahasa dalam Susila Hindu
Bahasa merupakan perwujudan interaksi naluri tiap orang untuk memenuhi kebutuhannya. Salah satu cara memenuhinya adalah bekerja sama,bergaul, tukar-menukar informasi dan pengalaman. Bahasa merupakan alat utama untuk berinteraksi dengan sesamanya baik secara lisan maupun tertulis.Dalam berkomunikasi dibutuhkan etika yang di dalam ajaran Hindu disebut susila. Susila adalah salah satu dari kerangka dasar agama Hindu, yang lainnya adalah Tattwadan ritual.Praktik susila dalam realitas hidup bagi seseorang untuk memperoleh simpati dari orang lain manakala dalam pola hidupnya selalu mencerminkan ketegasan sikap yang diwarnai oleh sikap simpatik yang memegang teguh kesusilaan. Fungsi bahasa dalam susila adalah bagaimana bahasa membawa manusia memerankan dan menerapkan ajaran susila dan asfek-asfeknya dalam kehidupan sehari-hari dengan berkata menggunakan bahasa yang baik dan benar, bertingkah laku yang baik dengan berpedoman pada ajaran Ranying Hatalla sesuai dengan apa yang sudah dituangkan dalam kitab suci agama Hindu Kaharingan yaitu Panaturan di sana Bawi Ayah sudah turun ke dunia untuk mengajarkan umat manusia keturunan Raja Bunu mulai dari tatacara berbicara, tingkah laku dan sopan santun sehingga keseimbangan antara manusia dengan lingkungan, manusia dengan alam, dapat terjaga dan menciptakan suatu keharmonisan untuk tercapainya kebahagiaan lahir dan batin
Memaknai בָּלַל (Bȃlal) dan פָּצַץ (Patsats) Kejadian 11:1-9 Dalam Konteks Multikultural di Indonesia
Melalui pendekatan eksegetikal, teks kejadian 11:1-9 diharapkan mampu membawa nilai yang bermanfaat untuk konteks multikultural Indonesia saat ini. Fokus penafsiran yang didekonstruksi adalah dua kata Ibrani pada ayat 7 dan 8, yakni dua kata kunci בָּלַל (bȃlal) berarti “untuk mencampur”, “membaur”, “membingungkan” dan פָּצַץ (poots), berarti “disebarkan” atau “diserakkan” yang mana Allah berperan sebagai subyek yang bertindak “menyebarkan”/”menyerakkan”. Kekacauan bahasa telah memutuskan komunikasi sehingga terasing satu sama lain. Mereka memutuskan untuk berpisah (baca: berserak). Multikultural di Indonesia mengalami ambiguitas. Secara harfiah, rakyat Indonesia sudah tersebar/terserak dari Sabang sampai Merauke dengan latar belakang yang sangat beragam. Secara harfiah pula, בָּלַל (bȃlal) dan פָּצַץ (patsats) sudah tergambar dalam identitas Indonesia. Namun nilai dan spiritnya belum dihidupkan secara maksimal dalam sanubari dan semangat berbangsa dan bernegara. Sesungguhnya spirit ini ada di dalam nilai-nilai Pancasila. Spirit בָּלַל (bȃlal) dan פָּצַץ (patsats) yang terkandung di dalam nilai-nilai Pancasila dan yang dihidupi secara konstan akan mentranformasikan masyarakat dan bangsa sehingga pada gilirannya menolongnya memahami diri dan tanggung jawab di tengah keragaman
Prosesi Ritual Kematian Umat Hindu Kaharingan Suku Dayak Dusun Di Kabupaten Barito Utara
Death has commonly been considered a sad or upleasant occasion, particularly for humans, due to the affection for the being that has died and/the termination of social and fimiliar bonds with the deceased. Death is the termination of all biological function that sustain an organism. Death is the center of many traditions and and organization; costums relating to death are a feature of every culture around the world. Much of this revolves around the care of the dead, as well as the afterlife and the disposal of bodies upon the onset of death. The disposal oh human corposes does, in general, begin with the last offices before significant time has passed, and ritualistic ceremonies often occur, most commonly interment or Wara/Tiwah/Ijambe etc.
Dayak Dusun, like many other dayak’s sub tribe was originally practiced Kaharingan relegion (Hindu Kaharingan). For the Dayak Dusun tribes, a proces of death needs to be continued with the advanced rituals, so as not to impair quality and tranquility of living. The living relative are responsible and liable to held the death ceremony. This dead ceremonies has been performed since hundreds of years ago. Basically, he ritual ot the death is a series of ceremonies ranging from death to several ceremonies to take diau matei into Gunung Lumut the glory of the new world a lush, peaceful, serene, rich where there is perfection, healty, ageless and eternal life
URGENSI PENDOKUMENTASIAN PUTUSAN PERADILAN ADAT
Penyelesaian kasus hukum dewasa ini menjadi perdebatan yang serius, rasa keadilan yang diharapkan oleh setiap warga negara yang memerlukan haknya, dijaman sekarang ini, begitu susahnya untuk mendapatkan rasa ‚adil‛. Praktik-prakti yang melukai untuk mendapatkan rasa adil, begitu menggurita, hampir di semua lini dan sendi-sendi penegak hukum setidaknya terkait dengan hal-hal yang mencederai keadilan itu sendiri.Ungkapan tajam kebawah dan tumpul ke atas, sampai menjadi pembicaraan disisi kehidupan warga. Kekecewaan terhadap baik hasil vonis ataupun proses peradilan sangat melukai hati dari pencari keadilan. Ungkapan ada uang maka sangat mudah untuk mengatur para oknum penegak hukum. Dalam rangka memberikan solusi terhadap kekecewaan terhadap mekanisme dan juga praktik-praktik tidak jujur di lingkungan penegak hukum, bangsa Indonesia masih mempunyai warisan adiluhung yang dapat memberikan solusi dibidang peradilan.Sistem peradilan adat yang merupakan jati diri, kepribadian bangsa Indonesia yang menempatkan nilai-nilai keadilan, musyawarah, mufakat, saling menghormati dan tidak terlepas dari keseimbangan antara manusia dengan sesama, keseimbangan hubungan manusia dengan sesama ciptaan Tuhan (Alam Semesta) dan juga mengharmoniskan hubungan manusia dengan Pencipta, telah diwariskan oleh para leluhur bangsa ini, adat tradisi yang begitu luhur dan berbudaya tinggi telah kita pandang sebelah mata, kita justru mengagungkan produ-produk lain yang belum tentu sesuai dengan cultur budaya kita.Penyelesaian kasus hukum dewasa ini menjadi perdebatan yang serius, rasa keadilan yang diharapkan oleh setiap warga negara yang memerlukan haknya, dijaman sekarang ini, begitu susahnya untuk mendapatkan rasa ‚adil‛. Praktik-prakti yang melukai untuk mendapatkan rasa adil, begitu menggurita, hampir di semua lini dan sendi-sendi penegak hukum setidaknya terkait dengan hal-hal yang mencederai keadilan itu sendiri.Ungkapan tajam kebawah dan tumpul ke atas, sampai menjadi pembicaraan disisi kehidupan warga. Kekecewaan terhadap baik hasil vonis ataupun proses peradilan sangat melukai hati dari pencari keadilan. Ungkapan ada uang maka sangat mudah untuk mengatur para oknum penegak hukum. Dalam rangka memberikan solusi terhadap kekecewaan terhadap mekanisme dan juga praktik-praktik tidak jujur di lingkungan penegak hukum, bangsa Indonesia masih mempunyai warisan adiluhung yang dapat memberikan solusi dibidang peradilan.Sistem peradilan adat yang merupakan jati diri, kepribadian bangsa Indonesia yang menempatkan nilai-nilai keadilan, musyawarah, mufakat, saling menghormati dan tidak terlepas dari keseimbangan antara manusia dengan sesama, keseimbangan hubungan manusia dengan sesama ciptaan Tuhan (Alam Semesta) dan juga mengharmoniskan hubungan manusia dengan Pencipta, telah diwariskan oleh para leluhur bangsa ini, adat tradisi yang begitu luhur dan berbudaya tinggi telah kita pandang sebelah mata, kita justru mengagungkan produ-produk lain yang belum tentu sesuai dengan cultur budaya kita