E-Journal Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang Palangka Raya
Not a member yet
711 research outputs found
Sort by
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENDIDIKAN AGAMA HINDU DALAM MENYIKAPI PELAKSANAAN UJIAN SEKOLAH BERSTANDAR NASIONAL DI SMA NEGERI 2 BANAMA TINGANG KABUPATEN PULANG PISAU
Seiring dengan perkembangan zaman, tingkat pendidikan pada masyarakat mengalami peningkatan. Oleh sebab itu pendidikan pada tingkat menengah atas dipandang penting bagi masyarakat. Pendidikan dengan produknya berupa jasa pendidikan merupakan lembaga yang berfungsi sebagai tempat untuk menyelenggarakan pendidikan atau pengajaran, penelitian dan pengabdian pada masyarakat. Pihak-pihak yang selalu dapat melakukan perubahan menuju kepada kemajuan dapat dipastikan menjadi pemenang dalam sebuah persaingan. Perlunya sikap yang tegas dan serius guna menanggulangi faktor-faktor yang kurang positif serta menghambat kemajuan dunia pendidikan di tingkat menengah atas. Kurikulum merupakan seperangkat rencana dan pengaturan tentang isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan belajar-mengajar di sekolah. Pengertian ini menggaris-bawahi adanya 4 (empat) komponen pokok dalam kurikulum, yaitu tujuan, isi/bahan, organisasi dan strategi. Secara umum, kurikulum 2013 bertujuan untuk mempersiapkan manusia Indonesia agar memiliki kemampuan hidup sebagai pribadi dan warga negara yang beriman, produktif, kreatif, inovatif, dan afektif serta mampu berkontribusi pada kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara, dan peradaban dunia. Pendidikan dalam konteks ini yang dimaksud adalah seperti yang dinyatakan dalam Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003, yakni dengan penekanan sebagai usaha sadar yang terencana dalam mengembangkan potensi anak didik (Depdiknas, 2003:6). Pendidikan agama Hindu mempunyai peran yang sangat strategis dalam pengembangan sistem pendidikan nasional di Indonesia dan peningkatan sumber daya manusia. Oleh karena itu untuk mengetahui mutu pendidikan agama Hindu yang dilaksanakan di sekolah perlu dilakukan evaluasi yang menyeluruh terhadap hasil pembelajaran peserta didik melalui Ujian Sekolah Berstandar Nasiona
PEMANFAATAN MEDIA SOSIAL SEBAGAI MEDIA PENDIDIKAN AGAMA HINDU
Dewasa ini perkembangan teknologi internet telah merambah berbagai disiplin ilmu. Dengan berkembangnya teknologi internet, dunia pendidikan pun makin ramah dengan situs jejaring media sosial facebook, blogger, instagram, hingga twitter. Situs jejaring media sosial tidak hanya digunakan untuk berinteraksi dengan sesama teman. Ada yang memanfaatkannya sebagai media menyampaikan informasi, untuk mempromosikan produk, bahkan hanya sekedar untuk mencurahkan isi hati pengguna, tentunya dapat dimanfaatkan sebagai media pembelajaran yang inovatif. Berkaitan dengan permasalahan saat ini mengenai pemanfaatan media sosial yang tidak terkontrol, sehingga perlunya pemanfaatan media sosial sebagai media pembelajaran pendidikan agama Hindu yang inovatif. Tentunya pemanfaatan media sosial dapat menumbuhkan pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan. Maka sangat penting pemanfaatan media sosial sebagai media pembelajaran pendidikan agama Hindu pada siswa
POLA PENDEKATAN EVALUASI HASIL BELAJAR SISWA DI SEKOLAH
Evaluasi hasil belajar dilakukan untuk memantau proses, relevansi kemajuan belajar siswa dengan tujuan atau standar yang telah ditetapkan, dan perbaikan pengajaran siswa serta kelemahan - kelemahan yang telah dilakukan dalam kegiatan proses belajar mengajar. Menetukan dan menjelaskan apa yang harus dinilai selalu mendapat prioritas dalam proses evaluasi. Efektifitas evaluasi bergantung pada telitinya deskripsi tentang apa yang akan dievaluasi, karena itu agar hasil evaluasi dapat mencerminkan informasi yang akurat tentang hasil belajar siswa dan efektivitas program pengajaran yang telah dilaksanakan, maka diperlukan teknik dan pendekatan analisis evaluasi yang digunakan untuk menentukan keakuratan informasi hasil evaluasi yang telah dilakukan dan merupakan syarat mutlak yang diperlukan untuk menghasilkan keputusan yang tepat dalam memilih alternatif yang terbaik berdasarkan kesesuaian antara hasil yang dicapai dan tujuan yang ingin dicapai.
Pola pendekatan dalam evaluasi harus dipilih sesuai dengan tujuan yang akan dilayaninya dan harus dipertimbangkan apakah teknik evalusi merupakan metode yang paling efektif untuk menetukan apa yang ingin diketahui oleh siswa. Evaluasi yang komprehensif menuntut berbagai teknik evaluasi. Salah satu alasan perlunya berbagai prosedur evaluasi adalah karena setiap jenis hanya menyajikan bukti-bukti yang unik tetapi terbatas tentang perilaku siswa. Untuk mendapatkan gambaran yang komplit tentang pencapaian siswa perlu kombinasi hasil dari berbagai teknik.
Pemakaian pendekatan dalam evaluasi yang sewajarnya menuntut kewaspadaan akan keterbatasannya seperti juga kekuatannya. Semua alat evaluasi selalu mengandung kekurangan tertentu. Pertama, adalah kesalahan sampling, yakni hanya dapat mengukur sampling kecil pada satu waktu. Kesalahan kedua adalah pada alat evaluasi itu sendiri atau proses memakai alat itu. Sumber kesalahan yang lain lahir dari penafsiran yang salah tentang hasil evaluasi, menganggap alat-alat tersebut mengandung presisi yang sebenarnya tidak mereka miliki. Sebaik-sebaiknya alat evaluasi hanya memberikan hasil yang bersifat mendekati saja sehingga harus ditafsirkan secara wajar. Kesadaran atas keterbatasan alat evaluasi memungkinkan penggunaannya lebih efektif, dan kesalahan-kesalahan dalam teknik evaluasi dapat dihilangkan dengan cara hati-hati dalam memilih dan menggunakannya. Evaluasi hanyalah alat mencapai tujuan bukan merupakan tujuan akhir
PROFESIONALISME PUSTAKAWAN DALAM AJARAN HINDU DI ERA PERSAINGAN GLOBAL
The concept of librarian professionalism and personality is a concept that has long been proclaimed and scheduled but, over time, the concept is as if forgotten and not glimpsed. If we may see the librarian is the main gate in providing services in the library. Librarians are also the driving engine (main engine) for the progress of a library.
A librarian is required to be proficient at work, having good human resources (HR) and no less important is sounding good ethics and personality. In addition it must look attractive. A librarian has a good and attractive appearance reflected by his personality and good ethics. To have it all, a librarian must work from the heart, sincerely and sincerely devote himself. Personality and good ethics can not be easily formed but it requires effort and hard work and a sincere desire to achieve it.
In the teachings of Hinduism the professionalism of a work (librarian) is in the books of Manawa Dharmasastra Sloka 100 and 161, the book Bhagawad Gita (Bh. G. XVI. 1) and (Bh. G. XVI. 2) and the book Sarasamuscaya sloka 300 and 302. In essence the above sloka teaches how a human being (librarian) behaves well in carrying out his work such as being honest, polite, not easily angry, gentle, not lying and working hard.Konsep profesionalisme dan kepribadian pustakawan merupakan konsep yang sudah lama dicanangkan dan diagendakan namun, seiring berjalannya waktu konsep tersebut seolah-olah terlupakan dan tidak dilirik. Kalau kita boleh lihat pustakawan merupakan pintu gerbang utama dalam memberikan pelayanan di perpustakaan. Pustakawan juga merupakan mesin penggerak (main engine) bagi kemajuan suatu perpustakaan.
Seorang pustakawan di tuntut untuk cakap dalam bekerja, mempunyai sumber daya manusia (SDM) yang baik dan yang tidak kalah penting adalah mempunyi etika dan kepribadian yang baik. Selain itu harus berpenampilan menarik. Seorang pustakawan mempunyai penampilan yang baik dan menarik tercermin dari kepribadian dan etika yang baik pula. Untuk memiliki itu semua, seorang pustakawan harus bekerja dari hati, tulus dan iklas mengabdikan diri. Kepribadian dan etika yang baik tidak dengan mudah bisa dibentuk tetapi perlu usaha dan kerja keras serta keinginan yang tulus untuk mencapainya.
Di dalam ajaran agama Hindu profesionalisme suatu pekerjaan (pustakawan) terdapat di dalam kitab Manawa Dharmasastra Sloka 100 dan 161, kitab Bhagawad Gita (Bh. G. XVI. 1) dan (Bh. G. XVI. 2) dan kitab Sarasamuscaya sloka 300 dan 302. Intinya sloka-sloka diatas mengajarkan bagaimana seorang manusia (pustakawan) bersikap yang baik dalam menjalankan pekerjaannya seperti bersikap jujur, sopan, tidak gampang marah, lemah lembut, tidak berbohong dan bekerja keras
KOMUNIKASI MASSA DALAM SIARAN RADIO
Storytelling or storytelling has become an oral culture in Indonesian society this oral culture or tradition is a hereditary heritage. The times are getting more advanced and radio is present as a mass media that facilitates the oral culture. Radio is a means of mass media communication or often referred to as mass communication. Radio in broadcasting has broadcasters as the most important position in the success of a program that they make. Fast and direct, familiar with the listener, warm, simple, unlimited, inexpensive, able to repeat and flexible entertainment facilities which are the advantages of radio, while fleeting, global, time-limited, linear, contain disturbances in broadcasting and are local to radio shortages.
Mengenal Mahatma Gandhi Dan Ajarannya
According to Campbell, that human life is the eternal desire of unremitting struggle for power for the sake of power and only stopped when death arrives. Hobbes assumes that the power that is the embryo of conflict. Really, history records that the human journey always coincided with the dispute, up to now, even showing increasing escalation. The middle of this dispute, Mahatma Gandhi was present as a difference that the dispute actually is not inevitable at all. Without pretending that what is delivered Gandhi is the perfect remedy to overcome war, but interestingly Gandhi gives an idea capable of dealing with so many injuries. This article explains about the profile, struggle and teachings of Gandhi
MAKNA UPACĀRA MAPANDES (POTONG GIGI)
Agama Hindu berbagai kegiatan Upacara/ritual yang wajib dilaksanakan umat Hindu dalam segala manifestasinya untuk menuju/ mencapai jalan yang luhur kehadapan Ida Sanghyang Widhi Wasa.Salah satu dari berbagai upacara yaitu : Panca Yadnya yang dilaksanakan umat Hindu adalah Manusa Yadnya yaitu Upacara Mepandes atau Metatah atau Mesangih atau Potong Gigi yang merupakan kegiatan sakral bagi umat Hindu.Upacara Mepandes atau Metatah atau Mesangih atau Potong Gigi ritual ini sudah dilaksanakan sejak dahulu kala dan terus berkembang sampai saat ini.
Mepandes (potong gigi),merupakan ritual keagamaan yang harus dilaksanakan oleh semua umat Hindu, khususnya bagi umat Hindu yang telah menginjak masa remaja. Dalam ajaran ini terkandung nilai-nilai pendidikan budhi pekerti yang sedang dibutuhkan pada masa remaja sebagai sarana dalam pembentukan kepribadian anak yang merupakan kelanjutan dari pembentukan di masa bayi dalam kandungan, dengan harapan lahirnya anak yang suputra (anak yang baik). Oleh karena itu, sifat-sifat keraksasaan tersebut perlu dinetralisir dan dikendalikan, agar nantinya dapat tercapainya tujuan dharma. Dari pelaksanaan ini diharapkan sifat-sifat keraksasaan tersebut dapat berubah menjadi sifat-sifat kebaikan. Selain itu, melalui upacara Mepandes atau Metatah atau Mesangih atau mepandes atau potong gigi, seorang anak telah dilahirkan kedua kali, dan dikatakan kelahiran yang sesungguhnya menjadi anak suputra. Anak yang suputra akan mampu melebur dosa-dosa ke sepuluh tingkat leluhurnya dan akan kembali ke hadapan pencipta, Tuhan Hyang Maha Es
DESA PAKRAMAN : WADAH PEMBELAJARAN MASYARAKAT
Pakraman Village is a community that is socially and religiously bound and still takes the form of traditional village ties. Pakraman village is bound or based on the teachings of Hinduism, namely Tri Hita Karana which consists of temples worshiped by villagers of Pakraman (parhyangan), village land (palemahan), and villagers (pawongan). The Pakraman village in Bali ties its people together with the aim of uniting Hindu communities in Bali. This togetherness is not only due to the similarity in the area of residence and shared interests in the community, but also occurs because of the shared belief in worshiping Ida Sang Hyang Widhi Wasa, so that one of the identities of a Pakraman village is the existence of kahyangan tiga temples in each Pakraman village in Bali.
As a community that is built on family ties and shared responsibility, Pakraman Village is a place for learning for the community, both in terms of communicating, socializing and interacting with each other. Therefore, the existence of Pakraman Village can be likened to a "school" for the people who are members of it. Knowledge gained through the learning process through the existence of the Pakraman village is expected to form community members who are aware of its existence as part of a social system that is responsible for the peace and harmony of the community for the realization of shared interests. Considering the existence of the pakraman village as a customary law community unit imbued with Hindu teachings and cultural values that live in Bali, and has a very large role in the religious and socio-cultural fields, so the existence of the pakraman village needs to be protected, preserved and empowered so that still exists and its existence is not eroded by the very individual current of modern life
PENDIDIKAN KARAKTER HINDU
Tujuan pembangunan di Indonesia untuk mewujudkan manusia Indonesia seutuhnya mengandung makna bahwa kepribadian manusia yang utuh dan integral meliputi berbagai dimensi individu, sosial, ketuhanan dan kesusilaan, yang dikaitkan dengan pendidikan terutama pendidikan formal, yang manusia-manusianya diharapkan memiliki kecerdasan intlektual, juga memiliki keserdasan spiritual, emosional, sosial dan berkarakter mulia. Pendidikan karakter tentu saja, bukan hanya tanggung jawab sekolah, pendidikan karakter merupakan tanggung jawab bersama yang menyentuh nilai dan kehidupan para anak muda, berawal dengan keluarga dan meluas dengan komunitas sradha, organisasi pemuda, bisnis, pemerintahan, dan bahkan pada media (Licona, 2012:4). Isi dari pendidikan karakter yang baik adalah kebaikan-kebaikan seperti kejujuran, keberanian, keadilan, dan kasih sayang. Adalah disposisi untuk berprilaku secara bermoral (Atmaja,2017:1). Pendidikan karaker sangat penting diberikan kepada peserta didik diberbagai jenjang pendidikan formal. Dalam pelaksanaanya pendidikan karakter dapat diberikan bersinergi dengan mata pelajaran tertentu atau diberikan berdiri sendiri, sebagai sebuah mata pelajaran. Pendidikan sebagai proses memanusiakan manusia menjadi wahana yang tepat dan strategis untuk menumbuhkembangkan nilai-nilai kemanusiaan sehingga terbentuknya manusia seutuhnya, sehingga memiliki perkembangan pribadi yang seimbang, selaras, dan harmonis, pada dimensi-dimensi kemanusiaan.Pendidikan karakter dalam pendidikan agama Hindu akan menghasilkan orang-orang yang jujur, bukan karena tidak ada kesempatan untuk korupsi atau karena ada hukum yang mengancam, melainkan karena hidup jujur adalah pilihan sadar mereka.Dalam Kitab Sarasamuscaya sloka 177 disebutkan tujuan mempelajari pustaka suci Weda adalah untuk mendapatkan ilmu pengetahuan untuk memperbaiki prilaku dan dan kebiasaan hidup. Jujur kita akui selaku umat manusia semuanya selain memiliki beberapa kelebihan, juga dari berbagai kekurangan, dan kekurangan kerap kali menjadi salah satu faktor munculnya prilaku yang bertentangan dengan nilai-nilai etika (tata susila). Ajaran Tri Kaya Parisudha sebagai salah satu aspek untuk menyelaraskan berpikir yang benar, berbuat yang benar dan berkata yang benar guna mewujudkan pribadi yang santun, cerdas, dan berkarakter mulia berdasarkan dharm
MODEL PEMBELAJARAN HINDU DALAM ADI PARWA
Model Pembelajaran Hindu di Adiparwa, berisi kombinasi model-model Pembelajaran Modern, dikombinasikan dengan aliran Ceritra di Adiparwa. Ada empat model pembelajaran, yaitu 1). Logika teoritis rasional. 2) .Rasional 3). Perilaku 4). Lingkungan belajar. Model pembelajaran ini dipadukan dengan makna Learning in Adiparwa, ceritanya adalah Bhagawan Domya, Bhagawan Drona dan cerita yang terkait dengan model pembelajaran