E-Journal Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang Palangka Raya
Not a member yet
711 research outputs found
Sort by
Implementasi Ajaran Catur Marga Yoga dalam Kehidupan Masyarakat Hindu
Catur Marga are the four ways or manners of the members of a religious community of Hindu for honor and go in the direction of way the God or Ida Sang Hyang Widhi Wasa. The source of teaching Catur Marga are teach in purified literature Bhagawadgita, the main of Trayodhyaya about Karma Marga Yoga, that is one system which content the teaching that the different of teach Subha Karma (good action) with the teach of Asubha Karma (not good action). Karma has two kinds of meaning, that are related to ritual or yajna and karma in meaning action. The second about Bhakti Yoga Marga that is to respectful greeting of God in bring into reality of abstract and resfectful greeting of God in contrete. For example we use nyasa or pratima have the shape statue or mantra. The third about Jnana Marga Yoga that is the way of purified knowledge to go in direction of God. There are two kinds of knowledge. They are jnana (knowledge) and wijnana (everything is know in the knowledge). And the fourth, Raja Marga Yoga that is teach about manner or way of Yoga or medition (th mind concentration) to go in the direction of the God or Ida Sang Hyang Widhi Wasa
KOMPETENSI PUSTAKAWAN DALAM MANAJEMEN PENGETAHUAN
Abstrak
Manajemen pengetahuan mencakup belajar yang efektif untuk mengelola pengetahuan baik sebagai objek maupun sebagai proses. Pembelajaran ini mengharuskan para manajemen untuk mengembangkan pemahaman umum tentang apa pengetahuan, serta apa metode yang efesien dan sistematis untuk mengelola pengetahuan tersebut dalam organisasi.
Tulisan ini menggali fenomena manajemen pengetahuan yang telah lama berkembang yang sangat bersentuhan dengan informasi dan pengetahuann dewasa ini. Pustakawan sebagai subyek pemberdaya pengetahuan (knowledge enabler) diharapkan mampu mengembangkan konsep manajemen pengetahuan. Sesuai latar belakang penulis seorang pustakawan (librarian) maka konsep manajemen yang di bahas dalam tulisan ini diarahkan pada peran pustakawan fungsional yang berada dalam lingkungan manajemen organisasi perpustakaan.
Pustakawan seharusnya berupaya mengidentifikasi pengetahuan dan mengembangkan sistem yang diperlukan untuk menangani dan mengelola pengetahuan. Untuk mencapai upaya tersebut maka, pustakawan tetap harus memprakarsai dan menumbuhkan serta mengembangkan sistem agar pengetahuan bisa di implementasikan.
Solusi yang harus dipenuhi oleh pustakawan dalam memberdayakan pengetahuan antara lain : pustakawan harus dapat meningkatkan kemampuan dalam teknologi informasi yang memadai, mengembangkan komunikasi ilmiah bagi sesama pustakawan, menumbuhkan jiwa kewirahusahaan dan bisnis, dan pustakawan diharapkan mampu meningkatkan kompetensi, manajerial dan kepemimpinan berbasis informasi.
Kata Kunci: Pustakawan, Manajemen, Pengetahuan
 
Manajemen Literasi Informasi
Abstrak
Literasi informasi merupakan serangkaian kemampuan dan pengetahuan yang diperlukan seseorang untuk mengetahui kapan informasi tersebut diperlukan, serta kemampuan seseorang untuk mencari, menggunakan, mengevaluasi dan memanfaatkan serta mengkomunikasikannya secara efektif. Secara umum literasi informasi dapat diartikan sebagai melek pengetahuan atau keberaksaraan informasi .
Tujuan literasi informasi adalah untuk mempersiapkan individu agar mampu melakukan pembelajaran seumur hidup,. meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berfikir kritis. Tujuan lainnya yaitu meningkatkan kemampuan masyarakat untuk mengevaluasi informasi ditengah ledakan informasi yang lebih efesien, efektif, relevan, etis, legal dan terhindar dari plagiatisme.
Tulisan ini membahas kegiatan literasi informasi yang merupakan program perpustakaan dalam tugasnya sebagai salah satu organisasi pengelola informasi. Pustakawan sebagai fasilitator informasi di perpustakaan diharapkan menjadi manajemen literasi informasi dengan memiliki keahlian yaitu : manajemen informasi (information management skill), mampu mengelola dan menggunakan informasi, menciptakan dan membuat informasi, organisasi informasi dan menyebarkan informasi..
Kata Kunci: Pustakawan, Manajemen, Literasi Informasi
 
HARI RAYA MOMENTUM MEMULAI KEHIDUPAN BARU
ABTRAKSI
Setiap melakukan persembahyangan diawali dengan tangan kosong, dan diakhiri pula dengan tangan kosong pula. Bila hendak belajar untuk meningkatkan prestasi yang lebih baik berdasarkan hasil penelitian, harus di awali dengan pikiran yang kosong. Itulah sebabnya anak-anak pelajar dimasa lalu saat akan menghapi ujian mereka belajar lakukan tengah malam, begitu juga belajar ilmu kebatinan, ilmu hitam ilmu putih, karena pada jam-jam tersebut di kategorikan pikiran manusia masih murni dan belum di selimuti oleh hal-hal yang lainnya yang menyebabkan pikiran tertanggu, sehingga apa yang dibaca cepat terserap.
Mesin-mesin bila hendak meningkatkan produksinya dengan baik, mesin itu harus diistirahatkan paling tidak 1-2 jam. Bila hendak membangun sebuah rumah, kantor, gedung, atau bangunan-bangunan lainya, rumput-rumput dan pohon-pohon di tempat itu harus di bersihkan, sehingga tanah itu menjadi kosong.
Dalam Kitab Nitisastra ditegaskan dari kekesongan inilah lahir awal penciptaan. Dari kosong inilah lahir rwa bhineda (dualitas). Karena itu hari Raya tiada lain adalah sebagai awal memulai kehidupan/awal memulai kehidupan baru, awal kebangkitan dan sumber kekuatan dalam arti luas.
Kata Kunci: Hari Raya mementom memulai kehidupan Bar
URGENSI KETERWAKILAN DAERAH DALAM KOMPOSISI KABINET
Regional representation in the composition of the cabinet has not become an important part in the state administration tradition in Indonesia. Whereas regional representation is part of the way to bring together the values of unity and integrity in the Unitary State of the Republic of Indonesia. The president's authority to appoint and dismiss ministers is a prerogative right granted by the 1945 Constitution to a president. With the condition of Indonesia which has a multi-party party system, the president's consideration is often in determining cabinet officials with only two considerations, namely political considerations and professional considerations or often called zaken cabinet. Meanwhile, the aspect of regional representation is not an important part in the president's consideration.
This study wants to answer the urgency of regional representation in the composition of the cabinet and how the design of ministerial recruitment that represents cabinet representation. The results of this study indicate that regional representation in the composition of the cabinet is very important in terms of the aspect of orginal intent in the formulation of the 1945 Constitution. In addition, aspects that should be consideredKeterwakilan daerah dalam komposisi kabinet belum menjadi bagian penting dalam tradisi ketatanegaraan yang ada di Indonesia. Padahal keterwakilan daerah merupakan bagian dari cara merekatkan nilai-nilai persatuan dan kesatuan di Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kewenangan presiden untuk mengangkat dan memberhentikan menteri merupakan hak prerogratif yang diberikan oleh UUD 1945 kepada seorang presiden. Dengan kondisi Indonesia yang sistem kepartaiannya multi partai, sering kali pertimbangan presiden dalam menentukan pejabat kabinet dengan dua pertimbangan saja, yaitu pertimbangan secara politik dan pertimbangan secara profesionalisme atau sering disebut dengan zaken kabinet. Sementara, aspek keterwakilan daerah tidak menjadi bagian penting dalam pertimbangan presiden.
Penelitian ini hendak menjawab bagaiman urgensi keterwakilan daerah dalam komposisi kabinet dan bagaimana desain rektrutmen menteri yang merepresentasikan keterwakilan kabinet. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa keterwakilan daerah dalam komposisi kabinet sangatlah penting ditinjau dari aspek orginal intent perumusan UUD 1945. Selain itu, aspek yang patut dipertimbangkan presiden lainnya adalah aspek integritas dan profesionalisme
Makna Solidaritas Sosial Dalam pelaksanaan Yadnya
Weda mengajarkan bahwa Tuhan menciptakan alam semesta ini berdasarkan yadnya, dengan demikian yadnya menjadi sebuah jalan pula untuk menghubungkan diri antara manusia dengan Tuhan. Yadnya tidak hanya dilaksanakan dengan upacara atau ritual saja, namun segala sesuatu yang bersifat tulus ikhlas dalam perbuatan yang positif adalah bentuk dari yadnya. Persembahan yang didasari dengan hati yang suci dan cinta kasih adalah persembahan yang diterima oleh Tuhan meskipun sifatnya sangat minim atau sederhana. Solidaritas masyarakat dalam pelaksanaan yadnya terlihat ketika secara wajib masyarakat mesti ada baik dalam persiapan dan pelaksanaan yadnya. Pelaksanaan yadnya memberikan banyak makna kebersamaan. Masyarakat saling membantu menyelesaikan pekerjaan satu sama yang lain. Solidaritas sosial masyarakat terlihat juga pada saat berlangsungnya persembahyangan karena ketika memuja Tuhan setiap manusia memiliki kedudukan yang sama di hadapan Tuhan
IMPLEMENTASI NILAI KEHARIFAN LOKAL (HUMA BETANG) DALAM INTERAKSI SOSIAL MASYARAKAT DAYAK DI KOTA PALANGKA RAYA
Maraknya pengaruh radikalisme melalui berbagai media digital di tengah-tengah masyarakat yang cendrung memicu terjadinya konflik, serta memecah belah persatuan bangsa dangan mendikotomi masyarakat menjadi kelompok-kelompok dengan ideology yang mereka yakini. Hai ini kalau dibiarkan tentu akan merusak sendi-sendi kehidupan bangsa yang telah mapan. Terkait hal ini pemerintah dewasa ini mewacanakan keharipan local (local genius) yang mengacu kepada masing-masing adat budaya sebagai pedoman dan acuan dalam menjaga persatuan dan kesatuan bangsa. Dengan demikian Indonesia sebagai negara multikultur akan semakin kuat dalam menghadapi gempuran radikalisme yang sengaja di hembuskan oleh segelintir orang. Salah satu keharipan local (local genius) tersebut adalah keharifan lokal Dayak yaitu filosofi huma betang. Untuk itu tujuan penulisan karya ilmiah ini adalah mengetahui nilai-nilai keharifan lokal pada Filosofi Huma Betang dan implementasinya dalam Interaksi Sosial Masyarakat Dayak Di Kota Palangka Raya. Karya ilmiah ini di sajikan dalam bentuk kualitatif dengan data diperoleh melalui studi dokumen atau literature berupa karya ilmiah seperti jurnal, laporan hasil penelitian, skripsi, tesis, dan disertasi. Dari hasil analisis data yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa nilai moralitas pada filosofi huma betang yang masih dipedomi oleh masyarakat Dayak di Kota Palangka Raya adalah nilai kebersamaan, gotong royong (handep), belom bahadat(etika), dan musyawarah mufakat (hafakat basarah). Nilai-nilai moralitas ini terimplementasikan dalam hukum adat Dayak yang dijadikan acuan dalam berprilaku sehari-hari
Menelaah Pembagian Profesi Catur Warna ditinjau dari Implementasi Ajaran Catur Asrama
Social change is bound to happen and this continues as long as there is life on this earth. Increasing the individual's social status in society occurs in accordance with the profession occupied, change and increase one's position is absolutely there. How is the social status of an individual seen from the teachings of boarding chess. The problematic of life is quite diverse and complex, requiring individuals to live governed by the rules, norms and rules that exist in that society and none of them may deny it. Caste is the profession of a person in society who forms themselves in groups, natural arrangements. Color / caste depicts the characteristic spirit which is synthesis in Hindu mind with belief towards collaboration from race and cooperation from culture, caste system is the result of tolerance and belief. On the other hand racial color / caste is the emphasis of definite differences in human groups that cannot possibly be erased or destroyed by social change. This teaching determines whether an individual is respectable or not in his position in a homogeneous and multicultural society based on values and norms as a rule of life. Transition of individual social status is adjusted to the profession occupied in society, both based on knowledge, appreciation in the form of honor and power. Changes in the profession can occur because of science, maturation of a household, self-introspection and leaving all positions in this world to more complex stages. Boarding Chess gives direction to the position of individuals in societ
UPACARA NAMPAH BATU DI DESA DEPEHA KECAMATAN KUBUTAMBAHAN BULELENG BALI (Perspektif Makna Teologis)
Nampah Batu ceremony is one of unique traditions which is held in Depeha Village, Kubutambahan District. Depeha villagers believe if this series of Nampah Batu ceremony is not held by the villagers, they will get deficiency of clothing and food, and for villager which is got married recently (desa anyar) and they do not join into Nampah Batu ceremony, they will not grace to go through their Grahasta Asram Life. This study involves the series of Nampah Batu ceremony from perspective of theological meaning. Based on the resultof this study, Nampah Batu’s ritual contains lots of values such as ethics, moral, and politeness. All of those values are local wisdom of Depeha Villagers.
Traditional Village or Desa Adat in Bali is customary law of society unity that has tradition and ethics unity of Hindu society’s life from generation to other generations in Kahyangan Tiga’s bond. Nampah Batu ceremony is one of the unique traditions held in Depeha Village, Kubutambahan District. People in Depeha Village are convinced that if the series of Nampah Batu ceremony is not implemented then the people will experience shortage of clothing and food, and for the newly married society (village Anyar) do not participate in the procession of Nampah Batu ceremony, it will not get amerta in life Grahasta Ashram. In this study covers the procession of the ceremonial operation of the stone amp from the perspective of theological meaning. Based on the results of the study, the Nampah Batu ritual contains various mandates of moral, ethical, moral, courtesy that is the local wisdom of Depeha villagers
KONSEP TEOLOGI FEMINISME NYAI ENDAS BULAU LISAN TINGANG
Feminism is the advocacy of women’s rights on the basis of the equality of sexes. Known as the women’s movement. Feminist movements have campaigned and continue to campaign for women rights, including the right to vote, to hold public office, to work, to receive education, etc. It is need participation together to success it. Hindu Kaharingan as the religion of Dayaks has the Panaturan text that contains view of life, law, and also theological view in. The Panaturan as view of life contains the percept of Dayaks community in their society. In connection with feminism, the Panaturan has the Feminism concept of Nyai Endas Bulau Lisan Tingang on chapter 30. That thought couldhelp construct and enrich the feminism and feminist movement to success their purpose