E-Journal Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang Palangka Raya
Not a member yet
711 research outputs found
Sort by
MEMBINA KELUARGA MELALUI KONSEP CATUR PURUSA ARTHA
Family education families through the concept of the Vedic holy teachings family education families through the concept of Catur purusa artha. The benefit or benefit of this research is that it can be achieved by describing how to nurture the family through the concept of the Holy Vedic teachings to foster the family through the concept of the Catur Purusa Artha. Family education a family through the Catur Purusa Artha concept, as follows: 1. Family education a family with the Concept of Dharma, Dharma is a compass for people who are heading towards heaven. By holding on to the dharma, every human being wants to have a family to live in God's happiness. Outwardly a father should think, holy and noble. 2. Family education a family with artha which means artha, that is a wife because: The wife is the treasure of many years that we are looking for. The wife is a gift from Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Wife is our partner undergoing Karma. The wife is the palace where we take shelter. Wife is a friend, best friend, girlfriend, wife, brother in our lives. 3. Family education a family with the Kama Concept Kama is a very important part of family education a family, kama is a medium for continuing life, kama is also a tool to encourage everyone to change and compete for a more decent life. 4. Foster a family with the Moksa Concept. To get freedom of soul (atman) then in family education the family of Chess Citizens, so that they enter the Wanapraste era, faster, by pursuing Tapa Brata, and increasing our Sradha and Bhakti to Brahman.Membina keluarga melalui konsep ajaran suci veda membina keluarga lewat konsep catur purusa artha. Paedah atau manfaat penelitian ini adalah dapat dicapai dengan mendiskrefsikan cara membina keluarga melalui konsep ajaran Suci Veda membina keluarga lewat konsep Catur Purusa Artha. Membina keluarga melalui konsep Catur Purusa Artha, sebagai berikut: 1. Membina keluarga dengan Konsep Dharma, Dharma merupakan kompas bagi orang-orang yang menuju arah surga. Dengan berpegang pada dharma setiap manusia ingin berkeluarga hidup dalam kebahagian Tuhan. Secara lahiriah seorang ayah mestinya berpikir, suci dan mulia. 2. Membina keluarga dengan artha yang maksudkan artha yaitu seorang istri karena : Istri adalah harta bertahun-tahun yang kita cari. Istri adalah Anugrah dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Istri adalah Pasangan kita menjalani Karma. Istri adalah Istana tempat kita berteduh. Istri adalah teman, sahabat,pacar, istri,kakak dalam kehidupan kita. 3. Membina keluarga dengan Konsep Kama Kama bagian sangat penting dalam membina keluarga, kama menjadi media untuk melanjutkan tatah kehidupan, kama juga menjadi alat untuk menyemati setiap orang untuk berubah dan bersaing demi kehidupan yang lebih layak. 4. Membina keluarga dengan Konsep Moksa. Untuk memndapatkan kebebasan jiwa (atman) maka dalam membina keluarga tempuh Catur Warga, sehngga memasuki masa Wanapraste, lebih cepat, dengan menekuni Tapa Brata, serta meningkatkan Sradha dan Bhakti kita kepada Brahman
MANAJEMEN KOMUNIKASI MEDIA PEMBELAJARAN ERA DIGITAL
Abstraksi
Manajemen komunikasi adalah proses pengelolaan sumber daya komunikasi yang ditujukan untuk meningkatkan kualitas dan efektivitas pertukaran pesan yang terjadi dalam berbagai konteks komunikasi. Konteks komunikasi yang dimaksud disini berarti tataran komunikasi individual, interpersonal, organisasional, governmental, sosial, atau bahkan internasional. Dampak positif media pembelajaran era digital sebagai efisiensi manajemen komunikasi kemajuan teknologi, menyediakan banyak permainan-permainan kreatif dan menantang yang ternyata banyak disukai oleh anak-anak. Kehadiran teknologi digital memang banyak memberikan manfaat serta dapat mengefisienkan manajemen komunikasi karena pekerjaan bisa dilakukan dengan mudah dan informasi menjadi lebih cepat diakses dengan internet. Akan tetapi dibalik itu semua, ada sejuta ancaman yang mengintai, khususnya pada generasi 4.0 Mereka sampai rela menghabiskan sebagian besar waktunya bersama gadget dibandingkan dengan bermain di lingkungannya. Sungguh sebuah kenyataan yang memilukan, gadget telah menjadi kehidupan baru untuk mereka. Dampak negatif dan efek samping dari pemakaian teknologi digital dapat berupa menurunnya prestasi belajar karena penggunaan yang berlebihan, membatasi aktivitas fisik yang dibutuhkan untuk tumbuh kembang anak, perkembangan keterampilan sosial dan bahasa anak yang terhambat karena sudah dikenalkan dengan gadget dini (terutama usia di bawah 2 tahun), perkembangan otak tidak maksimal karena stimulasi perkembangan tidak seimbang, masalah kesehatan mata (seharusnya screen time dibatasi maksimal 2 jam per hari), masalah konsentrasi (sebentar-bentar melihat dan mengecek gadget), masalah tidur, jumlah waktu tidur, dan kualitas tidur yang kurang (akibat isi dari tontonan), tidak ada privacy, memungkinkan pengambilan data pribadi, predator anak, cyber bullying, dan lainnya, masalah pornografi, kekerasan, atau penanaman nilai negatif.
Kata Kunci : Manajemen komunikasi, Media pembelajaran dan Era digital
FILOSOFI DALAM AKSIOMA MULTIKULTURAL MASYARAKAT HINDU BALI
Keberagaman budaya Indonesia berimplikasi pada keragaman pola tatanan hidup bermasyarakat. Masyarakat Bali khususnya memiliki keanekaragaman culture baik dari segi agama, dresta, pola hidup yang hampir berbeda di setiap daerah. Keberagaman tersebut menjadikan mereka memiliki karakter multikulturalisme kental bersifat aksioma mencakup kepercayaan, gagasan, cara pandang, kebijakan, penyikapan dan tindakan masyarakat yang majemuk dari segi etnis, budaya, agama dan sebagainya, namun mempunyai cita-cita untuk mengembangkan semangat kekerabatan yang sama dan mempunyai kebanggan untuk mempertahankan kemajemukan tersebut. Kajian filosofis dalam konteks aksioma multikultural pada masyarakat bali ini memberikan perspektif baru dalam menelaah sebuah keberagaman sosial dan pola kehidupan yang berbeda disetiap daerah di bali, menjadikan masyarakat bali yang madani dalam sistem sosial kemasyarakatan yang utuh
Tradisi Wanaprasta dan Sanyasin di Pasraman Seruling Dewata Kabupaten Tabanan Provinsi Bali
Pada dasarnya upacara agama mencakup dua hal yaitu konsepsi dan budaya . Tinjauan agama yang mencakup konsepsi, bermakna bahwa suatu penerapan tattwa agama merupakan suatu ajaran konseptual yang patut dijadikan pegangan, sedangkan budaya muncul dari ketentuan-ketentuan yang telah melembaga dan berlangsung secara terus-menerus, yang dijadikan sebagai penerapan dalam kehidupan yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang ada. Hindu mengharuskan umatnya agar senantiasa berpegangan kepada kesucian diri. rumusan masalah sebagai berikut : 1. Bagaimanabentuk tradisi wanaprasta dan sanyasin di Pasraman Seruling Dewata Kabupaten Tabanan Provinsi Bali? 2. Bagaimana fungsi tradisiwanaprasta dan sanyasin di Pasraman Seruling Dewata Kabupaten Tabanan Provinsi Bali? 3. Bagaimana makna tradisi wanaprastadan sanyasin di Pasraman Seruling Dewata Kabupaten Tabanan Provinsi Bali?.
Makna melaksanakan kegiatan wanaprasta adalah berlatih untuk mati, dengan cara menyibukkan dirinya dengan kegiatan rohani berusaha untuk melepaskan kegiatan keduniawian. Sedangkan makna dari sanyasin adalah menghabiskan seluruh hidupnya untuk memuja Tuhan, dengan melaksanakan pujadan tapa brata setiap hari kemudian memberikan seluruh harta bendanya kepada keluarga dan menjalani hidup prihatin dengan meminta-minta.
Saran : 1.Ajaran ini sebaiknya dilestarikan karena ajaran yang sangat langka dan mampu membimbing umat Hindu untuk mencapai moksa, 2.Hendaknya masyarakat antusias untuk mempelajari ajaran wanaprasta dan sanyasin di Perguruan Seruling Dewata
UKURAN BERAGAMA DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI
Abstrak
Kita dikenal sebagai bangsa yang religius, bangsa yang ramah, bangsa yang teleran, bangsa yang taat tentang ajaran agamanya dan bangsa yang santun, terbukti dengan mudahnya suku-suku lain untuk tinggal dan menetap mencari penghidupan dan saling bekerja sama tanpa membeda-bedakan etnis, adat dan Agama. Mereka saling tolong menolong dan bergotong royong, segala permasalahan bisa diselasaikan dengan musyawarah mufakat dimasyarakat, namun belakangan ini, apalagi dibarangi dengan adanya pikada, pilpres dan memilih wakil-wakil kita keadaannya justru berbanding terbalik walaupun bukan seratus persen faktanya ada kita saksikan.
Berkaitan dengan itu ukuran beragama dalam hidup kita sehari-hari bukan, rajinnya orang sembahyang, namun keteladanan yang menjadi ukurannya. Nilai-nilai yang selama ini dijunjung oleh bangsa Indonesia dan menjadi dasar pijakan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Namun belakangan ketenangan, ketentraman, kedamaian sudah mulai terusik. Masyarakat menjadi begitu kasar dalam menyelesaikan suatu permasalahan, tak cukup dengan perang mulut saja, tetapi juga dengan kekerasan.Yang menjadi pertanyaan sekarang, apakah ini bisa dijadikan ukuran kegagalan/keberhasilan beragama dalam kehidupan sehari-hari. Keberhasilan beragama dalam kehidupan sehari-hari adalah keteladanan bagi seseorang yang diberikan amanah dalam tata kelola kehidupan beragama.
Kata Kunci: Ukuran Keberhasilan Beragama dalam Kehidupan sehari-hari.
 
PENGARUH HUKUM PIDANA INTERNASIONAL TERHADAP HUKUM PIDANA NASIONAL
The relationship between international criminal law and national criminal law is a complementary relationship. His relationship can be seen from the many international legal conventions which are also part of international criminal law adopted in national criminal law.Hubungan antara hukum pidana internasional dengan hukum pidana nasional adalah hubungan yang bersifat komplementer. Hubungan tersebut dapat terlihat dari banyaknya konvensi-konvensi hukum internasional yang juga bagian dari hukum pidana internasional yang diadopsi di dalam hukum pidana nasional
PENDIDIKAN DAN NILAI NILAI MORALITAS DALAM AJARAN MAHABHARATA BAGI UMAT HINDU
Kitab Itihasa digambarkan sebagai “Itihasa mahapunyap” Itihasa mengandung nilai-nilai kebajikan yang utama (Adiparva, 112:16) dan sering juga disebut “punyap kathah” (cerita penuh kebajikan). Di dalam beberapa Itihasa yang umumnya mengutib kitab Mahbharata dapat ditemukan formulasi “atrapy udaharantimam Itihasa puratamam” sekarang mulai dengar cerita tentang Itihasa kuno. Cerita tentang Itihasa banyak mengandung unsur-unsur pendidikan dan hal ini sangat dominan di dalamnya. Jalinan sejarahnya seakan akan tidak nampak. Demikian dapat dijumpai dalam Mahabharata XII.391.14 “Sungguh tidak diragukan lagi, Itihasa disebut juga Viracerita atas Epos memuat berbagai aspek pemikiran keagamaan yang pada dasarnya tidak dapat dilepaskan dari bangsa Aria, baik berkaitan denga sejarah politiknya, sejarah keagamaan, maupun sejarah perkembangan ide-ide filsapat di India dan merupakan mata rantai yang tidak pernah putus dengan masa lampau, masa yang mendahuluinya, sering terjadi adanya masukan yang baru ke dalam yang lama, sehingga timbulah “Liberalisme konsevatf” dan hal ini yang mendorong tercapainya hasil hasil yang gemilang di lapangan kebudayaan dan peradaban India (Radharishnan, 1989:43).
Ramayana karya Maharsi Valmiki disebut Mahakavia yang artinya karya puisi yang besar (agung) yang memenuhi persyaratan sebuah naskah dalam bentuk puisi. Seperti telah umum diketahui bahwa Itihasa terdiri dari dua Epos besar (viracerita) yaitu Ramayana dan Mahabharata. Itihasa juga termasuk kitab Purana dinyatakan sebagai jantung hati, atau nurani dari ajaran Agama Hindu (Klostermaier, 1990:74), yang menunjukan kepada kita bahwa sumber ajaran Agama Hindu disamping tentunya Veda sebagai Wahyu Fuhan Yang Maha Esa adalah kitab Itihasa dan juga purana dalam kedua jenis kitab tersebut kita mendapatkan contoh pengamalan implementasi ajaran Agama Hindu untuk kehidupan sehari-hari. Lebih jauh kajian ini diharapkan bermanfaat bagi perkembangan kebudayaan nasional, khususnya pengembangan pendidikan nasional dalam rangka memperkokoh jati diri (identitas), citra bangsa dan memupuk serta meningkatkan patritisme dan nasionalisme untuk mencegah disetigrasi nasional yang gejalanya mulai nampak di Indonesia
UPACARA MAMAPAS LEWU PADA MASYARAKAT HINDU KAHARINGAN DI DESA PETAK BAHANDANG KECAMATAN TASIK PAYAWAN KABUPATEN KATINGAN
Upacara Mamapas Lewu akibat perzinahan adalah merupakan bagian dari sikap dan tingkah laku baik dalam pelaksanaan upacara menetralisirkan segala hal-hal yang tidak baik, malapetaka, marabahaya bagi kehidupan manusia serta memohon berkat perlindungan dan anugrah dari Ranying Hatalla Langit (Tuhan Yang Maha Esa) agar dalam kehidupan keluarga maupun masyarakat desa mendapatkan kesejahteraan, kedamaian dan keselamatan yang melibatkan masyarakat sekitarnya. Kegiatan tersebut merupakan sesuatu yang selalu dilakukan oleh masyarakat Hindu Kaharingan bahkan masyarakat secara umum juga meyakini ajaran tersebut, karena ingin mendapatkan keselamatan. Dengan dilakukan upacara Mamapas Lewu akibat perzinahan sebagai salah satu upacara untuk menetralisir atau menghapuskan segala hal peristiwa yang terjadi pada kehidupan manusia yang didasari dengan simbol, mitos dan ritus.
Tatacara upacara mamapas lewu akibat perzinahan adalah diawali dengan mempersiapkan sarana dan prasarana upacara, setelah beberapa sarana tersebut telah dipersiapkan, maka seluruh keluarga dan masyarakat yang melaksanakan upacara tersebut bersama-sama mendirikan Pasah Pali tersebut di Pinggir Sungai. Hal itu dilakukan secara bergotong royong (habaring hurung) bersama masyarakat sekitarnya. Setelah itu baru upacara mamapas lewu akibat perzinahan dilaksanakan mulai dari pisor melaksanakan duduk menawur (Hataburan Bulau Urai) menuju Ganan Pali dengan mempersembahkan sesajen agar tidak mengganggu lagi. Fungsi upacara mamapas lewu akibat perzinahan adalah mempunyai fungsi yang bertujuan untuk menciptakan keseimbangan, keharmonisan dan keselamatan dunia. Makna upacara mamapas lewu akibat perzinahan pada hakikatnya adalah sebagai perwujudan simbol-simbol ketuhanan yang mempunyai makna yang tinggi dalam hal manusia memuja kebesaran Tuhan beserta semua manifestasinya, karena segala yang akan terjadi di karenakan atas kehendak Ranying Hatalla (Tuhan Yang Maha Esa). Makna tersebut dapat ditinjau dari makna sasajen dan ritualnya
PARA WIDYA VS APARA WIDYA DALAM VEDA
Science is the science that helps live a good life in helping everyday life and helps in spiritual life which will lead us to surrender to God. Science that helps in everyday life is the science that guides in carrying out life in the fields of mathematics, biology, chemistry and so on. Meanwhile, spiritual knowledge leads to return to one God. Science must be studied together, both general knowledge and spiritual knowledge, each of which is obtained collectively. It aids in living life and helps us see both in truth and in evil or darkness. In this study, using the literature study method by looking at the verses from the Vedic scriptures and trying to see the knowledge of the Widya and also Apara Widya in the Vedas used in everyday life. Then compare the virtues of giving priority to living life. The results of this study are to see how the roles of Widya and Apara Widya in life. And how Apara Widya and Para Widya provide a balance of knowledge for ourselves
KONVERSI AGAMA DARI AGAMA HINDU KAHARINGAN KE AGAMA KRISTEN DI DESA SAKAKAJANG KEC. JABIREN RAYA KABUPATEN PULANG PISAU
Konversi agama adalah berpindahnya atau berubahnya keyakinan/ agama dari keyakinan/ agama yang sebelumnya dianut menuju keyakianan/ agama baru yang dianutnya. konversi agama yang dimaksud dalam penelitian ini adalah konversi agama dari Hindu Kaharingan ke agama Kristen pada masyarakat Hindu Kaharingan di desa Sakakajanga kecamatan Jabiren Raya Kabupaten Pulang Pisau. Penelitian ini berusaha mengungkap tentang fenomena perpindahan agama yang terjadi, apa faktor yang menyebabkan dan apa dampaknya dalam masyarakat.Terjadinya Konversi Agama dari Hindu Kaharingan ke Kristen pada masyarakat Hindu Kaharingan di Desa Sakakajang disebabkan oleh (1) faktor pengetahuan agama Hindu Kaharingan yang kurang dipahami secara mendalam dalam diri seseorang sehingga mudah terpengaruh melakukan konversi Agama, (2) Faktor ekonomi yang kurang mencukupi kemudian ada yang menawarkan bantuan kemanusiaan sehingga mereka berpikir untuk mengubah dirinya ke arah kehidupan yang lebih baik, (3) Faktor Perkawinan untuk menyatukan agama ke dua calon mempelai yang tadinya berbeda, (4) Faktor Pendatang Pergaulan penduduk asli dengan pendatang mempunyai implikasi yang cukup tinggi terhadap pandangan dan pengetahuan bahkan p keyakianan agama, Sehingga dalam pergaulan itu mereka tertarik untuk melakukan konversi agama dari Hindu Kaharingan ke Kristen.Dengan adanya konversi agama bagi masyarakat Hindu Kaharingan dari Hindu Kaharingan ke Kristen di Desa Sakakajang menimbulkan dampak Religius dan dampak sosial sehingga berkurangnya pemeluk agama Hindu Kaharingan dan tidak ada lagi kegiatan upacara/ ritual Agama Hindu Kaharingan bagi masyarakat Sakakajang.Konversi agama adalah berpindahnya atau berubahnya keyakinan/ agama dari keyakinan/ agama yang sebelumnya dianut menuju keyakianan/ agama baru yang dianutnya. konversi agama yang dimaksud dalam penelitian ini adalah konversi agama dari Hindu Kaharingan ke agama Kristen pada masyarakat Hindu Kaharingan di desa Sakakajanga kecamatan Jabiren Raya Kabupaten Pulang Pisau. Penelitian ini berusaha mengungkap tentang fenomena perpindahan agama yang terjadi, apa faktor yang menyebabkan dan apa dampaknya dalam masyarakat.Terjadinya Konversi Agama dari Hindu Kaharingan ke Kristen pada masyarakat Hindu Kaharingan di Desa Sakakajang disebabkan oleh (1) faktor pengetahuan agama Hindu Kaharingan yang kurang dipahami secara mendalam dalam diri seseorang sehingga mudah terpengaruh melakukan konversi Agama, (2) Faktor ekonomi yang kurang mencukupi kemudian ada yang menawarkan bantuan kemanusiaan sehingga mereka berpikir untuk mengubah dirinya ke arah kehidupan yang lebih baik, (3) Faktor Perkawinan untuk menyatukan agama ke dua calon mempelai yang tadinya berbeda, (4) Faktor Pendatang Pergaulan penduduk asli dengan pendatang mempunyai implikasi yang cukup tinggi terhadap pandangan dan pengetahuan bahkan p keyakianan agama, Sehingga dalam pergaulan itu mereka tertarik untuk melakukan konversi agama dari Hindu Kaharingan ke Kristen.Dengan adanya konversi agama bagi masyarakat Hindu Kaharingan dari Hindu Kaharingan ke Kristen di Desa Sakakajang menimbulkan dampak Religius dan dampak sosial sehingga berkurangnya pemeluk agama Hindu Kaharingan dan tidak ada lagi kegiatan upacara/ ritual Agama Hindu Kaharingan bagi masyarakat Sakakajang