E-Journal Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang Palangka Raya
Not a member yet
711 research outputs found
Sort by
PERANAN PENDIDIKAN INFORMAL DALAM MENDIDIK ANAK
The old parents are the first and the main educator for the children to get the best prince or son. So why the old parents state as the first educator, because the son or the prince birth, growth, and develop in family (informal education). Then the old parents give the first education for the children in order to the children become to the best prince or the best son. The old parents stated as the main educator because the old parents give the main education for their children so become the best prince and the best son. The religion education is very important to the children in informal education. The old parents as the father and as the mother for the children so as the educators in family (informal education). The old parents can realize that very imfortant religion educatian for every member of their family. So They will give positive imfluence to growth and develop of their children. In the other side the children need to understand the religion education to increce the belive of the God, Tuhan Yang Maha Esa, Ida Sang Hyang Widhi Wasa
PERKAWINAN KICAK KACANG MASYARAKAT HINDU KAHARINGAN DI DESA TEWANG TAMPANG KECAMATAN TASIK PAYAWAN KABUPATEN KATINGAN (PERSPEKTIF HUKUM HINDU)
Perkawinan merupakan warisan kodrat manusia dan salah satu dari siklus kehidupan individu, setiap orang yang normal akan sampai dan melewatinya dengan segala macam kepercayaan perlakuan dan harapan. Untuk mewujud tujuan perkawinan tersebut adalah membentuk keluarga yang bahagia dan kekal abadi berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.Dalam upacara perkawinan tidak hanya ada satu jenis perkawinan, namun ada banyak jenis perkawinan. Begitu pula dengan sistem perkawinan masing-masing tidak sama dari prosesi maupun sarana yang digunakan sesuai dengan tradisi dari masing-masing Daerah, selain itu Perkawinan merupakan upacara mempersatukan dua insan laki-laki dan perempuan dalam ikatan suami istri, yang diatur dalam hukum adat/agama dan undang-undang. Perkawinan kicak kacang ini adalah adanya hubungan ikatan batin dari semua mahluk hidup yang berbeda jenis kelamin untuk hidup dan berkembang biak. Namun perkawinan yang dilakukan oleh umat manusia sejak awal, sudah ada hukum dan ketentuannya sesuai agama masing-masing. Dalam kitab suci agama Hindu Kaharingan Panaturan pasal 19 berbunyi : Manyamei Tunggul Garing Janjahunan Laut Dilasksanakan Perkawinan dengan Kameluh Putak Bulau Janjulen Karangan. Ayat 3 menyatakan adalah sesungguhnya mereka berdua ini wujudku sendiri aku akan melaksanakan upacara perkawinannya agar mereka dapat memberikan keturunan berupa aku bagi kehidupan dunia yang aku kehendaki dan ini pula yang mereka lakukan pada kehidupan dunia nantinya.(Tim Penyusunan 2013; 46)Perkawinan Kicak Kacang ini dilatar belakangi oleh permasalahan antara si perempuan sudah bersatu dengan si laki-laki dalam istilah lain kumpul kebu tinggal satu rumah belum dilakukan upacara pensucian, maka oleh sebab itu dari orang tua pihak perempuan meminta tanggung jawab si laki-laki untuk melakukan upacara Kicak Kacang sebagai pensucian mereka berdua sehingga tidak melakukan perjinahan (dosa sala). Karena mereka berdua suka sama suka tidak ada pemaksaan diantara mereka, seorang laki-laki meminta seorang anak perempuan untuk dijadikan istrinya dan syarat-syarat adat ditetapkan dan dibayar oleh pihak laki-laki pada saat upacara kawin Kicak Kacang , pada saat itu pula dibuat surat perjanjian oleh kedua belah pihak sebagai dasar hukum perkawinan Kicak Kacang.Perkawinan merupakan warisan kodrat manusia dan salah satu dari siklus kehidupan individu, setiap orang yang normal akan sampai dan melewatinya dengan segala macam kepercayaan perlakuan dan harapan. Untuk mewujud tujuan perkawinan tersebut adalah membentuk keluarga yang bahagia dan kekal abadi berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.Dalam upacara perkawinan tidak hanya ada satu jenis perkawinan, namun ada banyak jenis perkawinan. Begitu pula dengan sistem perkawinan masing-masing tidak sama dari prosesi maupun sarana yang digunakan sesuai dengan tradisi dari masing-masing Daerah, selain itu Perkawinan merupakan upacara mempersatukan dua insan laki-laki dan perempuan dalam ikatan suami istri, yang diatur dalam hukum adat/agama dan undang-undang. Perkawinan kicak kacang ini adalah adanya hubungan ikatan batin dari semua mahluk hidup yang berbeda jenis kelamin untuk hidup dan berkembang biak. Namun perkawinan yang dilakukan oleh umat manusia sejak awal, sudah ada hukum dan ketentuannya sesuai agama masing-masing. Dalam kitab suci agama Hindu Kaharingan Panaturan pasal 19 berbunyi : Manyamei Tunggul Garing Janjahunan Laut Dilasksanakan Perkawinan dengan Kameluh Putak Bulau Janjulen Karangan. Ayat 3 menyatakan adalah sesungguhnya mereka berdua ini wujudku sendiri aku akan melaksanakan upacara perkawinannya agar mereka dapat memberikan keturunan berupa aku bagi kehidupan dunia yang aku kehendaki dan ini pula yang mereka lakukan pada kehidupan dunia nantinya.(Tim Penyusunan 2013; 46)Perkawinan Kicak Kacang ini dilatar belakangi oleh permasalahan antara si perempuan sudah bersatu dengan si laki-laki dalam istilah lain kumpul kebu tinggal satu rumah belum dilakukan upacara pensucian, maka oleh sebab itu dari orang tua pihak perempuan meminta tanggung jawab si laki-laki untuk melakukan upacara Kicak Kacang sebagai pensucian mereka berdua sehingga tidak melakukan perjinahan (dosa sala). Karena mereka berdua suka sama suka tidak ada pemaksaan diantara mereka, seorang laki-laki meminta seorang anak perempuan untuk dijadikan istrinya dan syarat-syarat adat ditetapkan dan dibayar oleh pihak laki-laki pada saat upacara kawin Kicak Kacang , pada saat itu pula dibuat surat perjanjian oleh kedua belah pihak sebagai dasar hukum perkawinan Kicak Kacang
MAKNA BANTEN PARAYASCITA DALAM UPACARA NYAMBUTAN
Manusia selalu mendambakan kehidupan sejahtera dan bahagia, suci lahir dan batin, untuk mewujudkannya ia harus menjaga hubungan yang harmonis dengan Sang pencipta (tuhan), dengan sesama manusia dan dengan lingkungan alam sekitarnya. Cara yang ditempuh untuk mewujudkan dengan melaksanakan upacara Yadnya. Upacara Yadnya memerlukan sarana yang disebut Upakara atau Banten. Salah satu upakara/Banten yang digunakan dalam Upacara Nyabutan adalah banten Prayascita.Banten parayascita dibuat berbentuk bundar dari janur kelapa gading. Unsur-unsur Banten parayascita adalah Sorohan Alit, Penyeneng, Sampaian Padma, Lis Sanjata Panca Dewata, Sampian Nagasari, Bungkak Kelapa Gading, Tirta Parayascita, beras Kuning. Banten Paryascita dipergunakan sebagai pendahuluan dari upacara Nyambutan yang berfungsi sebagai pembersihan dan penyucian leteh, kotoran dari pengaruh dasa mala di lingkungan kegiatan Upacara Nyambutan.Makna Banten Parayascita dalam Upacara Nyambutan adalah sebagai simbol penyucian rohani / alam pikiran dari pengaruh mala atau kotoran, dengan pikiran yang suci sehingga keselamatan, kesejahteraan dan kebahagiaan hidup tercapai.Manusia selalu mendambakan kehidupan sejahtera dan bahagia, suci lahir dan batin, untuk mewujudkannya ia harus menjaga hubungan yang harmonis dengan Sang pencipta (tuhan), dengan sesama manusia dan dengan lingkungan alam sekitarnya. Cara yang ditempuh untuk mewujudkan dengan melaksanakan upacara Yadnya. Upacara Yadnya memerlukan sarana yang disebut Upakara atau Banten. Salah satu upakara/Banten yang digunakan dalam Upacara Nyabutan adalah banten Prayascita.Banten parayascita dibuat berbentuk bundar dari janur kelapa gading. Unsur-unsur Banten parayascita adalah Sorohan Alit, Penyeneng, Sampaian Padma, Lis Sanjata Panca Dewata, Sampian Nagasari, Bungkak Kelapa Gading, Tirta Parayascita, beras Kuning. Banten Paryascita dipergunakan sebagai pendahuluan dari upacara Nyambutan yang berfungsi sebagai pembersihan dan penyucian leteh, kotoran dari pengaruh dasa mala di lingkungan kegiatan Upacara Nyambutan.Makna Banten Parayascita dalam Upacara Nyambutan adalah sebagai simbol penyucian rohani / alam pikiran dari pengaruh mala atau kotoran, dengan pikiran yang suci sehingga keselamatan, kesejahteraan dan kebahagiaan hidup tercapai
AKTUALISASI NILAI SOSIAL KEMASYARAKATAN 'HANDEP HAPAKAT' DALAM UPACARA KEMATIAN PENGANUT HINDU KAHARINGAN
Hindu Kaharingan is a belief system adopted by people in the Central Kalimantan. Religious practice of Hindu Kaharingan has provided unique features and characteristics that distinguish it from other religions. The death ceremony is one religious practice of Hindu Kaharingan which consists of long ceremonial stages, starting from the initial stage to the last stage and of course involves the role of various parties and related elements to run well and smoothly. The occurrence of social interaction among Hindu Kaharingan people often involves the attitude of'handep hapakat' as self-actualization in fostering the values of sincerity, loyalty, help, the spirit of unity, mutual cooperation, and devotion to God Almighty in order to implement religious teaching practices well, smooth and sacre
FENOMENA FACEBOOK SEBAGAI SARANA KOMUNIKASI SOSIAL
Pandangan masyarakat yang menganggap bahwa komunikasi sangat penting pada masa kini, secara tidak langsung telah memancing suatau revolusi besar dalam perkembangan teknologi komunikasi. Hal tersebut terlihat dari banyaknya media yang digunakan dalam proses komunikasi. Situs web Facebook memungkinkan Anda menerima permintaan pertemanan dari teman dekat, teman sekolah, kerabat dan bahkan teman lama Anda. Orang yang tidak Anda kenal sebelumnya juga bisa mengajak berteman melalui Facebook. Atau Anda bisa juga memasukkan foto kemudian menandai orang-orang yang ada di foto tersebut, sehingga orang yang ditandai dapat melihat foto tersebut. Anda juga dapat memasukkan jadwal acara dan mengundang orang lain melalui Facebook. Facebook sebagai situs web jejaring sosial memang bisa bermanfaat untuk semua penggunanya. Jika digunakan dengan tepat, Anda bisa menikmati banyak pertemanan yang positif dan bermanfaat. Namun jangan mengendurkan kewaspadaan Anda, karena dibalik banyak manfaatnya, jika disalahgunakan maka Facebook bisa menjadi bahaya yang menghancurkan keluarga. Selalu gunakan Facebook secara bijaksana
PERANAN SRADHA DAN BHAKTI DALAM MENANGKAL PENGARUH NEGATIF MEDIA SOSIAL
Today's development makes all changes in human life of communication technology development, most of which have been used. Communication technology becomes a tool or media used to carry out social interactions between individuals that can be done anywhere and anytime where with this media the information needed will be easier to obtain. Communication technology continues to grow with time by always following the needs of consumers or users. Much can be done using gadget or smartphone media, one of which is in the use of social media. The existence of social media can have a negative impact on users, one of the negative impacts is technological crime or often called cybercrime. As a Hindu, this can be overcome by increasing Sradha and Bhakti to Ida Sang Hyang Widhi / God. This article will explain what ways can be done to improve Sradha and Bhakti in counteracting the negative use of social media.Perkembangan jaman membuat semua perubahan kehidupan manusia ini dikarenakan adanya perkembangan teknologi komunikasi yang sebagian besar sudah dipergunakan. Teknologi komunikasi menjadi alat atau media yang digunakan untuk melakukan interaksi sosial antara individu yang dapat dilakukan dimana saja dan kapan saja dimana dengan adanya media ini informasi yang dibutuhkan akan lebih mudah didapat. Teknologi komunikasi modern terus berkembang seriring waktu dengan selalu mengikuti kebutuhan konsumen atau penggunanya. Banyak yang bisa dilakukan dengan menggunakan media gadget atau smartphone, salah satunya ada dalam penggunaan media sosial. Adanya media sosial dapat memberikan dampak negatif bagi penggunanya, salah satu dampak negatif tersebut adalah kejahatan teknologi atau sering disebut cybercrime. Sebagai umat Hindu hal tersebut dapat diatasi dengan meningkatkan Sradha dan Bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi/Tuhan Yang Maha Esa. Tulisan ini akan memamparkan cara apa saja yang dapat dilakukan untuk meningkatkan Sradha dan Bhakti dalam menangkal hal negatif penggunaan media sosial
Fungsi Balian Palas Bidan di Ampah Kabupaten Barito Timur
Kebebasan beragama, serta kepercayaan merupakan hak azasi manusia.Kehidupan beragama dan kepercayaan merupakan salah satu modal dalam membangun manusia Indonesia seutuhnya, yaitu untuk membentuk nilai dan sikap yang bersumber dari ajaranagama, adat-istiadat, tradisi dan moral. Salah satu aspek pembangunan tersebut adalah praktek agama dan kepercayaan masyarakat Dayak yang mendiami daerah aliran sungai (DAS) Barito di Kalimantan Tengah, dalam penelitian ini aspek terkait dengan keyakinan dan kepercayaan terhadap melaksanakan upacara Balian Palas Bidandi mana dewasa ini mulai sulit untuk ditemukan masyarakat melaksanakannya. Penelitian mengkaji fenomena ini dari fungsi Balian Palas Bidandi Ampah Barito Timur dengan pendekatan fungsional structural untuk menganalisisnya. Analisis data menggunakan model analisis mengalir dilakukan melalui tiga jalur kegiatan yaitu : (1) Reduksi data, (2) Display data atau penyajian data, dan (3) menyimpulkan atau memverifikasi. Teknik penyajian hasil menggunakan teknik verbal, data didekripsikan, dianalisis serta diinterpretasikan menggunakan kata-kata atau kalimat-kalimat uraian, secara tajam, obyektif, jelas, dan ringkas.Fungsi religius bahwa ritual yang dilakukan merupakan penjabaran dari Yadnya, yang dilakukan dengan hati yang tulus ikhlas ditujukan kepada tuhan, dewa dan para butha kala.Fungsi seni atau estetika (keindahan) selain sebagai sarana hiburan, seni juga digunakan dalam ritual upacara yang memiliki fungsi sakral, ini terlihat pada saat upacara Balian Palas Bidan. Menurut kepercayaan umat HinduKaharingansuku Lawangan di Ampah Kabupaten Barito Timur setiap pelaksanaan upacara Balian Palas Bidanselalu mengunakan alat musik berupa gong, kenong dan gendang. Fungsi sosial budaya dapat dilihat dan dirasakan pada saat pelaksanaan upacara Balian Palas Bidansebagai salah satu tradisi yang telah membudaya dalam masyarakat, karena pada hakikatnya semua perilaku dan praktek beragama dalam masyarakat dilaksananakan oleh manusia dalam bentuk budaya. Perilaku dan praktek upacara Balian Palas Bidanlahir dari pemikiran manusia sebagai upaya untuk mendapatkan keselamatan dan kebahagiaan bagi si anak dalam menjalani kehidupan
MANAJEMEN PENDIDIKAN ANAK DALAM AJARAN HINDU KAHARINGAN DI KALIMANTAN TENGAH
Abstract
In the era of globalization, management of education is a factor that really needs attention from various parties in order to improve the quality of education. Management of Education for children is an effort as a form of parental, community, and government responsibility, which starts from the smallest scope, namely the family environment. Management of Education for children is closely related to figures who have a central role, namely parents (father and mother) as educators who are first, foremost for children and close to children. Hindu Kaharingan teachings have their own concepts related to the management of children's education which are important given early on so that children can grow up to have good character and character.
Keywords: Management of Education for children, Hindu Kaharingan, Panatura
KEUTAMAAN YAJNA DI JAMAN KALIYUGA (PERSPEKTIF MANAVADHARMASASTRA)
Era sekarang dengan semakin cepatnya informasi disemua lini kehidupan, jugaberdampak terhadap kehidupan beragama, kegiatan yadnya salah satu yang nampak.Unsur-unsur alami pada sarana dan prasarana Yadnya mulai bergeser kearah yangpraktis dan instan. Kehidupan sosial “gotong royong” berubah menjadi individualisme.Memberikan punia (berderma) bukan semata-mata atas dasar tulus iklas, tetapimempunyai motif atau kepentingan. Jaman sekarang bukan lagi tanpa pamrih, justrumelakukan sesuatu pasti ada pamrih.Atas dasar pergeseran dan perubahan perilaku itulah, hendaknya kita sebagaimakhluk ciptaan-Nya dalam melakukan kegiatan-kegiatan yang sejalan dengan ajaranagama dan sesuai perintah dari Tuhan. Pengabdian adalah jalan yang mudah untukmemperoleh kebijaksanaan. Pengabdian adalah salah satu bentuk ekstraksi daripengetahuan dan pengalaman spiritual yang tinggi.Manavadharmasastra merupakan sebuah kitab Dharma yang dihimpun dalambentuk sistematis oleh Bhagawan Bhrgu, salah seorang penganut ajaran Manu. Kitab inidianggap paling penting bagi masyarakat Hindu dan dikenal sebagai salah satu darikitab Sad Wedangga. Wedangga adalah kitab yang merupakan batang tubuh Weda yangtidak dapat dipisahkan dengan Weda Sruti dan Weda Smrti.Dalam ajaran agama Hindu, Yuga atau Mahayuga adalah suatu siklusperkembangan zaman yang terjadi di muka bumi, yang terbagi menjadi empat zaman,yaitu Satyayuga atau Kerta Yuga, Tretayuga, Dwaparayuga, dan Kaliyuga.. Menurut Manawa Dharmasastra 1.86 sebagaimana dikutip diawal tulisan ini,prioritas beragama-pun menjadi berbeda-beda pada setiap zaman. Pada zaman KertaYuga, kehidupan beragama diprioritaskan dengan cara bertapa. Pada Treta Yuga denganmemfokuskan pada jnyana. Pada zaman Dwapara Yuga dengan upacara yadnya danpada zaman Kali Yuga beragama dengan prioritas melakukan dana punia.Era sekarang dengan semakin cepatnya informasi disemua lini kehidupan, jugaberdampak terhadap kehidupan beragama, kegiatan yadnya salah satu yang nampak.Unsur-unsur alami pada sarana dan prasarana Yadnya mulai bergeser kearah yangpraktis dan instan. Kehidupan sosial “gotong royong” berubah menjadi individualisme.Memberikan punia (berderma) bukan semata-mata atas dasar tulus iklas, tetapimempunyai motif atau kepentingan. Jaman sekarang bukan lagi tanpa pamrih, justrumelakukan sesuatu pasti ada pamrih.Atas dasar pergeseran dan perubahan perilaku itulah, hendaknya kita sebagaimakhluk ciptaan-Nya dalam melakukan kegiatan-kegiatan yang sejalan dengan ajaranagama dan sesuai perintah dari Tuhan. Pengabdian adalah jalan yang mudah untukmemperoleh kebijaksanaan. Pengabdian adalah salah satu bentuk ekstraksi daripengetahuan dan pengalaman spiritual yang tinggi.Manavadharmasastra merupakan sebuah kitab Dharma yang dihimpun dalambentuk sistematis oleh Bhagawan Bhrgu, salah seorang penganut ajaran Manu. Kitab inidianggap paling penting bagi masyarakat Hindu dan dikenal sebagai salah satu darikitab Sad Wedangga. Wedangga adalah kitab yang merupakan batang tubuh Weda yangtidak dapat dipisahkan dengan Weda Sruti dan Weda Smrti.Dalam ajaran agama Hindu, Yuga atau Mahayuga adalah suatu siklusperkembangan zaman yang terjadi di muka bumi, yang terbagi menjadi empat zaman,yaitu Satyayuga atau Kerta Yuga, Tretayuga, Dwaparayuga, dan Kaliyuga.. Menurut Manawa Dharmasastra 1.86 sebagaimana dikutip diawal tulisan ini,prioritas beragama-pun menjadi berbeda-beda pada setiap zaman. Pada zaman KertaYuga, kehidupan beragama diprioritaskan dengan cara bertapa. Pada Treta Yuga denganmemfokuskan pada jnyana. Pada zaman Dwapara Yuga dengan upacara yadnya danpada zaman Kali Yuga beragama dengan prioritas melakukan dana punia
Pengelolaan Pendidikan Keagamaan Hindu di Yayasan Pasraman Gurukula Bangli Provinsi Bali
Setiap organisasi memiliki aktivitas-aktivitas pekerjaan tertentu dalam rangka mencapai tujuan organisasi. Dalam usaha pencapaian tujuan pendidikan, peran manajemen sangat dibutuhkan dalam penyelenggaraan pendidikan.Bahkan manajemen memiliki kedudukan dan posisi yang sangat sentral dalam keseluruhan proses pendidikan serta merupakan syarat mutlak dan bagian yang tak terpisahkan dari pendidikan itu sendiri, karena manajemen sangat penting, maka menjadi tanggung jawab semua pihak yang terkait dalam proses penyelenggaraan pendidikan. Berkaitan dengan penyelenggaraan pendidikan, Peraturan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 56 tahun 2014 tentang Pendidikan Keagamaan Hindu yang didalamnya mengelola jalur pendidikan formal dan nonformal Hindu dalam wadah pasraman tentu membutuhkan pedoman dalam pengelolaan pendidikan tersebut baik dari segi perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan maupun pengawasannya. Yayasan Pasraman Gurukula Bangli merupakan yayasan yang mengelola lembaga pendidikan keagamaan bernuansa Hindu yang saat ini dalam proses perubahan status menjadi yayasan pendidikan keagamaan Hindu. Disamping itu juga yayasan tersebut satu-satunya yayasan yang ada di Bali dan bahkan di Indonesia yang mengelola dua jalur pendidikan bernuansa Hindu yaitu pendidikan formal yang terdiri dari SMP dan SMA Gurukula Bangli dan pendidikan nonformal berupa Pasraman Gurukula Bangli serta siswa Gurukula berasal dari anak-anak yang kurang mampu dari seluruh Indonesia yang beragama Hindu. Penyelenggaraan pendidikan tentu mengalami kendala-kendala baik itu kendala internal maupun kendala eksternal. Bertitik tolak dari fenomena tersebut di atas peneliti tertarik mengkaji lebih jauh mengenai Manajemen Pendidikan Keagamaan Hindu dengan judul “Pengelolaan Pendidikan Keagamaan Hindu di Yayasan Pasraman Gurukula Bangli Provinsi Bali”