E-Journal Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang Palangka Raya
Not a member yet
711 research outputs found
Sort by
The Implication Of The Scripture Genesis 11:1-9 In Multicultural Context Of Indonesia
The biblical text contains many narratives that are relevant to human problems today. This paper is an exegetical study of the text of Genesis 11: 1-9 which contains a narrative about human arrogance and fear over their abilities and towards human differences. But God broke the arrogance and fear of humans by disrupting their communication. God's purpose is to show that diversity is a necessity. This research was conducted with an exegetical method by combining narrative and semiotic criticism approaches. This critical approach describes who the characters are and their role in the narrative, the narrative plot, the meaning obtained through words/symbols and time, as well as what narrative is discussed and the author's perspective. The purpose of this paper is to deconstruct and find the hidden meaning of the text as well as reconstruct it and discover the implications of the text in multicultural society in Indonesia today. And the conclusion reached is that the biblical narrative is always relevant to human life today. In the context of this paper, the narrative in the Tower of Babel story stresses that God values diversity and that diversity must be lived by everyone.Teks biblikal umumnya berisi banyak sekali narasi yang sangat relevan dengan pergumulan manusia masa kini. Tulisan ini merupakan sebuah studi eksegetikal terhadap teks Kejadian 11:1-9 yang mengisahkan tentang arogansi sekaligus ketakutan manusia terhadap ketidakmampuan dan perbedaan yang mereka miliki. Allah mematahkan arogansi dan ketakutan manusia dengan mengacaubalaukan bahasa dan komunikasi mereka dengan tujuan untuk menunjukkan bahwa keragaman adalah hal yang sangat diperlukan dan penting. Melalui metode eksegetikal dengan mengkombinasikan narasi teks dan kritik semiotika, tulisan ini akan diuraikan. Pendekatan kritis mendeskripsikan mengenai tokoh-tokoh dan perannya dalam narasi, plot narasi, serta makna kata dan simbol serta waktu yang dilihat dari perspektif penulis teks. Tujuan tulisan ini adalah untuk mendekonstruksikan sekaligus menemukan makna tersembunyi di balik narasi untuk kemudian direkonstruksikan. Hasilnya adalah sebuah implikasi teks yang diletakkan pada konteks masyarakat multikultur di Indonesia. Akhirnya, tulisannya memberikan simpul bahwa narasi-narasi biblika masa lalu selalu memiliki relevansi di masa kini. Khususnya pada tulisan ini di mana narasi Menara Babel menekankan bahwa Allah menunjukkan nilai-nilai keragaman harus dihidupi oleh setiap orang
Peran Kurikulum Muatan Lokal Dalam Melestarikan Bahasa Daerah (Dayak Ngaju, Kalimantan Tengah)
Kurikulum merupakan seperangkat rencana dan pengaturan mengenai isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar. Isi kurikulum merupakan susunan dan bahan kajian dan pelajaran untuk mencapai tujuan penyelenggaraan satuan pendidikan yang bersangkutan, dalam rangka upaya pencapaian tujuan pendidikan nasional. Dari berbagai mata pelajaran yang ada baik di sekolah dasar, sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas terdapat salah satu mata pelajaran yang mampu membantu melestarikan budaya daerah setempat adalah mata pelajaran muatan lokal.
Muatan lokal dalam kurikulum terdapat pada peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia nomor 79 tahun 2014 tentang muatan lokal kurikulum 2013. Muatan lokal merupakan bahan kajian atau mata pelajaran pada satuan pendidikan yang berisi muatan dan proses pembelajaran tentang potensi dan keunikan lokal yang dimaksudkan untuk membentuk pemahaman peserta didik terhadap keunggulan dan kearifan di daerah tempat tinggalnya. Muatan lokal yang masuk ke dalam satuan Pendidikan yaitu salah satunya adalah bahasa daerah Kalimantan Tengah yaitu bahasa daerah Dayak Ngaju.
Peran kurikulum muatan lokal dalam melestarikan kebudayaan daerah terutama bahasa daerah Kalimantan Tengah yang menggunakan bahasa Dayak Ngaju merupakan upaya dalam Pendidikan agar bahasa daerah ini tetap lestari bagi peserta didik daerah aslinya maupun peserta didik pendatang dari luar daerah sehingga peserta didik memiliki bekal kemampuan serta pengetahuan mengenai bahasa daerah di tempat peserta didik tinggal dan memiliki sikap atau perilaku yang selaras dengan nilai-nilai atau aturan-aturan yang berlaku di daerahnya serta melestarikan dan mengembangkan nilai-nilai luhur budaya setempat dalam rangka menunjang pembangunan nasional
STRATEGI PENDIDIKAN DALAM MENINGKATKAN KUALITAS PENDIDIKAN DI ERA NEW NORMAL
Seluruh negara yang terdampak pandemi Covid-19 saat ini sedang melakukan adaptasi agar pendemi ini tidak berdampak jauh lebih buruk pada semua aspek kehidupan. Pendidikan merupakan salah satu aspek yang harus diperhatikan dengan seksama agar semua peserta didik dapat menerima haknya. Indonesia menerapkan beberapa kebijakan dibidang Pendidikan agar peserta didik tetap mendapat Pendidikan yang terjamin kualitasnya.
Pada masa New Normal ini sekolah dizona hijau dan kuning sudah boleh melaksanakan pembelajaran tatap muka dengan melaksanakan protokol kesehatan, namun harus sesuai dengan kebijakan dan instruksi pemerintah daerah masing-masing. Untuk sekolah yang berada diluar zona tersebut masih harus melaksanakan pembelajaran jarak jauh. Namun, masih banyak sekolah yang belum bisa menerapkan kebijakan-kebijakan yang telah dibuat. Hal ini karena adanya keterbatasan sekolah-sekolah yang berada di daerah.
Setiap satuan Pendidikan memiliki tantangan masing-masing dalam menerapkan kebijakan-kebijakan mengenai Pendidikan di era adaptasi kebiasaan baru termasuk salah satunya pembelajaran jarak jauh. Mengingat banyaknya kendala-kendala yang muncul dalam proses pembelajaran dimasa new normal ini, setiap satuan Pendidikan harus mampu mengelola pembelajarannya dengan strategi-strategi yang tepat sesuai kebutuhan sekolah agar tetap berjalan dan terjamin kualitas pembelajarannya
Analisis Dampak Strategi Komunikasi Non Verbal
Non-verbal communication is a process of communication where the message is conveyed not by using words. For example, only by using gestures, body language, facial expressions and eye contact, the use of objects such as clothing, haircuts and so on, symbols and ways of speaking such as intonation, emphasis, sound quality, emotional style and speaking style. Even so, experts in the field of non-verbal communication usually use the definition of "not using words" with katat, and do not equate non-verbal communication with non-verbal communication. For example sign and written languages are not considered non-verbal communication because they use words, while intonation and speaking style are classified as non-verbal communication. Non-verbal communication is also different from talking classified as non-verbal communication. Non-verbal communication is also different from subconscious communication, which can be verbal or non verbal communication. In this case the most common is the use of clothing, where people are often judged by the type of clothing they use, although this is considered wrong for stereotypes. For example, people often prefer other people who have interesting ways of dressing. Also in job interviews someone who is dressed attractively is more likely to get a job than those who are not
HUKUM ADAT DAYAK : BENTUK, PENERAPAN DAN SANKSI SINGER DI DESA PENDREH KECAMATAN TEWEH TENGAH KABUPATEN BARITO UTARA
Tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan keberadaan hukum adat Dayak dan penerapannya dalam interaksi masyarakat Hindu Kaharingan dalam hidup bermasyarakat. Hukum adat sangatlah diperlukan oleh masyarakat setempat sebagai payung dan pedoman sekaligus petunjuk hidup untuk menghindari terjadinya benturan/perselisihan dalam bermasyarakat. Bentuk hukum adat ada yang tertulis dan ada yang tidak tertulis, keberadaannya betul-betul diakui oleh masyarakat.Penerapan hukum adat di Kecamatan Teweh Tengah tetap eksis diterapkan sampai sekarang untuk pemberdayaan Lembaga Adat agar mampu membangun masyarakat Adat dalam melestarikan dan pengembangan adat istiadat. Pelanggaran terhadap hukum adat ini dikenakan sanksi singer. Sanksi yang dijatuhkan apabila terjadi pelanggaran terhadap hukum adat yaitu berupa uang atau berupa benda lain, seperti ngasi makan, potong babi berdasarkan tingkat kesalahan.Tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan keberadaan hukum adat Dayak dan penerapannya dalam interaksi masyarakat Hindu Kaharingan dalam hidup bermasyarakat. Hukum adat sangatlah diperlukan oleh masyarakat setempat sebagai payung dan pedoman sekaligus petunjuk hidup untuk menghindari terjadinya benturan/perselisihan dalam bermasyarakat. Bentuk hukum adat ada yang tertulis dan ada yang tidak tertulis, keberadaannya betul-betul diakui oleh masyarakat.Penerapan hukum adat di Kecamatan Teweh Tengah tetap eksis diterapkan sampai sekarang untuk pemberdayaan Lembaga Adat agar mampu membangun masyarakat Adat dalam melestarikan dan pengembangan adat istiadat. Pelanggaran terhadap hukum adat ini dikenakan sanksi singer. Sanksi yang dijatuhkan apabila terjadi pelanggaran terhadap hukum adat yaitu berupa uang atau berupa benda lain, seperti ngasi makan, potong babi berdasarkan tingkat kesalahan
Tindak Pidana Terorisme Berdasarkan Perspektif Belom Bahadat
This article purpose to examine Belom Bahadat's perspective of terrorism. The existing problems are examined using the normative legal writing method through a doctrinal approach, statutory approach and conceptual approach. The result of this study is the criminal act of terrorism is an extraordinary crime and contrary to the principle of Belom Bahadat, the perpetrators of terrorism can be prosecuted and tried under the adat Dayak Ngaju criminal law in this case Article 96 of the Tumbang Anoi 1894 Peace Agreement, not only terrorism but also the perpetrators spreaders or actors who carry out radicalism and extremism that are in the area of adat Dayak Ngaju law can already be considered to violate adat Dayak Ngaju law in this case the Belom Bahadat principle. Belom Bahadat perspective of terrorism Prevention can be done by deepening the meaning of Huma Betang and the life goals of Penyang Hinje Simpei
KAJIAN RAGAM PENYULUH INFORMATIF DALAM MENCEGAH ISU NEGATIF BIDANG AGAMA HINDU
Abstrak
The research aims to explain the tasks and functions of the in-depth informative extension that provides the construction of Hindu people in South Sumatra, knowing how to provide information on the Infomative counseling program in solving problems that often And the success of the informative counseling program in South Sumatra. This type of research uses a descriptive method of qualitative analysis. Data collection techniques are conducted by interview, observation, and collection of skunder data, while the technical data analysis is done by reducing the data display (data presentation), verfication and withdrawal of conclusions. In this study, the authors interviewed 10 informant, 6 non-civil servants, and 4 Hindus in South Sumatra. The results showed that from the informative counselling program, the spiritual Guidance program, the economic program of the general, the National educational Mental program can ward off negative issues that often occur in South Sumatra. There are factors Supporting the implementation of informative outreach program is the support of non-civil servants as well as all the concentrations of Hindus in South Sumatra so that the success of informative extension program runs optimally and is quite good.
Oleh:
Untung Suhardi
Ketut Deni Wiryanthari
Yan Mitha Djaksana
I Made Biasa
I Made Jaya Negara Suarsa Putra
Jurusan Penerangan Agama
Sekolah Tinggi Agama Hindu Dharma Nusantara Jakarta
Email: [email protected]
PENEGAKAN HUKUM TERHADAP PELAKU TINDAK PIDANA PENGGELAPAN BARANG SITAAN
This paper analyzes the law enforcement of the perpetrators of the embezzlement of the confiscated goods and the purpose of the writer to raise this title is to find out about law enforcement and supervision in the embezzlement of the confiscated goods. To analyze the title that the author adopted, empirical juridical research methods, namely research on the problem by looking at and observing the applicable legal norms associated with the facts that exist from the problems encountered in the study. The result showed that for law enforcement when viewed substantially there are rules governing only that there are deficiencies in terms of structure where there is a shortage of personnel to guard and care for the existing confiscated state goods and the narrow field to accommodate the confiscated goods and also for their own supervision has been carried out even though the procedure was just that there was still negligence in terms of recording the registration of confiscated goods.Tulisan ini menganalisis tentang penegakan hukum terhadap pelaku tindak pidana penggelapan barang sitaan dan tujuan penulis mengangkat judul ini untuk mengetahui tentang penegakan hukum dan pengawasan dalam hal penggelapan barang sitaan. Untuk menganalisis tentang judul yang penulis angkat digunakan metode penelitian yuridis empiris, yaitu penelitian terhadap masalah dengan melihat dan memperhatikan norma hukum yang berlaku dihubungkan dengan fakta-fakta yang ada dari permasalahan yang ditemui dalam penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa untuk penegakan hukum kalau dilihat secara substansi sudah ada aturan yang mengatur hanya saja terdapat kekurangan di segi struktur dimana kekurangan personil untuk menjaga dan merawat barang sitaan Negara yang ada serta sempitnya lahan untuk menampung barang sitaan tersebut dan juga untuk pengawasannya sendiri sudah dilakukan secara prosedur yang ada hanya saja masih terdapat kelalaian dalam hal pencatatan registrasi barang sitaan
Pola Pendidikan Pranatal dalam Agama Hindu
Abstraksi
Kini perhatian para praktisi, dan pengamat pendidikan, demikian juga kesehatan, khususnya kesehatan Ibu dan anak, tertuju pada pendidikan Pranatal. Fenomena ini didukung juga oleh hasil temuan eksperimen ilmuwan Anthony Casper, yang bekerja untuk lembaga kesehatan anak dan perkembangan manusia untuk universitas Carolina di Amerika Serikat, menemukan bahwa : Makanan yang dimakan oleh Ibi yang sedang hamil, gagasan-gagasan yang dipikirkannya, kata-kata yang didengar, dan diucapkan mempengaruhi janin yang berada dalam kandungannya. Hal inilah yang mendorong penulis untuk meneliti “Pola Pendidikan Pranatal dalam Agama Hindu”. Walaupun secara implisit pendidikan pranatal belum diatur dalam sistem pendidikan Nasional, tetapi secara eksplisit tanggung jawab tersebut ada pada pendidikan informal (pendidikan dalam keluarga). Adapun penelitian ini difokuskan pada dua permasalahan yaitu : (1) Latar belakang Pendidikan Pranatal dalam agama Hindu; dan (2) Pola Pendidikan Pranatal dalam agama Hindu.
Penelitian ini adalah penelitian semi lapangan atau gabungan dari penelitian pustaka dan lapangan, dengan menggunakan pendekatan penelitian kualitatif deskriptif, pengumpulan datanya menggunakan teknik Observasi, Wawancara, Dokumentasi, dan studi kepustakaan. Hasil temuan penelitiannya menunjukan bahwa yang melatar belakangi pendidikan pranatal dalam agama Hindu adalah posisi atau kedudukan anak didalam keluarga sangat utama sebagai pembebas atau penyelamat orang tuanya, sehingga dikatakan sebagai cahaya yang menerangi kegelapan didalam keluarga, bagaikan sinar surya yang menerangi bumi. Kitab suci Weda baik Sruti, maupun smerthi (purana dan Itihasa), termasuk Ramayana dan Mahabharata, dan sastra-sastra Hindu lainnya banyak mengandung nilai-nilai pendidikan Pranatal. Sedangkan Pola pendidikan Pranatal Hindu, disamping melalui pola sikap dan prilaku hidup orang tuanya (calon Ibu, dan bapak) bayi dalam kandungannya, juga melalui pola Samskara atau upacara yajna yaitu : (1) Upacara Mekala-kalaan adalah Upacara pembersihan,dan Penyusian Sukla (Sperma), dan Swanita (Ovum/sel telur); (2) Upacara Garbhadhana samskara adalah : Upacara konsepsi atau pembuahan (penghamilan, membuat Istri menjadi hamil (hubungan intim suami istri); (3) Upacara Pumsawana Samskara adalah upacara permohonan diturunkan (lahirnya) anak suputra, yang dilakukan setelah usia kandungan tiga bulan; (4) Upacara Simantonayana Samskara adalah secara niskala, upacara membentengi bayi (kandungan) dari pengaruh jahat makhluk-2 halus (gaib), dan secara sekala melindungi istri (calon Ibu) oleh suaminya dengan penuh kasih sayang dan tanggung jawab, dilakukan setelah usia kandungan 4-5 bulan kalender; (5) upacara magedong-gedongan (khas Hindu Bali), upacara pembersihan, dan penyucian serta persiapan secara fisik maupun mental menyambut kelahiran bayi yang dilaksanakan pada usia kandungan 5-6 bulan kalender atau 6-7 bulan kalender Saka.
Kata Kunci : Pola, Pendidikan-Pranatal, dan Agama Hindu)  
PENGGUNAAN SAWEN PADA MASA PANDEMI COVID-19 DI DESA MEKO
Upaya niskala yang dilakukan masyarakat Desa Meko Kecamatan Pamona Barat Provinsi Sulawesi Tengah agar terhindar dari wabah virus corona yaitu dengan pemasangan sawen (penanda) pada masing-masing pintu masuk pekarangan dan penggunaan gelang tri datu dilengkapi dengan jangu. Pada implementasinya sarana yang digunakan belum sepenuhnya dipahami makna (tattwa) dan alasan mengapa hal tersebut dilakukan. Padahal hakekat sebuah yadnya perlu dipahami tiga hal penting yaitu aspek tattwa, susila dan upacara, ketiga bagian tersebut tidak dapat dipisahkan dan merupakan satu kesatuan yang utuh. Dari penelitian yang dilakukan diperoleh bahwa Proses Pemasangan sawen, terdiri dari Ngaci dengan menggunakan sarana tumpeng adanganan dan kain poleng, Nyejer dilakukan selama 12 hari dengan menghaturkan tumpeng selem dan poleng serta segehan selem, dan Pemasangan Sawen dengan menggunakan sarana tiing gading, benang tri datu dan jangu