E-Journal Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang Palangka Raya
Not a member yet
    711 research outputs found

    MANAJEMEN DAN KOMUNIKASI HINDU PADA PELAKSANAAN RITUAL PARUMAN BARONG DI PURA LUHUR NATAR SARI, DESA APUAN, KABUPATEN TABANAN, BALI

    Get PDF
    The barong meeting ritual is one of the peak processions of the many series of piodalan ageng in Luhur Natar Sari Temple.  Barong meeting ritual involves a lot of resources and participants, both Hindu people in sekala (real) and Ratu Gede (barong) in niskala.  The large number of resources  and parties involved in the barong meeting ritual requires adequate management and communication systems.  The implementation of the barong meeting ritual is based on  the existence of ideology (theology, politics, and economics) and the belief of Hindu people supporters of the ceremony.  For the success and smooth implementation of the ceremony, implementing management (Bali royal era, Indonesia independence era, and global era).  For the sake of smooth coordination and implementation of the entire procession, implementing Hindu communication (vertical and horizontal), verbal dan non-verbal, oral and written, and using communication facilities such as mobile phones, loudspeakers, and radio communications (handy talkie)

    MANAJEMEN PENYULUHAN AGAMA HINDU PADA GENERASI MILENIAL

    Get PDF
    Perkembangan teknologi komunikasi (media sosial) yang dinikmati oleh generasi milenial mempengaruhi perilaku mereka dalam hubungan sosial.  Generasi milenial yang dicirikan dengan peningkatan penggunaan teknologi digital menjadikan mereka pribadi dengan pemikiran terbuka akan ide-ide, percaya diri, liberal,  suka berganti-ganti pekerjaan, dan malas bersosialisasi secara langsung. Kondisi ini membuat para generasi milenial mudah dapat mengakses berbagai informasi dari dunia maya, baik yang bermanfaat maupun yang menyesatkan.  Hal tersebut dapat membahayakan keberadaan umat Hindu khususnya generasi milenial tanpa didukung oleh pondasi agama dan keilmuan yang kokoh.  Penelitian ini mengetengahkan tiga permasalahan : (1) pentingkah penyuluhan agama Hindu bagi generasi milenial? (2) apakah yang menjadi ruang publik generasi milenial yang dapat dijadikan media penyuluhan agama Hindu? Dan bagaimanakah strategi melakukan penyuluhan agama Hindu pada generasi milenial?  Permasalahan dianalisis menggunakan Teori Perubahan Sosial dan Teori Manajemen.   Untuk mengatasi berbagai permasalahan yang dihadapi oleh sebagian besar generasi milenial tersebut, maka penyuluhan agama Hindu ke depan masih tetap diperlukan.  Seiring perubahan karakteristik dan perilaku (perubahan sosial) yang dialami para generasi milenial, maka media penyuluhan perlu dirubah dari real space (ruang kelas, aula, bale banjar) menjadi virtual space (whatsapp, instagram, website). Teknik penyampaian dan materi penyuluhan pun perlu disesuaikan dengan karakter para generasi milenial, yang terbuka dengan ide-ide dan serba praktis/instan.  Agar target penyuluhan agama Hindu dapat tercapai sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan, maka pelaksanaan penyuluhan agama Hindu pada  generasi milenial juga dituntut berdasarkan prinsip-prinsip manajemen, baik manajemen modern maupun manajemen berbasis Hindu

    Korupsi Penyalahgunaan Wewenang Perspektif Belom Bahadat

    No full text
    This article to purpose determine the corruption of the abuse of authority and sanctions according to the Belom Bahadat principle. The study used is a normative legal study with the type of conceptual approach, doctrinal approach and statute approach. The results of this study include corruption in the abuse of authority violating the Belom Bahadat principle because corruption in the abuse of authority is a crime and is contrary to the appropriateness values and the order of life of the Dayak adat people, as well as the application of sanctions to corruptors who abuse the authority to obtain criminal charges and applying compensation

    ETIKA HINDU DALAM KEHIDUPAN

    Get PDF
    Pendidikan Formal mulai dari Sekolah Dasar sampai Perguruan Tinggi selalu mendapatkan pelajaran Agama. Pendidikan yang berbasis Agama atau Spiritual seperti Pesraman, Pesantren dan lain-lain selalu mendapatkan pelajaran Agama, begitu pula Pasraman-pasraman para sulinggih di masyarakat yang selalu mengajarkan kepada masyarakat umum, baik dari kalangan anak-anak, remaja maupun dewasa. Ajaran Filsafat Hindu menegarkan bahwa etika Hindu dalam kehidupan memberikan aturan dan norma untuk mengatur dalam melakukan tingkah laku yang baik dan mulia agar dapat menciptakan hubungan yang baik, harmonis baik itu di keluarga maupun di masyarakat.Pendidikan Formal mulai dari Sekolah Dasar sampai Perguruan Tinggi selalu mendapatkan pelajaran Agama. Pendidikan yang berbasis Agama atau Spiritual seperti Pesraman, Pesantren dan lain-lain selalu mendapatkan pelajaran Agama, begitu pula Pasraman-pasraman para sulinggih di masyarakat yang selalu mengajarkan kepada masyarakat umum, baik dari kalangan anak-anak, remaja maupun dewasa. Ajaran Filsafat Hindu menegarkan bahwa etika Hindu dalam kehidupan memberikan aturan dan norma untuk mengatur dalam melakukan tingkah laku yang baik dan mulia agar dapat menciptakan hubungan yang baik, harmonis baik itu di keluarga maupun di masyarakat

    PENGUSADHA DALAM FILSAFAT YOGA DARSANA (Studi Kasus di Desa Payangan, Kecamatan Marga, Kabupaten Tabanan)

    Get PDF
    Ilmu pengobatan berkembang dengan pesat seiring perkembangan ilmu pengetahuan, meskipun perkembangannya sangat cepat terdapat beberapa hal yang belum dapat dipecahkan dalam dunia medis yaitu penyakit mistik/ non medis. Percaya atau tidak banyak masyarakat mengalami penyakit tersebut yang tidak dapat disembuhkan dalam ilmu pengobatan modern yang kemudian dapat tersembuhkan hanya dengan bantuan obat herbal yang diramu oleh balian/ penekun pengobatan usadha Bali. Dalam proses pengobatannya balian melibatkan energi alam semesta melalui pranayama dan samadhi. Ajaran filsafat yoga asanas dipegang teguh, serta diterapkan dalam proses pengobatan. Untuk mengkaji hal tersebut tentunya akan dilaksanakan penelitian melalui metode kualitatif sebagai dasar pelaksanaan penelitian. Metode pengumpulan data berdasarkan observasi, wawancara, dan metode kepustakaan sebagai pendukung hasil penelitian lapangan, yang kemudian di sajikan dalam bentuk deskrifsi kualitatif. Pengobatan alternative usadha Bali masih eksis dilaksanakan oleh masyarakat umum terlihat dari antusian masyarakat yang berobat cukup tinggi, begitu juga pemerintah berupaya memfasilitasi Balian diberikan kedudukan di rumah sakit umum untuk melakukan praktek pengobatan. Swadharma seorang balian adalah melakukan pengobatan kepada pasien yang berobat sesuai kode etik balian dalam melakukan pengobatan. Balian berperan sebagai pengobat/ yang mempraktekkan ilmu pengobatan warisan leluhur, sarana yang dipergunakan pun adalah tanaman herbal. Selain itu balian di Bali dalam melakukan pengobatan melakukan kolaborasi dengan filsafat yoga asana khususnya pranayama dan samadhi, kedua hal tersebut menjadi ilmu wajib yang dikuasai oleh balian dalam menekuni ilmu pengobatan.Ilmu pengobatan berkembang dengan pesat seiring perkembangan ilmu pengetahuan, meskipun perkembangannya sangat cepat terdapat beberapa hal yang belum dapat dipecahkan dalam dunia medis yaitu penyakit mistik/ non medis. Percaya atau tidak banyak masyarakat mengalami penyakit tersebut yang tidak dapat disembuhkan dalam ilmu pengobatan modern yang kemudian dapat tersembuhkan hanya dengan bantuan obat herbal yang diramu oleh balian/ penekun pengobatan usadha Bali. Dalam proses pengobatannya balian melibatkan energi alam semesta melalui pranayama dan samadhi. Ajaran filsafat yoga asanas dipegang teguh, serta diterapkan dalam proses pengobatan. Untuk mengkaji hal tersebut tentunya akan dilaksanakan penelitian melalui metode kualitatif sebagai dasar pelaksanaan penelitian. Metode pengumpulan data berdasarkan observasi, wawancara, dan metode kepustakaan sebagai pendukung hasil penelitian lapangan, yang kemudian di sajikan dalam bentuk deskrifsi kualitatif. Pengobatan alternative usadha Bali masih eksis dilaksanakan oleh masyarakat umum terlihat dari antusian masyarakat yang berobat cukup tinggi, begitu juga pemerintah berupaya memfasilitasi Balian diberikan kedudukan di rumah sakit umum untuk melakukan praktek pengobatan. Swadharma seorang balian adalah melakukan pengobatan kepada pasien yang berobat sesuai kode etik balian dalam melakukan pengobatan. Balian berperan sebagai pengobat/ yang mempraktekkan ilmu pengobatan warisan leluhur, sarana yang dipergunakan pun adalah tanaman herbal. Selain itu balian di Bali dalam melakukan pengobatan melakukan kolaborasi dengan filsafat yoga asana khususnya pranayama dan samadhi, kedua hal tersebut menjadi ilmu wajib yang dikuasai oleh balian dalam menekuni ilmu pengobatan

    Implementasi Undang-undang Nomor 44 Tahun 2008 Tentang Pornografi (Studi Kasus Aplikasi Bigo Live Sebagai Sarana Komunikasi Sosial)

    No full text
    This scientific article analyzes the application of the Pornography Law to the actions of Bigo Live / Host Bigo Live application users, using content analysis or content related to communication logic, that every communication always contains a message in the communication signal. In this study using a participant approach where the author participates in the development of the use of the Bigo Live application, when the research is carried out for three months. The results of this study are the large number of Bigo Live application service users, whether spectators or hosts, who violate the Law on Pornography, use of the application is misused to meet sexual needs, and hosts who are usually women show a lot of content that should be regulated in the law pornography.Artikel ilmiah ini menganalisis tentang penerapan Undang-undang Pornografi terhadap tindakan pengguna aplikasi Bigo Live / Host Bigo Live, dengan menggunakan analisis isi atau konten yang berhubungan dengan logika komunikasi, bahwa setiap komunikasi selalu berisi pesan dalam signal komunikasi. Dalam penelitian ini menggunakan pendekatan partisipan dimana penulis berpartisipasi dalam perkembangan penggunaan aplikasi Bigo Live, waktu penelitian dilaksanakan selama tiga bulan. Hasil dari penelitian ini adalah banyaknya pengguna layanan aplikasi Bigo Live baik itu penonton ataupun host, yang melanggar Undang-undang tentang Pornografi, penggunaan aplikasi disalahgunakan untuk memenuhi kebutuhan seksual, dan para host yang biasanya wanita banyak menampilkan konten yang semestinya telah diatur dalam undang-undang pornografi

    Kepemimpinan Hindu Dalam Cerita Tantri Nandhaka Harana

    Get PDF
    Tantri Nandhaka Harana adalah nama sebuah buku cerita yang di dalamnya terdapat cerita-cerita mengenai kehidupan binatang dan manusia dalam bentuk pupuh dan kidung. Cerita Tantri Nandhaka Harana adalah mengandung kiasan-kiasan yang indah dan bermanfaat bagi hidup dan kehidupan. Cerita Tantri Nandhaka Harana mengandung ajaran kepemimpinan agama Hindu yang dapat memberikan gambaran kepada pemimpin Hindu untuk menjadi pemimpin yang berkarakter. Seorang pemimpin di dalam cerita Tantri Nandhaka Harana harus berpedoman atas dharma, karena dengan dharma maka seorang pemimpin dapat mencapai moksa. Pemimpin hendaknya memiliki etika yang baik, menerapkan prinsip tri kaya parisudha, yaitu berpikir yang baik (manacika parisudha), berkata yang baik (wacika parisudha), dan berbuat yang baik (kayika parisudha). Kata Kunci: kepemimpinan Hindu, cerita Tantri Nandhaka Haran

    Kedudukan Prinsip Kehati-Hatian Terhadap Sifat Perjanjian Baku Dalam Pemberian Kredit Perbankan

    No full text
    The purpose of this study is to describe the position of the prudential principle towards the nature of standard agreements in the provision of bank credit. The method used is normative juridical by analyzing statutory regulations and library materials systematically in order to provide meaning and answer legal problems. The results of this study suggest that a standard agreement made unilaterally cannot be interpreted as a loss for the debtor, but rather a form of embodiment of the mandate of Law Number 10 of 1998 Article 29 paragraph 3 to avoid losses for the bank and customers.Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan Kedudukan Prinsip kehati-hatian terhadap sifat perjanjian baku dalam pemberian kredit perbankan. Metode yang digunakan adalah yuridis normatif dengan melakukan analisis terhadap peraturan perundang-undangan serta bahan pustaka secara sistematis guna memberikan makna dan menjawab permasalahan hukum. Hasil dari penelitian ini mengemukakan bahwa perjanjian baku yang dibuat secara sepihak tidak dapat diartikan sebagai sebuah kerugian bagi debitur, melainkan bentuk perwujudan amanat Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 Pasal 29 ayat 3 untuk menghindari kerugian bagi pihak bank dan nasabah

    Implementasi dan Implikasi Awig-awig dalam Konsep Tri Hita Karana pada Kehidupan Masyarakat Adat Bali

    No full text
    Awig-awig is a legal product of a traditional organization in Bali, which is made deliberately by consensus by all members. These rules serve as guidelines for the behavior of the members of the organization concerned. Every traditional village has awig-awig which is based on the Tri Hita Karana philosophy (three basic principles of happiness). Parahyangan, namely customary rules that govern the lives of members of the community in establishing a harmonious relationship with the God, Pawongan, namely customary rules regarding relationships between humans in certain customary villages, Palemahan, namely Awig-awig which regulates how the relationship between members of the traditional village and nature the surroundings. The application of awig-awig encounters several obstacles, namely the lack of understanding of the people regarding awig-awig, the lack of firmness in giving sanctions, the lack of a sense of togetherness. Awig-awig implications for the implementation of Tri Hita Karana to strengthen the application of Tri Hita Karana which is very influential on human life. If the agreed awig-awig is implemented properly, then the Tri Hita Karana concept indirectly has been implemented properly so that Hindu harmony can be established in the traditional village.Awig-awig adalah suatu produk hukum dari suatu organisasi tradisional di Bali, yang dibuat secara musyawarah mufakat oleh seluruh anggota. Aturan tersebut berlaku sebagai pedoman bertingkah laku dari anggota organisasi yang bersangkutan. Setiap desa adat mempunyai awig-awig yang berlandaskan falsafah Tri Hita Karana (tiga dasar kebahagian). Parahyangan, yaitu aturan adat yang mengatur tentang kehidupan anggota masyarakatnya dalam menjalin hubungan yang harmonis dengan sang Pencipta, Pawongan yaitu aturan adat tentang hubungan antara sesama manusia dalam desa adat tertentu, Palemahan, yaitu Awig-awig yang mengatur tentang bagaimana hubungan anggota desa adat dengan alam sekitarnya. Penerapan awig-awig menemui beberapa kendala yaitu kurangnya Pemahaman Umat Mengenai Awig-Awig, kurangnya Ketegasan dalam Pemberian Sangsi, kurangnya Rasa Kebersamaan. Implikasi awig-awig terhadap pelaksanaan Tri Hita Karana untuk memantapkan penerapan Tri Hita Karana yang sangat berpengaruh terhadap kehidupan manusia. Jika awig-awig yang telah disepakati tersebut diterapkan dengan baik maka secara tidak langsung konsep Tri Hita Karana sudah diterapkan dengn baik sehingga terjalinlah kerukunan umat Hindu di dalam desa adat

    Pola Konsumsi Makanan Satwika Pada Bhakta Hare Krishna di Sri Sri Krishna Balarama Ashram Denpasar

    No full text
    Food is a means of survival. In terms of food, humans have each associated with food consumption patterns. In this research, what is interesting is that Bhakta Hare Krishna in Sri Sri Krishna Balarama Ashram Denpasar has a different food consumption pattern than the general public. Bhakta Hare Krishna in Sri Sri Krishna Balarama Ashram Denpasar does not provide food containing meat, fish, and eggs. This food consumption pattern is called the satwika food consumption pattern. About the observations in this paper related to the pattern of consumption of satwika food at Bhakta Hare Krishna in Sri Sri Krishna Balarama Ashram Denpasar.In further observation of functional choice theory and structural functionalism became a knife of analysis to reveal patterns of consumption of satwika food at Bhakta Hare Krishna at Sri Sri Krishna Balarama Denpasar Ashram. Bhakta Hare Krishna applies the pattern of consumption of satwika food based on the applicable provisions, rational choice of devotees, and functional for life both physical and spiritual life. Satwika food consumption patterns indicate five agreed components (1) how to obtain satwika food ingredients, (2) types of satwika food ingredients, (3) satwika food menu, (4) how to process satwika food, and (5) how to serve satwika food. As well as the implications obtained from the application of the satwika food consumption patterns have physical, mental and spiritual implications. Keywords: Satwika Food Consumption Pattern, Bhakta Hare Krishna, Sri Sri Krishna Balarama Ashram DenpasarMakanan merupakan sarana untuk bertahan hidup. Dalam hal makanan, manusia memiliki kebudayaan masing-masing mengenai pola konsumsi makanan. Pada penelitian ini, yang menarik adalah Bhakta Hare Krishna di Sri Sri Krishna Balarama Ashram Denpasar memiliki pola konsumsi makanan tersendiri yang berbeda dengan masyarakat pada umumnya. Bhakta Hare Krishna di Sri Sri Krishna Balarama Ashram Denpasar tidak mengkonsumsi makanan yang mengandung daging, ikan, dan telur. Pola konsumsi makanan ini disebut dengan pola konsumsi makanan satwika. Adapun pengamatan dalam tulisan ini adalah terkait dengan pola konsumsi makanan satwika pada Bhakta Hare Krishna di Sri Sri Krishna Balarama Ashram Denpasar. Dalam pengamatan lebih lanjut teori pilihan rasional dan fungsionalisme struktural menjadi pisau analisis untuk mengungkap pola konsumsi makanan satwika pada Bhakta Hare Krishna di Sri Sri Krishna Balarama Ashram Denpasar.             Secara hasil pengamatan ini diperoleh hal-hal yang mendorong Bhakta Hare Krishna menerapakan pola konsumsi makanan satwika didasari oleh aturan yang berlaku, pilihan rasional bhakta, dan fungsional terhadap kehidupan baik kehidupan jasmani maupun spiritual. Pola konsumsi makanan satwika menunjukkan lima komponen yang berlaku diantaranya (1) cara memperoleh bahan makanan satwika, (2) jenis-jenis bahan makanan satwika, (3) menu makanan satwika, (4) cara mengolah makanan satwika, dan (5) cara menghidangkan makanan satwika. Serta implikasi yang diperoleh dari penerapan pola konsumsi makanan satwika berimplikasi terhadap fisik, mental dan spiritual. Kata Kunci: Pola Konsumsi Makanan Satwika, Bhakta Hare Krishna, Sri Sri Krishna Balarama Ashram Denpasa

    302

    full texts

    711

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    E-Journal Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang Palangka Raya
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇