E-Journal Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang Palangka Raya
Not a member yet
711 research outputs found
Sort by
PERKAWINAN SALA HURUI PADA MASYARAKAT SUKU DAYAK DI KABUPATEN KATINGAN
Sala hurui marriage is one type of marriage which in principle is strictly prohibited by the Dayak tribe community. But empirically, even though it was banned, this incident still happened as in the research conducted in several villages in Katingan District. Even this prohibition is written down in the form of adat rules or adat law. When this happens it is called manantarang hadat. This research focuses on problems related to the form of sanctions and goals that are accepted for people who to do sala hurui marriage.
Theories used to help uncover the problem are the theory of relative criminal and the theory of legal reception. While the data collection method is by interview and document study. While analyzing the data by grouping the data and then doing verification to the conclusion stage.
The results of the analysis conducted there are two forms of sanctions in sala hurui marriages namely moral sanctions and traditional rituals sanctions. While the purpose of sanctions is to clean the perpetrators of animalistic qualities and purify again in order to obtain the descent that is expected. In addition, the purpose of other sanctions is to restore the balance of the cosmos.Perkawinan sala hurui merupakan salah satu jenis perkawinan yang pada prinsipnya sangat dilarang oleh masyarakat suku Dayak. Tetapi secara empirik meskipun hal tersebut memperoleh larangan tetap saja peristiwa ini terjadi sebagaimana ditempat penelitian yang dilakukan di beberapa desa Kabupaten Katingan. Bahkan larangan ini dituangkan secara tertulis menjadi aturan adat atau hukum adat. Apabila ini terjadi maka disebut dengan manantarang hadat. Penelitian ini memfokuskan pada masalah yang berhubungan dengan bentuk sanksi dan tujuan yang diterima bagi orang yang melakukan hubungan perkawinan salah hurui.
Teori yang dipergunakan dalam membantu mengungkap masalah adalah teori pemidanaan relatif dan teori resepsi hukum. Sedangkan metode pengumpulan data adalah dengan wawancara dan studi dokumen. Sementara analisis data dengan melakukan pengelompokan data dan selanjutnya melakukan verifikasi hingga pada tahap penyimpulan.
Dari hasil analisis yang dilakukan terdapat dua bentuk sanksi dalam perkawinan sala hurui yaitu sanksi moral dan sanksi upacara adat. Sedangkan tujuan sanksi tersebut adalah membersihkan pelaku dari sifat-sifat kebinatangan dan menyucikan kembali agar memperoleh keturunan yang di harapkan. Selain itu tujuan sanksi lainnya adalah mengembalikan keseimbangan kosmos
Dynamic Ideology of Traditionality in Developing Holy Places at Hindus Family in Cakranegara Territory Mataram City
This study aims to examine the dynamics of traditionality ideology in building holy place among Hindus families in Cakranegara territory, Mataram city. This research was designed in the type of interpretative qualitative research using a case study model. Data collection techniques through observation, interviews, and documentation. Data were analyzed through the stages of classification, reduction, and interpretation. Tri angulation techniques, both tri angulation methods and tri angulation of data sources were used to check the validity of the data. The results showed that the dynamics of traditional ideology in building holy place of Hindu families had been indicated by transformation of cultural traditions at Hinduism practices in four dimensions. First, the position of placing the holy place later no longer applies traditional concepts in a rigid and standard manner. Second, with regard to the spatial size in the construction of holy place in at Hindu families is no longer fixed on the size of the spatial layout that is traditionally applied but adjusted to the situation and condition of karang paumahan (area of home). Third, the form of holy has adapted to the inclusion of external culture. Fourth, the number of pelinggih (holiy place buildings) tends to decrease, especially in the relatively small area of home.
Keywords: dynamics, traditionality ideology, holy place, Hindu families
Bhakti Marga Yoga sebagai Penangkal Pengaruh Negatif Penggunaan Teknologi Komunikasi
Perkembangan teknologi komunikasi menjadikan banyak perubahan baik itu dari perilaku, sosial, budaya bahkan kesemua sektor. Perubahan ini yang menjadikan masyarakat akan beketergantungan terhadap teknologi komunikasi. Tanpa disadari perkembangan teknologi komunikasi memberikan pengaruh negatif dalam pemanfaatannya. Sehingga perlu adanya peningkatan keimanan (religi) dalam hal ini pelaksanaan Bhakti Marga Yoga sebagai bentuk cinta kasih yang tulus kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Tujuan dari penelitian ini adalah : 1) Mengetahui pelaksanaan Bhakti Marga Yoga dalam kehidupan sehari-hari; 2) Mengetahui dampak penggunaan teknologi komunikasi; 3) Mengetahui implementasi Bhakti Marga Yoga dalam menangkal pengaruh negatif penggunaan teknologi komunikasi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan sumber data yang diperoleh berdasarkan referensi yang relevan terhadap permasalahan yang diangkat. Hasil didapat menunjukan bahwa pelaksanaan Bhakti Marga Yoga dapat menumbuhkan rasa cinta dan bahagia dalam diri sendiri sehingga akan berdampak positif bagi sesama dan alam semesta dalam bentuk perilaku dan pengendalian diri dari perbuatan yang tidak baik. Hal ini yang menunjukan bahwa dengan meningkatkan bhakti kepada Tuhan Yang Maha Esa/Ida Sang Hyang Widhi Wasa rasa mencinta dan menyayangi antara sesama manusia akan tumbuh dari dalam diri sehingga manusia dapat mengantisipasi dan menangkal pengaruh negatif dalam penggunaan teknologi komunikasi
Pelaksanaan Upacara Balian belaku Untung Menurut Agama Hindu Kaharingan Hindu Kaharingan Di Kota Palangka Raya
Bagi Masyarakat Kalimantan Tengah Khususnya Agama Hindu Kaharingan di Kota Palangka Raya terdapat suatu upacara yaitu upacara Ritual Balian Balaku Untung .Balian Balaku Untungmerupakan ritualyang sangat sakral dan tidak dapat dilaksanakan berulang kali yang sifatnya berkaitan dengan manifetasi Ranying Hatalla dan hanya dapat dilaksanakan apabila sudah melewati beberapa tahap balian seperti; Balian Manyakidan Balian Mambuhul. Balian Balaku Untungtergolong dalam upacara ritual keselamatan dan permohonan umat Hindu Kaharingan yang harus melalui beberapa tahapan .Upacara Ritual Balian Balaku Untung Bagi umat Hindu Kaharingan diKota Palangka Raya merupakan sebagian ritual besar umat Hindu kaharingan. ”Ritual” merupakan serangkaian kegiatan yang dilaksanakan berdasarkan suatu agama atau bisa juga berdasarkan tradisi. Kegiatan-kegiatan dalam ritual biasanya sudah diatur dan ditentukan, dan tidak dapat dilaksanakan secara sembarangan.. “Balian” adalah seseorang yang bekerja pada sebuah ritual yang bertugas untuk berurusan dengan dunia atas dan dunia bawah dari para leluhur atau orang suci manifestasi Ranying Hatalla.Makna Dari Upacara Ritual Balian Balaku Untung dapat disimpulkan ke dalam beberapa Makna yaitu Makna Religius, Makna Budaya, dan Makna Keharmonisa
PERILAKU BERBUSANA REMAJA PUTRI PADA SAAT PERSEMBAHYANGAN DI PURA AGUNG WANA KERTHA JAGATNATHA KOTA PALU
The purpose of this study are, knowing the behavior of female teenage dress attitudes at the Agung Wana Kertha Jagatnatha Temple Palu City and knowing the factors that influence the behavior of the teenage girl dressing during prayers at Agung Wana Kertha Jagatnatha Temple Palu City, and the impact of dress behavior teenage girl during prayers at the Agung Wana Kertha Jagatnatha Temple Palu City. The design of this study uses qualitative methods. The target of the study is young women aged 18-21 years. The research instrument was in the form of indepth interview. Data research techniques in this study were observation, interviews, and documentation. The qualitative data analysis technique in this study uses the Creswell data analysis technique. Test the validity of using triangulation. The results showed that female teenage dress behavior during prayers at the Agung Wana Kertha Jagatnatha Temple palu city was more likely to use custom clothing that had been modified. personal, as well as wrong parental behavior in wearing custom clothing. The impact caused by female teenage dress behavior during prayer at Agung Wana Kertha Jagatnatha temple, Palu City, disturbs the opposite sex concentration during praying at the temple and can cause jealousy and grouping among young women, because not everyone can afford kebaya’s modification.Tujuan penelitian ini yaitu, mengetahui perilaku berbusana remaja putri saat persembayangan di Pura Agung Wana Kertha Jagatnatha Palu, mengetahui faktor – faktor yang mempengaruhi perilaku berbusana remaja putri saat persembayangan di Pura Agung Wana Kertha Jagatnatha Palu, dampak dari perilaku berbusana remaja putri saat persembayangan di Pura Agung Wana Kertha Jagatnatha Palu. Desain penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Sasaran penelitian adalah remaja putri berusia 18-21 tahun. Instrumen penelitian berupa indepth Interview. Teknik penelitian data dalam penelitian ini adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data kualitatif dalam penelitian ini menggunakan teknik analisis data Creswell. Uji validitas menggunakan triangulasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa perilaku berbusana remaja putri saat persembayangan di Pura Agung Wana Kertha Jagatnatha palu lebih cenderung menggunakan busana adat yg sudah dimodifikasi, faktor yang mempengaruhi perilaku remaja putri adalah kurangnya pengetahuan tentang budaya adat, keinginan pribadi, perkembangan informasi, dukungan sosial, serta otonomi pribadi, serta perilaku orang tua yang salah dalam memakai pakaian adat. Dampak yang ditimbulkan akibat perilaku berbusana remaja putri saat persembahyangan di Pura Agung Wana Kertha Jagatnatha Kota Palu yakni mengganggu konsentrasi lawan jenis saat persembahyangan di Pura dan dapat menimbulkan kecemburuan dan pengelompokkan dikalangan remaja putri, karena tidak semua orang mampu membeli kebaya modifikasi
Penanggulangan Tindak Pidana Terorisme Di Wilayah Kedamangan Kecamatan Timpah Kabupaten Kapuas
Nilai Pancasila yang lahir dari nilai budaya dan nilai hukum yang hidup dan berkembang di dalam masyarakat Indonesia memiliki relevansi, sehingga penguatan nilai-nilai hukum adat yang selaras dengan Pancasila sangat penting untuk diterapkan dan digelorakan agar masyarakat semakin memahami kepribadian bangsa yang bersumber dari kearifan lokal yang ada dalam masyarakat Indonesia dengan tetap berpegang kepada Pancasila dan UUD 1945 sebagaimana konsideran Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2018 Tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 Tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme. Maksud dari pemberantasan secara khusus adalah fokus melakukan penanggulangan secara masif dan holistik atau menyeluruh dalam hal membendung segala macam tindakan yang dapat melahirkan tindak pidana terorisme yang dapat mengancam keamanan dan kedaulatan negara.Tindakan penanggulangan secara masif dan menyeluruh yang salah satunya termasuk dalam penanggulangan melalui Hukum Adat Dayak atau kearifan lokal masyarakat Adat Dayak. Penanggulangan tindak pidana terorisme melalui Hukum Adat Dayak sangat berguna dalam hal pencegahan, melalui penguatan prinsip dan nilai-nilai hukum adat dayak, karena sebagaimana diketahui paham-paham radikalisme anti Pancasila yang melahirkan tindak pidana terorisme berasal dari luar Indonesia, sehingga perlu dicegah dan dinetralisir agar jangan sampai menyebar dikalangan masyarakat, terutama masyarakat adat dayak di wilayah Kedamangan Kecamatan Timpah Kabupaten Kapuas. Kedamangan Kecamatan Timpah Kabupaten Kapuas memiliki Dasar hukum dalam penanggulangan tindak pidana Terorisme meliputi Peraturan Daerah Provinsi Kalimantan Tengah Nomor 16 Tahun 2008 tentang Kelembagaan Adat Dayak di Kalimantan Tengah. Kelambagaan Adat Dayak dalam hal ini Kedamangan yang secara turun temurun telah ada dan melekat dengan kehidupan masyarakat adat dayak memiliki kewenangan untuk mengatur dan menyelesaikan semua permasalahan yang ada di dalam masyarakat adat dayak, kebiasaan atau adat istiadat yang hidup dan berkembang di masyarakat adat Dayak sudah ada sebelum adanya hukum Nasional terbentuk
Izin Pertambangan Rakyat Dalam Konteks Penerapan Sanksi Pidana
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui mekanisme perizinan pertambangan rakyat dan penerapan sanksi pidana terhadap pelaku yang tidak memiliki izin pertambangan rakyat. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode penelitian hukum normatif, dengan pendekatan perundang-undangan dan konseptual. Adapun bahan hukum yang digunakan adalah bahan hukum primer, bahan hukum sekunder dan bahan hukum tersier yang didapat melalui studi kepustakaan. Hasil dari penelitian ini adalah izin pertambangan rakyat di dapat melalui permohonan kepada menteri, dan diberikan di dalam wilayah pertambangan rakyat yang sebelumnya sudah ditetapkan terlebih dahulu dan sanksi pidana kurungan yang diberikan kepada pelaku lebih ringan akan tetapi pidana denda diperbesar, atau lebih mengutamakan pembayaran denda dan ganti kerugian sebagai akibat perbuatan pidana
Agama Dalam Konteks Bernegara Berdasarkan Pancasila
Religion in the state is made as a foundation the state, the life in state is inseparable from the value of God which is realized in the doctrines of religion. Pancasila as the philosophy of the Indonesian people has an important role in protective the unity and integrity of the nation. The degenerate in the understanding of Pancasila in Indonesia led to the rise of radicalism that could oppose the integrity of the Indonesian Republic, that it was worthy of being understood and the practice of Pancasila was revived. The people must understand the goals and ideas of the state regarding the concept of nationalism and the insight of Indonesian nationality, the practice religion in the state and used the principle of God through religious doctrines in the relations of Pancasila and The Constitution of the Republic of Indonesia of 194
IMPLEMENTASI NILAI ETIKA HINDU PADA GEGURITAN NI SUMALA
Geguritan adalah satu bentuk karangan dalam kesusastraan Bali yang disusun dengan menggunakan pupuh-pupuh. Salah satu Karya Sastra tersebut terdapat dalam Geguritan Ni Sumala yang menyebutkan perjalanan hidup yang dialami oleh anak cacat dan tidak mempunyai sanak keluarga. Anak itu selalu dicemooh oleh temannya, dihina dalam masyarakat tapi akhirnya ia menemukan kebahagiaan. Geguritan Ni Sumala bukan saja merupakan karya sastra klasik yang sangat indah namun disamping itu mengandung nilai-nilai pendidikan etika yang sangat dalam maknanya. Disamping itu Geguritan Ni Sumala banyak mengandung nilai-nilai pendidikan yang sangat perlu diketahui dan dipahami oleh masyarakat luas. Dengan timbulnya anggapan yang negatif bahwa geguritan maupun cerita rakyat adalah karya cipta yang sangat ketinggalan jaman, sehingga tak perlu lagi untuk dipelajari dan diteruskan kepada generasi berikutnya