E-Journal Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang Palangka Raya
Not a member yet
711 research outputs found
Sort by
Etika Ritual Hindu di Bali Menghadapi Masa Pandemi
Theologically, Hindus have three basic frameworks that serve as guidelines in carrying out their religious life. Tattwa which is the philosophical substance of every activity and symbol; morality which is a supporting virtue which plays an important role in the order of everyday human life; as well as acara which include ritual activities, which implement tattwa and moral values in the form of a more real religious system in the cultural dimension. Ritual activities or sacred actions carried out by Hindus are an expression of the meaning of the yajna or holy sacrifices that are sincere. The Hindu religious ritual can be performed every day or on certain holy days, which is a form of gratitude and devotion to the Lord Almighty by Hindus. Without an event, religion is just a set of teachings that will not appear in the phenomenal world. Since the Covid-19 pandemic until now, the government has issued a “new normal” policy. This concerns many aspects of community life, including in the religious field. All religious activities, especially those carried out by the Balinese Hindu community, are limited. Changes in social behavior in the implementation of religious rituals have experienced a revolution that can be seen that if we observe more closely, today's society prioritizes security ethics but does not reduce the meaning of rituals, so that the implementation of religious activities is not buried in activities in the pandemic period.Secara teologis, umat Hindu memiliki tiga kerangka dasar yang dijadikan pedoman dalam menjalankan kehidupan beragama. Tattwa yang sebagai substansi filosofi setiap aktivitas dan simbol; susila yang menjadi keutamaan penunjang yang memegang peranan penting bagi tata kehidupan manusia sehari-hari; serta acara yang di dalamnya termasuk aktivitas ritual, yang mengimplementasikan nilai-nilai tattwa dan susila dalam wujud tata keberagamaan yang lebih riil dalam dimensi kebudayaan. Aktivitas ritual atau perbuatan sacral yang dilaksanakan oleh umat Hindu merupakan sebuah ekspresi dari pemaknaan yajna atau korban suci yang tulus ikhlas. Ritual agama Hindu tersebut dapat dilakukan setiap hari maupun hari pada hari suci tertentu, yang merupakan wujud rasa syukur dan bhakti umat Hindu kehadapan Tuhan Yang Mahaesa. Tanpa adanya acara, agama hanyalah seperangkat ajaran yang tidak akan nampak dalam dunia fenomenal. Semenjak masa pandemic covid-19 hingga saat ini, pemerintah mengeluarkan kebijakan “new normal”. Hal ini menyangkut banyak aspek kehidupan masyarakat, tidak terkecuali pada bidang keagamaan. Segala aktivitas keagamaan khususnya yang dilaksanakan oleh masyarakat Hindu Bali, mengalami keterbatasan. Perubahan perilaku sosial dalam pelaksanaan ritual ini mengalami sebuah revolusi yang dapat dilihat yang jika diamati lebih cermat, masyarakat saat ini lebih mendahulukan etika keamanan namun tidak mengurangi makna dari ritual yang dilaksanakan, sehingga pelaksanaan aktivitas keagamaan tidak terkubur dalam aktivitas di masa pandemi
Penerapan Model Pembelajaran Think Pair And Share Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Smp Pasraman Jagadnatha Kota Palu
to improve the quality of human resources which will produce output that is faithful to high morality, productive and innovative. A learning cannot be separated from the learning model itself. To improve student learning outcomes, the researchers applied the Think Pair and Share learning model to the Veda material in order to actively involve students in finding creative ideas and being able to solve problems. This study aims to determine the increase in learning outcomes of class VII students of SMP Pasraman Jagadnatha, Palu City. This type of research is a classroom action research conducted in 2 cycles using the Kemmis & Mc. Taggart models. The results showed that there was an increase in student learning outcomes where in cycle I classical learning completeness increased to 62.5% and classical absorption reached 80.37% while cycle II classical learning completeness increased to 93.75% and classical absorption of 85.68 %. The performance indicators in this study have been successful so that it can be concluded that the application of this learning model can improve the learning outcomes of seventh grade students of SMP Pasraman Jagadnatha, Palu City.
Kata Kunci : Think Pair and Share, Learning Outcomes, Pasraman JagadnathaPembelajaran pendidikan Agama Hindu merupakan bagian dari pendidikan yang ikut bertanggungjawab dalam usaha meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang akan melahirkan output yang beriman dengan moralitas tinggi, produktif dan inovatif. Suatu pembelajaran tidak akan lepas dengan model pembelajaran itu sendiri. Untuk meningkatkan hasil belajar siswa, maka peneliti menerapkan model pembelajaran Think Pair and Share pada materi Kitab Suci agar dapat melibatkan siswa secara aktif menemukan ide-ide kreatif dan mampu memecahkan masalah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa kelas VII SMP Pasraman Jagadnatha Kota Palu. Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dalam 2 siklus dengan menggunakan model Kemmis & Mc. Taggart. Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat peningkatan hasil belajar siswa dimana pada siklus I ketuntasan belajar klasikal meningkat menjadi 62,5% dan daya serap klasikal mencapai 80,37% sedangkan siklus II ketuntasan belajar klasikal meningkat menjadi 93,75% dan daya serap klasikal 85,68%. Indikator kinerja dalam penelitian ini telah berhasil sehinggal dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran ini dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas VII SMP Pasraman Jagadnatha Kota Palu.
Kata Kunci : Think Pair and Share, Hasil Belajar, Pasraman Jagadnath
Paralelisme Metafisika Schopenhauer dan Advaita Vedanta: Sebuah Analisis Studi Komparatif
Schopenhauer is believed to be influenced by Hindu and Budha doctrine. This belief raises objections from most philosophers and believes that Schopenhauer formulates his doctrine by himself instead. They believe that Schopenhauer only takes some of the Indian philosophy that he uses to justify his doctrine. Otherwise, some philosophy commentators view that Indian philosophy has an essential role in Schopenhauer's ideas formulation. However, regardless of whether there is or not the influence of Indian philosophy, Schopenhauer's metaphysics and Advaita Vedanta are on the same track. This study aims to show the similarity and also the difference between the two subjects. This study uses comparative analysis. This study concludes that even though the two subjects take a different track, use different arguments, terms, and concepts, they yield identical conclusions: the perceived word is the phenomenon that has only one nature, come from the only metaphysical power. In Schopenhauer's formulation, substratum, essence, core essence, and the world supporter is the only thing-in-itself. Plurality is only possible because of the existence of subjective space, time, and causality. The plurality in the world is the appearance of the thing-in-itself, that only one and undifferentiated in itself. Meanwhile, in Advaita Vedanta, Brahman is the true single reality from which everything in the world comes. The distinction between subject, object, and plurality has completely vanished. The phenomenal world that full of plurality and duality is an illusion of the individual (jiva) is considered real because of the individual’s ignorance. And then self is considered has different nature with Brahman. When the pure consciousness is reached, we will realize that The True Self or Atman is the unity with Brahman.Selama ini berkembang keyakinan bahwa Schopenhauer terpengaruh oleh pemikiran Hindu dan Budha. Sebagian besar menolak pandangan ini, dan percaya Schopenhuaer memformulasikan sistem filsafatnya secara mandiri, dan hanya menggunakan bagian filsafat India yang sekiranya dapat membenarkan doktrinnya. Sebaliknya, beberapa komentator menilai filsafat India memang mempunyai peran esensial dalam pembentukan gagasan filsafat Schopenhauer. Namun, terlepas dari ada atau tidaknya pengaruh, metafisika Schopenhauer dan ajaran Advaita Vedanta sangat paralel. Penelitian ini bertujuan untuk menunjukkan kemiripan, dan juga perbedaan, anatar kedua subjek tersebut. Metode yang digunakan dalam artikel ini adalah analisis studi komparatif. Dari hasil penelitian, disimpulkan bahwa meskipun keduanya mengambil rute yang berbeda, memakai argumen, term, dan konsep yang berlainan, kesimpulan yang dihasilkan identik: dunia yang kita persepsi adalah tampakan bersumber pada kekuatan metafisik yang esa. Dalam rumusan Schopenhauer, substratum, esensi inti, dan penopang dunia adalah thing-in-itself yang satu. Pluralitas hanya mungkin berkat kehadiran ruang, waktu, dan kausalitas yang sifatnya subjetif. Keberagaman di dunia tampakan adalah perwujudan dari thing-in-itself, yang pada dirinya tunggal dan tak dapat dibedakan. Sementara dalam Advaita Vedanta, Brahman adalah Realitas sejati yang tunggal, yang darinya segala yang ada di semesta berasal, di mana pemisahan antara subjek dan objek serta keberagaman musnah seluruhnya. Dunia tampakan yang penuh dengan keberagaman dan dualitas adalah ilusi yang oleh diri individual (jiva) dianggap nyata karena ketidaktahuannya. Diri kemudian dianggap memiliki hakikat yang berbeda dengan Brahman. Ketika kesadaran murni yang sempurna tercapai, kita akan menyadari Diri Sejati atau Atman adalah satu kesatuan dengan Brahman
Konsep Dasar Manajemen Pendidikan Hindu
Tujuan tulisan ini adalah untuk mengali dan memberikan deskripsi konsep dasar menajemen pendidikan Hindu yang diterapkan dalam pendidikan Hindu. Menajemen pendidikan Hindu adalah suatu proses, cara, metode dalam pendidikan Hindu memberdayakan sumber daya manusia yang ada agar mencapai tujuan yang efektaif dan efesien. Pola Pendidikan Hindu mengunakan ajaran dan konsep-konsep Hindu sebagai landasan dan inspirasi untuk mengembangkan pendidikan, baik dari visi, misi, tujuan, capaian pembelajaran metode pengajaran, strategi pembelajaran serta metode evaluasinya. Pendidikan agama Hindu adalah upaya sadar dan terencana menyiapkan peserta didik mengenal, memahami, menghayati hingga mengimani dan berahlak mulia dalam mengamalkan ajaran agama Hindu dari sumber utama (kitab suci) seperti Sruti, Smrti, Sila, Acara dan Atmanastuti yang menghendaki perubahan sikap dan perilaku secara menyeluruh, utuh dan integral. Manajemen pendidikan Hindu disusun untuk menghadapi tantangan pendidikan dimasa depan
ETIKA HINDU DALAM PELAKSANAA UPACARA TUMPEK UYE PADA MASYARAKAT HINDU DI BALI
Abstract
The implementation of Hindu religious teachings cannot be separated from three religious frameworks, namely; tattwa, morals, and ceremonies. The three of them are always related in every religious ceremony. One of them is the Tumpek Uye ceremony which is carried out with respect to animals, as well as worshiping Sang Hyang Pasupati or called Sang Hyang Rare Angon. This paper tries to describe the Tumpek Uye ceremony performed by the Hindu community in Bali. This paper uses a qualitative type that describes the object of writing and then examines the values contained in it, and is presented with a qualitative descriptive. The descriptions of the discussion of this paper are; Tumpek Uye ceremony is one of the religious ceremonies that is carried out as a form of respect for living creatures, especially pets whose existence is so supportive of human life. The Tumpek Uye ceremony shows the realization of the teachings of Hindu ethics in which humans view animals as creatures that need moral treatment. Animals are not only objects but also moral subjects.Abstrak
Pelaksanaan ajaran agama Hindu tidak terlepas dari tiga kerangka agama yakni; tattwa, susila, dan upacara. Ketiganya selalu terkait dalam setiap kegitaan upacara agama. Salah satunya yaitu upacara Tumpek Uye yang dilaksanakan dengan pengormatan kepada hewan, serta melakukan pemujaan kepada Sang Hyang Pasupati atau disebut dengan Sang Hyang Rare Angon. Pada tulisan ini mencoba menguraikan tentang upacara Tumpek Uye yang dilakuakn oleh masyarakat Hindu di Bali. Tulisan ini menggunakan jenis kualitatif yang mendiskrifsikan mengenai obyek tulisan lalu dikaji nilai yang terkandung didalamna, serta disajikan dengan diskritif kualitatif. Adapun diskripsi dari pembahsan tulisan ini yaitu; upacara Tumpek Uye merupakan salah satu upacara keagamaan yang dilakuakn sebagai bentuk pengormatan kepada makluk hidup, terutama hewan peliharaan yang keberadaannya begitu mendukung bagi kehidupan manusia. Upacara Tumpek Uye memperlihatkan adanya realisasi ajaran etika Hindu yang dimana, manusia memandang hewan sebagai makluk itis yang perlu mendapt perlakukan moral. Hewan tidak hanya sebagai obyek namun juga subyek moral
Resistensi Marapau terhadap Korporasi Untuk Melindungi Tanah
The establishment of a sugar cane plantation in East Sumba has evoked conflicts and resistance from the local people. The damage to the katoda (sites to perform rituals) portrays one of the other violations causing environmental, cultural, and social damages related to the manipulation of customary land and criminalization of local people. This paper aims to discuss this conflict by accentuating, and also promoting, the paradigm of indigenous religion as a tool to understand the resistance of the Marapu community to protect their land. Indigenous Religion Paradigm implies the inter-subjective relationship between human person and non-human person (nature) in the non-hierarchical cosmology, which carries the commitments of responsibility, ethics, and reciprocity. By using this perspective, this work shows the opposite perspectives of the partnership between the corporation and the local government concerning the economic considerations and Marapu community who maintains their inter-subjective cosmology as opposed to the modern economic view. The land is understood differently by each of them. While the former only grasps the monetary side of the land, the latter religiously perceives the land as sources of life for both human and non-human person and, therefore, protects their land as the commitment to be responsible, ethical, and reciprocal
IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN DARI RUMAH TERHADAP MINAT BELAJAR SISWA DI SMAN-1 BASARANG KABUPATEN KAPUAS
Pandemik covid-19 saat ini membuat pembelajaran agama Hindu tidak dapat dilaksanakan secara langsung. Pembelajaran agama Hindu dilaksanakan dengan metode pembelajaran dari rumah secara dalam jaringan menggunakan aplikasi pembelajaran seperti google classroom, zoom, maupun aplikasi media sosial seperti WhatsApp. Kondisi tersebut dilaksanakan berdasarkan Surat Edaran Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No.4 Tahun 2020 tentang Pelaksanaan Kebijakan Pendidikan dalam Masa Darurat Penyebaran Coronavirus Disease (Covid- 19) dan Surat Edaran Sesjen No. 15 Tahun 2020 tentang pedoman penyelenggaraan belajar dari rumah dalam masa darurat penyebaran Covid-19
Keberhasilan belajar dari rumah sangat ditentukan oleh minat siswa dalam belajar. Siswa yang berminat dalam belajar akan terus tekun belajar, berbeda dengan siswa yang hanya menerima pelajaran tanpa ada niat yang ada dalam dirinya, maka ia tidak tekun dalam belajar Berdasarkan hal tersebut, maka peneliti ingin mengkaji seberapa besar pengaruh pembelajaran dari rumah yang dilaksanakan dengan pembelajaran daring di masa pandemi ini terhadap minat belajar siswa di SMUN-1 Basarang. Siswa yang mengikuti pembelajaran pendidikan agama Hindu di SMAN-1 Basarang memiliki perasaan senang, perhatian siswa, ketertarikan siswa dan keterlibatan siswa selama mengikuti pembelajaran pendidikan agama Hindu baik dilaksanakan dengan daring dari rumah atau pembelajaran tatap muka. Kondisi tersebut menunjukan bahwa siswa memiliki minat belajar yang baik mengikuti pembelajaran pendidikan agama Hindu di SMAN-1 Basarang walaupun pembelajaran dilaksanakan secara tatap muka
Strategi Pencegahan Kejahatan Penculikan Anak Pada Saat Aktivitas Pulang Sekolah
Protection of children is not only an activity and effort of the parents whose obligation to protect their children, but also the effort of all levels of society. The community and the state are obliged to participate in child protection because children are the successors of the nation. The crime of kidnapping children is prone to occur in children who are outside the supervision of parents or the environment of people who care about children, one of the opportunities that is often used by perpetrators to kidnap children is when they come back home from their school. This research is a normative juridical research, by formulating problems namely: 1) What are the factors that cause the crime of kidnapping children after school? 2) What is the strategy in preventing the crime of kidnapping children during activities after school? Factors that cause child abductions are due to the opportunity and negligence of parents or guardians of children in supervising children. Therefore, to prevent kidnapping of children during activities after school, there needs to be cooperation of parents, children, schools, and government participation through the police together to look after and provide protection to children, to prevent kidnapping of children.
 
UPAYA PASRAMAN PADMA BHUANA SARASWATI DALAM MEWUJUDKAN SISYA YANG CERDAS BERBUDAYA
Pasraman Padma Bhuana Saraswati is a parsaman located in the city of Yogyakarta that has a vision to form a cultured Smart Sisya. This study aims to find out how pasraman efforts Padma Bhuana Saraswati in realizing the vision of the institution. This study uses a qualitative approach, so that data collection is done by observation and direct interviews with selected respondents. The results of this study reveal the success of Pasraman Padma Bhuana Saraswati in forming intelligent cultured students, namely: 1. The role of parents, 2. The role of teachers, and 3. The role of managers of pasraman. Of these three factors, the role of parents has a very high influence on the success of postgraduate education in Padma Bhuana Saraswati. Parents have an important role that is directing, reminding and accompanying students during the learning process so that parents often become educators in Pasraman. With these 3 factors, Pasraman Padma Bhuana Saraswati was able to achieve a shared vision and goals. Not only that, until now Pasraman Padma Bhuana Saraswati is very active in community religious and social activities such as Social Service and involvement in national-scale cultural performancesPasraman Padma Bhuana Saraswati merupakan pasraman yang terletak di Kota Yogyakarta yang memiliki visi membentuk Sisya Cerdas Berbudaya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana upaya pasraman Padma Bhuana Saraswati dalam mewujudkan visi lembaga. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, sehingga pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi dan wawancara langsung kepada responden yang telah dipilih. Hasil penelitian ini mengungkapkan keberhasilan Pasraman Padma Bhuana Saraswati dalam membentuk sisya yang cerdas berbudaya yaitu: 1. Peran orang tua, 2. Peran guru, dan 3. Peran pengelola pasraman. Dari tiga faktor tersebut, peran orang tua memiliki pengaruh yang sangat tinggi terhadap keberhasilan pendidikan pasraman Padma Bhuana Saraswati. Orang tua memiliki peran yang penting yaitu mengarahkan, mengingatkan dan menemani sisya selama pembelajaran berlangsung sehingga seringkali orang tua juga menjadi pendidik di pasraman. Dengan 3 faktor tersebut, Pasraman Padma Bhuana Saraswati mampu mencapai visi dan tujuan bersama. Tidak hanya itu, sampai saat ini Pasraman Padma Bhuana Saraswati sangat aktif dalam kegiatan keagamaan dan sosial masyarakat seperti Bhakti Sosial dan keterlibatan dalam pentas-pentas budaya berskala nasional
MAKNA BURUNG ENGGANG DALAM SIMBOLISME HEHIDUPAN MASYARAKAT ADAT DAYAK
Kearifan lokal adalah inti dari kebudayaan atau tradisi bangsa. Melalui nilai-nilai kearifan lokal, manusia bisa menelusuri masa lalu, masa kini dan bahkan masa yang akan datang. Nilai-nilai yang menjadi falsafah hidup itu adalah sebuah gagasan yang lahir dari budi luhur bangsa di Nusantara dan dijadikan pedoman penting dalam tatanan hidup. Indonesia memiliki keberagaman adat dan budaya sebab masing-masing suku bangsa memiliki cara pandang dan sikap untuk melaksanakan kehidupan. Seperti hal nya suku dayak yang memiliki ciri khas dalam tarian, yakni penggunaan atribut dari burung enggang, selain itu burung enggang adalah burung yang sangat di istimewakan oleh suku dayak. Terdapat suatu hal yang patut diperhatikan dari perkembangan zaman yaitu, apa makna penggunaan simbol burung enggang di budaya dayak. Jenis penelitian adalah kajian pustaka (Library research). Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah dekriptif-analitik. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa makna penggunaan simbol burung enggang di budaya dayak masih sangat khas, suku dayak mengganggap burung enggang sebagai panglima burung yang hadir ketika perang terjadi. Belajar makna keadilan dan kepemimpinan dari seekor hewan tentu sudah diajarkan pada jaman nabi. Nilai-nilai positif di implementasikan dalam kehidupan pribadi yang baik dan bijaksana, selalu bersemangat dan peduli terhadap lingkungan.Kearifan lokal adalah inti dari kebudayaan atau tradisi bangsa. Melalui nilai-nilai kearifan lokal, manusia bisa menelusuri masa lalu, masa kini dan bahkan masa yang akan datang. Nilai-nilai yang menjadi falsafah hidup itu adalah sebuah gagasan yang lahir dari budi luhur bangsa di Nusantara dan dijadikan pedoman penting dalam tatanan hidup. Indonesia memiliki keberagaman adat dan budaya sebab masing-masing suku bangsa memiliki cara pandang dan sikap untuk melaksanakan kehidupan. Seperti hal nya suku dayak yang memiliki ciri khas dalam tarian, yakni penggunaan atribut dari burung enggang, selain itu burung enggang adalah burung yang sangat di istimewakan oleh suku dayak. Terdapat suatu hal yang patut diperhatikan dari perkembangan zaman yaitu, apa makna penggunaan simbol burung enggang di budaya dayak. Jenis penelitian adalah kajian pustaka (Library research). Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah dekriptif-analitik. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa makna penggunaan simbol burung enggang di budaya dayak masih sangat khas, suku dayak mengganggap burung enggang sebagai panglima burung yang hadir ketika perang terjadi. Belajar makna keadilan dan kepemimpinan dari seekor hewan tentu sudah diajarkan pada jaman nabi. Nilai-nilai positif di implementasikan dalam kehidupan pribadi yang baik dan bijaksana, selalu bersemangat dan peduli terhadap lingkungan