E-Journal Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang Palangka Raya
Not a member yet
711 research outputs found
Sort by
The History and Current Development of Indigenous People Movements in Indonesia
This paper is based on an argument that discrimination against indigenous religion is a fact of the dynamics of policy interpretations. Therefore, the presence of indigenous people movements such as AMAN (Aliansi Masyarakat Adat Nusantara), offers solutions for indigenous rights' violations, and it also serves as a place for discussion on existing and possible threats upon indigenous communities. The indigenous people movements aim to establish religious freedom as a means to promote indigenous religion rights, particularly the importance of customary land. On the one hand, the state recognizes the rights of indigenous people, but, on the other hand they are prosecuted with hard conditions in realizing their rightsThis paper is based on an argument that discrimination against indigenous religion is a fact of the dynamics of policy interpretations. Therefore, the presence of indigenous people movements such as AMAN (Aliansi Masyarakat Adat Nusantara), offers solutions for indigenous rights' violations, and it also serves as a place for discussion on existing and possible threats upon indigenous communities. The indigenous people movements aim to establish religious freedom as a means to promote indigenous religion rights, particularly the importance of customary land. On the one hand, the state recognizes the rights of indigenous people, but, on the other hand they are prosecuted with hard conditions in realizing their right
KONSEP PENDIDIKAN AGAMA HINDU DALAM TRADISI METATAH
Upacara potong gigi yang lebih dikenal dengan metatah secara tersirat memiliki nilai-nilai Pendidikan yang masih belum dapat dipahami secara menyeluruh oleh masyarakat, walau selama ini upacara tersebut oleh beberapa orang dimaknai sebagai pelunasan hutang semata, tanpa memahami nilai-nilai lain yang terkadung didalam pelaksanaan upacara tersebut. Tujuan upacara metatah adalah membersihkan kaletehan gigi, keangkara murkaan, keserakahan (Sad Ripu) dari seseorang dan sebagai simbolnya akan dipotong 6 buah gigi atas yaitu 4 buah gigi seri dan 2 buah gigi taring sebagai symbol pengendalian enam musuh dalam diri manusia yang disebut Sad Ripu. Upacara potong gigi atau metatah bisa di lakukan apabila anak tersebut telah menginjak dewasa, yang wanita ditandai dengan menstruasi dan yang laki-laki suaranya membesar. Konsep Pendidikan dalam pelaksanaan upacara metatah antara lain yaitu : 1). Pendidikan Spiritual; 2). Pendidikan Budaya; 3). Nilai etika; 4). Nilai Sosial Gotong Royong
Ritual Toto Dalo Pada Umat Hindu Kaharingan di Kabupaten Murung Raya (Kontek Sosial)
Kehidupan beragama pada penganutnya, adalah bagaimana mereka menjalankan dan melaksanakan apa yang telah telah tertuang dalam kitab suci yang diwahyukan oleh Tuhan. Menjalankan ajaran agama merupakan pengejawantahan dari ajaran yadnya, yaitu korban suci berdasarkan hati yang tulus iklhas bagi pelakunya. Ritual agama sebagai salah satu kewajiban, bagi umat yang meyakini, akan menjalankannya penuh dengan suka cita. Sehingga ritual yang dilaksanakan menjadi ritual yang sadwika. Yadnya sebagai salah satu bentuk keyakinan dalam ajaran agama Hindu, dikenal dengan panca yadnya, yaitu Dewa yadnya, Manusa yadnya, Rsi yadnya, Pitra yadnya dan Bhuta yadnya.
Terkait dengan perihal tersebut di atas, ritual Toto Dalo yang dilaksanakan oleh umat Hindu Kaharingan di desa Tohojun Onto Kecamatan Tanah Siang Kabupaten Murung Raya, tergolong dalam Pitra yadnya. Ritual Toto Dalo merupakan mengantar roh orang yang meninggal dunia menuju alam kebahagiaan, alam kebebasan di mana umat Hindu Kaharingan di desa Tohojun Onto Kecamatan Tanah Siang Kabupaten Murung Raya dikenal dengan Danum Tato. Dalam pelaksanaannya ritual Toto Dalo, terkandung nilai-nilai social di dalamnya, diantaranya adalah nilai gotong royong sosial ekonomi, dan sosial budaya. Pelaksanaan ritual Toto Dalo dalam pelaksanaannya terdapat pelestarian social budaya, sehingga kelestaarian social dan budaya tetap terjaga dengan baik
EFEKTIVITAS POLA PEMBELAJARAN AGAMA HINDU DI SEKOLAH MENENGAH ATAS
Hindu religious education as one of the subjects taught in schools ranging from primary, secondary, to tertiary education. This is an opportunity for Hindu religious education to shape the personality, mental attitude and character of students into suputra. But the reality is very different. The recognition of most students will be blurred in the values of Hindu religious knowledge. The learning pattern of Hindu religious education is too theoretical, it does not touch the real life of students. Students spend their time understanding theory, but cannot deal with life's problems properly. As a result, Hindu Religious Education is trapped in memorization, not how to use Hinduism to solve life's problems.
The rolling of the competency-based education paradigm, in response to the low level of relevance of educational outcomes, including Hindu religious education. This raises awareness of the need for a review, revitalization of Hindu Religious Education Learning Patterns in schools.This phenomenon encourages the author to conduct research on "The Effectiveness of Hindu Religion Learning Patterns in Senior High Schools. The purpose of this study is to analyze the effectiveness of Hinduism learning patterns in senior high schools.Pembelajaran agama Hindu merupakan suatu upaya untuk membina pertumbuhan jiwa masyarakat dengan ajaran agama Hindu, dari sumber ajarannya yaitu: Sruti, smerti, sila, acara, dan atmanastuti. Sehubungan dengan pentingnya pembelajaran agama Hindu untuk mencapai tujuan agama Hindu yaitu “Moksar-tham Jagaditha Ya Ca Iti Dharma” untuk menuju keseimbangan dan kehar-monisan hidup di dalam segala aspek kehidupan baik aspek intern ataupun ekstern dalam mewujudkan kedamaian hidup. Secara substansi, inilah yang menjadi rujukan bagi para praktisi pendidikan Agama Hindu, termasuk para guru agama di tingkat Pendidikan Menengah Atas (SMA). Disamping itu juga hal yang tidak kalang pentingnya adalah metoda pembelajaran agama Hindu sebagai ilmu terapan tentu sangat berbeda dengan ilmu-ilmu lainnya yang lebih bersifat teoritis. Namun dalam pembelajaran agama Hindu hendaknya memenuhi ketiga ranah yakni kognitif, afektif, dan psikomotorik siswa secara bersamaan sehingga diperlukan metoda yang lebih efektif dalam menyampaikan materi ajarnya sehingga siswa Hindu tidak hanya pintar berdebat masalah agamanya, namun juga dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Berdasarkan pengamatan empiris, guru agama Hindu lebih banyak menga-jarkan sseperti ilmu-ilmu umum lainnya yang lebih menekankan pada teoritis semata sehingga melahirkan siswa yang pandai berdebat masalah agama, tetapi miskin dalam tindakan dan prilaku, karena ranah afektif dan psikomotoriknya sangat lemah. Fenomena inilah yang mendorong penulis untuk melakukan penelitian tentang “Efektifitas Pola Pembelajaran Agama Hindu di Sekolah Menengah Tingkat Atas”. Penelitian ini difokuskan untuk mengamati dan mengkaji bentuk dan efektivitas pembelajaran agama Hindu di Sekolah Menengah Tingkat Atas, se Kota Mataram. Adapun hasilnya dapat di jabarkan bahwa bentuk dan pola Pembelajaran Agama Hindu di Sekolah Tingkat Menengah Atas, hendaknya mengkolaborasikan antara pendekatan teoritis dengan priktek secara seimbang. Bahkan lebih banyak aspek yang bersifat kegiatan kegiatan religius atau melalui pendekatan praktek untuk memenuhi aspek psikomotorik dan afektif, untuk memenuhi koknitifnya. Jadi untuk memahami Agama Hindu secara matang berangkat dari praktik keagamaan lebih dulu dilakukan akan terpenuhi ketiga ranah yang menjadi sasaran pendidikan Agama Hindu yakni : ranah Kognitif, afektif dan Psikomotoriknya
TAT TWAM ASI DALAM PELAYANAN PRIMA DI PERPUSTAKAAN MENURUT KITAB SARASAMUCCAYA
Pelayanan prima merupakan upaya yang dilakukan oleh pustakawan untuk mewujudkan perpustakaan yang bisa berkontribusi dan berinklusi sosial bagi masyarakat sekitar. Pelayanan prima yang dibahas di sini erat kaitannya dengan pelayanan yang dilakukan pustakawan kepada pengunjung perpustakaan. Beberapa hal yang harus dilaksanakan oleh perpustakaan untuk mewujudkan layanan prima antara lain kecepatan dan keakuratan pustakawan dalam mencari informasi, kemudahan cara mencari informasi, sikap dan sifat pustakawan dalam memberikan layanan dengan menganggap orang lain (pengunjung) adalah dirinya sendiri, serta kenyamanan yang bisa diberikan oleh perpustakaan kepada pengunjung.
Tat twam asi adalah ajaran Hindu yang mengajarkan tentang kesamaan martabat manusia yang menganggap orang lain adalah diri kita sendiri. Ajaran ini sesuai dengan tujuan perpustakaan dalam mewujudkan pelayanan prima. Tat twam asi dalam kitab sarasamuccaya mengajarkan delapan hal yaitu (1) tidak menyimpang dari ajaran dharma (2) mengendalikan pikiran, perkataan dan perbuatan (3) tinggalkan sifat dengki dan iri hati (4) kesabaran adalah kekayaan utama (5) Kemarahan adalah sumber musuh (6) Jangan berkata kasar (7) susila atau berbuat baik (8) Bergaulah dengan orang sadhu
Makna Komunikasi Transenden Dalam Ritual Nerang di Tengah Peradaban Modernisasi
Penelitian ini diarahkan untuk mengeksplorasi makna komunikasi transenden dalam ritual nerang di tengah peradaban modernisasi. Lokasi penelitian dilakukan di Kecamatan Gunungsari Kabupaten Lombok Barat. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ritual nerang di Kecamatan Gunungsari Kabupaten Lombok Barat masih eksis dilaksanakan bersamaan dengan upacara yajna umat Hindu, yakni upacara nelu bulanin dan upacara lainnya. Komunikasi transenden dalam ritual nerang mengandung makna religius, makna teolgis, makna etis, makna mistis, makna solidaritas sosial, makna kultural dan makna ekonomis. Dari hasil penelitian direkomendasikan kepada pihak terkait agar menjaga dan melestarikan ritual nerang karena mengandung banyak makna yang bermanfaat dan berguna bagi pemertahanan budaya tradisional masyarakat
Konsep Ketuhanan Hindu Dalam Kitab Īśā Upaniṣad: Tinjauan Ontologis Aristoteles
Associated with the concept of God in Hinduism, in general perspective is still attached to the image of Hinduism as polytheism or a religion that worships many gods. Interestingly, in Īśā Upaniṣad and other Vedic books it shows the opposite, the concept of God in Hinduism is not polytheistic. This article aims to examine the concept of God in Hinduism in the Īśā Upaniṣad book from the perspective of Aristotle’s ontology. This study is a library research using a qualitative approach. The material object of this study is the concept of God in Hinduism in the Īśā Upaniṣad book. The data collection in this study was carried out through document studies on primary and secondary data sources. The data analysis in this study used descriptive, interpretative, and holistic methodical steps. The results of this study show that the concept of God in Hinduism in Īśā Upaniṣad book is monistic. Aristotle's ontological perspective used to portray the concept of god in the Īśā Upaniṣad book can be described in several categories, namely; in substance, quantity, quality, place, time, position, possession and action
Revilitas Peran Dosen Sebagai Komunikator di Kelas ( Studi Kasus Pertemuan Pada Mata Kuliah Pengantar Ilmu Komunikasi Mahasiswa Semester I)
Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional terkandung makna peran dosen sebagai fasilitator, terutama bagaimana dosen untuk menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, dan interaktif, mengembangkan potensi dosen berikut Mahasiswa, membangun mental dan kepribadian Mahasiswa sert keterampilan. Proses pembelajaran yang diharapkan adalah proses interaktif, aktif, dan partisipatif. Untuk mengajar dengan efektif, seorang dosen harus meningkatkan berkomunikasi yang efektif. Semakin optimal Komunikasi dosen untuk mengajar semakin menunjukan efektifitas dosen dalam mengajar sehingga dapat membangkitkan minat atau motivasi peserta didik untuk belajar. Semakin besar minat peserta dalam proses pembelajaran, semakin tinggi kemungkinan hasil belajar yang dicapai. 
Kearifan Lokal Hindu Kaharingan (Pandangan Ketuhanan, Ritual, dan Etika)
Kearifan lokal adalah kebijaksanaan suatu daerah tertentu yang diwariskan secara turun temurun untuk dihayati, dipelajari dan dijalankan dalam kehidupannya. Kitab Suci umat Hindu Kaharingan Panaturan merupakan pedoman yang menjadi dasar pegangan bagi umatNya didalam menjalankan kehidupannya, kitab suci Panaturan memuat 63 Pasal dan 2951 ayat. Kitab inilah sebagai sumber utama ajaran ketuhanan, etika dan upacara yang dilaksanakan oleh keturunan Raja Bunu di dunia, selain ayat-ayat dalam tawur, kandayu, dan pepatah-pepatah kuno yang sudah turun temurun diwariskan. Dalam penyebutan Tuhan maka Ranying Hatalla ini menyesuaikan dengan tugas dan fungsinya yakni Ranying Hatalla bersifat abstrak sebagai simbol yang tidak bisa tergambarkan awal dari segala kejadian, Ranying Hatalla Langit Raja Tuntung Matan Andau Tuhan Tambing Kabanteran Bulan memberikan keterangan proses kemahakuasaan, Ranying Hatalla Langit Raja Tuntung Matan Andau Tuhan Tambing Kabanteran Bulan Jatha Balawang Bulau Kanaruhan Bapager Hintan hal ini IA sebagai proses penciptaan. Pelaksanan ritual dibagi dalam ritual kelahiran, ritual dikehidupan dan ritual kematia