E-Journal Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang Palangka Raya
Not a member yet
711 research outputs found
Sort by
Filosofi Tirta Sebagai Air Suci Dalam Implementasi Upacara Dewa Yadnya
Abstrak
Ritual sebagai bukti fisik juga bisa disebut wujud simbolik dilandasi dengan praktik kreasi – kreasi positif yang berdasarkan sastra veda, salah satu ajaran atau sebagai karangka dasar yang disebut tatwa (kebenaran), etika (Prilaku etis), dan upacara (Ritual/ Praktek nyata). menjadikan adanya suatu pengamalan (bukti nyata) yang memiliki demensi ialah disebut Yadnya sehingga melahirkan unsur keikhlasan dengan sarana yang terpenting digunakan yakni diebut air suci lumrahnya bernama tirtha. Dalam penelitian ini dapat menemukan secara filosofis tirtha sebagai lambang Pesucian pada upacara Dewa Yadnya memiliki fungsi pada setiap jenis tirta tersebu
Sanksi Adat (Singer) terhadap Kasus Perceraian pada Masyarakat Adat Dayak di Desa Sigi Kalimantan Tengah
This article explores and explains the customary sanctions (singer) of the divorce case of the adat law community in Sigi Village, Central Kalimantan. Problems that occur in society need to be appropriately resolved by prioritizing a sense of justice and a sense of peace by considering the legal provisions that apply in society. Divorce cases that occur are resolved by customary law as an option for the community, especially those who experience problems directly for both parties. The problems discussed in this article are related to the factors that cause divorce and the customary sanctions applied to the parties that cause divorce. The method used is through a qualitative approach, which seeks to understand and describe in-depth matters relating to the phenomenon of research or research, which intends to understand what is experienced by the research subject by describing it in the form of words and language. This particular context is natural and makes use of various scientific methods. The conclusion from the results of this individual research is that the factors that cause divorce in Sigi Village, Central Kalimantan are the existence of an affair or the presence of a third party in the household and sanctions in the form of the singer or customary fines, which refer to the previous customary marriage agreement letter, besides that the customary fine is imposed. Against the party causing the divorce.Artikel ini bertujuan untuk menggali dan menjelaskan sanksi adat (singer) terhadap kasus perceraian masyarakat hukum adat di Desa Sigi Kalimantan Tengah Tengah. Permasalahan yang terjadi dalam masyarakat perlu diselesaikan secara benar dengan mengutamakan rasa keadilan dan rasa ketentraman, dengan memperhatikan ketentuan hukum yang berlaku dalam masyarakat. Kasus perceraian yang terjadi diselesaikan secara hukum adat sebagai pilihan dari masyarakat terutama yang mengalami masalah secara langsung bagi kedua belah pihak. Permasalahan yang menjadi pembahasan dalam artikel ini adalah terkait faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya perceraian dan sanksi adat yang diterapkan kepada pihak yang menyebabkan terjadinya perceraian. Metode yang digunakan adalah melalui pendekatan kualitatif, yang berusaha memahami dan mendeskripsikan secara mendalam mengenai hal-hal yang berkenaan dengan fenomena penelitian atau penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian dengan cara mendeskripsikan dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode ilmiah. Kesimpulan dari hasil penelitian individu ini adalah dimana faktor yang menyebabkan terjadinya perceraian di Desa Sigi Kalimantan Tengah adalah adanya perselingkuhan atau hadirnya pihak ketiga dalam rumah tangga dan sanksi berupa singer atau denda adat yang mengacu pada surat perjanjian kawin adat terdahulu, disamping itu sanksi denda adat dikenakan terhadap pihak yang menyebabkan terjadinya perceraian
Perilaku Sosial Kehidupan Umat Hindu di Desa Batu Nindan Kecamatan Basarang Kabupaten Kapuas
Manusia sebagai makhluk reigius,di dalam menjalankan kehidupannya memerlukan satu tutntunan yang dijadikan sebagai pijakan, aturan, bimbingan dalam melakukan berbagai aktivitas, baik sosial individu maupun sosial masyarakat. Sehingga ada sebuah tuntunan yang dijadikan sebagai suluh penerang, dengan harapan tidak menyimpang dari norma-norma kepatutan yang tertuang dalam ajaran agama diyakininya. Mengapa demikian karena di dalam ajaran agama terdapat banyak wejangan-wejangan yang beegitu bermanfaat bagi kehidupan manusia dalam menjalankan dan beraktivitas sehari-hari.Terkait dengan perihal tersebut, Bergerson dalam Agus (2005:3) bahwa bergama sebagai gejala universal manusia, artinya banyak dijumpai manusia tanpa sains, seni, dan filsafat, tetapi tidak ada masyarakat tanpa agama. Namun ungkapan itu menekankan universal fenomena beragama dalam kehidupan manusia. Di mana kehidupan keagamaan yang dijalankan, terepleksi dengan lingkungan sosial, yang memerlukan adaptasi dengan lingkungan sosial dalam masyarakat.Perilaku kehidupan sosial beragama umat Hindu di desa Batunindan diantaranya adalah Menyame braye, merupakan tradisi yang menjdai spirit dalam membangun tali persaudaraan. Sangkep (musyawarah mupakat), membangun spirit saling menghargai keputusan berdasarkan suara terbanyak. Metulungan, saling membantu tanpa melihat golongan, status sosial siapa orang yang membutuhkan bantuan. Medelokan (mengunjungi) saling memberikan support, semangat bagi umat/masyaarakat Hindu yang dalam kesusuhan. Implikasi perilaku sosial kehidupan keagamaan umat Hindu di Kabupaten Kapuas; Menguatnya tali persuadaraan, perilaku sosial kehidupan keagamaan yang berjalan dengan baik menjadikan rasa toleransi semakin kuat. Meningkatnya Keamanan, saling menghargai, membantu, menolong akan meningkatkan rasa aman bagi masyarakat. Mengningkatnya kerja sama, kebersamaan akan terbangundan terjaga dengan baik menjadi kebersamaan semakin baik
Konsep Lingkungan Hidup Dalam Ajaran Hindu (Presektif Tri Hita Karana)
Ajaran Agama Hindu yang disebut Tri Hita Karana itu adalah sebagai filsafat hidup umat Hindu dalam membangun sikap hidup yang benar menurut ajaran Agama Hindu, Sikap hidup yang benar menurut ajaran Hindu adalah bersikap yang seimbang antara percaya dan bhakti pada Tuhan dengan mengabdi pada sesama manusia dan menyayangi alam berdasarkan Yajna. Yang membutuhkan terlaksananya ajaran Tri Hita Karana ini adalah manusia. Karena kalau terbangun hubungan vang harmonis antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia dan manusia dengan alam lingkungannya
UPACARA PERKAWINAN MENURUT HUKUM HINDU KAHARINGAN DI DESA TEWANG MANYANGEN
Dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia dimana masyarakatnya sangat heterogen beraneka ragam budayanya. Kekayaan budaya yang ada negara kita ini merupakan aset bangsa Indonesia yang mempunyai nilai strategis. Oleh karena itu masyarakat harus dapat menggali, memelihara dan melestarikannya dengan baik, sehingga tidak mudah terpengaruh oleh budaya asing sehingga gererasi penerus bagi umat Hindu kaharingan kedepan akan dapat lebih maju dan dapat setara dengan umat yang lain mempunyai hak dan kawajiban, baik dari sudut pandang pendidikan, pengetahuan, wawasan maupun pola hidup yang lebih baik dapat disesuaikan dengan kondisi dan situasi sama dengan yang lainya. Dengan berdasarkan pada pemahaman di atas diharapkan bagi umat Hindu khususnya Umat Hindu Kaharingan dapat mempertahankan kearipan lokal jenius yang sampai saat ini dapat berjalan dangan baik dan sempurna. Salah satu acara ritual yang sering dilaksanakan oleh umat Hindu Kaharingan adalah termasuk Upacara Perkawinan yang dalam pelaksanaannya adanya proses pembayaran bagi pihak wanita oleh pihak pria yang disebut dengan Jalam Hadat dalam perkawinan. Berdasarkan adat tradisi di Kalimantan tengah yang terdiri dari beribu-ribu pulau dan suku yang berbeda-beda baik agamanya maupun kepercayaan masing-masing sesuai dengan keinginannya yang sudah diatur oleh Negara Republik Indonesia dan terdapat pada undang-undang dasar 1945 pada pasal 29, ayat 1,2 yang berbunyi setian warga naraga Indonesia berhak dan wajib untuk menhormati antar agama, menghargai dan menjalankan kerukunannya sesuai keyakinan dan kepercayaannya masing-masing, yang berlandaskan Pancasila sebagai dasar Negara dan lembangnya burung Garuda. 
Awig-Awig Sebagai Penunjang Hukum Nasional Dalam Pencegahan Alih Fungsi Lahan Di Kabupaten Buleleng
This research is based on the massive land conversion in Buleleng Regency which is indicated by the large number of shops and villas and resorts which have resulted in the reduction of productive agricultural land. Where this productive agricultural land is mostly rice fields that can support food supply in Buleleng Regency. Buleleng Regency has 9 sub-districts, 129 villages, 19 sub-districts, and 169 traditional villages. Traditional villages have an important role in maintaining these productive lands in accordance with the basic agrarian Law. So the purpose of this study is to examine the position of Awig-awig owned by traditional villages in assessing the prevention that can be done by traditional villages and the law in slowing the rate of land transfer in Buleleng Regency. In examining this problem, using a normative descriptive method, it was found that awing-awig was very important in preventing the village community from selling productive lands owned by the community
Memaknai Perpustakaan Sebagai Rumah Betang
Perpustakaan merupakan pusat sumber informasi artinya segala jenis ilmu pengetahuan, hasil penelitian, adat istiadat suatu daerah bahkan sejarah suatu daerah dan negara terdapat di dalam sebuah perpustakaan. Perpustakaan diibaratkan seperti suatu rumah yang ditempati oleh banyak orang dengan berbagai macam keyakinan, dari latar belakang yang berbeda tetapi mempunyai tujuan yang sama.
Rumah betang adalah rumah adat suku dayak ngaju Kalimantan tengah yang sampai saat ini masih ada dan masih ditempati oleh masyarakat. Rumah betang merupakan rumah adat dengan ukuran besar yang bisa ditinggali oleh 100-200 orang. Mereka yang tinggal disana memiliki latar belakang serta keyakinan berbeda tetapi selalu hidup rukun penuh toleransi dan damai. Filosofi rumah betang sampai saat ini masih dijadikan dasar oleh masyarakat dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Filosofi rumah betang tersebut sesuai dengan peran dan nilai yang terkandung dalam perpustakaan dalam fungsinya sebagai pusat sumber informasi bagi masyarakat. Empat filosofi rumah betang yaitu (1) hidup rukun dan damai walau terdapat banyak perbedaan (2) bergotong royong (3) menyelesaikan perselisihan dengan damai dan kekeluargaan (4) menghormati leluhu
Manajemen Pendidikan Dalam Moderasi Beragama Di Era Disrupsi Digital
Management is a process carried out to achieve an organization's goals by working in teams and an application of management has a subject and an object. Education is a learning effort and learning process for students to actively develop their potential to have religious spiritual strength, self-control, personality, intelligence, noble character, and skills needed by themselves and society. Educators and education personnel in the educational process play a strategic role, especially in efforts to shape the character of the nation through the development of the desired personality and values. Viewed from the educational dimension, the role of educators in Indonesian society remains dominant even though the technology that can be utilized in the learning process is developing very quickly. Likewise, their education staff is tasked with carrying out administration, management, development, supervision and technical services to support the educational process in educational units.
 
Pemimpin Dalam Pusaran Pandemi Menurut Perspektif Susastra Hindu
Seorang pemimpin menurut susastra Hindu adalah tidak hanya memahami urusan tata pemerintahan maupun organisasi saja, melainkan harus memiliki bekal pengetahuan agama yang baik. Hal ini agar pemimpin dapat menjalankan tugas dan kewajibannya berlandaskan dharma dan untuk kepentingan dharma. Penelitian tentang pemimpin dan kepemimpinan sudah banyak dilakukan, namun eksistensi seorang pemimpin dalam menghadapi pandemic khususnya dilihat dari perspektif susastra Hindu belum pernah ditemukan sebelumnya. Hasil kajian ini diharapkan mampu berkontribusi setidaknya sebagai pedoman penguatan mental spiritual bagi seorang pemimpin dalam menghadapi masalah global saat ini.
Kata Kunci: Pemimpin, Pandemi, Susastra Hind
Pola Pendidikan Anak Usia Dini Dalam Perspektif Agama Hindu
Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), saat ini mengalami perkembangan yang cukup pesat. Hal ini terlihat disamping terdeskripsikan dari banyaknya bermunculan lembaga pendidikan Anak Usia Dini bagaikan jamur di musim hujan, juga disoroti dari berbagai perspektif agama, termasuk pendidikan agama Hindu. Fenomena ini menunjukan betapa pentingnya Pendidikan Anak Usia Dini diberikan kepada anak untuk membentuk anak suputra. Sehingga pada akhirnya nanti memiliki kemampuan untuk melaksanakan tugas pokok dan fungsinya sebagai pembebas penderitaan orang-tua, keluarga, dan leluhurnya, sehingga dapat mencapai kebahagiaan (sorga dan moksa). Bertautan dengan hal tersebut, maka fokus penelitian tentang Pola Pendidikan Anak Usia Dini Dalam Perspektif Agama Hindu, dikembangkan menjadi tiga permasalahan yakni : (1) Bagaimana Pola Pendidikan Anak Usia Dini Dalam Perspektif Agama Hindu?; (2) Apa Fungsi Pendidikan Anak Usia Dini Dalam Agama Hindu?, dan Apa makna Pendidikan Anak Usia Dini Dalam Perspektif Agama Hindu.
Penelitian ini merupakan penelitian lapangan (field research), dan pengumpulan datanya disamping melalui observasi, juga menggunakan studi kepustakaan, terutama pustaka-pustaka pendidikan anak usia dini yang termuat dalam kitab-kitab suci Hindu baik sruti, smerti, maupun kitab-kitab tafsir lainnya. Demikian juga Teori yang digunakan, disamping menggunakan teori-teori pendidikan dan pembelajaran secara umum, juga teori-teori yang ada dalam teori-teori pendidikan dan pembelajaran agama Hindu yang bersumber dari ajaran agama dan budaya Hindu.
Adapun hasil penelitian ini, menunjukan bahwa dalam perspektif agama Hindu Pendidikan Anak Usia Dini, penting artinya dalam pembentukan suputra (anak yang baik), sehingga nantinya anak (putra) mampu melaksanakan fungsinya yaitu membebaskan orang tuan, keluarga dan leluhurnya dari penderitaan. Didalam kitab suci weda (sruti, smerti), dan kitab-kitab tafsir lainnya banyak mengandung pola-pola pendidikan dan pembelajaran agama Hindu yang dapat digunakan untuk mendidik anak, termasuk anak usia dini Hindu