E-Journal Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang Palangka Raya
Not a member yet
711 research outputs found
Sort by
Komunikasi Pembelajaran Daring Pada Masa Pandemi Covid-19
Guru sebagai tenaga professional pada pembelajaran daring dituntut untuk memiliki kemampuan dalam mengkonunikasikan materi pembelajaran kepada siswa. Proses tersebut memiliki berbagai macam kendala sehingga guru perlu untuk memahami strategi dalam penyampaian materi sebagai bagian dari proses komunikasi pembelajaran. Proses komunikasi pembelajaran melibatkan antara pendidik dan peserta didik, komunikasi pembelajaran akan dapat berlangsung efektif apabila terdapat kesamaan persepsi antara orang yang terlibat dalam komunikasi. komunikasi pembelajaran yang komunikatif apabila peserta didik dan pendidik saling memahami tentang apa yang dikomunikasikan. Proses komunikasi pembelajaran pada masa pandemic covid-19 layaknya pembelajaran pada umumnya melibatkan beberapa kompenen penting yaitu Guru, Materi, Media/Metode/Strategi, Siswa, efek dan feedback. Bagian-bagian tersebut memiliki keterkaitan dan saling mendukung dalam pencapaian tujuan pembelajaran. Proses dari bagian tersebut membentuk sebuah lingkaran yang sebagai sebuah proses yang tidak terputus. Guru memberikan materi hingga sampai proses evaluasi, akan kembali kepada guru sebagai bahan untuk melakukan rencana tindak lanjut untuk memperbaiki pembelajaran, demikian seterusnya hingga pencapaian tujuan pendidikan yang maksimal. Dari keseluruhan bagian guru memiliki peran penting, sehingga keberhasilan pembelajaran tergantung pada kemampuan dan profesionalisme guru. Pencapaian hasil pembelajaran sangat tergantung pada kreativitas guru sebagai communicant dan kesiapan siswa sebagai penerima materi
KAJIAN RETORIKA BAGI PENYULUH DALAM MENINGKATKAN KUALITAS PEMAHAMAN AJARAN AGAMA HINDU
Explain about dharma isn’t easy. Discourse and personality of the new extension will touch the hearts of audiences when Religius Educator can communicate well and were able to give the example of the application of life in society . Therefore religius educator must have a communication competence that is rhetoric that touched the hearts of the audience so that they can work on improving the quality of understanding of religious teachings Hindus. The results showed that Dharma Wacana is informative and persuasive rhetoric into studies that must be mastered by religius educator. Therefore, the religius educator must pay attention to the discovery phase, the preparation of the message and remember the messages to be delivered. In addition, factors ethos, pathos and logos also affect the rhetoric of religius educator. Generally the religion educator utilizing the rhetoric in the delivery of Dharma Wacana, but in this case the extension is more focused on style and delivery Dharma Wacana in efforts to improve the quality of understanding of religious teachings Hindus
IMPLEMENTASI AJARAN TRI HITA KARANA PADA PELESTARIAN LEMBU PUTIH DI DESA TARO
Ceremony (Ritual) is the basic framework of Hinduism, which is in the form of materialistic offerings and also contains non-material elements. The ceremony is made through the concepts of Tattwa and Jnana, based on the intention of offering through the teachings of Catur Marga, namely: Karma Marga, Bakti Marga, Jnana Marga and Raja Yoga. Rituals are a procession of offerings that are organized by realizing ceremonies and events that have the aim of building morality based on morality which is implemented in ethics which will have a positive impact to get closer to God Almighty. The Hindu worship system has three dimensions, namely the application of the Tri Hita Karana Teachings. In connection with the teachings of Tri Hita Karana, the preservation of the White Ox in Taro Village is an implementation of the teachings of Tri Hita Karana itself. This study used a qualitative design. Data were collected using the observation method, interview method, library method and documentation method. Based on this analysis, the following research results were obtained: (1) The relationship between the preservation of white cattle and Parhyangan, namely: a) The relationship between preservation of white cattle and mamineh empehan in Taro Village; b) The relationship between the preservation of white cattle and the mepada ceremony in Taro Village; c) The relationship between preserving white oxen at the Tawur Panca Wali Krama Agung ceremony in Taro Village. (2) The relationship between the preservation of white cattle and Pawongan, namely: a) The relationship between the preservation of white cattle and breeders in Taro Village; b) The relationship between the preservation of white cattle and the Taro Village Community. (3) The relationship between the preservation of white cattle and Palemahan, namely: a) White cow dung is related to environmental sustainability in Taro Village; b) The relationship between the preservation of white cattle and the Tourism Park; c) The relationship between the preservation of white cattle and flora and fauna
Komunikasi AntarBudaya Masyarakat Multikultur di Kelurahan Tangkiling Kecamatan Bukit Batu Kota Palangka Raya
This article aims to analyze and describe the articulation and forms of communication carried out by communities of different customs, cultures and religions in Tangkiling Village, Bukit Batu District, Palangkaraya City. The problem is studied using intercultural communication theory. The method used is descriptive qualitative method, in which the data obtained is presented in the form of words which are assembled from information obtained from informants in the field. The data were collected through observation, in-depth interviews, and document study. Informants are selected by purposive sampling by looking at the knowledge and experience they have according to the data to be sought. Then the data is processed through three stages, namely data collection, data reduction, and data presentation. The results showed that the harmony of the multicultural society in Tangkiling Village was seen from the activities carried out in their daily social interactions such as: religious tolerance, mutual respect cooperation, while the articulation of the Tangkiling community towards differences in cultural customs was seeing culture as just another person's way of doing things and culture it is only a habit that has been carried out from generation to generation which is formed from the geographical conditions of the area.The form of intercultural communication carried out by multicultural communities in Tangkiling Village is through cultural adaptations such as language adaptation, food adaptation, and adaptation in cultivating agricultural land
Catur Paramitha: Landasan Remaja dalam Beragama dan Kehidupan Bermasyarakat
Manusia merupakan mahluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna dibandingkan dengan ciptaan Tuhan yang lainnya, dengan Sabda, Bayu dan Idep (dapat berkata, berbuat/beraktivitas dan berpikir), manusia akan mampu untuk menjalani kehidupannya dengan benar sesuai dengan ajaran agama yang di anutnya. Walau demikian masih kerap terjadi perilaku menyimpang dari kebiasaan yang baik dan akhirnya menjurus kepada kejahatan yang mempengaruhi tantanan masyarakat. Oleh karena itu perlu di tanamkan jiwa keagamaan yang kuat untuk dapat menjadi remaja yang memiliki moral yang baik.
Pemahaman keagamaan remaja hindu perlu ditekankan pada ajaran catur paramitha yaitu empat sikap perilaku yang berbudi luhur (maitri, karuna, mudita dan upeksa). Pemahaman yang komprehensif tentang ajaran ini memberi dampak pada terciptanya kehidupan yang harmonis antar manusia dengan Tuhan, sesame manusia, dan antara manusia dengan alam lingkungannya
Membangun Militansi Agama Pada Anak Melalui Pengelolaan Bersama Lembaga Pendidikan, Lembaga Keagama dan Keluarga
Agama merupakan sebuah keyakinan, yang dianut oleh segenap manusia di muka bumi ini, dan dijadikan sebagai pedoman dalam menjalan berbagai aktivitas, serta sebagai pengarah/suluh dalam menjalankan kehidupan yang penuh dengan kompleksitas. Selain itu, agama merupakan satu sistem yang mengatur kepercayaan dan peribadan kepada Tuhan yang Maha segala, dan dijadikan sebagai norma-norma yang terkait dengan tatanan kehidupan, budaya, dan tata nilai.
Agama secara normatif terlalu jauh dari hasrat melakukan penekana-penekanan, baik intern maupun antar umat beragama. Karena selain mengutamakan religi, agama juga mengajarkan etiket dan menganjurkan moralaitas. Ini menunujkan bahwa agama adalah sumber nilai dan norma moral penting dalam berbagai praktik kehidupan manusia, oleh karena itu di Indonesia kebebasan dalam beragama sungguh dijamin undang-undang, bahkan umat beragama diberikan kebebasan dalam menjalankan praktik agama khususnya yang menyangkut pelaksanaan ibadah.
Keyakinan/agama adalah pegangan hidup yang telah di bawa oleh seseorang sejak berada dalam dalam kandungan seorang ibu, sejak itu pula sudah ditanamkan nilai-nilai ajaran agama, melalui doa-doa calon ibu dan upacara tujuh bulanan yang dilaksanakan oleh kedua calon orang tua anak tersebut. Terkait dengan hal tersebut, sepatutnya sebagai orang tua hendakya selalu memberikan pemahaman dan penanaman nilai-nilai ajaran agama kepada anak-anak patut dilakukan sejak usia dini. Karena sangat penting membangun jiwa militan terhadap ajaran agama, kepada anak usia dini agar mereka semakin kuat dan kokoh menjaga, menjunjung dan mempertahankan agama dan keyakinannya yang sudah di bawa sejak berada dalam kandungan, sehngga mereka tidak mudah terpengaruh, terpropaganda oleh pihak-pihak yang mencoba memengaruhi keyakinan yang sudah diyakini selama ini
Hukum Waris Adat Bali Dalam Pandangan Kesetaraan Gender
Balinese society is a society that is thick an obedient to tradition, culture and customary law. The development of globalization an scince and technology does not necessarily shake or change the customs an traditions of the Balinese people. Balinese cutomary law prioritizes the position of men in term of inhertance an family matter. When viewed from the side of the role in the family, in todays era women an men are almost in contrast. For axample in education, politics, goverment an so on, women have the same opportunitties an even take the same roles. Likewise in the family, women can replace the position of men as head of the family an breadwinner if the condition of men as husbands is no longer possible. Different conditions will be found in terms of Balinese cutomary inheritance law. In general, women are not given the same opportunities as men, and it can even be said that they do not have the right to participate in the inheritance or as heirs. So when viewed from the perspective of gender equality, it will create a discriminatory impression against women. However, in principle, Balinese women accept such a situation and do not consider this a disadvatage. Because this has become a habit that has been passed down from generation to generation.
Keyword: Inheritance Law, Balinese Custom, GenderMasyarakat Bali merupakan masyarakat yang kental dan taat pada tradisi, budaya dan hukum adat. Perkembangan arus globalisasi dan ilmu pengetahuan serta teknologi, tidak semerta-merta dapat menggoyahkan apalagi merubah adat dan tradisi masyarakat Bali. Hukum adat Bali sangat mengedepankan kedudukan laki-laki dalam hal pewarisan dan menyangkut masalah keluarga. Jika dilihat dari sisi peran dalam keluarga, pada era sekarang ini perempuan dan laki-laki hampir kontras. Misalnya dalam pendidikan, politik, pemerintahan dan sebagainya, kaum perempuan mempunyai kesempatan yang sama dan bahkan mengambil peran yang sama. Begitu juga dalam keluarga, perempuan dapat menggantikan posisi laki-laki sebagai kepala keluarga dan pencari nafkah apabila kondisi laki-laki sebagai suami sudah tidak memungkinkan lagi. Kondisi yang berbeda akan ditemukan dalam hal hukum waris adat Bali. Secara umum kaum perempuan tidak diberikan kesempatan yang sama seperti laki-laki, bahkan dapat dikatakan tidak ada haknya untuk ikut menerima warisan atau sebagai ahli waris. Sehingga apabila ini dilihat dari kacamata kesetaraan gender, maka akan memunculkan kesan yang diskriminatif terhadap kaum perempuan. Namun demikian, pada prinsipnya perempuan Bali menerima keadaan seperti itu dan tidak mengganggap ini sebagai suatu hal yang merugikan. Karena ini sudah menjadi kebiasaan yang secara turun temurun diwariskan untuk dilakukan.
Kata Kunci: Hukum Waris, Adat Bali, Gende
Optimasi Zoom Meeting Sebagai Media Pembelajaran Virtual Synchronous
The Covid-19 pandemic indirectly requires educators and participants to master information and communication technology related to the learning process. The use of zoom meetings as a virtual synchronous online learning medium is an option to communicate or face-to-face virtually. Since the Covid-19 pandemic, Zoom has developed various breakthroughs to provide convenience to its users or customers by adding various interesting features. These features can be utilized as much as possible by educators in carrying out online learning so that the learning process can take place well
GERAKAN INDONESIA TANPA PACARAN (ITP): DARI RESEPSI AL-QUR’AN DAN HADIS HINGGA KONSTRUKSI SOSIAL
This study aims to analyze Indonesia Tanpa Pacaran (ITP) movement in the perspective of the reception of the Qur'an and Hadith and Social Construction by Berger and Luckman's. This study answers three questions: First, how the concept of ITP movement. Second, how reception of the Qur'an and Hadith in this Movement. Third, how social construction of this movement. As a social movement, ITP has five important elements. These elements are people and participants, goals and agendas, and targets. Meanwhile, in the perspective of social construction, a social reality have three moments of externalization-objectivation-internalization who occurs simultaneously. The verse “prohibit of zina” and the hadith about “ikhtilat” were accepted by La Ode as a prohibition on dating. The dialectic between text and the reality (La Ode thinks that dating causes negative effects to Muslim generation) has led to establish Indonesia Tanpa Pacaran movement. This idea was externalized to the community on September 7, 2015. After the ITP movement manifested itself in the reality of society, gradually the movement gets legitimacy. His social media accounts are followed by millions of people. This process is known as objectivation. Furthermore, their campaigns on social media periodically, about the effects of dating, are internalized by the members and their sympathizers. This internalization then forms anti-dating behavior in society.Abstrak:
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis gerakan Indonesia Tanpa Pacaran dalam perspektif resepsi al-Qur’an hadits dan Konstruksi Sosial Berger dan Luckman. Secara lebih rinci, penelitian ini menjawab tiga pertanyaan, yaitu bagaimana konsep Gerakan ITP, bagaimana resepsi al-Qur’an dan Hadis pendiri Gerakan ITP, dan bagaiman kontruksi pengetahuan atas gerakan tersebut. Sebagai sebuah gerakan, ITP memiliki lima elemen penting, elemen tersebut adalah people dan participant, goals dan agendas, serta targets. Sedangkan dalam kacamata konstruksi sosial, suatu realitas sosial mengalami tiga momen eksternalisasi-objektivasi-internalisasi yang berjalan secara simultan. Ayat larangan berzina dan hadis mengenai larangan berdua-duaan dengan yang bukan mahram diresepsi oleh La Ode sebagai larangan pacaran. Dialektika antara teks dan realita sekitar(di mana La Ode memiliki pandangan bahwa pacaran menimbulkan kerusakan yang besar bagi generasi muslim) menyebabkan terbentuknya gerakan Indonesia Tanpa Pacaran. Gagasan ini dieksternalisasi kepada masyarakat pada tanggal 7 September 2015. Setelah gerakan ITP mewujud dalam realitas masyarakat, lambat laun gerakan tersebut mendapat legitimasi. Akun-akun media sosialnya diikuti oleh jutaan masyarakat. Proses inilah yang disebut sebagai objektivasi. Selanjutnya, opini yang ditanamkan, baik melalui kampanye akbar maupun postingan di media sosial secara rutin dan berkala mengenai bahaya pacaran, diinternalisasi oleh para member dan simpatisannya. Internalisasi ini kemudian membentuk perilaku anti pacaran pada masyarakat.
 
Manajemen Keuangan Keluarga Berkelanjutan : Perspektif Hindu
Manajemen keuangan keluarga merupakan seni pengelolaan keuangan yang dilakukan oleh keluarga untuk mencapai tujuan yang efisien, efektif, dan bermanfaat, sehingga keluarga tersebut menjadi keluarga yang sejahtera atau keluarga sukinah. Sementara, manajemen keuangan keluarga berkelanjutan dimaksudkan berkesinam-bungannya keuangan untuk kesejahteraan keluarga, tanpa diganggu oleh berbagai kendala yang menghadang. Seperti terputusnya pendapatan keluarga akibat tulang punggung keluarga terkena PHK karena tidak profesional, melakukan kesalahan, dan terjadinya krisis ekonomi sebagaimana banyak dialami keluarga pada era Covid-19. Terhentinya pendapatan keluarga juga disebabkan karena tulang punggung keluarga mengalami sakit, cacat tetap, bahkan meninggal dunia pada usia muda.
Kitab Sarasamuccaya merupakan salah satu kitab suci Hindu kelompok Nibanda, yang membahas tentang perilaku untuk mencapai tujuan hidup manusia. Sarasamuccaya yang merupakan inti sari dari Asta Dasa Parwa (salah satu kitab Purana), mengajarkan tentang cara-cara mencari nafkah, mengelola pendapatan untuk mencapai tujuan hidup, dan hal-hal yang membatasi manusia untuk mencapai tujuan hidup