E-Journal Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang Palangka Raya
Not a member yet
711 research outputs found
Sort by
AKTUALISASI AJARAN TRI HITA KARANA PADA MASA PANDEMI COVID-19
Tri Hita Karana merupakan tiga hubungan yang harmonis, yang terdiri dari parahyangan yaitu hubungan yang harmonis dengan Tuhan, Pawongan yaitu hubungan yang harmonis dengan sesame manusia dan palemahan yaitu hubungan yang harmonis dengan alam lingkungan. Ajaran tersebut sangat penting untuk diaktualisasikan secara optimal pada masa pandemic covid-19 yang memiliki berbagai dampak pada bidang kehidupan. Parahyangan merupakan upaya lebih mendekatkan diri kepada sang pencipta dengan berbagai aktivitas untuk dapat mencapai peningkatan spiritualitas, memohon perlindungan dan berdoa agar wabah ini segera berakhir. Pawongan merupakan dapat dilakukan dengan upaya untuk saling menjaga dengan menerapkan protokol kesehatan dan membantu sesama yang memutuhkan sebagai bentuk dari implementasi ajaran tat twam asi. Palemahan dapat dilakukan dengan membuang sampah pada tempatnya, mengurangi penggunaan sampah yang sulit terurai serta mengupayakan menanam pohon di sekeliling tempat tinggal sehingga akan tercipta lingkungan yang asri dan udara yang segar, selain itu pada masa pandemi dapat pula mengupayakan melaksanakan upacara-upacara yang diyakini dapat menghindarkan diri dari wabah sesuai dengan desa kala dan patra
Makna Simbol Dewi Saraswati pada Fungsi Perpustakaan
The library is chosen to be one of the institutions as agents of change. The digital era library acts as an agent of change, agent of culture, center for the development of science and technology as well as being a place for educational recreation. The library is now also a place for the transfer of knowledge. It is said so because the library is a place that stores various information needed by the community and a library is a place for the creation of intellectual embryos.
Dewi Saraswati is a goddess who symbolizes art, knowledge, and spirituality in Hinduism. To realize a library as mentioned above, the Meaning of the Attribute Symbol of Dewi Saraswati can be a driving force to realize the tasks and functions of the library in the future, namely: (1) Beautiful Woman is a symbol of beautiful, attractive, gentle and noble power (2) Genitri is a symbol of immortality and unlimited knowledge (3) The Holy Library/Lontar is a symbol of the most sacred knowledge (4) The lotus is a symbol of the holiness of Ida Sang Hyang Widhi Wasa/God Almighty (5) The lotus is a symbol of the holiness of Ida Sang Hyang Widhi Wasa/God Almighty (6) The swan is a symbol of wisdom (7) A musical instrument, a symbol of high culturePerpustakaan dewasa ini dipilih menjadi salah satu institusi sebagai agen perubahan (agen of change). Perpustakaan era digital berperan sebagai agen perubahan, agen budaya, pusat pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta menjadi salah satu tempat rekreasi edukasi. Perpustakaan sekarang juga merupakan tempat transfer ilmu pengetahuan. Dikatakan demikian karena perpustakaan merupakan tempat yang menyimpan berbagai informasi yang dibutuhkan oleh masyarakat dan perpustakaan sesungguhnya adalah tempat terciptanya embrio intelektual.
Dewi Saraswati adalah dewi yang melambangkan seni, pengetahuan dan spiritualitas dalam ajaran Hindu. Untuk mewujudkan perpustakaan seperti tersebut di atas, Arti Simbol Atribut Dewi Saraswati bisa menjadi pendorong untuk mewujudkan tugas dan fungsi perpustakaan ke depan yaitu : (1) Wanita Cantik merupakan simbul dari kekuatan yang indah, menarik, lemah lembut dan mulia (2) Genitri merupakan simbul dari keabadian dan ilmu pengetahuan yang tidak ada batasnya (3) Pustaka Suci/Lontar merupakan simbul dari ilmu pengetahuan yang maha suci (4) Teratai merupakan simbul kesucian Ida Sang Hyang Widhi Wasa/Tuhan Yang Maha Esa (5) Teratai merupakan simbul kesucian Ida Sang Hyang Widhi Wasa/Tuhan Yang Maha Esa (6) Angsa merupakan simbul kebijaksanaan (7) Alat musik, merupakan simbol budaya yang tingg
Penerapan dan Sanksi Hukum Adat pada Masyarakat di Kecamatan Tewang Sanggalang Garing Kabupaten Katingan
Penerapan hukum adat pada masyarakat di Kecamatan Tewang Sanggalang Garing Kabupaten Katingan tetap eksis dan diterapkan sampai sekarang. Penerapan hukum adat dilakukan oleh Lembaga Adat (Kedamangan), penerapan hukum sebagai upaya dalam menegakan hukum serta untuk memulihkan Ketidak seimbangan lingkungan masyarakat adat dari akibat adanya pelanggaran (masalah yang terjadi hukum adat yang terjadi). Proses penerapan sanksi hukum adal dilaksanakan di proses Led Kerapan Adat (Peradilan Adat) di tingkat kecamatan sesuai dengan kesalahan dan pelanggaran adat yang dilakukan, Sehingga tujuan perapan sanksi hukum adat ini dapat terlaksana dalam pengembalikan kesimbangan kehidupan pada masyarakat adat
Proses Pelaksanaan Pembelajaran Dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan Di Era New Normal
The implementation of learning in the new normal era is a concern for all parties because learning is considered not to be implemented optimally. The quality of education is also questionable because of the lack of ready education facilities online or in the network (online). Even parents who experience a lot of job loss feel burdened with children who have to study from home because they need special assistance for children who are less able to be independent. The government has also tried to issue assistance in the form of quotas, and schools are given policies to manage BOS funds to be used to prepare health protocol facilities. Given the increasing number of positive Covid-19, lessons that are carried out offline cannot be implemented. This is where the role of parents is very much needed to help the education of their sons and daughters for the continuation of a smooth educational process in the midst of this pandemic. The role of a teacher cannot be separated from being a learning facilitator and is added to monitor the learning process that is carried out offline. With this collaboration, it is hoped that parents and teachers will make contact via online to support learning in the new normal era
SPATIAL POLICY IN CENTRAL BORNEO AND THE IMPLICATIONS FOR THE INVESTMENT CLIMATE
Spatial Plan has a significant influence on economic development in a region caused by many economic functions related to environmental areas that can be used as a means of investment. The issuance of Regional Regulation No. 5 on year 2015 on Provincial Spatial Plan can potentially arise a limited issue of investing.m This study aims to improve spatial policy in central Borneo and look at its implications for the investment climate. This type of research is empirical juridical research with qualitative-descriptive approach. The data analysis method used is descriptive-qualitative. Based on this research, it can be obtained an overview of the spatial policy direction of Central Borneo Province aimed at realizing the spatial order of agriculture-oriented areas of agribusiness and agro-industry, as well as energy barns and food barns while considering the carrying capacity and capacity of the environment. Based on the data obtained, it can be seen that investment realization from year to year has not increased significantly. Spatial policy has an influence on the investment climate in the plantation sector because this sector must occupy the cultivation area or land user area (Area Penggunaan Lahan/LAND USER AREA) in order to run the company.
Keywords: Spatial Policy, Investment Climat
Strategi Komodifikasi Budaya dalam Ritual Yaa Qowiyyu pada Masyarakat Jatinom, Klaten
Yaa Qowiyyu as a religious ritual not only contains religious values but also full of economic-political values. This paper aims to find out how economic value runs in Yaa Qowiyyu ritual and how the strategies of agencies in promoting Yaa Qowiyyu bring economic value. Primary data in this article was collected by observations, interviews and documentation methods, while secondary data was collected through literature study. Political-economic perspectives are used to analyze the collected data. The results showed that the management of Yaa Qowiyyu ritual which was based on tourism policies had broad implications for the process of cultural commodification. The commodification of culture in Yaa Qowiyyu ritual is a secondary activity that is able to encourage the community's economy.Yaa Qowiyyu sebagai ritual agama tidak lagi bermuatan nilai agama namun juga sarat akan nilai ekonomi-politik. Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana nilai ekonomi beroperasi di dalam ritual Yaa Qowiyyu dan bagaimana strategi para agensi dalam mempromosikan Yaa Qowiyyu sehingga mendatangkan nilai ekonomi. Dalam artikel ini, data primer dikumpulkan dengan menggunakan metode observasi, wawancara dan dokumentasi sementara data sekunder dikumpulkan melalui studi literatur dengan membaca literatur yang sesuai dengan topik penelitian. Data yang terkumpul kemudian dikategorisasikan dan dianalisis dengan menggunakan teknik deskriptif analisis dengan menggunakan perspektif ekonomi-politik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengelolaan ritual Yaa Qowiyyu yang berdasarkan pada kebijakan pariwisata berimplikasi luas pada proses komodifikasi budaya. Komodifikasi budaya dalam ritual Yaa Qowiyyu merupakan secondary activity yang mampu menjadi penggerak perekonomian masyarakat.
 
Efektivitas Pembelajaran Daring Pendidikan Agama Hindu Pada Masa Pandemi Covid-19
Penerapan system pembelajaran pada masa pandemic covid-19 pada hakekatnya di sesuaikan dengan keadaan dan kesiapan fasilitas yang dimiliki oleh satuan pendidikan. Pembelajaran daring hanya efektif untuk matakuliah teori saja, sementara untuk matakuliah praktikum dan matakuliah lapangan Kurang efektif dilakukan secara daring. Hasil perhitungan dari angket yang disebarkan kepada 120 sampel, diperoleh persentase sebesar 72%. Nilai tersebut apabila di kualitatifkan maka diperoleh nilai Cukup Baik. Persentase tersebut digunakan untuk menarik sebuah kesimpulan terkait dengan efektivitas pembelajaran daring mata pelajaran pendidikan agama hindu di SMP Negeri 1 Basarang. Efektivitas pembelajaran daring pendidikan agama hindu selama pandemic covid 19 tergolong Cukup Efektif. Hal ini dikarenakan terdapat beberapa kendala yang dialami peserta didik maupun guru dalam pembelajaran daring. Kendala-kendala tersebut diantaranya yaitu : Koneksi internet pada saat-saat tertentu yang tidak stabil; Terdapat beberapa siswa yang masih memiliki gawai yang kurang memadai; Beberapa siswa mengalami kendala dalam memahami materi yang disampaikan, yang disebabkan karena perbedaan gaya siswa; Pemanfaatan gawai bukan untuk proses pembelajara
Bayi Tabung Dalam Perspektif Agama Hindu
Proses suatu pewiwahan menurut Hindu yaitu yang sangat luar biasa yaitu merupakan proses yang sangat sacral mealui upacara,Sarira Samskara, yaitu melalui penyucian di dalam upakara perkawinan yang sesungguhnya adalah penyucian terhadap sel spermatozoa (sukla) dan sel telor (sonita), karena akan mulai terciptanya calon seorang ibu serta calon seorang ayah sebagai persiapan akan lahirnya seorang anak yang diharapkan suputra. Kelahiran anak melalui proses bayi tabung dapat dilakukan dengan menggunakan sel spermatozoa (sukla) dan sel telur (sonita) dari 1 pasangan (suami dan istri) yang melakukan perkawinan yang sah. Kelahiran seorang anak dalam tradisi Agama Hindu mengalami berbagai proses upacara, diantaranya yaitu upacara garbha wedana, pamagpag rare, mecolongan, nyepih umur 42 hari, nyambutin umur 105 hari, ngotonin umur 210 hari, ngeraja sewala, dan mepandes