E-Journal Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang Palangka Raya
Not a member yet
711 research outputs found
Sort by
PERKAWINAN ANAK USIA DINI PERSPEKTIF HUKUM HINDU
Marriage is a period that will go throgh each individual human being. It is stated in Hinduism that the purpose of marriage is not only to bear children and to fulfill biological needs, but also as a yadnya. Marriage for children must also be considered, both in terms of age and mentally. Age as a benchmark to determine a person's maturity, both in mind, mentality and emotion. In the Hindu concept, marriage should be carried out after finishing studying or the Brahmacari period. Providing opportunities for children to study and complete the brahmacari period, as well as an effort for parents to prevent early marriage. In addition, taking a good approach or communication relationship with children and controlling children's relationships and providing religious doctrine are also important things in preventing early childhood marriage. On the other hand, the government has made a minimum age restriction for marriage, as well as an effort to suppress the occurrence of early childhood marriages. The socialization of the negative impact of early childhood marriage is also intensively carried out through related parties. However, the spearhead of preventing early childhood marriage are parents or family. For parents who interact more and directly with children and can also give permission and whether or not they want to marry
Implementasi Toleransi Umat Beragama : Telaah Hubungan Islam dan Kristen di Durensewu Pasuruan Jawa Timur
ABSTRACT
Islam and Christianity are religions that have a long history in the life of social communities in Indonesia. The pairs of relations between the two religions have been going on for a long time. Conflict there are several regions in Indonesia that are related to social harmony with various supporting factors that exist in the community. This research will support how the pattern of participation of Islam and Christian minorities, as well as the field of harmony that unites the social relations of the two religions. Then this study is a qualitative study using observation techniques and direct interviews to the field to collect data with research objects. The results of this study suggest that both in Islam and Christianity are related to good relations within a religious and social framework. Furthermore, in building social relations that are found in several religious harmony fields, the yard is a place of worship, a village spring, a village hall and a village field.
Keywords: Islam, Christianity, Tolerance, and social harmony.ABSTRAK
Islam dan Kristen merupakan agama yang memiliki sejarah panjang dalam kehidupan social kemasyarakat di Indonesia, pasang surut hubungan kedua agama ini telah berlangsung lama, beberapa konflik keagamaan yang melibatkan kedua unsur agama ini pernah terjadi, akan tetapi tidak selamanya hubungan kedua agama ini berada pada titik jenuh konflik, dibeberapa wilayah Indonesia hubungan social yang harmonis tecipta dengan beragam faktor pendukung yang ada dalam masyarakat. Penelitian ini akan berusaha menggali bagaimana pola hubungan mayoritas Islam dan minoritas Kristen, serta medan kerukunan yang menjadi pemersatu hubungan social kedua agama ini. Kemudian penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan teknik observasi dan wawancara secara langsung ke lapangan untuk menggali data dengan objek penelitian. Hasil penelitian ini menyebutkan bahwa baik dalam Islam maupun Kristen terdapat ajaran untuk saling menjaga hubungan baik dalam bingkai toleransi beragama dan bermasyarakat. Selanjutnya dalam membangun hubungan social terdapat beberapa medan kerukunan beragama diantaranya halaman tempat ibada, sendang desa, balai desa dan lapangan desa.
Kata kunci: Islam, Kristen, Toleransi, dan harmoni social
Proses Pembelajaran Daring Selama Pandemi Covid-19 di IAHN-TP Palangka Raya Perspektif Pendidikan Hindu
The Covid-19 pandemic has had an impact on the world of education in Indonesia. The transformation of the face-to-face learning system in the classroom into an online learning system is a very important and urgent problem faced by the world of education. Since the beginning of the pandemic until now, the issue of learning online systems has been the focus of various studies. However, research on online learning at the Tampung Penyang State Hindu Institute (IAHN-TP) Palangka Raya is not yet available. Researchers are interested in studying online system learning at IAHN-TP Palangka Raya with a focus on problems how is the online system learning process during the Covid-19 pandemic at IAHN-TP Palangka Raya.The theory used to examine and describe the formulation of the research problem is the theory of phenomenology and the theory of the learning process. The research method used is a qualitative phenomenological research method with an emic approach. Data obtained from observations, interviews, and document studies. Furthermore, the data obtained are reduced, presented, and a conclusion is drawn.The data studied and analyzed using phenomenological theory and learning process theory show the following points, preparations made by lecturers in the online system learning process include the preparation of more detailed teaching materials, more interesting teaching techniques, the availability of learning tools, and the availability of internet networks. The implementation of learning is done virtual asynchronously and collaboratively synchronously by applying RQA and HOTS. Evaluation of learning outcomes is carried out online in the form of multiple choice of questions and self-analysis.Kata Kunci : learning process, online learning, learning during covid-19 pandemicPandemi Covid-19 berdampak pada dunia pendidikan di Indonesia. Transformasi sistem pembelajaran tatap muka di kelas menjadi pembelajaran sistem daring menjadi persoalan sangat penting dan mendesak yang dihadapi dunia pendidikan. Sejak awal pandemi sampai saat ini persoalan pembelajaran sistem daring telah menjadi fokus berbagai penelitian. Namun, penelitian tentang pembelajaran daring di Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang (IAHN-TP) Palangka Raya belum tersedia. Peneliti tertarik mengkaji pembelajaran sistem daring di IAHN-TP Palangka Raya dengan fokus masalah bagaimana proses pembelajaran sistem daring selama pandemi Covid-19 di IAHN-TP Palangka Raya.Teori yang digunakan untuk mengkaji dan mendeskripsikan rumusan masalah penelitian tersebut ialah teori fenomenologi dan teori proses pembelajaran. Metode penelitian yang digunakan ialah metode penelitian kualitatif fenomenologi pendekatan emik. Data diperoleh dari hasil observasi, wawancara, dan studi dokumen. Selanjutnya data yang diperoleh direduksi, disajikan, dan diambil suatu kesimpulan.Data yang dikaji dan dianalisis dengan teori fenomenologi dan teori proses pembelajaran menunjukkan beberapa hal, yakni persiapan yang dilakukan dosen pada proses pembelajaran sistem daring meliputi penyusunan bahan ajar yang lebih terperinci, teknik mengajar yang lebih menarik, ketersediaan perangkat pembelajaran, dan ketersediaan jaringan internet. Pelaksanaan pembelajaran dilakukan secara virtual asynchronous dan collaborative synchronous dengan menerapkan RQA dan HOTS. Evaluasi hasil pembelajaran dilakukan secara daring berupa soal pilihan ganda dan analisis mandiri
Kisah Kesetiaan Bhisma Pada Hastinapura: Fenomena Pergeseran Etika Deontologi Menuju Teleologi
This article aims to examine the story of Bhisma's loyalty to Hastinapura from an ethical perspective. The contents of this study answer three main questions, namely: What is the description of Bhisma's loyalty to Hastinapura? What caused Bhisma's change of allegiance to Hastinapura? How did Bhisma's loyalty to Hastinapura change from an ethical perspective? This research is a library research using a qualitative approach. The material object of the study is the loyalty of Bhisma in the Mahabharata story and the formal object is ethics. Data collection in this study was conducted through document studies on primary and secondary data sources that have relevance to the research theme. The results of this study indicate that in fact Bhisma is a loyal figure. The stagnation of Bhisma's loyalty to Hastinapura was caused by the behavior of the Kauravas deviating from the values of truth, a value that Hastinapura has always upheld. In the hands of the Kauravas, these values have been degraded. Bhisma's attitude which ultimately chose to be 'unfaithful' to Hastinapura is a form of Bhisma's loyalty in another definition, a true definition of loyalty, namely 'faithfulness to the truth'. From an ethical perspective, Bhisma's attitude shows an ethical shift, from deontological ethics to teleological ethics.Artikel ini bertujuan untuk mengkaji kisah kesetiaan Bhisma kepada Hastinapura yang ditinjau dari perspektif etika. Isi kajian ini menjawab tiga pertanyaan pokok, yaitu: Bagaimana gambaran kesetiaan Bhisma kepada hastinapura? Apa yang melatarbelakangi perubahan kesetiaan Bhisma pada Hastinapura? Bagaimana perubahan kesetiaan Bhisma pada Hastinapura bila ditinjau dari perspektif etika? Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan (library research) dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Objek material dari kajian adalah kesetiaan Bhisma dalam kisah Mahabharata dan objek formalnya adalah adalah etika. Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan melalui studi dokumen pada sumber data primer dan sekunder yang memiliki relevansi dengan tema penelitian. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa sesungguhnya Bhisma adalah figur yang setia. Mandeknya 'kesetiaan Bhisma pada Hastinapura disebabkan oleh menyimpangnya perilaku Kaurawa dari nilai-nilai kebenaran, sebuah nilai yang selama ini dijunjung tinggi oleh Hastinapura. Ditangan kekuasaan Kaurawa, nilai-nilai itu telah terdegradasi. Menyimak sikap Bhisma yang pada akhirnya memilih untuk 'berhenti setia' pada Hastinapura, sesunggnya adalah bentuk kesetian Bhisma dalam definisi yang lain, sebuah definisi kesetiaan yang sesungguhnya, yakni 'kesetiaan pada kebenaran'. Dalam perspektif etika, sikap Bhisma menunjukkan pergeseran etis, dari etika deontoligis menuju teleologi
Respons Masyarakat Muslim terhadap Tradisi Ngaben di Banguntapan Bantul Daerah Istimewa Yogyakarta
Ritual Ngaben merupakan upacara umat Hindu sebagai upaya dari peleburan raga manusia di dunia untuk dapat bergabung dengan alam semesta. Umat Hindu melaksanakan upacara ini dengan segala dinamikanya. Mereka melaksanakan di mana pun berada. Umat Hindu di Yogyakarta juga demikian, mereka tetap melakukan ritual ini meskipun sedang berada di tengah masyarakat Muslim mayoritas. Artikel ini memotret seputar bagaimana respons Muslim terhadap ngaben yang dilaksanakan umat Hindu di Banguntapan Yogyakarta. Pengumpulan data dilakukan melalui studi pustaka, observasi, dan wawancara. Hasil analisa data menunjukkan bahwa pelaksanaan upacara Ngaben di Pura Jagadnatha Banguntapan direspons biasa saja oleh kelompok Muslim. Ritual yang dilaksanakan berjalan dengan baik. Kelompok Muslim menganggap ritual tersebut sebagai ajaran Hindu yang menjadi salah satu tradisi yang telah diwarisi oleh umatnya secara turun-temurun. Artikel ini menegaskan bahwa pelaksanaan ritual selain merupakan pertanda atas kepatuhan umat beragama terhadap ajaran agamanya, juga menjadi jalan untuk menunjukkan sikap saling menghormati. Umat Hindu meskipun minoritas, mendapat ruang untuk tetap melakukan ritualnya di tengah Muslim mayoritas
Sistem Informasi Akademik dalam pengelolaan pendidikan di Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang Palangka Raya
Perkembangan teknologi informasi dalam segala aspek mendorong perguran tinggi untuk melakukan langkah-langkah strategis agar bisa tetap unggul dalam segala bidang. Peran teknologi informasi pada perguruan tinggi mulai bisa dirasakan dalam kegiatan/proses akademik. Beberapa perguruan tinggi baik swasta atau pun negeri sudah memanfaatkan sistem informasi yang merupakan bagian dari teknologi informasi. Sistem informasi akademik sangat membantu dan berperan aktif dalam suatu perguruan tinggi, hal ini dapat dilihat dengan telah diterapkannya sistem informasi akademik yang digunakan oleh Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang Palangka Raya dalam hal proses belajar mengajar, mengatur jadwal ruangan, kuliah, jadwal ujian yang kesemuanya merupakan tugas dari bagian pengajaran yang dapat dikategorikan bagian internal dari perguruan tinggi. Pemanfaatan sistem informasi untuk setiap aktivitas internal dalam perguruan tinggi akan juga menjadi faktor kesuksesan dan kemajuan dari perguruan tinggi
 
Perlindungan Terhadap Pengungsi dan Pencari Suaka di Indonesia Pada Masa Pandemi Covid-19
The purpose of writing about the protection of foreign refugees and asylum seekers in Indonesia during the Covid-19 pandemic are to examine the factual conditions in Indonesia as a transit country and to compile various regulations that underlie human rights. This research was conducted through a statutory approach, a literature study, and a case approach. The research used a normative legal research method and the type of analysis applied was descriptive interpretive. The results of this paper include immigration regulations as the basis for accepting foreign refugees and asylum seekers in Indonesia; obtaining data regarding the conditions of foreign refugees and asylum seekers in Indonesia who have not received optimal protection during the Covid-19 pandemic; and a number of regulations protecting the rights of foreign refugees and asylum seekers in Indonesia
Media Komunikasi dalam Pembelajaran Online Masa Pandemi Covid 19
Media Komunikasi dalam Pembelajaran Online Masa Pandemi Covid 1
Filosofis Kelahiran Bhoma Dalam Kakawin Bhomakawya
Many Hindu religious teachings are reflected in a literary work, one of which is Kakawin Bhomakawya. The researchers conducted research on Kakawin Bhomakawya. where the Bhoma story is of the most importance for Hindus, the Bhoma story has values and teachings that should be known and used as guidelines by Hindus in everyday life. Researchers conducted research on the structure of the Bhoma story, Hindu religious teachings contained in the Bhoma story. In this study, researchers used theory to dissect the problem. The theory used by researchers in conducting research in the Bhoma story is the Theory of Structure, Hindu Aesthetic Theory and Hermeneutic Theory,Banyak ajaran agama Hindu yang tercermin dalam sebuah karya sastra, salah satunya Kakawin Bhomakawya. Peneliti melakukan penelitian terhadap Kakawin Bhomakawya. dimana cerita bhoma merupakan hal yang paling penting bagi umat hindu, cerita bhoma memiliki nilai dan ajaran yang harus diketahui dan dijadikan pedoman oleh umat hindu dalam kehidupan sehari-hari. Peneliti melakukan penelitian terhadap struktur cerita Bhoma, ajaran agama Hindu yang terkandung dalam cerita Bhoma. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan teori untuk membedah masalah. Teori yang digunakan peneliti dalam melakukan penelitian dalam cerita Bhoma adalah Teori Struktur, Teori Estetika Hindu dan Teori Hermeneutik
Pemujaan Sangiang Serri Di Tanah Bugis
Pemujaan terhadap Dewi Padi atau Sanghyang Serri sangat terkenal dibeberapa wilayah di Indonesia. Seperti Nyai Pohaci Sanghyang Asri dalam bahasa Sunda, Dewi Sri dalam bahasa Jawa serta Sanghyang Sri dalam bahasa Bali. Pemujaan terhadap Sangyang Serri di Indonesia tidak terlepas dari keberadaan wilayah Indonesia yang dikenal sebagai Negara agraris, begitu pula halnya dengan masyarakat Bugis yang berada di Provinsi Sulawesi Selatan. Sebagaimana petani yang terdapat di daerah lain, para petani Bugis juga masih sangat memegang teguh tradisi-tradisi leluhur yang berkaitan dengan aktivitas pertanian. Seperti halnya melakukan upacara adat sebelum memulai aktivitas disawah maupun mencari hari baik untuk terjun kesawah. Hal ini juga tidak terlepas dari kepercayaan masyarakat Bugis terhadap Sangiang Serri yang dianggap sebagai penentu dari keberhasilan aktivitas pertanian. Dalam Lontara I La Galigo, Sangyang Serri dikatakan sebagai anak dari Bhatara Guru yang dianggap sebagai leluhur masyarakat Bugis dan sekaligus sebagai raja pertama di Kerajaan Luwu. Dalam melakukan pemujaan terhadap Sangiang Serri masyarakat Bugis melakukan suatu upacara yang disebut dengan Mapalili yang disebut sebagai komando turun sawah. Upacara ini dipimpin oleh Pendeta Bugis (Bissu) dan dilaksankaan dengan sangat meriah. Melalui upacara ini masyarakat Bugis meyakini bahwa hasil panen yang mereka peroleh akan berlimpah karena telah direstui oleh Sangiang Serri dan para Dewata