E-Journal Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang Palangka Raya
Not a member yet
711 research outputs found
Sort by
Ajaran Etika Hindu Dalam Lontar Tattwa Kala
Lontar Kala tattwa is a Shivaistic lontar manuscript that specifically explains the origins of Sang Hyang Kala's birth and the gifts he received from his parents-Bhatara Shiva and Dewi Uma. Lontar Kala tattwa also contains the teachings of Hindu ethics which regulate good and right behavior for the happiness of life and harmonious relations between humans and God Almighty, between fellow humans, humans and the universe and His creation. Hindu ethical teachings also mean that they can form noble character and human nature as individual, social and religious beings that can be implemented in everyday life.This research is a qualitative research with a qualitative approach, which is included in the qualitative approach to the philosophy of literature. The data collection method in this article is a literature study. The results obtained from scientific articles are the teachings of Hindu ethics contained in the Lontar Tattwa Kala, namely a) The value of Sad Ripu (Self-control) b) The value of Panca Yajna in the Lontar Tattwa Kala which consists of Dewa Yajna performed before c) The value of Chess Guru which consists of from Guru Rupaka are parents at home, recitation teachers are teachers who teach in schools, Guru wisesa is the government and Guru Swadhyaya is Ida Sang Hyang Widhi Wasa d) The value of Tri Kaya Parisudha in Lontar Tattwa Kala is Manacika, which means pure thinking or good thinking. true, Wacika which means telling the truth and Kayika which means holy deeds or behavior or right behavior.Lontar Kala tattwa adalah sebuah naskah lontar yang bersifat Siwaistik yang secara spesifik menjelaskan tentang asal-usul kelahiran Sang Hyang Kala beserta anugrah-anugrah yang diterima dari orang tuanya-Bhatara Siwa dan Dewi Uma. Lontar Kala tattwa juga terdapat ajaran Etika Hindu yang mengatur tingkah laku yang baik dan benar untuk kebahagiaan hidup serta keharmonisan hubungan antara manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa, antar sesama manusia, manusia dengan alam semesta dan ciptaan-Nya. Ajaran etika Hindu juga bermakna dapat membentuk budi pekerti yang luhur dan hakekat manusia sebagai makhluk individu, sosial religius yang dapat diimplementasikan ke dalam kehidupan sehari-hari.
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan kualitatif, yang mana termasuk dalam pendekatan kualitatif filsafat kepustakaan.. Metode pengumpulan data dalam artikel ini adalah studi kepustakaan. Hasil yang diperoleh dari artikel ilmiah adalah ajaran Etika Hindu yang terkandung dalam Lontar Tattwa Kala yaitu a) Nilai Sad Ripu (Pengendalian Diri) b) Nilai Panca Yajna dalam Lontar Tattwa Kala yang terdiri dari Dewa Yajna yang dilakukan kehadapan c) Nilai Catur Guru yaitu terdiri dari Guru Rupaka adalah orang tua dirumah, Guru Pengajian adalah guru yang mengajar di sekolah, Guru wisesa adalah Pemerintah dan Guru Swadhyaya adalah Ida Sang Hyang Widhi Wasa d) Nilai Tri Kaya Parisudha dalam Lontar Tattwa Kala yaitu Manacika yaitu yang berarti berpikir suci atau berpikir yang benar, Wacika yaitu yang berarti berkata yang benar dan Kayika yaitu yang berarti perbuatan atau prilaku suci atau berprilaku yang benar.
Lontar Kala tattwa adalah sebuah naskah lontar yang bersifat Siwaistik yang secara spesifik menjelaskan tentang asal-usul kelahiran Sang Hyang Kala beserta anugrah-anugrah yang diterima dari orang tuanya-Bhatara Siwa dan Dewi Uma. Lontar Kala tattwa juga terdapat ajaran Etika Hindu yang mengatur tingkah laku yang baik dan benar untuk kebahagiaan hidup serta keharmonisan hubungan antara manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa, antar sesama manusia, manusia dengan alam semesta dan ciptaan-Nya. Ajaran etika Hindu juga bermakna dapat membentuk budi pekerti yang luhur dan hakekat manusia sebagai makhluk individu, sosial religius yang dapat diimplementasikan ke dalam kehidupan sehari-hari.
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan kualitatif, yang mana termasuk dalam pendekatan kualitatif filsafat kepustakaan.. Metode pengumpulan data dalam artikel ini adalah studi kepustakaan. Hasil yang diperoleh dari artikel ilmiah adalah ajaran Etika Hindu yang terkandung dalam Lontar Tattwa Kala yaitu a) Nilai Sad Ripu (Pengendalian Diri) b) Nilai Panca Yajna dalam Lontar Tattwa Kala yang terdiri dari Dewa Yajna yang dilakukan kehadapan c) Nilai Catur Guru yaitu terdiri dari Guru Rupaka adalah orang tua dirumah, Guru Pengajian adalah guru yang mengajar di sekolah, Guru wisesa adalah Pemerintah dan Guru Swadhyaya adalah Ida Sang Hyang Widhi Wasa d) Nilai Tri Kaya Parisudha dalam Lontar Tattwa Kala yaitu Manacika yaitu yang berarti berpikir suci atau berpikir yang benar, Wacika yaitu yang berarti berkata yang benar dan Kayika yaitu yang berarti perbuatan atau prilaku suci atau berprilaku yang benar
Komparasi Etika Hedonisme Epikuros Dengan Filsafat Cārvāka
Abstract
Humans in life are never separated from the goal. Human goals are so complex that it cannot be separated from the process from thinking to the point of philosophy. In understanding the goal, humans try to achieve that goal. The goal of humans ethically is to achieve a happiness. Happiness here also has a shared perception of pleasure, enjoyment, and peace. This paper attempts to describe ethical thinking related to the purpose of human life by comparing the cārvāka philosophy with the hedonistic thought of Epikuros. Both of these thoughts have the same view, namely the concept of hedonism or pleasure sought by humans. However, apart from the similarities, there are also differences. Where, cārvāka is a philosophy with atheism nuances, meaning that it does not believe in the existence of God with the assumption of material enjoyment as the goal of human life. In contrast to Epicurus that humans seek pleasure can also be obtained from the spiritual aspect, to achieve the goal of life, namely in the form of peace of mind. The benefit of this paper is that it can contribute to readers regarding the cārvāka teachings and Epikuros thoughts related to the aspect of hedonism.
Keywords: Comparison, Cārvāka, Epikuros HedonismAbstrak
Manusia dalam hidupnya tidak pernah terlepas dari tujuan. Tujuan manusia begitu kompleks hal ini tidak terlepas dari proses dari berpikir hingga pada titik berfilsafat. Dalam memahami tujuannya, manusia pun berusaha untuk mencapai tujuannya tersebut. Tujuan manusia secara etis adalah mencapai suatu kebahagian. Kebahgian disinipun memiliki berbagi persepsi baik itu kesenangan, kenikmatan, serta kedamaian. Pada tulisan ini berusaha menguraiakn mengenai pemikiran etis terkait tujuan hidup manusia dengan mengkomparasi filsafat cārvāka dengan pemikiran hedonisme Epikurus. Kedua pemikiran tersebut, memiliki suatu pandangan yang sama yakni konsep hedonisme atau kesenangan yang dicari oleh manusia. Namun, selain kesamaannya juga ada perbedaannya. Dimana, cārvāka merupakan filsafat yang bernuansa atheisme, artinya tidak percaya keberadaan Tuhan dengan asumsi kenikmatan materi sebagi tujuan hidup manusia. Berbeda dengan Epikuros bahwa manusia mencari kenikmatan juga bisa diproleh dari aspek rohani, untuk mencapai tujuan hidupnya yaitu dalam bentuk kedamaian jiwa. Manfaat dari tulisan ini adalah bisa memberikan kontribusi bagi para pembaca menegnai ajaran cārvāka dan pemikiran Epikuros terkait dengan aspek hedonsime.
Kata Kunci : Komparasi, Cārvāka, Hedonisme Epikuro
NILAI-NILAI PENDIDIKAN HINDU DALAM PELAKSANAAN TAWUR KESANGA PADA HARI RAYA NYEPI DI KOTA PALANGKA RAYA
Abstrak
The process of learning knowledge and skills from generation to generation of sustained through training, research and practice. This process is sustainable based on the level of age, education, and insights that evolved structured with the basis of the progress and improvement of the quality of an individual or a group of high-value without having to dipersentase with numbers. Today, the spiritual and the character became the basic thing in the determination of the grooves education personal so that it is more ethical and religious on the development of the person towards the publication of yourself. The purpose of the ceremony is to maintain the balance of nature. If nature is balanced, then the world mikrocosmos (Bhuana Alit) and makrocosmos (Bhuana Agung) in a balanced state and harminis. Tawur Kesanga ceremony is a ceremony pecaruan done once a year, at the turn of the end of the year Saka precisely at tilem kesanga. Ritual Tawur is implemented in Catuspata (the intersection of the Great) to purify Akasa (Swah Loka), the Atmosphere (Bhuwah loka), and Sarwaprani (Bhur Loka). In the city of Palangka Raya tradition is routinely conducted every year. The purpose of the Tawur Kasanga that Neutralizing negative energy into positive energy so it was natural to be balanced, and harmonious. In practice there are educational values of Hinduism such as the value of the tattwa, the value of moral and ritual value. it interesting to be discussed and thoroughly so that the obtained picture to be concluded. From the conclusion that there can be poured into the writing of the Hindu education values on the tawur kesanga implementation of Nyepi day in Palangka Raya. Values education app developed in this paper that the Value of Spiritual Education, the educational value of knowledge, and education value of skiil.
Kata Kunci : The Hindu Education Values, Tawur Kesanga, Nyepi Day
Proses pembelajaran pengetahuan dan keterampilan dari generasi ke generasi terus berlajut melalui pelatihan, penelitian dan praktek. Proses ini berkelanjutan berdasarkan jenjang umur, pendidikan, dan wawasan yang berevolusi terstruktur dengan dasar kemajuan serta perbaikan mutu individu maupun golongan yang bernilai tinggi tanpa harus dipersentase dengan angka. Dewasa ini, spiritual dan karakter menjadi hal dasar dalam penentuan alur pendidikan personal sehingga lebih beretika dan religius pada pengembangan diri seseorang menuju publikasi diri. Tujuan upacara adalah menjaga keseimbangan alam. Jika alam seimbang, maka dunia mikrocosmos (Bhuana Alit) dan makrocosmos (Bhuana Agung) dalam keadaan seimbang dan harminis. Upacara Tawur Kesanga merupakan upacara pecaruan yang dilakukan setahun sekali, pada setiap pergantian akhir tahun Saka tepatnya pada tilem kesanga. Upacara Tawur ini dilaksanakan di Catuspata (perempatan Agung) untuk mensucikan Akasa (Swah Loka), Atmosfir (Bhuwah loka), dan Sarwaprani (Bhur Loka). Di kota Palangka Raya tradisi ini rutin dilaksankan setiap tahun. Tujuan dari Tawur Kasanga yaitu menetralisir energi negatif menjadi energy positif sehingga alam menjadi seimbang, dan harmonis. Dalam pelaksanaannya terdapat nilai-nilai pendidikan Hindu seperti nilai tattwa, nilai susila dan nilai upakara yang menarik untuk dibahas dan teliti sehingga diperoleh gambaran untuk disimpulkan. Dari kesimpulan yang ada dapat dituangkan kedalam tulisan yang berjudul Nilai-Nilai Pendidikan Hindu Pada Pelaksanaan Tawur Kesanga Hari Raya Nyepi di Kota Palangka Raya. Nilai-nilai pendidikan yang dikembangkan dalam tulisan ini yaitu Nilai Pendidikan Spiritual, nilai pendidikan pengetahuan, dan nilai pendidikan keterampilan.
Kata Kunci : Nilai-nilai pendidikan Hindu, Tawur Kesanga, Hari Raya Nyepi
 
Kosmologi Hindu Dalam Teks Ganapati Tattwa
Ilmu yang mempelajari tentang seluk beluk alam semesta beserta isinya disebut kosmologi. Dalam susatra Hindu ajaran kosmologi banyak ditemukan dalam teks-teks Veda secara universal maupun Nibandha secara local genius. Salah satu bagian dari Nibandha adalah lontar. Lontar eksis dan masih banyak ditemukan diberbagai tempat yang ada di Indonesia, salah satunya yang terbanyak adalah di Bali. Salah satu lontar yang mengkaji soal kosmologi, utamanya kosmologi Hindu adalah Ganapati Tattwa. Dalam penelitian ini lontar yang dikaji telah digubah dan dialih aksarakan serta dialih bahasakan ke dalam bentuk teks berbahasa Kawi dan Indonesia. Teks Ganapati Tattwa merupakan salah satu teks yang membahas secara gamblang perihal ajaran tattwa yang bernuansa siwaistik. Dalam teks ini dijelaskan konsep penciptaan (utpati), pemeliharaan (sthitti), dan peleburan (pralina) alam semesta yang disajikan dalam bentuk dialogis antara Dewa Siwa dengan putranya Sang Hyang Ganapati. Sang Hyang Ganapati mengajukan begitu banyak pertanyaan kepada Dewa Siwa tentang hakikat alam semesta, hakikat manusia, ajaran yoga, kelepasan, dan lain sebagainya yang dijawab dengan bijaksana oleh Dewa Siwa. Konsep kosmologi Hindu dalam teks ini dijelaskan berawal dari Om-kara yang kemudian melahirkan Windu dan berakhir pada pembentukan alam semesta melalui unsur-unusr Panca Maha Bahuta. Selanjutnya akan mengalami pemeliharaan yang diakomodir oleh unsur-unsur Panca Daiwatma, kemudian dilanjutkan dengan peleburan sampai pada konsep Niskala dan akan mengalami penciptaan kembali dari konsep Niskala akan melahirkan Om-kara kembali sebagai cikal bakal penciptaan alam semesta
Kekerasan Dalam Rumah Tangga Perspektif Hukum Hindu
Abstrak
Kekerasan dalam rumah tangga merupakan tindakan yang dilakukan oleh seseorang atau sekolompok orang dengan tujuan untuk melukai atau menyakiti orang lain. Kekerasan yang dilakukan bisa dengan perbuatan maupun dengan perkataan. Dalam Hindu perbuatan kekerasan atau menyakiti orang lain, sama halnya menyakiti diri sendiri. Hindu mengajarkan untuk senantiasa menjalin hubungan yang baik kepada siapapun, apalagi kepada istri. Kekerasan yang terjadi dapat disebabkan oleh kondisi ekonomi keluarga, usia suami atau istri dan tingkat pendidikan suami dan istri. Tindakan kekerasan dapat berupa kekerasan pisik, psikologis, seksual dan ekonomi. Akibat kekerasan yang terjadi dalam rumah tangga dapat berdampak luas, apalagi jika dilakukan secara berkelanjutan. Misalnya akan meninggalkan rasa trauma, cacat fisik, mentalnya menjadi gampang setres. Bahkan apabila terjadi pada anak, maka akan mengganggu atau menghambat tumbuh kembang si anak. Pada akhirnya kehidupan keluarga yang dijalani akan berantakan, tidak ada keharmonisan dan kebahagian. Manawa Dharmasastra jelas mengatakan dimana wanita dihormati, disitu aka ada kebahagiaan. Begitu sebaliknya, apabila wanita tidak dihargai, diperlakukan dengan kasar, maka keluarga tersebut dalam jurang kehancuran. Banyak upaya yang bisa dilakukan agar kehidupan keluarga senantiasa harmonis, diantaranya menyayangi dan memperlakukan istri dengan baik, serta menjaga hubungan yang baik dengan seluruh anggota keluarga dan sebagainya.
Kata Kunci: Kekerasan, Rumah Tangga, Hukum Hind
Protection of Personal Data With the Principle of Prioritizing Protecting User Privacy in an Effort to Realize Legal Goals in Indonesia
Many Indonesian people take advantage of the development of information technology in the digital world to carry out activities and work so that not a few technologies that are currently developing to run require people's personal data so that they are vulnerable to being misused and experiencing data leaks that can harm the owner of the data. In order for this not to happen, the Government of Indonesia is obliged to protect and safeguard the personal data of the Indonesian people by protecting the privacy of the owner of the personal data from any form of misuse and leakage of personal data that can harm the Indonesian people so that the purpose of Indonesian law is to protect every Indonesian citizen's rights mandated in the 1945 Constitution can be realized and run well. In order to strengthen the current legal rules for protecting personal data and user privacy, the Indonesian government can apply the principle of prioritizing protecting personal data and user privacy which has been previously implemented by various European Union countries in the personal data protection rules known as General Data Protection. Regulation (GDPR). The application of these principles can be used in every system that exists in the digital world today that uses the public's personal data so as to avoid the possibility of misuse of personal data and leakage of personal data. and a supervisory system from the Government that becomes a single unit so that the Government of Indonesia can monitor and control the public's personal data by maintaining the security of personal data from misuse of personal data and leakage of personal data from the system and giving the community the right to monitor and control personal data related to data privacy. them so that the personal data and privacy of Indonesian users are protected and well maintaine
METODE PICTURE AND PICTURE DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA HINDU PADA SEKOLAH DASAR
The application of learning methods, especially at the elementary school level, requires the accuracy of the teacher in adjusting the characteristics of students by paying attention to the age level and the environment around the students. Seeing the characteristics of students at the elementary school level who have a tendency to play, so that one of the learning models that can be applied is the Picture and Picture cooperative model. The application of the Picture and Picture type of cooperative learning model can be an alternative for teachers in making variations in classroom learning so that students do not feel bored and the scores will be able to reach the set standards.
Learning by using the Picture and Picture method in Hindu religious education subjects at the primary to secondary level can be applied as long as the learning can be done using picture media. Hindu religious education lessons that can use this method include learning the holy place, avatara, susila and other materials.Penerapan metode pembelajaran terutama pada tingkat sekolah dasar membutuhkan ketelitian guru dalam menyesuaikan karakteristik peserta didik dengan memperhatikan tingkat usia dan lingkungan sekitar peserta didik. Melihat karakteristik siswa pada tingkat sekolah dasar yang memiliki kecenderungan untuk bermain, sehingga salah satu Model Pembelajaran yang dapat diterapkan yaitu model Kooperatif Tipe Picture and Picture. Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Picture and Picture dapat menjadi sebuah alternatif bagi guru dalam membuat variasi pembelajaran dikelas sehingga peserta didik tidak merasa jenuh dan nilai akan dapat mencapai standar yang ditetapkan. Metode Picture and Picture sangat tepat diterapkan pada pembelajaran dengan materi yang memutuhkan gambar sebagai media yang membantu guru dalam meningkatkan peran serta mahasiswa dalam menggali pengetahuan dari berbagai sumber belajar.
Pembelajaran degan menggunakan metode Picture and Picture pada mata pelajaran pendidikan agama hindu baik pada tingkat dasar sampai menengah dapat diterapkan sepanjang pembelajaran tersebut dapat di dilakukan dengan menggunakan media gambar. Pembelajaran pendidikan agama hindu yang dapat menggunakan metode ini antara lain, pembelajaran tempat suci, avatara, Susila dan materi-materi lainnya
Konsep Anti Korupsi Pada Lontar Yajña Prakrti
Gerakan reformasi tahun 1998 berhasil menumbangkan rezim Orde Baru yang telah berkuasa selama 32 tahun, yang dilatarbelakangi oleh korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN). Tumbangnya rezim Orde Baru tidak serta merta menghapus praktik korupsi di Indonesia. Korupsi tetap hidup dan semakin merata dalam setiap kehidupan berbangsa dan bernegara, bahkan dalam pelaksanaan upacara agama Hindu. Penyediaan banten sebagai media pada upacara yajňa, ternyata rentan terhadap kecurangan para tukang (sarathi) banten dengan cara mengurangi tetandingan atau menaikkan tingkatan bantennya untuk memperoleh keuntungan. Untuk mengantisipasi kecurangan tersebut, Lontar Yajňa Prakrti, sebuah teks tentang pedoman pelaksanaan upacara yajňa untuk masyarakat Hindu, memberikan penekanan (pemiteges) agar tukang (sarathi) banten tidak melakukan kecurangan, dengan mengurangi atau menambahkan tetandingan, melanggar ajaran Ida Bhatari Tapini tentang plutuk banten, dengan memberikan ancaman hukuman moral secara niskal
Analisis Tujuan Hukum Yang Dicapai oleh Warga Negara Indonesia Melalui Perjanjian Perkawinan (Pre-Numptial Agreement dan Post Numptial Agreement)
Secara umum mengenai tujuan hukum di Indonesia mencakup ke dalam 3 (tiga) elemen penting yaitu keadilan dari sudut pandang filsahat hukum, kemanfaatan dari sudut pandang sosiologi hukum serta kepastian hukum yang merupakan dari sisi ilmu hukum normatif (Wibawanti, 2011). Ketiga unsur tersebut tidak terpisahkan dan menjadi jiwa dalam sebuah aturan hukum. Ketentuan yang terdapat dalam Pasal 1 ayat 3 Undang-Undang Dasar 1945 yang menjelaskan bahwa Indonesia adalah negara hukum (Undang-Undang Dasar 1945, n.d.), dimana hal tersebut mengandung pengertian bahwa hukum memegang peranan penting dalam mengatur segala tingkah laku manusia dalam kehidupan bernegara di Negara Indonesia
LEGALITY OF THERAPEUTIC CONTRACTS IN HANDLING HEALTH FROM THE LEGAL PERSPECTIVE OF AGREEMENTS AND HINDU LAW
Health is a very important factor and has become a basic necessity for human life. When humans are sick and have to get certain medical actions we have to sign a contract which is called a Therapeutic contract. The purpose of this study was to determine the legality of the therapeutic contract in the perspective of Hindu law and contract law. The approach method in this research uses normative legal research methods. The legality of a therapeutic contract, both from the perspective of treaty law and Hindu law, refers to the arrangements regarding the validity of the agreement and the conditions for binding the contract or pacta sunt servanda. In the agreement law, the provisions for the validity of the agreement are contained in the provisions of Article 1320 of the Civil Code and regarding the conditions for binding contracts are regulated in Article 1338 of the Civil Code. Whereas in Hindu law, the arrangements regarding the validity of the agreement and the conditions for binding the contract are regulated in Book VIII Manawa Dharmasastra, namely for the legal terms of the agreement in Book VIII Sloka 165 (agreement), Sloka 163 (skill), Sloka 143 (achievement), and Sloka 164 (causa kosher); The conditions for binding contracts (pacta sunt servanda) are stipulated in Book VIII Sloka 46. As well as being sourced from the Civil Code and Manawa Dharmasastra, therapeutic contracts whose object is inspanning verbintenis (medical action based on effort, not results achieved) are also subject to the provisions of national law as stated in the Minister of Health Regulation Number 290 of 2008 concerning Approval of Medical Action.Kesehatan adalah faktor yang sangat penting dan telah menjadi kebutuhan pokok bagi kehidupan manusia. Ketika manusia sakit dan harus mendapatkan tindakan medis tertentu kita harus menandatangani suatu kontrak yang disebut dengan kontrak Terapeutik. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui legalitas kontrak Terapeutik dalam persepektif hukum perjanjian dan hukum hindu. Metode pendekatan dalam penelitian ini menggunakan metode penelitian hukum normatif (normative legal research). Legalitas kontrak terapeutik baik dari perspektif hukum perjanjian dan hukum Hindu mengacu pada pengaturan mengenai syarat sahnya perjanjian dan syarat mengikatnya kontrak atau pacta sunt servanda. Dalam hukum perjanjian, pengaturan syarat sahnya perjanjian tertuang dalam ketentuan Pasal 1320 KUH Perdata dan perihal syarat mengikatnya kontrak diatur dalam Pasal 1338 KUH Perdata. Sedangkan dalam hukum Hindu, pengaturan mengenai syarat sahnya perjanjian dan syarat mengikatnya kontrak diatur dalam Buku VIII Manawa Dharmasastra, yakni untuk syarat sah perjanjian pada Buku VIII Sloka 165 (kesepakatan), Sloka 163 (kecakapan), Sloka 143 (prestasi), serta Sloka 164 (causa halal); untuk syarat mengikat kontrak (pacta sunt servanda) diatur dalam Buku VIII Sloka 46. Selain bersumber dari KUH Perdata dan Manawa Dharmasastra, kontrak terapeutik yang sifat objeknya berupa inspanning verbintenis (tindakan medis berdasarkan usaha, bukan hasil yang dicapai) juga tunduk pada ketentuan hukum nasional yang tertuang dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 290 Tahun 2008 tentang Persetujuan Tindakan Kedokteran