E-Journal Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang Palangka Raya
Not a member yet
    711 research outputs found

    Kompetensi Pustakawan dalam layanan Publik

    No full text
    Tes

    Kembar Mayang Dalam Upacara Pernikahan Masyarakat Jawa (Tinjauan Filosofis)

    No full text
    Kembar Mayang is one of the elements contained in the Javanese traditional wedding ceremony. The term Kembar Mayang is known in the form of janur (young coconut leaves) which are decorated with flowers and leaves in such a way and placed on a banana tree. In the life of the Javanese people, Kembar Mayang contains a philosophical meaning that expresses the relationship between humans and nature or their environment. The Javanese point of view emphasizes that there is a cosmological bond between humans and nature/environment. The birth form of the Mayang Twins shows the aesthetic value in it as a medium that shows the reciprocal relationship between humans and their ancestors. On the other hand, Kembar Mayang is a witness to an event. Symbolically, the Mayang Twins witnessed a change in a person's status from a bachelor/virgin to a marital status

    Kajian Fungsi Pola Asuh Orang Tua Dalam Membentuk Karakter Anak Pada Keluarga Hindu

    No full text
    Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi abad ke-21 atau penghujung abad ke-20 ditandai kecenderungan kehidupan yang kian dinamis mengarah pada kapitalisme. Perkembangan yang pesat mempengaruhi pola kehidupan anak dihadapkan pada tantangan-tantangan berat juga menjadi pemicu timbulnya permasalahan kehidupan lainnya di tengah kondisi masyarakat yang beragam, salah satunya dekadensi moral. Persoalan karakter dipicu kehidupan sosial yang semakin kompleks terhadap pembentukan karakter anak ke depannya. Membina seorang anak menekankan pemenuhan fungsi pengasuhan terkait pembentukan aspek moralitas agar kualitas anak lebih baik. Internalisasi nilai-nilai karakter ke dalam struktur sosial kehidupan keluarga sejak dini khususnya masyarakat Hindu. Gambaran pengasuhan yang melibatkan serangkaian kewajiban yang harus dipenuhi dan dilaksanakan orang tua sebagai bentuk hak anak sehingga dapat tumbuh dan berkembang sesuai periodisasi usia anak secara optimal. Memperhatikan hal tersebut, tercapainya fungsi pengasuhan sebagai tujuan yang diharapkan setiap orang tua pada keluarga Hindu. Penerapan pola asuh orang tua berkontribusi sebagai wahana memanusiakan manusia yang mendukung aspek penting kepribadian anak berkarakter, memiliki kecerdasan luar biasa dan prestasi yang gemilang secara akademik dan bermanfaat sebagai bagian dari masyarakat sosial yang ada di Kuala Kurun Kabupaten Gunung Mas

    Sistem Pelaksanaan Perkawinan Hindu Kaharingan Pada Masayarakat Hindu Di Kecamatan Katingan Tengah Kabupaten Katingan

    No full text
    Tujuan penelitian ini untuk mengetahui, menjelaskan bagaimana sistem perkawinan masyarakat Hindu Kaharingan di Kecamatan Katingan Tengah Kabupaten Katingan. Sebagaimana diketahui bahwa sistem perkawinan Hindu Kaharingan dengan perkawinan adat, hampir tidak jauh berbeda, maka maksud penelitian ini, untuk memberikan pengetahuan, wawasan dan kahasanah ilmu, tentang fenomena yang terjadi dilapangan, dengan mengunakan metode pengumpulan data, melalui observasi, wawancara secara mendalam untuk menjawab permasalahan-permasalahan pada penelitian ini. Berdasarkan data yang didapatkan dilapangan tentu, sistem perkawinan masyarakat Hindu Kaharingan di Kecamatan Katingan Tengah, memiliki sistem perkawinan sebagai acuan dan dilaksanakan secara turun temurun. &nbsp

    Penyelesaian Kasus Perceraian Melalui Lembaga Kedamangan Di Kecamatan Kurun Kabupaten Gunung Mas

    No full text
    Akhir-akhir ini banyak sekali dijumpai kasus-kasus di Kecamatan Kurun Kabupaten Gunung Mas, khususnya mengenai masalah rumah tangga salah satunya yaitu masalah kasus perceraian yang mengharuskan Damang kepala adat untuk menyelesaikan kasus tersebut. Ketidak harmonisan dalam rumah tangga, alasan yang paling kerap dikemukakan oleh pasangan suami istri yang akan bercerai. Perceraian dalam masyarakat Dayak tidak lepas dari surat perjanjian perkawinan yang dilakukan. Dalam surat kawin dituangkan perjanjian kawin yang memuat beberapa ketentuan atas kesepakatan bersama, salah satunya mengatur tentang perceraian sebagai kekuatan Hukum Adat dalam mengambil keputusan oleh Damang Kepala Adat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif yaitu penelitian yang bermaksud untuk memahami penomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu observasi, wawancara dan dokumentasi.Berdasarkan hasil penelitian dari lapangan, proses penyelesaian kasus perceraian tersebut diselesaikan secara musyawarah mufakat yang diselesaikan oleh damang. Sedangkan sanksi adat sesuai dengan tindakannya yaitu pelanggaran adat pasal 2 Singer Tungkun ( denda adat merampas ietri orang) dan 5 Singer Hatulang Belum (denda adat dalam perceraian sepihak). Dalam pasal ini, jenis tindakan sengaja dilakukan, maka dapat dikenakan sanksi atau denda sesuai kontrak surat perjanjian kawin kedua belah pihak dan kekuatan hukum putusan yang dikeluarkan lembaga kedamangan terhadap pelaku bersifat mengikat dan sah, yang disaksikan orang banyak seperti damang, mantir adat, keluarga/ahli waris kedua belah pihak, tokoh masyarakat dan masyarakat

    Sistem Aguron-Guron Di Banjar Umadiwang Desa Batannyuh, Kecamatan Marga, Kabupaten Tabanan

    No full text
    The purpose of Aguron-guron is gaining knowledge, teacher instructions, learn to discipline prostration. Associated with Aguron-guron system is in Banjar Umadiwang, Batannyuh Village, Marga District, Tabanan Regency in the conduct of a lesson (aguron- guron) studied Weda knowledge by learning the Nabe, there are a lot of moral education and the sacred values ​​that must be known and studied. Based on the above problems, the problems in this study can be formulated as follows: ( 1 ) How does the system or form Aguron - guron in Banjar Umadiwang , Batannyuh Village, Marga District, Tabanan Regency, (2 ) What is the process Aguron Umadiwang-guron in Banjar, village Batannyuh, Marga District, Tabanan Regency. Theory is used to solve the problem of the study was the theory of structuralism , theory of value , the theory of constructivism. To provide answers to the issues raised in this study, used qualitative research. Techniques of data collection using observation techniques, interviews, literature. For descriptive data analysis techniques used.  a result of the research , as follows :(1) Aguron-guron System or form practiced in Banjar Umadiwang, which is based on kinship, in the sense of the Guru Nabe with sisya have a very close relationship, which is equally bound by the rules Pangasraman. (2) Aguron-guron process a series of such ceremonies to purify themselves before studying with nabe, followed by a ceremony performed by muspa Diksita candidate, candidate faces to the teacher Diksita nabe, nabe teacher candidates Commemoration diksita, tetebus ceremony, ceremony majaya-jaya, last sisya mapamit on foot worship teacher nabe.Tujuan dari Aguron-guron adalah mendapatkan pengetahuan, petunjuk guru, belajar dengan sujud disiplin. Terkait dengan sistem aguron-guron yang ada di Banjar Umadiwang, Desa Batannyuh, Kecamatan Marga, Kabupaten Tabanan di dalam melakukan  suatu pembelajaran (aguron-guron) mendalami pengetahuan Weda dengan cara belajar kepada nabe, di situ terdapat banyak nilai pendidikan moral dan sakral yang harus diketahui dan dipelajari.  Berdasarkan permasalah di atas, maka permasalahan didalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut: (1) Bagaimanakah sistem atau bentuk Aguron-guron di Banjar Umadiwang, Desa Batannyuh, Marga,  Tabanan; (2) Bagaimanakah proses Aguron-guron di Banjar Umadiwang, Desa Batannyuh, Marga, Tabanan; Teori yang digunakan untuk memecahkan masalah penelitian adalah teori strukturalisme, teori nilai, teori konstruktivisme. Untuk memberikan jawaban atas permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini, dipergunakan penelitian kulaitatif. Teknik pengumpulan data menggunakan theknik Observasi, wawancara, kepustakaan. Untuk analisis data digunakan tehnik deskriptif. hasil penelitian, sebagai berikut : Sistem atau bentuk Aguron-guron yang dipraktekkan di Banjar Umadiwang, yaitu berdasarkan kekeluargaan, dalam arti antara Guru Nabe dengan sisya mempunyai hubungan yang amat erat, yang sama-sama diikat oleh aturan Pangasraman. (2) Proses Aguron-guron merupakan serangkaian upacara seperti mensucikan diri sebelum berguru kepada nabe, selanjutnya diikuti dengan upacara muspa yang dilakukan oleh calon Diksita, calon Diksita menghadap kepada sang guru nabe, guru nabe Napak calon diksita, upacara tetebus, upacara majaya-jaya, terakhir sisya menyembah mapamit pada kaki guru nabe

    Makna Ritual Bokas Bagi Umat Hindu Kaharingan Di Desa Kalahien Kecamatan Dusun Selatan Kabupaten Barito Selatan

    No full text
    Ritual is a matter relating to ritual in its full sense, it is a series of process activities carried out by someone who has a symbolic purpose in a certain series of events. This ritual can be used as a tradition in certain groups. The ritual can be done once or twice a week or whenever. The meaning of Bokas is often also pronounced in full as 'bokas ego', which is a crowd ceremony or large-scale party, as an expression of joy, whether held individually, or in cooperation in family groups, or in collaboration with other residents

    PENGGUNAAN PENGGUNAAN WHATSAPP GRUP MENUNJANG KOMUNIKASI JURNALIS

    No full text
    Penelitian ini bertujuan mengkaji lebih dalam tentang penggunaan fitur Whatsapp Grup pada aplikasi Whatsapp, untuk menunjang komunikasi kalangan jurnalis yang bertugas aktif di lapangan. Whatsapp Grup merupakan salah satu fitur yang dapat dimanfaatkan dalam mempercepat komunikasi jurnalis dengan sesama jurnalis, narasumber, hingga kantor redaksi. Terutama dalam pengumpulan informasi yang akan dijadikan sebagai bahan berita. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif, karena menggali data statistik melalui survei untuk mengkaji penggunaan Whatsapp Grup yang disebar melalui google form. Hasil penelitian ini menunjukan tingginya penggunaan Whatsapp Grup dalam menunjang komunikasi kalangan jurnalis. Bahkan whatsapp Grup sebagai bagian dari fitur aplikasi whatsapp ini sudah digunakan sejak lama oleh para responden. Bahkan hasil kuisioner menunjukan oleh 65 persen atau sebanyak 13 orang dari 20 orang responden, memilih sudah menggunakan Whatsapp Grup sejak lebih dari lima tahun. Pembuatan Whatsapp Grup pada aplikasi whatsapp juga dapat dilakukan dengan mudah, bahkan dengan cepat disebar untuk menambah jumlah pengguna. Whatsapp Grup juga dipilih karena ditinjau dari sisi jumlah pengguna, fungsi dan cara penggunaannya, dimana setiap pengguna dapat berbagi (sharing) materi informasi yang bisa menjadi materi berita. Materi tersebut dapat dikirim dalam bentuk gambar, pdf, ppt, doc, xls, audio, video secara langsung. Bahkan melalui Whatsapp Grup para pengguna dapat berdiskusi, berupa mengkritisi setiap informasi sebelum di ulas menjadi berita utuh

    STRATEGI LEMBAGA PARISADA DALAM PENEGAKAN HUKUM HINDU DI TENGAH INTERAKSI SOSIAL MASYARAKAT KECAMATAN BASARANG KABUPATEN KAPUAS

    No full text
    This type of research was qualitatively descriptive with the objective for analyzing the strategies carried out by the Parisada institution in Hindu law enforcement in the midst of social interaction of the people of Basarang sub-district of Kapuas Regency. The informant in this study was the administrator of Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Basarang sub-district. This research was conducted by means of in-depth interviews and the data obtained was analyzed and described in the form of words. The conclusion of this research was that the strategy of the Parisada institution in the enforcement of Hindu Law in the midst of social interaction in Basarang District of Kapuas Regency was carried out in an organizational approach by demonstrating its role as a supervisory institution and community organizer with its authority to enforce Hindu law with restrictions on the Articles of Association of Parisada Province and Central Parisada. Activities applied to all activities of Hindu society refered to the constitutionalized Hindu Law in awig-awig. Arrangements in marriage, arrangements in yadnya arrangements in divorce, arrangements in inheritance and other issues were regulated by awig-awig as legal guidelines sourced from the Vedas and Manawadharma literature. The strategy of the Parisada institution in resolving the problem of violations of Hindu law, if the violation entered the realm of custom, then Parisada as a partner of the Customs Council in resolving the problem by mediating it. Parisada as a partner of Kelihan Adat in resolving problems through mediation. If in solving the problem Kelihan adat cannot solve it, then the problem was delegated to Parisada to resolve it with the authority to be in the Parisada institution to resolve it until a decision was made by the Parisada institution with a strategy of deciding cases based on Hindu legal considerations.  Jenis penelitian ini adalah kualitatif deskriptif dengan tujuan untuk menganalisis strategi yang dilakukan lembaga Parisada dalam penegakan hukum Hindu di tengah interaksi sosial masyarakat kecamatan Basarang Kabupaten Kapuas. Informan dalam penelitian ini adalah pengurus Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kecamatan Basarang. Penelitian ini dilakukan dengan cara wawancara yang mendalam dan data yang didapatkan dianalisis dan dideskripsikan dalam bentuk kata-kata. Simpulan dari penelitian ini yaitu strategi lembaga Parisada dalam penegakan Hukum Hindu di tengah interaksi sosial di Kecamatan Basarang Kabupaten Kapuas adalah dilakukan dengan cara pendekatan secara organisasional dengan menunjukkan perannya sebagai lembaga pembina dan pengayom umat dengan kewenangannya untuk menegakkan hukum Hindu dengan batasan pada Anggaran Dasar Parisada Provinsi dan Parisada Pusat. Kegiatan yang diterapkan pada semua aktivitas masyarakat Hindu merujuk pada Hukum Hindu yang konkritisasi dalam awig-awig. Pengaturan dalam perkawinan, pengaturan dalam yadnya pengaturan dalam perceraian, pengaturan dalam pewarisan dan masalah lainnya diatur dengan awig-awig sebagai pedoman Hukum yang bersumber dari Weda dan Manawadharma sastra. Strategi lembaga Parisada dalam menyelesaikan masalah pelanggaran terhadap hukum Hindu, apabila pelanggaran masuk ke ranah adat, maka Parisada sebagai mitra Kelihan Adat dalam penyelesaian masalah dengan memediasinya. Apabila dalam penyelesaian masalah Kelihan adat tidak dapat menyelesaikan, maka permasalahan tersebut dilimpahkan kepada Parisada untuk menyelesaikannnya dengan kewenangan  berada di lembaga Parisada untuk menyelesaikannya sampai adanya putusan yang ditetapkan oleh lembaga Parisada dengan strategi memutus perkara dengan dasar pertimbangan hukum Hindu

    PENGARUH BUDAYA PATRIARKI TERHADAP PERCERAIAN DALAM MASYARAKAT HINDU BALI

    No full text
    Patriarchal culture is a habit that places the position of men more dominant than women. Men have more influence and power than woman. Woman in this case are poitioned as weak, helpless an do not have enough power to equalize position in a family or society. The continuous application of patriarchal culture can trigger divorce. Because if a man considers himself the most powerful and everything must be according to his will, then it is possible that the husband and wife relationship will experience a divorce. In such conditions, of course a woman wil experience mental torment and in the can not stand the unequal treatment. Moreover, in Balinese Hindu society, the role of women as wives should not be underestimated. Where their role greatly affects the lives of their families and community groups. For example, in ritual ceremonies, the role of women is needed to make offerings or offerings. Because in general the only women who can make offerings are women and not all Balinese women understand the problem of burdensomeness. While the position of Balinese women in the family and society is considered lower. It is clear in literature that women must be respected and loved so that the family lives happily and does not experience destruction.Budaya patriarki merupakan sebuah kebiasaan yang menempatkan posisi laki-laki lebih dominan dibandingkan perempuan. Laki-laki mempunyai pengaruh dan kekuasaan yang lebih besar dibandingkan perempuan. Perempuan dalam hal ini diposisikan sebagai insan yang lemah, tak berdaya dan tidak mempunyai power yang cukup untuk menyetarakan kedudukan dalam sebuah keluarga maupun masyarakat. Penerapan budaya patriarki secara terus menerus dapat memicu terjadinya perceraian. Sebab apabila laki-laki mengangggap dirinya paling berkuasa dan semua harus sesuai kehendaknya, maka tidak menutup kemungkinan hubungan suami istri tersebut akan mengalami perceraian. Dalam kondisi seperti itu, tentu seorang perempuan akan mengalami ketersiksaan batin dan pada akhirnya tidak tahan dengan perlakuan yang tidak seimbang. Terlebih lagi pada masyarakat Hindu Bali, peran perempuan sebagai istri tidak boleh dipandang sebelah mata. Dimana peran mereka sangat mempengaruhi kehidupan keluarga maupun kelompok masyarakat mereka. Misalnya dalam upacara ritual, peran kaum perempuan sangat dibutuhkan untuk memebuat sesajen atau banten. Karena secara umum yang bisa membuat banten hanyalah perempuan dan tidak semua perempuan Bali paham dengan masalah bebantenan. Sedangkan kedudukan perempuan Bali dalam keluarga dan masyarakat dianggap lebih rendah. Jelaslah dalam sastra bahwa perempuan harus dihormati dan disayangi agar keluraga tersebut hidup bahagaia dan tidak mengalami kehancuran

    302

    full texts

    711

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    E-Journal Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang Palangka Raya
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇