E-Journal Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang Palangka Raya
Not a member yet
711 research outputs found
Sort by
Moderasi Beragama Berbasis Kearifan Lokal Masyarakat Hindu Transmigran Di Kecamatan Landono Sulawesi Tenggara
Moderation is not a rigid, passive, static attitude. Moderation is an attitude that is not excessive in dealing with the problems of difference in a pluralistic society. Moderate attitude is active and dynamic with noble ideals, namely social change in a positive, fair, and balanced direction. Practicing religious teachings needs to consider the principles of moderation and local wisdom as an effort to avoid deviations from religious teachings. This study aims to describe the religious moderation attitude of the Hindu community in the transmigrant area based on local wisdom in Landono District, Southeast Sulawesi Province. This study uses a qualitative descriptive approach with observation and interview techniques and literature study. The results of this study indicate that the attitude of religious moderation based on local wisdom is implemented by transmigrant Hindus in the Landono sub-district of Southeast Sulawesi where even though they are far from the island of Bali and become immigrant communities and become communities with minority religions in the province, they can live side by side peacefully with practice the teachings of Susila, Tat Twam Asi and Tri Hita Karana with the concept of menyama braya, namely respecting differences and placing others as family. The attitude of religious moderation can have positive implications for the transmigrant Hindu community in forming religious awareness in carrying out the teachings of Hinduism as a way to build a harmonious life.Moderasi bukanlah sikap yang kaku, pasif, statis. Moderasi adalah sikap yang tidak berlebihan dalam menghadapi persoalan perbedaan dalam masyarakat yang majemuk. Sikap moderat aktif dan dinamis dengan cita-cita luhur, yaitu perubahan sosial ke arah yang positif, adil, dan seimbang. Dalam mengamalkan ajaran agama perlu memperhatikan prinsip-prinsip moderasi dan kearifan lokal sebagai upaya menghindari penyimpangan dari ajaran agama. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan sikap moderasi beragama masyarakat Hindu di kawasan transmigran berbasis kearifan lokal di Kabupaten Landono Provinsi Sulawesi Tenggara. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan teknik observasi dan wawancara serta studi kepustakaan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sikap moderasi beragama berbasis kearifan lokal diterapkan oleh umat Hindu transmigran di kecamatan Landono Sulawesi Tenggara dimana meskipun jauh dari pulau Bali dan menjadi komunitas pendatang dan menjadi komunitas minoritas. agama-agama di provinsi ini, mereka dapat hidup berdampingan secara damai dengan mengamalkan ajaran Susila, Tat Twam Asi dan Tri Hita Karana dengan konsep menyama braya, yaitu menghargai perbedaan dan menempatkan orang lain sebagai keluarga. Sikap moderasi beragama dapat berimplikasi positif bagi masyarakat Hindu transmigran dalam membentuk kesadaran beragama dalam menjalankan ajaran agama Hindu sebagai jalan untuk membangun kehidupan yang harmonis
TELAAH TERHADAP PUTUSAN LEPAS DARI SEGALA TUNTUTAN HUKUM (ONSLAAG VAN RECHT VERVOLGING) PADA PERKARA TINDAK PIDANA KORUPSI
Decisions in corruption cases consist of sentencing decisions, acquittal decisions (vrijspraak) and decision is free from all lawsuits (onslaag van recht vervolging). This study aims to determine the implementation and juridicial implications of the decision is free from all lawsuits (onslaag van recht vervolging) in case of corruption. The normative research method used in reviewing decisions free from all lawsuits (onslaag van recht vervolging) in cases criminal acts of corruption.
The results of this study on the implementation of the decision is free from all lawsuits (onslaag van recht vervolging) in cases of criminal acts of corruption is a necessity as long as the act is administrative in nature and does not enter the realm of criminal law so that it is not criminal responsibility but administrative responsibility with juridical implications the defendant is released from all lawsuits (onslaag van recht vervolging) in cases of corruption.Putusan dalam perkara tindak pidana korupsi terdiri dari putusan pemidanaan, putusan bebas (vrijspraak) dan putusan lepas dari segala tuntutan hukum (onslaag van recht vervolging). Penelitian ini memiliki tujuan guna mengetahui implementasi serta implikasi yuridis daripada putusan lepas dari segala tuntutan hukum (onslaag van recht vervolging) pada perkara tindak pidana korupsi. Adapun metode penelitian normatif yang digunakan dalam mengkaji dan menelaah putusan lepas dari segala tuntutan hukum (onslaag van recht vervolging) pada perkara tindak pidana korupsi.
Hasil penelitian ini terhadap implementasi putusan lepas dari segala tuntutan hukum (onslaag van recht vervolging) pada perkara tindak pidana korupsi merupakan sebuah keniscayaan selama perbuatan tersebut bersifat administratif dan tidak memasuki ranah hukum pidana sehingga bukan pertanggungjawaban pidana akan tetapi pertanggungjawaban administratif dengan implikasi yuridisnya terdakwa dilepaskan dari segala tuntutan hukum (onslaag van recht vervolging) pada perkara tindak pidana korups
Etika Berbusana Adat Bali Dalam Persembahyangan Di Pura Mandira Taman Sari Kota Palopo
Perkembangan jaman telah memberi dampak pada perkembangan penggunaan busana sembahyang adat bali. Masyarakat mulai mengikuti trend yang beberapa tidak beretika dan tidak sopan apabila digunakan pada persembahyangan bersama. Busana-busana tersebut perlu didesain atau pengguna perlu mengatur penggunaan dengan menambahkan atau melapisi dengan bahan lainya yang sesuai. Dengan demikian pelaksanaan persembahyangan kepura akan memberi kenyamanan baik bagi orang lain maupun untuk diri sendiri. Berkembangnya trend busana yang kurang pantas telah banyak digunakan, sehingga dibutuhkan pemahaman yang lebih komprehensif terkait dengan etika dalam berbusana ke pura baik pada hari raya maupun pada hari-hari tertentu.
Busana sembahyang dikelompokan menjadi tiga bagian yaitu dewa angga, Manusa Angga dan bhuta angga. Dewa Angga yaitu busana untuk bagian kepala hingga leher. Manusa Angga yaitu busasana dari leher hingga pinggang dan Bhuta Angga yaitu busana dari pinggang hingga kaki. Bagian kepala pada pria ditutupi dengan sesuai dengan etikanya, mulai dari lipatan hingga ikatannya, sementara pada wanita etikanya tidak mengurai rambut, namun membuat bentuk pusungan dengan menambahkan aksessoris sewajarnya. Pada Manusa Angga pria menggunakan kemeja atau safari sementara pada wanita menggunakan kebaya yang sopan dengan warna putih. Selain penggunaan kebaya penggunaan selendang juga memiliki etika, yaitu bentuk ikatan yang berada didepan agak kesamping kiri, bukan diikatkan pada bagian belakang. Bagian Bhuta Angga pada pria menggunakan kamen dengan kancut dan dibungkus sesaput yang dibuat sejengkal dari telapak kaki, sementara untuk wanita menggunakan kamen yang setinggi mata kak
Studi Komparasi Hari Raya Galungan di Bali dan Wijaya Dasami India
Galungan is a Balinese holiday, celebrating the victory of dharma (virtue) over adharma (evil). It is similar to Wijaya Dasami (Wijaya Dashami) and Durga Puja Nawaratri in India, celebrated by Hindus in other parts of the world. The word Dussehra is a variant of Dashahara which is a compound Sanskrit word meaning "ten days". Dus has the meaning "bad, evil, and sinful" and Hara means "removing, destroying", connoting "removing the bad, destroying the evil, sinful. In most of northern and western India, Dasha-Hara (literally, ten days) is celebrated in honor of Rama. Vijaya Dasami is observed after Navratri, on the tenth day, marked by a great procession where the clay statues are ceremoniously walked to a river or ocean coast for a solemn goodbye to Durga.
This type of research is qualitative with a comparative study method. Collecting data using literature study, expert interviews, and Focus Group Discussion (FGD). Data analysis using Ethnographic Content Analysis (ECA). This festival is an old tradition of Hindu Dharma, though it is unclear how and in which century the festival began. Surviving manuscripts from the 14th century provide guidelines for Durga puja, while historical records suggest royalty and wealthy families were sponsoring major Durga puja public festivities since at least the 16th century. This article discusses a comparative study of Galungan Day in Bali and Wijaya Dasami in India which has the same essence, namely celebrating the victory of Dharma against Adharma.
Keywords: Galungan, Wijaya Dasami, Hindu Festival
Galungan adalah hari libur Bali, merayakan kemenangan dharma (kebajikan) atas adharma (kejahatan). Mirip dengan Wijaya Dasami (Wijaya Dashami) dan Durga Puja Nawaratri di India, yang dirayakan oleh umat Hindu di belahan dunia lain. Kata Dussehra adalah varian dari Dashahara yang merupakan kata majemuk Sansekerta yang berarti sepuluh hari. Dus berarti buruk, jahat, dan berdosa dan Hara berarti menghapus, menghancurkan, yang berarti menghilangkan keburukan, menghancurkan yang jahat, berdosa. Di sebagian besar India utara dan barat, Dasha-Hara (secara harfiah, sepuluh hari) adalah dirayakan untuk menghormati Rama. Vijaya Dasami dirayakan setelah Navratri, pada hari kesepuluh, ditandai dengan prosesi besar di mana patung-patung tanah liat dengan upacara berjalan ke sungai atau pantai laut untuk mengucapkan selamat tinggal kepada Durga. Jenis penelitian ini adalah kualitatif dengan metode studi komparasi. Pengumpulan data menggunakan studi kepustakaan, wawancara ahli dan Focus Group Discussion (FGD). Analisis data menggunakan Ethnographic Content Analysis (ECA). Festival ini adalah tradisi lama Hindu Dharma, meskipun tidak jelas bagaimana dan di abad mana festival dimulai. Manuskrip yang bertahan dari abad ke-14 memberikan pedoman untuk puja Durga, sementara catatan sejarah menunjukkan bahwa bangsawan dan keluarga kaya mensponsori perayaan umum puja Durga sejak setidaknya abad ke-16. Artikel ini membahas studi komparasi Hari Raya Galungan di Bali dan Wijaya Dasami di India yang memiliki esensi yang sama yaitu merayakan kemenangan Dharma melawan Adharma.
Kata kunci : Galungan, Vijaya Dasami, Hari Raya Hind
Manajemen Kelas Minoritas dalam Belajar Agama Hindu di SDN-3 Selat Hilir Kabupaten Kapuas
Tujuan tulisan ini adalah untuk menggali dan menganalisa permasalahan yang dihadapi siswa Hindu di Sekolah Dasar Negeri dimana siswa Hindu merupakan siswa minoritas dan bagaimana mengatasi permasalahan tersebut. Menjadi siswa minoritas bukanlah hal yang mudah, karena rentan mendapatkan bullying dari siswa lain yang tentunya berdampak pada kondisi mental siswa yang bersangkutan. Apabila kondisi ini tetap dibiarkan dan tidak ditangani dengan baik, maka siswa akan enggan untuk belajar dan yang lebih parah lagi menyebabkan gangguan fisik seperti halnya keringat dingin, pusing, mual dan muntah. Oleh karena itu diperlukan manajemen kelas yang tepat agar tercipta kelas yang kondusif sehingga siswa dapat belajar dengan baik dan nyaman. Kajian yang digunakan penulis dalam menulis jurnal ini adalah kualitatif deskriftif dimana penulis mengamati secara empiris kondisi siswa dan melakukan wawancara langsung. Selain itu juga penulis menggunakan sumber literatur baik buku, jurnal dan bahan referensi lainnya. Hasil yang ditemukan dalam kajian ini menunjukan bahwa manajemen kelas merupakan kunci utama dalam menangani permasalahan anak yang menghadapi bullying dalam belajar Agama Hindu di Sekolah Dasar Negeri.
 
TINJAUAN TEOLOGIS PEMUGARAN MAKAM DI DESA TANJUNG RIU
The restoration of graves in the GKE congregation in Tanjung Riu Village, also known as secondary burials, is almost similar to the secondary burial of the Ngaju Dayak people who are Kaharingan Hindus, which is called the tiwah ceremony. Tanjung Riu GKE congregation offers an alternative cultural choice (tomb restoration) amidst the established culture, namely tiwah. The practice of restoring tombs became problematic when it was accused by some priests from the Kalimantan Evangelical Church (GKE) of being a form of syncretism. In order not to fall into syncretism, there needs to be a theological review that must bear two models of cross-cultural mission or two options together; This means that the ritual of tomb restoration must show loyalty to the Bible and at the same time be culturally relevant without falling into dualism, namely syncretism and relativism. The research findings show that there is a clash of understanding between the congregation and the church, between theocentric and totalitarian understandings, and while the congregation sees God in the restoration of the tomb as a form of naturalistic theism, it is only suitable in terms of the congregation's immanence
Filsafat Nir-Kekerasan Dalam Perspektif Mohandas Karamchand Gandhi Dan Relevansinya Dalam Pencegahan Gerakan Radikalisme Di Indonesia
Radicalism from a religious point of view refers to an extreme understanding and refers to fundamental religious fundamentalism with very high religious fanaticism. This understanding will be very easy to trigger acts of violence, conflict, and division because they see differences as a threat to the religious existence of these radicalism groups, and differences are also considered enemies that must be destroyed. With this, efforts are needed to minimize radicalism movements. This study focuses on the thoughts and teachings of Mahātma Gandhi regarding the most monumental ahimsa of his movement in India. By using the philosophical hermeneutic method, the result of this research is that the radicalism movement emerged as a result of the humanity and fading attitude of tolerance and religious fanaticism that was too high. Gandhi viewed that every religion essentially teaches love and non-violence. Humans can find love by practicing satyagraha which is always on the path of truth. By emphasizing the ahimsa aspect, humans will be able to find the truth. On the basis of this truth, the light of love will be revealed, and see that all human beings originate from the same source. On the basis of this love, humans are intertwined in one family and brotherhood.Radikalisme dari sudut pandang keagamaan merujuk pada sebuah paham yang ekstrim dan mengacu pada fundamentalisme agama yang mendasar dengan fanatisme keagamaan yang sangat tinggi. Paham ini akan sangat mudah untuk memicu tindakan kekerasan, konflik dan perpecahan, karena melihat perbedaan sebagai ancaman dari eksistensi agama dari kelompok radikalisme tersebut, serta perbedaan juga dianggap sebagai musuh yang harus dimusnahkan. Dengan hal tersebut, maka diperlukannya upaya untuk meminimalisir dari gerakan-gerakan radikalisme. Kajian ini memusatkan perhatian pada pemikiran serta ajaran dari Mahātma Gandhi berkaitan dengan ahimsa yang paling monumental dari gerakannya di India. Dengan menggunakan metode hermeneutik filosofis, maka hasil dari penelitian ini adalah gerakan radikalisme muncul sebagai akibat dari sisi kemanusiaan dan sikap toleransi yang telah memudar serta fanatisme agama yang terlalu tinggi. Gandhi memandang bahwa setiap agama pada esensinya mengajarkan cinta dan tanpa kekerasan. Manusia dapat menemukan cinta dengan melaksanakan satyagraha yakni selalu berada di jalan kebenaran. Dengan menekankan aspek ahimsa maka manusia akan mampu untuk menemukan kebenaran. Atas dasar kebenaran tersebut, maka akan tersingkap cahaya cinta dan memandang bahwa semua manusia bersumber dari satu sumber yang sama. Atas dasar cinta tersebut manusia terjalin dalam satu keluarga dan bersaudara
Pemanfaatan Aplikasi Podcast BBC Learning English Sebagai Media Pembelajaran Menyimak (Listening) Bahasa Inggris Selama Pandemi Covid-19
Pandemi covid-19 telah membawa pengaruh besar dalam kehidupan umat manusia diseluruh dunia. Semua aspek kehidupan terpengaruh tidak terkecuali aspek pendidikan. Agar siswa tidak mengalami loss learning maka guru dituntut untuk dapat tetap melakukan pembelajaran walaupun tanpa tatap muka langsung. Disinilah guru harus bisa memanfaatkan teknologi dan inovasi yang ada agar pembelajaran tetap dapat berlangsung. Salah satu pembelajaran yang mengalami dampak adalah pembelajaran Bahasa Inggris, dimana pembelajaran Bahasa Inggris merupakan pembelajaran keterampilan atau skill terutama aspek Bahasa menyimak (listening). Salah satu inovasi yang memudahkan guru dan siswa dalam melatih keterampilan menyimak adalah podcast. Podcast merupakan materi yang berbentuk audio dan saat ini banyak aplikasi podcast di smartphone yang dapat diunduh salah satunya adalah BBC Learning English. Ada beberapa fitur pada aplikasi BBC Learning English yang dapat membantu siswa untuk belajar Bahasa Inggris khususnya menyimak secara mandiri. Selain fitur-fitur yang menarik, juga terdapat tingkat kesulitan yang berbeda mulai dari pemula hingga mahir. Jadi guru dan siswa dapat memilih tingkat kesulitan serta topik sesuai kebutuhan dan minat sehingga pembelajaran dapat tetap dilaksanakan walaupun ditengah pandemic.
 
Hermeneutika sebagai Penafsiran Objektif dalam Pemikiran Emilio Betti
The distinction between human science and natural science requires the existence of relevant methods to approach the object of study from each of these scientific branches. Hermeneutics is a methodical proposition that is compatible with the object of study in the human sciences which cannot be separated from matters of meaning and the historical existence of human life. However, hermeneutics is often still trapped in the philosophical discussion, and has not reached the procedural technical realm to achieve objectivity in the research process. The author in this case seeks to suggest the existence of a hermeneutical view as an objective method of interpretation in the study of social sciences and humanities originating from the thoughts of Emilio Betti. This effort was carried out by researchers through a library research process related to literature related to Emilio Betti's thoughts. The results of the discussion that has been carried out lead to the conclusion that Betti positions hermeneutics as a procedural method to achieve objectivity in the social humanities field. Betti binds the objectivity hermeneutic method in several rules related to objects as well as subjects. Where these rules underlie the existence of moments or stages in the hermeneutic process that is carried out in the theory.Pembedaan antara human science dan natural scence menuntut keberadaan metode yang relevan untuk mendekati objek kajian dari setiap bidang keilmuan tersebut. Hermeneutika merupakan suatu tawaran metodis yang memiliki kesesuaian dengan objek kajian dari ilmu sosial kemanusiaan yang tidak lepas dari perkara pemaknaan dan keberadaan historisitas dari kehidupan manusia. Namun, hermeneutika tersebut seringkali masih terjebak di ranah filosofis, dan belum sampai kepada ranah teknis yang prosedural untuk mencapai objektivitas dalam proses penelitian. Penulis dalam hal ini berupaya untuk mengemukakan keberadaan pandangan hermeneutika sebagai suatu metode penafsiran objektif dalam kajian ilmu sosial humaniora yang berasal dari pemikiran Emilio Betti. Upaya tersebut dilakukan oleh peneliti dengan melalui proses library research terkait pustaka yang berkaitan dengan pemikiran dari Emilio Betti. Hasil dari pembahasan yang telah dilakukan mengarahkan pada kesimpulan bahwa Betti memposisikan hermeneutika sebagai suatu metode yang bersifat prosedural untuk mencapai objektivitas dalam bidang sosial humaniora. Betti mengikat metode hermeneutika objektivitas tersebut dalam beberapa kaidah yang berhubungan dengan objek dan juga subjek. Dimana kaidah tersebut melandasi keberadaan momen atau tahapan dalam proses hermeneutik yang diusung dalam teorinya.