E-Journal Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang Palangka Raya
Not a member yet
711 research outputs found
Sort by
Implementasi Tat Twam Asi Pada Pendidikan Karakter Anak Di Masa Pandemi Covid-19
Tat Twam Asi Application on Children's Character Education
During the Covid-19 Pandemic
ABSTRACT
Corona Virus Disease 2019 or what we often call Covid-19 is a disease that has attacked the human respiratory system since the end of 2019 causing a worldwide pandemic. The Indonesian state itself has implemented the New Normal or a new life with new habits by following health protocols, namely, being obliged to use a mask while doing activities outside of the house, washing hands or using a hand sanitizer after holding something and keeping a distance from people around. This pandemic certainly affects various sectors, especially the education sector. In the world of education, students are required to carry out online learning at home which is assisted by teachers and parents. With the restrictions on large-scale activities, interactions between people are reduced, so that it has an impact on the formation of good character for children, which should be formed at school and at home when they enter early childhood education to high school level. Good character in children can be reflected in the teachings of Hinduism, one of which is Tat Twam Asi which is the basis of Hindu Ethics in an effort to achieve moral improvement. Tat Twam Asi means it is you, meaning that the position as fellow human beings is the same. Applying Tat Twam Asi teachings to students at home and online learning during the Covid-19 pandemic can form good characters in respecting and loving parents, friends, teachers, local residents and the surrounding environment so that they can create a peaceful atmosphere in the family and harmony among others.Corona Virus Disease 2019 atau biasa yang sering kita sebut dengan Covid-19 adalah penyakit yang menyerang sistem pernapasan manusia semenjak akhir tahun 2019 sehingga menyebabkan pandemi di seluruh dunia. Negara Indonesia sendiri sudah menerapkan New Normal atau kehidupan baru dengan kebiasaan baru dengan menjalani protokol kesehatan yakni, wajib menggunakan masker selama melakukan kegiatan di luar rumah, mencuci tangan atau menggunakan hand sanitizer ketika sehabis memegang sesuatu dan menjaga jarak dengan orang sekitar. Pandemi ini tentu saja mempengaruhi berbagai sektor, terutama sektor pendidikan. Dalam dunia pendidikan, peserta didik diharuskan untuk melaksanakan pembelajaran di rumah secara daring yang di bantu oleh guru dan orangtua siswa. Dengan adanya pembatasan kegiatan skala besar ini menyebabkan interaksi antar sesama berkurang sehingga berdampak pada pembentukan karakter baik anak yang seharusnya terbentuk di sekolah dan di rumah saat mereka memasuki pendidikan usia dini hingga tingkat sekolah menengah atas. Karakter baik pada anak dapat tercermin dalam ajaran agama Hindu salah satunya adalah Tat Twam Asi yang merupakan dasar dari Tata Susila Hindu di dalam usaha untuk mencapai perbaikan moral. Tat Twam Asi berarti itu adalah engkau, maksudnya adalah bahwa kedudukan sebagai sesama manusia adalah sama. Mengaplikasikan ajaran Tat Twam Asi pada peserta didik di rumah dan pembelajaran daring pada masa pandemi Covid-19 dapat membentuk karakter baik dalam menghormati dan mengasihi orang tua, teman, guru, warga sekitar dan lingkungan sekitar sehingga dapat mewujudkan suasana damai dalam keluarga dan kerukunan antarsesama.
 
Upacara Pakanan Sahur Pada Umat Hindu Kaharingan
Hinduism is one of the religions found in Indonesia which has a wealth of cultural customs which are the hallmark of Hinduism itself. Facing an increasingly sophisticated era, with technological developments that are increasingly messaging, more or less affect the lifestyle of mankind on this earth. Thus, as people who hold fast to customs and religion, they must be ready to face the era of globalization so that they always exist and are not lost in the progress of the times. Likewise, the Pakanan Sahur Ceremony, which is carried out by the Hindu Kaharingan community, is the implementation of the Dewa Yadnya ceremony which aims to maintain the balance and harmony of the universe with its people in this world. In the implementation of the Pakanan Sahur Ceremony, the Hindu Kaharingan people offer offerings to the sacred spirits of their ancestors who always provide protection and welfare for their people
Pemikiran Fritjof Capra Dalam Ekowisata Hutan Mangrove Desa Adat Kedonganan
Fritjof Capra is a modern physicist who proposed the ideas about the problem solving of the destruction of natural resources and the widespread occurrence of environmental pollution by humans. This Capra's ideas generated ecoliteracy which now exists in the mangrove forest ecotourism of the Kedonganan Traditional Village as a solution to protecting nature. The holistic systemic theory proposed by Fritjof Capra is in line with the Tri Hita Karana philosophy which represents the harmonious relationship between humans and God, humans and humans and humans natural
PENGARUH PERKEMBANGAN ZAMAN TERHADAP KEDUDUKAN PEREMPUAN DALAM HUKUM WARIS ADAT BALI
Balinese society is a society that is thick an obedient to tradition, culture and customary law. The development of globalization an scince and technology does not necessarily shake or change the customs an traditions of the Balinese people. Balinese cutomary law prioritizes the position of men in term of inhertance an family matter. When viewed from the side of the role in the family, in todays era women an men are almost in contrast. For axample in education, politics, goverment an so on, women have the same opportunitties an even take the same roles. Likewise in the family, women can replace the position of men as head of the family an breadwinner if the condition of men as husbands is no longer possible. Different conditions will be found in terms of Balinese cutomary inheritance law. In general, women are not given the same opportunities as men, and it can even be said that they do not have the right to participate in the inheritance or as heirs. So when viewed from the perspective of gender equality, it will create a discriminatory impression against women. However, in principle, Balinese women accept such a situation and do not consider this a disadvatage. Because this has become a habit that has been passed down from generation to generation.
Keyword: Inheritance Law, Balinese Custom, GenderMasyarakat Bali merupakan masyarakat yang kental dan taat pada tradisi, budaya dan hukum adat. Perkembangan arus globalisasi dan ilmu pengetahuan serta teknologi, tidak semerta-merta dapat menggoyahkan apalagi merubah adat dan tradisi masyarakat Bali. Hukum adat Bali sangat mengedepankan kedudukan laki-laki dalam hal pewarisan dan menyangkut masalah keluarga. Jika dilihat dari sisi peran dalam keluarga, pada era sekarang ini perempuan dan laki-laki hampir kontras. Misalnya dalam pendidikan, politik, pemerintahan dan sebagainya, kaum perempuan mempunyai kesempatan yang sama dan bahkan mengambil peran yang sama. Begitu juga dalam keluarga, perempuan dapat menggantikan posisi laki-laki sebagai kepala keluarga dan pencari nafkah apabila kondisi laki-laki sebagai suami sudah tidak memungkinkan lagi. Kondisi yang berbeda akan ditemukan dalam hal hukum waris adat Bali. Secara umum kaum perempuan tidak diberikan kesempatan yang sama seperti laki-laki, bahkan dapat dikatakan tidak ada haknya untuk ikut menerima warisan atau sebagai ahli waris. Sehingga apabila ini dilihat dari kacamata kesetaraan gender, maka akan memunculkan kesan yang diskriminatif terhadap kaum perempuan. Namun demikian, pada prinsipnya perempuan Bali menerima keadaan seperti itu dan tidak mengganggap ini sebagai suatu hal yang merugikan. Karena ini sudah menjadi kebiasaan yang secara turun temurun diwariskan untuk dilakukan.
Kata Kunci: Hukum Waris, Adat Bali, Gende
POLA INTERAKSI KEBERAGAMAAN MASYARAKAT MULTIKULTUR DI DESA PENGASTULAN KECAMATAN SERIRIT (Perspektif Pendidikan Sosiokultural)
Pengastulan village has long been known for its people with many Muslims or Islam, but the village in general live in harmony and peace with no significant conflicts. Meanwhile, the origin of the population is also diverse, such as the Balinese, Javanese, Madurese and Bugis tribes, so from this diversity it is certainly very difficult to equate the society customs and regulations. In order to gain valid and reliable data, this research uses qualitative research methods. For logistical data, this article performs several stages of data sorting; 1). Reducing data, 2). Display data, 3). Verify data and, 4). Interpret article data. Related references strongly support the validity of a scientific work, therefore library techniques are also used through literature exploration on scholar google. The results of this study are: how interactions take place in the Pengastulan village community; what efforts are put in the interaction in Pengastulan village, as well as challenges faced in the interaction. The challenges found in the interaction are lack of education, different economic levels and environmental adaptationDesa Pengastulan sejak dahulu sudah terkenal dengan penduduknya terdapat banyak umat Muslimnya atau ada agama Islam, tetapi desa tersebut secara umum terlihat tentram dan damai tidak terjadi pergesekan yang begitu berarti. Sedangkan secara asal usul penduduknya juga beranekaragam seperti terdapat suku Bali, suku Jawa, suku Madura dan suku Bugis sehingga dari keragaman tersebut tentunya sangat sulit untuk menyamakan kebiasaan dan tata cara bermasyarakat. Untuk menghasilkan data yang valid dan reliable, maka penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Untuk menghasilkan data yang bersifat logis, artikel ini melakukan beberapa tahapan pemilahan data berupa : 1). Mereduksi data, 2). Mendisplay data, 3). Memverifikasi data dan, 4). Menginterpretasi data artikel. Refrensi terkait sangat menunjang validitas suatu karya ilmiah, oleh karena itu digunakan juga teknik kepustakaan melalui penjajakan literature di google scholar. Hasil dari penelitian ini yakni: Interkasi Di Masyarakat Desa Pengastulan, Upaya-upaya dalam melakukan Interaksi Di Desa Pengastulan, tidak hanya upaya, Kendala-Kendala dalam Interaksi juga terdapat didalamnya. Beragam kendala yang terdapat dalam interaksi sebagai berikut seperti:kurangnya tingkat pendidikan, klaster ekonomi yang beragam dan penyesuaian diri dengan lingkungan
Kajian Theologi Hindu Pada Banten Daksina
Theologi Hindu dalam kehidupan umat Hindu di Bali secara langsung maupun tidak langsung telah terealisasi dalam pembuatan beraneka jenis upakara atau banten, salah satunya adalah banten daksina yang sangat sarat dengan kajian theologi Hindu di masing-masing unsur-unsur pembentuk banten daksina. Namun pemahaman sebagian masyarakat akan hal tersebut masih minim, untuk itu pemahaman tentang kajian theologi yang terkandung dalam banten daksina perlu diadakan dengan tujuan untuk mengetahui isi, fungsi serta ajaran theologi Hindu dalam banten daksina. Jenis penelitian ini adalah kualitatif dengan metode pengolahan deskriptif argumentasi bersumber dari data primer dan sekunder dengan metode kepustakaan dan wawancara. Tinjauan theologi Hindu bahwa banten daksina mengajarkan Sifat Tuhan atau Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang bersifat Trancendental dan Immanen sehingga perwujudan Tuhan diwujudkan dalam berbagai simbol pada Banten Daksina. Berikut adalah pemahaman Tuhan dalam setiap unsur banten daksina yaitu Bebedog (Serembeng) wujud Sang Hyang Ibu Pertiwi, Tampak Dara sebagai wujud Sang Hyang Rua Bhineda sebagai simbol Utara, Beras Amusti (agemel atau segenggam) sebagai simbol Sang Hyang Bayu, Porosan Silih Asih Alas Kojong sebagai wujud Sang Hyang Semara Jaya dan Semara Ratih, Gegantusan berlaskan kojong sebagai simbol Sang Hyang Indra, Pepeselan alas kojong perangkad sebagai simbol Sang Hyang Sangkara yang juga, Buah Pangi alas kojong perangkad sebagai simbol Sang Hyang Baruna atau Boma, Buah Kelapa sebagai simbol Sang Hyang Surya wujud windu, Telor Bebek beralaskan Kojong sebagai simbol Sang Hyang Candra, Buah Tingkih beralaskan Kojong sebagai simbol Sang Hyang Tranggana atau bintang sebagai cerminan Sang Hyang Paramasiva (Pemahaman pada Tuhan yang berwujud sebagai Sang Hyang Paramasiwa), Benang tetebus putih sebagai simbol Sang Hyang Aji Akasa sebagai simbol awan, Uang kepeng atau uang bolong sebagai simbul windu sunia, Canang Sari adalah pemahaman tentang Tuhan sebagai Asta Aiswarya atau Dewata Nawa Sanga .Diharapkan pemahaman terhadap aspek-aspek kehidupan beragama khususnya kehidupan beragama Hindu dapat dipahami secara menyeluruh sehingga tidak terjadi kedangkalan pemahaman pada agama itu sendir
Pesan Moral Dalam Cerita Ayodhya Kanda Ramayana
The Ramayana Epic is made up of 7 parts of the story known as the Sapta Kānda. The second part of the story is called Ayodhyā Kānda, becomes the core part of the story of the Ramāyāna and is believed by Hindus to contain many ethical and moral values in it. Reflecting on this, the researcher is interested in studying more deeply about the story of Ayodhya Kānda. In this study, several problems were formulated, namely related to the nature of the moral message in the perspective of Hinduism, the Ayodhyā Kānda Ramāyāna story, and connecting the two to find the moral message contained in the story. Using research methods with qualitative research types, and literature studies, as well as using data analysis from Miles and Huberman, the results of this study indicate that the Ayodhyā Kānda Ramāyāna story contains many moral messages that are useful for life, including; mutual respect between children, daughters-in-law, and in-laws, the dangers of Lobha and Matsarya's uncontrollable nature, reflection of a son's obedience, reflection of a wife's loyalty, close kinship bonds, and finally an attitude that is not too ambitious to gain power. The moral message aims to provide guidance for readers to become better individuals.Epos Ramāyāna terbentuk dari 7 bagian cerita yang dikenal dengan istilah Sapta Kānda. Bagian kedua cerita disebut dengan Ayodhyā Kānda, menjadi bagian inti dari kisah Ramāyāna dan dipercaya oleh umat Hindumengandung banyak nilai etika dan moralitas di dalamnya. Berkaca dengan hal tersebut, peneliti tertarik mengkaji lebih dalam mengenai cerita Ayodhyā Kānda. Dalam penelitian ini, dirumuskan beberapa permasalahan, yaitu terkait hakikat pesan moral dalam perspektif agama Hindu, cerita Ayodhyā Kānda Ramāyāna, serta menghubungkan keduanya untuk menemukan pesan moral yang terkandung didalam cerita. Menggunakan metode penelitian dengan jenis penelitian kualitatif, dan studi kepustakaan, serta menggunakan analisis data dari Miles and Huberman, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa, cerita Ayodhyā Kānda Ramāyāna banyak mengandung pesan moral yang berguna bagi kehidupan, antara lain; saling menghormati antara anak, menantu, dan mertua, bahaya sifat Lobha dan Matsarya yang tak terkendali, refleksi kepatuhan seorang putra, refleksi kesetiaan seorang istri, ikatan persaudaraan yang erat, dan terakhir sikap yang tidak terlalu berambisi untuk memperoleh kekuasaan. Pesan moral tersebut bertujuan memberikan pegangan bagi para pembaca agar menjadi pribadi yang lebih baik
Proses Pembentukan Karakter Remaja Dalam Perspektif Pendidikan Hindu
Karakter akan terbentuk bila aktivitas dilakukan secara terus menerus sehingga menjadi suatu kebiasaan, dari kebiasaan itu maka akan membentuk karakter remaja. Individu yang berkarakter baik atau unggul adalah seseorang yang berusaha melakukan hal yang baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, bangsa dan negara yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan dan perbuatan berdasarkan norma-norma yang berlaku di masyarakat. Maka proses pembentukan karakter remaja perspektif pendidikan Hindu. Pertama, dilakukan dengan cara pengenalan terhadap ajaran-ajaran agama Hindu melalui pendidikan informal, non-formal dan pendidikan secara formal. Kedua, memberikan pemahaman setelah dilakukan suatu pengenalan tentang ajaran agama. Ketiga, setelah dipahami alangkah baiknya dibudayakan dalam kehidupan sehari-hari. Keempat, setelah dilakukan pembudayaan atau pembiasaan kedalam kehidupan sehari-hari sehingga terwujudlah suatu internalisasi menjadi karakter
Proses Regenerasi Balian Bawo Pada Masyarakat Hindu Kaharingan Dayak Malang di Desa Nihan Hilir (Perspektif Pendidikan Hindu)
Regenerasi balian bawo pada masyarakat Hindu Kaharingan Dayak Malang di Desa Nihan Hilir dikaji berdasarkan keunikan juga karena regenerasi balian bawo tidak lancar dan tidak berjalan dengan baik. Rumusan masalah penelitian ini ialah (1) proses regenerasi balian bawo pada masyarakat Hindu Kaharingan Dayak Malang; (2) implikasi proses regenerasi balian bawo pada masyarakat Hindu Kaharingan Dayak Malang; (3) nilai–nilai pendidikan dalam proses regenerasi balian bawo bagi masyarakat Hindu Kaharingan Dayak Malang di Desa Nihan Hilir dalam perspektif pendidikan Hindu. Teori yang digunakan untuk menganalisis adalah teori fenomenologi dan teori konstruktivisme.
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dan berlokasi di Desa Nihan Hilir. Sumber datanya terdiri atas data primer dan data sekunder dengan peneliti sebagai instrumen utama penelitian. Penentuan informan menggunakan teknik purposive. Data dikumpulkan dengan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Tahap penelitian terdiri atas pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan verifikasi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) menjadi balian bawo merupakan keinginan diri sendiri, langkahnya dimulai dari mencari balian tuha sebagai guru, ngawit ngapar, yaitu menerima transfer ilmu balian, batumang/ngayak ngajun, yaitu proses peneguhan dan penguatan menjadi balian bawo dan suntutus atau mencatat atau minta penjelasan kembali terkait dengan materi ilmu balian; (2) implikasi proses regenerasi balian bawo ialah (1) implikasi positif yang terdiri atas tersedianya regenerasi balian bawo, pelestarian balian bawo, terjaganya pengobatan tradisional, terjaganya upacara balian bawo, dan adanya pimpinan ritual agama; (b) konsekuensi balian bawo, yaitu adanya keterikatan dan pantangan serta banyak menyita waktu dan biaya; (3) nilai-nilai pendidikan regenerasi dalam proses regenerasi balian bawo terdiri atas nilai religius berupa nilai keimanan dan keyakinan; nilai etika terkait dengan pantas dan tidak pantas untuk dilakukan; nilai estetika berupa nilai keindahan dan seni dalam pelaksanaan ritual balian bawo; nilai spiritual berupa nilai kejiwaan dan rohani yang harus dimiliki oleh seorang balian bawo; nilai sosial, yaitu nilai-nilai kebersamaan dan gotong-royong dan kedisiplinan berupa nilai ketaatan terhadap profesi yang dijalankan
Kajian Nilai Pendidikan Hindu Dalam Ritual Aruh Ganal Bawanang Pada Masyarakat Meratus Di Kecamatan Piani Kabupaten Tapin Provinsi Kalimantan Selatan
The Aruh Ganal Bawanang ritual is a ritual of the Meratus Hindu Community in Piani District, Tapin Regency who strongly believes in the Ancestor which is held once a year, namely in July before the full moon, the Meratus community who strongly believes in their ancestors carry out the Aruh Ganal Bawanang ritual. The Aruh Ganal Bawanang ritual, if it is associated with the teachings of the Panca Yadnya, the Aruh Ganal Bawanang ritual is classified as the ritual of Dewa Yadnya, Pitra Yadnya and Bhuta Yadnya. The Aruh Ganal Bawanang ritual carried out by the Meratus Hindu community in Piani District who still adheres to the local Hindu religion. The implementation of the Aruh Ganal Bawanang Ritual by the Meratus Hindu community in the Piani Sub-district is still understood in the form of entrenched traditions and habits that have been passed down from generation to generation, without understanding and knowing the values of Hindu education contained in the Aruh Ganal Bawanang ritual. Therefore, the research focuses more on the Study of Educational Values in the Aruh Ganal Bawanang ritual in the Meratus Hindu community with the formulation of the problem: 1) How is the implementation of the Aruh Ganal Bawanang Ritual in Piani District, Tapin Regency. 2) What are the Ritual values in Aruh Ganal Bawanang. 3) What are the implications of Aruh Ganal Bawanang Ritual Education in Piani District, Tapin Regency. The researcher aims to find out more about the Ritual of Aruh Ganal Bawanang. The theory used to determine the Ritual of Aruh Ganal Bawanang are: Symbol theory, Structural Functional theory and exchange theory. The methods used in this research are: descriptive method, qualitative analysis method, interview method, observation and documentation method.
Based on the results of the study as follows: The Aruh Ganal Bawanang ritual, which starts with: 1) The Manabas Starting Ritual, 2) the Batabang Ritual 3.) the Manyalukut Ritual, 4) the Mamanduk and Mahayip Ritual, 5) the Bamata Umang Ritual, 6) the Mananam Banih Ritual, 7 ) Ritual of Merabon Banih Mandara, 8) Ritual of Ayahlas Banih, 9) Ritual of Manyampuk Banih Mawai (Rice flower begins to bear fruit), 10) Ritual of Mangatam, 11) Ritual of Aruh Ganal Bawanang, 12) Ritual of Babuat or Baancak Banih Kalulung. In Aruh Ganal Bawanang there are (1) religious education values, (2) social and cultural values, (3) ethical values, (4) religious tolerance values and (5) aesthetic values, while the educational implications are: (1) religious implications, (2) Cultural Implications, (3) Social Implications, and (4) Natural Resources Implications