E-Journal Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang Palangka Raya
Not a member yet
711 research outputs found
Sort by
KONSEP PENDIDIKAN NATURALISTIK JEAN JACQUES ROUSSEAU DAN RELEVANSINYA BAGI PENGEMBANGAN SISTEM MERDEKA BELAJAR DI INDONESIA
The current educational orientation is more toward a mechanistic education system. That is, the entire series of education carried out has been designed and very structured. So that teachers and students only follow the previously designed structure. Thus, the meaning of education that expects the development of the potential possessed by students will be hampered because of the structure that has been made. In understanding the reality of the world, students are kept away from their world. So that what is born is students who learn and understand about nature, but never learn together with nature. And Jean Jacques Rousseau presents the concept of naturalistic education as a rationale for returning students to natural reality. Through qualitative research methods with a philosophical hermeneutic approach, this study will attempt to uncover the meaning behind the reality of the world of education today by exploring the concept of naturalistic education initiated by Jean Jacques Rousseau. Thus, the results in this study indicate that Rousseau's idea of the concept of naturalistic education departs from his concern about the direction of education which hinders the development of the potential of students in accordance with their natural nature. Students are likened to a robot that only follows the learning programs that have been designed. Thus, education must be returned to the natural aspect, so that students understand the realities of the world well. As well as the development of a “Merdeka Belajar” system in Indonesia, it is very important to understand Rousseau's concept of naturalistic education, so that it fully gives freedom to students to return to the natural nature of each student.Orientasi pendidikan yang terjadi saat ini lebih mengarah pada sistem pendidikan yang mekanistik. Artinya, seluruh rangkaian pendidikan yang dilaksanakan telah dirancang dan sangat terstruktur. Sehingga guru dan juga murid hanya mengikuti struktur yang telah dirancang sebelumnya tersebut. Sehingga, makna pendidikan yang lebih mengharapkan adanya perkembangan potensi yang dimiliki oleh anak didik akan menjadi terhambat karena struktur yang telah dibuat tersebut. Anak didik dalam memahami realitas dunia justru dijauhkan dengan dunianya. Sehingga yang terlahir adalah anak didik yang belajar dan memahami tentang alam, tetapi tidak pernah belajar bersama dengan alam. Dan Jean Jacques Rousseau menghadirkan konsep pendidikan naturalistik sebagai dasar pemikiran untuk mengembalikan anak didik pada realitas alam. Melalui metode penelitian kualitatif dengan pendekatan hermeneutik filosofis, maka dalam kajian ini akan berupaya untuk mengungkap makna dibalik realitas dunia pendidikan saat ini dengan menggali kembali konsep pendidikan naturalistik yang digagas oleh Jean Jacques Rousseau. Sehingga, hasil dalam penelitian ini menunjukkan bahwa gagasan dari Rousseau tentang konsep pendidikan naturalistik berangkat dari kekhawatirannya tentang arah pendidikan yang justru menghambat berkembangnya potensi anak didik yang sesuai dengan kodrat alamiahnya. Anak didik diibarakan sebagai sebuah robot yang hanya mengikuti program-program pembelajaran yang telah dirancang. Dengan demikian, pendidikan harus dikembalikan pada aspek natural, agar anak didik memahami realitas dunia dengan baik. Serta pengembangan dari sistem merdeka belajar di Indonesia sangat penting untuk memahami konsep pendidikan naturalistik dari Rousseau ini, agar secara penuh memberikan kebebasan pada anak didik untuk kembali pada kodrat alamiah yang dimiliki oleh setiap anak didik
Tri Hita Karana Dalam Upacara Memapas Lewu Di Pura Salipaseban Batu Tangkiling (Kajian Bentuk Fungsi Dan Makna)
Tujuan/ maksud penelitian atau gambaran penelitian sekarang dengan terdahulu, Ajaran Tri Hita Karana ini adalah manusia. Karena kalau terbangun hubungan vang harmonis antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia dan manusia dengan alam lingkungannya. Sedangkan menurut Deselinga Mamapas Lewu berasal dari bahasa dayak Ngaju, Mamapas berati menyapu dan lewu berati membersihi Kampung atau kota tempat tinggal manusia. jadi mamapas lewu berati sebagai upacara membersihkan kampung atau membersihkan kota tempat tinggal, dengan kata lain Mamapas Lewu sama dengan Upacara tolak bala. Upacara Mamapas Lewu dapat dilakukan karenaUntuk Mensejaterakan dan meselaraskan alam baik dalam bentuk yang kecil maupun dalam bentuk yang sangat besar ini juga dapat dilaksanakan oleh Masyarakat kampung atau kota atau juga membayar ajat atau niat kita jika keingginan tercapai, upacara ini dilakukan oleh masyarakat menyakininya. Metode yang digunakan metode kualitatip karena karena sumber yang didapatkan melalui wawancara yang menjadi simple dalam tulisan ini adalah beberapa tokoh Masyarakat dan buku – buku yang menjadi rujukan dalam tulisan ini
Latar Belakang Pelaksanaan Tradisi Hapantan Dalam Upacara Tiwah Di Das (Daerah Aliran Sungai) Kahayan
Central Kalimantan is a very large area and rich in matural resources, flora and fauna, and olso rich in tradition, customs. These traditions are passed down from generation to generation by their ancestors. The existing traditions contain moral teachings that are still very relevant to today’s life. One of the traditions that still exsists today is the hapantan tradition. Which is a tradition of welcoming quests by the Dayak community, especially for the Hindu kaharingan community in the Kahayan watershed. The hapantan tradition is carried out in a tiwah ceremony. Hapantan is pasrt of a religion. This study discusses the tradition of welcoming quests (hapantan) seen from the religious concept proposed by Koentjaraningrat. This study uses a qualitative approach and the method used is interview, observation and literature study. Result; the background of the implementation of hapantan, basically is that every human being has a desire to help which is born from a religious emotion that bring humans to always be sacred or in accordance with religious guidnc
Pencegahan dan Penanggulangan Bullying di Indonesia: Tinjauan Terhadap Aspek Hukum, Faktor Penyebab, dan Dampaknya
Tujuan penulisan terkait analisis komprehensif bullying di Indonesia adalah untuk memberikan kajian lebih lanjut tentang berbagai bentuk bullying di Indonesia, akar penyebab dan faktor penyebabnya, dampak terhadap korban, serta potensi strategi pencegahan dan penanggulangannya. Metode penulisan jurnal ini dilaksanakan dengan pendekatan metode kualitatif deskriptif yang mencakup pendekatan perundang-undangan dan studi literatur. Melalui kajian menyeluruh terhadap artikel ilmiah, laporan, sumber berita, dan peraturan, jurnal ini berupaya untuk berkontribusi pada pemahaman yang lebih dalam tentang sifat bullying dalam konteks Indonesia. Hasil dari penulisan ini berfokus untuk memberikan pemahaman yang lebih baik tentang kompleksitas masalah bullying di Indonesia, serta penekanan pada perlunya strategi pencegahan dan penanggulangan yang efektif, serta pentingnya penerapan regulasi hukum yang ada untuk melindungi hak asasi manusia korban bullying
The Implementation of English Learning in New Normal Situation at SDN Percobaan Palangka Raya
The research aimed to describe: (1) the implementation of English learning in new normal situation at SDN Percobaan Palangka Raya, (2) the obstacles faced of English learning in new normal situation at SDN Percobaan Palangka Raya, and (3) the efforts to overcome the obstacles faced of English learning in new normal situation at SDN Percobaan Palangka Raya. This research used the descriptive-qualitative method. The subjects were an English teacher and students of class IV-C. Research data was obtained through observation and interviews. Data analysis was analyzed through data reduction, data display, and conclusion drawing. The findings revealed that English learning in a new normal situation at SDN Percobaan Palangka Raya implements face-to-face learning where an English lesson is carried out within an hour. During English learning, students were passive. The English teacher used the lecture, demonstration, question-answer, and assignment methods to convey the material. The obstacles faced during English learning were the different students’ learning motivations and lack of understanding of the learning material. In overcoming the obstacles, an English teacher seeks to manage the classroom atmosphere and guide students who do not understand the material by repeating the learning explanation
Menumbuhkan Militansi Umat Beragama Hindu Melalui Metode Storytelling Cerita Kitab Purāṇa
Militansi beragama sangat penting dimiliki oleh setiap umat beragama. Rendahnya militansi beragama menyebabkan seseorang dapat dengan mudah untuk berpindah agama. Upaya untuk menumbuhkan militansi beragama umat Hindu dapat dilakukan dengan menggunakan metode storytelling cerita-cerita yang terdapat dalam kitab Purāṇa. Di dalam kegiatan storytelling, terdapat tiga tahapan penyampaian cerita kitab Purāṇa yaitu kegiatan pembuka, kegiatan inti dan kegiatan penutup. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan penerapan metode storytelling dalam penyampaian cerita dalam kitab Purāṇa untuk menumbuhkan militansi beragama umat Hindu
Manajemen Kepala Sekolah Dalam Memonitoring Aktivitas Belajar Dari Rumah Di Tengah Pandemi Coronavirus Disease (Covid-19) (Studi di SMA Negeri di Kota Kupang)
Abstrak
Pandemi virus corona tengah melanda Indonesia sejak Maret 2020, sehingga menyebabkan pemerintah menginstruksikan agar sekolah-sekolah melakukan aktivitas belajar dari rumah. Oleh karena itu, fungsi manajemen kepala sekolah sangat diperlukan untuk memperlancar berjalannya program ini. Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui sejauh mana fungsi manajemen kepala sekolah berjalan sesuai dengan fungsi manajemen yaitu perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan pengawasan. Metode Penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif dengan melakukan wawancara kepada kepala sekolah di SMA Negeri di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur dan juga melihat dokumen-dokumen berupa foto dan video hasil laporan guru kepada kepala sekolah sebagai bentuk aktivitas belajar siswa dari rumah. Hasil penelitian diperoleh bahwa selama masa belajar dari rumah dilakukan siswa tetap belajar khususnya meningkatkan kemampuan literasi dan numerik dengan dibimbing oleh guru dan juga orang tua. Apabila orang tua mengalami kesulitan dalam membimbing anak, maka guru akan langsung membimbing siswa. Metode-metode yang digunakan juga sudah sangat efektif dan efesien dengan memperhatikan kebutuhan dan kemampuan siswa
Manajemen Organisasi dan Pengorganisasian Perspektif Kitab Suci Panaturan
Dalam mencapai suatu tujuan tentu tidak lepas dengan organisasi dan pengorganisasian yang menjadi penggerak pelaksanaan perencanaan. Organisasi terstruktur yang tersusun dari orang-orang yang didalamnya terdapat pengorganisasian berupa pembagian pekerjaan dan penugasan Kajian ini menggunakan analisis isi (content analysis)adalah penelitian yang bersifat pembahasan mendalam terhadap isi suatu informasi tertulis atau tercetak dengan mencatat lambang atau pesan secara sistematis, kemudian diberi interpretasi. Data diperoleh dari Kitab Panaturan yang juga dalam pasal-pasalnya menjabarkan pentingnya penataan secara teratur pada organisasi dan pengorganisasian itu sendiri. Hasil kajian menunjukkan bahwa dalam Kitab Panaturan, Ranying Hatalla Langit telah menunjukkan contoh secara nyata dalam mengatur berbagai aspek kehidupan termasuk penciptaan segala sesuatu yang ada di bumi dan langit, termasuk Raja Uju dalam penjabaran pelaksanaan tugasnya. Hal ini menunjukkan Kitab Panaturan memberikan petunjuk kepada umat manusia baik secara perseorangan maupun individu khususnya kepada pemimpin suatu organisasi
KEWENAGAN KEPALA DESA DALAM MENYELESAIKAN SENGKETA TANAH PADA MASYRAKAT DI DESA MAMPAI KECAMATAN KAPUAS MURUNG KABUPATEN KAPUAS
-Sengketa Tanah selalu mewarnai setiap kepemilikan tanah pada masyarakat yang terjadi di Kabupaten Kapuas, baik itu sengketa yang terjadi Antar Inddividu, Antra Masyarakat Maupun Masyarakat dengan pihak perusahan sehingga perlu penyelesaian untuk mencegah terjadinya konflik pertanahan. Demikian juga hal dengan sengketa tanah yang terjadi di Desa Mampai. Dalam Pasal 26 Ayat (4) Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa yang menyatakan bahwa : “dalam melaksanakan tugasnya, kepala desa berkewajiban menyelesaikan perselisihan masyarakat di desa”. Hal demikian juga terdapat dalam pasal 15 Ayat (1) PP Nomor 72 Tahun 2005 inilah yang menjadi dasar kewenangan Kepala Desa dalam menyelesaikan kasus sengketa tanah yang terjadi di Desa Mampai Kecamatan Kapuas Murung Kabupaten Kapuas. Adapun Proses dalam Penyelesaian sengketa tanah di Desa mampai Kecamatan Kapuas Murung Kabupaten Kapuas Adalah melalui Mediasi. Mediasi dengan beberapa tahapan, pra mediasi, tahap pemanggilan, tahap mediasi, tahap mendengarkan keterangan para pihak yang bersengketa, tahap membuat kesepakatan antar para pihak yang bersengketa, tahap perundingan dan yang terakhir pengambilan keputusan. Hasil keputusan mediasi di buatkan Surat Pernyataaan Tanah (SPT) Sebagai Bukti Peryataan tanah yang dimiliki
Peran Penyuluh Agama Hindu Dalam Pendidikan Karakter Generasi Muda Di Kabupaten Barito Selatan
The moral crisis is no longer a simple case but has serious consequences for the students, meanwhile to build a developed country it is necessary to have a young generation with noble character and character. This personality case can be seen from the existence of student brawls, juvenile delinquency, crime among young people, and so on. The phenomenon that occurs in several areas in South Barito Regency proves that this character education crisis also occurs in the region where juvenile delinquency is rampant and has entered the realm of crime.
The role of Hindu religious instructors in character education for the younger generation in South Barito Regency is to teach knowledge about religious teachings and train religious skills. To do this, Hindu religious instructors also guide and motivate the younger generation to be diligent and study hard and be involved in the activities carried out. Hindu religious instructors also set an example for the younger generation in appearance and behavior in accordance with the teachings of goodness. The role of the Hindu religious instructor is to bring about a change in the character of the young generation of Hindus in South Barito Regency for the better