E-Journal Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang Palangka Raya
Not a member yet
    711 research outputs found

    Huma Betang Sebagai Wadah Merajut Kebhinekaan di Kalimantan Tengah

    No full text
    Huma betang is a traditional house from Central Kalimantan. Huma betang means long house or big house. Huma betang resembles a stilt house which, when viewed from the model and construction of the building, is tall and elongated and consists of many rooms that can be occupied by ten to forty heads of household. The values of diversity contained in huma betang are the values of tolerance, the values of mutual cooperation, the values of harmony, and the values of justice. So that huma betang can be said as a place to knit diversity in Central Kalimantan. The method used in this research is the literature study method

    Upacara Odalan Pura Tradisi Hindu Jawa Di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kajian Pendidikan Hindu)

    No full text
    ABSTRAK Penelitian ini mengkaji upacara odalan pura tradisi Hindu Jawa di Kabupaten Kutai Kartanegara kajian pendidikan Hindu. Penelitian ini mengangkat fenomena upacara odalan pura tradisi Hindu Jawa di Kabupaten Kutai Kartanegara yang memiliki perbedaan dari upacara odalan lainnya, dan menjadikan upacara ini memiliki keistimewaan dan keunikan tersendiri. Berdasarkan hal di atas, penelitian ini difokuskan pada pembahasan tentang (1) apakah latar belakang umat Hindu Jawa mempertahankan tradisi Hindu Jawa dalam upacara odalan pura di Kabupaten Kutai Kartanegara?, (2)    bagaimanakah pelaksanaan upacara odalan pura tradisi Hindu Jawa di Kabupaten Kutai Kartanegara dalam kajian pendidikan Hindu?, (3) apakah makna upacara odalan pura tradisi Hindu Jawa Kabupaten Kutai Kartanegara dalam kajian pendidikan Hindu?, tujuan penelitian ini untuk mengetahui, mengkaji, menjelaskan dan mendeskripsikan latar belakang, pelaksanaan serta makna upacara odalan pura tradisi Hindu Jawa di Kabupaten Kutai Kartanegara kajian pendidikan Hindu. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, yang bertujuan memahami dan menganalisis upacara odalan pura tradisi Hindu Jawa di Kabupaten Kutai Kartanegara dengan kajian pendidikan Hindu. Data ini diperoleh melalui observasi, wawancara, dan studi dokumentasi. Informan dipilih secara porposive. Peneliti bertindak sebagai instrumen utama dengan alat bantu. Data diverifikasi, dianalisis dengan teori interaksionisme simbolik dan teori fungsionalisme struktural, dengan disajikan secara formal dan informal. Berdasarkan observasi ditemukan bahwa latar belakang umat Hindu Jawa masih mempertahankan tradisi Hindu Jawa adalah: Adanya Kepribadian Orang Jawa, mempertahankan dan melestarikan ajaran Hindu Jawa, adanya warisan budaya dan tradisi dari leluhur, menjadi refleksi budaya Jawa, menjadi solidaritas umat Hindu Jawa dan kepuasan batin Hindu Jawa. Upacara odalan pura tradisi Hindu Jawa di Kabupaten Kutai Kartanegara kajian pendidikan Hindu terbagi ke dalam tiga tahapan yaitu tahap awal, tahapan pokok, dan tahapan akhir. Makna upacara odalan pura tradisi Hindu Jawa di Kabupaten Kutai Kartanegara kajian pendidikan Hindu adalah: makna sosial, makna gotong royong, makna solidaritas, makna moralitas, makna susila, makna karakter, makna kebenaran, makna keindahan, makna keindahan pandang, makna keindahan hati, makna religiusitas,dan makna rasa syukur. Interaksi sosial masyarakat Hindu Jawa dalam meningkatkan cinta kasih, persaudaraan, dan solidaritas menuju tujuan hidup lahir batin, keseimbangan serta kaharmonisan masyarakat Hindu Jawa di Kabupaten Kutai Kartanegara dapat dikatakan sangat luar biasa baik.   Kata kunci: upacara odalan, tradisi Hindu Jaw

    RELIGIOUS EDUCATION IN SCHOOLS: A GAP BETWEEN HOPE AND REALITY AND THE SOLUTION

    No full text
    This article results from a literature study that describes the discrepancy between expectations and reality in religious education in schools and the solution. The purpose of this research is not only to explain the weaknesses of religious education in schools, reflected in the gap between expectations and reality, but also to provide a solution. This research was conducted by critically reviewing various books. The data obtained is synthesized by following the line of thought of critical social theory. The study results show that the gap between expectations and reality in religious education in schools is mainly due to the pattern which emphasizes exclusivism more than inclusivism. This condition requires revitalization through the implementation of inclusive and interreligious religious education. Its application adheres to the characteristics of inclusivism combined with the ethical wisdom of the Bhagawad Gita. This is complemented by the intertwined development of habits of thought, speech, social action, and morality so that a wise acceptance of religious diversity emerges. An inclusive religious education method requires a learning method of habituation, modeling, normalizing, and disciplining the student body. Applying this method requires the cooperation of various teachers, especially teachers in schools and parents of students.Artikel ini adalah hasil penelitian kepustakaan yang menggambarkan ketidaksesuaian antara harapan dan kenyataan dalam pendidikan agama di sekolah dan solusinya. Tujuan penelitian ini tidak saja memaparkan kelemahan pendidikan agama di sekolah, tercermin pada kesenjangan antara harapan dan kenyataan, tetapi dilengkapi pula dengan solusinya. Penelitian ini dilakukan dengan cara mengkaji secara kritis berbagai buku. Data yang didapat disintesekan dengan mengikuti alur pemikiran teori sosial kritis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa  kesenjangan antara harapan dan kenyataan pada pendidikan agama di sekolah terutama karena polanya yang lebih menekankan eksklusivisme dari inklusivisme. Kondisi ini membutuhkan revitalisasi melalui penerapan pendidikan agama yang inklusif dan interreligious. Penerapannya berpegang pada ciri-ciri inklusivisme, dipadukan dengan etika kebijaksanaan Bhagawad Gita. Hal ini dilengkapi dengan pengembangan kebiasaan pikiran, ucapan, tindakan sosial, dan moralitas secara berkelindan, sehingga muncul penerimaan keragaman agama secara bijaksana. Metode pendidikan agama yang inklusif membutuhkan metode pembelajaran, yakni  adalah metode pembiasaan, pemodelan,  penormalan, dan pedisipilinan tubuh siswa. Penerapan metode ini membutuhkan kerja sama berbagai guru terutama guru di sekolah dan orangtua murid

    The Viral of Hadist: Dimensi dan Makna Meme #Hadis Dalam Media Sosial Instagram

    No full text
    The dissemination of hadith meme images through the #hadis hashtag on Instagram social media has brought up complex and contextual dimensions and meanings. The studies that have discussed this context have only focused on aspects of communication, so the dimensions and meanings of hadith meme images disseminated on Instagram social media have not been comprehensively explained. This study focuses on the question "What are the dimensions and meanings of hadith meme images in the hashtag #hadith disseminated on Instagram social media?" To answer this question, this study uses a netnographic method that is descriptive qualitative in investigating the characteristics and meaning behind a hadith meme image disseminated on Instagram social media. The findings in this study show that the dimensions of hadith meme images in the hashtag #hadith disseminated through Instagram social media appear in three dimensions, namely; images of hadith memes with spiritual, cultural, and social dimensions. The three dimensions of the hadith also contain motivational, evaluative, and reflective meanings. This study also recommends the importance of studies that explain the factors for the emergence of these hadith meme images by interviewing Instagram social media users who upload meme images, in order to gain a comprehensive and more empirical understanding.Diseminasi gambar meme hadis melalui tagar #hadis dalam media sosial Instagram telah memunculkan dimensi dan makna yang kompleks dan kontekstual. Studi-studi yang pernah membahas konteks tersebut hanya fokus pada aspek komunikasi, sehingga dimensi dan makna gambar meme hadis yang diseminasikan dalam media sosial Instagram belum dijelaskan secara komprehensif. Studi ini fokus pada pertanyaan “Bagaimana dimensi dan makna gambar meme hadis pada tagar #hadis yang diseminasikan dalam media sosial Instagram?” Untuk menjawab pertanyaan tersebut studi ini menggunakan metode netnografi bersifat deskriptif kualitatif dalam menginvestigasi karakteristik dan makna yang ada dibalik sebuah gambar meme hadis yang diseminasikan dalam media sosial Instagram. Temuan dalam studi ini memperlihatkan bahwa dimensi dari gambar meme hadis dalam tagar #hadis yang diseminasikan melalui media sosial Instagram muncul dalam tiga dimensi, yaitu; gambar meme hadis berdimensi spiritual, kultural, dan sosial. Dari tiga dimensi hadis tersebut juga memuat makna-makna yang bersifat motivatif, evaluatif, dan reflektif. Studi ini juga merekomendasikan pentingnya studi yang menjelaskan faktor munculnya gambar meme hadis tersebut dengan mewawancara pengguna media sosial Instagram yang mengunggah gambar meme, guna memperoleh pemahaman yang komprehensif dan lebih empiris lagi

    Implikasi Motivasi dalam Meningkatkan Konsentrasi Belajar Siswa

    No full text
    Perkembangan pendidikan yang terus meningkat sesuai dengan perubahan zaman, menyebabkan para siswa mengalami stress dan depresi. Siswa mengalami stress dan depresi disebabkan karena kurikulum belajar yang terus mengalami perubahan dari kurikulum KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) berubah menjadi kurikulum 2013 dan sekarang di tahun 2022 diterapkannya menjadi kurikulum merdeka belajar. Perubahan tersebut menekankan proses pembelajaran yang berpusat kepada siswa dengan lebih lebih menekankan kreativitas dan inovasi siswa. Menurut pendapat Gibson K (2004) menjelaskan bahwa psikolog dan ahli perkembangan anak mulai sependapat bahwa anak-anak pada saat ini telah kelebihan kegiatan. Kegiatan ekstrakurikuler yang banyak di jumpai di sekolah dapat meningkatkan bakat anak, namun tidak sedikit dari anak tersebut juga tidak mampu mencapai harapan tinggi dari aktivitas yang mereka jalani bahkan sebagian yang lain mengalami depresi. Stress akibat aktivitas di sekolah dapat dirasakan oleh siswa terutama mereka yang mengalami kesulitan belajar termasuk diantaranya kesulitan dalam berkonsentras

    PERLINDUNGAN HUKUM NASABAH DALAM PENYELENGGARAN LAYANAN PERBANKAN DIGITAL

    No full text
    Bank customer protection is designed to give customers the right to complain and resolve disputes in the banking industry. Customer protection laws and regulations in the banking industry are not good at protecting customers. Changes in services using information technology paved the way for the digital banking era. However, the spread of digital banking services also increases bank risk. The purpose of this research is to elaborate on legal protection in the development of digital banking services and protect the public from risks. Digital banking services are innovations made by banks to meet the needs of customers who are still developing their information technology. In Indonesia, the introduction of digital banking services offered by banks is regulated in OJK Regulation 12/POJK.03/2018 concerning the Introduction of Digital Banking Services in Commercial Goods Banking Services. Customers who use digital banking services have two forms of protection, namely prevention and protection.Perlindungan nasabah bank dirancang untuk memberikan hak kepada nasabah untuk mengadu dan menyelesaikan perselisihan di industri perbankan. Peraturan perundang-undangan perlindungan nasabah di industri perbankan kurang baik dalam melindungi nasabah. Perubahan layanan yang menggunakan teknologi informasi membuka jalan bagi era perbankan digital. Namun, penyebaran layanan perbankan digital juga meningkatkan risiko bank. Tujuan dari penelitian ini adalah mengelaborasi perlindungan hukum dalam perkembangan layanan perbankan digital dan melindungi masyarakat dari risikonya. Layanan perbankan digital merupakan inovasi yang dilakukan oleh bank untuk memenuhi kebutuhan nasabah yang masih terus mengembangkan teknologi informasinya. Di Indonesia, pengenalan layanan perbankan digital yang ditawarkan oleh bank diatur dalam Peraturan OJK 12/POJK.03/2018 tentang Pengenalan Layanan Perbankan Digital Pada Layanan Perbankan Barang Komersial. Nasabah yang menggunakan layanan perbankan digital memiliki dua bentuk perlindungan yaitu pencegahan dan pelindung

    MODERASI BERAGAMA

    No full text
    Moderasi beragama yang saat ini dicanangkan oleh Kementerian Agama bukanlah hal baru dalam masyarakat Indonesia. Dua dari empat unsur moderasi beragama yaitu toleransi dan anti kekerasan telah dirumuskan oleh para pelaku-pelaku sejarah dari berbagai etnis di Indonesia. Pengalaman sejarah dari masa kurun niaga sampai dengan saat ini menjadi dasar bagi para tokoh-tokoh yang diulas dalam tulisan ini untuk merumuskan ide, gagasan dan cara bertindak yang ideal bagi masyarakat di Indonesia. Dengan ide, gagasan dan cara bertindak yang terutamanya untuk menghilangkan perilaku intoleransi dan kekerasan dianggap menjadi cara hidup ideal bagi masyarakat Indonesia. Tulisan ini dibangun dengan menggunakan metode eksploratif yaitu menganalisa beberapa tulisan para tokoh sejarah sejak masa kurun niaga sampai dengan tokoh terakhir sastrawan Pramoedya Ananta Toer yang merumuskan cara hidup toleransi dan anti kekerasan. Lewat pemaparan pemikiran dari berbagai periode sejak masa kurun niaga sampai dengan saat ini, ditujukan untuk mengingatkan kembali masyarakat Indonesia bahwa moderasi beragama telah diterapkan jauh sebelum istilah ini dipopulerkan oleh Kementerian Agama. Hidup ber(se)sama dengan rukun antar suku, agama, ras dan kelas sosial menjadi tujuan dari cara berpikir dari para pelaku sejarah tersebut

    Pidana Mati Bagi Koruptor Perspektif Pancasila

    No full text
    Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui ketentuan pidana mati bagi koruptor berdasarkan Pancasila dan memberikan tambahan pengetahuan untuk membuat dan memperbaharui ketentuan pidana bagi koruptor dimasa yang akan datang yang sesuai dengan Pancasila yang merupakan filsafat dan pandangan hidup bangsa Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode hukum normatif yakni menganalisis permasalahan pidana mati berdasarkan peraturan perundang-undangan, dan konsep hukum. Adapun hasil penelitian ini: pidana mati bertentangan dengan Pancasila dan tidak tepat diterapkan terhadap pelaku tindak pidana korupsi, sedingga pengaturan hukuman terhadap koruptor harus dihilangkan dimasa yang akan datang dan lebih mengutamakan prinsip keadilan restoratif yang lebih selaras dengan Pancasila dalam menyelesaikan permasalahan kerugian keuangan negara sebagai akibat tindak pidana korupsi

    Leaving and Entering Religion:Understanding Religious Conversion in the Discourse of Religious Freedom and Human Right

    No full text
    Religious conversion is a problematic phenomenon. It is supported based on religious freedom, but opposed based on religious doctrines and truth claims. The debate on religious conversion in relation to freedom of religion or belief (FoRB) tends to stop on the dichotomy of universalism and relativism of human rights. That is, religious conversion is recognized as a universal value, but in a particular context became relative. In this perspective, the implementation of religious conversion, which should be universal, becomes limited. As a result, there are various kinds of stigmatization against the subjects of religious conversion, for instance, they are labeled as "heretics", "infidels", "apostates", and even "dissidents" against religion. Therefore, to explain religious conversion in relation to religious freedom and human rights, I do not stop at the dichotomy of universalism and relativism of human rights. However, religious conversion needs to be analyzed as part of the freedom of religion whose subjects must be protected. This paper will analyze the issue of religious conversion in two perspectives: first, how religious conversion (in and out conversion) in religious doctrines and teachings; and, second, how to understand religious conversion in the discourse of freedom of religion which is closely intertwined with human rights. The method used in this paper is a combination of interviews and literature study. The findings in this research show that freedom of religion is often constrained by religion itself (so-called religious relativism)Konversi agama merupakan fenomena yang problematis. Ia didukung atas dasar kebebasan beragama, namun ditentang oleh doktrin dan klaim kebenaran agama. Perdebatan tentang konversi agama dalam kaitan dengan kebebasan beragama atau berkeyakinan (KBB) cenderung berhenti pada dikotomi universalisme dan relativisme hak asasi manusia (HAM). Artinya, konversi agama diakui sebagai suatu nilai yang universal, namun dalam konteks tertentu menjadi relatif. Pada satu sisi, universalisme menekankan bahwa konversi agama adalah kebebasan yang melekat pada diri individu sebagai bagian dari harkat dan martabat manusia. Di sisi lain, relativisme cenderung membatasi nilai tersebut ke dalam konteks atau kulturnya, yang di dalamnya termasuk agama. Dalam perspektif ini implementasi konversi agama yang semestinya universal menjadi terbatas. Akibatnya, muncul berbagai macam stigmatisasi terhadap subjek konversi agama, misalnya mereka dicap “sesat”, “kafir”, “apostasi”, bahkan “pembangkang” terhadap agama. Oleh karena itu, untuk menjelaskan konversi agama dalam kaitan dengan kebebasan beragama, saya tidak berhenti pada dikotomi universalimse dan relativisme HAM. Bagaimanapun, konversi agama perlu dianalisis sebagai bagian dari kebebasan beragama yang mana subjeknya harus dilindungi. Tulisan ini akan menganalisis isu konversi agama dalam dua perspektif: pertama, bagaimana konversi agama (konversi masuk dan konversi keluar) dalam doktrin dan ajaran agama; dan, kedua, bagaimana seharusnya memahami konversi agama dalam diskursus KBB yang berkelindan erat dengan HAM. Metode yang digunakan dalam tulisan ini adalah kombinasi antara wawancara dan studi literatur. Temuan dalam riset ini menunjukkan bahwa kebebasan beragama justru sering dikekang oleh agama itu sendiri (yang disebut dengan relativisme agama)

    Fungsi Dan Tantangan Dalam Pelestarian Tumbuhan Upakara

    No full text
    Tujuan dari artikel ini adalah untuk membahas fungsi dan tantangan dalam pelestarian tumbuh-tumbuhan upakara di Desa Singakerta, Bali. Beberapa tahun terakhir, jenis tumbuhan ini mengalami kelangkaan, yang berdampak pada peningkatan harganya, terutama menjelang hari raya agama Hindu. Akibatnya, upaya pelestarian harus dilakukan. Pendekatan penelitian menggunakan data kualitatif dengan menentukan informan secara purposive, yaitu berdasarkan pengetahuan dan pengalaman yang mereka miliki. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, dan studi dokumen. Sedangkan analisis data dilakukan dengan model interaktif, yaitu secara bersamaan mulai dari proses pengumpulan data, pemilahan data, penafsiran, dan sampai pada kesimpulan. Analisis menunjukkan bahwa upaya pelestarian pada dasarnya memiliki fungsi manifes dan laten. Fungsi manifes meliputi fungsi religius, ekonomi, dan sebagai lapangan pekerjaan baru. Sedangkan fungsi laten terdiri dari fungsi bahan usada (pengobatan tradisional Bali), keharmonisan dengan alam lingkungan, dan penambahan jaringan sosial. Sebaliknya, pelestarian tumbuhan upakara acap menjadi sulit karena beberapa alasan, antara lain keterbatasan bibit, perawatan khusus untuk beberapa jenis tumbuhan upakara, dan keterbatasan lahan

    302

    full texts

    711

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    E-Journal Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang Palangka Raya
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇