E-Journal Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang Palangka Raya
Not a member yet
711 research outputs found
Sort by
Nyadiri : Tradisi Penyembuhan Melalui Ritual Tolak Bala Pada Masyarakat Dayak Di Kota Palangka Raya
The modernization of life today is not an excuse for some Dayak people in Palangka Raya City to abandon various traditions that have been passed down from generation to generation. One of them is the nyadiri ritual as a ritual of repelling reinforcements which is believed to be able to neutralize various negative influences in humans and can cause suffering (illness). There are three types of self-awareness rituals that are often carried out, namely nupi (dreaming) self-awareness, pregnant self-awareness, and self-awareness due to calamity. There are three stages in carrying out self-isolation for sick people, namely the first stage is carried out at home, the second stage is throwing all negative things out of the house according to dreams that are experienced in waterways, behind the house or graves. The third stage is to return the spirit or offerings to the sick person by placing a behas baruan on the crown of the sick person and then sprinkling holy water as a symbol of generating a positive aura for the sick person so that he will be healthy again soon. The meaning of treatment in the nyadiri ritual can be interpreted from the tools and infrastructure used, such as nyiru, banana leaves, statues of Sadiri, Ketupat Sumbawa, Tantaluh Manuk, Hundus Tanak, and Tampung Tawar, all of which are symbols of self-cleansing from negative influences
Strategi Mewujudkan Sekolah Ramah Anak (Studi Kasus SMP Kristen Harapan Soe)
Abstrak
Sekolah ramah anak adalah satuan pendidikan formal, nonformal, dan informal yang aman, bersih,sehat, peduli dan berbudaya lingkungan hidup dan mampu menjamin hak-hak anak dan perlindungan anak dari kekerasan dan perlakuan salah lainnya serta mendukung partisipasi anak dalam pendidikan. Tujuan Penelitian untuk mengetahui tentang esensi dari sekolah ramah anak, strategi mewujudkan sekolah ramah anak, serta mengetahui apa saja kendala yang dihadapi dalam mewujudkan sekolah ramah anak di SMP Kristen Harapan Soe. Metode Penelitian adalah penelitian kualitatif dan data dikumpulkan melalui observasi, wawancara dan Focus discussion group (FGD), setelah itu data difalidasi menggunakan teknik trianggulasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa 1) esensi dasar sekolah ramah anak bagi SMP Kristen Harapan Soe ialah program yang mengkondisikan sekolah menjadi rumah kedua yang nyaman bagi anak. 2) Ada enam strategi yang diterapkan dalam mewujudkan sekolah ramah anak. 3) Kurangnya guru yang terlatih hak-hak anak, terbatasnya biaya penyelenggaraan pendidikan, terdapat orang tua yang kurang peduli dengan pendidikan anaknya, kurangnya kerjasama dengan pihak dari luar sekolah. Berdasarkan hasil analisis data maka dapat disimpulkan bahwa SMP Kristen Harapan Soe menerapkan enam strategi mewujudkan sekolah ramah anak. Enam strategi tersebut sudah mewakili indikator sekolah ramah anak (SRA). Namun,dalam pelaksanaanya masih terdapat kendala yang alami pihak sekolah.
Keywords: Esensi, Strategi, Sekolah Ramah Ana
Makna Upacara Balian Palas Bidan Menurut Agama Hindu Kaharingan Di Desa Bantai Karau Kecamatan Dusun Tengah Kabupaten Barito Timur
Ajaran agama Hindu terhadap tattwa, etika dan upacara (Tri Kerangka Dasar) maka dalam pengejawantahannya akan tampak dalam prilaku beragama sehari-hari. Konsep Yajnya dalam ajaran agama Hindu digunakan untuk mengkaji lebih mendalam tentang upacara Kelahiran Anak, di daerah Barito Timur upacara kelahiran anak biasa disebut Balian Palas Bidan yang dilaksanakan oleh Umat Hindu Kaharingan. Upacara Kelahiran Anak atau Balian Palas Bidan memiliki makna sebagai pensucian bayi agar terlepas dari noda dan papa sehingga bayi tersebut sungguh-sungguh bersih. Selanjutnya diharapkan bayi tersebut mampu memandang masa depan yang baik dan menyenangkan bagi kelangsungan hidupnya kelak dan bagi orang tua. Makna pelaksanaan upacara Balian Palas Bidan memberikan pijakan etika yang kokoh bagi perkembangan si anak di kemudian hari. Pelaksanaan upacara Balian Palas Bidan berfungsi sebagai bentuk pelayanan umatnya kepada Tuhan (Ju’us Tuha Alla Talla). Balian Palas Bidan adalah upacara pembersihan seorang bayi yang dilaksanakan oleh umat Hindu Kaharingan Suku Lawangan. Makna upacara Balian Palas Bidan adalah saranan untuk menyampaikan ungkapan rasa syukur dan terima kasih kepada Ju’us Tuha Alah Talla /Tuhan Yang Maha Esa, atas perlindungan dan anugerah yang diberikan dan selanjutnya mohon untuk diberikan keselamatan lahiriah dan bathiniah. Bentuk upacara Balian Palas Bidan adalah dengan gerak dan tari yang dilakukan oleh Balian, bentuk lainnya terdiri dari sarana dan prasarana upacara, pelaksanaan upacara Balian Palas Bidan merupakan kewajiban yang harus dilaksanakan oleh orang tua terhadap bayi. Fungsi upacara Balian Palas Bidan adalah upacara untuk penyucian jiwa dan raga sekaligus pemberian nama untuk si bayi, dan membersihkan si ibu dan bidan yang menolong persalinan agar terlepas dari Pali oleh seorang Balian
Tinjauan Literatur Tentang Penerapan Prinsip Total Quality Management Dalam Pendidikan Vokasi: Tantangan Dan Peluang
TQM merupakan suatu pendekatan manajemen yang berfokus pada peningkatan kualitas secara menyeluruh di semua aspek organisasi. Melalui analisis berbagai studi dan penelitian sebelumnya, artikel ini mengidentifikasi beberapa prinsip TQM yang dapat diterapkan dalam pendidikan vokasi. Prinsip-prinsip tersebut meliputi fokus pada kepuasan pelanggan, partisipasi aktif semua pihak terkait, pengumpulan dan analisis data secara sistematis, pengambilan keputusan berdasarkan fakta, serta upaya perbaikan berkelanjutan. Terdapat tantangan yang dihadapi dalam penerapan prinsip-prinsip TQM dalam pendidikan vokasi, seperti keterbatasan sumber daya, resistensi terhadap perubahan, dan kompleksitas sistem pendidikan vokasi itu sendiri. Namun, terdapat juga peluang yang dapat dimanfaatkan, seperti peningkatan efisiensi dan efektivitas proses pendidikan, peningkatan kepuasan peserta didik dan pemangku kepentingan lainnya, serta peningkatan reputasi lembaga pendidikan vokasi. Untuk mengatasi tantangan dan memanfaatkan peluang tersebut, artikel ini menyimpulkan bahwa penerapan TQM dalam pendidikan vokasi memerlukan komitmen dan kepemimpinan yang kuat dari pihak manajemen, partisipasi aktif semua pihak terkait, penggunaan alat dan metode TQM yang sesuai, serta budaya organisasi yang mendukung perbaikan berkelanjutan. Dengan menerapkan prinsip-prinsip TQM, diharapkan lembaga pendidikan vokasi dapat meningkatkan kualitas program dan layanan pendidikan, memenuhi kebutuhan peserta didik dan pemangku kepentingan lainnya, serta menghasilkan lulusan yang siap untuk memasuki dunia kerja
STRATEGI KOMUNIKASI PEMANFAATAN DIGITAL MARKETING AGRIBISNIS KOPI DALAM MENINGKATKAN PENDAPATAN PETANI
The COVID-19 pandemic has made it difficult for farmers to market their coffee production, because human mobility is limited. So farmers are forced to switch from conventional marketing processes to digital-based marketing. In addition to the COVID-19 pandemic, increasingly rapid technological developments also affect changes in the marketing system carried out by farmers. So it is hoped that with a digital marketing-based coffee marketing system in increasing farmers' income. Digital marketing also allows coffee marketing to change its form from conventional marketing to digital-based marketing. Digital marketing for coffee is interesting to study because it can be an innovative marketing strategy to be able to survive and realize the 5.0 generation digital revolution. Digital marketing activities that can be carried out in an effort to increase farmers' income are by conducting Publications or Publicity, Events or exhibitions, News or news, Community Involvement (Building Community), Lobbying, Social Investment and conducting communication strategies using a SWOT Analysis of Strengths that owned by coffee farmers are: quality coffee; an affordable price; trained and experienced farmers; partner with coffee companies; and has a large area. Weaknesses that they have are: farmers are still technologically stumped so it is difficult to develop; sales depend on distributors; limited types of coffee; and seasonal crops. Opportunities that can be utilized by coffee farmers are market potentials that are still open. Meanwhile, the threats faced are: a decrease in sales due to low community mobility; intense competition; and land use change.
 
Upacara Tiwah Sebagai Daya Tarik Pariwisata di Kalimantan Tengah
Tourism is a field that is currently in great demand by various parties. Indonesia has great potential to generate foreign exchange from the tourism sector and the role of the national tourism sector is increasingly important in line with the developments and contributions made. The Tiwah Ceremony in Central Kalimantan is one of the tourist attractions. The Tiwah ceremony is a ceremony related to the ceremony after the human has died
KONFLIK PADA DESA ADAT DI BALI : MASALAH DAN SOLUSI PENYELESAIANNYA
Keberadaan desa adat di Bali memiliki tujuan sebagai wadah bagi warganya (krama) untuk mencapai kesejahteraan dan kebahagian (jagadhita). Untuk mencapai tujuan tersebut, setiap krama desa mendapatkan hak dan kewajiban yang diatur dalam awig-awig dan perarem sebagai aturan turunan. Berdasarkan peran dan fungsi tersebut seharusnya kehidupan masyarakat desa adat di Bali harmonis dan nirkonflik. Namun, pada kenyataannya sering terjadi konflik, seolah tidak pernah tuntas. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji peran dan fungsi desa adat, penyebab terjadinya konflik, dan solusi untuk meredakan konflik yang dialami desa adat di Bali. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan etnografi. Menggunakan data sekunder dikumpulkan dari beberapa hasil penelitian terdahulu. Permasalahan dianalisis menggunakan Teori Struktural Fungsional dan Teori Konflik Sosial. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa desa ada memiliki peran dan fungsi sebagai wadah warganya untuk mencapai tujuan, yaitu jagadhita, konflik yang terjadi di desa adat adalah konflik sosial yang disebabkan oleh ketidakpatuhan warga terhadap awig-awig dan kuasa para elit yang tidak adil, dan konflik pada desa adat perlu diselesaikan dengan multi pendekatan.Keberadaan desa adat di Bali memiliki tujuan sebagai wadah bagi warganya (krama) untuk mencapai kesejahteraan dan kebahagian (jagadhita). Untuk mencapai tujuan tersebut, setiap krama desa mendapatkan hak dan kewajiban yang diatur dalam awig-awig dan perarem sebagai aturan turunan. Berdasarkan peran dan fungsi tersebut seharusnya kehidupan masyarakat desa adat di Bali harmonis dan nirkonflik. Namun, pada kenyataannya sering terjadi konflik, seolah tidak pernah tuntas. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji peran dan fungsi desa adat, penyebab terjadinya konflik, dan solusi untuk meredakan konflik yang dialami desa adat di Bali. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan etnografi. Menggunakan data sekunder dikumpulkan dari beberapa hasil penelitian. Permasalahan dianalisis menggunakan Teori Struktural Fungsional dan Teori Konflik Sosial. Hasil penelitian ini menyimpulkan : (1) desa ada memiliki peran dan fungsi sebagai wadah warganya untuk mencapai tujuan, yaitu jagadhita; (2) konflik yang terjadi di desa adat adalah konflik social yang disebabkan oleh ketidakpatuhan warga terhadap awig-awig dan kuasa para elit yang tidak adil; dan (3) konflik perlu diselesaikan dengan multi pendekatan, seperti agama, restorative justice, kearifan lokal, dan komunikasi persuasif
Nilai-Nilai Pendidikan Hindu Dalam Yajña Sesa di Kecamatan Basarang Kabupaten Kapuas
Yajña Sesa is the simplest food offering consisting of rice, side dishes (cooked) as symbol of gratitude to Ida Sang Hyang Widhi Wasa/God Almighty. In fact, there is a lack understanding of some people related to the form of implementation, functions and values of Yajña Sesa. The theories used in this study are the theory of symbols, structural functional theory and value theory. The research method used is a qualitative method. The types of data sources are primary and secondary data sources. This study used purposive sampling and data collection techniques with observation, interviews and document study.Yajña Sesa merupakan sarana dalam persembahan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa/Tuhan Yang Maha Esa berupa makanan yang telah dimasak yang memiliki nilai pendidikan Hindu yang perlu dikaji. Fenomena yang terjadi kurangnya pemahaman dalam diri beberapa orang terhadap bentuk pelaksanaan, fungsi serta nilai-nilai yang terkandung dalam Yajña Sesa. Penelitian dikaji dengan teori simbol, teori fungsional struktural dan teori nilai. Metode penelitian yang digunakan metode kualitatif. Jenis sumber data yaitu sumber data primer dan sumber data sekunder. Teknik penentuan informan dilakukan secara Purposive. Teknik pengumpulan data dengan observasi, wawancara dan studi dokumen
EKSISTENSI PURA LANGGAR SEBAGAI ANALISIS PENDIDIKAN MULTIKUKTUR DI BALI
Temple as a place of worship for Ida Sang Hyang Widhi Wasa is one of the ways to foster a sense of devotion and establish a relationship with God Almighty in the form of soul or niskala. The existence of God in the form of a soul and niskala needs to be manifested in the human mind because without that manifestation the human mind will not be directed and not steady enough to worship Him. Bali is an island of a thousand temples, one of which is a temple that has an existence in the era of globalization, namely Pura Langgar which is in Pakraman Bunutin Village, Bangli Regency, Bali Province. Pura Langgar is one of the characteristics of multicultural education in the religious life of Hindus and Muslims. Langgar Temple was formerly a Langgar, a place of prayer for Muslims. But the empress died, so a temple was built in that place with the name Pura Langgar. Where residing there is Ida Bhatara Pedanda Ratu. Because it is related to the Islamic religion, the ceremony does not use pork as a complement to the ceremony, but only ducks and chickens are sufficient.Pura sebagai tempat pemujaan terhadap Ida Sang Hyang Widhi Wasa adalah salah satu untuk menumbuhkan rasa bakti dan mengadakan hubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa yang berwujud suksma atau niskala. Keberadaan Tuhan yang berwujud suksma dan niskala perlu diwujudkan dalam alam pikiran manusia karena tanpa perwujudan itu pikiran manusia tidak akan terarah dan kurang mantap untuk melakukan pemujaan terhadapnya. Bali merupakan pulau seribu Pura, salah satunya Pura yang memiliki ekistensi di zaman globalisasi yaitu Pura Langgar yang berada di Desa Pakraman Bunutin, Kabupaten Bangli, Provinsi Bali. Pura Langgar merupakan salah satu ciri pendidikan multikultur dalam kehidupan keberagamaan umat Hindu dan Islam. Pura Langgar dahulunya merupakan Langgar yaitu tempat bersembahyang bagi umat yang beragama Islam. Tetapi sang permaisuri wafat maka di tempat itu dibangun sebuah pura dengan nama Pura Langgar. Dimana yang bersemayam disana adalah Ida Bhatara Pedanda Ratu. Karena berkaitan dengan agama Islam, maka dalam upacaranya tidak memakai sarana daging babi sebagai kelengkapan upacara akan tetapi cukup dengan itik dan ayam saja
Nilai Sosial dalam upacara perkawinan Umat Hindu Kaharingan di Desa Jaman Kecamatan Gunung Timang Kabupaten Barito Utara Propinsi Kalimantan Tengah
Kalimantan tengaah terdiri dari berapa adat tradisi budaya yang turun temurun dilaksanakan pada masyarakat. Pelaksanaan upacara-upacara ritual Keagamaan merupakan salah satu kekayaan budaya yang ada di Kalimantan Tengah sangat perlu di pertahankan, ditingkatkan dan dikembangkan, dengan cara meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang dilandasi oleh iman dan taqwa. Upacara-upacara keagamaan yang dilakukan oleh masyarakat dalam menjalankan kehidupannya itu mulai dari sejak dalam kandungan, ia lahir hingga dewasa dan sampai pada ia kembali Tuhan Yang Maha Esa, selalu dilaksanakan dengan dengan upacara Ritual Keagamaan.Salah satu upacara Ritual Keagamaan yang selalu dilaksanakan dan perlu dipertahankan adalah Upacara Ritual Keagamaan Perkawinan Masyarakat Kalimatan Tengah (Dayak) yang mendiami Daerah Kabupaten Barito Utara merupakan penduduk asli yang telah turun tumurun mendiami wilayah tersebut. Selama berabad-abad mereka hidup dengan budaya dan tradisi serta keyakinan yang mereka laksanakan secara turun-temurun. Dalam kehidupan sosial dan bermasyarakat, mereka selal