E-Journal Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang Palangka Raya
Not a member yet
711 research outputs found
Sort by
Nilai Pendidikan Hindu Pada Kelakon Calon Arang Di Banjar Stya Dharma Desa Basarang Jaya
Indonesia is a country that has a variety of tribes, languages, religions, customs and cultures that are all spread throughout the Indonesian archipelago and have their own uniqueness according to their regional origins. Likewise, the island of Kalimantan, especially Central Kalimantan, has its own uniqueness when viewed in terms of culture, language and tradition. But in addition to a well-developed and sustainable local culture, the people of Central Kalimantan also provide space for immigrant communities. One example is the immigrant community from the island of Bali who are Balinese and embrace Hinduism. As a migrant community, Balinese Hindus still maintain the culture and traditions of their origin, namely the island of Bali. One tradition that is still maintained is the performance of the Calon Arang kelakon by the Banjar Stya Dharma group in Basarang Jaya Village. So this performance needs to be studied for its background and the meaning contained in the performance needs to be known. The problem formulation in this research are: 1) What is the meaning of kelakon Calon Arang for the Stya Dharma banjar community in Basarang Jaya Village; 2) How is the function of kelakon Calon Arang in Banjar Stya Dharma in Basarang Jaya Village?; and 3) What educational values are contained in kelakon Calon Arang in Banjar Stya Dharma in Basarang Jaya Village.
The results of the research include: 1) The performance of kelakon Calon Arang originated from the belief of the people of Basarang Jaya Village, especially Banjar Stya Dharma, in the manifestation of Ida Sang Hyang Widhi Wase implemented in the form of Sesuhunan Ida Ratu Calon Arang who has magical powers that can provide protection and help for the people of Banjar Stya Dharma expressed through requests. 2) Kelakon Calon Arang has functions as: a) Increasing the srada and bhakti of Hindus; b) Fostering ethical awareness in the community; c) Improving character education among the Hindu younger generation; and d) Strengthening the bond of menyamebarye. And 3) The Hindu educational values contained in the Calon Arang kelakon are: a) Tattwa education value; b) Susila education value; and c) Ceremony education value.
Indonesia adalah sebuah negara yang memiliki berbagai macam suku, bahasa, agama, adat dan budaya yang semua tersebar diseluruh wilayah kepulauan Indonesia dan memiliki keunikan masing-masing sesuai dengan asal daerahnya. Begitu juga dengan pulau Kalimantan khususnya Kalimantan Tengah memiliki keunikan tersendiri bila ditinjau dari segi budaya, bahas dan tradisi. Namun selain kebudayaan lokal yang berkembang dengan baik dan terus berkelanjutan, masyarakat di Kalimantan Tengah juga memberikan ruang untuk masyarakat pendatang. Salah satu contoh masyarakat pendatang dari pulau Bali yang bersuku Bali dan memeluk agama Hindu. Sebagai masyarakat pendatang, umat Hindu Bali tetap mempertahankan budaya dan tradisi dari asal daerahnya yaitu pulau Bali. Salah satu tradisi yang masih dipertahankan yaitu pementasan kelakon Calon Arang oleh kelompok Banjar Stya Dharma di Desa Basarang Jaya. Sehingga pementasan ini perlu dikaji latar belakangnya dan perlu diketahui makna yang terkandung dalam pementasan tersebut. Adapun perumusan masalah dalam penelitian ini yaitu: 1) Apa makna kelakon Calon Arang bagi masayarakat banjar Stya Dharma di Desa Basarang Jaya?; 2) Bagaimana fungsi kelakon Calon Arang pada Banjar Stya Dharma di Desa Basarang Jaya?; dan 3) Nilai-nilai pendidikan apa saja yang terkandung dalam kelakon Calon Arang pada Banjar Stya Dharma di Desa Basarang Jaya?.
Hasil penelitian meliputi: 1) Pementasan kelakon Calon Arang berawal dari kepercayaan masyarakat Desa Basarang Jaya khususnya Banjar Stya Dharma pada manifestasi Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang diimplementasikan dalam bentuk Sesuhunan Ida Ratu Calon Arang yang memiliki kekuatan magis yang dapat memberikan perlindungan dan pertolongan bagi masyarakat Banjar Stya Dharma yang diungkapkan melalui permohonan. 2) Kelakon Calon Arang memiliki fungsi sebagai: a) Meningkatkan srada dan bhakti umat agama Hindu; b) Menumbuhkan kesadaran beretika pada masayarakat; c) Meningkatkan pendidikan karakter dikalangan generasi muda Hindu; dan d) Menguatkan ikatan menyamebarye. Dan 3) Nilai-nilai pendidikan Hindu yang terkandung dalam kelakon Calon Arang adalah: a) Nilai pendidikan Tattwa; b) Nilai pendidikan Susila; dan c) Nilai pendidikan Upacara/Acara. 
Strategi Pembelajaran Tatap Muka Terbatas pada Pendidikan Agama Hindu di SMPN-1 Basarang Kabupaten Kapuas
Pandemi covid-19 yang masih melanda negara Indonesia mengubah gaya belajar yaitu yang bermula dari tatap muka menjadi daring. Untuk mengatasi dampak negatif yang telah muncul selama pembelajaran daring, maka pemerintah mengeluarkan surat edaran tentang Pembelajaran Tatap Muka Terbatas (PTMT), begitu juga di SMPN-1 Basarang dimana mereka menerapkan durasi belajar selama empat jam setiap hari di sekolah dengan jumlah siswa 50% dari kapasitas ruangan. Dalam kegiatan pembelajarannya guru agama Hindu menggunakan strategi yang tepat untuk mengatasi kurangnya waktu belajar di sekolah agar tujuan pembelajaran agama Hindu tetap dapat tercapai dengan maksimal dan siswa juga tidak mengalami kebosanan saat belajar. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap strategi pembelajaran tatap muka terbatas pada Pendidikan Agama Hindu di SMPN-1 Basarang Kabupaten Kapuas. Metode dalam penelitan ini adalah kualitatif deskriptif. Adapun hasil penelitian yaitu strategi pembelajaran yang diterapkan oleh guru agama Hindu di SMPN-1 Basarang selama PTMT adalah pelaksanaan protokol Kesehatan dan pengunaan metode Blended Learning. Kemudia pengimplementasikan yaitu dengan memastikan penerapan protokol Kesehatan, menyusun perencanaan, memadatkan materi pelajaran, penyampaian poin-poin penting, mempertegas penyelesaian latihan soal, dan melakukan evaluasi. Selanjutnya hambatan yang dihadapi selama penerepan strategi PTMT yaitu hambatan internal yang berupa kurangnya kemampuan guru dalam memanfaatkan media sosial dan computer dan guru agama Hindu membutuhkan waktu yang lebih panjang dalam menyiapkan bahan ajar dan tugas. Dan, hambatan eksternal yang bersumber dari dana untuk paket data, jarak duduk siswa yang berjauhan, dan terjadi miscommunition antara guru dan siswa
Pembuatan Sandung Bagi Umat Hindu Kaharingan Di Kelurahan Kampuri Kecamatan Mihing Raya Kab. Gunung Mas (Perspektif Hukum Hindu)
Yadnya sebagai korban suci yang berlandaskan hati tulus ikhlas, yang dilaksanakan oleh umat Hindu pada umumnya. Baik yang terkait dengan korban suci tentang kehidupan maupun kematian. Menjalankan rutinitas beragama tidak terlepas dari esensi dari Tri Kerangka Dasar agama. Salah satu yadnya/korban suci yang dilakukan umat Hindu Kaharingan adalah membangun Sandung/tempat menyimpan tulang. Berdasarkan fenomena tersebut dapat diformulasikan rumusan masalah sebagai berikut: (1). Bagaimanakah Proses pembuatan Sandung Menurut Umat Hindu Kaharingan di Kelurahan Kampuri Kecamatan Mihing Raya Kabupaten Gunung Mas? (2) Mengapakah ada perbedaan bentuk bangunan Sandung di Kelurahan Kampuri Kecamatan Mihing Raya Kabupaten Gunung Mas? (3) apakah maknan Sandung dalam perspektif Hukum Hindu di Kelurahan Kampuri Raya Kecamatan Mihing Raya Kabupaten Gunung Mas? untuk membedah rumusan masalah teori yang digunakan adalah teori religiusitas, teori Bentuk arsitek, dan teori Simbol. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif, dengan jenis data kualittatif deskriptif, Teknik penentuan informan snowball sampling, Teknik pengumpulan data observasi, wawancara, dan studi dokumen, Teknik Analisa data dari milles anda hubernand. Adapun hasil peneltian meliputi : proses pembuatan sandaung diawali dengan mempersiapkan sarana dan prasaranan, biaya pembuatan Sandung, waktu pembuatan,pantangan/pali, perbedaan bentuk Sandung meliputi : Sandung Tiang Tunggal (Sandung Bajihi Ije), Sandung Tiang Dua (Sandung Bajihi Due), Sandung Tiang Empat (Sandung Bajihi Epat), Sandung Tiang Lima (Sandung Bajihi Lime), Sandung Tiang Enam (Sandung Bajihi Jahawen), Sandung Duduk (Sandung Munduk). Makna Sandung dalam perspektif hukum Hindu meliputi; Sandung dalam perspektif Hukum adat, dan Sandung dalam perspektif hukum Positif
Penggunaan Bajakah Tengang Dalam Upacara Hindu Kaharingan
Hindu Kaharingan communities in the region of Central Kalimantan, particularly in Kasongan Regency, have religious rituals in accordance with their religious teachings. The implementation of religious rituals by the Hindu Kaharingan community in Kasongan Regency, Central Kalimantan, utilizes various ceremonial tools obtained from the Kalimantan environment. One of the tools used in several Hindu Kaharingan religious rituals is the Bajakah Tengang. This research aims to identify the types of ceremonies that utilize the Bajakah Tengang as a ceremonial tool and the method of using the Bajakah Tengang in specific ceremonies/rituals. The research findings indicate that the types of ceremonies using the Bajakah Tengang include marriage ceremonies, manenung, mambayar hajad, tiwah, and nyadiri. The Bajakah Tengang is used by being tied to the right hand and should not be removed until the Bajakah Tengang falls off on its own
KONSEP PLURALISME AGAMA PERSPEKTIF ISLAM DAN HINDU
ABSTRACT
The rise of the issue of religious pluralism occurs because of the emergence of various social problems sparked by elements who experience a crisis of religious understanding such as perpetrators of acts of terrorism, violence, crime, anarchism, to bloodshed both within the internal and inter-religious spheres. In this case, it is not only Muslims who are busy voicing peace with religious pluralism. Other religions such as Christianity, Hinduism and Buddhism also contribute to this pluralism in order to create conditions for a safe, peaceful and peaceful state. This study will further examine the differences in perspectives between Islam and Hinduism regarding religious diversity. The purpose of the study is to compare the concept of religious pluralism between the Islamic perspective through the Qur'an and the Hindu perspective in the Vedas. This study is a qualitative-based research with a literature approach. The data collection method used is a documentation technique, while the data analysis method is a descriptive-comparative approach. In general, the religious teachings contained in the verses of the Qur'an and the Vedic verses imply the concepts of religious pluralism and peace. Furthermore, there is a common thread about the triadic relationship of good human relations between the teachings of Islam and Hinduism which are summarized in Mu'amalah ma'a Allah, Mua'amalah ma'a al-Nas & Mu'amalah ma'a al-Bi'ah from an Islamic perspective. , and Tri Hita Karana & Tat Twam Asi from a Hindu perspective. Regardless of the differences as well as the basis of the arguments of each sect, interreligious dialogue is still needed to – at least – minimize conflicts and tensions between religious communities towards harmonization and peace between religious communities.
Keywords: Pluralism; Islam; Hindu; Comparative; Peace.
ABSTRAK
Maraknya isu pluralisme beragama terjadi karena mencuatnya berbagai permasalahan sosial yang disulut oleh oknum-oknum yang mengalami krisis pemahaman keagamaan seperti pelaku tindakan terorisme, kekerasan, kejahatan, anarkhisme, sampai pertumpahan darah baik dalam lingkup internal maupun antar agama-agama. Dalam hal ini, tidak hanya kalangan Islam saja yang ramai menyuarakan perdamaian dengan pluralisme agama. Agama-agama lain seperti Kristen, Hindu dan Budha pun turut menyemarakkan pluralisme ini demi terciptanya kondisi kehidupan bernegara yang aman, damai dan tentram. Kajian ini akan mengkaji lebih jauh perbedaan perspektif antara Islam dan Hindu terkait keragaman beragama. Tujuan kajian yaitu untuk mengkomparasikan konsep pluralisme agama antara perspektif Islam melalui al-Qur’an dan perspektif Hindu dalam Weda. Kajian ini merupakan penelitian berbasis kualitatif dengan pendekatan kepustakan. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah teknik dokumentasi, sedangkan metode analisis datanya melalui pendekatan deskriptif-komparatif. Secara umum, ajaran keagamaan yang termuat dalam ayat-ayat al-Qur’an dan sloka-sloka Weda menyiratkan konsep pluralisme agama dan perdamaian. Selanjutnya, terdapat benang merah tentang triadik hubungan baik manusia antara ajaran agama Islam dan Hindu yang dirangkum dalam Mu’amalah ma’a Allah, Mua’amalah ma’a al-Nas & Mu’amalah ma’a al-Bi’ah perspektif Islam, dan Tri Hita Karana & Tat Twam Asi perspektif Hindu. Terlepas dari berbagai perbedaan sekaligus landasan argumen dari masing-masing aliran, dialog antaragama tetap dibutuhkan untuk – setidaknya – meminimalisir terjadinya konflik dan ketegangan antara umat beragama menuju harmonisasi dan perdamaian antar umat beragama.
Kata Kunci: Pluralisme; Islam; Hindu; Komparatif; Perdamaian
STUDI KOMPARASI KONSEP TUHAN MENURUT BARUCH DE SPINOZA DAN KARL THEODOR JASPERS
Recognizing God in empirical knowledge is indeed very difficult and even impossible to understand the reality of God. Philosophers and theologians both have different understandings of God, so that from the time of Ancient Greece to modern human civilization, there is no agreement about God. Various views of God emerged along with the development of human thought. Various characters appear with different concepts. This research focuses on examining the thoughts of Baruch de Spinoza and Karl Theodor Jaspers. This research uses a philosophical hermeneutic method. The results of this research are as follows: according to Spinoza, God is a single substance and has many attributes, everything in this universe comes from God. Spinoza also thought that the universe was identical with God. Meanwhile, according to Jaspers God is a mystery and transcendence. God can only be trusted, but cannot be recognized as an empirical object. God also cannot be reached by logical thinking. God can only be understood as a metaphysical reality.Mengenali Tuhan pada pengetahuan empiris memang sangat sulit bahkan tidak mungkin dapat memahami realitas Tuhan. Para filosof dan juga teolog sama-sama memiliki pemahaman yang berbeda mengenai Tuhan, sehingga mulai pada zaman Yunani Kuno hingga peradaban manusia sekarang belum memiliki kesepakatan mengenai Tuhan. Berbagai pandangan tentang Tuhan muncul bersamaan dengan perkembangan pemikiran manusia. Berbagai tokoh muncul dengan konsep yang berbeda-beda. Dalam penelitian ini memfokuskan untuk mengkaji pemikiran dari Baruch de Spinoza dan Karl Theodor Jaspers. Penelitian ini menggunakan metode hermeneutik filosofis. Adapun hasil dari penelitian ini adalah sebagai berikut: menurut Spinoza adalah Tuhan sebagai substansi yang tunggal dan memiliki banyak atribut, segala yang ada di alam semesta ini berasal dari Tuhan. Spinoza juga menganggap bahwa alam semesta identik dengan Tuhan. Sedangkan menurut Jaspers Tuhan bersifat misteri dan transendensi. Tuhan hanya dapat dipercaya, namun tidak dapat dikenal sebagai objek empiris. Tuhan juga tidak dapat dicapai dengan pemikiran logis. Tuhan hanya dapat dipahami sebagai realitas metafisik
TIRTA DALAM UPACARA PITRA YADNYA UMAT HINDU DI DESA BATU PUTIH KECAMATAN DUSUN TENGAH KABUPATEN BARITO TIMUR (Kajian Sosio Religius)
Tirta or holy water is the main means of religious ceremonial activities for Hindus, as well as believed to be a medium of cleansing (pemarisudha) divine grace water (wangsuh pada) as holy water called tirta. In the context of yadnya the use of tirta as a means of pitra yadnyaceremony because of its function and meaning, then tirta in the pitra yadnya ceremony is studied using a socio-religious perspective that is routinely used by Hindus. The problem of what tirta is used in the pitra yadnya ceremony and how socioreligious tirta is in the pitra yadnya ceremony for Hindus in Batu Putih Village, Central Hamlet District, East Barito Regency, is analyzed using phenomenological and religious theories.Qualitative data on tirta used and reviews from socio-religious perspectives sourced from primary data and skunder data obtained by data collection techniques using observation, interviews and documentation analyzed using analytical methods when researching, reducing data, presenting and drawing conclusions.The result of the study is that water that has been matrai by Sulinggih or Regent is called tirtha "penglukatan" or cleansing of oneself as well as a medium for cleaning the facilities and infrastructure of the pitra yadnya ceremony requested in pelinggih or places considered sacred by Hindus. This kind of tirtha tirta "grace" because of its purity or spiritual power is believed to come from Ida Sang Hyang Widhi Wasa/God Almighty in His various manifestations worshipped at pelinggih or holy places. Socio-religious studies and religious analysis of water as a symbol of physical and spiritual purification (tirtha), called amertha, is as the water of life, has a meaningful role and position in all spheres of life. Tirta has an important position and role in implementing the form of sacrifice (yadnya), tirta or holy water is a means that implications for the coolness of life both individually and in groups, so that this implementation will give birth to good thoughts, good words and good deeds in a directed manner in carrying out life
Pemanfaatan Komik Digital Sebagai Media Pembelajaran Di Sekolah Dasar
The learning process requires media to make it easier for student to understand the learning materials. This article discusses the use of Digital Comics or illustrated stories as learning media for elementary school student. Digital comics offer images and dialogues that can serve as a means of delivering learning materials to elementary school student. Picture can capture students attention and focus on learning, while dialogues provide a space to insert learning materials. The ai of this research is to examine the use of Digital Comics as an alternative learning media for elementary school students. The method used is literature review (library research). Digital Comics as a learning media are considered capable of supporting enjoyable learning and increasing vocabulary knowledge, preventing students from getting bored quickly
Ritual Manyaki Ehet Dayak Ngaju Hindu Kaharingan di Kota Palangka Raya
Penelitian ini mengkaji ritual manyaki ehet Dayak Ngaju Hindu Kaharingan di Kota Palangka Raya. Keberadaan ritual manyaki ehet dalam kepercayaan Hindu Kaharingan sangat perlu untuk dikaji. Fenomena yang terjadi kurangnya pemahaman generasi muda Hindu Kaharingan mengenai proses pelaksanaan ritual manyaki ehet, pembuatan sesajen sarana prasarana ritual, dan ritual manyaki ehet hanya dilaksanakan satu kali pada kehamilan pertama saja. Berdasarkan uraian tersebut, penelitian ini mengkaji rumusan masalah sebagai berikut: 1) Bagaimanakah proses pelaksanaan dalam ritual manyaki ehet Dayak Ngaju Di Kota Palangka Raya?, Penelitian dikaji dengan teori fungsional struktural, Metode penelitian yang digunakan metode deskriptif kualitatif. Jenis sumber data yaitu sumber data primer dan sumber data sekunder. Teknik penentuan informan dilakukan secara purposive. Teknik pengumpulan data dengan observasi, wawancara, dan studi dokumentasi. Teknik Penyajian Hasil Analisis Data, dengan Teknik penyajian informal dan teknik penyajian formal.
Berdasarkan hasil penelitian, meliputi ritual manyaki ehet merupakan ritual tujuh bulan dalam kepercayaan agama Hindu Kaharingan, dengan adanya ritual manyaki ehet mengungkapkan rasa syukur kepada Ranying Hatalla Langit/Tuhan Yang Maha Esa atas karunia yang telah diberikan selama proses mengandung sampai melahirkan selalu diberikan kelancaran dan kemudahan. Berdasarkan hasil analisis data ditemukan bahwa proses pelaksanaan ritual manyaki ehet yang dikaji meliputi : (1) Tahap Persiapan, (2) Tahapan Pokok Pelaksanaan
Tradisi Pemberian Nama Bayi (Nahunan) Pada Masyarakat Suku Dayak Ngaju
This paper uses the qualitative method of literature, namely exploring various relevant sources to discuss the topic and obtaining the required data, then it will explore the internalization of the values contained in the nahunan ritual. In the nahunan ritual, ecological values are found which indicate that there is an internalization of the concept that nature is family. This concept can support environmental preservation through the rituals of the Ngaju Dayak tribe. This concept can be developed to encourage public concern in preserving the environment. The concept is in the form of values that regard nature as the human family. To carry out the Nahunan ceremony, various equipment for the Nahunan ceremony is prepared, both for the baby and for the midwife. All these ceremonies and paraphernalia are inseparable from the purpose of the Nahunan ceremony itself, which is to respect the life cycle from birth to death. The Dayak people really understand that life has a very deep meaning, all of which are contained in the various ceremonies held, including the Nahunan ceremony