E-Journal Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang Palangka Raya
Not a member yet
    711 research outputs found

    Upaya Guru Pendidikan Agama Hindu Dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Hindu Di SMP Negeri 3 Dusun Selatan

    No full text
    Teacher effort is the effort made by teachers as professional educators in educating, guiding, directing and evaluating students by developing all their potential. Self-motivation to continue learning is very important for every Hindu student, because this motivation will inspire students to continue learning. On the other hand, without motivation, students will find it difficult to understand the material that has been explained by the teacher. Because motivation is able to build and change a person's behavior after getting motivation from other people, because motivation is very important for Hindu students. This article examines the efforts of Hindu religious education teachers in increasing the learning motivation of Hindu students at SMP Negeri 3 Dusun Selatan. The method used was a qualitative approach and purposive sampling technique to determine informants. The data analysis technique is carried out through four stages, namely: data collection, data reduction, data presentation, and drawing conclusions. The results of this research show that the efforts of Hindu religious education teachers to increase the learning motivation of Hindu students at SMP Negeri 3 Dusun Selatan in the learning process in the classroom with a series of planning and preparation including methods, media and teaching materials in accordance with the 2013 curriculum book. The learning process includes preliminary activities, core, and cover. The form of motivation given in the form of awards given by Hindu religious education teachers to Hindu students is in the form of sentences of praise for studying diligently, diligently and with discipline. Apart from that, Hindu students when interacting with teachers at school behave politely, responsibly, and have devotion to the teacher

    SISTEM HUKUM WARIS ADAT MASYARAKAT DI DESA MARAWAN LAMA KECAMATAN DUSUN UTARA KABUPATEN BARITO SELATAN

    No full text
    Dalam kehidupan bernegara, tentunya dilengkapi dengan peraturan-peraturan yang mengikat bagi wargannya, salah satu diantaranya adalah hukum waris. Fenomena yang diangkat dalam karya ini adalah:  apa yang menjadi dasar hukum berlakunya sistem hukum waris adat masyarakat di desa Marawan Lama? dan bagaimana sistem hukum waris adat di desa Marawan Lama, Metode yang digunakan adalah penelitian hukum empiris (sosiologis) dengan pendekatan penelitian diskriptif kualitatif. Metode kualitatif adalah mengungkap fakta secara mendalam berdasarkan karakteristik ilmiah dari individu atau kelompok untuk memahami dan mengungkap sesuatu dibalik fenomena. Dasar berlakunya sistem hukum waris adat di Desa Marawan Lama adalah warga masih mempertahankan hukum adat sebagai aturan yang berlaku dalam pergaulan sosial masyarakat. Terbitnya Peraturan Daerah Kalimantan Tengah No. 16 Tahun 2008 berdampak terhadap legalitas keberadaan lembaga Adat Kedamangan. Sistem Hukum Waris Adat Di Desa Marawan Lama, adalah harta warisan dibagikan kepada ahli waris berdasarkan system kekeluargaan bilateral, secara adil dan setara, tanpa membedakan jenis kelamin, usia juga agama yang dianut oleh ahli waris. Adil yang dimaksudkan adalah penilaian subyektif dari sipewaris yang didasarkan pada pertimbangan psikologis dan karakter ahli waris oleh pewaris. Hal ini menjadi dasar pertimbangan pewaris, karena pewarislah yang paling tahu kepada siapa, berapa banyak harta yang diberikan kepada ahli waris.Dalam kehidupan bernegara, tentunya dilengkapi dengan peraturan-peraturan yang mengikat bagi wargannya, salah satu diantaranya adalah hukum waris. Fenomena yang diangkat dalam karya ini adalah :  apa yang menjadi dasar hukum berlakunya sistem hukum waris adat masyarakat di desa Marawan Lama?, dan bagaimana sistem hukum waris adat di desa Marawan Lama, Metode yang digunakan adalah penelitian hukum empiris (sosiologis) dengan pendekatan penelitian diskriptif kualitatif. Metode kualitatif adalah mengungkap fakta secara mendalam berdasarkan karakteristik ilmiah dari individu atau kelompok untuk memahami dan mengungkap sesuatu dibalik fenomena. Dasar berlakunya sistem hukum waris adat di Desa Marawan Lama adalah warga masih mempertahankan hukum adat sebagai aturan yang berlaku dalam pergaulan sosial masyarakat. Terbitnya Peraturan Daerah Kalimantan Tengah No. 16 Tahun 2008 berdampak terhadap legalitas keberadaan lembaga Adat Kedamangan. Sistem Hukum Waris Adat Di Desa Marawan Lama, adalah harta warisan dibagikan kepada ahli waris berdasarkan system kekeluargaan bilateral, secara adil dan setara, tanpa membedakan jenis kelamin, usia juga agama yang dianut oleh ahli waris. Adil yang dimaksudkan adalah penilaian subyektif dari sipewaris yang didasarkan pada pertimbangan psikologis dan karakter ahli waris oleh pewaris. Hal ini menjadi dasar pertimbangan pewaris, karena pewarislah yang paling tahu kepada siapa, berapa banyak harta yang diberikan kepada ahli waris

    Konsep Manusia Dalam Pandangan Svami Vivekananda: Sebuah Kajian Antropologi Metafisik

    No full text
    Man, on the one hand, is understood as a creation on earth, like all earthly things, and on the other hand, a man appears on earth and seeks to reach a higher life. Higher life here is a level of life that has a higher quality in a more transcendental sense compared to everyday life in this world. Humans can thus be understood in essence or human existence along with the activities and characteristics attached to it. So that in this context there are various mentions for humans because they have complex natures. But it is also necessary to explore human reality based on the ontological elements of the human being to answer the question of whether humans are formed from one element, two, or even plural. So this study aims to explore ontologically human nature from the view of Svami Vivekananda. This study uses a qualitative method with a philosophical hermeneutic approach. The results of this study indicate that Vivekananda views humans as essentially the same as Brahman, in the sense that humans are existentially different from Brahman but are essentially the same as Brahman. Vivekananda describes the body as the name of a series of changes. This is understandable because the body is always changing and is composed of changing particles. The real man is the soul, not the body. This explanation also seems to be a form of direct rejection of materialism. And man has the divine nature of God.Manusia di satu pihak dipahami sebagai ciptaan di atas bumi, seperti halnya semua benda-benda duniawi, dan di lain pihak manusia muncul di atas bumi dan berusaha untuk menggapai kehidupan yang lebih tinggi. Kehidupan yang lebih tinggi di sini adalah suatu tingkat kehidupan yang memiliki kualitas yang lebih dalam arti lebih transendental dibandingkan dengan kehidupan sehari-hari di dunia ini. Manusia dengan demikian dapat dipahami hakikatnya atau eksistensi manusia beserta aktivitas dan ciri-ciri yang melekat padanya. Sehingga pada konteks ini beragam penyebutan untuk manusia karena memiliki hakikat yang kompleks. Namun juga diperlukan penelusuran terhadap realitas manusia berdasarkan unsur-unsur dari manusia tersebut secara ontologis untuk menjawab pertanyaan apakah manusia itu terbentuk dari satu unsur, dua, atau bahkan plural? Sehingga penelitian ini bertujuan untuk menelusuri hakikat manusia secara ontologis dalam pandangan Svami Vivekananda. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan hermeneutik filosofis. Adapun hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa Vivekananda memandang manusia pada hakikatnya sama dengan Brahman, dalam artian manusia secara eksistensial berbeda dengan Brahman tetapi secara esensial sama dengan Brahman. Vivekananda menjelaskan bahwa tubuh sebagai nama dari serangkaian perubahan. Hal ini dapat dipahami karena tubuh selalu berubah dan tersusun atas partikel-partikel yang selalu berubah. Manusia yang sesungguhnya adalah jiwa bukan tubuh. Penjelasan ini tampaknya juga sebagai bentuk penolakan secara langsung terhadap materialisme. Dan manusia memiliki sifat keilahian dari Tuhan

    Penggunaan Media Sosial Dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Hindu Di SD Negeri 9 Palangka

    No full text
    Tujuan penelitian ini untuk mengetahui penggunaan media sosial dalam pembelajaran pendidikan agama Hindu di SDN 9 Palangka. Metode yang di gunakan untuk mengumpulkan data penelitian ini adalah : Observasi, Wawancara, Dokumnetasi. Data yang telah dikumpulkan dianalisis dengan metode deskriptif kualitatif dengan langkah-langkah, reduksi, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) penggunaan media sosial dalam pembelajaran pendidikan agama Hindu yaitu: (a) media sosial yang digunakan oleh guru agama Hindu ada beberapa media sosial di antaranya WhatsApp dan Youtube. (b) guru agama Hindu membuat grup WhatsApp agar bisa berkomunikasi dengan siswa yang juga memiliki media sosial WhatsApp. (c) melakukan proses pembelajaran dengan cara panggilan video atau kirim pesan teks atau Audio. (d) membantu menfasilitasi siswa dengan memberikan kouta internet gratis kepada siswa

    MEDIA KOMUNIKASI DALAM PEMBELAJARAN VIRTUAL SYNCHRONOUS

    No full text
    Komunikasi dalam bentuk dialog dalam proses pembelajaran sangat penting diantara pendidik dan peserta didik maupun diantara peserta didik. Pada masa pandemi hingga saat ini pemerintah membuat kebijakan yang mengijinkan pembelajaran jarak jauh yang dilaksanakan secara online (daring). Salah satu proses pembelajaran yang laksanakan pendidik yaitu menggunakan pembelajaran virtual synchronous berbasis video conference. Proses pembelajaran virtual synchronous berbasis video conference banyak digunakan untuk menggantikan tatap muka langsung di dalam kelas yang disebut dengan pembelajaran tatap muka (PTM). Hal ini menjadi menarik untuk dibahas setelah pemerintah memperbolehkan kembali setiap satuan pendidikan untuk melaksanakan PTM mengingat penyebaran Covid-19 telah melandai. Mengingat proses pembelajaran mulai dilaksanakan kembali secara PTM, apakah pembelajaran virtual synchronous berbasis video conference masih relevan digunakan ditinjau berdasarkan kelebihan dan kekurangannya. Pembelajaran virtual synchronous berbasis video conference masih sangat relevan digunakan untuk menggantikan kondisi yang tidak memungkinkan pendidik dan peserta didik untuk melaksanakan PTM sehingga proses pembelajaran masih dapat berjalan. Tetapi proses pembelajaran virtual synchronous berbasis video conference juga tidak dapat dilaksanakan diseluruh pertemuan karena dibutuhkan kemampuan pendidik dalam menyusun, menyajikan, dan strategi mengajar secara virtual. Selain itu interaksi sosial secara langsung juga dibutuhkan diantara pendidik dengan peserta didik dan diantara peserta didik sebagai individu

    Peran Lagu Keagamaan Dalam Pendidikan Agama Hindu di PAsraman Kota Palangka Raya

    No full text
    Lagu keagamaan tidak hanya sebuah lagu biasa yang dinyanyikan di Pasraman, tetapi lagu keagamaan adalah sebuah lagu dengan lirik yang memuat ajaran tentang pendidikan agama Hindu. Berdasarkan observasi yang penulis lakukan, terdapat perbedaan antara harapan dan kenyataan yang menghasilkan suatu gap, selain itu berdasarkan hasil pencarian literature kepustakaan yang serupa, masih banyak bahkan belum ada yang mengkaji terkait peran lagu keagamaan dalam pendidikan agama Hindu. Penelitian ini terfokus pada peran lagu keagamaan dalam pendidikan agama Hindu di Pasraman Kota Palangka Raya dengan rumusan masalah yakni bagaimana peran dan fungsi lagu keagamaan dalam pendidikan agama Hindu di Pasraman Kota Palangka Raya. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif. Berdasarkan hasil analisis data didapatkan hasil yakni, peran lagu keagamaan dalam pendidikan agama Hindu sebagai berikut: 1) Pemotivasi peningkatan keimanan, 2) Pengembang pendidikan karakter, dan 3) Pedoman interaksi sosial. Fungsi lagu keagamaan dalam pendidikan agama Hindu yakni: 1) Meningkatkan keimanan, 2) Mengembangkan pendidikan karakter, dan 3) Meningkatkan hidup bersosialisasi

    Ritual Wara Wara Ritual

    No full text
    Penelitian ini mengkaji kajian nilai-nilai pendidikan pantugur dalam ritual wara Hindu Kaharingan di Kabupaten Barito Selatan. Keberadaan patugur menjadi  sarana pokok dalam ritual wara yang memiliki nilai pendidikan Hindu yang perlu untuk dikaji. Fenomena yang terjadi kurangnya pemahaman dalam diri beberapa orang terhadap nilai-nilai dan makna sakral yang terkandung pada pantugur dalam ritual wara Hindu Kaharingan sehingga patugur yang digunakan pada hari puncak pelaksanaan wara tersebut dipandang tidak memiliki nilai pendidikan. Berdasarkan uraian tersebut, penelitian ini mengkaji rumusan masalah sebagai berikut: 1) Bagaimanakah proses pembuatan pantugur dalam ritual wara Hindu Kaharingan di Kabupaten Barito Selatan ?, 2) Apakah nilai-nilai pendidikan Hindu yang terkandung dalam pantugur ritual wara Hindu Kaharingan di Kabupaten Barito Selatan ?, 3) Bagaimanakah implikasi nilai-nilai pendidikan Hindu dalam pantugur ritual wara bagi Hindu Kaharingan di Kabupaten Barito Selatan ?. Penelitian dikaji dengan teori fungsional struktural, teori nilai, teori pendidikan Hindu, dan teori behavioristik. Metode penelitian yang digunakan metode deskriptif kualitatif. Jenis sumber data yaitu sumber data primer dan sumber data sekunder. Teknik penentuan informan dilakukan secara purposive. Teknik pengumpulan data dengan observasi, wawancara, dan studi dokumentasi. Berdasarkan hasil penelitian, beberapa komponen yang dapat dikaji dan penyajian hasil meliputi pantugur merupakan perwujudan jasmaniah dari leluhur yang diritualkan dan wajib dihargai keberadaannya sebagai bentuk penghormatan, rasa cinta kasih, dan tanggung jawab seseorang ataupun keluarga yang melaksanakan. Berdasarkan hasil analisis data ditemukan bahwa proses pembuatan pantugur yang dikaji menggunakan teori fungsional struktural menghasilkan kesimpulan yang meliputi : (1) Tahap Persiapan, (2) Tahapan Pokok Pelaksanaan, dan (3) Tahap Akhir. Beberapa nilai pendidikan yang terkandung pada pantugur dalam ritual wara yang dikaji menggunakan teori nilai dan didukung dengan teori pendidikan Hindu menghasilkan kesimpulan yaitu : (1) Nilai Pendidikan Tattwa, (2) Nilai Adat Tradisi Hindu Kaharingan, (3) Nilai Pendidikan etika (susila), (4) Nilai Pendidikan Material, (5) Nilai Pendidikan Tanggung Jawab, dan (6) Nilai Pendidikan Estetika. Implikasi nilai pendidikan pada pantugur ritual wara yang dikaji menggunakan teori behavioristik menghasilkan kesimpulan yaitu : (1) Mempererat Persatuan dan Kesatuan Umat Hindu Kaharingan, (2) Semangat Kebersamaan dan Gotong Royong, (3) Toleransi terhadap Keberagaman, (4) Terjaganya Keseimbangan Dan Keharmonisan Alam Semesta, (5) Taat Terhadap Pelaksanaan Upacara atau Ritual Sebagai Bentuk Ketaqwaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa, (6) Tercipta Hubungan Harmonis Dengan Sesama yang diwujudkan dalam Perilaku Belum Bahadat, (7) Menginterpretasikan Tindakan Terhadap Simbol Sakral, dan (8) Tumbuhnya Kesadaran Beretika Kata Kunci: kajian nilai pendidikan, pantugur, ritual war

    Eksistensi Kewenangan Mantir Adat Dalam Pelaksanaan Perkawinan Umat Hindu Kaharingan di Desa Tumbang Manggu Kecamatan Sanaman Mantikei Kabupaten Katingan

    No full text
    Eksistensi kewenangan mantir adat dalam pelaksanaan perkawinan umat Hindu Kaharingan di Desa Tumbang Manggu kecamatan sanaman mantikei kabupaten Katinga

    KESADARAN HUKUM MASYARAKAT DALAM BERMEDIA SOSIAL SEBAGAI WUJUD KEPATUHAN TERHADAP HUKUM

    No full text
    Current technological developments have an extraordinary impact on social media. The existence of social media can have positive and negative impacts depending on its use and utilization. If you misuse social media, there will be violations that are threatened with sanctions. This must be realized by the community as a form of public legal awareness in social media. In this almost digital era, there are still many social media violations. This certainly shows the low legal awareness of society. This low legal awareness is certainly caused by several things including a lack of understanding of the law, no matter what happens, feeling free and so on. Thus efforts are made to increase public legal awareness of the use of social media. These efforts can be carried out by the government and the community itself. For example, the government formed a Cyber ​​Team to counter fake news or hoaxes. Providing education on the dangers of using social media that is too free. Likewise, the community must also understand the legal rules that prohibit negative social media. Prioritizing good communication interaction ethics in social media and not participating in spreading information that may harm others but filtering any information or news obtained on social media.Perkembangan teknologi saat ini memberikan dampak yang luar biasa terhadap media sosial. Keberadaan media sosial dapat memberikan dampak yang positif dan negatif tergantung dari penggunaan dan pemanfaatnya. Apabila salah memanfaatkan media sosial maka akan terjadi pelanggaran-pelanggaran yang terancam kena sanksi. Hal ini harus disadari oleh masyrakat sebagai bentuk kesadaran hukum masyarakat dalam bermedia sosial. Pada zaman yang hamper serba digital ini, masih banyak terjadi pelanggaran-pelanggaran bermedia sosial. Hal ini tentu menunjukan rendahnya kesadaran hukum masyarakat. Rendahnya kesadaran hukum ini tentu disebabkan oleh beberapa hal diantaranya kurangnya pemahaman hukum, tidak peduli apapun yang terjadi, merasa bebas dan sebagainya. Dengan demikian dilakukan upaya untuk meningkatkan kesadaran hukum masyarakat terhadap penggunaan media sosial. Upaya tersebut bisa dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat itu sendiri. Misalnya pemerintah membentuk Tim Cyber untuk mengkal berita-berita bohong atau hoak. Memberikan edukasi bahaya menggunakan media sosial yang terlalu bebas. Begitu halnya masyarakat juga harus memahami aturan hukum yang melarang bermedia sosial secara negatif. Mengedepankan etika interaksi komunikasi yang baik dalam media sosial dan tidak ikut serta menyebarkan luaskan informasi yang dapat merugikan orang lain melainkan menyaring setiap informasi atau berita yang diperoleh dalam media sosial

    Kearifan Ekologi Masyarakat Adat Karampuang dalam Menjaga Kelestarian Hutan

    No full text
    The paradigm of world religions strongly influences insights about religion in Indonesia. The world's religious paradigm has placed indigenous people in discrimination, and they have difficulty carrying out the religious practices they have been doing for generations. This paper is a critical study of previous studies on the Karampuang Indigenous people, who still view traditions, community and nature relations, and local wisdom through the paradigms of world religions. This article will be examined through a traditional religious approach. This article aims to explain the relationship between the Karampuang Indigenous people and nature, the ecological wisdom of the Karampuang Indigenous people in preserving nature, and the traditions of the Indigenous people in maintaining this ecological wisdom. This study used a qualitative descriptive method with data collection techniques through interviews with key informants supported by the literature. First, it was found that the Karampuang Indigenous people see nature as a subject or person. This relationship is interpreted as Mapakalebbi Ale Hanua (respect for nature. Relationships are built because of the awareness that humans are integral to the forest itself. Second, ecological wisdom in the Karampuang community is passed down from generation to generation through Paseng (messages) of indigenous through Lontara and oral speech such as Makkamase Ale (loving the forest), Mappakatuo Ale (humanizing the forest) and Tuo Kamase-mase (living equal and in harmony with nature). Rituals of the Mappogau Sihanua are a reminder of the importance of preserving nature.Paradigma agama-agama dunia sangat mempengaruhi wawasan tentang agama di Indonesia. Paradigma keagamaan dunia telah menempatkan masyarakat adat dalam diskriminasi, dan mereka kesulitan menjalankan praktik keagamaan yang telah mereka lakukan secara turun-temurun. Tulisan ini merupakan kajian kritis terhadap kajian-kajian sebelumnya terhadap masyarakat Adat Karampuang yang masih memandang tradisi, hubungan masyarakat dan alam, serta kearifan lokal melalui paradigma agama-agama dunia. Artikel ini ditelaah melalui pendekatan religi tradisional. Artikel ini bertujuan untuk menjelaskan hubungan antara Masyarakat Adat Karampuang dengan alam, kearifan ekologi Masyarakat Adat Karampuang dalam melestarikan alam, dan tradisi Masyarakat Adat dalam menjaga kearifan ekologi tersebut. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara dengan informan kunci yang didukung dengan literatur. Pertama, ditemukan bahwa Masyarakat Adat Karampuang melihat alam sebagai subyek atau pribadi. Hubungan ini dimaknai sebagai Mapakalebbi Ale Hanua (penghormatan terhadap alam. Hubungan dibangun karena kesadaran bahwa manusia adalah bagian integral dari hutan itu sendiri. Kedua, kearifan ekologis masyarakat Karampuang diturunkan dari generasi ke generasi melalui Paseng (pesan-pesan) dari adat melalui Lontara dan tuturan lisan seperti Makkamase Ale (mencintai hutan), Mappakatuo Ale (memanusiakan hutan) dan Tuo Kamase-mase (hidup setara dan selaras dengan alam) dalam melestarikan alam

    302

    full texts

    711

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    E-Journal Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang Palangka Raya
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇