E-Journal Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang Palangka Raya
Not a member yet
711 research outputs found
Sort by
Open Educational Resources Berbasis Google Sites Sebagai Penguatan Pendidikan Agama Hindu
Pada era teknologi, pendidik dituntut untuk memiliki kemampuan dalam memanfaatkan teknologi informasi untuk mendukung proses pembelajaran. Hal ini sejalan dengan karakteristik pembelajar masa kini yang dapat mengakses pengetahuan dari berbagai sumber, termasuk internet. Salah satu sumber belajar daring yang signifikan adalah Open Educational Resources (OER), yaitu sumber belajar terbuka yang dapat diakses oleh siapa saja. Namun demikian, implementasi OER di institusi pendidikan belum merata, khususnya dalam pembelajaran agama Hindu di tingkat pendidikan dasar.
Salah satu platform yang dapat dimanfaatkan pendidik sebagai media pembelajaran berbasis OER adalah Google Sites. Platform ini memungkinkan pendidik untuk menyajikan materi pembelajaran agama Hindu dalam bentuk pembelajaran interaktif dan menarik, seperti video pembelajaran dan evaluasi daring. Pemanfaatan Google Sites bertujuan untuk memperkuat pendidikan agama Hindu yang telah diajarkan di kelas, sekaligus menanamkan pemahaman keagamaan yang mendalam, guna membentuk karakter peserta didik yang berbudi luhur.
Namun, pengembangan konten pembelajaran melalui Google Sites memerlukan kompetensi teknis dan pedagogis yang memadai agar dapat memenuhi kebutuhan peserta didik dengan gaya belajar yang beragam. Oleh karena itu, pendidik perlu memahami prinsip-prinsip desain pembelajaran digital untuk mengoptimalkan penggunaan Google Sites sebagai sumber belajar terbuka yang efektif
Ritual Hinting Pali Pada Masyarakat Hindu Kaharingan di Sampit Kabupaten Kotawaringin Timur: Perspektif Hukum Hindu
Ritual hinting pali merupakan suatu aturan hukum dalam Hindu Kaharingan yang pemasangannya tidak dilakukan disembarang tempat. Ritual dilaksanakan yang dipimpin oleh penyelenggara ritual agama Hindu Kaharingan yaitu seorang Pisur ataupun Basir, yang bermakna di tempat tersebut ada pantangan pali yang bersifat sakral dan suci. Perkembangan zaman saat ini terlebih bagi pihak yang tidak memahami atau pihak yang memiliki kepentingan lain banyak berpendapat tentang Hinting Pali, seperti menyatakan hinting pali sebagai adat budaya Dayak yang turun temurun dilaksanakan, maka dapat dilaksanakan untuk menghinting perusahaan yang bersengketa. Ritual hinting pali yang dilakukan oleh masyarakat Hindu Kaharingan tentu tidak menyimpang dari aturan yang sudah ditetapkan atau dengan kata lain telah sesuai dengan aturan lembaga keagamaan. Peneliti tertarik untuk meneliti tentang “Ritual Hinting Pali Pada Masyarakat Hindu Kaharingan Di Sampit Kabupaten Kotawaringin Timur (Perspektif Hukum Hindu)”. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji lebih dalam mengenai pelaksanaan Ritual hinting pali, untuk mengkaji lebih dalam tentang faktor apa saja yang menyebabkan terjadinya pelaksanaan ritual hinting pali serta untuk mengkaji lebih dalam tentang kebijakan dari lembaga keagamaan atau Majelis Daerah Agama Hindu Kaharingan dalam pelaksanaan ritual hinting pali di Sampit Kabupaten Kotawarngin Timur. Metode penelitian menggunakan metode kualitatif dengan metode pengumpulan data menggunakan metode wawancara, dokumentasi dan observasi.
Dasar pelaksanaan pemasangan Hinting Pali adalah Kitab suci Panaturan Pasal 63 tentang asal Pali dan Tulah. dan tentang pelaksanaan Tiwah Suntu, ritual Hinting pali juga telah dilaksanakan sejak zaman dahulu yang diwariskan turun temurun oleh pemeluk agama Hindu Kaharingan dalam pelaksanan ritual Nahunan, perkawinan, kematian dan Tiwah. Sarana dan prasarana dalam pemasangan ritual Hinting Pali meliputi: Rotan, Daun Sawang, Kapur Sirih, Tawur, parapen, hewan korban, pehun kayu (kayu yang habis dibakar). Tata cara pemasangan hinting pali harus dilaksanakan oleh basir atau pisur. Sebelum dilaksanakan ritual manawur, maka dipersiapkan terlebih dahulu sarana dan prasarana untuk pemasangan hinting pali tersebut, kemudian basir atau pisur melaksanakan ritual manawur yaitu manawur untuk memanggil rajan pali atau penguasa pali agar bisa hadir ke tempat pelaksanaan ritual untuk menerima yang menjadi bagian mereka. Setelah itu barulah diadakan pemasangan hinting pali di tempat yang telah ditentukan. Ritual hinting pali menurut agama Hindu Kaharingan sesuai dengan pelaksanaanya dibagi kedalam dua factor atau kegiatan pokok yaitu hinting pali untuk mambaleh bunu dan hinting pali untuk ritual keagamaan. Kebijakan yang dilakukan oleh lembaga agama Hindu Kaharingan khususnya Majelis Daerah Agama Hindu Kaharingan dalam pelaksanaan pemasangan Hinting pali meliputi kegiatan rapat kerja atau koordinasi dengan Majelis Besar Agama Hindu Kaharingan Pusat, mengadakan sosialisasi, melakukan pelepasan hinting pali
Tata Cara Pembagian Harta Warisan Peninggalan Suami Terhadap Janda di Desa Sigi Kabupaten Pulang Pisau
In the midst of rapidly changing social dynamics, it is crucial to recognize the rights of women or widows as heirs by ensuring that they receive a fair share of inheritance in accordance with their contributions and roles in building the family and household. Therefore, there is a need for awareness regarding the protection of the rights of women or widows in the context of inheritance law, allowing them to receive fair and equal treatment in the distribution of inherited assets. This is a significant step towards achieving gender equality and justice in Indonesian society. This research focuses on examining and understanding the complex issues related to the procedures for the distribution of the inheritance of a deceased husband to a widow in the village of Sigi, Pulang Pisau Regency, Central Kalimantan Province. The study aims to provide profound insights into the practices and perspectives of the community regarding customary inheritance law and its influence on the rights of women or widows in inheriting their husband's estate. Through this research, it is hoped that solutions can be found to address the injustice often faced by women or widows in inheritance distribution. Additionally, the study aims to provide policy recommendations to enhance the protection of the rights of women or widows in the community. The method employed is empirical legal research using a qualitative approach. The conclusion drawn from the research is that the inheritance law system in the village of Sigi, Kahayan Tengah District, Pulang Pisau Regency, prioritizes customary inheritance law in the distribution of inherited assets by upholding noble values based on the principle of family solidarity. This is done through consensus and the distribution of inherited assets to all surviving family members, including widows or widowers and legitimate children or their descendants. The process is conducted fairly and evenly through family consensus and the eldest sibling or the appointed elder leading the family consensus.Di tengah perubahan sosial yang semakin pesat maka penting untuk mengakui hak-hak perempuan atau janda sebagai ahli waris dengan memastikan bahwa mereka memperoleh bagian yang adil dari harta warisan sesuai dengan kontribusi dan peran mereka dalam membangun keluarga dan rumah tangga. Dengan demikian maka perlunya kesadaran akan perlindungan hak-hak perempuan atau janda dalam konteks hukum waris yang memungkinkan mereka untuk mendapatkan perlakuan yang adil dan setara dalam pembagian harta warisan. Hal ini akan menjadi langkah penting dalam mewujudkan kesetaraan gender dan keadilan dalam masyarakat di Indonesia. Maka dalam penelitian ini memiliki fokus dalam mengkaji dan memahami masalah yang kompleks terkait tata cara pembagian harta warisan peninggalan suami terhadap janda di Desa Sigi Kabupaten Pulang Pisau Provinsi Kalimantan Tengah. Dalam Penelitian dapat memberikan wawasan yang mendalam mengenai praktik dan pandangan masyarakat terkait dengan hukum waris adat serta pengaruhnya terhadap hak-hak perempuan atau janda dalam mewarisi harta peninggalan suami. Melalui penelitian ini diharapkan dapat menemukan solusi yang dapat mengatasi ketidakadilan yang sering terjadi terhadap perempuan atau janda dalam hal pembagian warisan serta memberikan rekomendasi kebijakan yang tepat untuk meningkatkan perlindungan hak-hak perempuan atau janda di masyarakat tersebut. Metode yang digunakan adalah metode hukum empiris dengan mengunakan pendekatan kualitatif. Adapun kesimpulan dari hasil penelitian ini adalah di dalam sistem hukum waris di Desa Sigi Kecamatan Kahayan Tengah Kabupaten Pulang Pisau menggutamakan hukum waris adat dalam pembagian harta warisan dengan menjunjung tinggi nilai luhur berdasarkan asas kekeluargaan dengan cara musyawarah mufakat dan tata cara pembagian harta warisan dibagikan kepada semua anggota keluarga yang masih hidup baik janda atau duda dan anak-anak atau keturuannya yang sah yang ditinggalkan, dilakukan secara adil dan merata dengan menggunakan musyawarah mufakat keluarga dan suadara tertua atau yang dituakan yang ditunjuk dalam memimpin musyawarah mufakat keluarga tersebut
Kesenjangan Hukum Perkawinan Beda Agama Pasca SEMA Nomor 2 Tahun 2023 (Studi Kasus Penetapan Nomor 423.Pdt.P/2023/PN.Jkt.Utr.)
Abstrak
Perkawinan merupakan ikatan antara seorang pria dan seorang wanita yang bertujuan membentuk sebuah rumah tangga yang bahagia, harmonis, saling mendukung, dan melengkapi satu sama lain. Di Indonesia, pernikahan bisa menjadi kompleks ketika pasangan berasal dari agama atau keyakinan yang berbeda. Pada 17 Juli 2023, Mahkamah Agung mengeluarkan Surat Edaran Nomor 2 Tahun 2023 yang melarang pengadilan untuk menyetujui permohonan pencatatan pernikahan antar-umat yang berbeda agama. Namun, Pengadilan Negeri Jakarta Utara justru menerima permohonan tersebut dalam register perkara nomor 423/Pdt.P/2023/Pn Jkt.Utr. Hal tersebut menunjukkan kesenjangan antara apa yang seharusnya terjadi (das sollen) dan kenyataan yang ada (das sein). Penelitian ini menggunakan pendekatan yuridis-normatif, mengkaji teori-teori, konsep-konsep, serta peraturan perundang-undangan terkait. SEMA sebenarnya ditujukan untuk mengawasi hakim, namun kekuatannya dalam konteks spesifik suatu kasus bisa berbeda. Hakim tetap memiliki wewenang untuk menafsirkan SEMA sesuai dengan konteks kasus yang dihadapi. Penetapan Pengadilan, seperti dalam kasus nomor 423/Pdt.P/2023/Pn Jkt.Utr., dapat dianggap sebagai putusan pengadilan yang bersifat final. Dalam kasus tersebut, para pemohon diberikan izin untuk mencatatkan pernikahan beda agama di kantor Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Jakarta Utara.
Kata Kunci: Kesenjangan Hukum, Perkawinan, Beda Agam
Analisis Wacana Moderasi Beragama Perspektif Ajaran Agama Hindu
Wacana moderasi beragama dalam agama Hindu bukanlah hal baru, dalam agama Hindu konsep sikap tidak berlebih-lebihan dan sikap persaudaraan sudah ada jauh sebelum wacana moderasi beragama dikumandangkan. Peneliti sangat tertarik untuk meneliti analisis wacana moderasi beragama perspektif agama Hindu karena kajian analisis wacana akan mengungkap maksud dari wacana moderasi beragama yang belum diungkapkan, selain itu hal yang menjadi menarik adalah, wacana moderasi beragama sangat dekat dengan konsep keHinduan yang harus dipublikasikan pada masyarakat luas.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi tentang konsep moderasi beragama dalam agama Hindu dan menganalisa wacana moderasi beragama dalam perspektif ajaran agama Hindu. Penelitian ini merupakan kajian Pustaka, sumber data berasal dari data primer dan data sekunder. Hasil penelitian disajikan dengan teknik deskriptif.
Dalam agama Hindu, terdapat empat konsep moderasi beragama yaitu Tat twam asi yang diartikan sebagai persamaan harkat dan martabat manusia, Catur Paramita yang artinya sebagai empat kebaikan/kebajikan, tri hita karana artinya tiga penyebab kebahagiaan, dan vasu dewa kutumbakam yang artinya persaudaraan. Jika dianalisis maka, pada konsep tat twam asi dan vasu dewa kutumbakam penjelasannya akan berbeda jika kita berbicara sesama umat Hindu dan antara umat Hindu dengan umat nonHindu. Hal ini karena perbedaan pandangan keagamaan tentang konsep ketuhanan, konsep penciptaan manusia, karma phala, konsep punarbawa dan konsep moksa yang dikenal dengan istilah panca sradha. sedangan untuk konsep tri kaya parisudha dan catur paramita dapat dijelaskan sama antara umat Hindu dan umat nonHindu
PENCEGAHAN STUNTING PADA ANAK DALAM PERSPEKTIF HINDU DI DESA BANGKAL KECAMATAN SERUYAN RAYA KABUPATEN SERUYAN
Stunting prevention is one of the priorities for the Indonesian government to ensure that the nation's next generation can grow well and healthily. Stunting generally occurs due to a lack of nutritional intake in children, which causes growth to be disrupted and abnormal. This can be physically observed from the child's weight and height which are not ideal for their growing age. In the long term, stunting can even cause various disorders such as decreased thinking power, and can cause chronic diseases. The participation of all components is needed to solve this problem, so a multi-disciplinary study is very necessary. This research is a field study or field research, which was carried out using a qualitative descriptive approach. Primary data was obtained through interviews with sources determined using the purposive sampling method. The aim of this research is to conduct a study of the problem of stunting among children in Bangkal Village, Seruyan Raya District, Seruyan Regency from a Hindu religious perspective. Based on the research that has been carried out, several things can be found: first, the community in Bangkal Village, Seruyan Raya District, Seruyan Regency perceives stunting in terms of beliefs and traditions, apart from being a medical problem. Second, the implementation of Hindu religious teachings in Bangkal Village, Seruyan Raya District, Seruyan Regency as an effort to prevent stunting is carried out through ceremonies for babies in the womb and after birth called nahunan in accordance with the guidance of the Veda and the Panaturan book. Third, the implications of Hindu religious teachings for preventing stunting in children in Bangkal Village, Seruyan Raya District, Seruyan Regency are: the philosophical implications of the yadnya ceremony, the philosophical implications of the 3, 7 and 9 month pregnancy ceremonies, and the philosophical implications of the nahunan ceremony.Pencegahan stunting menjadi salah satu prioritas bagi pemerintah Indonesia untuk memastikan generasi penerus bangsa dapat bertumbuh dengan baik dan sehat. Stunting secara umum terjadi karena kurangnya asupan gizi pada anak, yang menyebabkan pertumbuhan menjadi terganggu dan tidak normal. Hal ini secara fisik dapat diamati dari berat dan tinggi badan anak yang tidak ideal dengan usia pertumbuhannya. Dalam jangka panjang, bahkan stunting dapat menyebabkan berbagai gangguan seperti daya pikir yang menurun, serta dapat menimbulkan penyakit kronis. Peran serta semua komponen sangat dibutuhkan untuk menyelesaikan permasalahan ini, sehingga kajian multi disiplin sangatlah diperlukan. Penelitian ini merupakan studi lapangan atau field research, yang dilakukan melalui pendekatan deskriptif kualitatif. Data primer diperoleh melalui hasil wawancara kepada narasumber yang ditentukan dengan metode purposive sampling. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melakukan kajian terhadap permasalahan stunting pada anak di Desa Bangkal Kecamatan Seruyan Raya Kabupaten Seruyan melalui perspektif agama Hindu. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dapat ditemukan beberapa hal: pertama, masyarakat di Desa Bangkal Kecamatan Seruyan Raya Kabupaten Seruyan mempersepsikan stunting ke dalam kepercayaan dan tradisi, selain sebagai permasalahan medis. Kedua, implementasi ajaran agama Hindu di Desa Bangkal Kecamatan Seruyan Raya Kabupaten Seruyan sebagai upaya pencegahan stunting dilakukan melalui upacara bayi dalam kandungan dan setelah lahir yang disebut dengan nahunan sesuai dengan tuntunan Weda dan kitab Panaturan. Ketiga, implikasi dari ajaran agama Hindu terhadap pencegahan stunting pada anak di Desa Bangkal Kecamatan Seruyan Raya Kabupaten Seruyan adalah: implikasi filosofi upacara yadnya, implikasi filosofi upacara kehamilan 3, 7, dan 9 bulan, serta implikasi filosofi upacara nahunan
Analisis Metode Pembelajaran Penugasan Pendidikan Agama Hindu Dalam Membentuk Kepribadian Luhur Siswa Hindu Di SMPN 1 Miri Manasa Kecamatan Miri Manasa Kabupaten Gunung Mas
Redi, 2024. Analisis metode pembelajaran penugasan pendidikan agama Hindu dalam membentuk kepribadian luhur siswa Hindu di SMPN 1 Miri Manasa Kecamatan Miri Manasa Kabupaten Gunung Mas. Tesis program magister program studi pendidikan agama Hindu program pascasarjana institute agama hindu negeri tamping penyang palangka raya. Pembimbing (I) Dr. Pranata, S.Pd.,M.Si. dan pembimbing (II) Dr. I Putu Widyanto, M.Pd.H
Penelitian ini mengkaji tentang analisis metode pembelajaran penugasan pendidikan agama Hindu dalam membentuk kepribadian luhur siswa Hindu di SMPN 1 Miri Manasa Kecamatan Miri Manasa Kabupaten Gunung Mas. Dengan ini bertujuan untuk (1) untuk mengetahui bagaimana penerapan metode pembelajaran penugasan pendidikan agama Hindu dalam membentuk kepribadian siswa Hindu di SMPN 1 Miri Manasa Kecamatan Miri Manasa Kabupaten Gunung Mas, (2) untuk mengetahui bagaimana kendala dalam penerapan metode pembelajaran penugasan pendidikan agama Hindu dalam membentuk kepribadian siswa Hindu di SMPN 1 Miri Manasa Kecamatan Miri Manasa Kabupaten, (3) untuk mengetahui bagaimana solusi dalam mengatasi kendala dalam penerapan metode pembelajaran penugasan pendidikan agama Hindu dalam membentuk kepribadian siswa Hindu di SMPN 1 Miri Manasa Kecamatan Miri Manasa Kabupaten.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan jenis studi lapangan. Adapun teori yang digunakan untuk menganalisis permasalahan tersebut adalah teori humanisme, teori behavioristic dan teori tindakan sosial. Metode penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data, menggunakan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Dan teknik analisis data yang dgunakan dalam penelitian ini adalah pengumpulan data, reduksi data, penyajian data,dan penarikan kesimpulan.
kesimpulan. (1) Penerapan Metode Pembelajaran Penugasan dalam Pendidikan Agama Hindu di SMPN 1 Miri Manasa.(2) Kendala Dalam penerapan metode pembelajaran penugasan Pendidikan Agama Hindu untuk membentuk kepribadian luhur siswa Hindu di SMPN 1 Miri Manasa (3) solusi untuk mengatasi kendala dalam penerapan Metode Pembelajaran Penugasan Pendidikan Agama sHindu untuk membentuk kepribadian luhur siswa di SMPN 1 Miri Manasa.
Kata kunci : Analisis, Metode Pembelajaran Penugasan, Pendidikan Agama Hindu,Kepribadian Luhur Siswa Hind
PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA HINDU DENGAN MEDIA BHAGAVAD GĪTĀ KHUSUS GURU DI SDN KECAMATAN BASARANG
Penelitian ini mengkaji pembelajaran pendidikan agama Hindu dengan menggunakanmedia Bhagavad Gītā, khususnya bagi guru di tiga Sekolah Dasar Negeri (SDN) yang ada diKecamatan Basarang. adanya berbagai kendala yang dihadapi oleh guru Pendidikan AgamaHindu dalam menggunakan pustaka suci sebagai media pembelajaran, terutama dalampengajaran kepada peserta didik di kelas VI dalam materi ajar "Mengenal isi pokok dari kitabBhagavad Gītā sebagai tuntunan hidup" menjadi latar belakang penelitian. Tujuan penelitianini untuk mengetahui, memahami, dan mendeskripsikan upaya yang dilakukan oleh guruPendidikan Agama Hindu dalam menggunakan media Bhagavad Gītā pada peserta didik di tigaSDN Kecamatan Basarang. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah TeoriKonstruktivisme yang diperkenalkan oleh Lev Vygotsky. Metode penelitian yang digunakanadalah kualitatif deskriptif, dengan data yang diperoleh dari hasil observasi, wawancara, dandokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan meliputi reduksi data, penyajian data, dan
penarikan kesimpulan. Penelitian ini menemukan bahwa untuk mengatasi kesulitan dalampembelajaran tersebut, guru-guru di Kecamatan Basarang melakukan berbagai upaya,termasuk meningkatkan pengetahuan para guru tentang Bhagavad Gītā, mengembangkan danmenyesuaikan materi ajar, serta memanfaatkan teknologi dan sumber daya tambahan.
 
Nilai Pendidikan Hindu Dalam Ritual Nyiwah di Kecamatan Lahey Barat Kabupaten Barito Utara
Penelitian ini mengkaji tentang Nilai-nilai Pendidikan Agama Hindu yang terkandung dalam ritual Nyiwah pada Umat Hindu di Kecamatan Lahei Barat Kabupaten Barito Utara. Penggalian nilai-nilai pendidikan Agama Hindu dalam sebuah ritual dianggap sangat perlu untuk medukung program pembentukan Sumber Daya Manusia yang memiliki kemampun intelektual belandaskan nilai-nilai Agama.Pendidikan ini berfokus pada Nilai-nilai pendidikan Agama Hindu dalam ritual Nyiwah di Kecamanatan Lahei Barat Kabupaten Muara Teweh dengan rumusan masalah : 1) Bentuk Pelakasanaan Ritual Nyiwah di Kecamatan Lahei Barat Kabupaten Barito Utara, 2) Nilai-nilai pendidikan Hindu dalam ritual Nyiwah di Kecamatan Lahei Barat Kabupaten Barito Utara, 3) Implikasi Nilai-nilai pendidikan Hindu dalam ritual Nyiwah di Kecamatan Lahei Barat Kabupaten Barito Utara. Adapun teori yang digunakan dalam menganalisis permasalah ini adalah Teori Interaksi Simbolik, Teori Struktural, dan Teori Pendidikan Humanistik. Hasil dalam pemenltian ini meliputi: 1) Pelaksanaan Ritual Nyiwah Terbagi Menjadi 3 Bagian Yakni Tahapan Persiapan, Tahapan Pelaksanaan (Ngonteng atau Bokas), dan Tahapan Betampas Awi Jari, 2) ada tiga nilai pendidikan Agama Hindu yang diungkap dalam ritual Nyiwah yakni, Nilai Pendidikan Tattwa, Nilai Pendidikan Etika (Susila) dan Nilai Pendidikan Estetika, 3) Implikasi nilai pendidikan Agama dalam Ritual Nyiwah yang dilaksanakan di daerah Kecamatan Lahei Barat Kabupaten Barito Utara yakni terdapatnya impact sebab akibat terhadap perilaku humanistik yang taat pada aturan, nilai kebenaran dan nilai keindahan pada lingkungan masyarakat Umat Hindu Kaharingan
BENTUK PENYELESAIAN SERTIFIKAT TUMPANG TINDIH HAK MILIK ATAS TANAH DI TANGANI OLEH SWA LAW OFFICE
He existence of land in Indonesia is a blessing that can be found in Indonesia with all the benefits available in it. The regulations are regulated in article 33 of the 1945 Constitution, UUPA and the PP on Land Registration. Land problems in the community can never be avoided. One of the problems that arise is overlapping certificates in the community, this can occur in the form of errors in orifice or duplicate certificates. Problems that arise What are the causes of overlapping certificates and how does the SWA Law Office handle these cases? This journal's method is empirical research and uses a case and law approach, the analysis is descriptive. The reason for the overlapping certificates is deliberate mention of the location, errors in administration. Completion of overlapping certificates is carried out with complaints regarding problems occurring.Keberadaan Tanah di Indonesia suatu kebersyuran yang didapat di Indonesia dengan segala kemanfaatan yang tersedia didalamnya. Pengaturannya diatur dalam pasal 33 UUD 1945 , UUPA dan PP Pendaftaraan Tanah. Permasalahan tanah di masyarakat tidak pernah bisa dihidari salah satu masalah yang muncul dalanya sertifikat tumpang tindih di masayrakat, hal ini bisa terjadi berupa kesalahan tititik orfinat atau pendulikasikan sertifikat.Permasalahan yangmuncul Bagaimana penyebab sertifikat tumpang tindih dan bagaiamana SWA Law Office melakukan penangaan akan kasus tersebut, Metode jurnal ini Penelitian emipris dan dengan pendekasatan kasus dan undang-undang, analisis dilakukan deskritif. Penyabab sertifikat tumpang tindih adanya kesengajaan dalam penyebutan lokasi, kesalahan dalam penadmistrasian. Penyelesaaian sertifikat tumpang tindih dilakukan dengan adanya pengaduan akan permasalahan terjadi